Semacam Rayuan Buku

Dalam perjalanan pulang ke rumah, disempatkannya berbisik lirih pada buku yang didekapnya. “Aku mencintaimu. Tak akan ada yang sia-sia ketika kau telah bersamaku.” 

Bus itu melaju kencang di jalanan yang licin. Hujan bulan Juni bisa turun berjam-jam tanpa peduli siang atau malam. Dua wiper bergerak cepat menyingkirkan riak air yang menerpa kaca bus. Kedua mata sopir bus ikut memercing bergantian. Berusaha memfokuskan penglihatannya di tengah guyuran hujan dan kabut yang mulai menebal seiring waktu menuju senja. Hamparan pohon dan tetumbuhan hijau mulai berubah warna menjadi kelabu. Dari kejauahan, kerlip pelita dari rumah-rumah penduduk mulai tampak. Matahari yang sukar terlihat sejak pagi, seolah tidak berdaya lagi menyapa malam yang beringsut menyelimuti.

Dirinya duduk di kursi paling belakang. Tepat berada di deret tengah, segaris lurus dengan kaca depan bus. Hanya ada beberapa penumpang sore itu. Kebanyakan terlihat kelelahan. Beberapa diantaranya malah asyik terlelap sambil menelingkup barang bawaannya di atas pangkuan. Ada pula yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri melalui sebuah buku tebal yang dibaca. Sesekali dia tersenyum sendiri, kemudian bergumam, lantas tersenyum lagi, namun dengan garis bibir membentang lebih lebar. Di salah satu sudut bis tidak jauh dari pintu depan yang tertutup rapat, berdiri seorang petugas karcis. Pria itu sibuk menghitung lembaran uang yang terapit di jemarinya bersama dengan segepok uang kertas beragam warna yang sepertinya disusun mulai dari nominal paling kecil di bagian atas dan nominal terbesar di tumpukan terbawah. Matanya awas, bibirnya komat-komat. Memastikan bahwa pemasukan hari ini memenuhi target harian. Beruntung jika ada lebihnya. Lumayan untuk uang belanja sang istri setiba di rumah nanti.

Tidak terdengar musik yang mengalun riuh. Radio-tape memang sengaja tak dinyalakan di jam pulang kerja seperti ini. Selain memberikan kesempatan istirahat bagi para penumpang, sang sopir juga hanya ingin menikmati musik alam lewat suara geluduk petir bersahutan dan guyuran deras air hujan yang menerpa badan bus. Menurutnya lebih merdu menggetarkan gendang telinga ketimbang musik kota yang itu-itu saja. Meski bagi yang lain, dendangan musik alam itu jelas-jelas membuat godaan untuk tidur semakin susah ditepis.

Terdapat seonggok buku tebal bersampul kulit sapi lusuh di atas pangkuannya. Cukup lama dia tertegun dan hanya memandangi bagian depan dan belakang sampulnya. Tak banyak yang bisa dibaca. Hanya sekedar tulisan judul buku dan nama penulisnya yang tertoreh dengan huruf timbul berwarna keemasan yang sudah kusam. Terdapat goretan dan bopeng berbentuk pulau-pulau kecil yang menghiasi. Alih-alih gambar sampul, pulau-pulau kecil itu seperti jamur-jamur yang merebak di permukaan kulit manusia. Laiknya panu atau kadas, tapi yang ini muncul di permukaan sampul buku. Bisa saja jamur buku, pikirnya.

Diberanikannya membuka lembaran pertama. Saat kertas itu tersibak, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah luar. Jantungnya berdegup kencang. Buku itu kembali ditutupnya. Tidak berselang lama, terdengar suara gelegar guntur. Disusul dengan suara geluduk dengan volume rendah. Makin lirih, kemudian suara itu lenyap seketika. Beberapa penumpang terperanjat. Ada yang langsung duduk tegap dan menutup telinganya. Ada pula yang hanya menggeliatkan tubuh, kemudian beringsut mencari posisi paling nyaman, lantas melanjutkan mimpi.

Sementara itu dirinya tetap terpaku. Dilema berkelanjutan memenuhi isi kepalanya. Buku di pangkuannya itu harus dibaca sekarang atau nanti. Jika memang sekarang, meski dengan cahaya redup, deretan tulisan di dalamnya mungkin belum sukar dibaca. Tapi apabila nanti, ketika perjalanannya masih jauh, di tengah keraguan apakah sang sopir mau menyalakan lampu di dalam bus atau tidak, tentu saja buku bersampul kusam itu akan bisa terbaca ketika sampai di rumah nanti. Dan bagi dirinya, rumah akan menjadi sarang tidak nyaman untuk membaca. Karena bukan hanya dia saja yang menikmati isinya, melainkan keluarga besarnya juga harus turut diajak serta.

Akan tetapi, alam tadi telah memberikan tanda. Membuka sampul dan masuk ke lembar pertama saja sudah diganjar dengan kilat dan guntur, apalagi masuk ke bagian isi di dalamnya. Bisa-bisa air bah dari bawah kulit bumi membuncah ke permukaan dan menghasilkan banjir besar seperti yang pernah diceritakan oleh neneknya tentang riwayat Nuh. Boleh jadi dirinya tidak akan sampai rumah jika tetap memaksa membaca isi buku itu.

