Bukan Kisah Sedih

“Brondong, jangan lupa nanti matiin AC-nya abis kelar siaran!” Pinta Didi dengan nada tinggi. Terlihat masih sibuk berkonsentrasi melukis dan menebalkan alisnya dengan pensil alis warna coklat tua. Sesekali iya memiringkan wajahnya yang telah lama menatap cermin. Menoleh ke kanan, lanjut ke kiri, berusaha menyeimbangkan garis dan lekuk alis agar tampak rata. Kondisi meja berantakan. Berupa perkakas make-up mulai dari cermin rias, bedak, lipstik, maskara, bahkan kabel hair dryer dan catok rambut masih menancap di colokan listrik.
“Aman, Buk! Buru-buru amat, mau kemana sih?” tanyaku penasaran.
“Situ mau tau aja!” jawabnya singkat, sembari mengoleskan ujung rambut kuas kecil yang basah setelah dicelupkan ke botol lipstik cair warna merah burgundi ke bibirnya. Berlanjut menempelkan bibir atas dan bawahnya beberapa kali dengan suara ‘paff-paff’. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah bibirnya yang makin merona. Ditutup dengan senyuman khas kepuasan.
“Terus barang-barang ini dikemanain?” tanyaku sambil menunjuk ke barang-barangnya yang teronggok berantakan di atas meja.
“Cabut kabel-kabelnya, gulung, taruh di laci meja kerja, tuh disana! Semua yang ada disini, ditaruh disana. Tolong ya!” Dia menunjuk ke arah meja kerja di ruang sebelah.
“Sekarang?”
“Nggak, besok!” tukasnya singkat sambil melotot ke arahku.
“Wah catoknya baru?” Aku menggodanya.
“Itu M-A-H-A-L, mahal! Boleh dipinjem, 50 ribu sekali pakai.”
“Pelitnya si Ibuk Judes,” pekikku.
“Biarin! Yang penting cantik. Udah dulu ya. Met siaran, Brondong! Wish me luck!” Dia bergegas menjinjing tasnya, menerobos pintu geser dengan langkah cepat.
“Wish me luck buat apa neh?” tanyaku dengan lantang saat melihatnya sibuk mengenakan sepatu hak tinggi warna merah. Stiletto 17 sentimeter. Setahuku harganya di atas 5 juta rupiah, sepatu kebanggannya. Malam ini Didi memang terlihat cantik. Rambut panjangnya tergulung jatuh hasil roll dan catok rambut. Dibiarkan menjuntai normal tanpa hiasan kepala, jepit rambut, bandana, atau hiasan kepala lainnya. Pun make-up yang menempel di wajahnya tidak terlalu menor, simple-chick seperti yang tertulis di rubrik kecantikan majalah urban. Pada bagian tubuh, tank-top warna putih tertutupi bolero dengan warna senada melekat membentuk siluet. Sementara di bagian bawah, denim hitam ketat menonjolkan bagian yang paling seksi, paling jenjang, paling montok. Perfectly curved. Padat, sintal, dan berisi.
“Bye-bye, Brondong! Hahahaha!”
Tanpa jawaban.

*****

Didi merupakan satu-satunya penyiar senior perempuan yang memanggilku dengan nama ‘brondong’ sejak kujawab pertanyaannya tentang berapa usiaku di saat pertama kali kami berbicara. Kala itu aku baru dua minggu menjadi penyiar training. Di minggu ketiga dari rangkaian tiga bulan program training, aku bertemu dengannya. Di minggu itu yang berperan sebagai trainer untuk program penyiar baru adalah Didi, selain penyiar-penyiar lain yang juga mendapat jadwal sama bergantian. Sudah menjadi jatah Didi yang akan membagi ilmunya padaku. Sosoknya yang cerewet, judes, dengan dandanan feminim di setiap harinya, sontak membuatku sering mati kutu. Antara rendah diri, tidak nyaman, dan terintimidasi. Memnag jadi kelemahanku ketika harus berhadapan dengan perempuan seperti dia. Saat itu.
“Ohh situ masih muda ya?” tegasnya.
“I-i-iya, Kak.” jawabku gugup.
“Jangan sombong kalau nanti sudah jadi penyiar radio beneran!”
“Ba-ba-baik, Mbak.”
“Tadi kak, sekarang mbak, gimana sih?”
“Anu Kak, Mbak…” saat itu ingin sekali kupanggil dirinya dengan sebutan ‘tante’, tapi urung kulakukan.
“Dasar brondong. Brondong, sana balik studio!”
Setelah kejadian itu, di bulan-bulan berikutnya, nama ‘brondong’ melekat menjadi nama panggilanku. Sering pula digunakan oleh penyiar lain bahkan beberapa karyawan lantai satu pun ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Brondong ini lah, brondong itu lah, semua serba brondong. Berkat sebutan itu pula hubunganku dengan Didi semakin cair dan hangat. Sebagai teman, adik, teman nonton, belanja, bodyguard ke kamar mandi malam-malam, hair stylist yang meluruskan atau mengeluntung rambutnya dengan catok, teman curhat apalagi.
Dengan nama ‘ibuk’, kugunakan sebagai panggilanku kepadanya. ‘Ibuk’, sebutan untuk seorang ibu versi bahasa jawa. Bukan lagi ‘kak’, atau ‘mbak’, menegaskan kalau dia sudah seperti ibu-ibu dan pantas dipanggil ibuk. Bisa dikatakan sebagai usaha memperhangat pertemanan kami. Kedekatan itu semakin mengental ketika kami dikukuhkan menjadi partner siaran di salah satu program non-permanen saat bulan Ramadhan di tahun keduaku bersiaran. Selama 29 hari kami menjadi duo penyebar hadiah dan periuh jam sahur, sekaligus pemukul bedug imsak dan adzan subuh. Namun, program sahur itu tak kami dapatkan lagi di tahun berikutnya karena ada rotasi penyiar. Dari dia dan bertahun-tahun pengalaman menjadi seorang penyiar radio serta guru public speaking, ladang ilmu siarannya aku panen dengan gampang.

*****

Namun, ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Didi yang satu setengah jam sebelumnya berparas ceria dan kenes, serupa gadis centil dadakan dengan agenda istimewa yang terahasia, ditambah sepuhan kecantikan hasil dempulan make-up dan busana seksi yang lekat menjalar, kini malah terlihat jauh 180 derajat perbedaannya. Dari pandangan mataku dari balik kotak kaca, sosok tubuh Didi berdiri di depan pintu masuk dengan wajah menunduk. Rambutnya terlihat lepek, sepertinya basah terkena air hujan. Kemungkinan besar bajunya basah, lebih parah lagi make-up-nya pasti luntur. Langit memang sedang asyik-asyiknya mencurahkan air di bulan-bulan penghujung tahun itu. Jika malam ini hanya gerimis panjang sejak sore tadi, lain halnya dengan hari lain yang hujan lebat bergemuruh.
Ketika kuperhatikan lebih seksama dari kejauhan, benar dugaanku. Dengan wajah sayu dan helaian rambut basah yang menempel pada kening dan pipinya, dia membuka pintu kaca. Dilepaskannya sepatu merah itu, kemudian dia letakkan pula tasnya di atas karpet. Membuka dan mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian muncul nyala api, membakar ujung sebatang rokok yang terjepit di bibirnya. Lalu muncul hembusan asap rokok. Perlahan menebal, menutup sebagian wajahnya yang makin redup. Ada yang tak beres dengan Didi.
Rasa penasaranku berbuah hasil ketika mendadak dia mentapku dari kejauhan. Matanya tak bisa menyembuyikan perasaan dan isi hatinya. Dia masih mencoba tegar dengan hembusan asap yang dikeluarkan tak teratur dari rongga mulut dan hidungnya. Tapi yang terjadi 5 menit kemudian sungguh tak bisa dinyana-nyana. Dia lunglai, terduduk di atas ubin becek hasil guyuran hujan. Dengan sigap kutinggalkan siaranku, masih ada beberapa lagu yang akan terus berputar. Kuabaikan deringan telepon dari para pendengar yang bersemangat ingin on air bersamaku. Membahas topik siaran yang aku suguhkan dalam siaran malam kali ini. Tapi itu semua tak lebih penting dari rasa ibaku kepada Didi hingga kusegerakan langkahku dan menemuinya secepat mungkin. Didi. Sebentuk manusia lunglai tak berdaya di depan pintu.
“Buk, kenapa?”
Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.
Rokoknya terlepas dari jarinya. Jatuh ke lantai yang basah. Membuat nyala apinya padam seketika.
“Kamu kenapa?”
Dia makin menundukkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Tak lama yang kudengar hanyalah sesenggukan. Muncul dari kerongkongan seorang perempuan.
Segera kupapah dia ke dalam ruang tamu. Tapi aku berubah pikiran. Aku akan meninggalkan siaranku jika harus menemaninya di ruang berbeda. Tak ada siapapun di studio lantai dua yang bisa membantuku memperhatikan kondisi Didi. Langsung saja aku bawa dia masuk ke dalam kotak kaca. Kududukkan dia di atas karpet di samping meja siaran. Sekotak tisu dan handuk ukuran sedang kering dari dalam laci berpindah dari tanganku ke tangannya. Kunaikkan suhu ruangan dari remote AC agar lebih hangat. Badannya tak terlalu basah. Dering telepon masih nyaring mengusik telinga.
“Atta…” kemudian dia terisak. Aku semakin bingung.
“Wait, Buk!” Aku meluncur kembali ke kursi siaran. Menyusun lagu, bumper-in, iklan, promo, bumper-out, lagu, dengan durasi agak panjang secepat mungkin. Kucabut kabel telepon hingga deringnya tak terdengar lagi. Hanya suara lagu-lagu yang mengudara dengan tune rendah. Kemudian kembali mendekatinya.
“Ada apa, Buk?”
Didi mencoba mengontrol dirinya dan menegakkan tubuhnya. Maskara yang menebalkan garis matanya luntur berbekas. Tak bisa kutebak apakah itu dari air hujan atau air mata. Semuanya kelihatan sama saja.
“Atta ternyata sudah beristri,” air matanya tak terbendung.
“Hah? Bang Atta? Kok bisa?” aku terperanjat.
“Bisa, sebelumnya aku pikir dia mau melamarku, tapi ternyata…” isakan tangisnya makin dalam, sesekali cegukan. Dia sedikit kerepotan mengusapnya dengan tisu yang makin kusut tergenggam hingga aku harus membantu mengeringkan matanya yang basah bercucuran. Gumpalan-gumpalan putih lainnya tergeletak liar di lantai.
“Ya Tuhan, Buk!” Kurebahkan kepalanya ke pundakku.
“Aku pikir dia pulang ke Medan karena urusan keluarga dan proyek periklanannya. Dua bulan berpisah bukan waktu yang singkat, tapi tiba-tiba dia kembali dan minta maaf. Aku pikir ada kenapa-kenapa, ternyata dia minta maaf sekaligus pamit, dia kawin dengan perempuan lain. Semua hancur, Bas!” Baru kali itu, setelah sekian lama, dia memanggilku dengan nama sebenarnya.
“Sabar, Buk, sabar,” aku mencoba membesarkan hatinya.
“Aku bodoh! Bodoh. Aku nggak dengerin apa kata Joe tentang dia,”
“Bang Joe tahu?” aku keheranan. Artinya bukan aku saja yang menjadi tempat curhatnya selama ini. Jika Joe tahu, jangan-jangan semua orang di kantor ini juga tahu? Aku semakin kalut dengan pertanyaanku sendiri.
“Atta itu temen kuliah Joe. Joe bilang kalau dia itu player, tapi aku nggak percaya. Aku tertipu selama ini,” jelasnya. Sedu sedannya mereda.
Tiba-tiba dari arah depan suara pintu terbuka. Suara derap kaki berdebum terdengar semakin jelas mendekati kami berdua. Kemudian pintu kotak kaca terbuka lebar.
“Sudah kubilang sejak dulu ‘kan, Di! Makanya dengerin kalau orang ngomong,” Joe bersimpuh duduk di depan kami. Membelai rambut Didi dan mengusap air matanya. Didi yang sebelumnya berada di pelukanku langsung menggerakkan badannya dan berpindah ke rengkuhan Joe. Aku biarkan dia seperti itu.
“Sorry, Joe,” Didi kembali meneteskan air mata. Kini wajahnya tenggelam di dada Joe.
“Sudah-sudah… Kamu, balik siaran!” tiba-tiba Joe menatapku. Jari telunjuk kanannya teracung lurus. Memerintahku kembali bertugas di singgasana panas. Aku mengangguk, kembali ke kursi siaran.
Joe memapah Didi ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa merah setelah segelas air putih dari dispenser habis diminum Didi. Mereka mulai berbicara dengan tampang dan tatapan serius. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam kota kaca ini. Hanya gerakan tubuh mereka berdua yang saling berpadu. Joe terus memegang tangan Didi, sementara Didi berulang kali menyapukan kertas tisu ke liang air matanya. Mencoba menahan alirannya, sepertinya tak bisa.
Aku menyaksikan mereka berdua layaknya menonton satu babak sinetron di televisi yang ada di ruang tamu. Menyala tapi tak bersuara. Perbedaannya hanya pada ukuran yang membuat tokohnya berbentuk seperti ukuran manusia aslinya, tentu saja dengan lebar layar yang tak biasa. Seperti menonton reka adegan pantomim tanpa teks terjemah. Mencoba mengambil makna dari lakon melalui terkaan jalan cerita yang tak dipahami penontonnya. Mereka berdua pemain dan aku penonton.
Sejenak aku teringat sesuatu. Kehancuran dosis tinggi yang dialami Didi malam itu, juga pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Di akhir pekan basah, di tempat yang sama. Ledakan emosi menyeruak dibalik dinding kotak kaca. Lembaran kertas berhamburan ke seluruh ruangan. Dua ponsel di atas karpet di bawah kaki meja. Sepertinya jatuh, atau sengaja dijatuhkan. Atau malah dibanting. Satu hari paling berantakan yang pernah aku rasakan selama aku menempati kotak kaca. Menimpa seseorang paling berpengaruh mengatur jalannya kinerja studio siaran. Menduduki level tertinggi di antara penyiar lain. Sebelumnya aku mengira dia adalah manusia terkeras kepala tanpa toleransi dengan sosok tinggi besar. Tapi ternyata, dia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi problematika. Antara dia dan kekasihnya.

*****

“ANJING!!!”
Aku terdiam tanpa kata tepat saat pintu masuk kotak kaca kugeser hingga terbuka lebar, sedetik setelah terdengar umpatan binatang itu terdengar memekak di telingaku. Dibumbui dengan suasana ruangan yang karut-marut. Terbelalak mataku dibuatnya, menyadari bahwa kertas promo, iklan, addlips, surat kabar, majalah, tak lagi berada di tempatnya yang pantas. Belum lagi alat tulis yang berceceran, jatuh di sudut-sudut bawah meja, sulit terjangkau tangan.
“Bang … Bang Joe, kenapa?” tanyaku penuh tanda tanya besar. Berusaha membuka obrolan dari dua orang manusia, yang satu kikuk, satunya kesurupan.
Dia diam. Mengembangkempiskan dadanya. Mencoba bernafas normal dengan menghirup oksigen banyak-banyak dalam suhu 16 derajat Celcius. Terbaca di layar remote AC. Dua tangannya berada di kepala, meremas rambutnya dan sesekali menariknya dengan jari. Mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak rambut. Seperti berjuang menyakiti diri sendiri agar rasa sakit lain tertutupi. Terakhir kulihat dai menelungkupkan telapak tangannya di wajah. Menyeka matanya yang memerah dengan jari, ditutup dengan bibir yang bergetar dan mendesirkan suara, “Kok bisa? Nggak mungkin, ya Tuhan!”
Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat. Aku merasa tak nyaman. Joe menghampiriku yang beku berdiri di hadapannya. Segan untuk bergerak sesentimenter pun. Dua tangannya yang berpeluh memegang pundakku.
“Kamu punya kenalan dokter, nggak? Punya nggak?!” tanyanya dengan intonasi meninggi dan tersengal.
“A-a-ada Bang,” aku semakin gugup.
“Aku butuh dokter, atau dukun, atau apalah itu, yang penting, yang penting ini nggak terjadi! Nggak boleh kejadian! ANJING!” Dia berbicara sendiri.
“Kejadian apa, Bang? Apanya yang nggak boleh terjadi?”
Dia menoleh kembali padaku. Menarik nafasnya. Mengatakan sesuatu yang membuat paru-paruku berhenti memompa oksigen.
“Mira hamil.”
“Hah?! Mira hamil? Sejak kapan?” tak kupercayai pendengaranku.
“Aku nggak tau, yang pasti aku belum siap. Aku nggak mau jadi ayah. Aku nggak mau!” Nada suaranya mulai meninggi, kali ini dengan tempo lebih cepat.
“Bang Joe,” aku berusaha melunakkan suasana.
“Atau mungkin itu bukan bayiku, pasti dia selingkuh dengan laki-laki lain, nggak mungkin itu bayiku, aku pakai kondom, kecuali …”
“Kecuali apa?” tanyaku melanjutkan.
“Kecuali malam Valentine’s Day itu, tapi itu cuma sekali nggak pakai,” dia membela dirinya sendiri.
“Bang Joe, ada baiknya kamu sekarang ke Mbak Mira, kalian harus ketemu, obrolin baik-baik!”
“Tapi-tapi, Bas…”
“Be gentle, Bang,” tukasku singkat memotong kalimatnya.
Dia bergegas mengambil barang-barangnya. Memungut beberapa benda yang kemudian dimasukkan ke tas ranselnya.
“Please, cover up siaranku!”
“Iya Bang, take care!”
Dia mengangguk. Semenit kemudian lenyap berbekas. Isi kotak kaca pecah amburadul tak karuan.

*****

Didi: Jam brp smpe studio?
Aku: 8.00, whats up?
Didi: Nitip bir apa aja
Aku: Brp kaleng?
Didi: 4, klo bs b4 8PM uda di studio
Aku: OK
Pukul 7.35 aku sudah sampai di kantor. Area parkir masih basah oleh air hujan ketika aku sampai. Sembari memarkirkan sepeda motorku di tempat biasa, bisa kulihat mobil Didi dan Joe terparkir berdampingan. Tumben mereka berdua bisa bertemu di waktu ini. Seingatku jam siaran sore mereka berdua memang sama, hanya saja beda hari dalam satu bulan. Dua minggu Joe, dua minggu berikutnya Didi. Urusan tukar-menukar tiap hari apa saja mereka siaran, adalah mereka sendiri. Layaknya previledge bagi para senior.
Terdapat dua jalur menuju lantai dua: satu melewati tangga yang letaknya tepat di samping kantor di lantai satu, satunya lagi lewat pintu belakang dekat kantin yang sudah tergembok sejak pukul 6.00 petang. Artinya, untuk penyiar malam hanya bisa melewati satu-satunya jalur, yaitu melalu tangga. Lampu yang seharusnya menerangi tangga lengkung itu memang sudah mati beberapa hari terakhir ini. Tak tahu alasannya kenapa tidak segera diganti. Membuatku harus benar-benar membuka mata, membiarkan berkas-berkas samar cahaya dari kejauhan menerangi langkahku yang beranjak naik sambil menjinjing tas dan sekresek bir serta makanan ringan. Tidak cocok rasanya menikmati bir dingin tanpa snack, kacang goreng atau chiki-chikian.
Ujung tangga lantai dua berdekatan dengan pintu masuk studio. Hanya perlu 5 langkah sudah sampai ke gagang pintu. Namun ketika tinggal 3 anak tangga lagi, aku melihat sosok perempuan berbaju serba hitam berdiri membelakangi tangga, yang bisa kulihat hanya tubuh bagian belakangnya. Ramping, tapi agak sedikit melebar di bagian pinggang. Dari gesturenya sepertinya dia memandang pintu masuk studio siaranku. Sempat aku hentikan langkahku saat sosok itu berlari ke arah samping, ke lorong gelap di depan deretan ruang kantor lain yang sudah dipadamkan lampunya. Mungkin karyawati, atau OB.
Mataku terbelalak melihat seseorang yang terbaring kulai di sofa merah, meraung dengan suara rendah, berlinang air mata. Didampingi Didi dan satu teman yang tak kukenal. Aku kebingungan. Aku berinisiatif menarik lengan Didi. Menginterogasinya.
“Bang Joe, kenapa lagi?” tanyaku.
“Mira…” jawab Didi singkat.
“Mira kenapa?”
Didi sejenak diam, kemudian berujar.

“Mira tewas gantung diri, janinnya nggak bisa diselamatkan,”

Lidahku kaku.

Tas ranselku jatuh berdebam, diikuti gelontangan kaleng bir.

Thanks buat mas Joe, mbak Didi, mbak Almira, yang aku reka menjadi tokoh di cerita fiksi ini. Salam hangat untuk kalian semua yang tumbuh di keluarga besar Pro2FM Surabaya Radio Republik Indonesia. Sangat merindu duduk di kursi siaran lagi.

Advertisements

Adalah Nama Saya

    Nama saya Amal, nama lengkap Amal Mushollini, nama siaran Amal Bastian, dan nama panggung Bastian. Tapi tetap terasa hangat kalau dipanggil Amal saja. Bagi yang doyan sejarah internasional mungkin tidak asing dengan nama Mushollini, at least pernah mendengar atau membaca sosok pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Ya, spelling-nya terdengar hampir sama, tapi artinya sungguh berbeda. Bukan karena almarhum bapak saya mengidolakan si Om Benito atau gandrung dengan pahamnya, tapi menurut beliau (Bapak saya), nama Mushollini berasal dari kata dasar bahasa Arab ‘sholat’, kemudian nama ‘adik’-nya masjid ‘musholla, dan berakhir menjadi mushollini. Hampir bisa disejajarkan dengan kata ‘islam’ yang berarti agamanya (objek), ‘muslim’ sebagai penganutnya (subjek), dan ‘muslimin’ menjadi unsur jamaknya. Seperti itu yang dijelaskan oleh almarhum, dan saya telanjur meng-iya-kannya tanpa penelitian lebih lanjut. Mungkin bagi yang paham bahasa Arab, akan bisa memaklumi atau mungkin menertawakan. Ya begitulah.

Tetap panggil saja saya Amal.
Saya lahir di Kediri, tepatnya di desa Rembang Kepuh, kecamatan Ngadiluwih, kabupaten Kediri. Sungguh bukan anak kota madya, kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari desa saya ke alun-alun kota Kediri. Desa Rembang Kepuh terkenal dengan perdagangan bunga-bunganya. Bunga hias, pohon hias, sampai ikan hias. Tapi lebih terkenal dengan tanaman-tanaman yang sering jadi jujukan para pecinta tanaman atau kolektor. Dan biaya hidup saya juga dari hasil penjualan tanaman-tanaman tersebut, disamping dari gaji ayah saya sebagai guru agama dan bahasa Indonesia di madrasah tsanawiyah swasta. Tidak jauh dari rumah kami. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Kakak perempuan dan dua adik laki-laki.

Saya menghabiskan bangku Taman Kanak-kanak di sebuah TK kecil di desa tetangga. Kalau desa saya bernama Rembang Kepuh, desa tetangga itu dinamai Rembang Lor. Lor artinya Utara. Utara dari desa saya. Kemudian setelah menghabiskan masa dua tahun di TK, saya melanjutkan enam tahun belajar di sekolah dasar. Tentu saja masih berada di desa saya. Namanya SDN Rembang Kepuh 1. Letaknya tepat di jantung desa. Yang mana desa kami memiliki tiga dusun. Dusun Rembang Kepuh sendiri, dusun Tawang Rejo, dan dusun Bulu Rejo. Otomatis, sekolah dasar tersebut menjadi pusat edukasi dasar bagi anak-anak dari tiga dusun tersebut. Termasuk SDN Rembang Kepuh 2. Akan tetapi, terakhir saya mendengar bahwa dua sekolah dasar tersebut sudah bergabung menjadi satu. Selain itu, ada pula sekolah sore atau madrasah yang juga menjadi tempat saya belajar agama. Bisa dikatakan sebagai tempat mengaji. Semua pendidikan layaknya mata pelajaran pesantren, diajarkan di sekolah sore itu.

Lepas dari SD, saya melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi bukan SMP umum, melainkan sekolah yang kental bernafaskan islam, yaitu madrasah Tsnawiyah. Letaknyanya berada di Ngronggo, masuk ke bagian kota Kediri. Ibuk saya mengatakan, kalau mau melanjutkan SMA di kota, akan lebih baik jikalau sewaktu SMP sudah bersekolah di kota. Alasannya agar tidak kesulitan mengurus rekomendasi sekolah dari anak kabupaten ke anak kota. Dan hasilnya, tiga tahun saya menghabiskan waktu di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kediri, akhirnya saya bisa terlempar dengan baik dan mudah ke bangku sekolah lanjutan tingkat atas di kota, yaitu di SMAN 2 Kediri. Satu tahun di kelas 1, dan dua tahun di kelas 2 dan 3 dengan jurusan IPA, tak kunjung membuat saya pintar dengan pelajaran berbau eksak. Sejak SD hingga SMA, saya hanya demen pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni menggambar, dan sejarah. Meski berada di kelas IPA, hanya biologi yang lebih saya sukai daripada mata pelajaran lain di jurusan itu. Masuk ke kelas IPA adalah permintaan dari ibuk dan bapak. Mereka terus mengatakan bahwa kalau anak IPA akan mudah masuk ke perguruan tinggi. Bisa masuk ke institut, ekonomi, dan jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan angka. Padahal saya tidak suka angka. Kecuali nominal yang tertera di akun rekening saya. Tapi begitulah permintaan orang tua yang membiayai sekolah saya. Saya wajib menurutinya.

Jangan hadapkan saya ke matematika, pelajaran ini menjadi momok bertahun-tahun dalam hidup saya. Mulai dari guru-gurunya yang killer, hingga mata pelajaran yang membuat saya terus bertanya sepanjang hidup saya: “Kalau ada kalkulator, kenapa harus repot-repot menghitung dengan menggunakan rumus?”. Apakah mungkin generasi saya tidak diajarkan untuk menikmati hidup yang efisien dan efektif? Apakah harus menentukan jawaban eksak dengan urutan formula yang panjang kalau secara singkat saja, atau mencongkak saja, bisa saya lakukan? Terlalu ribet pendidikan di negeri ini, yang sederhana dibuat rumit. Apalagi pada materi IPA kimia dan IPA fisika. Saya pernah membolos di kelas kimia karena saya bingung menghafal urutan tabel kimia, campuran zat dengan rumus Ar/Mr, dan sejenisnya. Padahal menurut saya sendiri, daya ingat saya cukup baik. Pernah ada guru, saya lupa guru apa, mengatakan pada saya bahwa dari hasil tes IQ dan pemahaman diri siswa, saya memiliki daya ingat fotografis. Mengingat orang, benda, dan menghafal sesuatu dengan level di atas rata-rata. Tapi tolong, jangan matematika atau saudara-saudaranya.
Lanjut.

Harapan saya setelah lulus SMA adalah bisa langsung melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi dengan syarat tegas dari orang tua, yaitu saya harus lulus SPMB atau UMPTN. Nasib berkata lain, tahun pertama saya mencoba tes masuk dari pemerintah tersebut, saya gagal di tiga jurusan yang saya pilih. Beberapa teman di desa, termasuk sepupu saya, yang juga mengikuti tes tersebut, berhasil masuk. Membawa mereka keluar dari desa. Sementara ketakutan terbesar saya setelah lulus SMA adalah harus tinggal di rumah. Tidak melakukan apa-apa. Gambaran yang bisa menjadi mimpi buruk saya. Saya bukan orang yang biasa diam. Selama hari-hari paska gagal UMPTN, hari-hari saya isi dengan kegiatan yang meghasilkan uang. Membantu urusan kantor desa. Berhubung ibuk dan bapak punya relasi dengan keluarga pak lurah. Otomatis saya sering diajak melakukan kontrol desa. Mulai dari kegiatan kependudukan, mengurus acara karang taruna, hingga ikut program-program lainnya. Ada pemasukan ke kantomg saya dari kegiatan-kegiatan itu. Seirng waktu, Alloh tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Dengan izin ibuk dan almarhum bapak, saya bisa melanjutkan studi ke kursus bahasa inggris di Pare. Masih menjadi bagian di kabupaten Kediri. Pare terkenal dengan kampung inggrisnya. Banyak pemuda dan pemudi berasal dari seluruh pelosok nusantara yang belajar di sana. Bahkan ada yang dari luar negeri, contohnya Malaysia dan Brunei Darussalam. Terdapat beragam tempat kursus di kampung ini, salah satunya adalah Basic English Course atau BEC. Saya emnjadi siswa di dalamnya. Di kampung inggris ini saya belajar banyak tentang kemandirian. Menjadi jembatan saya untuk bisa belajar tentang mengurus diri sendiri. Tidak melulu tergantung pada orang tua. Selain bahasa inggris baik lisan maupun tulisan, saya juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian UMPTN tahun berikutnya. Setelah enam bulan belajar bahasa inggris dan lulus di peringkat kedua dari ratusan siswa-siswa, ujian masuk perguruan tinggi sudah berada di depan mata. Berkat kerja keras, doa orang tua, dan ridho Alloh SWT, alhamdulillah saya lulus dan masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Airlangga di kota Surabaya.

Hijrah ke kota Surabaya menjadi momen shock-culture bagi saya. Lingkungannya, orang-orangnya, biaya hidupnya, membuat saya harus bekerja keras untuk beradaptasi. Beruntung saya memiliki teman-teman baik dari SMA yang sudah lebih dahulu tinggal di kota pahlawan itu. Mereka membantu dan mengkondisikan saya untuk bisa survive sebagai anak rantauan di kota besar. Dan sekali lagi, sejalan dengan waktu, saya mulai memiliki kawan dan relasi, dari beragam daerah dan berbagai latar belakang.
Dua tahun pertama kuliah, saya memampatkan mata kuliah yang saya tempuh. Saya tidak menyia-nyiakan waktu kuliah, yaitu dengan mengambil SKS maksimal per semester. Sesuai dengan program studi saya: dalam kurun waktu dua tahun, biaya kuliah akan ditanggung oleh orang tua. Namun di tahun-tahun berikutnya, saya harus mampu membiayai hidup dan kuliah saya sendiri hingga lulus. Saya selalu berkaca pada diri sendiri: tidak mungkin saya menghabiskan biaya hidup keluarga untuk kuliah saya. Masih ada dua adik yang harus dibiayai oleh ibuk dan bapak. Dan sekali lagi, Alloh Yang Maha Kuasa mewujudkan impian saya. Sambil kuliah, saya menjadi seorang Master of Ceremony untuk beragam acara. Baik ulang tahun, exhibition, gathering, wedding, dan acara-acara lain, yang penting saya bisa menghasilkan nafkah halal untuk biaya hidup saya. Yang penting halal, apapun saya lakukan. Beberapa anggota keluarga besar saya sering pesimis tentang pekerjaan saya. Tapi saya tidak mau tahu. Urat malu saya sudah putus. Selain menjadi MC dari panggung ke panggung , mall ke mall, hingga ke pasar-pasar, usaha untuk mendapatkan pekerjaan di dunia media pun tidak pernah saya lepaskan. Surat-surat lamaran dan CV sudah banyak yang saya kirim ke stasiun-stasiun radio maupun TV yang tersebar di kota Surabaya. Banyak CV dan surat lamaran yang dikirim, artinya banyak pula yang ditolak. Dan memang benar, mulai dari cercaan sekaligus intimidasi tentang karakter diri sebagai pelamar kerja, menjadi jajanan saat itu.

Namun di akhir tahun 2009, lebih tepatnya 10 bulan setelah bapak meninggal dunia, saya mendapat tanggapan positif dari Radio Republik Indonesia Surabaya, yang menyatakan bahwa lamaran saya untuk menjadi penyiar radio diterima. Panggilan pertama menjadi pengumuman untuk megikuti beragam tes dan kualifikasi atau filterisasi hingga ditemukan calon penyiar radio terbaik yang kemudian akan digembleng untuk menjadi penyiar radio tetap. Beragam tes yang harus ditempuh, saingan yang tidak sedikit, dan tantangan menjadi seorang penyiar radio berkarakter, akhirnya membawa saya ke titik penentuan. Hanya terpilih tiga orang calon penyiar radio dari sekitar 1.500-an pelamar. Alhamdulillah. Maha Besar Alloh.

Saya hanya bertahan selama tiga tahun menjadi penyiar radio di Programma 2 RRI Surabaya. Tahun pertama adalah pembentukan karakter penyiar. Menjadi sosok Amal yang ‘kepenyiar-nyiaran’. Merubah nama Amal Mushollini menjadi Amal Bastian. Nama belakang yang dirasa produser saya lebih komersil. Bastian diambil dari nama Sebastian. Tokoh kepiting merah, sahabat Ariel si putri duyung dalam film The Little Mermaid karya Disney. Kenapa kepiting? Karena zodiak saya adalah Cancer, kepiting. Itu arti dari nama yang menjadi beken di pekerjaan saya saat ini. Sederhana, muncul tiba-tiba.
Memiliki titel berkantor RRI, membuat saya mudah mendapatkan klien untk event-event yang bisa saya handle. Tentu saja sebagai MC. Dulu saya sering menjadi MC untuk produk ponsel asal Tiongkok yang dijual di World Trade Centre Surabaya. Berkoar-koar menjual produk dari jam 12 siang hingga jam 6 sore dengan gaji 100-150 ribu per hari, namun dengan kontrak MC yang lama. Ada yang sebulan, dua bulan, bahkan kalau ada produk baru yang di-launching, saya lah yang menjadi MC tetapnya.

Saya semakin memahami bahwa waktu yang memoles semuanya. Membuat pengalaman menjadi CV berjalan sekaligus lahan marketing yang bisa saya gunakan meningkatkan level profesi saya ke arah lebih tinggi. Memperkenalkan diri saya dari nol ke angka-angka tinggi berikutnya dalam karir saya. Masih di tahun pertama menjadi penyiar radio, saya bertemu pengajar broadcast dan public speaking. Meminta saya menjadi pengajar tetap materi penyiaran di sekolah-sekolah ternama di kota Surabaya. Contohnya sekolah-sekolah yang masuk ke Yayasan Petra, sekolah-sekolah kristen, dan sekolah umum lainnya. Kondisi ini berlanjut kepada tawaran dari beberapa agensi model. Mereka meminta saya untuk mengajar teknik public speaking, materi-materi umum tentang kemampuan percaya diri dan bicara dengan baik di depan public, hingga hal-hal berbau dunia radio. Dan aktivitas ini terjadi di tahun-tahun berikutnya. Setiap hari saya belajar di bangku kuliah, siaran radio, mengajar, mengisi acara untuk beragam event, dan tentu saja bergaul. Hidup saya berasal dari pergaulan dan kemudahan berinteraksi dengan orang. Menjadi sosok yang easy going namun berkarakter.

