Cerita, Handwritings, The Handwritings

Bukan Kisah Sedih, Tapi …

“Brondong, jangan lupa nanti matiin AC-nya abis kelar siaran!” Pinta Didi dengan nada tinggi. Terlihat masih sibuk berkonsentrasi melukis dan menebalkan alisnya dengan pensil alis warna cokelat tua. Sesekali ia memiringkan wajahnya yang telah lama menatap cermin. Menoleh ke kanan, lanjut ke kiri, berusaha menyeimbangkan garis dan lekuk alis agar tampak rata. Kondisi meja berantakan. Berupa perkakas make-up mulai dari cermin rias, bedak, lipstik, maskara, bahkan kabel hair dryer dan catok rambut masih menancap di colokan listrik.

“Aman, Buk! Buru-buru amat, mau kemana sih?” tanyaku penasaran.

“Situ mau tau aja!” jawabnya singkat, sembari mengoleskan ujung rambut kuas kecil yang basah setelah dicelupkan ke botol lipstik cair warna merah burgundi ke bibirnya. Lanjut menempelkan bibir atas dan bawahnya beberapa kali dengan suara ‘paff-paff’. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah bibirnya yang makin merona. Ditutup dengan senyuman khas kepuasan.

“Terus barang-barang ini dikemanain?” tanyaku sambil menunjuk ke barang-barangnya yang teronggok berantakan di atas meja.

“Cabut kabel-kabelnya, gulung, taruh di laci meja kerja, tuh disana! Semua yang ada disini, ditaruh disana. Tolong ya!” Dia menunjuk ke arah meja kerja di ruang sebelah.

“Sekarang?”

Nggak, besok!” tukasnya singkat sambil melotot ke arahku.

Wah catoknya baru?” Aku menggodanya.

“Itu M-A-H-A-L, mahal! Boleh dipinjem, 50 ribu sekali pakai.”

“Pelitnya si Ibuk Judes,” pekikku.

“Biarin! Yang penting cantik. Udah dulu ya. Met siaran, Brondong! Wish me luck!” Dia bergegas menjinjing tasnya, menerobos pintu geser dengan langkah cepat.

Wish me luck buat apa neh?” tanyaku dengan lantang saat melihatnya sibuk mengenakan sepatu hak tinggi warna merah. Stiletto 17 sentimeter. Setahuku harganya di atas 5 juta rupiah, sepatu kebanggannya. Malam ini Didi memang terlihat cantik. Rambut panjangnya tergulung jatuh hasil roll dan catok rambut. Dibiarkan menjuntai normal tanpa hiasan kepala, jepit rambut, bandana, atau hiasan kepala lainnya. Pun make-up yang menempel di wajahnya tidak terlalu menor, simple-chick seperti yang tertulis di rubrik kecantikan majalah urban. Pada bagian tubuh, tank-top warna putih tertutupi bolero dengan warna senada melekat membentuk siluet. Sementara di bagian bawah, denim hitam ketat menonjolkan bagian yang paling seksi, paling jenjang, paling montok. Perfectly curved. Padat, sintal, dan berisi.

Bye-bye, Brondong! Hahahaha!”

Tanpa jawaban.

*****

Didi merupakan satu-satunya penyiar senior perempuan yang memanggilku dengan nama ‘brondong’ sejak kujawab pertanyaannya tentang berapa usiaku di saat pertama kali kami berbicara. Kala itu aku baru dua minggu menjadi penyiar training. Di minggu ketiga dari rangkaian tiga bulan program training, aku bertemu dengannya. Di minggu itu yang berperan sebagai trainer untuk program penyiar baru adalah Didi, selain penyiar-penyiar lain yang juga mendapat jadwal sama bergantian. Sudah menjadi jatah Didi yang akan membagi ilmunya padaku. Sosoknya yang cerewet, judes, dengan dandanan feminim di setiap harinya, sontak membuatku sering mati kutu. Antara rendah diri, tidak nyaman, dan terintimidasi. Memnag jadi kelemahanku ketika harus berhadapan dengan perempuan seperti dia. Saat itu.

“Ohh situ masih muda ya?” tegasnya.

“I-i-iya, Kak.” jawabku gugup.

“Jangan sombong kalau nanti sudah jadi penyiar radio beneran!”

“Ba-ba-baik, Mbak.”

“Tadi kak, sekarang mbak, gimana sih?

Anu Kak, Mbak…” saat itu ingin sekali kupanggil dirinya dengan sebutan ‘tante’, tapi urung kulakukan.

“Dasar brondong. Brondong, sana balik studio!”

Setelah kejadian itu, di bulan-bulan berikutnya, nama ‘brondong’ melekat menjadi nama panggilanku. Sering pula digunakan oleh penyiar lain bahkan beberapa karyawan lantai satu pun ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Brondong ini lah, brondong itu lah, semua serba brondong. Berkat sebutan itu pula hubunganku dengan Didi semakin cair dan hangat. Sebagai teman, adik, teman nonton, belanja, bodyguard ke kamar mandi malam-malam, hair stylist yang meluruskan atau mengeluntung rambutnya dengan catok, teman curhat apalagi.

Dengan nama ‘ibuk’, kugunakan sebagai panggilanku kepadanya. ‘Ibuk’, sebutan untuk seorang ibu versi bahasa jawa. Bukan lagi ‘kak’, atau ‘mbak’, menegaskan kalau dia sudah seperti ibu-ibu dan pantas dipanggil ibuk. Bisa dikatakan sebagai usaha memperhangat pertemanan kami. Kedekatan itu semakin mengental ketika kami dikukuhkan menjadi partner siaran di salah satu program non-permanen saat bulan Ramadhan di tahun keduaku bersiaran. Selama 29 hari kami menjadi duo penyebar hadiah dan periuh jam sahur, sekaligus pemukul bedug imsak dan adzan subuh. Namun, program sahur itu tak kami dapatkan lagi di tahun berikutnya karena ada rotasi penyiar. Dari dia dan bertahun-tahun pengalaman menjadi seorang penyiar radio serta guru public speaking, ladang ilmu siarannya aku panen dengan gampang.

*****

Namun, ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Didi yang satu setengah jam sebelumnya berparas ceria dan kenes, serupa gadis centil dadakan dengan agenda istimewa yang terahasia, ditambah sepuhan kecantikan hasil dempulan make-up dan busana seksi yang lekat menjalar, kini malah terlihat jauh 180 derajat perbedaannya. Dari pandangan mataku dari balik kotak kaca, sosok tubuh Didi berdiri di depan pintu masuk dengan wajah menunduk. Rambutnya terlihat lepek, sepertinya basah terkena air hujan. Kemungkinan besar bajunya basah, lebih parah lagi make-up-nya pasti luntur. Langit memang sedang asyik-asyiknya mencurahkan air di bulan-bulan penghujung tahun itu. Jika malam ini hanya gerimis panjang sejak sore tadi, lain halnya dengan hari lain yang hujan lebat bergemuruh.

Ketika kuperhatikan lebih seksama dari kejauhan, benar dugaanku. Dengan wajah sayu dan helaian rambut basah yang menempel pada kening dan pipinya, dia membuka pintu kaca. Dilepaskannya sepatu merah itu, kemudian dia letakkan pula tasnya di atas karpet. Membuka dan mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian muncul nyala api, membakar ujung sebatang rokok yang terjepit di bibirnya. Lalu muncul hembusan asap rokok. Perlahan menebal, menutup sebagian wajahnya yang makin redup. Ada yang tak beres dengan Didi.

Rasa penasaranku berbuah hasil ketika mendadak dia mentapku dari kejauhan. Matanya tak bisa menyembuyikan perasaan dan isi hatinya. Dia masih mencoba tegar dengan hembusan asap yang dikeluarkan tak teratur dari rongga mulut dan hidungnya. Tapi yang terjadi 5 menit kemudian sungguh tak bisa dinyana-nyana. Dia lunglai, terduduk di atas ubin becek hasil guyuran hujan. Dengan sigap kutinggalkan siaranku, masih ada beberapa lagu yang akan terus berputar. Kuabaikan deringan telepon dari para pendengar yang bersemangat ingin on air bersamaku. Membahas topik siaran yang aku suguhkan dalam siaran malam kali ini. Tapi itu semua tak lebih penting dari rasa ibaku kepada Didi hingga kusegerakan langkahku dan menemuinya secepat mungkin. Didi. Sebentuk manusia lunglai tak berdaya di depan pintu.

“Buk, kenapa?”

Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.

Rokoknya terlepas dari jarinya. Jatuh ke lantai yang basah. Membuat nyala apinya padam seketika.

“Kamu kenapa?”

