Memilih Pasangan Pemimpin Melalui Faktor X: Zodiak

Salah satu stasiun televisi swasta di Jawa Timur memiliki program sepakbola yang memiliki perbedaan dengan program serupa di stasiun televisi lain. Prediksi pertandingan yang akan berlangsung menjadi satu konten penting dalam materi berita. Namun apa jadinya jika yang digunakan untuk memprediksi adalah angka-angka atau penanggalan kalender dalam astrologi Cina? Meramal pertandingan melalui Shio menjadi keunikan tersendiri.

Berbicara mengenai prediksi, beberapa lembaga survey dan masyarakat dari beragam elemen mulai berlomba mengulas tentang cawapres mana yang paling cocok bersanding dengan dua kandidat capres yang telah santer diberitakan. Kebanyakan menggunakan perspektif karir politik dan elektabilitas. Katakanlah si petahana seharusnya dengan si A, boleh juga dengan si B. Calon baru harus dengan si C atau D, dan sebagainya. Terlalu mainstream.

Ada faktor lain yang harus diperhatikan terlepas dari perlu dan tidak perlunya faktor ini digunakan, yaitu watak dan karakter manusia. Sejak 3000 tahun yang lalu bangsa Barat kuno telah menggunakan ilmu perbintangan untuk menguraikan watak dan karakter khas manusia dari tanggal lahir kalender matahari (Masehi). Jika track record karir politik telah banyak diulas, tidak salah kita melihat kecocokan pasangan capres-cawapres melalui faktor ini.

Jawa Pos edisi Selasa 17 Juli 2018 menuliskan tentang tebak-menebak isi kantong Jokowi yang memuat plus minus kandidat cawapres. Ada lima nama yang disebutkan, yaitu Mahfud MD, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Muhammad Zainul Majdi, dan Sri Mulyani. Sedangkan untuk edisi Jumat 20 Juli 2018, Jawa Pos mengulas pula tentang Prabowo yang telah memiliki nama-nama yang masuk dalam bursa cawapres-nya. Mulai dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anies Baswedan, Zulkifli Hasan, Ahmad Heryawan, hingga Salim Segaf Al-Jufri.

Jokowi lahir pada 21 Juni 1961, dinaungi oleh bintang Gemini. Karakter umum bintang ini adalah cerdas, pandai berbicara, memiliki kemampuan berkembang dan belajar tinggi, sekaligus memiliki pesona alami dan kharisma yang bisa menarik semua zodiak. Dengan elemen udara, Gemini Jokowi cocok bersanding dengan cawapres yang berbintang Aries, Leo, Libra, atau Aquarius. Dan dari kelima nama kandidat, ada dua yang berbintang Libra, yaitu Muhaimin Iskandar (24 September 1966) dan Airlangga Hartarto (1 Oktober 1962). Dari keduanya, yang murni Libra adalah Airlangga Hartarto. Meski dengan zodiak yang sama, Muhaimin Iskandar masih dinaungi bintang Virgo yang tidak cocok dengan Gemini.

Kompatibilitas hubungan Gemini dan Libra yang sama-sama berelemen udara akan terbangun berdasarkan pada pondasi intelektualitas dan kelincahan mental. Dengan kesamaan karakter, membuat mereka akan saling menyeimbangkan.

Sedangkan Prabowo yang lahir pada 17 Oktober 1951, dinaungi oleh bintang Libra. Pun berelemen udara. Menawan dengan intelegensi tinggi, memiliki naluri yang kuat, dan bisa bekerja sama secara adil, adalah ciri umum zodiak ini. Libra Prabowo bisa disandingkan dengan pendamping yang berbintang Gemini, Leo, Aquarius, atau Sagitarius. Dan dari kelima kandidat cawapres, muncul kecocokan pada dua nama, yaitu Ahmad Heryawan yang berzodiak Gemini (19 Juni 1966) dan AHY yang berbintang Leo (10 Agustus 1978). Akan tetapi, AHY yang murni Leo dengan elemen api lebih cocok mendampingi Prabowo. Karena meski Gemini, Ahmad Heryawan masih dinaungi oleh zodiak Cancer yang tidak cocok dengan Libra.

Peluang menjalin sebuah hubungan harmonis bisa terjadi antara Libra dan Leo. Unsur yang dimiliki keduanya mendukung hal itu. Libra dengan watak cerdas, suka memelihara, dan cakap dalam berdiplomasi, akan pantas disandingkan dengan Leo yang optimis dan kharismatik.

Sedikit menengok kembali profil sejarah dua proklamator kita. Ir. Soekarno yang lahir pada 6 Juni 1901 dinaungi oleh bintang Gemini. Sedangkan Muhammad Hatta lahir di tanggal 12 Agustus 1902 berbintang Leo. Sama seperti Jokowi yang Gemini, Ir. Soekarno juga memiliki kecocokan mutlak dengan Bung Hatta. Kekompakan dan kecakapan mereka sebagai pasangan presiden dan wakil presiden di awal negara ini berdiri tidak bisa dipandang remeh. Bahkan di detik-detik mereka harus melepaskan jabatannya, hubungan keduanya tetap solid. Pun hingga salah satunya lebih dahulu menghadap Tuhan. Seolah tubuh pendiri bangsa ini pincang.

Jika dewasa ini menentukan pasangan pemimpin terlihat sulit dan lama karena banyak variabel yang harus dipakai sebagai bahan pertimbangan. Entah dari semaraknya panggung partai pengusung dan koalisinya, banjirnya kepentingan di tahun politik, atau hanya sekedar gimmick yang disajikan ke publik, diharapkan dengan faktor X ini, akan bisa membantu mempercepat penentuan pasangan capres-cawapres yang bisa didaftarkan nanti.

 

Agustus 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: