Lima Tahun Kehidupan

Dulu ada seorang bocah laki-laki yang mengagumi radio kecil miliknya. Kemana pun dia pergi, radio itu selalu dibawanya. Bukan tanpa maksud dia sangat mencintai radio itu. Benda produksi tahun 1993 itu adalah pemberian almarhum sang kakek saat usianya menginjak 10 tahun. Hadiah ulang tahun tentu. Sang Kakek selalu membuatnya tertawa lebar saat lagu-lagu gending jawa diputar oleh salah satu stasiun radio yang terdengar dari benda usang itu. Mimik muka dan bahasa jawa kental dengan guyonan jenaka ala komedian daerah yang ditirukan sang Kakek selalu membuatnya bahagia. Dia lupa kalau pagi tadi sempat dipukuli sang ayah dengan sapu lidi gara-gara lupa menyapu halaman sebelum berangkat ke sekolah. Dia tidak ingat lagi bahwa teman-teman bermainnya sempat mengikatnya di pohon belimbing siang tadi, dengan dalih dia berbeda dengan anak lain hanya berdasarkan kulitnya yang putih. Teman-temannya selalu bilang, “Lanang kok kulit’e putih, banci yo?”. Dia hanya diam saja. Setelah beberapa saat, bocah laki-laki itu pun pulang dengan lebam di pelipis kepala dan ada goresan berdarah di siku tangan dan kakinya. Tapi perih yang dia rasa sudah menjadi hal yang biasa. Perih di hatinya jauh lebih sakit dan membekas. Suatu hari dia pernah mengeluh kepada sang ibu, “Buk, kulitku kok putih ya? Temen-temen bilang aku banci…” Dan sang ibunda pun menjawab dengan bijak, “Mereka lho cuma iri sama kamu, Le! Mereka ndak tahu kalo kamu itu pinter dan berbakat. Suatu hari nanti kamu harus membuktikan pada mereka siapa sesungguhnya yang bisa dibanggakan!” Semenjak itu, si bocah laki-laki mulai merasa lebih tenang. Di sisi lain, sang ibunda pun menyadari bahwa putranya tidak bisa terlalu lama terkena sinar matahari. Dia tidak mau melihat anaknya terpuruk di UGD untuk ke sekian kali. Mimisan dan pingsan.

Kembali ke cerita sang Kakek.

Ayah dari ibunda bocah laki-laki itu sangat mengagumkan. Sang bocah selalu merasa bahwa kakeknya bisa menjadi penghibur untuk dunianya yang pada saat itu terasa gelap. Kakek selalu bilang, “Berikan kebahagiaan pada sesama. Insya Alloh apa yang telah kamu berikan, tidak akan sia-sia untuk kehidupanmu.” Seberkas cahaya kehidupan pikirnya. Selalu ada Kakek dan radio miliknya.

Namun di tahun 1997, si bocah menyadari bahwa hanya radio saja yang tidak memiliki nyawa. Sebagian kebahagiannya terenggut. Sang Kakek pergi untuk selamanya, meninggalkan dia dan radio usang miliknya.

Sang bocah mulai merasakan bahwa radio kecil itu membawa banyak perubahan hidup untuknya. Dia mulai percaya diri dalam menjalani hidup. Dia mulai menunjukkan bakat bicaranya di depan masyarakat. Dia mulai belajar banyak dalam menggali pengalaman dan jam terbang. Dan akhirnya di tahun 2007 dia hijrah ke kota Pahlawan. Bukan hanya untuk belajar, tapi juga mengambil banyak resiko untuk menjadi seseorang. Seseorang yang disebut ‘SESEORANG’.

Penolakan demi penolakan dari beberapa stasiun radio diterimanya dengan kekecewaan mendalam, namun disertai dengan pecutan semangat tinggi untuk menjadi seseorang yang berkarakter dan memiliki pangsa pasar tersendiri. Dia menggunakan apa yang telah diberikan Tuhan untuknya, yaitu seluruh paket di tubuhnya dan kemampuannya. Dia menyadari, bahwa kulit putih yang dulu sempat menjadi kutukan, ternyata sekarang mampu menjadi keajaiban. Pertama kali orang melihat diri seseorang, memang dari paket luarnya, kemudian gaya perilakunya, dan terakhir kemampuannya.

Dia menyadari bahwa Tuhan telah memberikan karakter khusus untuknya. Dia paling tahu akan kemampuan umat-Nya. Sang bocah laki-laki pun harus berubah menjadi lebih baik

Usahanya tidak sia-sia. Awal tahun 2010, sebuah stasiun radio menerimanya menjadi anggota keluarga baru. Ketekunan, kreatifitas, dan kerja keras terus dia terapakan dalam hidupnya. Pengorbanan waktu, tenaga, bahkan materi terus bergulir sebagai bentuk kerja kerasnya dalam menjalani hidup. Seiring dengan waktu yang terus berjalan, tawaran pekerjaan lain mulai menghampiri. Sang bocah laki-laki itu pun semakin menjadi seorang pria dewasa dengan keberingasannya dalam mengumpulkan sedikit demi sedikit materi yang dia peroleh. Rezeki adalah pemberian Tuhan, harus disyukuri berapapun jumlahnya. Pikirnya dalam hati. Sang bocah terus menerus berusaha belajar dari setiap kehidupan yang pernah dia jalani. Belajar dari pengalaman orang lain. Berlaku jujur, tenggang rasa, dan menghormati. Mencintai orang-orang disekitarnya. Dan yang pasti berusaha menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Suatu hari sang bocah laki-laki itu mengingat kejadian di tahun 2007. Saat itu dia berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam bis kota tanpa AC dengan udara Surabaya yang panas membara di siang hari. Saat bis itu terjebak macet, untuk pertama kalinya dia melihat gedung tinggi besar menjulang di hadapannya. Dia melihat orang berlalu-lalang dengan pakaian berdasi, turun dari mobil pribadi, seraya memegang handphone dan mengobrol dengan seseorang di belahan dunia lain. “Sungguh hebat!”, pikirnya. Saat itu dia berjanji dalam hatinya bahwa dia harus bisa menaklukkan kota ini. Dia harus bisa menjadi seperti mereka. Atau mungkin lebih.

Dan lima tahun berselang,

Sang bocah laki-laki masih menatap gedung tinggi itu. Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang satpam menyapanya, “Mas, selesai syuting ya? Mobilnya diparkir dimana?”

Sang bocah membalasnya dengan senyuman, kemudian berkata, “Disana Mas! Pulang dulu ya!” Dan dia berjalan perlahan meninggalkan sang satpam. Terbesit dalam hati, “Tuhan terima kasih banyak. Hidup ini indah. Alhamdulillah.”

Dari kejauhan di dalam sebuah bis kota, ada seorang mahasiswi, seorang pria, seorang wanita, dan penumpang lainnya menatap gedung tinggi besar itu penuh harap dan penuh doa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s