Dia makin menundukkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Tak lama yang kudengar hanyalah sesenggukan. Muncul dari kerongkongan seorang perempuan.

Segera kupapah dia ke dalam ruang tamu. Tapi aku berubah pikiran. Aku akan meninggalkan siaranku jika harus menemaninya di ruang berbeda. Tak ada siapapun di studio lantai dua yang bisa membantuku memperhatikan kondisi Didi. Langsung saja aku bawa dia masuk ke dalam kotak kaca. Kududukkan dia di atas karpet di samping meja siaran. Sekotak tisu dan handuk ukuran sedang kering dari dalam laci berpindah dari tanganku ke tangannya. Kunaikkan suhu ruangan dari remote AC agar lebih hangat. Badannya tak terlalu basah. Dering telepon masih nyaring mengusik telinga.

“Atta…” kemudian dia terisak. Aku semakin bingung.

“Wait, Buk!” Aku meluncur kembali ke kursi siaran. Menyusun lagu, bumper-in, iklan, promo, bumper-out, lagu, dengan durasi agak panjang secepat mungkin. Kucabut kabel telepon hingga deringnya tak terdengar lagi. Hanya suara lagu-lagu yang mengudara dengan tune rendah. Kemudian kembali mendekatinya.

“Ada apa, Buk?”

Didi mencoba mengontrol dirinya dan menegakkan tubuhnya. Maskara yang menebalkan garis matanya luntur berbekas. Tak bisa kutebak apakah itu dari air hujan atau air mata. Semuanya kelihatan sama saja.

“Atta ternyata sudah beristri,” air matanya tak terbendung.

“Hah? Bang Atta? Kok bisa?” aku terperanjat.

“Bisa, sebelumnya aku pikir dia mau melamarku, tapi ternyata…” isakan tangisnya makin dalam, sesekali cegukan. Dia sedikit kerepotan mengusapnya dengan tisu yang makin kusut tergenggam hingga aku harus membantu mengeringkan matanya yang basah bercucuran. Gumpalan-gumpalan putih lainnya tergeletak liar di lantai.

“Ya Tuhan, Buk!” Kurebahkan kepalanya ke pundakku.

“Aku pikir dia pulang ke Medan karena urusan keluarga dan proyek periklanannya. Dua bulan berpisah bukan waktu yang singkat, tapi tiba-tiba dia kembali dan minta maaf. Aku pikir ada kenapa-kenapa, ternyata dia minta maaf sekaligus pamit, dia kawin dengan perempuan lain. Semua hancur, Bas!” Baru kali itu, setelah sekian lama, dia memanggilku dengan nama sebenarnya.

“Sabar, Buk, sabar,” aku mencoba membesarkan hatinya.

“Aku bodoh! Bodoh. Aku nggak dengerin apa kata Joe tentang dia,”

“Bang Joe tahu?” aku keheranan. Artinya bukan aku saja yang menjadi tempat curhatnya selama ini. Jika Joe tahu, jangan-jangan semua orang di kantor ini juga tahu? Aku semakin kalut dengan pertanyaanku sendiri.

“Atta itu temen kuliah Joe. Joe bilang kalau dia itu player, tapi aku nggak percaya. Aku tertipu selama ini,” jelasnya. Sedu sedannya mereda.

Tiba-tiba dari arah depan suara pintu terbuka. Suara derap kaki berdebum terdengar semakin jelas mendekati kami berdua. Kemudian pintu kotak kaca terbuka lebar.

“Sudah kubilang sejak dulu ‘kan, Di! Makanya dengerin kalau orang ngomong,” Joe bersimpuh duduk di depan kami. Membelai rambut Didi dan mengusap air matanya. Didi yang sebelumnya berada di pelukanku langsung menggerakkan badannya dan berpindah ke rengkuhan Joe. Aku biarkan dia seperti itu.

“Sorry, Joe,” Didi kembali meneteskan air mata. Kini wajahnya tenggelam di dada Joe.

“Sudah-sudah… Kamu, balik siaran!” tiba-tiba Joe menatapku. Jari telunjuk kanannya teracung lurus. Memerintahku kembali bertugas di singgasana panas. Aku mengangguk, kembali ke kursi siaran.

Joe memapah Didi ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa merah setelah segelas air putih dari dispenser habis diminum Didi. Mereka mulai berbicara dengan tampang dan tatapan serius. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam kota kaca ini. Hanya gerakan tubuh mereka berdua yang saling berpadu. Joe terus memegang tangan Didi, sementara Didi berulang kali menyapukan kertas tisu ke liang air matanya. Mencoba menahan alirannya, sepertinya tak bisa.

Aku menyaksikan mereka berdua layaknya menonton satu babak sinetron di televisi yang ada di ruang tamu. Menyala tapi tak bersuara. Perbedaannya hanya pada ukuran yang membuat tokohnya berbentuk seperti ukuran manusia aslinya, tentu saja dengan lebar layar yang tak biasa. Seperti menonton reka adegan pantomim tanpa teks terjemah. Mencoba mengambil makna dari lakon melalui terkaan jalan cerita yang tak dipahami penontonnya. Mereka berdua pemain dan aku penonton.

Sejenak aku teringat sesuatu. Kehancuran dosis tinggi yang dialami Didi malam itu, juga pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Di akhir pekan basah, di tempat yang sama. Ledakan emosi menyeruak dibalik dinding kotak kaca. Lembaran kertas berhamburan ke seluruh ruangan. Dua ponsel di atas karpet di bawah kaki meja. Sepertinya jatuh, atau sengaja dijatuhkan. Atau malah dibanting. Satu hari paling berantakan yang pernah aku rasakan selama aku menempati kotak kaca. Menimpa seseorang paling berpengaruh mengatur jalannya kinerja studio siaran. Menduduki level tertinggi di antara penyiar lain. Sebelumnya aku mengira dia adalah manusia terkeras kepala tanpa toleransi dengan sosok tinggi besar. Tapi ternyata, dia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi problematika. Antara dia dan kekasihnya.

*****

“ANJING!!!”

Aku terdiam tanpa kata tepat saat pintu masuk kotak kaca kugeser hingga terbuka lebar, sedetik setelah terdengar umpatan binatang itu terdengar memekak di telingaku. Dibumbui dengan suasana ruangan yang karut-marut. Terbelalak mataku dibuatnya, menyadari bahwa kertas promo, iklan, addlips, surat kabar, majalah, tak lagi berada di tempatnya yang pantas. Belum lagi alat tulis yang berceceran, jatuh di sudut-sudut bawah meja, sulit terjangkau tangan.

“Bang … Bang Joe, kenapa?” tanyaku penuh tanda tanya besar. Berusaha membuka obrolan dari dua orang manusia, yang satu kikuk, satunya kesurupan.

Dia diam. Mengembangkempiskan dadanya. Mencoba bernafas normal dengan menghirup oksigen banyak-banyak dalam suhu 16 derajat Celcius. Terbaca di layar remote AC. Dua tangannya berada di kepala, meremas rambutnya dan sesekali menariknya dengan jari. Mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak rambut. Seperti berjuang menyakiti diri sendiri agar rasa sakit lain tertutupi. Terakhir kulihat dai menelungkupkan telapak tangannya di wajah. Menyeka matanya yang memerah dengan jari, ditutup dengan bibir yang bergetar dan mendesirkan suara, “Kok bisa? Nggak mungkin, ya Tuhan!” 

Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat. Aku merasa tak nyaman. Joe menghampiriku yang beku berdiri di hadapannya. Segan untuk bergerak sesentimenter pun. Dua tangannya yang berpeluh memegang pundakku.

“Kamu punya kenalan dokter, nggak? Punya nggak?!” tanyanya dengan intonasi meninggi dan tersengal.

“A-a-ada Bang,” aku semakin gugup.

“Aku butuh dokter, atau dukun, atau apalah itu, yang penting, yang penting ini nggak terjadi! Nggak boleh kejadian! ANJING!” Dia berbicara sendiri.

“Kejadian apa, Bang? Apanya yang nggak boleh terjadi?”

Dia menoleh kembali padaku. Menarik nafasnya. Mengatakan sesuatu yang membuat paru-paruku berhenti memompa oksigen.

“Mira hamil.”

“Hah?! Mira hamil? Sejak kapan?” tak kupercayai pendengaranku.

“Aku nggak tau, yang pasti aku belum siap. Aku nggak mau jadi ayah. Aku nggak mau!” Nada suaranya mulai meninggi, kali ini dengan tempo lebih cepat.

“Bang Joe,” aku berusaha melunakkan suasana.

“Atau mungkin itu bukan bayiku, pasti dia selingkuh dengan laki-laki lain, nggak mungkin itu bayiku, aku pakai kondom, kecuali …”

“Kecuali apa?” tanyaku melanjutkan.

“Kecuali malam Valentine’s Day itu, tapi itu cuma sekali nggak pakai,” dia membela dirinya sendiri.

“Bang Joe, ada baiknya kamu sekarang ke Mbak Mira, kalian harus ketemu, obrolin baik-baik!”

“Tapi-tapi, Bas…”

Be gentle, Bang,” tukasku singkat memotong kalimatnya.

Dia bergegas mengambil barang-barangnya. Memungut beberapa benda yang kemudian dimasukkan ke tas ranselnya.

Please, cover up siaranku!”

“Iya Bang, take care!

Dia mengangguk. Semenit kemudian lenyap berbekas. Isi kotak kaca pecah amburadul tak karuan.

*****

 Didi: Jam brp smpe studio?

 Aku: 8.00, whats up?

 Didi: Nitip bir apa aja

 Aku: Brp kaleng?

 Didi: 4, klo bs b4 8PM uda di studio

 Aku: OK

Pukul 7.35 aku sudah sampai di kantor. Area parkir masih basah oleh air hujan ketika aku sampai. Sembari memarkirkan sepeda motorku di tempat biasa, bisa kulihat mobil Didi dan Joe terparkir berdampingan. Tumben mereka berdua bisa bertemu di waktu ini. Seingatku jam siaran sore mereka berdua memang sama, hanya saja beda hari dalam satu bulan. Dua minggu Joe, dua minggu berikutnya Didi. Urusan tukar-menukar tiap hari apa saja mereka siaran, adalah mereka sendiri. Layaknya previledge bagi para senior.

Terdapat dua jalur menuju lantai dua: satu melewati tangga yang letaknya tepat di samping kantor di lantai satu, satunya lagi lewat pintu belakang dekat kantin yang sudah tergembok sejak pukul 6.00 petang. Artinya, untuk penyiar malam hanya bisa melewati satu-satunya jalur, yaitu melalu tangga. Lampu yang seharusnya menerangi tangga lengkung itu memang sudah mati beberapa hari terakhir ini. Tak tahu alasannya kenapa tidak segera diganti. Membuatku harus benar-benar membuka mata, membiarkan berkas-berkas samar cahaya dari kejauhan menerangi langkahku yang beranjak naik sambil menjinjing tas dan sekresek bir serta makanan ringan. Tidak cocok rasanya menikmati bir dingin tanpa snack, kacang goreng atau chiki-chikian.

Ujung tangga lantai dua berdekatan dengan pintu masuk studio. Hanya perlu 5 langkah sudah sampai ke gagang pintu. Namun ketika tinggal 3 anak tangga lagi, aku melihat sosok perempuan berbaju serba hitam berdiri membelakangi tangga, yang bisa kulihat hanya tubuh bagian belakangnya. Ramping, tapi agak sedikit melebar di bagian pinggang. Dari gesturnya sepertinya dia memandang pintu masuk studio siaranku. Sempat aku hentikan langkahku saat sosok itu berlari ke arah samping, ke lorong gelap di depan deretan ruang kantor lain yang sudah dipadamkan lampunya. Mungkin karyawati, atau OB.

Mataku terbelalak melihat seseorang yang terbaring kulai di sofa merah, meraung dengan suara rendah, berlinang air mata. Didampingi Didi dan satu teman yang tak kukenal. Aku kebingungan. Aku berinisiatif menarik lengan Didi. Menginterogasinya.

“Bang Joe, kenapa lagi?” tanyaku.

“Mira…” jawab Didi singkat.

“Mira kenapa?”

Didi sejenak diam, kemudian berujar.

“Mira tewas gantung diri, janinnya nggak bisa diselamatkan,”

Lidahku kaku.

Tas ranselku jatuh berdebam, diikuti gelontangan kaleng bir.

 

Thanks buat mas Joe, mbak Didi, mbak Almira, yang aku reka menjadi tokoh di cerita fiksi ini. Salam hangat untuk kalian semua yang tumbuh di keluarga besar Pro2FM Surabaya Radio Republik Indonesia. Sangat merindu duduk di kursi siaran lagi.

Advertisements
Standard
Cerita, Handwritings, The Handwritings

Berenang Bersama Papa

“Papa janji?”

“Janji!” selintang garis kumisnya terangkat. Senyumnya menebal. Kau mengangguk pelan. 

“Ayo sini!” kau naik ke punggungnya. Dan dia membawamu masuk ke dalam rumah. Beberapa temanmu hanya sekedar menoleh tak acuh. Sisanya asyik bermain gundu sambil bersorak-sorai.

Kau sudah mengenalnya sebelum kalian tinggal bersama. Kau pernah melihat gambar dirinya bersama ayah dan ibu di album foto pernikahan mereka. Ibu dengan kebaya putihnya, ayah dengan jas hitam berkalung melati, dan dia yang berbaju batik. Ayah berkata bahwa pria ini yang membuatnya berjodoh dengan ibu. Saat itu kau memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Dan tak perlu waktu lama bagimu untuk lebih mengetahui siapa dirinya karena pria ini juga tampak hadir ketika hari berkabung itu tiba.

Penjajakan cepat dan singkat dimulai dari gigitan ayam goreng di salah satu restoran fast food favoritmu di pinggir kota. Berlanjut dengan agenda jalan-jalan rutin setiap akhir pekan. Dia menjemputmu dan ibu di rumah. Kemudian kalian bertiga meluncur ke taman ria jenaka, kebun binatang, hingga taman-taman kota. Menikmati berondong jagung dan bergelas-gelas es serut. Sampai pada suatu malam, ketika kelelahan membuatmu tertidur dalam pelukannya, detik itu pula ibu memutuskan bahwa masa kesendiriannya telah sirna.

Tapi ada satu hal yang tak kau sukai darinya ketika kau mulai memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’. Pria itu ternyata tak tahu mainan apa yang kau suka. Berbeda dengan pria lain di hidupmu sebelum dia. Tidak seperti saat ayah masih ada. Seringkali dirinya membawa oleh-oleh mainan untukmu meski kau tak memintanya. Dia adalah pria favoritmu. Dan papa belum menjadi pria itu.

Suara derap sepatunya yang terdengar khas di telinga, mampu membuatmu terperanjat dan meledakkan rasa senangmu. Ketika pintu ruang tamu terbuka, dengan mata berbinar kau menghambur ke tubuhnya. Memeluknya erat. Aroma badannya yang menguar bersama bau keringat kau hirup dalam-dalam. Tanganmu menyentuh pin emas bersayap yang melekat di seragam putihnya. Di pundaknya melekat pangkat bar dengan empat garis melintang. Kau rebahkan kepalamu. Sering kau jahili dirinya. Kau ambil topi hitam berlambang garuda itu dari kepalanya. Kau kenakan di kepalamu yang kecil. Topi itu melorot dan menutup sebagian wajahmu. Tawanya membuncah seketika.

“Kapten Ayah sudah besar!” bibir bau rokoknya mendarat di pipimu.

“Yah, geli,” kau dorong kepalanya menjauh dari kepalamu.

“Dari kemarin merengek terus minta dibelikan mainan, Yah,” ibu berjalan menghampiri kalian berdua. Kemudian dia mendaratkan bibir merahnya ke bibir ayahmu. Kau mengira keduanya sedang meniru tingkah laku ikan mas koki di akuarium kepala sekolah. Hanya tak mengeluarkan bulir-bulir gelembung udara.

“Yang benar? Wah, Kapten Ayah mau mainan apa?”

“Mau pesawat, Yah!”

“Pesawat yang besar atau yang kecil?”
“Yang besar, Yah! Yang besar!” 

“Sebesar apa?”

“Besar-besar!” kedua tanganmu bergerak membentuk setengah lingkaran.

“Hahaha, pintar sekali Kapten Ayah! Iya ‘kan, Bu?” rekah senyum manis wanita itu tampak jelas ketika mata mereka saling bertatapan.

Sebuah kotak kardus besar berada di pangkuanmu. Di salah satu sisinya terlapisi plastik transparan membentuk bingkai persegi. Dari sisi itu, kau tahu benda apa yang berada di dalamnya meski hanya sekilas. Kala kertas pembungkusnya tersibak, matamu membelalak. Ada benda lonjong seukuran mentimun yang memiliki dua sayap dengan warna dominan kuning. Terdapat aksen warna biru di bagian moncongnya yang ditancapi baling-baling dengan warna senada.

“Pesawat! Pesawat! Pesawat!” kau berlari kegirangan mengelilingi ruang tamu.