Ah pikirannya terlalu hiperbola. Mungkin saja kilat dan guntur tadi hanya semacam kebetulan. Sekarang ini hujan deras sedang mengguyur, maka wajar jika dua fenomena alam itu datang bersahutan. Tapi akan lain cerita jika semua itu bukan kebetulan. Sangat mungkin sekali ada hubungan paradoksis antara membuka lembaran pertama buku itu dengan dua kejadian alam yang baru saja dirasakannya. Bukannya dunia dan isi alam memang terhubung satu sama lain. Antara satu dengan yang lain seperti terkoneksi oleh semacam urat syaraf bumi tak kasat mata. Seperti de javu yang tiba-tiba muncul di tengah geliat aktivitas seseorang di suatu tempat. Menghentikan pikirannya secara tiba-tiba dan terkesima dengan rekaman ingatan mikro tentang sosok dirinya yang seolah pernah berada di tempat yang baru saja dipijaknya. Meski semua itu bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi tetap saja menjadi hal ganjil yang terus dipertanyakan. 

Dan kini giliran dirinya yang terus bertanya. Tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan.

Bis melaju makin kencang. Bentangan selimut malam membujur menuju garis penghabisan di cakrawala. Tak terlihat bintang satu pun, apalagi rembulan. Hujan deras mulai reda. Tergantikan rintik gerimis yang menyajikan kesenduan senja. Sepertinya langit masih dermawan menurunkan air mata. Dari kejauhan, cahaya lampu rumah-rumah penduduk mulai samar terlihat. Kabut tebal menghujam membentuk awan-awan kelabu. 

Masih tanpa bintang dan rembulan.

Di atas singgasana langit ketujuh. Tuhan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polah salah satu umat-Nya di dalam bus menuju akhirat.

 

 

Surabaya, Agustus 2018

Advertisements

Memilih Pasangan Pemimpin Melalui Faktor X: Zodiak

Salah satu stasiun televisi swasta di Jawa Timur memiliki program sepakbola yang memiliki perbedaan dengan program serupa di stasiun televisi lain. Prediksi pertandingan yang akan berlangsung menjadi satu konten penting dalam materi berita. Namun apa jadinya jika yang digunakan untuk memprediksi adalah angka-angka atau penanggalan kalender dalam astrologi Cina? Meramal pertandingan melalui Shio menjadi keunikan tersendiri.

Berbicara mengenai prediksi, beberapa lembaga survey dan masyarakat dari beragam elemen mulai berlomba mengulas tentang cawapres mana yang paling cocok bersanding dengan dua kandidat capres yang telah santer diberitakan. Kebanyakan menggunakan perspektif karir politik dan elektabilitas. Katakanlah si petahana seharusnya dengan si A, boleh juga dengan si B. Calon baru harus dengan si C atau D, dan sebagainya. Terlalu mainstream.

Ada faktor lain yang harus diperhatikan terlepas dari perlu dan tidak perlunya faktor ini digunakan, yaitu watak dan karakter manusia. Sejak 3000 tahun yang lalu bangsa Barat kuno telah menggunakan ilmu perbintangan untuk menguraikan watak dan karakter khas manusia dari tanggal lahir kalender matahari (Masehi). Jika track record karir politik telah banyak diulas, tidak salah kita melihat kecocokan pasangan capres-cawapres melalui faktor ini.

Jawa Pos edisi Selasa 17 Juli 2018 menuliskan tentang tebak-menebak isi kantong Jokowi yang memuat plus minus kandidat cawapres. Ada lima nama yang disebutkan, yaitu Mahfud MD, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Muhammad Zainul Majdi, dan Sri Mulyani. Sedangkan untuk edisi Jumat 20 Juli 2018, Jawa Pos mengulas pula tentang Prabowo yang telah memiliki nama-nama yang masuk dalam bursa cawapres-nya. Mulai dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anies Baswedan, Zulkifli Hasan, Ahmad Heryawan, hingga Salim Segaf Al-Jufri.

Jokowi lahir pada 21 Juni 1961, dinaungi oleh bintang Gemini. Karakter umum bintang ini adalah cerdas, pandai berbicara, memiliki kemampuan berkembang dan belajar tinggi, sekaligus memiliki pesona alami dan kharisma yang bisa menarik semua zodiak. Dengan elemen udara, Gemini Jokowi cocok bersanding dengan cawapres yang berbintang Aries, Leo, Libra, atau Aquarius. Dan dari kelima nama kandidat, ada dua yang berbintang Libra, yaitu Muhaimin Iskandar (24 September 1966) dan Airlangga Hartarto (1 Oktober 1962). Dari keduanya, yang murni Libra adalah Airlangga Hartarto. Meski dengan zodiak yang sama, Muhaimin Iskandar masih dinaungi bintang Virgo yang tidak cocok dengan Gemini.

Kompatibilitas hubungan Gemini dan Libra yang sama-sama berelemen udara akan terbangun berdasarkan pada pondasi intelektualitas dan kelincahan mental. Dengan kesamaan karakter, membuat mereka akan saling menyeimbangkan.

Sedangkan Prabowo yang lahir pada 17 Oktober 1951, dinaungi oleh bintang Libra. Pun berelemen udara. Menawan dengan intelegensi tinggi, memiliki naluri yang kuat, dan bisa bekerja sama secara adil, adalah ciri umum zodiak ini. Libra Prabowo bisa disandingkan dengan pendamping yang berbintang Gemini, Leo, Aquarius, atau Sagitarius. Dan dari kelima kandidat cawapres, muncul kecocokan pada dua nama, yaitu Ahmad Heryawan yang berzodiak Gemini (19 Juni 1966) dan AHY yang berbintang Leo (10 Agustus 1978). Akan tetapi, AHY yang murni Leo dengan elemen api lebih cocok mendampingi Prabowo. Karena meski Gemini, Ahmad Heryawan masih dinaungi oleh zodiak Cancer yang tidak cocok dengan Libra.

Peluang menjalin sebuah hubungan harmonis bisa terjadi antara Libra dan Leo. Unsur yang dimiliki keduanya mendukung hal itu. Libra dengan watak cerdas, suka memelihara, dan cakap dalam berdiplomasi, akan pantas disandingkan dengan Leo yang optimis dan kharismatik.

Sedikit menengok kembali profil sejarah dua proklamator kita. Ir. Soekarno yang lahir pada 6 Juni 1901 dinaungi oleh bintang Gemini. Sedangkan Muhammad Hatta lahir di tanggal 12 Agustus 1902 berbintang Leo. Sama seperti Jokowi yang Gemini, Ir. Soekarno juga memiliki kecocokan mutlak dengan Bung Hatta. Kekompakan dan kecakapan mereka sebagai pasangan presiden dan wakil presiden di awal negara ini berdiri tidak bisa dipandang remeh. Bahkan di detik-detik mereka harus melepaskan jabatannya, hubungan keduanya tetap solid. Pun hingga salah satunya lebih dahulu menghadap Tuhan. Seolah tubuh pendiri bangsa ini pincang.

Jika dewasa ini menentukan pasangan pemimpin terlihat sulit dan lama karena banyak variabel yang harus dipakai sebagai bahan pertimbangan. Entah dari semaraknya panggung partai pengusung dan koalisinya, banjirnya kepentingan di tahun politik, atau hanya sekedar gimmick yang disajikan ke publik, diharapkan dengan faktor X ini, akan bisa membantu mempercepat penentuan pasangan capres-cawapres yang bisa didaftarkan nanti.

 

Agustus 2018

Sekarat

Merasa terkucil dalam dunia yang selama lebih dari 10 tahun dipilihanya adalah mimpi buruk yang dirasakannya kini. Pertanyaan yang kerap kali muncul di kepalanya tak jauh dari komparasi-komparasi tak berujung dari hidupnya dengan hidup orang lain sejawatnya. Entah dari sisi karir, maupun kehidupan pribadi yang jarang terungkap di depan publik. Terlalu picik rasanya ketika seruan percaya diri dan mampu menerima diri sendiri sering dikoar-koarkannya di depan khalayak, sementara dirinya sendiri belum mampu memahami maksud seruan-seruan itu secara jelas. Hanya retorika belaka. Kelihatan jelas dari raut wajahnya yang kelihatan tertekan, seolah gunungan masalah menimbun dirinya hidup-hidup. Padahal jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, rekan-rekan kerja, hingga sahabat-sahabat terdekatnya, yang jelas-jelas dia tahu bahwa problematika mereka lebih berat_dia sering menjadi teman berkeluh kesah_seyoyanya tak pantas perasaan tertekan, galau, gundah gulana itu menggelayut di kepalanya. Toh, hanya seputar finansial dan jenjang karir yang tak seberapa. Dia gemar berkompetisi, doyan menenggak tantangan, dan rasa-rasa seperti itu kian mencuat dan meminta lebih banyak korban.

Kebutuhan harian hingga bulanannya selalu tercukupi, bahkan berlebih. Dia juga masih bisa menabung dan berderma ketika proyek-proyeknya di-ACC oleh klien, yang membuat aliran dana mengalir deras ke dalam rekeningnya. Jadwal liburan tiap bulan juga masih terselamatkan meski tidak harus ke luar negeri atau ke resort-resort eksklusif favoritnya di dalam negeri. Biaya-biaya wajib, cicilan-cicilan ini-itu, pun masih tertutupi tanpa jatuh tempo. Lantas apa yang sesungguhnya membuat dia merasa harus mendapat segalanya lebih dari orang lain? Bahkan ketika doa-doanya terdahulu dikabulkan oleh Tuhannya satu demi satu di saat yang memang tepat? Apakah karena terlalu fokus pada hidup orang lain dan sejenak lupa menikmati hidupnya sendiri yang membuat perasaan-perasaan tak bermutu itu bergentayangan di kepalanya? Atau karena satu hal yang selalu ditanyakan keluarga dan orang-orang terdekatnya tiap kali berjumpa di hari raya, bahwa untuk orang seusianya, waktunya mencari teman hidup, bukan melulu seputar karir? Apakah ada yang lain selain itu? Pikirnya.

Dan semakin banyak tanda tanya bermunculan, semakin sekarat pula dirinya pelan-pelan.

Pemakaman Ayah

Kepalamu menyembul lebih tinggi dibandingkan kumpulan orang di sekitarmu. Kau menoleh ke kiri dan kanan, mencari sesuatu. Atau seseorang lebih tepatnya. Tanpa beranjak dari tempat duduk, sosokmu terlihat menonjol dari kejauhan. Di sekelilingmu, hampir semua orang mengenakan pakaian berwarna senada seperti yang melekat di tubuhmu. Mereka hadir untukmu dengan membawa misi sama, belasungkawa. Datang sebagai tamu yang tanpa malu menampakkan wajah sedih penuh simpati. Ada pula yang asyik mengunyah sajian dan menyesap teh panas sambil bercakap lirih. Pantang menunjukkan raut wajah bahagia di tengah gelimpang nestapa. Sedikit  menimbulkan suara riuh, namun tetap santun. Sisanya sibuk dengan gumpalan benda padat dengan cahaya berpedar dalam genggaman. Mengetik sesuatu atau sekedar menggerakkan jempol naik turun di permukaan layarnya. Menikmati dunianya sendiri.

