Pemakaman Ayah

Kepalamu menyembul lebih tinggi dibandingkan kumpulan orang di sekitarmu. Kau menoleh ke kiri dan kanan, mencari sesuatu. Atau seseorang lebih tepatnya. Tanpa beranjak dari tempat duduk, sosokmu terlihat menonjol dari kejauhan. Di sekelilingmu, hampir semua orang mengenakan pakaian berwarna senada seperti yang melekat di tubuhmu. Mereka hadir untukmu dengan membawa misi sama, belasungkawa. Datang sebagai tamu yang tanpa malu menampakkan wajah sedih penuh simpati. Ada pula yang asyik mengunyah sajian dan menyesap teh panas sambil bercakap lirih. Pantang menunjukkan raut wajah bahagia di tengah gelimpang nestapa. Sedikit  menimbulkan suara riuh, namun tetap santun. Sisanya sibuk dengan gumpalan benda padat dengan cahaya berpedar dalam genggaman. Mengetik sesuatu atau sekedar menggerakkan jempol naik turun di permukaan layarnya. Menikmati dunianya sendiri.

Dan kau duduk mengamati mereka di samping sosok beku berjas-berdasi yang tengah tidur di dalam kotak persegi panjang dengan matras putih tipis empuk terhampar padat di dalamnya. Selembar kain kasa tipis membujur dari atas kepala hingga ke kakinya menutupi tubuhnya yang kaku. Ayahmu yang tampan tidur dengan wajah tersenyum. Kedua tangannya menelungkup pada dada. Terdapat rosario perak di sela-sela jemarinya yang bersarung putih. Penuh kedamaian.

Ada satu hal yang sama antara kau dan mereka. Kalian berduka. Tapi duka mereka mungkin tak seduka lukamu. Kau terima belasungkawa mereka dengan jabat tangan dan anggukan kepala. Rasanya seperti mengulang adegan yang kau mainkan sebelumnya. 

***

Seperti waktu itu.

Kau dengarkan lekat-lekat suara seseorang yang memanggil namamu melalui pengeras suara. Ada rasa kagum membuncah ketika namamu menggema di setiap penjuru aula. Gambar wajah dan tubuhmu muncul dalam layar lebar yang terpasang memanjang. Mereka menantimu melangkah maju ke depan podium. Agar segera bisa disalami dan diselamati. Untuk dikukuhkan menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang akan segera menyongsong hari baru yang kian tak pasti. Ada kekhawatiran terbesit, tapi tak apa. Hari itu adalah harimu. Kemenanganmu melewati masa berproses menjadi manusia, yang entah mengapa, kau rasakan sebagai kegiatan penggugur kewajiban saja. Semua itu berlalu dengan hasil memuaskan. Bagimu, terutama ayahmu. 

Semoga saja dia melihatmu dengan bangga dari atas sana.

***

Sebagai gantinya, sesosok wanita hadir kembali menjadi pendampingmu. Dia yang sejak kemarin sibuk menyiapkan segala keperluan upacara duka cita. Sering dengan tiba-tiba, tangannya sengaja mengelus kepalamu dengan canggung dan hati-hati. Perlakuan yang sempat tak kau dapat sejak dia keluar dari rumah bertahun-tahun lalu. Meninggalkan kau dan ayahmu. 

Akan tetapi, semenjak mendiang ayahmu sakit, perlahan semua berubah. Sepertinya Tuhan mendengar doa ayahmu. Wanita itu hadir kembali dengan sosok nyata. Bukan hanya suara atau hamparan huruf dan angka dalam kotak surat digital. Berusaha mengisi kembali ceruk-ceruk kosong di hidupmu yang telah lama kelu dan hampa. Dingin. Jauh dari kesan hangat, sehangat pelukan ibu ketika kau masih dalam sapihan.

Kau tak pernah sedekat ini dengannya sejak ia hengkang dari hidupmu dan hidup ayahmu. Dari banyak buku yang kau baca, kau sadari bahwa manusia memiliki garis nasibnya masing-masing. Setiap keluarga memiliki karakter yang berbeda. Dari wanita itu, kau belajar bahwa figur ibu bisa jadi tak seerat hubungan anak dengan figur sang ayah. Dulu kau tak paham. Mencoba memahaminya pun terlalu berat untuk seorang anak seusiamu saat itu. 

Tapi kini, di sela-sela pergolakan batin, kau coba terima kembali segala sesuatu yang telah terenggut lama. Mencoba memaafkan segala hal yang telah terjadi sebelumnya. Sementara pikiranmu tak henti menepis segala pengandaian: seandainya ibumu saja yang dipanggil Tuhan, bukan ayahmu. Seandainya ayahmu yang mengelus kepalamu hari ini, bukan ibumu dengan suaminya. Seandainya ayahmu tidak pergi cepat-cepat dan ibumu tak usah repot-repot kembali. Seandainya dan seandainya. Isi kepalamu meracau liar.

***

Terhenyak dari lamunan, kau sadari bahwa hari ini bukan waktu yang tepat bagi racauan semacam itu memenuhi otakmu. Biarkan hari berkabung ini menjadi hari khusus untukmu dan untuknya. Hari perpisahan yang tak bisa tertunda. Hari dia yang tiada.

Tarik nafas dalam-dalam. Kau kembali tenang.

Wanita itu melihatmu dari kejauhan. Kau sunggingkan sedikit sudut bibirmu ke arahnya. Tangan kanannya melambai, mengisyaratkan keberadaannya. Dia membalas dengan laku sama. Seraya bibirnya bergerak, “Ibu disini,” Suaranya tak terdengar. Tapi kau paham. Kau balas dengan anggukan. 

Ibu cantik hari ini.

Dan memang selalu cantik. Sampai-sampai mendiang ayahmu tak pernah melanggar sumpahnya untuk tak menikah lagi. Janji pernikahannya terpatri terlalu dalam di jantungnya. Dalam susah dan senang, sakit dan sehat, atau kurang dan berlimpahan. Sumpah yang diucapkannya di depan ibumu. Di hadapan pendeta dan dua keluarga yang berkumpul syahdu di sebuah gereja kecil di pinggir kota. Kisah indah dirinya dan ibumu selalu menjadi dongeng pengantar tidur favoritmu. Bukan cerita wayang atau nabi-nabi yang melegenda. 

Waktu terus berjalan ketika yang pergi tak kunjung kembali. Perlahan kau muntahkan dongeng itu sedikit demi sedikit di tong sampah yang teronggok di depan rumah. Tiap kali nada suara tinggi ayahmu terdengar dari ruang kerjanya. Setiap kau melihatnya meluapkan amarah dengan gagang telepon, membantingnya ke lantai, dan akhirnya membanting apa saja yang dia mau. Gelas kopinya, tumpukan buku, mesin ketik, hingga suatu hari, bingkai foto keluarga yang menempel di dinding pun turut menjadi korban. Tergeletak di lantai dengan pecahan kaca berhamburan. Dongeng favoritmu pun ikut hancur berkeping-keping.

Bik Imah yang selalu bergegas membersihkan. Membereskan apa saja yang tidak benar agar tak terlihat olehmu. Padahal, dari balik dinding kamar dan pintu yang sedikit terbuka, kau sering terpaku menggigil. Tak bisa berbuat apa-apa. Kau bertanya kepada Bik Imah tentang apa yang terjadi. Jawabannya seringkali sama, “Bapak sedang capek, Kak.” Sama sekali tak memuaskan.

Sampai suatu ketika di jam pulang sekolah, pria berjambang tebal dengan kacamata hitam itu keluar dari rumahmu. Berhenti menatapmu dengan raut wajah datar dan sangar. Menggesek acak rambutmu dengan jemarinya yang besar-besar. Baunya wangi sekali. Seperti aroma rempah dicampur coklat samar-samar.

 

“Baru pulang sekolah?” tanyanya.

“I-iya Om …”

“Belajar yang benar ya!”

Kemudian dia berlalu. Bergegas menuju sedan hitamnya. Deru kendaraan yang semakin jauh terdengar, menandai sosoknya yang perlahan hilang dari pandanganmu. Siapa dirinya? Tanyamu dalam hati.

Dan kau temukan pria itu, ayahmu, duduk terpaku di kursi ruang tamu. Tak memperhatikan hadirmu. Kau rasakan sesuatu yang tak beres sedang terjadi di rumah ini. 

Esoknya, ketika kau akan berangkat sekolah, potret-potret wajah ibumu yang bertengger menghiasi dinding rumah sudah tak tampak lagi. Hilang tanpa bekas. Bingkai-bingkai foto keluarga di tengah jejalan perabotan rumah itu lenyap. Yang tersisa hanya segelintir potret wajah dua orang saja. Kau dan ayahmu.

Di halaman belakang rumah. Bik Imah sedang sibuk membakar sampah. Matanya merah berair. Mungkin karena terpapar asap. Atau mungkin tidak.

Tanpa perlu bertanya ke wanita tua itu, ayahmu menjelaskan tentang apa yang terjadi. Bahwa kini kalian hanya hidup berdua. Kau dan ayahmu saja. Bahwa kau tak perlu berharap lagi kapan ibu akan pulang. Tidak perlu cemas lagi. Tidak ada penantian lagi.

“Semua akan baik-baik saja, Nak. Ayah janji,” alih-alih menunjukkan wajah sedih, dia malah tersenyum padamu. Meyakinkanmu bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja. Dan kau hanya mengangguk sekedarnya. Ragu-ragu.

Tanpa meminta persetujuanmu, ayahmu memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke kota atau daerah mana pun, ke luar pulau, kemana saja, kau tak tahu pasti, yang penting tidak di rumah ini, jelasnya. Menurutnya ini adalah cara terbaik untuk menghapus kenangan kalian bersama ibumu. Terlalu banyak memori hidupnya yang melekat erat di setiap sudut rumah. 

Kau hanya bisa menurut. Mau tidak mau. Lantas bagaimana dengan teman-teman sekolahmu, kawan bermainmu, mainan layang-layangmu? Dan Bik Imah? Apakah dia juga ikut pindah? Deretan pertanyaan yang sungkan kau minta jawabannya ke ayahmu. 

Apa maunya, kau ikut saja.

Dengan cucuran air mata, Bik Imah menciumi pipimu saat kau berpamitan dengannya. Berpesan agar kau menyempatkan mampir ke rumah jika sedang luang. Tak lupa berkirim surat karena saluran telepon telah dicabut. Ayahmu tak pernah menjual rumah itu, hanya meninggalkannya. Entah sampai kapan.

Dan ketika ajalnya menjemput pun, rumah itu tak sempat lagi mendengar derap langkah kakinya. 

Ayahmu dimakamkan di pemakaman umum di tempat tinggalmu dulu. Jauh dari apartemen sederhana kalian yang berada di tengah kota. Meninggalkan deretan dan tumpukan koleksi bukunya di ruang kerja. Beberapa diantaranya adalah hasil kerjanya sebagai seorang penerjemah bersertifikat internasional. Ayahmu juga seorang kolumnis harian di sebuah surat kabar. Pengisi rubrik politik. Tulisannya yang kritis dan cerdas, bukan retorika belaka, membuatnya memiliki banyak teman sekaligus musuh. Mulai dari pembaca, sesama penulis, politikus, hingga kondektur bus langganannya. Perusahaan surat kabar mencintai eksistensi dirinya. Mesin ketik usang hingga komputer tabung adalah kawan baiknya. Jarang meninggalkan kursi lapuk dengan bantalan berwarna merah yang kini teronggok hampa di dekat jendela. Ditambah lagi dengan tumpukan surat kabar yang berada di sudut ruang. Pun dengan dengan buku-bukunya yang mulai usang.

Menjadi warisannya untukmu.

Ayahmu tidak pernah menikah lagi. Ibumu tak pernah bisa digantikan oleh siapa pun. Pria dan wanita yang mencoba singgah ke hatinya terhempas begitu saja. Seringkali berakhir dengan cerita yang tak disangka-sangka. 

***

Om Ridwan, pria itu sering menjemputmu ketika pulang sekolah, menginap di kamar ayahmu setiap akhir pekan, dan yang sering membuat ayahmu tertawa terbahak ketika kalian bertiga bermain monopoli di meja makan sampai larut malam. 

Dan hubungan yang tak sampai tiga tahun itu pun akhirnya kandas juga.

Malam basah di hari Minggu. Om Ridwan keluar dari kamar ayahmu sembari menjinjing koper besar miliknya. Lantas berteriak lantang ke ayahmu dari arah pintu depan. 

“Kau ‘tak pernah berubah, Ed!” 

Beberapa tetangga membuka pintu dan menyaksikan apa yang terjadi. Longokan kepala demi kepala mereka terlihat seperti jajaran kepala hewan ternak yang menanti pakan. Lorong apartemen berubah menjadi jalur kasak-kusuk suara mulut manusia. Tak ada satu pun yang beranjak. Hanya sekedar menyaksikan adegan yang jarang ditampilkan dari kejauhan.

“Kak, kamu sudah besar, jaga ayahmu baik-baik, Om tidak akan kembali ke tempat ini,” sejenak kau membeku penuh tanda tanya, kemudian mengangguk pelan. 

Di sudut lain, ayahmu tampak diam membisu. Kau melihat matanya berusaha seolah menikmati lalu lalang kendaraan kota di bawah rintik hujan malam itu. Tak secuil kata pun keluar dari katup bibirnya. 

Terdengar pintu ditutup berdebam.

“Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Besok ayah yang menjemputmu pulang sekolah.” Sunggingan senyum mengakhiri kalimat sederhana yang kau dengar bersamaan dengan gelegar halilintar. Hujan di luar kian deras.

“Terserah ayah,” balasmu singkat tanpa melihat matanya. Kau tinggalkan dirinya dan beranjak menuju kamarmu.