Kau sibuk menjentikkan baling-baling pesawat ketika pria itu masuk ke dalam kamar ibu. Seperti biasa, dia bertelanjang dada. Kau sering bermain sendirian di kamar itu. Dulu ibu sering menyuruhmu tidur di sampingnya setiap malam saat ayah sedang bertugas. Bertambah sering ketika ayah selesai dimakamkan. Tak lain karena ibu takut kesepian. Namun setelah dinding-dinding kamar itu dipenuhi foto-foto pernikahan dengan suami barunya, ibu yang bergantian menghampirimu di tempat tidur. Mencium kening dan menyuruhmu segera tidur. Pria itu bersamanya. Melakukan hal serupa. Mengucapkan selamat tidur tapi tanpa ciuman di kening.

“Kok main pesawat terus, Cah Bagus?” papa merebahkan badannya di atas kasur. 

“Suka, Pa,” jawabmu sambil menggeser tubuh mendekati lemari baju bercermin besar. Kau melihat pantulan tubuhmu dan pria itu dalam satu garus lurus. Pesawatmu terbang melintas.

“Kalau besar nanti mau jadi pilot?”

“Iya, seperti ayah,” matamu berbinar penuh kebanggaan.

“Mengapa tidak jadi pelaut saja? Seperti papa,” kau menoleh kepadanya.

“Kamu dapat menjelajahi lautan luas, makan ikan sepuasnya,” dahimu mengernyit. Kau tak suka hidangan laut. Amis dan asin. Ingin muntah.

“Dan jika beruntung, bisa berjumpa ikan paling besar sejagat raya. Paus biru.”

“Paus biru?” kau penasaran.

“Sini naik ke kasur! Papa ceritakan dongeng tentang paus biru.” 

Seperti tertarik magnet, tubuhmu beringsut ke arahnya. Perut bulatnya menyembul dengan rongga pusar menganga. Tumbuh rambut tipis di permukaan dadanya yang mengular sampai menembus lipatan sarung yang dia kenakan. Bulu ketiaknya lebih lebat dibanding kumisnya. Puting susunya hitam, sehitam bubuk kopi yang diseduh ibu di pagi hari.

Papa bercerita tentang Ibu Paus Biru dan Anak Paus Biru yang mendiami samudera Antartika. Sebagian besar populasinya memang ada disana. Sisanya tersebar ke seantero samudera di permukaan bumi ini. Papa bilang, dalam bahasa Latin, Paus Biru dinamai Balaenoptera musculus.

“Baa – la – ee … nopter …”

Balaenoptera musculus,” papa meneruskan kalimatmu, “dengan nama genus yang berasal dari kata Latin ‘balaena’ yang berarti paus, dan kata Yunani, ‘pteron’, yang berarti sirip atau sayap. Nama spesiesnya, ‘musculus’. Adalah kependekan kata Latin ‘mus’, yang berarti tikus. Dan kata ‘musculus’ sendiri, bisa juga diartikan sebagai otot.”

“Otot tikus?” kalian berdua tertawa.

Ukuran tubuh Ibu Paus Biru kira-kira sebesar tubuh 20 gajah Afrika dikumpulkan jadi satu. Sedangkan tubuh Anak Paus Biru sebesar tubuh dua kerbau jantan dewasa yang pernah kau lihat di halaman masjid ketika Hari Raya Kurban. Lebih kurang bermassa 2.700 kilogram saat dilahirkan. Sama seperti kuda nil Afrika dewasa. Dengan panjang tubuh mencapai 33 meter dan berat mencapai 181 ton atau lebih, paus biru dipercaya sebagai mamalia terbesar yang pernah ada di dunia.

Kau menganga.

Tapi dulu, tubuh Ibu dan Anak Paus Biru tidak sebesar itu. Mereka juga pernah berukuran kecil. Warna kulitnya pun belum didominasi oleh warna biru kehijauan.

“Sekecil ini,” dia melepas celana pendekmu. Jemari papa memainkan bayi ikan paus milikmu. Kau merasa geli dan aneh secara bersamaan.

Karena samudera lebih luas dari daratan, maka makanan ikan paus biru sangat melimpah. Paus-paus itu selalu makan di daerah yang memiliki banyak krill. Mereka makan antara 2.000 – 4.100 krill dalam satu hari. Spesies zooplankton itu dimakan oleh berbagai jenis paus biru dari satu samudera ke samudera lain. Mereka juga makan ikan kecil, crustacea, dan cumi-cumi yang kebetulan tertangkap bersama krill. 

Selama tujuh bulan pertama hidupnya, Anak Paus Biru minum kira-kira 400 liter susu setiap harinya. Anak Paus Biru bertambah berat secara cepat, yaitu sebanyak 90 kilogram per hari. Tak lama tubuhnya semakin besar. Otot-otonya menonjol dan keras. Warna kulitnya pun berubah. Berwarna biru kehijauan atau abu-abu dengan pembatas putih tipis. Sedangkan di bagian perut mempunyai warna yang lebih terang.

“Paus Biru memiliki kepala pipih berbentuk huruf U,” lanjut papa. “Di bagian atas kepalanya terdapat lubang untuk mengisap oksigen dan membuang karbondioksida.”

“Sama seperti ini, Cah Bagus! Coba pegang!” Selembar sarung kotak-kotak hijau yang dikenakannya jatuh ke lantai. Kau memegang ikan pausnya. Keras dan hangat. Urat-urat pembuluh darahnya menonjol di permukaan kulit.

“Ikan pausnya punya rambut, Pa!” kau takjub.

“Coba kau cium. Biasanya ikan paus cepat tumbuh besar kalau sering dicium.” Telapak tangannya yang besar menuntun kepalamu menemui paus biru miliknya. Pelan-pelan.

Paus biru mempunyai indera peraba dan pendengar yang tajam. Ia mengetahui arah di dalam air dengan mengikuti gema suara yang dibuatnya. Selain sebagai alat navigasi, suara yang dihasilkan dipercaya juga sebagai bentuk komunikasi antarsesama dan untuk mendeteksi mangsa.

“Aaauuuuuu … aaauuuu … begitu suaranya,” dia menciumi ketiakmu. Kau menggeliat kegelian.

Tak banyak ikan paus biru yang hidup bergerombol dalam jumlah banyak. Mereka suka berenang bersama dalam jumlah kecil dan hidup mendiami sudut samudera yang terpisah oleh daratan. Kadang mereka saling bertemu ketika sama-sama berburu mangsa santapan di samudera yang sama.

“Nah, ketika Ibu Paus Paus Biru dan Anak Paus Biru berenang berdampingan, mungkin seperti kamu dan papa saat ini, Cah Bagus. Kamu tahu bagaimana caranya mereka berenang?” kau gelengkan kepala. 

“Nah begini,” sekarang tubuh papa berada di atas tubuhmu. Kedua siku tangannya bertumpu pada kasur dan menopang berat badannya. Kau masih telentang. Dia menindihmu.

“Ibu Paus Biru selalu melindungi Anak Paus Biru dari ancaman binatang laut lain, seperti Bibi Gurita Raksasa atau Paman Ikan Hiu Gigi Runcing,” jelasnya.

“Mereka itu jahat ya, Pa?”

“Iya, jahat sekali. Makanya Anak Paus Biru harus dilindungi,” salah satu tangannya menggerakkan tubuhmu sedemikian rupa. Kini kau tengkurap. Terasa ada gerakan berdenyut di bagian paha bawahmu. Sepertinya paus biru papa sedang mengepakkan siripnya. Berenang menuju lipatan paha serta irisan pantatmu.

“Kau siap berenang?”

“Tapi aku boleh membawa pesawat ini, Pa?”

“Boleh-boleh saja,” kau mendengar sengal nafas hangatnya di telingamu. Udara itu menyembur bersama bau rokok seiring pinggangnya yang menghentak kuat maju-mundur. Paus biru papa sedang bersemangat menjelajahi samudera kapuk bersama Ibu dan Anak Paus Biru.

Lama dan gerah. Kau mulai bosan dengan adegan dari cerita Ibu dan Anak Paus Biru. Berenangnya begitu-begitu saja. Gerakan renang papa, si Ibu Paus Biru, cuma itu-itu saja. Maju dan mundur tanpa berputar-putar mengelilingi samudera. Tidak seperti ikan mas koki di akuarium kepala sekolah yang dapat berenang ke segala penjuru. Tidak seperti pesawat ayah yang bisa terbang keliling dunia.

“Papa, aku bosan,” 

“Sebentar lagi ya, Cah Bagus. Sebentar lagi paus biru papa juga akan bosan berenang kok,” dia mencium ubun-ubunmu. Tak lama matamu terpejam. Sesekali kau tarik nafas dalam-dalam. Belum pernah kau tidur tengkurap seperti ini. Selain itu, tubuh Ibu Paus Biru memang berat.

Kau kendalikan gagang kemudi pesawat itu dengan gagah perkasa. Kau kenakan topi hitam ayah yang entah mengapa tiba-tiba pas di kepalamu. Baling-baling pesawat itu berputar sangat kencang. Mampu menerbangkanmu bersama seonggok makhluk raksasa yang berulang kali mengaum keras di sampingmu, “Aaauuuu… aaauuu…” 

Setiap kali siripnya mengepak, tubuhnya membumbung makin tinggi. Setiap kali ekornya mengibas, riak air hangat menerpa wajahmu. Ini tantangan, pikirmu. Lekas-lekas kau tarik gagang tuas mesin di samping kursi. Dan ketika deru mesin terdengar keras. Gumpalan asap putih keluar dari ekor pesawat. Saat itulah pesawatmu melesat sangat cepat. Menggapai Ibu Paus Biru yang sedang asyik berenang di atas hamparan awan kelabu.

Di ujung sana, di atas garis cakrawala yang berkilau keemasan, kau dapati ayahmu dengan seragam putihnya sedang melambaikan tangan ke arahmu.

“Kapten Ayah, ayo sini!” teriaknya dari kejauhan. Matamu berbinar. Di bagian sudutnya mulai berair.

Alih-alih kau rengkuh ayahmu, kau malah mendengar suara lenguhan panjang Ibu Paus Biru tepat di saat dia menyemburkan air dari punggungnya.

Hangat.

 

Agustus, 2018. Kisah lawas yang ‘tak kunjung tuntas. Mereka memilih mendiamkannya. Saat itu pula bom waktu mulai berdetak. Tik – tok – tik – tok.

Standard
Cerita, Handwritings, The Handwritings

Santapan Tengah Hari

Perempuan itu terlihat terburu-buru merapikan berkas pekerjaannya. Menulis sesuatu di atas secarik kertas lalu meletakkan head-set di ujung tiang microfon yang berada tepat di hadapannya. Sesekali dia melihat jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya. Dahinya mengernyit. Muncul pertanyaan dalam benaknya. Apakah kali ini dia bertindak benar? Apakah keputusannya tepat? Tak lama dia termangu, namun tak ada jawaban satu pun yang keluar dari kepalanya. 

Berkali-kali tertunda, bisa saja hari ini adalah hari baik itu. Atau malah menjadi momentum terburuk dalam hidupnya. Waktu sedang menunggu. Perasaan ganjil melanda tiba-tiba. Entah dari mana. Nekat saja.

“Semoga semua akan baik-baik saja.” 

Dia bergegas. Jangan sampai terlambat menemuinya. Ia yang datang dari jauh. 

Ketika derap kaki memburu, rasa gugup dan bimbang terus menghampiri. Apakah ia orangnya? Bagaimana jika pertemuan ini tak sesuai harapannya? Bagaimana jika semuanya bertambah kacau? Gundahnya menerpa. Dia mulai gila. 

Tapi dia harus bertemu ia. Sudah kepalangtanggung. Ia ada di sini. Di kota ini. Sesuai harapannya. Langkahnya dipercepat. Jangan lagi membuatnya menunggu.

“Aku datang untukmu.” 

Nada dering singkat dan getaran tipis dari genggaman membuatnya tersentak. Pendaran cahaya putih menghantam wajahnya. Simbol amplop dari fitur pesan muncul di permukaan layar. Pesan singkat di kotak suara menuliskan namanya. Dia berhenti di sudut pintu gerbang. Pesan itu terbuka. 

“Aku sudah sampai. Di tempat yang kita janjikan. Aku menunggumu. Sendiri. Duduk di samping jendela.”  Singkat. Padat. Jelas.

Dia memutuskan berlari dengan sepatu hak tingginya sambil mencengkeram clutch hitamnya kuat-kuat. Sebentar lagi. Tidak lama lagi. Susah payah dia mengatur pertemuan ini. Begitu banyak bualan dan janji yang tak kunjung tertepati. Setelah banyak kisah dan rahasia yang terbagi tanpa mata bertemu mata, kulit berjumpa kulit. Hingga di ujung hari kemarin, kabar mengejutkan datang, “Apakah besok kita bisa berjumpa?” Ujung panah menancap tepat di sasaran. Semesta mendukung. Di tengah hari, kafe Belanda, lunch break.

Babak lain hidupnya mulai berjalan. Membawa serta perasaan yang seharusnya dia kunci rapat-rapat di dalam rumah. Perasaan yang sesungguhnya tidak boleh datang, namun apabila datang, maka semuanya akan terasa gampang. Seperti dipermudah oleh Yang Maha Pemudah. Seperti sebuah dosa, terasa salah, namun layak dinikmati. Seperti ujian semester sekolah, banyak  pertanyaan yang mesti dijawab, tapi dalam waktu yang tak terbatas. Dia terlena.

“Kamu siap terbakar?”

Dia diam. “Tidak juga,” Tak lama kemudian muncul anggukan.

“Siapkan pula selimut tebal,” bola mata keduanya saling berpandangan. “Bisa jadi dia tidak hanya membakarmu, tapi juga membuatmu mati beku,” ujar teman baiknya.

Ditariknya kedua sudut bibirnya ke atas. Menyunggingkan selengkung senyum untuk dirinya sendiri. Berusaha menyamankan perasaan meski cara itu tak berhasil. 

Jalur pedestrian seramai hari-hari biasanya. Tak membuatnya gentar untuk menembus kerumunan pejalan kaki dan menerjang hembusan angin kering bulan September. Langit sedang absen menumpahkan air ludahnya ke bumi. Sebagai penggantinya, semprotan air dari selang yang bertugas membasahi tanaman sulur perdu berwarna kuning kecoklatan yang melekat di sepanjang pagar besi. Ujung lembaran daun-daunnya yang mulai renta menghadap ke arah dia menuju. Seperti jarum kompas yang membawanya kepada ia yang menanti di sana.

“Aku tahu tempatnya, jangan repot-repot,” sekonyong-konyong dia melihat dedaunan itu mengerling padanya. Lantas gugur lalu terhempas angin. Meluncur dan menabrak tubuh-tubuh besi berasap di jalan raya. Siraman air tadi pagi tak mampu membuatnya hijau kembali. Sudah terlambat.

***

Di salah satu sudut kafe. Selembar daun kering menempel pada kaca jendela. Matanya awas menyaksikan. Tapi bibirnya mulai mengering. Pangkal lidahnya terasa pahit. Dahaga melanda. Segelas minuman dingin patut dinikmati dalam masa penantiannya. 

“Dahaga hati kah ini?”

***

Jalan raya itu tampak menghadang seperti gerombolan kuda liar berbaju zirah. Kilau besinya tak segan menusuk mata para pejalan. Hatinya terasa panas. Mengumpatkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa terucap dari katup bibirnya. Terasa ngilu di sekujur tubuh, tapi nikmat di waktu yang sama. Dia melihatnya dari kejauhan. Siluet tubuh di samping jendela yang sedang menanti kehadiran.

“Aku datang untukmu.”

***

Bangunan kafe berarsitektur Belanda berdiri berseberangan dengan gedung perkantoran paling sibuk di kota ini. Jarak keduanya dipisahkan oleh jalan raya dengan jalur satu arah. Melintang di bagian atasnya, sebuah jembatan penyeberangan yang tak henti dilalui manusia pemburu waktu: para pekerja kerah putih, seniman jalanan, pencopet, pedagang kaki lima, dan pengemis, sebelum salah satu atau salah dua diantaranya menikmati ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP. Terciduk. Hilang untuk beberapa saat.

Sebenarnya hanya perlu 5-10 menit berjalan kaki cepat dari tempatnya bekerja ke halaman parkir kafe itu. Namun ketika jam makan siang tiba, jalur padat tak terelakkan. Ditambah lagi dengan gelombang kendaraan yang tak pernah mandeg berlalu-lalang.

Kedua kakinya terhenti di sisi jalan. Kepalanya mendongak ke atas. Sorot matanya menajam ke arah jembatan penyeberangan yang berdiri kaku di atas aliran kendaraan yang mengganas di sungai aspal. Penuh kuasa. 

“Terlalu lama,” kedua matanya menantang hilir mudik roda-roda bermesin di jalan kota. Diabaikannya bentangan jembatan itu. 

***

Menerobos luapan asap pekat jalan yang dibumbui desingan klakson pemekak telinga hanya dengan mengenakan rok selutut dan sepatu berhak tinggi adalah keputusan gila. Memaksa mobil  menghentikan lajunya dengan lambaian tangan. Berteriak-teriak hanya untuk menghalau sepeda motor dan angkutan umum agar mau memberinya celah lewat. Dia belum pernah melakukan tindakan nekat semacam itu sebelumnya. Sampai hari ini.

“Cuma buat kamu.”

***

“Perempuan goblok! Jangan menyeberang di jalan. Ada jembatan di atas kepalamu. Sadarlah!” Terdengar suara klakson panjang dan berulang. Umpatan terlontar dari bibir seorang pengemudi yang menghentikan kendaraannya secara mendadak. Untung saja kampas rem-nya baru diganti. Selintas bayangan tentang luka berdarah, tampang ganas polisi, atau bangsal rumah sakit hilang perlahan.

“Kalau tertabrak, bukan saya yang salah!” lanjutnya.

“Sabar, Ayah. Cukup. Ayo kita jalan lagi,” seorang wanita muda memegang lengan kiri pria itu. Di atas pangkuannya terdapat map berisi tumpukan kertas putih. Kepalanya menunduk. Mata sembabnya terlindungi oleh kacamata hitam.

***

Di luar, siulan-siulan nakal terdengar bersahutan. Seperti melecehkan tanpa adanya sentuhan. Dia terus berlari. Tak peduli. Dikatupkannya daun telinga beranting mutiara itu. Dia melaju seperti orang gagu.

“Apa pun kulakukan untuk menemuimu. Apa pun.” 

***

Ujung sedotan putih menempel di bibir. Aliran dingin air jeruk menghentikan dahaga. Ia duduk di sofa krem, senada dengan warna kulitnya. Seorang lelaki berkaos biru dengan kerah V yang ditumpuk blazer hitam sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia gelisah.

Berkali-kali ia melihat jendela kaca di sampingnya. Memastikan bahwa ia berada di tempat yang tepat. Jari-jarinya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Bulir air tampak bergelantungan di keningnya. Keringatnya keluar meski ruangan itu dipenuhi hawa dingin dari mesin pendingin udara.

“Dimana kamu? Kamu akan datang, bukan? Aku menunggu.” 

Saat dia melihat kaca untuk kesekian kalinya, matanya membelalak. Sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. Kesejukan dari dalam menerpa dirinya.

“Dia yang menepati janji. Dia ada. Tidak. Dia hampir ada untukku.” 

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak itu menaruh ponselnya ke saku celana. Seuntai senyum tampak mengiringi. Ingatannya masih terpaut pada pesan terakhir kekasihnya.

“Aku suka padamu. Nanti aku telepon lagi. Anak-anak sedang bersamaku.”

“Aku pun begitu. Jadilah ayah dari anakku nanti! Kumohon!” 

“Baiklah, take care.

***

“Sudah siap memesan makanan?”

“Apa?” ia tersentak dari lamunan.

“Anda ingin pesan makanan apa?” gadis itu kembali menyodorkan buku menu untuk kedua kalinya.

“Oh pesan. Iya, makanan ya?” Ia salah tingkah. Ia terlalu memikirkannya. Dijamahnya daftar menu yang sejak tadi tergeletak di depannya.

“Aku tak paham nama-nama makanan ini?” Tertulis dengan huruf kapital warna biru disertai gambar: Nasi goreng mentega. Cah kangkung. Daging sapi lada hitam.

“Nanti saja. Menunggu kawan saya.”

“Okay,” gadis itu meninggalkannya dengan wajah datar.

***

Di pelataran kafe yang panas menyengat, sudut ketiak dan punggungnya basah oleh keringat. Perlu sedikit waktu baginya untuk mempersiapkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian. Hasrat mendorong besi pegangan pintu kaca tak pernah sampai se-deg-degan ini. 

Pintu terbuka. Gelora udara dingin mulai merontokkan hawa panas dari luar. Nafasnya menghela sempurna. Kelopak matanya mengerjap, pupilnya membesar, berusaha menangkap curah cahaya yang tersisa di ruangan. Pada kedipan terakhir, dia melihatnya dari sisi yang amat setrategis. Di dalam satu garis lurus. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu tenggelam dalam kesibukan. Ia dan buku menu di tangannya.

“Kamu …” 

Dia berjalan seperti seekor singa mengejar menjangan. Ia adalah mangsa yang mengharapkan dimangsa. 

“Apakah itu benar dirinya?” keraguan datang di saat yang salah. 

Kepalanya menoleh ke setiap sudut ruangan itu. Tidak sesenti pun terlewati. Perhatiannya terfokus pada seseorang yang duduk di ujung sana. 

Perlahan dia mendekat.

Ia merasakan suatu kehadiran.

Suaranya tertahan di tenggorokan.

Lehernya tak bisa digerakkan. 

“Apa-apa an ini!?”

“Hai,” perempuan itu menyapanya. “Wahai denyut jantungku.”
“Hai! Ayo duduk,” jawab lelaki itu. “Engkau datang. Bersandarlah di tubuhku!”

Kedua mata saling berpandangan. Guratan senyum mulai menampakkan diri. Samar-samar. Lalu dua raut wajah paling bahagia di muka bumi semakin jelas terlihat.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” 

Biarkan waktu terhenti. Kumohon! Biarkan mata pendosaku ini bisa melihat surga itu. Di wajahmu.”

“Tidak masalah. Aku punya banyak waktu untukmu.” 

Seumur hidupku jika engkau menginginkannya. Kuberikan!”

Perjabatan tangan. Pertemuan kulit dengan kulit. Bersentuhan. Aliran darah dari sekujur tubuh seperti bermuara di satu titik. Telapak tangan. Terjadi. Momen yang menyatukan denyut nadi dalam nada dan intonasi yang sama. Ini realita.

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu? Si Kembar?”
“Syukurlah, baik juga. Mereka sedang mengikuti les tambahan, minggu depan ujian kenaikan kelas. Bagaimana kabar istri? Sehat?”
“Sehat sekali. Satu jam lalu aku baru saja mengantarkannya ke rumah ayah.”

“Oh …”

Hening sesaat.

“Dan akhirnya kita bisa bertemu.” 

Akhirnya kilatan cahaya itu bisa aku lihat dari matamu.”

“Ya, tentu saja. Akhirnya,” 

Akhirnya hembusan angin itu terasa nyata lewat nafas kata-katamu.”

Bumi berhenti berputar.

“Kalau begitu bisakah kita pesan makanan dulu?”
“Silakan,” matanya mendadak jarang berkedip. Dia tak mau kehilangan sedetik pun momen ini. Ia membalasnya dengan tatapan yang sama. Hanya lebih santun.

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak kembali menghampiri. Kini ada dua orang yang harus dihadapinya dari kursi yang sama.

“Siap memesan?” tanyanya.
“Satu spaghetti carbonara, satu fish & chips, dan dua air mineral. Ada lagi?” 

“Kopi?” 

Cinta?”

“Boleh-boleh.” 

Kenapa tidak?”

Hot coffe latte. Kamu?” 

Maukah kamu menjadi milikku?”

Hot caffeine americano saja.” 

Tunggu apa lagi? Segera lamar aku!”

“Atas nama?” mereka berdua saling berpandangan. Membeku. Gadis bercelemek merah kotak-kotak tak menggoreskan setitik tinta pun di atas block-note pesanannya

“Baiklah, tidak perlu. Mohon ditunggu,” Secarik kertas menempel di ujung meja. Buku menu lenyap terbawa.

***

Bukan makanan itu, bukan minuman ini. Bukan tentang hidangan siang itu. Tapi ada harapan lain yang dia dan ia inginkan. Saat waktu membuka jalan. Bongkahan hasrat terpendam itu kini terwujud. Sebuah pertemuan. Letupan janji lama yang bertransformasi menjadi sebuah ledakan perasaan di salah satu sudut bangunan di kota ini. Ruang milik mereka. 

Empat bulan perkenalan di dunia maya. Telah meluruh dan bermuara pada sebuah pertemuan nyata. Pesan singkat yang dikirim bertubi-tubi setiap hari mampu merobek jala yang menghalangi. Hingar bingar manusia lain tak tergubris. Dunia semakin kecil. Waktu mendadak berhenti. Dia ada karena ia datang. 

Pekerjaan, keluarga, karir, dan topik perbincangan pribadi lainnya terlantun tenang. Yang dahulu hanya terbaca dari aksara, kini bersuara melalu kata-kata. Denting sendok di atas piring dan gelas kaca seakan bertindak sebagai instrumen musik yang mengiringi percakapan. Begitu merdu. Hanya mereka yang tahu barisan lirik lagunya.

Perempuan itu tersenyum.

Lelaki itu tertawa.

Dia diam, memperhatikan.