Dan kau duduk mengamati mereka di samping sosok beku berjas-berdasi yang tengah tidur di dalam kotak persegi panjang dengan matras putih tipis empuk terhampar padat di dalamnya. Selembar kain kasa tipis membujur dari atas kepala hingga ke kakinya menutupi tubuhnya yang kaku. Ayahmu yang tampan tidur dengan wajah tersenyum. Kedua tangannya menelungkup pada dada. Terdapat rosario perak di sela-sela jemarinya yang bersarung putih. Penuh kedamaian.

Ada satu hal yang sama antara kau dan mereka. Kalian berduka. Tapi duka mereka mungkin tak seduka lukamu. Kau terima belasungkawa mereka dengan jabat tangan dan anggukan kepala. Rasanya seperti mengulang adegan yang kau mainkan sebelumnya. 

***

Seperti waktu itu.

Kau dengarkan lekat-lekat suara seseorang yang memanggil namamu melalui pengeras suara. Ada rasa kagum membuncah ketika namamu menggema di setiap penjuru aula. Gambar wajah dan tubuhmu muncul dalam layar lebar yang terpasang memanjang. Mereka menantimu melangkah maju ke depan podium. Agar segera bisa disalami dan diselamati. Untuk dikukuhkan menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang akan segera menyongsong hari baru yang kian tak pasti. Ada kekhawatiran terbesit, tapi tak apa. Hari itu adalah harimu. Kemenanganmu melewati masa berproses menjadi manusia, yang entah mengapa, kau rasakan sebagai kegiatan penggugur kewajiban saja. Semua itu berlalu dengan hasil memuaskan. Bagimu, terutama ayahmu. 

Semoga saja dia melihatmu dengan bangga dari atas sana.

***

Sebagai gantinya, sesosok wanita hadir kembali menjadi pendampingmu. Dia yang sejak kemarin sibuk menyiapkan segala keperluan upacara duka cita. Sering dengan tiba-tiba, tangannya sengaja mengelus kepalamu dengan canggung dan hati-hati. Perlakuan yang sempat tak kau dapat sejak dia keluar dari rumah bertahun-tahun lalu. Meninggalkan kau dan ayahmu. 

Akan tetapi, semenjak mendiang ayahmu sakit, perlahan semua berubah. Sepertinya Tuhan mendengar doa ayahmu. Wanita itu hadir kembali dengan sosok nyata. Bukan hanya suara atau hamparan huruf dan angka dalam kotak surat digital. Berusaha mengisi kembali ceruk-ceruk kosong di hidupmu yang telah lama kelu dan hampa. Dingin. Jauh dari kesan hangat, sehangat pelukan ibu ketika kau masih dalam sapihan.

Kau tak pernah sedekat ini dengannya sejak ia hengkang dari hidupmu dan hidup ayahmu. Dari banyak buku yang kau baca, kau sadari bahwa manusia memiliki garis nasibnya masing-masing. Setiap keluarga memiliki karakter yang berbeda. Dari wanita itu, kau belajar bahwa figur ibu bisa jadi tak seerat hubungan anak dengan figur sang ayah. Dulu kau tak paham. Mencoba memahaminya pun terlalu berat untuk seorang anak seusiamu saat itu. 

Tapi kini, di sela-sela pergolakan batin, kau coba terima kembali segala sesuatu yang telah terenggut lama. Mencoba memaafkan segala hal yang telah terjadi sebelumnya. Sementara pikiranmu tak henti menepis segala pengandaian: seandainya ibumu saja yang dipanggil Tuhan, bukan ayahmu. Seandainya ayahmu yang mengelus kepalamu hari ini, bukan ibumu dengan suaminya. Seandainya ayahmu tidak pergi cepat-cepat dan ibumu tak usah repot-repot kembali. Seandainya dan seandainya. Isi kepalamu meracau liar.

***

Terhenyak dari lamunan, kau sadari bahwa hari ini bukan waktu yang tepat bagi racauan semacam itu memenuhi otakmu. Biarkan hari berkabung ini menjadi hari khusus untukmu dan untuknya. Hari perpisahan yang tak bisa tertunda. Hari dia yang tiada.

Tarik nafas dalam-dalam. Kau kembali tenang.

Wanita itu melihatmu dari kejauhan. Kau sunggingkan sedikit sudut bibirmu ke arahnya. Tangan kanannya melambai, mengisyaratkan keberadaannya. Dia membalas dengan laku sama. Seraya bibirnya bergerak, “Ibu disini,” Suaranya tak terdengar. Tapi kau paham. Kau balas dengan anggukan. 

Ibu cantik hari ini.

Dan memang selalu cantik. Sampai-sampai mendiang ayahmu tak pernah melanggar sumpahnya untuk tak menikah lagi. Janji pernikahannya terpatri terlalu dalam di jantungnya. Dalam susah dan senang, sakit dan sehat, atau kurang dan berlimpahan. Sumpah yang diucapkannya di depan ibumu. Di hadapan pendeta dan dua keluarga yang berkumpul syahdu di sebuah gereja kecil di pinggir kota. Kisah indah dirinya dan ibumu selalu menjadi dongeng pengantar tidur favoritmu. Bukan cerita wayang atau nabi-nabi yang melegenda. 

Waktu terus berjalan ketika yang pergi tak kunjung kembali. Perlahan kau muntahkan dongeng itu sedikit demi sedikit di tong sampah yang teronggok di depan rumah. Tiap kali nada suara tinggi ayahmu terdengar dari ruang kerjanya. Setiap kau melihatnya meluapkan amarah dengan gagang telepon, membantingnya ke lantai, dan akhirnya membanting apa saja yang dia mau. Gelas kopinya, tumpukan buku, mesin ketik, hingga suatu hari, bingkai foto keluarga yang menempel di dinding pun turut menjadi korban. Tergeletak di lantai dengan pecahan kaca berhamburan. Dongeng favoritmu pun ikut hancur berkeping-keping.

Bik Imah yang selalu bergegas membersihkan. Membereskan apa saja yang tidak benar agar tak terlihat olehmu. Padahal, dari balik dinding kamar dan pintu yang sedikit terbuka, kau sering terpaku menggigil. Tak bisa berbuat apa-apa. Kau bertanya kepada Bik Imah tentang apa yang terjadi. Jawabannya seringkali sama, “Bapak sedang capek, Kak.” Sama sekali tak memuaskan.

Sampai suatu ketika di jam pulang sekolah, pria berjambang tebal dengan kacamata hitam itu keluar dari rumahmu. Berhenti menatapmu dengan raut wajah datar dan sangar. Menggesek acak rambutmu dengan jemarinya yang besar-besar. Baunya wangi sekali. Seperti aroma rempah dicampur coklat samar-samar.

 

“Baru pulang sekolah?” tanyanya.

“I-iya Om …”

“Belajar yang benar ya!”

Kemudian dia berlalu. Bergegas menuju sedan hitamnya. Deru kendaraan yang semakin jauh terdengar, menandai sosoknya yang perlahan hilang dari pandanganmu. Siapa dirinya? Tanyamu dalam hati.

Dan kau temukan pria itu, ayahmu, duduk terpaku di kursi ruang tamu. Tak memperhatikan hadirmu. Kau rasakan sesuatu yang tak beres sedang terjadi di rumah ini. 

Esoknya, ketika kau akan berangkat sekolah, potret-potret wajah ibumu yang bertengger menghiasi dinding rumah sudah tak tampak lagi. Hilang tanpa bekas. Bingkai-bingkai foto keluarga di tengah jejalan perabotan rumah itu lenyap. Yang tersisa hanya segelintir potret wajah dua orang saja. Kau dan ayahmu.

Di halaman belakang rumah. Bik Imah sedang sibuk membakar sampah. Matanya merah berair. Mungkin karena terpapar asap. Atau mungkin tidak.

Tanpa perlu bertanya ke wanita tua itu, ayahmu menjelaskan tentang apa yang terjadi. Bahwa kini kalian hanya hidup berdua. Kau dan ayahmu saja. Bahwa kau tak perlu berharap lagi kapan ibu akan pulang. Tidak perlu cemas lagi. Tidak ada penantian lagi.

“Semua akan baik-baik saja, Nak. Ayah janji,” alih-alih menunjukkan wajah sedih, dia malah tersenyum padamu. Meyakinkanmu bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja. Dan kau hanya mengangguk sekedarnya. Ragu-ragu.

Tanpa meminta persetujuanmu, ayahmu memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke kota atau daerah mana pun, ke luar pulau, kemana saja, kau tak tahu pasti, yang penting tidak di rumah ini, jelasnya. Menurutnya ini adalah cara terbaik untuk menghapus kenangan kalian bersama ibumu. Terlalu banyak memori hidupnya yang melekat erat di setiap sudut rumah. 

Kau hanya bisa menurut. Mau tidak mau. Lantas bagaimana dengan teman-teman sekolahmu, kawan bermainmu, mainan layang-layangmu? Dan Bik Imah? Apakah dia juga ikut pindah? Deretan pertanyaan yang sungkan kau minta jawabannya ke ayahmu. 

Apa maunya, kau ikut saja.

Dengan cucuran air mata, Bik Imah menciumi pipimu saat kau berpamitan dengannya. Berpesan agar kau menyempatkan mampir ke rumah jika sedang luang. Tak lupa berkirim surat karena saluran telepon telah dicabut. Ayahmu tak pernah menjual rumah itu, hanya meninggalkannya. Entah sampai kapan.

Dan ketika ajalnya menjemput pun, rumah itu tak sempat lagi mendengar derap langkah kakinya. 

Ayahmu dimakamkan di pemakaman umum di tempat tinggalmu dulu. Jauh dari apartemen sederhana kalian yang berada di tengah kota. Meninggalkan deretan dan tumpukan koleksi bukunya di ruang kerja. Beberapa diantaranya adalah hasil kerjanya sebagai seorang penerjemah bersertifikat internasional. Ayahmu juga seorang kolumnis harian di sebuah surat kabar. Pengisi rubrik politik. Tulisannya yang kritis dan cerdas, bukan retorika belaka, membuatnya memiliki banyak teman sekaligus musuh. Mulai dari pembaca, sesama penulis, politikus, hingga kondektur bus langganannya. Perusahaan surat kabar mencintai eksistensi dirinya. Mesin ketik usang hingga komputer tabung adalah kawan baiknya. Jarang meninggalkan kursi lapuk dengan bantalan berwarna merah yang kini teronggok hampa di dekat jendela. Ditambah lagi dengan tumpukan surat kabar yang berada di sudut ruang. Pun dengan dengan buku-bukunya yang mulai usang.

Menjadi warisannya untukmu.

Ayahmu tidak pernah menikah lagi. Ibumu tak pernah bisa digantikan oleh siapa pun. Pria dan wanita yang mencoba singgah ke hatinya terhempas begitu saja. Seringkali berakhir dengan cerita yang tak disangka-sangka. 

***

Om Ridwan, pria itu sering menjemputmu ketika pulang sekolah, menginap di kamar ayahmu setiap akhir pekan, dan yang sering membuat ayahmu tertawa terbahak ketika kalian bertiga bermain monopoli di meja makan sampai larut malam. 

Dan hubungan yang tak sampai tiga tahun itu pun akhirnya kandas juga.

