Semacam Rayuan Buku

Dalam perjalanan pulang ke rumah, disempatkannya berbisik lirih pada buku yang didekapnya. “Aku mencintaimu. Tak akan ada yang sia-sia ketika kau telah bersamaku.” 

Bus itu melaju kencang di jalanan yang licin. Hujan bulan Juni bisa turun berjam-jam tanpa peduli siang atau malam. Dua wiper bergerak cepat menyingkirkan riak air yang menerpa kaca bus. Kedua mata sopir bus ikut memercing bergantian. Berusaha memfokuskan penglihatannya di tengah guyuran hujan dan kabut yang mulai menebal seiring waktu menuju senja. Hamparan pohon dan tetumbuhan hijau mulai berubah warna menjadi kelabu. Dari kejauahan, kerlip pelita dari rumah-rumah penduduk mulai tampak. Matahari yang sukar terlihat sejak pagi, seolah tidak berdaya lagi menyapa malam yang beringsut menyelimuti.

Dirinya duduk di kursi paling belakang. Tepat berada di deret tengah, segaris lurus dengan kaca depan bus. Hanya ada beberapa penumpang sore itu. Kebanyakan terlihat kelelahan. Beberapa diantaranya malah asyik terlelap sambil menelingkup barang bawaannya di atas pangkuan. Ada pula yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri melalui sebuah buku tebal yang dibaca. Sesekali dia tersenyum sendiri, kemudian bergumam, lantas tersenyum lagi, namun dengan garis bibir membentang lebih lebar. Di salah satu sudut bis tidak jauh dari pintu depan yang tertutup rapat, berdiri seorang petugas karcis. Pria itu sibuk menghitung lembaran uang yang terapit di jemarinya bersama dengan segepok uang kertas beragam warna yang sepertinya disusun mulai dari nominal paling kecil di bagian atas dan nominal terbesar di tumpukan terbawah. Matanya awas, bibirnya komat-komat. Memastikan bahwa pemasukan hari ini memenuhi target harian. Beruntung jika ada lebihnya. Lumayan untuk uang belanja sang istri setiba di rumah nanti.

Tidak terdengar musik yang mengalun riuh. Radio-tape memang sengaja tak dinyalakan di jam pulang kerja seperti ini. Selain memberikan kesempatan istirahat bagi para penumpang, sang sopir juga hanya ingin menikmati musik alam lewat suara geluduk petir bersahutan dan guyuran deras air hujan yang menerpa badan bus. Menurutnya lebih merdu menggetarkan gendang telinga ketimbang musik kota yang itu-itu saja. Meski bagi yang lain, dendangan musik alam itu jelas-jelas membuat godaan untuk tidur semakin susah ditepis.

Terdapat seonggok buku tebal bersampul kulit sapi lusuh di atas pangkuannya. Cukup lama dia tertegun dan hanya memandangi bagian depan dan belakang sampulnya. Tak banyak yang bisa dibaca. Hanya sekedar tulisan judul buku dan nama penulisnya yang tertoreh dengan huruf timbul berwarna keemasan yang sudah kusam. Terdapat goretan dan bopeng berbentuk pulau-pulau kecil yang menghiasi. Alih-alih gambar sampul, pulau-pulau kecil itu seperti jamur-jamur yang merebak di permukaan kulit manusia. Laiknya panu atau kadas, tapi yang ini muncul di permukaan sampul buku. Bisa saja jamur buku, pikirnya.

Diberanikannya membuka lembaran pertama. Saat kertas itu tersibak, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah luar. Jantungnya berdegup kencang. Buku itu kembali ditutupnya. Tidak berselang lama, terdengar suara gelegar guntur. Disusul dengan suara geluduk dengan volume rendah. Makin lirih, kemudian suara itu lenyap seketika. Beberapa penumpang terperanjat. Ada yang langsung duduk tegap dan menutup telinganya. Ada pula yang hanya menggeliatkan tubuh, kemudian beringsut mencari posisi paling nyaman, lantas melanjutkan mimpi.

Sementara itu dirinya tetap terpaku. Dilema berkelanjutan memenuhi isi kepalanya. Buku di pangkuannya itu harus dibaca sekarang atau nanti. Jika memang sekarang, meski dengan cahaya redup, deretan tulisan di dalamnya mungkin belum sukar dibaca. Tapi apabila nanti, ketika perjalanannya masih jauh, di tengah keraguan apakah sang sopir mau menyalakan lampu di dalam bus atau tidak, tentu saja buku bersampul kusam itu akan bisa terbaca ketika sampai di rumah nanti. Dan bagi dirinya, rumah akan menjadi sarang tidak nyaman untuk membaca. Karena bukan hanya dia saja yang menikmati isinya, melainkan keluarga besarnya juga harus turut diajak serta.

Akan tetapi, alam tadi telah memberikan tanda. Membuka sampul dan masuk ke lembar pertama saja sudah diganjar dengan kilat dan guntur, apalagi masuk ke bagian isi di dalamnya. Bisa-bisa air bah dari bawah kulit bumi membuncah ke permukaan dan menghasilkan banjir besar seperti yang pernah diceritakan oleh neneknya tentang riwayat Nuh. Boleh jadi dirinya tidak akan sampai rumah jika tetap memaksa membaca isi buku itu.

Ah pikirannya terlalu hiperbola. Mungkin saja kilat dan guntur tadi hanya semacam kebetulan. Sekarang ini hujan deras sedang mengguyur, maka wajar jika dua fenomena alam itu datang bersahutan. Tapi akan lain cerita jika semua itu bukan kebetulan. Sangat mungkin sekali ada hubungan paradoksis antara membuka lembaran pertama buku itu dengan dua kejadian alam yang baru saja dirasakannya. Bukannya dunia dan isi alam memang terhubung satu sama lain. Antara satu dengan yang lain seperti terkoneksi oleh semacam urat syaraf bumi tak kasat mata. Seperti de javu yang tiba-tiba muncul di tengah geliat aktivitas seseorang di suatu tempat. Menghentikan pikirannya secara tiba-tiba dan terkesima dengan rekaman ingatan mikro tentang sosok dirinya yang seolah pernah berada di tempat yang baru saja dipijaknya. Meski semua itu bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi tetap saja menjadi hal ganjil yang terus dipertanyakan. 

Dan kini giliran dirinya yang terus bertanya. Tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan.

Bis melaju makin kencang. Bentangan selimut malam membujur menuju garis penghabisan di cakrawala. Tak terlihat bintang satu pun, apalagi rembulan. Hujan deras mulai reda. Tergantikan rintik gerimis yang menyajikan kesenduan senja. Sepertinya langit masih dermawan menurunkan air mata. Dari kejauhan, cahaya lampu rumah-rumah penduduk mulai samar terlihat. Kabut tebal menghujam membentuk awan-awan kelabu. 

Masih tanpa bintang dan rembulan.

Di atas singgasana langit ketujuh. Tuhan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polah salah satu umat-Nya di dalam bus menuju akhirat.

 

 

Surabaya, Agustus 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: