Menulis Harga Diri

Berhenti menulis karena sitaan waktu kerja dan pemenuhan tuntutan eksistensi sebenarnya mutlak bukan menjadi alasan yang tepat bagi saya untuk memutus hubungan dengan selipat buku elektronik berwarna putih yang sudah menenami saya sekian tahun ini. Bukan pula karena urusan bangku kuliah yang telah ditamatkan malah menjadi penyokong raga agar menjauhi kegiatan tulis menulis. Saya berhenti dan vakum menulis karena pilihan. Pilihan memenuhi kebutuhan primer yang menurut saya harus dikhatamkan terlebih dahulu sebelum si sekunder bisa mengikuti. Meski sedikit memaksa melawan idealisme saya yang gandrung merangkai kata dan menyusun jurnal -sebelumnya sangat sukar saya kerjakan- hanya sekedar bisa dipandang lebih beradab bagi orang lain, termasuk ibu saya yang bangga melihat anaknya sudah berdompet dari hasil kerja keras. Bahagia saya yang berprofesi, senang melihatnya anaknya bahagia. Tanpa pernah membantah bahwa uang pun berkiprah sebagai pembentuk kebahagiaan itu sendiri. Saya membuktikannya. Saya, keluarga saya, teman-teman saya, dan mereka yang ada di sekitar saya. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa berbagi segalanya. Ibu saya tidak pernah berhenti megingatkan bahwa rezeki yang saya dapatkan wajib dibagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Keluarga dan handai taulan yang masih kesulitan, sekaligus mereka yang belum berkecukupan. Sama halnya ketika almarhum bapak saya berkata, “Tuhanmu tidak pernah menyuruh kamu jadi orang miskin, kerjakan rezekimu, dan berbagilah dengan yang lain”

Hukum tabur tua. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Saat kamu melemparkan rezeki ke langit melalui sedekah, langit akan melimpahi dirimu dengan rezeki yang berkali lipat jumlahnya dari yang kamu keluarkan. Dan saya semakin menyadari kenapa orang-orang kaya di negara-negara Barat, meski mereka tidak seiman dengan saya, tapi mereka memiliki yayasan, rajin beramal dan berderma, sekaligus menjadi pionir bala bantuan di negara-negara miskin, harta kekayaan mereka tidak pernah habis, malah melimpah ruah. Kata Dalai Lama, ketika kau melihat orang lain berbuat kebaikan pada sesamanya, pertanyaan ‘apa agamamu?’ tidak diperlukan.

Tuhan Maha Adil, saya percaya itu.

Usaha yang saya lakukan pasti membuahkan hasil. Beberapa rancangan finansial per lima tahun yang saya buat jauh-jauh hari mulai terpenuhi satu per satu. Jika Orde Baru punya repelita, rencana pembangunan lima tahun, saya juga memilikinya. Hanya saja perbedaannya pada kata pembangunan menjadi kata pembuktian. Membuktikan bahwa anak daerah, yang dulu dipandang dengan mata sebelah, dari keluarga menengah ke bawah, bisa bersaing dengan mereka yang kekotaan bermahkota kata ‘wah’. Wah kaya, wah keren, wah beken, wah anaknya ini, wah bapaknya itu, wah keluarga ini, wah keturunannya itu, wah-wah-wah. Saya mulai sebah dengan ungkapan-ungkapan kesedarahan yang belum menunjukkan bukti kuat. Bukan menggugat, hanya sekedar mengalamatkan perihal ini bagi mereka yang merasa. Sekali lagi bukan marah, hanya ingin mengungkapkan fakta. Suara manusia kapan lagi di dengar jika tidak dibuktikan dengan berbicara atau menggetarkan pita suara dengan hembusan udara, bukan? Dan kali ini saya berusaha untuk lebih lapang dan membuka kesempatan bagi diri saya sendiri untuk menunjukkan pada mereka. Kamu bisa, saya pun mampu. Kamu sering menjadi sosok objek, saya subjek pelaku. Impas.

Kembali ke urusan tulis menulis. Kecenderungan untuk mengalirkan secara permanen apa saja isi otak dan hati menjadi kata dan kalimat baca serta mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan khusus bagi saya. Sekitar2-3 tahun lalu, ketika urusan tulis menulis jurnal dan menyelesaikan skripsi masih menjadi hiasan sehari-hari saya, mungkin membentuk opini yang agak ngawur atau sederet kata opini menjadi hal yang leluasa dan enteng saya lakukan. Tapi setelah masuk di dua tahun terakhir ini, meski mulut dan otak saya masih berjalan dengan level lumayan baik ketika membawakan acara di televisi, belum tentu hal yang terpikir di kepala bisa tertuang mudah menjadi guratan kata tulis yang bisa terbaca dengan jelas dan mampu mengirim pesan yang sesuai dengan apa yang saya maksud. Kadang saya masih gamang dan ragu. APakah saya bisa seperti dulu atau akan semakin kelu semua jari-jariku?

Oleh karena itu, menulis seyogyanya bukanmenjadi tuntutan, tapi bisa diarahkan sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kita butuh makan meski tidak harus tiga kali dalam satu hari, yang penting lambung masih bisa menggiling makanan yang masuk dan jonjot usus masih  bisa menyerap gizi, itu lebih dari cukup. Penentu semangat menulis memang diri sendiri, membagi tulisan kita dengan orang lain menjaid urusan pribadi, tapi menerbitkan buah pikiran kita yang menghasilkan penghidupan merupakan bonus berharga tinggi bagi diri.

Pikiran kita adalah ladang uang kita. Perlu ditanami palawija kata dan kalimat agar kelak bisa dipanen dan menghasilkan tumpukan pundi di lambung rekening bank kita. Silakan beridealisme dengan hidup, tapi sungguh, jika tulis-menulis dan baca-membaca memberikan banyak peluang meningkatkan harkat dan martabat manusia, memberikan label harga yang lebih tinggi bagi mereka yang paham, betapa seruan ‘iqra’, ‘bacalah’ yang diserukan Jibril ke Muhammad sebelum ayat-ayat lainnya muncul dalam kitab, sangat benar adanya.

Selamat menulis dan membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s