***

Tante Dewi namanya. Wanita itu sering membuat meja makanmu dipenuhi masakan lezat. Datang dari satu perusahaan penerbitan buku, ayahmu bertemu dengannya saat konferensi literasi se-Asia Tenggara dihelat di kotamu. Tante Dewi didaulat sebagai pembicara dalam satu seminar yang diadakan. Ayahmu bersanding dengannya sebagai narasumber di acara yang sama. Semenjak saat itu hubungan mereka berjalan. Hingga saling kunjung dan beberapa kali menginap.

Tante Dewi menempati sebuah rumah di kawasan perumahan elit bersama anak keduanya, Radha. Anak pertamanya tinggal bersama mantan suaminya yang seorang pejabat dan pengusaha kelas kakap. Dari rumor yang beredar, mereka berpisah karena sang suami ternyata memiliki istri muda yang berasal dari negeri seberang. Belum diketahui siapa namanya. Hingga suatu hari beredar foto seorang pria tambun yang berjalan berangkulan dengan seorang wanita dengan perut membesar di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari patung Merlion. Banyak orang penasaran siapa sesungguhnya wanita itu. Tak ada yang tahu, namanya pun tidak. Hingga perpisahan itu pun terjadi. Istri pertama menggugat cerai dengan pembagian harta gono-gini yang tak main-main.

Janda kaya. Orang-orang menggelari sosok Tante Dewi. Dia tak peduli. Kau pun juga. Ayahmu apalagi.

Dan Radha pun menganggapmu sebagai kakak laki-lakinya sendiri. Kau membantunya mengerjakan PR, menemaninya les menari, hingga menunggunya berlatih drama. Kau, ayahmu, Tante Dewi dan Radha, seringkali menghabiskan waktu bersama. Berlama-lama di museum atau menikmati rujak buah di pinggir pantai. Hingga menghabiskan pagi di akhir pekan hanya untuk memberi makan kijang di taman kota.

Dan sekali lagi semuanya tak berlangsung lama. Bulir-bulir kebahagiaan itu kembali berguguran.

Tante Dewi memutuskan meninggalkan ayahmu. Melalui sopirnya, semua pemberian ayahmu kepadanya dikembalikan. Ayahmu berulang kali bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi melalui saluran telepon. Dan jawaban yang didapatnya hanya penjelasan yang tak jelas.

“Maafkan aku, Ed! Ini demi kebaikan kita bersama,” hanya itu yang terdengar dari pengeras suara di ujung telepon.

“Maafkan Tante. Tante dan Radha akan selalu sayang kamu, Kak.” Pesan singkat itu muncul di layar telepon genggammu.

Di luar, seorang wanita berkacamata hitam tampak sejenak melihat jendela apartemenmu. Kemudian bergegas menutup kacanya yang berwarna hitam pekat. Dan mobil berplat merah dengan nomor polisi yang tak biasa itu pun melaju menembus rimba jalan.

Ayahmu masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Warna jingga dari ufuk Barat menembus kisi-kisinya. Menabrak tubuh kaku pria itu dan membentuk siluetnya pada dinding kamar.

“Ayah bisa pastikan semuanya akan baik-baik saja, Nak! Tak perlu khawatir,” tangannya menepuk pundakmu. Menatapmu.

Tatapan itu. Tatapan yang sama saat ayahmu duduk terpaku di sudut ruang tamu di rumah lamamu dulu. Tatapan yang tak banyak berubah ketika Om Ridwan keluar dari apartemenmu.

“Kita sedang tidak baik-baik saja, Yah. Ayah tahu itu,”

***

“Ayah telah memiliki segala yang kau perlukan untuk studimu berikutnya, Nak! Bisa jadi melebihi isi otak dosen-dosenmu nanti. Tinggal kau kembangkan!”

Masalah pendidikanmu membuat hubungan kalian berdua semakin tak baik. Ayahmu ingin kau melanjutkan studi bahasa atau jurnalistik. Dunia yang tak jauh dari apa yang digelutinya. Dunia yang ikut berperan menumbuhkan dirimu. Tapi kau tak mau. Kau ingin lepas dari sistem pendidikan negara yang monoton ini. Belajar tidak harus berkutat dalam lembaga pendidikan. Belajar bisa dimana saja. Bagimu dunia adalah universitas sesungguhnya. 

“Tapi ini tidak seperti yang aku mau, Yah! Aku ingin melihat dunia yang nyatanya jauh lebih luas. Bukan hanya dari tulisan dan gambar berwarna yang berasal dari deretan buku koleksi Ayah. Bukan pula seperti gambar bergerak yang ditayangkan habis-habisan oleh stasiun televisi. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Mencium aromanya. Menjilat keringatnya. Tidak hanya dari bingkai jendela apartemen kita yang kian lama terasa makin sempit ini!”

“Apa yang kau butuhkan telah Ayah siapkan disini,”

“Dan selamanya berada di bawah ketiak Ayah?”

“Ada yang salah?”

“Ini yang salah. Ego Ayah yang harus disalahkan. Apakah keinginan ayah harus menjadi satu-satunya yang bisa selalu terwujud? Lantas bagaimana keinginan anak Ayah sendiri! Mauku! Aku sudah dewasa, Yah!”

“Dan aku ayahmu!”

“Mungkin ini yang membuat ibu pergi dari rumah!”

“Mengapa ibumu yang kau bawa-bawa? Tak ada sangkut pautnya!”

“Dan membuat Om Ridwan meninggalkan Ayah! Dan Tante Dewi berpisah dengan Ayah!”

“Tidak seperti itu!”

“Aku tahu alasannya! Semua bukan gara-gara mereka! Semua gara-gara Ayah! Ayah yang menyebabkan orang-orang  itu pergi! Ayah yang salah selama ini! Ayah yang jadi penjahatnya!”

“Diam kau!”

Suara benda jatuh bergelontang di atas lantai. Seonggok tubuh terhuyung dan akhirnya jatuh berdebam. Ayahmu meremas-remas dadanya. Nafasnya naik turun. Tersengal dengan rintihan yang sungguh menyayat telinga. Kau peluk tubuhnya. Tangan kalian berdua bergenggaman. Rasa bingung dan kalut menerpamu. Teriakan minta tolong terdengar di sepanjang lorong apartemen.

***

Pandanganmu tertambat di sebuah koridor panjang dengan lalu-lalang tenaga medis berpakaian putih dan hijau. Tubuhmu bersandar di kursi pengunjung di depan ruang gawat darurat. Menunduk lemas dan cemas. Waktu seolah berjalan begitu lama hanya untuk menanti kabar dari dokter tentang kondisi ayahmu saat itu. Perasaan yang berjibaku dengan rasa bersalah. Berujung pada penyesalan tak berkesudahan. 

Seandainya kalian tak harus bertengkar. 

***

Dokter Dimas, dokter berperawakan tinggi dengan rambut cepak yang bertugas saat itu, memintamu masuk ke ruangannya. Dia mengenal ayahmu. Kau pun mengenalnya dari beberapa  kali pertemuan saat dia bertandang ke tempat tinggalmu. Kau menganggapnya sebagai salah satu teman kencan ayahmu. Informasi yang kau peroleh darinya adalah bahwa kondisi jantung ayahmu cukup lemah. Serangan jantungnya kali ini memaksa dokter harus segera mengambil tindakan. Operasi entah apa pun itu harus segera dilakukan. Kau tak percaya dengan pendengaranmu. Pun tak percaya bahwa dari sekian lama kalian berdua hidup bersama, kondisi kesehatan ayahmu bisa seserius itu. Dokter Dimas hanya bisa meyakinkanmu bahwa dia dan timnya akan berusaha sebaik mungkin.

Dia melihatmu dengan rasa iba. Tanpa canggung, telapak tangannya tertelungkup di jemarimu.

“Berdoa saja semua akan baik-baik saja, kami akan berusaha,” 

Dan kau menangis dalam pelukannya.

Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranmu. Tentang segala kemungkinan buruk yang bisa menimpa ayahmu. Tentang apa lagi yang harus dan akan kau lakukan setelah ayahmu mendapat serangan jantungnya. Tentang segala sumpah serapah yang kau janjikan pada dirimu sendiri, bahwa kau akan bersamanya. Apakah kau baik-baik saja sekarang?

***

Kondisi ayahmu mengalami pemulihan paska operasi. Lambat memang, namun cukup membuatmu tenang bahwa serangan itu tak mencabut nyawanya. Meski peluang itu akan selalu ada  dan terus mengancam jiwanya.

“Maafkan ayah, Nak,” suaranya yang parau terdengar lemah. 

“Ayah bicara apa?” Sorot matamu membuatnya canggung. Ditelannya bubur ayam yang kau suapkan ke mulutnya pelan-pelan.

“Kau tak harus menuruti permintaan ayah,” kau hanya bisa tersenyum.

“Aku akan dikalungi medali bertuliskan juara satu anak durhaka jika meninggalkan ayah dalam kondisi seperti ini,”  Ayahmu membisu. “Dan Ayah tak perlu khawatir lagi,” kau sodorkan secarik kertas dan secuil tanda pengenal kepadanya. 

“Tolong ambilkan kacamata ayah,” kau bantu mengenakannya. Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat naik.

“Perkenalkan, saya putra Bapak Edy, mahasiswa baru studi jurnalistik,”

Kalian berdua tenggelam dalam tangis kebahagiaan. Tak perlu ada orang lain yang harus berperan menjadi pemicu kebahagiaan kalian. Kau dan ayahmu sudah cukup.

Bahkan mungkin pula kehadiran ibumu tak diperlukan lagi.

***

Kau menemukannya tergeletak tak bernyawa di ruang kerjanya. Persis ketika kau baru saja pulang dari tempat kawanmu. Di tangannya tergenggam secarik potret keluarga yang sedang berkumpul di ruang makan, yang dikelilingi rak dengan deretan buku.

Seperti yang telah disampaikan dokter Dimas sebelumnya, jika serangan pertama bisa selamat, belum tentu serangan kedua akan meloloskannya dari jerat maut. Waktu yang kau takutkan pun tiba. Jika menghadapi masalah lain kau cukup tegar, namun belum tentu dengan hal ini. Jangan kematian. Kematian siapa pun akan memutus proses pencarian jawaban atas apa yang telah terjadi. Kematian akan menghentikan atau serta-merta memperpanjang masalah sebelumnya. Karena ketika ayahmu tiada, maka seolah akan selalu ada yang belum tuntas dilakukannya untukmu, untuk dirinya, untuk keluarganya.

Malah, kini ada ibumu yang bersamamu. Membawa orang asing masuk ke dalam rumah duka, rumah ayahmu. Menempel erat di sampingnya, seorang laki-laki paruh baya berjambang tebal dengan setelan necis berwarna hitam. Postur tubuhnya yang tambun, terlihat sedikit lebih langsing. Pria itu adalah suami ibumu. Kau mengingatnya sebagai pria berkacamata hitam yang pernah bertandang ke rumah lamamu dulu.

Wanita itu muncul kembali sebagai sosok lama namun asing. Karena permintaan suaminya, dia pulang ke negeri ini lagi. Rumor baru merebak ke publik. Tentang kehadiran seorang wanita cantik dari negeri seberang. Istri kedua dari seorang duda kaya dan berkedudukan tinggi di pemerintahan. Pria yang namanya selalu santer tertulis di setiap kolom-kolom politik di surat kabar ayahmu. Selalu menjadi sorotan kritik pedas ayahmu melalui beberapa kebijakan publik yang dibuatnya, bahkan dari gaya hidupnya yang tak biasa. Perlente, gila wanita, memiliki banyak anak, dan sebutan-sebutan lain yang secara subjektif ada kesan tak suka yang disiratkan ayahmu kepada pria itu melalui tulisan-tulisannya. Hingga fakta terkuak. Pria itu adalah mantan suami Tante Dewi yang kabarnya kini sudah rujuk kembali. Pun masih menjadi sosok pria pendamping ibumu. Dan juga ayah dari seorang dokter yang menangani kesehatan ayahmu selama ini. Benar, Dokter Dimas adalah anak pertama dari pernikahan pria itu dengan Tante Dewi. Kakak laki-laki Radha.

***

Keluarga dekat hadir dalam upacara pemakaman ayahmu. Jenazah telah dibawa ke pusara terakhirnya. Di sampingmu, Bik Imah tak henti meneteskan air mata. Isakannya bergemuruh di antara doa-doa dan penghormatan terakhir yang dipanjatkan oleh bapak pendeta.

Om Ridwan datang melayat bersama seorang pria yang tak sungkan menggandeng tangannya di depan umum. Mereka berdua duduk di deretan kursi paling depan, sejajar dengan ibumu dan suaminya. Terdapat jas putih terlipat rapi di pangkuan pria itu. Meski keduanya sama-sama mengenakan kaca mata hitam, namun raut wajah sedih Om Ridwan begitu ketara. Berulangkali kau melihatnya menyeka air mata. Dan Dokter Dimas yang berada di sisinya, sepenuh hati berjuang menangkan.

 

Di deretan kursi yang sama, Tante Dewi menyandarkan kepalanya pada pundak seorang perempuan muda. Dia datang bersama Radha yang telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Kemolekan tubuh dan kecantikannya begitu terlihat nyata meski tubuhnya terbalut kain hitam dan rambutnya tertutup kerudung dengan warna sama. Tapi kau sering melihatnya tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Di saat kalian berdua beradu lidah di dalam kamar kos kawanmu yang panas itu. Ketika dirinya ketagihan melumat batangmu sepulang sekolah di dalam mobilnya. Pun di saat tubuhnya bergoyang menggelinjang ketika menduduki perut dan kemaluanmu di sebuah kamar hotel melati di pinggir kota. Sudah hampir dua tahun dirinya menjadi kekasihmu. Sering bersamamu diam-diam.

Sebelum pemakaman dilakukan, Radha sempat menemuimu. Memeluk erat tubuhmu.

“Relakan dia yang pergi,”

Kau menatapnya.

“Karena setiap ada yang pergi, selalu ada yang datang,” ungkapnya pelan.

Dan tangannya menuntun telapak tanganmu mengusap bagian perutnya yang terlihat membesar.

 

 

Pertengahan April 2018. Panas-hujan berganti-ganti.

Advertisements

MC For The Wedding Andrew & Erlin

Took a very wonderful nite with my beautiful partner Miss @rebeccazeller , hosting for the wedding of Andrew & Erlin.
Presented by @chronicle_eventorganizer .
Supported by @moirephoto @blinkproductionsurabaya @fortunepagarayu @satryo_mitzlighting @orangeliteorchestra @ariedecor etc.
Lensed by @wibymuhay

47636464-5b1a-4209-9557-cf5332872b07

Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

MC For The Wedding of Yudi & Intan

For the wedding of Yudi & Intan.
Presented by @chronicle_eventorganizer .
With MC partner, Miss @rebeccazeller .
Supported by @flexophotography @houseofmocca @moccavideo @dtalepagarayu @bimaallstar @agunglighting @genesisdecoration @bimarestaurant .
Pic is taken by @wibymuhay

MC For The Wedding of Diajeng & Wendhi

The real act of marriage takes place in the heart, not in the ballroom or church or synagogue. It’s a choice you make – not just on your wedding day, but over and over again – and that choice is reflected in the way you treat your husband or wife. (Barbara De Angelis)
Sharing stage with my partner Miss @myririz for celebrating the wedding of Diajeng @diajengresy & Wendhi @diajengfarm
Presented by @maharagung.organizer @ruangphotoworks @thepremiereorchestrasurabaya @theempirepalacesby etc. .
Lensed by @wibymuhay
My make-up & hair-do by @makeup_aku
.

MC For The Wedding of Thomas & Ervina

Thank you for having me and my partner, Miss @mechellehalim as your master of ceremony. Once again, happy wedding for both of you, @thomharm87 & dr. @ervina_tendean . Long last, Guys!!!
Presented by @chronicle_eventorganizer @reirphotovideo @caroldancersby @srijayabuilding

Pamit

Masuk awal musim kemarau membuat semburan air di mata air Sumber Bedug mengecil. Alirannya tertampung di beberapa petak kecil terbuat dari bebatuan yang sengaja dibangun untuk keperluan mandi dan cuci warga. Selain itu, juga digunakan untuk mengairi lahan persawahan dan perladangan yang terbentang di sepanjang jalur aliran. Jalur itu kemudian membentuk anak kali yang bercabang-cabang. Mengular memasuki hutan yang selanjutnya tumbuh peradaban manusia berupa desa-desa.

Air yang keluar dari mata air Sumber Bedug adalah salah satu penyumbang debit air di ujung anak kali yang bergabung dengan debit besar di sungai Brantas. Mengalir membelah sebagian daratan pulau Jawa dari Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, kemudian bercabang dan melewati Surabaya hingga bermuara di arus laut lepas. Dari peradaban manusia yang muncul di sepanjang alirannya, keberadaan mata air Sumber Bedug memiliki banyak arti. Khususnya warga dari tiga desa yang lokasinya bersinggungan langsung dengan letak mata air itu. Sebagian besar dari mereka yang mengolah sawah dan ladang sebagai matapencahariannya, menikmati pengairan cuma-cuma dari Sumber Bedug. Sementara mereka yang menjual tanaman hias dan memiliki kebun sayur, air tanah yang juga berpusat dari mata air yang sama, menjadi sumber daya alam Illahi yang mudah diperoleh tanpa tawar-menawar.

Mengacu pada denah lokasi, hak kepemilikan Sumber Bedug sah dikelola oleh desa Bedug. Namun manfaat keberadaannya dapat dinikmati oleh dua desa lainnya, yaitu desa Rembang dan desa Kepuh. Dua desa yang juga berbatasan langsung dengan letak mata air tersebut. Keberadaan titik pusat semburan Sumber Bedug, atau yang warga desa disebut dengan istilah belig, diapit oleh tiga desa itu. Seolah menjadi titik yang berada di bagian tengah segitiga. Masing-masing sisi segitiganya adalah jalan utama milik setiap desa. Hanya saja untuk pintu gerbang sekaligus prasasti batu yang menancap kuat di depan gapura, terukir nama Sumber Bedug. Bertuliskan sejarah singkatnya dengan bahasa Indonesia ejaan lama. Menyatakan bahwa mata air itu terhampar di tanah desa Bedug, milik warga Bedug.

Deru sepeda motor bebek milik Wahyu membising di sepanjang jalan utama desa Kepuh yang beraspal makadam. Permukaannya bergelombang dan berkerikil dengan kontur aspal yang belum sempurna digilas mesin drum roller. Teronggok pula beberapa tong besar berisi lelehan cair berwarna hitam yang mulai mengering dengan bau khas mencemari tanah dan udara di sekitarnya. Cairan aspal yang entah sudah selesai dipakai atau belum, dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Menguarkan bau khas menyengat yang Asap putih sepeda motor Wahyu yang dikendarainya tiba-tiba menebal seiring muncul suara aneh yang berbunyi dari mesin kendaraannya. Tepat ketikan dia melewati tong aspal yang letaknya tak jauh dari tembok tinggi besar dengan kawat berduri di bagian atas yang menjadi pagar belig. Dengan cekatan dia mematikan dan menyalakan kembali kendaraannya di bawah rindang pohon di luar tembok. Satu kali, dua kali, tidak ada hasil. Baru ketika masuk hitungan ketiga, kendaraan roda dua itu menyala normal. Disekanya keringat yang menderas di kening dan pelipisnya. Sepoi angin kering yang menggoyang dedauan dari pohon di atasnya, sedikit memberikan kesejukan. Dari luar tembok, Wahyu hanya bisa melihat bagian atas dan puncak rimbun pohon besar yang mungkin sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Sedangkan setengah badan ke bawah tertutup tembok tebal bercat putih kusam itu.

Dalam perjalanan ke rumah, Wahyu berkendara tanpa mengenakan penutup kepala. Rambut ikalnya berkibar terhempas angin. Digantungnya helm hitam yang kait kacingnya rusak di bagian setir sepeda motornya. Dia sering melakukan hal itu tiap kali melewati gapura besar bercat kuning kecoklatan yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di salah satu sisinya terukir gambar Garuda Pancasila lengkap dengan gambar warna-warni logo dari setiap sila. Di sisi lainnya tertulis besar-besar nama desa dengan huruf timbul berwarna hitam legam, Desa Kepuh. Menjadi satu-satunya jalan beraspal yang merupakan jalan masuk ke desanya dan berbatasan langsung dengan jalan kabupaten. Meski sangat jauh perbedaannya antara jalan aspal kabupaten dengan jalan aspal makadam yang terbentang sepanjang deretan rumah warga di desanya.

Helm hitam Wahyu menggantung dan bergoyang-goyang bersama dengan laju sepeda motor yang dikendarainya. Selepas dhuhur, seperti hari-hari lainnya, jalan utama desa Kepuh terlihat lengang. Sebagian besar penghuninya melakasanakan istirahat bedol desa. Hanya sesekali suara deru sepeda motor dan celotehan anak sekolah yang baru pulang, seperti Wahyu. Tak perlu dikomando, ditekannya pedal gas dengan ujung kaki kanannya lebih dalam lagi. Mumpung sedang sepi, pikirnya. Tidak sampai 500 meter, cabang pohon keres di depan rumahnya terlihat. Khas rumah desa, halaman rumahnya cukup luas. Selain pohon keres di depan pagar, di adalamnya terdapat pula satu pohon mangga besar dan deretan pohon palem serta beragam tanaman perdu baik yang berpot atau ditanam langsung di tanah.

Terik matahari siang dengan udara kering dan panas, membuat Wahyu segera melepaskan sepatunya dan ditaruh di depan bibir pintu rumah. Tali-tali sepatunya yang terpilin tak beraturan membuat sepatu hitam lusuh dengan beberapa jahitan itu agak sukar dilepas. Tanpa pikir panjang, Wahyu menekan bagian tumit kaki kirinya dengan ujung kaki bagian kanan. Dengan sedikit hentakan, lepas sudah sepatu bagian kiri. Pun dilakukannya pada sepatu bagian kanan. Kaos kaki putihnya yang kumal dan berbau tengik, tak lama teronggok diam menumpuk berantakan tak jauh dari sepasang sepatu lusuh di sampingnya.

“Assalamu’alaikum!” teriaknya tanpa jawaban. Disempatkannya menengok jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul 1.25 ketika dia berjalan memasuki kamar. Ditaruhnya tas ransel yang resletingnya tak menutup sempurna di atas kasur. Sementara jam tangannya digeletakkan di atas bantal. Wahyu tak melepas seragam putih abu-abunya dan langsung bergegas menuju dapur. Dahaga tak bisa ditahan lagi. Perutnya sejak tadi berteriak minta diisi. Sesaat kemudian tangannya memegang leher kendi. Tanpa menuangkannya ke dalam gelas, dikucurkannya air ke arah mulutnya lekas-lekas. Air putih bening mengucur deras ke rongga mulutnya. Rasa segarnya terasa melegakan meski sedikit rasa tanah. Tapi itulah air putih khas desa hasil rebusan dari belig Sumber Bedug yang mengalir di bawah hamparan rumah-rumah penduduk. Kesegarannya membuat rasa pahit di mulut Wahyu perlahan lenyap. Cegukan kecil muncul. Dia berdehem, kemudian melenguh sambil berkata, “Suegerrrr!”

Di dapur, sebelum menghampiri meja makan, Wahyu berharap semoga hari ini ibunya memasak lodeh kacang panjang atau urap dengan lauk ikan pindang kesukaannya. Namun yang ada dibalik tudung saji plastik berwarna biru gelap dengan banyak cuilan itu, yang ditemuinya hanya sebakul nasi yang tak lagi hangat. Satu mangkuk sambal pecel lengkap dengan rebusan sayur kacang panjang, bunga turi, dan bayam. Serta sepiring irisan tempe tipis-tipis yang digoreng agak gosong. Masih menguarkan uap panas. Seperti baru saja ditiriskan dari penggorengan. Dia mendesah, “Pecel tempe lagi.” Meski begitu, teriakan rongga lambungnya tak bisa menunggu lama. Air liurnya mengalir deras seiring bau sambal dan wanginya tempe goreng. Sesaat kemudian tangannya sibuk memuluk nasi bersambal dan mulutnya tak henti mengunyah. Sambal pecel yang diracik dan diolah ibunya memang terkenal pedas dan nikmat. Pedasnya bikin kapok lombok, saking pedasnya malah semakin nikmat dan membuatnya makin ketagihan. Bagian dada dan punggung seragamnya basah karena keringat. Sesekali bagian punggung telapak tangannya menyeka peluh yang merembes di keningnya. Udara kering dan panas awal musim kemarau ikut berpadu bersama pedasnya sambal pecel. Wahyu terbakar.
“Ojo kesusu, Yu, keseleg lho nanti!” pinta ibunya yang tiba-tiba masuk ke dapur lewat pintu belakang. Ditangannya tergenggam sebonggol kacang panjang yang baru saja diguyur air
“Enak, Buk! Maknyos! Ssshh… Sssshh…” jawabnya cepat sambil mendesiskan mulutnya akibat rasa pedas yang menjalar hebat di permukaan lidahnya.
“Enak ya enak, tapi kalau makanmu terburu-buru begitu, siap-siap saja …”
“Ughk! Ughk! Buk, air! Minta air!” teriak Wahyu sambil meringis kesakitan. Tangan kirinya menepuk-nepuk leher, tepat dibagian jakunnya. Ada sejenis udara panas yang merangsung ke rongga tenggorkan yang kemudian mampir ke lubang hidungnya.
“Ibuk belum selesai ngomong lho, Yu! Nih minum!” Ibunya tanggap dan langsung menyerahkan segelas air putih kepadanya.

Seteguk dua teguk cairan dingin berhasil mengurangi rasa pedih dan panas di rongga hidung Wahyu. Ibunya ingin tertawa, tapi segera ia urungkan niatnya. Hanya tersenyum dan menaruh wajah prihatin terhadap tingkah laku anak keduanya. Wahyu kembali melanjutkan menikmati makanannya ketika tangan ibunya sibuk mengiris kacang panjang di atas telenan. Seperempat bagian telah terkumpul di dalam marang, wadah plastik berongga bekas tempat makanan dari suatu hajatan atau hantaran, yang diletakkan di atas meja. Mereka berdua duduk berhadapan terpisahkan oleh meja makan kecil.
“Lho, kacang panjangnya mau direbus lagi ya, Buk?” tanya Wahyu di tengah-tengah konsentrasi mengadu mulut dengan isinya.
“Iya Yu. Tadi Ibu belinya agak banyak. Mbak Rin kesiangan dagang sayurnya. Daripada tidak laku, dijual murah ke ibu. Ya sekalian saja diiriis, nanti abis maghrib ibu masak lodeh kacang panjang kesukaanmu,” jelasnya.
“Wuihhh! Alhamdulillah! Doyan, Buk!” ucapnya girang.
“Jadi bisa dibuat makan sampai besok. Ibuk bisa langsung ke kantor desa pagi-pagi.”
“Ada acara apa, Buk?”
“Di undangannya tertulis rapat giat warga, tapi ibu belum tahu giat warga apa,” jelasnya.
Wahyu mengangguk tenang. Di dalam hatinya dia senang sekaligus bangga terhadap ibunya, orang tua satu-satunya yang masih sehat dan memiliki banyak aktivitas. Dulu ketika ayahnya masih ada, ibu Wahyu murni hanya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Kesibukannya hanya mengurus rumah dan keluarga, sesekali menikmati menanam tanaman hias yang bisa dijual sebagai pemasukan tambahan. Suaminya, ayah Wahyu, tidak terlalu menuntut banyak karena kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi dari gaji PNS yang tidak pernah terlambat sampai ke tangan setiap bulannya. Tapi semua berubah setelah kematian ayah Wahyu. Ibunya yang sempat terombang-ambing psikisnya selama lebih kurang satu bulan, mencoba menghidupkan kembali keterpurukannya.

