Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s