Malam basah di hari Minggu. Om Ridwan keluar dari kamar ayahmu sembari menjinjing koper besar miliknya. Lantas berteriak lantang ke ayahmu dari arah pintu depan. 

“Kau ‘tak pernah berubah, Ed!” 

Beberapa tetangga membuka pintu dan menyaksikan apa yang terjadi. Longokan kepala demi kepala mereka terlihat seperti jajaran kepala hewan ternak yang menanti pakan. Lorong apartemen berubah menjadi jalur kasak-kusuk suara mulut manusia. Tak ada satu pun yang beranjak. Hanya sekedar menyaksikan adegan yang jarang ditampilkan dari kejauhan.

“Kak, kamu sudah besar, jaga ayahmu baik-baik, Om tidak akan kembali ke tempat ini,” sejenak kau membeku penuh tanda tanya, kemudian mengangguk pelan. 

Di sudut lain, ayahmu tampak diam membisu. Kau melihat matanya berusaha seolah menikmati lalu lalang kendaraan kota di bawah rintik hujan malam itu. Tak secuil kata pun keluar dari katup bibirnya. 

Terdengar pintu ditutup berdebam.

“Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Besok ayah yang menjemputmu pulang sekolah.” Sunggingan senyum mengakhiri kalimat sederhana yang kau dengar bersamaan dengan gelegar halilintar. Hujan di luar kian deras.

“Terserah ayah,” balasmu singkat tanpa melihat matanya. Kau tinggalkan dirinya dan beranjak menuju kamarmu.

***

Tante Dewi namanya. Wanita itu sering membuat meja makanmu dipenuhi masakan lezat. Datang dari satu perusahaan penerbitan buku, ayahmu bertemu dengannya saat konferensi literasi se-Asia Tenggara dihelat di kotamu. Tante Dewi didaulat sebagai pembicara dalam satu seminar yang diadakan. Ayahmu bersanding dengannya sebagai narasumber di acara yang sama. Semenjak saat itu hubungan mereka berjalan. Hingga saling kunjung dan beberapa kali menginap.

Tante Dewi menempati sebuah rumah di kawasan perumahan elit bersama anak keduanya, Radha. Anak pertamanya tinggal bersama mantan suaminya yang seorang pejabat dan pengusaha kelas kakap. Dari rumor yang beredar, mereka berpisah karena sang suami ternyata memiliki istri muda yang berasal dari negeri seberang. Belum diketahui siapa namanya. Hingga suatu hari beredar foto seorang pria tambun yang berjalan berangkulan dengan seorang wanita dengan perut membesar di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari patung Merlion. Banyak orang penasaran siapa sesungguhnya wanita itu. Tak ada yang tahu, namanya pun tidak. Hingga perpisahan itu pun terjadi. Istri pertama menggugat cerai dengan pembagian harta gono-gini yang tak main-main.

Janda kaya. Orang-orang menggelari sosok Tante Dewi. Dia tak peduli. Kau pun juga. Ayahmu apalagi.

Dan Radha pun menganggapmu sebagai kakak laki-lakinya sendiri. Kau membantunya mengerjakan PR, menemaninya les menari, hingga menunggunya berlatih drama. Kau, ayahmu, Tante Dewi dan Radha, seringkali menghabiskan waktu bersama. Berlama-lama di museum atau menikmati rujak buah di pinggir pantai. Hingga menghabiskan pagi di akhir pekan hanya untuk memberi makan kijang di taman kota.

Dan sekali lagi semuanya tak berlangsung lama. Bulir-bulir kebahagiaan itu kembali berguguran.

Tante Dewi memutuskan meninggalkan ayahmu. Melalui sopirnya, semua pemberian ayahmu kepadanya dikembalikan. Ayahmu berulang kali bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi melalui saluran telepon. Dan jawaban yang didapatnya hanya penjelasan yang tak jelas.

“Maafkan aku, Ed! Ini demi kebaikan kita bersama,” hanya itu yang terdengar dari pengeras suara di ujung telepon.

“Maafkan Tante. Tante dan Radha akan selalu sayang kamu, Kak.” Pesan singkat itu muncul di layar telepon genggammu.

Di luar, seorang wanita berkacamata hitam tampak sejenak melihat jendela apartemenmu. Kemudian bergegas menutup kacanya yang berwarna hitam pekat. Dan mobil berplat merah dengan nomor polisi yang tak biasa itu pun melaju menembus rimba jalan.

Ayahmu masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Warna jingga dari ufuk Barat menembus kisi-kisinya. Menabrak tubuh kaku pria itu dan membentuk siluetnya pada dinding kamar.

“Ayah bisa pastikan semuanya akan baik-baik saja, Nak! Tak perlu khawatir,” tangannya menepuk pundakmu. Menatapmu.

Tatapan itu. Tatapan yang sama saat ayahmu duduk terpaku di sudut ruang tamu di rumah lamamu dulu. Tatapan yang tak banyak berubah ketika Om Ridwan keluar dari apartemenmu.

“Kita sedang tidak baik-baik saja, Yah. Ayah tahu itu,”

***

“Ayah telah memiliki segala yang kau perlukan untuk studimu berikutnya, Nak! Bisa jadi melebihi isi otak dosen-dosenmu nanti. Tinggal kau kembangkan!”

Masalah pendidikanmu membuat hubungan kalian berdua semakin tak baik. Ayahmu ingin kau melanjutkan studi bahasa atau jurnalistik. Dunia yang tak jauh dari apa yang digelutinya. Dunia yang ikut berperan menumbuhkan dirimu. Tapi kau tak mau. Kau ingin lepas dari sistem pendidikan negara yang monoton ini. Belajar tidak harus berkutat dalam lembaga pendidikan. Belajar bisa dimana saja. Bagimu dunia adalah universitas sesungguhnya. 