Di akhir tahun kedua menjadi penyiar radio tidak membuat saya nyaman. Saya ingin melakukan hal lebih. Bukan hanya ini dan itu saja. Saya mau menjadi sosok di kota ini, bahkan di propinsi ini. Akhirnya di awal tahun berikutnya saya melamar lagi ke beberapa stasiun TV, hasilnya, banyak yag tidak menerima saya. Saya ditemukan oleh sosok di balik layar, saat saya menjadi MC di sebuah event rakyat. Beliau memperkenalkan saya dengan beberapa produser acara di stasiun TV Surabaya, yaitu SBO TV. Saya mulai mengikuti audisi, sering menonton acara-acara di stasiun tersebut, bahkan berlama-lama ‘nongkrong’ di studio saat ada acara live. Karena kemampuan ‘ngeyel’ saya, seorang produser mulai membawa saya untuk memegang acara berita. Sangat sedikit porsi saya syuting di studio. Di awal karir di dunia pertelevisian, saya harus terjun ke lapangan. Mulai dari nol dengan menjadi reporter. Reporter lalu lintas, agenda kota, dan sebagainya. Dan beruntung saya mudah belajar. Hanya beberapa bulan di lapangan, akhirnya saya bisa menjadi news anchor yang on cam di studio. Awalnya hanya membaca berita, namun terus berlanjut ke acara-acara talkshow, hingga membuat saya bisa bertatap muka dan berbincang dengan orang-orang penting. Pejabat, pengusaha, artis, dan suara masyarakat. Di tahun ketiga menjadi penyiar radio dan tahun pertama menjadi news anchor TV, kegiatan full day saya adalah: siaran TV, siaran radio, mengajar broadcast dan public speaking, kuliah, dan tidur. Sayang butuh tidur karena saya kurang tidur.

Karena posisi saya di stasiun TV mulai mengarahkan saya ke acara primetime dan harus syuting setiap hari, akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan meja siaran radio saya. Kantor yang membentuk diri saya. Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Banyak pihak yang menyesali keputusan saya, khususnya kantor Pro 2 RRI Surabaya sendiri. Namun di sisi lain banyak pula yang mendukung dengan alasan bahwa saya tidak harus berada di zona nyaman. Dan opsi kedua yang saya ambil. Saya harus keluar dan menantang diri saya untuk menjadi sosok Amal Bastian di industri media massa.
Seiring dengan pekerjaan yang saya geluti, harapan menyelesaikan bangku kuliah S1 harus segera saya tuntaskan. Dan alhamdulillah, 3,5 tahun kuliah total, 2 tahun abal-abal, dan 1,5 tahun mengerjakan skripsi yang membinal, akhirnya mampu memberikan gelar dibelakang nama saya dengan titel S.Hub.Int. Dalam kurung waktu 7 tahun saya tinggal di Surabaya, semua yang saya anggap sebelumnya mustahil, ternyata terjadi dan saya alami sendiri. Kun fayakun. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.

Dan sekarang, saya masih menetap di Surabaya. Masih menjadi news anchor dengan jadwal stripping dari Senin-Sabtu untuk acara talkshow di SBOTV. Masih menjadi pengajar terbang di bangku sekolah dan kuliah sekaligus seminar umum. Masih menjadi sosok MC untuk beragam acara. Masih ingin melanjutkan studi S2. Dan masih bercita-cita menjadi penulis.

FYI, cita-cita saya sangat sederhana: saya mau hidup nyaman di pegunungan yang dingin dengan keluarga kecil saya dan melihat orang-orang mencintai karya tulis saya.

Sekian…
Wassalamu’alaikum…

Menulis Harga Diri

Berhenti menulis karena sitaan waktu kerja dan pemenuhan tuntutan eksistensi sebenarnya mutlak bukan menjadi alasan yang tepat bagi saya untuk memutus hubungan dengan selipat buku elektronik berwarna putih yang sudah menenami saya sekian tahun ini. Bukan pula karena urusan bangku kuliah yang telah ditamatkan malah menjadi penyokong raga agar menjauhi kegiatan tulis menulis. Saya berhenti dan vakum menulis karena pilihan. Pilihan memenuhi kebutuhan primer yang menurut saya harus dikhatamkan terlebih dahulu sebelum si sekunder bisa mengikuti. Meski sedikit memaksa melawan idealisme saya yang gandrung merangkai kata dan menyusun jurnal -sebelumnya sangat sukar saya kerjakan- hanya sekedar bisa dipandang lebih beradab bagi orang lain, termasuk ibu saya yang bangga melihat anaknya sudah berdompet dari hasil kerja keras. Bahagia saya yang berprofesi, senang melihatnya anaknya bahagia. Tanpa pernah membantah bahwa uang pun berkiprah sebagai pembentuk kebahagiaan itu sendiri. Saya membuktikannya. Saya, keluarga saya, teman-teman saya, dan mereka yang ada di sekitar saya. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa berbagi segalanya. Ibu saya tidak pernah berhenti megingatkan bahwa rezeki yang saya dapatkan wajib dibagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Keluarga dan handai taulan yang masih kesulitan, sekaligus mereka yang belum berkecukupan. Sama halnya ketika almarhum bapak saya berkata, “Tuhanmu tidak pernah menyuruh kamu jadi orang miskin, kerjakan rezekimu, dan berbagilah dengan yang lain”

Hukum tabur tua. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Saat kamu melemparkan rezeki ke langit melalui sedekah, langit akan melimpahi dirimu dengan rezeki yang berkali lipat jumlahnya dari yang kamu keluarkan. Dan saya semakin menyadari kenapa orang-orang kaya di negara-negara Barat, meski mereka tidak seiman dengan saya, tapi mereka memiliki yayasan, rajin beramal dan berderma, sekaligus menjadi pionir bala bantuan di negara-negara miskin, harta kekayaan mereka tidak pernah habis, malah melimpah ruah. Kata Dalai Lama, ketika kau melihat orang lain berbuat kebaikan pada sesamanya, pertanyaan ‘apa agamamu?’ tidak diperlukan.

Tuhan Maha Adil, saya percaya itu.

Usaha yang saya lakukan pasti membuahkan hasil. Beberapa rancangan finansial per lima tahun yang saya buat jauh-jauh hari mulai terpenuhi satu per satu. Jika Orde Baru punya repelita, rencana pembangunan lima tahun, saya juga memilikinya. Hanya saja perbedaannya pada kata pembangunan menjadi kata pembuktian. Membuktikan bahwa anak daerah, yang dulu dipandang dengan mata sebelah, dari keluarga menengah ke bawah, bisa bersaing dengan mereka yang kekotaan bermahkota kata ‘wah’. Wah kaya, wah keren, wah beken, wah anaknya ini, wah bapaknya itu, wah keluarga ini, wah keturunannya itu, wah-wah-wah. Saya mulai sebah dengan ungkapan-ungkapan kesedarahan yang belum menunjukkan bukti kuat. Bukan menggugat, hanya sekedar mengalamatkan perihal ini bagi mereka yang merasa. Sekali lagi bukan marah, hanya ingin mengungkapkan fakta. Suara manusia kapan lagi di dengar jika tidak dibuktikan dengan berbicara atau menggetarkan pita suara dengan hembusan udara, bukan? Dan kali ini saya berusaha untuk lebih lapang dan membuka kesempatan bagi diri saya sendiri untuk menunjukkan pada mereka. Kamu bisa, saya pun mampu. Kamu sering menjadi sosok objek, saya subjek pelaku. Impas.

Kembali ke urusan tulis menulis. Kecenderungan untuk mengalirkan secara permanen apa saja isi otak dan hati menjadi kata dan kalimat baca serta mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan khusus bagi saya. Sekitar2-3 tahun lalu, ketika urusan tulis menulis jurnal dan menyelesaikan skripsi masih menjadi hiasan sehari-hari saya, mungkin membentuk opini yang agak ngawur atau sederet kata opini menjadi hal yang leluasa dan enteng saya lakukan. Tapi setelah masuk di dua tahun terakhir ini, meski mulut dan otak saya masih berjalan dengan level lumayan baik ketika membawakan acara di televisi, belum tentu hal yang terpikir di kepala bisa tertuang mudah menjadi guratan kata tulis yang bisa terbaca dengan jelas dan mampu mengirim pesan yang sesuai dengan apa yang saya maksud. Kadang saya masih gamang dan ragu. APakah saya bisa seperti dulu atau akan semakin kelu semua jari-jariku?

Oleh karena itu, menulis seyogyanya bukanmenjadi tuntutan, tapi bisa diarahkan sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kita butuh makan meski tidak harus tiga kali dalam satu hari, yang penting lambung masih bisa menggiling makanan yang masuk dan jonjot usus masih  bisa menyerap gizi, itu lebih dari cukup. Penentu semangat menulis memang diri sendiri, membagi tulisan kita dengan orang lain menjaid urusan pribadi, tapi menerbitkan buah pikiran kita yang menghasilkan penghidupan merupakan bonus berharga tinggi bagi diri.

Pikiran kita adalah ladang uang kita. Perlu ditanami palawija kata dan kalimat agar kelak bisa dipanen dan menghasilkan tumpukan pundi di lambung rekening bank kita. Silakan beridealisme dengan hidup, tapi sungguh, jika tulis-menulis dan baca-membaca memberikan banyak peluang meningkatkan harkat dan martabat manusia, memberikan label harga yang lebih tinggi bagi mereka yang paham, betapa seruan ‘iqra’, ‘bacalah’ yang diserukan Jibril ke Muhammad sebelum ayat-ayat lainnya muncul dalam kitab, sangat benar adanya.

Selamat menulis dan membaca.

Is It Wrong being A Single in 20’s-year-old?

Remember I wrote this essay almost three years ago, starting face my 20’s birth day… And my sister read it and said, “Goshhh, Dude! It’s twentieth century, how could you not get along with the girl? Or you are….” She stopped on those edge of words….

Being single is hard decision for me. Ignore everyone who mocks me everytime about my status that in 20 years old I don’t have someone yet I love and I introduce to. Or maybe show her off to everyone forced me. So difficult, I do! But if I think more and more about, it will be useless time that I hate to do. I don’t care what they said, I never thought this affair so hard, even for the first time I made it as the big problem in my life time. But, long by long, I could make my mind and my heart as well understand about the truly love will come so lovely in my life, someday, I don’t know.

To be patient person and always spread love to the others are my main job that I like to do. Just spending my time to not think my status everytime, ‘cause if we share love, it means we get love too, right? In my final conclusion, I make summary that love can come not only from someone we love or they we share and understand about our heart but also we can get it by do so simple thing, we just give love to someone we choose and wait for a moment, well get this one back to us. So incredible thing. At least I will get the girl who more or the most perfect I’ll ever find and make them feel so surprise till they can say anything. That’s my ambission or just my idealism?

Hmm… Only God the Al Mighty knows everything, I never figured this problem out before the matureness come early. For God sake! Why does it happen to me? Gimme some reason God! Or You, in the seventh sky there, can call me back through my night-dream that I always dream’n of in thousands night.

Passing days and walking the time, only with my close friends with their or our loyality we always together, is my day in my daily. Easier than we make appointment with the girl that in our status we generally as the freedom men, fell being tied out. Oh God poor us! So, which one we choose being single or fell like the odd man that always being tied and seldom feel free? I take the first one, for this time he…he…

For closing, I just wanna say that love is so simple thing but remember if you never aware about, it will make you down and the worst, you wish you would be an unseen person or being an invisible man in your life time after. So be careful!

Minor Atas Nama Perbedaan

Saat manusia terhubung satu sama lain, itu lah tanda dimana perbedaan mulai mencuat ke permukaan. Tak ada sesuatu yang sama dalam kehidupan ini. Mereka yang kembar identik pun memiliki beberapa sisi yang mungkin kasat mata dan di situ lah nilai perbedaannya. Perbedaan dari apa yang dimiliki manusia merupakan performa mereka dalam meneguhkan eksistensinya sebagai manusia. Manusia dengan latar belakang yang berbeda dan menciptakan sesuatu yang berbeda pula. Dari sini kita bisa mengambil benang merah bahwa perbedaan membuat manusia semakin paham akan keberadaan alam yang harus dibentuk dengan sebuah titik balik perbedaan itu sendiri. Melengkungnya pelangi di langit setelah hujan reda, tak akan disebut pelangi kalau warnanya sama. Tubuh kita juga akan melemah dan mati saat makanan yang kita asup hanya satu nutrisi saja. Di situ lah kita mengenal kekuasaan Tuhan yang bisa menciptakan perbedaan sehingga menjadi sebuah komposisi terlegalitas tanpa dusta bagi ciptaan-Nya sendiri. Satu kalimat: Kita tak bisa memungkiri itu. Lantas, di kala perbedaan menjadi suatu bumerang bagi manusia sendiri untuk menegaskan, sekali lagi, menegaskan dirinya sebagai khalifah di dunia. Haruskan konsep perbedaan yang disalahkan? Bukannya manusia memiliki egoisitas dan ideosinkretis yang berbeda, hingga mereka paham mereka memiliki itu untuk menciptakan sebuah perbedaan. Sesekali boleh lah kita mengatakan perbedaan itu membawa noktah hitam, tapi akankah noktah itu akan peka di tempatnya? Tidak, tentu tidak. Semua bisa dihapus dengan perbedaan yang dibentuk manusia sendiri. Kaya-miskin, rupawan-jelek, normal-cacat, dan sebagainya. Semua itu adalah warna. Warna-warna yang bisa disinkronisasikan menjadi sebuah rajutan nada indah itu sendiri. Sesuatu yang menggambarkan bahwa kita sebagai manusia bisa merasa bangga karena bisa merasakan dan memahami warna-warna tersebut yang merupakan bagian dari relasi kita dengan alam. Bahkan dibanding makhluk lain ciptaan-Nya. Suatu malam, sahabat saya berkata: “Jika Tuhan saja menciptakan begitu banyak perbedaan hingga indera kita tidak bisa mendeskripsikan semuanya, lantas kenapa manusia berusaha untuk menyamakan perbedaan dengan menghancurkan dan meminoritaskan perbedaan lainnya?” Tolong lihat dan rasakan dalam hati kita…

‘Amal Bastian’ tepat saat break MC di Maspion Square Surabaya

Kronologi Asmaragana

Kronologi

Mereka bisa menganggap salah saat muncul satu orang yang jatuh cinta diantara sepasang kekasih. Dianggap hina, dibilang kurang kerjaan, dan diumpat sampah. Cibiran perusak hubungan orang pun tak terelak. Semua nyata tanpa kasat mata. Tak terkecuali hati yang terus mengiris pedih dan bertanya “Apakah atas nama cinta semua ini salah?”
Saat itu seharusnya mereka berpikir, bukannya manusia dipercaya Tuhan untuk memiliki cinta, membagi, dan mendapatkannya? Mereka tak sadar jika lumatan kejam mulut mereka juga muncul dari sebongkah daging bernyawa yang disebut manusia.
Aturan, ya benar. Memang aturan yang mengharuskan cinta harus diberikan dan bisa disalahkan saat sinergi itu keluar dari lintasannya. Sama seperti seorang pelari yang keluar jalur dan dianggap diskualifikasi. Tapi sekali lagi, adakah perayaan diskualifikasi atas cinta?
Tuhan pun tahu jika cinta memberi kemampuan manusia untuk hidup, bernuansa dalam alam-Nya, dan sekali lagi, bisa memanusiakan manusia lebih manusiawi.
Namun, aturan tetaplah aturan. Cinta memiliki aturan yang terlegalisasi tanpa proses.
Kamu mencintai seseorang, dia mencintai kamu. Cukup. Itu aturannya.
Dan saat orang yang tak berhak mencintai di saat dua jiwa bercinta…
Itu salah…
Melanggar…
Dan tak dihormati…

Bodohnya, ada orang yang seperti itu. Entah dengan berbagai alasan yang bergelayut merdu di ekornya. Tapi hal itu tak menghindarkan sesuatu yang sudah hina untuk lebih terhina lagi.
Dalam hal ini, itu salah kah?
Tabu kah?

Tapi terakhir kali yang perlu mereka tahu, pada saat semua terbuka, hanya satu cara yang bisa memberi kekutan untuk memahami kisaran yang membelenggu antara sepasang kekasih dan orang yang dianggap ‘tidak penting’

Mereka bermuara di danau yang sama…
Asmaragana.

Bukan Lirik Bukan Pula Lagu

Untuk Cinta, yang Kadang Berbatas Namun Indah Dirasakan…

Coretan Dini Hari

Lelaki itu berbaring di tempat tidurnya. Hanya memakai celana pendek dan kaos tipis favoritnya untuk tidur. Berusaha merebahkan segala kebekuan tulang dan dagingnya yang telah lelah bekerja seharian ini. Dia terlentang, namun tak tidur. Di tangannya tergenggam Blackberry Curve yang tersambung kabel charger dan head-phone yang langsung terhubung ke telinganya. Kaca matanya masih terpasang di wajahnya. Dia sibuk mengetik sesuatu yang terlihat penting untuk dituliskan sebelum gubahan kalimat bermakna dari pikirannya hilang menguap ditelan kealpaan otak. Di telinganya masih mendengung suara merdu Guy Sebastian dan lantunan nyaring Jordin Sparks dengan ‘Art of Love’ mereka. Dia terlihat serius. Dengan mata yang masih menajam dan jemari cekatan memencet tombol di benda yang tergenggam di tangannya, tak terlihat kelelahan yang harus segera dipenuhinya dengan jalan tidur. Tapi di jam 2 dini hari ini, dia tak bisa tidur. Bukan menikmati jejaring sosial, fitur berhubungan, atau menggunakan jasa layanan pesan di ponselnya, dia hanya menuliskan sesuatu yang benar-benar harus segera diungkapkan. Dia tidak mau kehilangan moment ini. Semua seperti membujur kaku, namun tetap mengalir. Dia terdiam, tapi jemari dan matanya berbicara,

Cinta…
Cinta semestinya adalah anugerah yang terindah, itu lah yang ku tahu dari Joeniar Arief dan Vitha Octriena…
Mereka berdua tahu bagaimana membuat cinta berbunga dalam Arti Cinta…

Dan Angga pun mengatakan bahwa berjuta rasa muncul di hati dan pikiran kita sehingga tak bisa diungkapkan lewat kata dalam nada Maliq and D’Essential…
Aku tahu itu… Itu Pilihanku…

Di saat yang sama, aku pun merasa harus mendekat saat cinta itu menyapa, membawa tubuhku dalam larutan Close To You dari Carpenters… Dan secara langsung memaksaku harus ber-Close Up ria sehingga jati diriku bisa membawa cinta itu Come Closer to me now…

Seandainya cinta itu paham, akankah tanpa kata dia bisa terwujud? Haruskan aku mengungkapkan Say All I Need hingga One Republic tak membutuhkannya untuk lirik cinta mereka?

Aku rela merasakan sakit sesakit-sakitnya tanpa Chris Brown harus mengucapkan kata So Sick… Aku rela… Sungguh… Walaupun harus Down tanpa dia harus bersanding dengan Kanye West…

Cinta memang buta, seperti saat kita bisa melihat bintang tapi tak bisa menggapainya… Paris Hilton memang benar… Love is blind… Stars are Blind too… Terima kasih, Paris…

Tapi aku beda…

Aku bisa merasakan cinta itu, seperti saat pertama kali kita jatuh cinta dengan kopi, menikmati secangkir kopi serasa tegukan cinta masuk ke sel-sel tubuhku… Dan memungkinkan London Pigg tak perlu repot menorehkan tinta hatinya untuk Falling in Love at The Coffe Shop… Seandainya…

Cinta memang cinta…
Tak mudah terbaca… Meski sesaat kita melakukan Misread, namun kita bisa merasakan kehadirannya… Semoga King of Convenience tahu ini…

Aku terbaring sempurna di sini, dan merasakan hal itu… Masih muda memang, tapi aku bisa merabanya… Sebelum Bunga Citra Lestari menghinaku dengan ke-Pernah Muda-anku suatu hari nanti… Aku mohon jangan…

Tanpa batas dan tak terhingga… Seharusnya begitu… Tapi salahkah jika cinta datang tiba-tiba dan di tempat yang salah? Apakah kata ‘Hate That I Love You’ akan terucap saat itu terjadi? Semoga Rihanna sadar akan hal ini… Dan Chris Brown menerkanya dengan ruang yang sama…

Di pagi buta ini…
Aku tahu, Tuhan banyak memberikan cinta dan beraneka ragam hasrat cinta…
Kehidupan cinta…
Meski tak bisa terbang seperti Burung Camar… Namun, aku tahu Vina Panduwinata akan bangga denganku…

Karena aku bisa membuat cinta… Layaknya kita mencari surga di dunia ini… Yaahh, begitulah yang di katakan Alejandro Sandz dan Nelly Furtado kepadaku…

Cinta…
Is like Looking for Paradise…

Dan pemuda itu pun mulai menutup matanya. Tanpa pintu tertutup, tanpa jendela mengatup…
Lirih sebelum dia bersandar ke tangga mimpinya… Mulutnya bergerak…

‘Aku bukan Aidan… I’m not him… Because we know… You and Me, Just Us Two…’

Selamat pagi…

Blog at WordPress.com.

Up ↑