Kamu & Si Sampul Merah

Jemarimu sibuk menekan tombol demi tombol bertorehkan huruf, angka, dan banyak tanda baca hingga membentuk kata dan kalimat yang terpampang di lempengan layar jernih bersinar di depan wajahmu. Menggubah isi pikiranmu menjadi rajutan paragraf bercerita tentang seseorang yang datang bersama kata, menghampirimu lewat cerita. Kamu telah merencanakannya. Suatu hari nanti kamu akan bertemu dengannya. Meski belum kau kenali wajahnya, bahkan lewat gambar dirinya sekalipun. Akan menjadi kejutan, harapmu.

Kamu menyadari bahwa pagi itu tak seperti pagi lainnya. Ada sesuatu yang beda dalam tubuhmu paska malam hebat akhir pekan kemarin. Kamu tahu mengapa. Hingga kamu tak sabar untuk menuliskannya dalam rangkaian cerita yang menurutmu akan menjadi salah satu konten paling hebat dalam buka harian digitalmu. Tersimpan dalam satu folder di antara deretan folder warna biru lain dengan label ‘aksaragama’. Folder favoritmu.

Selepas kamu menanggalkan kewajibanmu bercengkerama dengan perkakas make-up, kamera, skrip berita, dan tembakan cahaya lampu berintensitas tinggi, kamu buru-buru berlari menuju kendaraan warna abu-abumu yang terparkir rapi diapit oleh mobil warna merah dan biru di lapangan parkir yang kebetulan masih sepi kala itu. Ruang bagasi besar dan menyimpan banyak barang mulai buku dan tas berisi baju serta sepatu terbuka menganga di hadapanmu. Tanganmu tak ubahnya sendok besar yang mengaduk-aduk isi di dalamnya. Otot matamu bergerak ke berbagai arah dan sudut seiring hempasan barang yang terlempar dan tertumpuk sedemikian rupa, saling tindih, dan bertumpangan satu dengan lainnya. Hingga dari onggokan barang-barangmu yang makin tak rapi letaknya, benda kotak agak pipih menyita perhatianmu. Tak berapa lama benda itu terkempit di ketiakmu. Sementara gigimu mengigit sebuah buku bersampul warna merah dengan judul berbahasa bugis. Judul yang belum kamu pahami sungguh, karena isinya belum selesai kamu baca. Tapi tak apa, yang penting tiap hari kamu mencoba menikmati isinya di sela-sela kesibukanmu. Toh nanti pasti paham juga, pikirmu.

Suara debam pintu bagasi tertutup hampir bersamaan dengan bunyi sirine tiga kali sebagai tanda mobilmu terkunci membuyarkan pikiranmu. Tapi sejurus ketika tatapanmu mengarah pada deret huruf yang membentuk nama pencipta buku itu, kamu tersenyum. Langkahmu semakin tegap dan cepat menuju naungan dimana kamu biasa mengeluarkan isi hati dan pikirmu. Ruang tenang dan nyaman yang memutar musik jazz, meski kamu tak seberapa suka, dengan dalih bahwa musik itu bisa menstimulus saraf sensorik dan motorikmu agar bersinergi mencipta suatu karya, yang kamu anggap sebagai impuls tambahan selain secangkir kopi tubruk pahit dengan setengah sendok teh gula putih di dalam cangkir hitam yang tergenggam di telapak tangan kirimu. Membantu menghangatkan bagian tubuhmu dari hembusan udara dingin air-conditioner yang menempel di dinding tak jauh dari kursi yang sering kau duduki. Di pojok ruangan, di dekat jendela, satu meja ber-vas bunga kertas yang selalu diganti oleh pelayan setiap harinya. Dan hari ini kamu menemukan bunga kertas berwarna merah di dalam vas di hadapanmu. Tumben, biasanya warna putih, pikirmu bertanya-tanya. Tapi tak seberapa lama kamu menghalau isi pikiran yang tidak seberapa penting itu. Menggantinya dengan konsentrasimu menyalakan mesin ketik digital pipih yang kamu banggakan. Hasil dari jerih payahmu selama enam bulan kamu bekerja.

Layar berwarna dengan display gambar tumpukan buku-buku sastra dunia lengkap dengan nama-nama pengarang yang ditumpuki jajaran folder berada tepat dua jengkal dari wajahmu. Silaunya membuat matamu sedikit memercing hingga level intensitas cahayanya kamu turunkan beberapa persen ke bawah dan matamu bisa beradaptasi sesudahnya. Bantalan kursi yang menurutmu masih nyaman sekian waktu ini, menjadi salah satu faktor penentu kenikmatan ketika jemarimu bekerja. Suasana, udara, musik, ruang, orang, berkolaborasi menjadi padu agar kamu khidmat menguarkan isi otakmu. Dan mulailah jemarimu sibuk menekan tombol demi tombol dengan tempo cepat.

Novel merah di samping laptopmu diam tak bergerak. Kamu pun kadang bertanya, jika kamu fokus menulis, mengapa jua ada sebuah buku yang terbujur kaku dan tak tersentuh? Dengan dalih sebagai motivator pasif, yang membuatmu harus menulis, itu jawaban dari hatimu. Pun tak guna jika pada hakikatnya buku itu seyogyanya harus dibuka dan dibaca isinya. Bukan hanya memamerkan lekuk gambar dengan judul kapital yang dicetak dengan huruf timbul, yang menyita perhatianmu selama ini. Dan pada akhirnya bukan itu jawabannya. Kamu menyandingkan buku itu di samping mesin ketikmu karena kamu terlalu terlena dengan nama penulis yang tertulis dengan huruf kecil warna hitam tepat di atas judul buku. Entah dari mana asal muasal rasa itu muncul, tapi hal itu yang kamu yakini sebagai katalisatormu untuk mau menulis lagi. Lepas dari apa yang terjadi akhir pekan kemarin. Lagi-lagi menurutmu akhir pekan kemarin adalah penutup minggu paling hebat setelah usiamu menginjak 22 tahun. Kamu berjanji bertemu dengannya tanpa bertemu malam itu. Dia yang namanya tertulis di sampul merah dengan huruf warna hitam.

Ceritamu mengalir begitu saja hingga jari-jarimu terasa pegal. Kau ambil secangkir kopi yang mulai terasa hangat. Tak panas lagi seperti awal mula cangkir itu mampir di mejamu. Membantumu merilekskan otot-otot tangan yang terasa payah setelah lama bergerak menekan-nekan tombol. Kopimu masih hangat, otakmu juga, apalagi hatimu. Seruputan cairan pahit manis itu menjaga konsentrasimu. Mahaampuh dari kafein membuatmu terjaga dari lamunan yang kadang muncul di tengah-tengah arus idemu yang deras mengalir. Kamu kembali fokus tanpa terganggu beragam gerak benda hidup yang berada di sekitarmu. Perasaanmu terus berkecamuk, memamerkan gigi taringnya dan memaksa kamu harus menyelesaikan tulisan ini. Rajutan kalimat bercerita tentang dia dan karyanya yang tak lepas dari pandang matamu. Membuatmu lupa diri dan tak sadar ada benda hidup yang memperhatikan segala lakumu dari salah satu sudut ruang dimana kamu berada. Memasang muka datar sembari menggenggam secangkir coklat panas. Matanya tak seliar mata orang lain saat melihatmu duduk sendirian hanya dengan mengenakan celana panjang ketat dengan kaos tank-top warna hitam yang kamu dapat dari sebuah toko online beberapa waktu lalu. Tatapannya teduh seperti mengerti apa isi hatimu tanpa perlu mengungkapkan kepadanya. Sesekali dia tersenyum, kemudian mengalihkan pandangnya dengan menengok ke arah lain. Kemudian kembali lagi. Memastikan bahwa kamu tetap berada di kursimu. Bersama dengan kawan-kawan benda mati yang menemanimu. Salah satunya adalah karya terhebat yang pernah dia buat. Menghabiskan waktu-waktunya. Menasbihkan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Membuat rasa percaya dirinya yang sempat kendor, namun bangkit lagi setelah melihat wajahmu yang berlalu lalang di pikirannya. Dan karya bersampul merah itu lahir lengkap dengan derai air mata lega. Merangkum dirimu menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Dan kamu belum menyadari itu semua karena isinya belum juga rampung kamu baca. Padahal dia ingin menemuimu dan meminta pendapatmu tentang isi hatinya yang tercetak dengan ribuan huruf dan tanda baca yang kini berada tak jauh darimu. Hasratnya begitu menggebu setelah tanpa kamu tahu wajahnya, surelmu mampir di kotak masuknya. Berisi daftar sinopsis dan referensi dari beberapa surat kabar tentang hasil karyanya, yang membuatmu terpikat untuk melanjutkan tulisanmu yang dahulu pernah tertunda. Tak jauh dari sosok seperti dia yang tiba-tiba kau kagumi dari hanya sebatas opini yang tertuang dalam koran kota. Kamu seperti mendapat pencerahan yang membuat degup jantungmu bergerak cepat. Mendesir aliran darahmu yang kian deras mengalir di jaring pembuluh di seluruh tubuhmu. Bahwa karyanya seperti bubuk serotonin yang membuatmu mabuk kepayang dan tergoda menelan mentah-mentah halusinasi hebat sebagai efek utamanya. Padahal kamu tahu efek sampingnya tak jauh lebih baik rasanya ketika kamu patah hati. Sama seperti akhir pekan paling hebat yang kemarin kamu rasakan bersama temanmu, mantan kekasihmu yang tiba-tiba berubah menjadi kekasihmu lagi. Tepat ketika kamu menjanjikan lewat surel balasan bahwa kamu ingin menemuinya hari ini. Persis saat ini jika saja kamu sudah mengkhatamkan isi karyanya yang dengan susah payah dia ciptakan. Menggambarkan isi hatinya kepadamu. Menuliskan namamu di bagian epilog. Agar kamu tahu bahwa sampul merah itu berisi tentang kamu dan kamu.

Dan lagi-lagi, kamu belum rampung membacanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s