Antara Gincu, Cinta, dan Vagina

Adalah suatu lakon dalam tragedi hidup seorang puan.

Gadis itu berlari menyusuri lorong yang penuh dengan mata jahat berjajaran di kiri kanannya. Melihatnya laksana daging mentah, masih berdarah, dan berbau amis, siap dimangsa.
Sosok-sosok berbadan tegap tak segan bermunculan dan menerkanya dengan raungan singa mereka…
Kotor dan beringas…
“Mangsa datang, Saudaraku! Perawan berdarah! Kalian mau?”

Namun, raungan itu tak dihiraukannya, dia tetap berlari menerobos suara-suara yang menegaskan bahwa perawan merupakan barang langka saat itu…
Dia pun bertanya…
‘Apa hanya aku? Seorang gadis berumur17 tahun yang mati-matian mempertahankan keperawanan demi cinta di saat yang lain merelakan keperawanannya untuk mendapatkan cinta? Najiskah tubuhku untuk kulindungi?’

Di tangannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah jambu, berbau wangi diantara belantara jalanan kota dengan bau bususknya yang tercium menyengat…
Busuk dari orang-orang bergincu dan kagum akan kelaminnya yang tercecer direnggut binatang…

Di kertas itu…
Tertulis rangkaian kalimat yang mencuat dari hati
Ternoktah dengan tinta darah

Aku di sini Cintaku… menunggumu…
Kamu di mana?

Saat kamu ada, tak satupun yang menyejukkan mataku selain ragamu yang menghadang mataku
Membuai rintihan jiwaku dengan rengkuhmu, dan meyusup pikiranku selama aku tak tahu itu kamu…
Jika cara yang diberikan Tuhan tak bisa memunculkan racikan dirimu di hadapku…
Lalu… apa yang harus ku tunggu?
Lapuknya hati tanpamu atau kah hanya gilasan roda waktu yang menegaskan kamu ada atau tak ada?

Capai rasanya…
Mencoba memahami kubangan di satu sudut lumpur hidup itu ada kamu…
Ada aku……
Pahami dulu regukan harapku sebelum lidahmu menyisipkan serpihan kata…

Kamu sendiri… Benarkah?

Sadarlah… aku disini…
Untukmu…

Dan sekali lagi dia bertanya, ‘Kamu dimana, Cintaku?’

Dia di depannya…
Sekejap mata dan dalam sekali tarikan nafas…
Tak sedetik pun pikirannya beralih…
Hanya pemuda itu yang meringkuk kelam di hatinya
Menyesap sari pati empedu cinta dengan kuncupnya yang mulai merekah…
Dan kini ada di pelupuk matanya…
Gadis itu terdiam dengan kertas yang semakin basah tergerus keringat…
Masih tergenggam erat di lentik jemarinya…

Lihatlah, dia masih begitu muda!
Berambut hitam, berkulit kuning langsat, berbadan tegap dan bidang…
Dia halus tanpa celah…
Tak ada noktah…
Lelaki yang mengagumkan…
Nirwana ini kah milikku? Gumam gadis itu dalam hati…

Dan dia menangis tiba-tiba…
Sang gadis bertanya, ‘Kamu? Air mata? Kenapa?’
Pemuda itu menjawab, ‘Maafkan aku, Rembulan! Sungguh Engkau cahaya perawan yang penuh naungan! Aku memujamu… Tak setitik sel tubuhku yang meragukan cintamu padaku…’

Keheranan mulai terpancar di wajah sang gadis
Namun, dia menutupinya dengan hujaman kata-kata cinta…
‘Aku tahu, Cintaku! Aku tahu! Tapi kenapa tiba-tiba Engkau begini? Apa daya salahku hingga guratan silau kesedihan terangkum di wajah sucimu?’

Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya dengan tumpuan lututnya sendiri.
Dia merintih…
Memeluk kaki sang Gadis… mencekamnya kuat-kuat…
Tak bisakah dosa ini dikembalikan?
Tampar waktu dan balikkan dia, tapi dia tak bisa…

Dan kenyataan mulai menampakkan dirinya
Mata suci sang Gadis mulai terbuka
Membelalak di sudut terkelam dalam hidupnya…
Hatinya hancur tak ada kepingan yang terbuang…

Seonggok perempuan
Telanjang
Tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya
Merupakan raganya…

Perempuan itu tertunduk lesu…
Dengan keringat yang terus mengalir di belantara kulit mulusnya yang terlihat matang
Dia tak mampu memandang sang Gadis…
Dadanya sesak…
Dan dia masih telanjang…
Namun terlilit kelambu dosa

Perempuan itu berkata,
‘Maafkan aku! Aku tak tahu…’

Dan sang Gadis membalas dengan sentakan kebataan yang hina mengiris…

‘Ma… Mama… Kenapa?’

Kertas merah jambu itu pun jatuh ke lantai…

Semuanya luntur…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s