Matanya begitu tajam dalam sorotan.

Ia berkata.

Dia berbicara.
Mereka bercerita.

Berpusar dalam rotasi perasaan yang tak bernama.

***

Di kota yang sama. Seorang pria paruh baya menggandeng tangan putrinya. Mereka berjalan  di salah satu ruas koridor yang berada di dalam gedung milik pemerintah. Tepat di depan pintu kayu jati yang telah usang, keduanya berhenti. Berusaha saling menatap satu sama lain.

“Jika menurutmu ini adalah keputusan yang terbaik, maka lakukan!” tarikan nafas pria paruh baya itu begitu dalam dan berat. Matanya berkaca-kaca.

“Iya, Ayah,” sang putri terisak dalam pelukan si pria paruh baya.

Di sisi lain gedung, terdengar suara riuh pertengkaran keluarga. Di salah satu sudut ruang sidang, raungan tangis anak kecil semakin menyayat hati.

***

Di waktu yang sama. Mobil Kijang hitam ber-plat nomor polisi merah sedang melaju pelan. Menuju jalur penjemputan di salah satu rumah mewah bergaya Victorian. Ada sebuah papan kayu bertuliskan “Van Bosch Smart Course for Kids” di dinding berandanya. Terdapat dua orang pria di dalam kendaraan itu. Satu orang berpakaian safari duduk di kursi pengemudi. Dan di belakangnya, seorang lagi berkemeja batik yang tengah tenggelam dalam percakapan via telepon seluler.

“Jangan lupa. Kamar 504. Aku tunggu.” Layar ponsel menampilkan gambar dua orang anak  kecil sedang berswafoto bersama seorang pria dewasa. Sedetik kemudian layar itu menghitam. Padam.

“Pak, sudah sampai,” ucap pria berpakaian safari.

Pintu mobil terbuka. Dua bocah laki-laki berhamburan masuk ke dalamnya. Memeluk pria berkemeja batik dan memberikan kecupan pipi paling manis sedunia.

 

20 Desember 2012, hujan deras di sore hari. Studio radio, kopi, dan netbook usang.

Standard
Cerita, The Handwritings

Selamat Pagi!

Selamat Pagi!

Suatu pagi berawan hitam menggantung sendu.

Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran tepat di balik jendela kaca berfragmen tetesan embun mencair. Menetes turun tertarik gravitasi. Tampak seperti lembaran kain putih kehilangan serat benangnya akibat tergores benda tajam. Serupa ruas panjang beralur membentuk luncuran air di atas permukaan bidang rata transparan tegak vertikal karena sengatan matahari. Sebuah kaca bening pembatas bidang-bidang. Pembagi mana milikku dan mana milik orang lain. Penentu bagian luar dan dalam, gelap dan terang. 

Dari bagian gelap dan dalamnya aku bisa melihat hidup menggeliat di deret-deret gedung dan ruas-ruas jalan. Digelantungi udara basah sisa hujan lebat dini hari tadi. Berhasil memaksa pagi enggan beranjak siang. Alih-alih surut dan menghilang, kabut tipisnya malah makin melayang tenang memburamkan pandangan. Menghalau matahari menguapkan lenguhan pagi. Entah darimana datangnya, seolah makin tebal dan terus mengental. Tak rela membiarkan kerutan kulit bumi terlihat sempurna bagi mata manusia. Mungkin saja pagi masih serupa hantu berasap belum tersapu angin. Putih bersih bergentayangan pada dahan-dahan pohon. Beringsut mesra dalam rimbun perdu. Menyelinap di ketiak manusia. Meretas basah bersama angin pada kaca kendaraan di atas aspal. 

Pagi ini berbeda, muram dan murung, tak berkawan dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pekikan keras klakson kendaraan terdengar sejak pekat gelap dini hari merayap pergi. Makin riuh menyetubuhi hamparan jalan dari ujung ke ujung, sudut ke sudut. Menyisakan dengungan berfrekuensi dalam gendang telinga. Menjadi remah bising udara yang terpaksa dinikmati manusia semerdu mungkin. Bersamaan dengan sang surya yang membumbung makin tinggi. Seolah sigap melipat warna hitam beraksen gemerlap lampu, kemudian menggantinya dengan hamparan warna dan bentuk bernama benda. Seonggok atau kumpulan zat, bernyawa dan mati, memiliki nama. Aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Ini dan itu. Setiap pagi dan malam. Hingga pagi tetaplah pagi. Tak rela udara basahnya menguap begitu saja. Memutih dari kejauhan tapi hilang saat didekati.

Pagi ini berbeda, berwarna tapi buram, tak bersahabat dengan warna-warna lainnya.

Aku mengenyam pagi dengan kadar kepekatan ganjil. Seolah jerat malam di kepalaku tak berniat pergi meski waktu terus berjalan maju. Seperti terhenti pada detik ke-59 sebelum pukul tujuh. Tanpa ada harapan melengkapi detik berikutnya menjadi menit. Diam. Menancap.

Pagi ini berbeda, waktu berjalan pelan, tak berteman dengan ketergesaannya.

Tiba-tiba jam dinding besar di kafeku tak berdetak. Kupingku yang sudah terbiasa menikmati ritmenya setiap pagi, seakan peka ada yang ganjil mendadak. Suara tik-tok yang jelas terdengar sebelum alunan musik mendayu merdu, sebelum udara dipenuhi percakapan manusia-manusia pelanggan setiaku. Terlalu naif berkebetulan jika jam tanganku mendadak berhenti pula. Jarum panjangnya berdiri tegak menunjuk angka 12, jarum pendeknya pada angka 7. Aku menoleh kembali ke arah jam dinding, kemudian ke arah jam tangan, kembali lagi ke arah jam dinding, sama. Berhenti di pukul tujuh tepat. Tak urung rasa penasaranku malah membuncah. Kulihat pikuk orang yang berlalu lalang di depan kafeku untuk memastikan keadaan. Samar dari arah jendela berembun, mereka yang bernyawa dan berjalan di atas paving block trotoar mendadak berhenti. Kendaraan-kendaraan menepi, sebagian berhenti begitu saja tanpa ada insiden. Mandeg pada satu titik beku. Suara acak yang terdengar sebelumnya berubah menjadi dentuman keheranan massal. Mereka menundukkan kepala. Melihat dengan seksama benda yang melingkar di pergelangan tangan. Sisanya mengamati benda kotak tipis bercahaya yang tergenggam. Alih-alih menatap lekat penuh tanda tanya, sisanya sibuk menekan serampangan permukaan bendar bersinar itu dengan telunjuk dan jempolnya. Lebih karena mencari sesuatu yang tak beres, bukan sengaja mencari kerusakan dan membetulkannya. Semakin parah ketika kumpulan pixel di layar tiba-tiba lenyap. Layar berubah hitam. Mati bersamaan. Mereka hanya menunduk. Tanpa menoleh ke tubuh-tubuh lain. Diam sempurna. Diikuti deru kendaraan dari kejauhan yang seiring melenyap senyap. Membenamkan diri dalam keanehan yang muncul berjemaat. 

Tak berbeda dengan apa yang terjadi di tempat dimana aku berada sekarang. Di dalam ruang bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan paling sibuk di tengah kota. Berjajar dengan bangunan tinggi pencakar langit yang terus meninggi berniat menggapai sekenanya. Berhadapan dengan pusat-pusat perbelanjaan lengkap dengan restoran dan kafe terkenal di dalamnya. Tapi kafeku, hanya bangunan tiga lantai berjajar membentuk kumpulan rumah-toko. Berdampingan dengan toko roti, salon kecantikan, toko buku, dan tempat usaha lain. Kupertaruhkan nyawaku disini. Rangkaian hidup berkoma tanpa titik. Membentuk perjuangan dan pijakan kuat sebagai fondasinya. Bertahun-tahun bermimpi dan akhirnya tiga tahun lalu berdiri. “Soliterian Coffe Shop and Eatenary”. Buka pukul 8 pagi hingga 10 malam. Senin-Minggu. Jumat libur. Free-wifi. Diskon 30% untuk makan siang saja.

Tiga pagawaiku telah datang lewat pintu belakang satu jam lalu. Rein, Indah, dan Agus. Tiga lainnya, Nia, Tita, dan Doni, akan hadir di shift kedua. Empat di atantaranya adalah juniorku di masa kuliah dulu. Sisanya hasil rekrutmen lowongan kerja yang aku kirim ke rubrik iklan surat kabar kota. Mungkin karena kesamaan almamater, bersama mereka, aku lebih percaya kafe ini akan lebih maju dan terkenal. Baru dibuka dua tahun lalu. Seduhan kopi dan coklat hangatnya menjadi menu utama bagi para penikmat hari. Telur orak-arik dan mata sapi, roti lapis daging, serta bubur gandum panas, menjadi pilihan tepat bagi para pengejar pagi.

