Sekarat

Merasa terkucil dalam dunia yang selama lebih dari 10 tahun dipilihanya adalah mimpi buruk yang dirasakannya kini. Pertanyaan yang kerap kali muncul di kepalanya tak jauh dari komparasi-komparasi tak berujung dari hidupnya dengan hidup orang lain sejawatnya. Entah dari sisi karir, maupun kehidupan pribadi yang jarang terungkap di depan publik. Terlalu picik rasanya ketika seruan percaya diri dan mampu menerima diri sendiri sering dikoar-koarkannya di depan khalayak, sementara dirinya sendiri belum mampu memahami maksud seruan-seruan itu secara jelas. Hanya retorika belaka. Kelihatan jelas dari raut wajahnya yang kelihatan tertekan, seolah gunungan masalah menimbun dirinya hidup-hidup. Padahal jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, rekan-rekan kerja, hingga sahabat-sahabat terdekatnya, yang jelas-jelas dia tahu bahwa problematika mereka lebih berat_dia sering menjadi teman berkeluh kesah_seyoyanya tak pantas perasaan tertekan, galau, gundah gulana itu menggelayut di kepalanya. Toh, hanya seputar finansial dan jenjang karir yang tak seberapa. Dia gemar berkompetisi, doyan menenggak tantangan, dan rasa-rasa seperti itu kian mencuat dan meminta lebih banyak korban.

Kebutuhan harian hingga bulanannya selalu tercukupi, bahkan berlebih. Dia juga masih bisa menabung dan berderma ketika proyek-proyeknya di-ACC oleh klien, yang membuat aliran dana mengalir deras ke dalam rekeningnya. Jadwal liburan tiap bulan juga masih terselamatkan meski tidak harus ke luar negeri atau ke resort-resort eksklusif favoritnya di dalam negeri. Biaya-biaya wajib, cicilan-cicilan ini-itu, pun masih tertutupi tanpa jatuh tempo. Lantas apa yang sesungguhnya membuat dia merasa harus mendapat segalanya lebih dari orang lain? Bahkan ketika doa-doanya terdahulu dikabulkan oleh Tuhannya satu demi satu di saat yang memang tepat? Apakah karena terlalu fokus pada hidup orang lain dan sejenak lupa menikmati hidupnya sendiri yang membuat perasaan-perasaan tak bermutu itu bergentayangan di kepalanya? Atau karena satu hal yang selalu ditanyakan keluarga dan orang-orang terdekatnya tiap kali berjumpa di hari raya, bahwa untuk orang seusianya, waktunya mencari teman hidup, bukan melulu seputar karir? Apakah ada yang lain selain itu? Pikirnya.

Dan semakin banyak tanda tanya bermunculan, semakin sekarat pula dirinya pelan-pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: