Cerita, Handwritings, The Handwritings

Santapan Tengah Hari

Perempuan itu terlihat terburu-buru merapikan berkas pekerjaannya. Menulis sesuatu di atas secarik kertas lalu meletakkan head-set di ujung tiang microfon yang berada tepat di hadapannya. Sesekali dia melihat jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya. Dahinya mengernyit. Muncul pertanyaan dalam benaknya. Apakah kali ini dia bertindak benar? Apakah keputusannya tepat? Tak lama dia termangu, namun tak ada jawaban satu pun yang keluar dari kepalanya. 

Berkali-kali tertunda, bisa saja hari ini adalah hari baik itu. Atau malah menjadi momentum terburuk dalam hidupnya. Waktu sedang menunggu. Perasaan ganjil melanda tiba-tiba. Entah dari mana. Nekat saja.

“Semoga semua akan baik-baik saja.” 

Dia bergegas. Jangan sampai terlambat menemuinya. Ia yang datang dari jauh. 

Ketika derap kaki memburu, rasa gugup dan bimbang terus menghampiri. Apakah ia orangnya? Bagaimana jika pertemuan ini tak sesuai harapannya? Bagaimana jika semuanya bertambah kacau? Gundahnya menerpa. Dia mulai gila. 

Tapi dia harus bertemu ia. Sudah kepalangtanggung. Ia ada di sini. Di kota ini. Sesuai harapannya. Langkahnya dipercepat. Jangan lagi membuatnya menunggu.

“Aku datang untukmu.” 

Nada dering singkat dan getaran tipis dari genggaman membuatnya tersentak. Pendaran cahaya putih menghantam wajahnya. Simbol amplop dari fitur pesan muncul di permukaan layar. Pesan singkat di kotak suara menuliskan namanya. Dia berhenti di sudut pintu gerbang. Pesan itu terbuka. 

“Aku sudah sampai. Di tempat yang kita janjikan. Aku menunggumu. Sendiri. Duduk di samping jendela.”  Singkat. Padat. Jelas.

Dia memutuskan berlari dengan sepatu hak tingginya sambil mencengkeram clutch hitamnya kuat-kuat. Sebentar lagi. Tidak lama lagi. Susah payah dia mengatur pertemuan ini. Begitu banyak bualan dan janji yang tak kunjung tertepati. Setelah banyak kisah dan rahasia yang terbagi tanpa mata bertemu mata, kulit berjumpa kulit. Hingga di ujung hari kemarin, kabar mengejutkan datang, “Apakah besok kita bisa berjumpa?” Ujung panah menancap tepat di sasaran. Semesta mendukung. Di tengah hari, kafe Belanda, lunch break.

Babak lain hidupnya mulai berjalan. Membawa serta perasaan yang seharusnya dia kunci rapat-rapat di dalam rumah. Perasaan yang sesungguhnya tidak boleh datang, namun apabila datang, maka semuanya akan terasa gampang. Seperti dipermudah oleh Yang Maha Pemudah. Seperti sebuah dosa, terasa salah, namun layak dinikmati. Seperti ujian semester sekolah, banyak  pertanyaan yang mesti dijawab, tapi dalam waktu yang tak terbatas. Dia terlena.

“Kamu siap terbakar?”

Dia diam. “Tidak juga,” Tak lama kemudian muncul anggukan.

“Siapkan pula selimut tebal,” bola mata keduanya saling berpandangan. “Bisa jadi dia tidak hanya membakarmu, tapi juga membuatmu mati beku,” ujar teman baiknya.

Ditariknya kedua sudut bibirnya ke atas. Menyunggingkan selengkung senyum untuk dirinya sendiri. Berusaha menyamankan perasaan meski cara itu tak berhasil. 

Jalur pedestrian seramai hari-hari biasanya. Tak membuatnya gentar untuk menembus kerumunan pejalan kaki dan menerjang hembusan angin kering bulan September. Langit sedang absen menumpahkan air ludahnya ke bumi. Sebagai penggantinya, semprotan air dari selang yang bertugas membasahi tanaman sulur perdu berwarna kuning kecoklatan yang melekat di sepanjang pagar besi. Ujung lembaran daun-daunnya yang mulai renta menghadap ke arah dia menuju. Seperti jarum kompas yang membawanya kepada ia yang menanti di sana.

“Aku tahu tempatnya, jangan repot-repot,” sekonyong-konyong dia melihat dedaunan itu mengerling padanya. Lantas gugur lalu terhempas angin. Meluncur dan menabrak tubuh-tubuh besi berasap di jalan raya. Siraman air tadi pagi tak mampu membuatnya hijau kembali. Sudah terlambat.

***

Di salah satu sudut kafe. Selembar daun kering menempel pada kaca jendela. Matanya awas menyaksikan. Tapi bibirnya mulai mengering. Pangkal lidahnya terasa pahit. Dahaga melanda. Segelas minuman dingin patut dinikmati dalam masa penantiannya. 

“Dahaga hati kah ini?”

***

Jalan raya itu tampak menghadang seperti gerombolan kuda liar berbaju zirah. Kilau besinya tak segan menusuk mata para pejalan. Hatinya terasa panas. Mengumpatkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa terucap dari katup bibirnya. Terasa ngilu di sekujur tubuh, tapi nikmat di waktu yang sama. Dia melihatnya dari kejauhan. Siluet tubuh di samping jendela yang sedang menanti kehadiran.

“Aku datang untukmu.”

***

Bangunan kafe berarsitektur Belanda berdiri berseberangan dengan gedung perkantoran paling sibuk di kota ini. Jarak keduanya dipisahkan oleh jalan raya dengan jalur satu arah. Melintang di bagian atasnya, sebuah jembatan penyeberangan yang tak henti dilalui manusia pemburu waktu: para pekerja kerah putih, seniman jalanan, pencopet, pedagang kaki lima, dan pengemis, sebelum salah satu atau salah dua diantaranya menikmati ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP. Terciduk. Hilang untuk beberapa saat.

Sebenarnya hanya perlu 5-10 menit berjalan kaki cepat dari tempatnya bekerja ke halaman parkir kafe itu. Namun ketika jam makan siang tiba, jalur padat tak terelakkan. Ditambah lagi dengan gelombang kendaraan yang tak pernah mandeg berlalu-lalang.

Kedua kakinya terhenti di sisi jalan. Kepalanya mendongak ke atas. Sorot matanya menajam ke arah jembatan penyeberangan yang berdiri kaku di atas aliran kendaraan yang mengganas di sungai aspal. Penuh kuasa. 

“Terlalu lama,” kedua matanya menantang hilir mudik roda-roda bermesin di jalan kota. Diabaikannya bentangan jembatan itu. 

***

Menerobos luapan asap pekat jalan yang dibumbui desingan klakson pemekak telinga hanya dengan mengenakan rok selutut dan sepatu berhak tinggi adalah keputusan gila. Memaksa mobil  menghentikan lajunya dengan lambaian tangan. Berteriak-teriak hanya untuk menghalau sepeda motor dan angkutan umum agar mau memberinya celah lewat. Dia belum pernah melakukan tindakan nekat semacam itu sebelumnya. Sampai hari ini.

“Cuma buat kamu.”

***

“Perempuan goblok! Jangan menyeberang di jalan. Ada jembatan di atas kepalamu. Sadarlah!” Terdengar suara klakson panjang dan berulang. Umpatan terlontar dari bibir seorang pengemudi yang menghentikan kendaraannya secara mendadak. Untung saja kampas rem-nya baru diganti. Selintas bayangan tentang luka berdarah, tampang ganas polisi, atau bangsal rumah sakit hilang perlahan.

“Kalau tertabrak, bukan saya yang salah!” lanjutnya.

“Sabar, Ayah. Cukup. Ayo kita jalan lagi,” seorang wanita muda memegang lengan kiri pria itu. Di atas pangkuannya terdapat map berisi tumpukan kertas putih. Kepalanya menunduk. Mata sembabnya terlindungi oleh kacamata hitam.

***

Di luar, siulan-siulan nakal terdengar bersahutan. Seperti melecehkan tanpa adanya sentuhan. Dia terus berlari. Tak peduli. Dikatupkannya daun telinga beranting mutiara itu. Dia melaju seperti orang gagu.

“Apa pun kulakukan untuk menemuimu. Apa pun.” 

***

Ujung sedotan putih menempel di bibir. Aliran dingin air jeruk menghentikan dahaga. Ia duduk di sofa krem, senada dengan warna kulitnya. Seorang lelaki berkaos biru dengan kerah V yang ditumpuk blazer hitam sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia gelisah.

Berkali-kali ia melihat jendela kaca di sampingnya. Memastikan bahwa ia berada di tempat yang tepat. Jari-jarinya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Bulir air tampak bergelantungan di keningnya. Keringatnya keluar meski ruangan itu dipenuhi hawa dingin dari mesin pendingin udara.