“Tapi ini tidak seperti yang aku mau, Yah! Aku ingin melihat dunia yang nyatanya jauh lebih luas. Bukan hanya dari tulisan dan gambar berwarna yang berasal dari deretan buku koleksi Ayah. Bukan pula seperti gambar bergerak yang ditayangkan habis-habisan oleh stasiun televisi. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Mencium aromanya. Menjilat keringatnya. Tidak hanya dari bingkai jendela apartemen kita yang kian lama terasa makin sempit ini!”

“Apa yang kau butuhkan telah Ayah siapkan disini,”

“Dan selamanya berada di bawah ketiak Ayah?”

“Ada yang salah?”

“Ini yang salah. Ego Ayah yang harus disalahkan. Apakah keinginan ayah harus menjadi satu-satunya yang bisa selalu terwujud? Lantas bagaimana keinginan anak Ayah sendiri! Mauku! Aku sudah dewasa, Yah!”

“Dan aku ayahmu!”

“Mungkin ini yang membuat ibu pergi dari rumah!”

“Mengapa ibumu yang kau bawa-bawa? Tak ada sangkut pautnya!”

“Dan membuat Om Ridwan meninggalkan Ayah! Dan Tante Dewi berpisah dengan Ayah!”

“Tidak seperti itu!”

“Aku tahu alasannya! Semua bukan gara-gara mereka! Semua gara-gara Ayah! Ayah yang menyebabkan orang-orang  itu pergi! Ayah yang salah selama ini! Ayah yang jadi penjahatnya!”

“Diam kau!”

Suara benda jatuh bergelontang di atas lantai. Seonggok tubuh terhuyung dan akhirnya jatuh berdebam. Ayahmu meremas-remas dadanya. Nafasnya naik turun. Tersengal dengan rintihan yang sungguh menyayat telinga. Kau peluk tubuhnya. Tangan kalian berdua bergenggaman. Rasa bingung dan kalut menerpamu. Teriakan minta tolong terdengar di sepanjang lorong apartemen.

***

Pandanganmu tertambat di sebuah koridor panjang dengan lalu-lalang tenaga medis berpakaian putih dan hijau. Tubuhmu bersandar di kursi pengunjung di depan ruang gawat darurat. Menunduk lemas dan cemas. Waktu seolah berjalan begitu lama hanya untuk menanti kabar dari dokter tentang kondisi ayahmu saat itu. Perasaan yang berjibaku dengan rasa bersalah. Berujung pada penyesalan tak berkesudahan. 

Seandainya kalian tak harus bertengkar. 

***

Dokter Dimas, dokter berperawakan tinggi dengan rambut cepak yang bertugas saat itu, memintamu masuk ke ruangannya. Dia mengenal ayahmu. Kau pun mengenalnya dari beberapa  kali pertemuan saat dia bertandang ke tempat tinggalmu. Kau menganggapnya sebagai salah satu teman kencan ayahmu. Informasi yang kau peroleh darinya adalah bahwa kondisi jantung ayahmu cukup lemah. Serangan jantungnya kali ini memaksa dokter harus segera mengambil tindakan. Operasi entah apa pun itu harus segera dilakukan. Kau tak percaya dengan pendengaranmu. Pun tak percaya bahwa dari sekian lama kalian berdua hidup bersama, kondisi kesehatan ayahmu bisa seserius itu. Dokter Dimas hanya bisa meyakinkanmu bahwa dia dan timnya akan berusaha sebaik mungkin.

Dia melihatmu dengan rasa iba. Tanpa canggung, telapak tangannya tertelungkup di jemarimu.

“Berdoa saja semua akan baik-baik saja, kami akan berusaha,” 

Dan kau menangis dalam pelukannya.

Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranmu. Tentang segala kemungkinan buruk yang bisa menimpa ayahmu. Tentang apa lagi yang harus dan akan kau lakukan setelah ayahmu mendapat serangan jantungnya. Tentang segala sumpah serapah yang kau janjikan pada dirimu sendiri, bahwa kau akan bersamanya. Apakah kau baik-baik saja sekarang?

***

Kondisi ayahmu mengalami pemulihan paska operasi. Lambat memang, namun cukup membuatmu tenang bahwa serangan itu tak mencabut nyawanya. Meski peluang itu akan selalu ada  dan terus mengancam jiwanya.

“Maafkan ayah, Nak,” suaranya yang parau terdengar lemah. 

“Ayah bicara apa?” Sorot matamu membuatnya canggung. Ditelannya bubur ayam yang kau suapkan ke mulutnya pelan-pelan.

“Kau tak harus menuruti permintaan ayah,” kau hanya bisa tersenyum.

“Aku akan dikalungi medali bertuliskan juara satu anak durhaka jika meninggalkan ayah dalam kondisi seperti ini,”  Ayahmu membisu. “Dan Ayah tak perlu khawatir lagi,” kau sodorkan secarik kertas dan secuil tanda pengenal kepadanya. 

“Tolong ambilkan kacamata ayah,” kau bantu mengenakannya. Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat naik.

“Perkenalkan, saya putra Bapak Edy, mahasiswa baru studi jurnalistik,”

Kalian berdua tenggelam dalam tangis kebahagiaan. Tak perlu ada orang lain yang harus berperan menjadi pemicu kebahagiaan kalian. Kau dan ayahmu sudah cukup.

Bahkan mungkin pula kehadiran ibumu tak diperlukan lagi.

