Waktu yang Memburu

Waktu

Kadang kita tidak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Begitu pula perubahan yang terjadi pada diri dan kehidupan kita. Tiba-tiba saja saat kita melihat refleksi diri di cermin, pantulan kejujuran mulai nampak jelas. Perubahan fisik, psikis, bahkan transisi yang kasat mata pun terasa beda. Satu-dua-tiga bahkan sekian tahun berlalu telah memahat dan mengikis kontur dan tekstur hidup kita. Pun semakin jelas guratannya yang tentu saja berbeda dari diri kita beberapa tahun sebelumnya. Masih ingat kah kita saat kita masih kecil? Hanya bermain, tertawa, dan menangis yang kita lakukan. Sangat heran saat orang-orang dewasa menitikkan air mata karena sesuatu hal. Saat mereka melarang diri kita dengan kalimat, “Jangan, kamu masih kecil!”. Dan pada saat yang bersamaan kita memberontak untuk memiliki kehidupan dewasa seperti mereka. Dan disitu lah terlihat betapa kita masih sangat anak-anak. Yang penting cepat, praktis, dan siapa pakai. Kita belum bisa memahami apa yang dinamakan proses dan pemahaman. Butuh waktu, tenaga, dan pikiran. Tidak asal bicara langsung kita punya. Sekali lagi, waktu yang memegang kendali.

Waktu juga yang membentuk kisi-kisi pola pikir kita. Dimulai dari meniru figur-figur yang ada di sekitar kita. Orang tua, saudara, keluarga, teman, hingga ke beberapa sosok yang kita anggap fenomenal yang kita sebut sebagai idola. Meski tak sadar, mereka ikut andil dalam pembentukan sosok kita sebenarnya. Dan jangan salahkan peribahasa bahwa buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Sifat-sifat dan kemampuan tentang suatu hal yang kita miliki, juga merupakan warisan dari gen orang tua kita. Campuran atau dominasi, yang penting ada di tubuh dan jiwa kita. Umur tetap berjalan saat kita berusaha menemukan jawaban siapa diri kita sebenarnya. Orang bilang, proses pencarian jati diri. Dan proses tersebut menuntut kita untuk beradaptasi di suatu habitat tertentu. Bertemu dengan spesies-spesies lain. Berinteraksi dengan para individu dalam suatu komunitas, yang sering kita sebut sebagai lingkungan. Oleh karena itu, keluarga, teman, dan tempat dimana kita menginjakkan kaki, juga turut serta meraut pribadi kita. Dan kita menemukannya di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, begitu pula di tempat kerja.

Kita tidak akan tahu bahwa sesuatu itu benar jika kita tidak mengerti mana yang salah. Kita tidak sadar bahwa itu putih jika hitam tidak ada. Kata ‘terang’ pun tidak bakal muncul jika ‘gelap’ tidak bermanifestasi. Dan tentu saja, kontradiksi-kontradiksi itu akhirnya membentuk pemahaman saat kita merasakan suka-duka dalam kehidupan. Susah-senang. Kaya-miskin. Dan bentuk-bentuk kata yang semakin beroposisi menghiasi taman hidup ini. Dan itu semua disebut sebagai pengalaman. Pengalaman dari perjalanan hidup yang pernah kita alami seiring berjalannya waktu. Pola garis lurus vertikal dan horizontal yang menggores kisah hidup kita. Kita harus sadar, bahwa semua itu termaktub dalam konteks masalah yang menjadi bab-bab terjilid dalam kamus hidup yang telah dibukukan oleh Tuhan. Halaman demi halaman harus terbaca, tidak ada yang namanya lompatan ke halaman berikutnya, bahkan banyak sekali catatan kaki yang harus kita pahami. Benar, itu lah alkitab kehidupan kita yang ditentukan oleh waktu yang terus berlalu tanpa rem angin. Tak ayal lagi jika sosok pribadi yang diinginkan oleh beberapa manusia, kadang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dalam konteks ini, kita perlu mengarisbawahi suatu anekdot singkat yang menyatakan bahwa, ‘manusia diciptakan sesuai dengan porsinya masing-masing’. Boleh sadar atau tidak, bahwasanya hal itu terbukti benar. Kesalahan yang sering terjadi pada kita adalah bahwa tidak menyadarinya dan seringkali mengeluh dengan porsi-porsi tersebut. Dengan kata lain, kita memilki rasa kekurangan yang disebut kurang bersyukur. Dan bilamana semakin akut, akan menjadi bentuk penggugatan. Gugatan terhadap yang menciptakan kita. Gugatan tentang ketidaknyamanan kita sebagai pribadi yang mendiami semesta. Dan gugatan-gugatan lain yang mengindikasikan bahwa kita tak wajar menjalani hidup seperti yang telah dibukukan untuk kita. Itu salah, salah besar.

Porsi kehidupan tergantung bagaimana kita bisa mencari celah saat kita ingin bahagia di antara kesedihan yang ada. Begitu pula sebaliknya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa kontradiksi kehidupan setiap hari kita alami. Kebisuan diri terhadap suatu hal, keinginan untuk mengejar hasrat, dan begitu banyak gol-gol yang kita capai, tak terlepas dari komposisi atas susunan kontradiksi yang kita miliki. Orang miskin, orang kaya, mereka yang pintar dan sebaliknya, mereka yang merasa mayor begitu pula yang minor. Mereka dan kita hidup berdampingan dengan membentuk suatu tatanan yang berisi kontradiksi-kontradiksi yang perlahan termanifestasi dan visible. Percaya atau tidak bahwa semakin kita menyadari konseptual diri kita sebagai manusia utuh, kita akan bersyukur bahwa kita bisa menikmati hidup ini apa pun diri kita sebenarnya. Kita dilahirkan untuk menjadi figur dan melakoni suatu peran. Protagonis, antagonis, figuran, dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak ada yang mustahil untuk mengkondisikan diri kita pada suatu komposisi yang menetap, atau membuat gebrakan dengan menjadi sesuatu yang di luar dugaan kita. Itu semua ditentukan oleh bagaimana usaha kita mengejawantahkan dengan proses yang tentu saja, butuh waktu untuk membuatnya nyata.

Jadi, bisa dikatakan bahwa orang yang mengalami kondisi kekurangan atau kelebihan, juga mengalami goresan, pahatan, dan ukiran. Hal itu dialami oleh semua manusia yang bernyawa. Mungkin mereka belum menemukan rasa syukur saat apa yang mereka miliki terambil. Dan mungkin saja mereka juga kesulitan berkata ‘terima kasih’, bila mereka mendapatkan sesuatu dari usaha mereka sendiri. Sebenarnya hidup ini sederhana. Konsepnya pembentukan diri yang teriringi oleh waktu seringkali meninggalkan jejak bahwa kita dituntut untuk bebernah diri dan menjadi manusia terbaik, meski hanya dalam konteks diri kita sendiri. Oleh karena itu, kontradiksi selalu melibatkan dua hal, hidup dan mati. Dan jika kita ingin mendapatkan keduanya secara total, bukan hanya aturan yang dibakukan dalam penyembahan kepada Tuhan dengan bentuk ibadah yang harus kita laksanakan. Melainkan juga tentang bagaimana kita menyelami kehidupan dengan interaksi pada sosial dan lingkungan yang wajib kita telusuri secara maksimal. Dan itu membutuhkan dua sisi berbeda dan ini lah kunci sederhana hidup: TAKE & GIVE. Saling memberi dan menerima. Suatu konsep sederhana dengan pengertian bahwa kita tidak akan menerima, jika kita tidak memberikan. Begitu pula sebaliknya. Jadi sekali lagi, saat kita mendapatkan duka, orang lain juga akan berduka pula dengan bingkai mereka sendiri. Dan sewajarnya, saat suka datang menghinggapi kita, mereka yang berbeda dengan kita, juga mendapatkan porsi yang sama. Waktu bisa kita pahami saat kita mampu mengetahui diri kita apa adanya. Menerima sesuai dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan menggoresnya dengan tinta hidup yang beragam warnanya. Agar suatu hari nanti kita bisa mengerti bahwa waktu bisa menjadikan diri kita berwarna dengan porsi serta komposisi yang kita miliki sendiri. Jadi memang benar, pelangi muncul dengan indahnya bersama mentari ketika hujan berhenti turun. Waktu menentukan kapan hujan turun dan berhenti, waktu pula yang mengiringi mentari menerpa titik-titik air di langit hingga pelangi menyibak rona mata kita. Time is not something mistery, it’s just a gift in our living ark.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s