Ima, Wahyu, Anis, dan Rizal yang sebelumnya sempat telantar dan kurang mendapat perhatian, bisa bernafas lega mendapati ibu mereka berangsur-angsur bangkit. Kini Ima tak harus sering-sering pulang ke rumah dan meninggalkan suaminya di Malang tiga hari dalam sepekan selama satu bulan penuh. Anis tak lagi sedikit-sedikit minta dijemput Wahyu di pondok pesantrennya di Pare. Salah seorang ustadzahnya sering mengirim SMS ke Wahyu tentang malam-malam Anis yang sering menangis di tempat tidur karena merindukan ayahnya, terlebih kepada ibunya. Dan si kecil Rizal yang masih duduk di sekolah dasar, bisa pergi sekolah seperti biasa tanpa harus diantar lagi oleh kakaknya atau dititipkan ke tetangga. Rutinitas ibunya tiap pagi muncul kembali. Sementara Wahyu, anak laki-laki tertua dalam keluarganya, tak henti mengagumi sosok ibunya yang bangkit dan sering tenggelam dalam kesibukannya. Mulai dari kegiatan-kegiatan desa, pengajian, sampai acara santunan di bulan suci, Wahyu tak pernah melihat ibunya absen. Antara bangga dan bahagia, bercampur menjadi satu. Apalagi mendekati ujian masuk perguruan tinggi, ketika mimpinya untuk kuliah di luar kota dan meninggalkan rumah, sudah ada di depan mata. Dan menjadi suatu kelegaan tersendiri baginya ketika ibunya cukup mandiri untuk ditinggalkan. Biarkan Anis yang gantian menemani sang ibu ketika dia masuk SMA nanti.

Sang ibu membalas dengan senyuman yang hanya sesaat. Kemudian memunculkan gurat wajah serius di hadapan Wahyu.
“Yu, ibuk mau ngomong sesuatu sama kamu,” tiba-tiba ibunya mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa bahwa percakapan ibu dan anak itu sedikit berubah rutenya. Bukan becanda lagi.
“Mau ngomong apa, Buk? Monggo silakan,”
“Ini tentang kuliahmu—“

Tit-tit-tit.
Tit-tit-tit.

Bunyi suara ponsel membuyarkan rona keseriusan yang mulai terbentuk. Wahyu buru-buru meninggalkan meja makan dan berlari ke arah sumur. Mengguyur telapak tangannya yang belepotan nasi, warna coklat sambal pecel, dan bercak kilau minyak dari tempe goreng, dengan air dari pancuran kran. Lalu menggosok-gosokkannya secara asal dan mencium telapak tangannya. Dia meringis, merasa masih bau. Tak apa lah, toh cuma akan memegang dan melihat pesan masuk di ponselnya saja, pikirnya. Dia kembali duduk di hadapan ibunya.
“Sebentar, Buk, nggih, ” ujarnya sambil merogoh saku celana abu-abu letak ponselnya berada.

Sang ibu menatapnya datar disertai gelengan kepala. Wahyu membalasnya dengan memasang tampang cengengesan tanpa dosa. Hanya sekian detik berselang, setelah itu jemarinya sibuk memencet tombol-tombol ponsel Siemens yang layarnya berwarna oranye hingga terdengar bunyi tak-tak-tak. Menuju fitur pesan. Satu pesan masuk, dari Amir.

Amir : abs ashar ktm d sumber lgsg le
Wahyu : aman le
Amir : ibuk msak opo?
Wahyu : sambal pecel lauk tempe maknyos, mau?
Amir : bungkus
Wahyu : sip

Wahyu menaruh ponselnya di atas meja. Masih berhadapan dengan sang ibu, dia mulai membuka percakapan yang tadi sempat tertunda. Disertai telapak tangannya yang kembali sibuk melanjutkan memuluk kembali makan siang yang belum habis dilahapnya.
“Monggo dilanjut, Buk. Tadi sampai mana?” tanyanya.
“Sampai mana gundulmu. Mulai saja belum,” balas sang ibu berseloroh.
“Owalah belum to? Yo dimulai to, Buk! Hahaha!” mulutnya mengunyah pulukan nasi-sambel-tempe untuk kesekian kalinya.
“Ibuk serius ini, Yu. Ini tentang kuliahmu.”
“Tes seleksi masuk perguruan tinggi masih sekitar dua minggu lagi, Buk. Nilai ujian akhir Wahyu juga lumayan, Insha Alloh bisa lah diterima di PTN Surabaya. Paling mentok ya di Malang. Bismillah saja, Buk!” pintanya.
“Kenapa harus di Surabaya, Yu? Mbok ya di Kediri saja, ada kampusnya juga. Apalagi ndak jauh pula dari pesantrennya, Lek Kri.”
“Kok bawa-bawa pesantrennya Lek Kri, Buk? Lek Kri ‘kan emang dikuliahin gratis dan ngajar disitu? Ndak ada hubungannya dengan kuliahnya Wahyu nanti,” balas Wahyu heran.
“Tapi lek-mu itu juga lulus kuliah dan langsung ngajar, Yu! Langsung kerja! Kamu bisa belajar dari dia,” timpal ibunya.
“Almarhum bapak dhawuh kalau Wahyu harus kuliah, Buk. Bapak juga mengiyakan kalau Wahyu bisa kuliah di Surabaya. Kalau urusan belajar ke siapa, di Surabaya malah banyak. Insha Alloh Wahyu tekun dan bisa jadi orang kantoran yang sukses nanti,’’ dirinya membela.

Percakapan itu berubah sunyi di saat Wahyu mengambil piring dan berjalan menuju sumur. Dibersihkannya piring itu hingga bersih dengan sabun. Telapak tangannya yang masih menyisakan busa sabun, tak lupa pula ikut dibersihkannya. Setelah dirasa cukup bersih, air tanah yang keluar dari pancuran kran menjadi pembasuhnya. Kemudian dia kembali lagi ke meja makan. Mengambil lap yang ditaruh serampangan tak jauh dari tudung saji. Mengeringkannya. Mencium telapak tangannya kembali. Memastikannya bersih dan berbau wangi sabun Wings. Ibunya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Wahyu.
“Buk, Amir minta makan. Barusan tadi SMS,”
“Lho, ambil kertas minyak di laci itu, sini ibuk yang bungkusin! Jangan lupa karet gelangnya, Yu!””
Wahyu kembali duduk di berhedapan dengan ibunya sambil menyerahkan dau lembar kertas minyak dan karet gelang berwarna kuning ke ibunya. Dengan cekatan tangan ibunya membuat kertas tersebut berbentuk seperti mangkuk yang siap ditampungi makanan.
“Segini Amir cukup?” tangan ibunya memegang bungkusan terbuka berisi nasi.
“Cukup, Buk.”
“Biaya perkawinan mbakmu kemarin, daftar ulang sekolah adik-adikmu bulan depan, Ibuk khawatir ndak sanggup membiayai kuliahmu, Yu.” ucap ibunya sambil meletakkan bungkusan kertas minyak berisi nasi putih. Lalu melanjutkan kembali membuat bungkusan di kertas minyak kedua yang selanjutnya diisi dengan sambal pecel dan tempe goreng. “Ini cukup, Yu?” satu bungkusan kembali tersodor tak jauh dari hidung Wahyu. Wahyu melihatnya, kemudian mengangguk.
“Padahal Wahyu sudah ndak ikut study tour SMA lho, Buk. Wahyu pikir kalau uangnya disimpan, bisa lumayan untuk tambah-tambah biaya daftar ulang kuliah Wahyu nanti. Tapi ya ndak kuliah di Kediri meski sama-sama pakai biaya, Buk.”
“Lek Kri-mu bisa bantu agar kamu bisa dapat beasiswa kuliah dan lanjut mengabdi seperti dia,”

Seolah gelegar menyambar gendang telinganya, mengepulkan api di hatinya, dan membakar ubun-ubun kepalanya di waktu bersamaan. Wahyu tertegun sejenak. Menatap ibunya yang sibuk mengikat bungkusan terakhir dengan karet gelang. Kemudian mereka berdua saling berpandangan.

“Ya ndak bisa gitu, Buk? Sebelum wafat, bapak sudah bilang kalau ada dana untuk kuliah Wahyu. Sudah sejak lama Wahyu ingin ke Jakarta. Tapi kemarin Mbah Putri melarang. Mending kuliah yang dekat-dekat saja agar Wahyu sering pulang ke rumah. Kalau Jakarta ndak bisa, ya Wahyu pikir Surabaya cukup lah jadi kota kedua tempat Wahyu belajar. Kediri-Surabaya ‘kan cuma 3-4 jam perjalanan saja. Dan Ibuk sendiri juga tahu kalau Bapak juga bilang bahwa anak lanang itu langkahnya harus jauh. Jangan cuma mbulet saja di kampung. Mbak Ima pun kuliah di Malang sampai lulus. Setelah nikah juga pindah ke Malang. Masa Wahyu di sini saja, Buk?” jelasnya panjang lebar.
“Tapi sekarang kondisinya berbeda, Yu!” timpal ibunya.
“Pokoknya selepas SMA Wahyu ndak mau tinggal di sini lagi.”
“Bapakmu sudah tidak ada. Tinggal kamu anak laki-laki paling tua di rumah ini. Pikirkan mbakmu dan adik-adikmu, Yu!” pinta ibunya.
“Mbak Ima sudah dipikirin sama suaminya. Kata ibuk biaya sekolah Nisa dan Aris sudah disiapkan bapak sampai mereka lulus sekolah. Bahkan kuliah kalau memang ada rezeki. Terus siapa yang memikirkan masa depan Wahyu kalau tidak Wahyu sendiri, Buk?”
“Hutang almarhum bapakmu banyak.”
“Hutang ke siapa, Buk?”
“Ndak bisa ibuk jelasin sekarang. Suatu hari kamu pasti akan tahu, Yu?”
“Lho katanya Wahyu anak laki-laki tertua di rumah ini, gantinya bapak, ya Wahyu harus tahu lah bapak hutang apa? Ke siapa?”
“Pokoknya ibu ndak bisa ngasih tahu kamu sekarang.” ibunya tetap bertahan.
Wahyu terdiam sejenak. Pikirannya diperas oleh rasa penasaran tentang rahasia apa yang disembunyikan wanita itu darinya. Dia ingat-ingat kembali orang-orang yang dekat dengan ayahnya selama ini. Isi otaknya menerawang jauh ke puing-puing momen ketika beberapa kawan ayahnya mampir ke rumah. Tak semua dikenalnya dengan baik. Hanya beberapa saja, itu pun dia hampir susah mengingat wajah dan nama masing-masing. Beberapa di antaranya juga terlihat saat melayat ke rumah ketika ayahnya dikafani dan berbaring diam di ruang tamu sebelum disholati oleh orang banyak. Menjabat tangannya dan mengucapkan kalimat bela sungkawa sekedarnya saja. Tapi ada satu orang teman dekat ayahnya yang dia kenal baik, Pakdhe Mukhlis, tinggal di Surabaya. Terakhir bertemu di hari raya Idul Fitri setahun lalu.
“Bapak itu anak orang yang disegani di desa ini ‘kan, Buk? Mbah Dayat, kyai Dayat, pasti bohong besar jika bapak punya hutang banyak ke orang. Iya ‘kan Buk? Pesta pernikahan putri pertamanya saja begitu meriah!” sangkal Wahyu.
“Nama besar yang disanjung tidak selalu menjanjikan materi berlimpah, Yu. Terakhir bapakmu hanya meninggalkan rumah ini dan sepetak sawah di belakang rumah. Itu saja yang bisa diolah selain gaji pensiunannya yang ibu gunakan untuk membayar hutang. Dan setelah pesta pernikahan mbakmu dulu, ibu semakin tidak yakin akan bisa menyekolahkan kamu dan adik-adikmu sampai lulus kuliah seperti harapan almarhum bapakmu.”
“Jadi duit kawinan itu pakai duit hutang? Buat gaya-gayaan saja, begitu?” sontak Wahyu kaget bukan kepalang.
“Bukan-bukan itu, Yu! Pokoknya ibu belum bisa memberitahu kamu sekarang. Ibu hanya berharap besar kamu mau membantu keluarga ini.”
Wahyu kembali terdiam.
Ibunya melakukan hal yang sama.
“Dosa besar kalau Wahyu membantah permintaan ibuk.” dia menggelengkan kepalanya. “Ya dilihat nanti saja lah, Buk!” ujarnya sambil memasukkan dua bungkusan kertas minyak yang telah diikat karet gelang ke dalam tas kresek hitam.
 “Dilihat apanya, Yu?”
 “Ya dilihat hasil tes seleksinya nanti, Buk? Wahyu diterima masuk ke PTN idaman Wahyu atau tidak. Kalau tidak, Wahyu bakal nurut apa kata Ibuk. Tapi kalau Wahyu diterima, maka Wahyu akan tetap pergi dari rumah meski tanpa biaya,”
Ibunya tertegun melihat tekad anaknya yang tak bisa dicegah. Sembari membereskan irisan kacang panjangnya yang sempat terbengkalai, ibunya menyisipkan pertanyaan sebelum Wahyu menghilang dari pandangannya.
“Pergi kemana, Yu?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