***

Kau menemukannya tergeletak tak bernyawa di ruang kerjanya. Persis ketika kau baru saja pulang dari tempat kawanmu. Di tangannya tergenggam secarik potret keluarga yang sedang berkumpul di ruang makan, yang dikelilingi rak dengan deretan buku.

Seperti yang telah disampaikan dokter Dimas sebelumnya, jika serangan pertama bisa selamat, belum tentu serangan kedua akan meloloskannya dari jerat maut. Waktu yang kau takutkan pun tiba. Jika menghadapi masalah lain kau cukup tegar, namun belum tentu dengan hal ini. Jangan kematian. Kematian siapa pun akan memutus proses pencarian jawaban atas apa yang telah terjadi. Kematian akan menghentikan atau serta-merta memperpanjang masalah sebelumnya. Karena ketika ayahmu tiada, maka seolah akan selalu ada yang belum tuntas dilakukannya untukmu, untuk dirinya, untuk keluarganya.

Malah, kini ada ibumu yang bersamamu. Membawa orang asing masuk ke dalam rumah duka, rumah ayahmu. Menempel erat di sampingnya, seorang laki-laki paruh baya berjambang tebal dengan setelan necis berwarna hitam. Postur tubuhnya yang tambun, terlihat sedikit lebih langsing. Pria itu adalah suami ibumu. Kau mengingatnya sebagai pria berkacamata hitam yang pernah bertandang ke rumah lamamu dulu.

Wanita itu muncul kembali sebagai sosok lama namun asing. Karena permintaan suaminya, dia pulang ke negeri ini lagi. Rumor baru merebak ke publik. Tentang kehadiran seorang wanita cantik dari negeri seberang. Istri kedua dari seorang duda kaya dan berkedudukan tinggi di pemerintahan. Pria yang namanya selalu santer tertulis di setiap kolom-kolom politik di surat kabar ayahmu. Selalu menjadi sorotan kritik pedas ayahmu melalui beberapa kebijakan publik yang dibuatnya, bahkan dari gaya hidupnya yang tak biasa. Perlente, gila wanita, memiliki banyak anak, dan sebutan-sebutan lain yang secara subjektif ada kesan tak suka yang disiratkan ayahmu kepada pria itu melalui tulisan-tulisannya. Hingga fakta terkuak. Pria itu adalah mantan suami Tante Dewi yang kabarnya kini sudah rujuk kembali. Pun masih menjadi sosok pria pendamping ibumu. Dan juga ayah dari seorang dokter yang menangani kesehatan ayahmu selama ini. Benar, Dokter Dimas adalah anak pertama dari pernikahan pria itu dengan Tante Dewi. Kakak laki-laki Radha.

***

Keluarga dekat hadir dalam upacara pemakaman ayahmu. Jenazah telah dibawa ke pusara terakhirnya. Di sampingmu, Bik Imah tak henti meneteskan air mata. Isakannya bergemuruh di antara doa-doa dan penghormatan terakhir yang dipanjatkan oleh bapak pendeta.

Om Ridwan datang melayat bersama seorang pria yang tak sungkan menggandeng tangannya di depan umum. Mereka berdua duduk di deretan kursi paling depan, sejajar dengan ibumu dan suaminya. Terdapat jas putih terlipat rapi di pangkuan pria itu. Meski keduanya sama-sama mengenakan kaca mata hitam, namun raut wajah sedih Om Ridwan begitu ketara. Berulangkali kau melihatnya menyeka air mata. Dan Dokter Dimas yang berada di sisinya, sepenuh hati berjuang menangkan.

 

Di deretan kursi yang sama, Tante Dewi menyandarkan kepalanya pada pundak seorang perempuan muda. Dia datang bersama Radha yang telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Kemolekan tubuh dan kecantikannya begitu terlihat nyata meski tubuhnya terbalut kain hitam dan rambutnya tertutup kerudung dengan warna sama. Tapi kau sering melihatnya tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Di saat kalian berdua beradu lidah di dalam kamar kos kawanmu yang panas itu. Ketika dirinya ketagihan melumat batangmu sepulang sekolah di dalam mobilnya. Pun di saat tubuhnya bergoyang menggelinjang ketika menduduki perut dan kemaluanmu di sebuah kamar hotel melati di pinggir kota. Sudah hampir dua tahun dirinya menjadi kekasihmu. Sering bersamamu diam-diam.

Sebelum pemakaman dilakukan, Radha sempat menemuimu. Memeluk erat tubuhmu.

“Relakan dia yang pergi,”

Kau menatapnya.

“Karena setiap ada yang pergi, selalu ada yang datang,” ungkapnya pelan.

Dan tangannya menuntun telapak tanganmu mengusap bagian perutnya yang terlihat membesar.

 

 

Pertengahan April 2018. Panas-hujan berganti-ganti.

MC For The Wedding Andrew & Erlin

Took a very wonderful nite with my beautiful partner Miss @rebeccazeller , hosting for the wedding of Andrew & Erlin.
Presented by @chronicle_eventorganizer .
Supported by @moirephoto @blinkproductionsurabaya @fortunepagarayu @satryo_mitzlighting @orangeliteorchestra @ariedecor etc.
Lensed by @wibymuhay

47636464-5b1a-4209-9557-cf5332872b07

Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

MC For The Wedding of Yudi & Intan

For the wedding of Yudi & Intan.
Presented by @chronicle_eventorganizer .
With MC partner, Miss @rebeccazeller .
Supported by @flexophotography @houseofmocca @moccavideo @dtalepagarayu @bimaallstar @agunglighting @genesisdecoration @bimarestaurant .
Pic is taken by @wibymuhay

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