Empat tahun belajar dan bergelut dalam dunia organisasi di kampus, tak membuatku menyesal merekut mereka menjadi orang-orang penting di belakangku. Menjadi rekan kerja yang sama-sama mau maju. Menjadi diri sendiri dan nyaman bekerja karena aku mengenal mereka. Manusia-manusia hebat dengan kemauan besar dan para pekerja keras yang terlalu tangguh untuk diremehkan. Meski saling mengenal, bukan berarti tak profesional. Hubungan yang terjalin bukan tanpa hambatan, tapi bukan harus ditinggalkan begitu saja jika aral rintangan hadir membegal. 

Awal adalah ujian untuk gagal. Bukan proses jika tak pernah gagal. Tapi, jatuh bangunnya tempat ini, tak pernah membuat mereka lepas dariku. Sempat menerima gaji tak sesuai dengan jam kerja, mereka terima di awal-awal berdirinya kafe ini. Semua berjalan naik turun lengkap dengan hiasan liku-liku terjal dan tak mudah. Dua tahun berjuang, hingga saat tempat ini mulai mendapat kepercayaan dan pengakuan orang, dan mereka pun berhak mendapatkan lebih. Kerja keras yang terbangun bukan karena nyawa satu orang, tapi kumpulan jiwa ini, siap menjadi sandaran hidupku, hidup kami.

Pagi ini berbeda, membuka cerita lama, dan aku masih di balik jendela kaca.

“Mas, kopinya,” suara Indah membuyarkan lamunanku tepat saat dia menyerahkan secangkir kopi hitam kepadaku.

“Eh, iya. Thanks ya, Ndah,” telapak tanganku menghangat ketika cangkir itu tergenggam, “Rein dan Agus dimana?”

“Di dapur, Mas. Dua-duanya.”

“Oh … Okay,” aku menyeruput cairan kental hitam dengan rasa dan aroma khas. Pahit khas kopi Arabica. Kenimatan tiada tara dalam ruangan dingin ber-AC pagi ini.

“Pagi yang aneh ya, Mas?”

“Menurutku juga begitu. Tiba-tiba semua jam behenti. Jam tangan, jam dinding, jam di ponsel. Sudah hampir 3 menit tak bergerak.”

“Bukan jamnya yang berhenti, Mas.”

Aku melihat wajahnya dengan heran.

“Lantas?”

“Waktu yang berhenti,” diiringi sungging senyum manisnya. Lalu dia mengambil  serbet kotak-kotak yang berada di saku celemek. Kemudian menyeka permukaan meja di depan kami.

“Aku tahu. Tapi apa maksudmu sesungguhnya?”

“Waktu yang mengajarkan pada kita bahwa hidup itu misteri. Waktu pula yang membelenggu kita agar tak kuasa membongkar misteri itu sendiri. Padahal Mas tahu sendiri ‘kan rasa penasaran manusia tak pernah ada ujungnya. Ingin tahu ini dan itu, semua. Tuhan menyediakan. Manusia cukup menikmatinya.”

Kuteguk kopi hitam yang suhu panasnya mulai turun.

“Mas, tahu? Kurun waktu yang tercipta di semesta berakhir pada satu tujuan yang memiliki dua cabang. Pertama, waktu yang mengejar kita. Atau kedua, sebaliknya, kita yang mengejarnya.”

Aku mengangguk, memperhatikan.

“Jika kita memilih opsi pertama, jelas kita bukan orang yang cerdas. Efisiensi waktu tidak ada. Pilihan pada sesuatu yang harus diprioritaskan pun mungkin hanya sekedar memilih tanpa pikir panjang. Kita bakal merugi jika memilih waktu yang mengejar kita, Mas.”

Aku diam.

“Namun, ketika kita memilih pilihan kedua, dengan kata lain kita memiliki waktu. Kita akan sadar bahwa waktu butuh prioritas. Membuat kita sadar ada sesuatu yang mahapenting yang harus kita dahulukan ketimbang perkara kecil yang bisa dibesar-besarkan. Baik karena emosi sesaat atau bahkan dengan pikiran kosong sekalipun.”

“Maksudmu apa, Ndah?”

“Mas, cintailah hidupmu dengan membagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali ke orang-orang yang kamu sayangi, pun yang balik menyayangimu. Kamu sudah cukup lama tidak bercengkerama dengan mereka. Seolah temanmu hanya benda mati dalam bentuk koin dan lembaran yang tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki.” 

Aku terdiam sejenak.

“Mas pasti paham jika sesuatu itu adalah …”

“Waktu,” kami berucap bersamaan.

Kedua mata kami bertatapan. Lebih tepatnya aku yang menatapnya lama. 

“Ada yang berhak dengan waktumu. Sebelum semuanya terlambat, Mas.” kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.

Tiba-tiba dari arah dapur terdengar teriakan.

“Mas-mas! Kesini sebentar, Mas!”

Aku berjingkat dari kursi dengan kaget. Menyenggol lengan Indah sebagai kode agar dia turut serta bersamaku ke asal suara itu muncul. Tapi Indah tak bergerak selangkahpun. Dia hanya berdiri dan tersenyum. Dan aku meninggalkannya.

Dapur terlihat baik-baik saja. Oven masih menyala sempurna, berisi adonan roti yang mulai matang mengembang. Yang membuat aneh hanya keberadaan dua orang yang sama-sama tak melepas pandangannya dari tayangan bergerak dalam televisi.

“Mas, lihat ini!” Rein memintaku mendekat kepadanya.

Buru-buru kudekati. Telunjuk Rein menuntun kedua mataku ke arah pendar sinar bersuara yang muncul dari layar kaca datar. Terlihat kobaran api berwarna merah-oranye, menjilat-jilat, bergulung-gulung. Dibarengi dengan kepulan asap hitam yang keluar dari suatu bangunan.

“Keraskan suaranya!” perintahku.

Agus yang membawa remote control TV dengan sigap memencet salah satu tombolnya. Suara seorang reporter laki-laki dengan latar belakang keriuhan warga dan bunyi sirine mobil pemadam kebakaran merebak seisi dapur.

“Polisi masih belum bisa memastikan asal-muasal ledakan yang terjadi sekitar pukul lima pagi tadi. Dugaan sementara karena kebocoran LPG dari salah satu kamar penghuni kos. Selain kobaran api, ledakan ini juga memicu kebocoran pipa air akibat kerusakan yang ditimbulkan. Kondisi ini sekaligus mematikan aliran listrik di seluruh bangunan. Tidak menutup kemungkinan arus pendek terjadi. Belum diketahui berapa jumlah korban jiwa. Namun, pemadam kebakaran telah menemukan beberapa jenazah yang langsung dievakuasi oleh tenaga medis setempat ke rumah sakit terdekat. Akibat peristiwa ini, diperkirakan kerugian materi mencapai ratusan juta rupian. Sekian laporan kami langsung dari Kebalen Kulon, Surabaya. Kembali ke studio.”

Aku tertegun. 

Rumah kos Kebalen Kulon. Aku familiar dengan nama itu. Tapi aku lupa.

“Kos-nya Indah, Mas?” mata Agus mulai berkaca-kaca.

“Indah?”

“Indah tinggal di kos itu, Mas. Aku pernah menjemputnya di sana,” lanjut Rein. Getaran terlihat dari bibirnya.

“Dan dia belum datang ke kafe pagi ini,” tubuh Agus terhuyung membentur lemari kaca berisi piring dan gelas di belakangnya.

“Jangan bercanda kalian. Aku baru saja berbicara dengannya di depan,” tegasku.

Mereka berdua bertatapan.

Aku tertegun sesaat.

Kuberlari ke arah depan kafe. Sempat menabrak pinggiran pintu dan membuat siku tanganku sedikit nyeri. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin memastikan bahwa Indah tadi benar-benar ada denganku. Bersamaku.

Tapi ternyata.

Tidak ada Indah pagi ini.

Tidak berada di tempat dimana kutinggalkan dia.

Tidak berdiri tersenyum kepadaku seperti terakhir kali aku melihatnya.

Hanya celemeknya yang teronggok diam di atas meja.

Ditemani secangkir kopi milikku.

Pagi ini berbeda, ada pesan tertinggal, dari yang pergi namun tetap di hati.

 

Mei 2018. Mengenang kembali kebakaran rumah kos dua lantai di Kebalen Kulon, Surabaya. Semoga arwah korban yang meninggal tenang di sisi-Nya. Amien.

Standard