Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s