“Dimana kamu? Kamu akan datang, bukan? Aku menunggu.” 

Saat dia melihat kaca untuk kesekian kalinya, matanya membelalak. Sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. Kesejukan dari dalam menerpa dirinya.

“Dia yang menepati janji. Dia ada. Tidak. Dia hampir ada untukku.” 

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak itu menaruh ponselnya ke saku celana. Seuntai senyum tampak mengiringi. Ingatannya masih terpaut pada pesan terakhir kekasihnya.

“Aku suka padamu. Nanti aku telepon lagi. Anak-anak sedang bersamaku.”

“Aku pun begitu. Jadilah ayah dari anakku nanti! Kumohon!” 

“Baiklah, take care.

***

“Sudah siap memesan makanan?”

“Apa?” ia tersentak dari lamunan.

“Anda ingin pesan makanan apa?” gadis itu kembali menyodorkan buku menu untuk kedua kalinya.

“Oh pesan. Iya, makanan ya?” Ia salah tingkah. Ia terlalu memikirkannya. Dijamahnya daftar menu yang sejak tadi tergeletak di depannya.

“Aku tak paham nama-nama makanan ini?” Tertulis dengan huruf kapital warna biru disertai gambar: Nasi goreng mentega. Cah kangkung. Daging sapi lada hitam.

“Nanti saja. Menunggu kawan saya.”

“Okay,” gadis itu meninggalkannya dengan wajah datar.

***

Di pelataran kafe yang panas menyengat, sudut ketiak dan punggungnya basah oleh keringat. Perlu sedikit waktu baginya untuk mempersiapkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian. Hasrat mendorong besi pegangan pintu kaca tak pernah sampai se-deg-degan ini. 

Pintu terbuka. Gelora udara dingin mulai merontokkan hawa panas dari luar. Nafasnya menghela sempurna. Kelopak matanya mengerjap, pupilnya membesar, berusaha menangkap curah cahaya yang tersisa di ruangan. Pada kedipan terakhir, dia melihatnya dari sisi yang amat setrategis. Di dalam satu garis lurus. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu tenggelam dalam kesibukan. Ia dan buku menu di tangannya.

“Kamu …” 

Dia berjalan seperti seekor singa mengejar menjangan. Ia adalah mangsa yang mengharapkan dimangsa. 

“Apakah itu benar dirinya?” keraguan datang di saat yang salah. 

Kepalanya menoleh ke setiap sudut ruangan itu. Tidak sesenti pun terlewati. Perhatiannya terfokus pada seseorang yang duduk di ujung sana. 

Perlahan dia mendekat.

Ia merasakan suatu kehadiran.

Suaranya tertahan di tenggorokan.

Lehernya tak bisa digerakkan. 

“Apa-apa an ini!?”

“Hai,” perempuan itu menyapanya. “Wahai denyut jantungku.”
“Hai! Ayo duduk,” jawab lelaki itu. “Engkau datang. Bersandarlah di tubuhku!”

Kedua mata saling berpandangan. Guratan senyum mulai menampakkan diri. Samar-samar. Lalu dua raut wajah paling bahagia di muka bumi semakin jelas terlihat.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” 

Biarkan waktu terhenti. Kumohon! Biarkan mata pendosaku ini bisa melihat surga itu. Di wajahmu.”

“Tidak masalah. Aku punya banyak waktu untukmu.” 

Seumur hidupku jika engkau menginginkannya. Kuberikan!”

Perjabatan tangan. Pertemuan kulit dengan kulit. Bersentuhan. Aliran darah dari sekujur tubuh seperti bermuara di satu titik. Telapak tangan. Terjadi. Momen yang menyatukan denyut nadi dalam nada dan intonasi yang sama. Ini realita.

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu? Si Kembar?”
“Syukurlah, baik juga. Mereka sedang mengikuti les tambahan, minggu depan ujian kenaikan kelas. Bagaimana kabar istri? Sehat?”
“Sehat sekali. Satu jam lalu aku baru saja mengantarkannya ke rumah ayah.”

“Oh …”

Hening sesaat.

“Dan akhirnya kita bisa bertemu.” 

Akhirnya kilatan cahaya itu bisa aku lihat dari matamu.”

“Ya, tentu saja. Akhirnya,” 

Akhirnya hembusan angin itu terasa nyata lewat nafas kata-katamu.”

Bumi berhenti berputar.

“Kalau begitu bisakah kita pesan makanan dulu?”
“Silakan,” matanya mendadak jarang berkedip. Dia tak mau kehilangan sedetik pun momen ini. Ia membalasnya dengan tatapan yang sama. Hanya lebih santun.

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak kembali menghampiri. Kini ada dua orang yang harus dihadapinya dari kursi yang sama.

“Siap memesan?” tanyanya.
“Satu spaghetti carbonara, satu fish & chips, dan dua air mineral. Ada lagi?” 

“Kopi?” 

Cinta?”

“Boleh-boleh.” 

Kenapa tidak?”

Hot coffe latte. Kamu?” 

Maukah kamu menjadi milikku?”

Hot caffeine americano saja.” 

Tunggu apa lagi? Segera lamar aku!”

“Atas nama?” mereka berdua saling berpandangan. Membeku. Gadis bercelemek merah kotak-kotak tak menggoreskan setitik tinta pun di atas block-note pesanannya

“Baiklah, tidak perlu. Mohon ditunggu,” Secarik kertas menempel di ujung meja. Buku menu lenyap terbawa.

***

Bukan makanan itu, bukan minuman ini. Bukan tentang hidangan siang itu. Tapi ada harapan lain yang dia dan ia inginkan. Saat waktu membuka jalan. Bongkahan hasrat terpendam itu kini terwujud. Sebuah pertemuan. Letupan janji lama yang bertransformasi menjadi sebuah ledakan perasaan di salah satu sudut bangunan di kota ini. Ruang milik mereka. 

Empat bulan perkenalan di dunia maya. Telah meluruh dan bermuara pada sebuah pertemuan nyata. Pesan singkat yang dikirim bertubi-tubi setiap hari mampu merobek jala yang menghalangi. Hingar bingar manusia lain tak tergubris. Dunia semakin kecil. Waktu mendadak berhenti. Dia ada karena ia datang. 

Pekerjaan, keluarga, karir, dan topik perbincangan pribadi lainnya terlantun tenang. Yang dahulu hanya terbaca dari aksara, kini bersuara melalu kata-kata. Denting sendok di atas piring dan gelas kaca seakan bertindak sebagai instrumen musik yang mengiringi percakapan. Begitu merdu. Hanya mereka yang tahu barisan lirik lagunya.

Perempuan itu tersenyum.

Lelaki itu tertawa.

Dia diam, memperhatikan.

Matanya begitu tajam dalam sorotan.

Ia berkata.

Dia berbicara.
Mereka bercerita.

Berpusar dalam rotasi perasaan yang tak bernama.

***

Di kota yang sama. Seorang pria paruh baya menggandeng tangan putrinya. Mereka berjalan  di salah satu ruas koridor yang berada di dalam gedung milik pemerintah. Tepat di depan pintu kayu jati yang telah usang, keduanya berhenti. Berusaha saling menatap satu sama lain.

“Jika menurutmu ini adalah keputusan yang terbaik, maka lakukan!” tarikan nafas pria paruh baya itu begitu dalam dan berat. Matanya berkaca-kaca.

“Iya, Ayah,” sang putri terisak dalam pelukan si pria paruh baya.

Di sisi lain gedung, terdengar suara riuh pertengkaran keluarga. Di salah satu sudut ruang sidang, raungan tangis anak kecil semakin menyayat hati.

***

Di waktu yang sama. Mobil Kijang hitam ber-plat nomor polisi merah sedang melaju pelan. Menuju jalur penjemputan di salah satu rumah mewah bergaya Victorian. Ada sebuah papan kayu bertuliskan “Van Bosch Smart Course for Kids” di dinding berandanya. Terdapat dua orang pria di dalam kendaraan itu. Satu orang berpakaian safari duduk di kursi pengemudi. Dan di belakangnya, seorang lagi berkemeja batik yang tengah tenggelam dalam percakapan via telepon seluler.

“Jangan lupa. Kamar 504. Aku tunggu.” Layar ponsel menampilkan gambar dua orang anak  kecil sedang berswafoto bersama seorang pria dewasa. Sedetik kemudian layar itu menghitam. Padam.

“Pak, sudah sampai,” ucap pria berpakaian safari.

Pintu mobil terbuka. Dua bocah laki-laki berhamburan masuk ke dalamnya. Memeluk pria berkemeja batik dan memberikan kecupan pipi paling manis sedunia.

 

20 Desember 2012, hujan deras di sore hari. Studio radio, kopi, dan netbook usang.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s