Cerita, Handwritings, The Handwritings

Radio & Celana Butut

Berawal dari studio siaran tempat kau bekerja. Joe melihatmu datang lima menit sebelum jam tugasnya selesai. Merdu lantunan musik pop mengiringi sesi penutup program primetime. Suara khasnya yang renyah terdengar lewat pengeras suara. Letaknya di atas pintu kaca. Benda buatan Jepang itu menancap di dinding tak jauh dari kotak lampu berwarna merah dengan pendaran cahaya bertuliskan ON AIR. Pijaran terangnya menyala sejak pukul 5.00 pagi hingga tengah malam. Penanda adanya denyut kehidupan di studio kotak itu.

Kau rebahkan badanmu di atas sofa merah. Bantal kecil bersarung putih kusam menjadi penopang punggung bawahmu. Posisi ternyaman setelah 30 menit sebelumnya kau masih mengendarai sepeda motor bebek bekas itu saat berjibaku di tengah hiruk-pikuk jalan kota dan guyuran hujan sepanjang hari. Entah mengapa, Desember menjadi bulan paling basah kali ini?

Namun beruntung, kau tak sekuyub biasanya. Rintik hujan yang turun sejak kau berangkat kerja, hanya membasahimu di beberapa bagian tubuh. Sekedar celana yang terciprat lumpur dari genangan air di jalan. Pergelangan lengan jaket yang koyak dan lembab. Serta tetes air yang mengalir di kening dari ujung rambutmu yang basah ketika kau berlari dari tempat parkir ke lobby kantor. Mantel hujan pemberian ibumu tak sukses membuat tubuhmu kering dari kepala sampai kaki. Apalagi sepatumu? Teles kebes? Ah sudah biasa. Yang penting kau tiba di kantor.

Tas ransel yang melekat di punggungmu dalam kondisi baik. Buku-buku kuliah, satu ekesemplar jurnal sidang praskripsi lengkap dengan coretan dosen pembimbing, sebuah ponsel Blackberry hitam, laptop HP dan kabel charge yang kau taruh di dalam tas kecil berisi alat-alat tulis dan perintilan gadget, serta dompet dengan isi mahapenting, semuana kering. Lega.

Joe melepas earphone-nya. Diletakkannya segenggam benda itu pada sebuah kait yang menancap di bagian gagang microphone di atas meja siar. Sekilas dia melihatmu dari kejauhan. Kau sadari itu. Raut wajahnya tampak kaku. Cenderung tak sedap dipandang. Di saat pintu kaca itu tiba-tiba terbuka, sosok tinggi besar menatapmu tajam. Sinis. Kau keder.

“Sudah baca ini?” jari telunjuknya menyentuh daftar tata tertib penyiar radio berbingkai kaca yang menempel di dinding di samping gundukan kepalanya. 

“Sudah.”

“Lantas?”

Untuk kedua kalinya hanya bisa kau jawab dengan kata ‘sudah’, namun disusul dengan rentetan kalimat permintaan maaf.

Dibacanya satu poin dari tata tertib itu. Lebih tepatnya pada poin 5. Di situ tertulis bahwa penyiar harus hadir minimal 45 menit sebelum jam siarnya. 

Kau membisu. Hening.

Dahinya mengernyit. Kau menunduk. Kepalanya bergeleng seiring dengan suara decak keluar dari mulutnya. Dalam hati kau berdoa agar selembar surat peringatan tak dilayangkan kepadamu. Belum genap tiga belas bulan euphoria kehidupan seorang penyiar radio kau nikmati. Kau tak rela kehilangan semua ini hanya karena satu masalah ini.

Lagu berganti. Irama musiknya terdengar lebih sendu.

Tarikan nafas panjangnya memburu rasa gugupmu. 

“Buruan!”

“I … Iya, Mas.”

Seperti dikejar waktu. Kau cangking tasmu dan berlari ke ruang siar. Melewatinya tanpa bertemu mata.. Antara sungkan dan enggan bertatap muka. Kau hanya ingin cepat berlalu darinya tanpa perlu lama-lama.

Joe memperhatikan celanamu yang basah. Dia meminta kau berganti. Apalagi AC ruangan bersuhu 17 derajat Celcius itu tidak dimatikan sejak pagi. Di tengah kecewanya, dia tak mau bermain-main dengan resiko masuk angin yang mengancam salah satu awak siarnya.

“Aku tidak bawa celana ganti, Mas.” senyum terpaksa mengulir di wajahmu.

Tiba-tiba sebuah gulungan kain terlempar ke arahmu. Secara refleks kau tangkap. Selembar celana pendek olahraga berwarna hijau dengan aksen garis kuning di bagian pinggir paha kiri dan kanan berada di tanganmu. Celana miliknya.

“Pakai itu saja!” kau mangangguk.

Sebelum pamit, Joe menyarankanmu memesan minuman hangat ke Pak Man. Pedagagang asongan yang gerobaknya sering mangkal di depan kantormu jelang malam hari. Embun di kaca studio yang kian memutih seiring malam yang terus beranjak. Sementara di luar, gemuruh hujan yang sungkan reda. Godaan segelas wedang jahe panas tak mampu kau tepiskan. Apalagi berkawan mie rebus lengkap dengan telur ceploknya.

 

Pak Man masuk ke ruang tamu studio siarmu tanpa mengetuk pintu. Dengan dorongan bahunya, pintu kaca itu terbuka. Kedua tangannya sibuk berjibaku agar nampan yang berisi gelas dan mangkuk itu tidak miring. Lantas dia berpaling kepadamu. Hanya dengan gerakan bibir tanpa suara, kau tahu bahwa orang tua itu ingin mengatakan pesananmu telah siap saji. Kau lambaikan tanganmu sebagai kode ‘tunggu’ ke arahnya. 

Susunan konten siaran di lot monitor radio mixer bertambah. Dua lagu, dua iklan, satu promo, dan dua lagu. Terdengar suara ‘klik’ saat kursor mouse berada di atas ikon continue. Selesai. Secara otomatis lot konten itu akan berjalan sesuai urutan. Cukup waktu untuk menjejalkan sesuatu di perutmu yang keroncongan.

Kau melihatnya termangu menonton tayangan televisi yang menampilkan adegan perkelahian.

“Sinetron kok ditonton, Pak?”

“Eh, Mas! Hiburannya cuma ini yang bagus,” tawanya menyeringai.

“Semua berapa?”

“Wedang jahe ditambah Pop Mie, jadi 5.000 rupiah, Mas.”

“Di luar masih deras?” kau serahkan selembar kertas rupiah berwarna cokelat kepadanya.

“Sudah agak berkurang ketimbang sore tadi, Mas. Saya niat mau pulang awal, juga tidak jadi. Masih ada yang berteduh dan ngeteh di warung. Apalagi satpam-satpam itu. Ngasonya ya disitu.”

“Oalah, aman kalau ditinggal begini?” Bibirmu menempel di pinggir gelas beling. Uap hangat beraroma merasuk ke hidungmu. 

“Ada Fikri yang ikut jaga,”

“Ohh …” sedetik kemudian rongga tenggorokan hingga lambungmu berangsur terasa hangat.

Kau mengenalnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini. Pertama kali pula ketika kau menikmati seduhan wedang jahenya selepas menuntaskan rentetan tes seleksi penyiar radio. Suara adzan maghrib terdengar bersahutan dari sudut-sudut kota. Hampir setengah jam kau menduduki kursi plastik yang disediakan untukmu di samping warung gerobaknya.

“Saya kok merasa Mas yang bakal diterima ya?” ucapannya saat itu sukses meruntuhkan segala keteganganmu paska wawancara. Kau coba mengingatnya.

“Ah, Bapak bisa saja,” dengan sungkan kau terima sodoran pesananmu dari tangannya.

“Yang penting yakin, Mas!” tangannya menepuk pundakmu.

Tidak berselang lama hidupmu berubah.

“Mas, enak ya kerja jadi penyiar radio?” 

“Ya begitulah, Pak. Sawang-sinawang, dijalani saja. 

Walaupun bercakap sambil meneguk kuah mie dan wedding jahe secara berselang-seling, telingamu cukup awas mendengar pengeras suara yang memutar lot konten siaran. Audio promo baru saja terdengar ending-nya. Kemudian masuk ke jingle. Artinya masih ada dua lagu lagi yang akan terputar.

“Apalagi bisa kerja cuma pakai kaos dan celana kolor ya, Mas? Tidak harus seragam,” dirinya terkekeh.

Kau tersedak. Kau pandangi pakaian yang melekat di tubuhmu. Kaos putih yang sering kau kenakan ke kampus sebagai dalaman. Kaos yang kerap terbawa tidur sebagai piyama lusuh. Multifungsi. Dan yang itu, celana denim butut yang tersampir di sandaran kursi. Celana yang tak pernah kau ganti sebelum genap seminggu terpakai.

Sementara saat ini, hanya celana pendek yang membungkus paha dan kemaluanmu. Begitu bebas, begitu santai. Seperti bekerja di rumah sendiri. Tanpa aturan ketat. Selama kerjaan lancar. Mulai dan selesai tepat waktu. Gugur kewajiban. Selesai.

“Tadi pakai celana panjang kok, Pak. Basah tuh!”

“Tapi sekarang Mas pakai kolor kan? Mana ada kerja kantoran dibolehin begini?”

Kalian sepakat memecah malam dengan tawa.

Bapakmu menjadi pribadi tangguh pemegang kendali keluarga dengan empat orang anak yang dengan idealisme tingginya, keempat anak itu harus jadi sarjana. Mimpi yang bagi kebanyakan tetangga di sekitar rumah sulit untuk ditempuh kalau hanya mendapat nafkah di satu pekerjaan, seorang guru bahasa Indonesia di satu-satunya madrasah tsanawiyah swasta di dekat kantor kecamatan dengan gaji tak sampai dua juta rupiah tiap bulan. Belum bisa dikatakan cukup untuk menutup kebutuhan keluarga yang beranggotan enam orang. Sementara itu istrinya, seorang ibu rumah tangga, berperan sebagai penanggung jawab manajemen keluarga. Aliran finasial berada di dalam kewenangannya. Meski begitu, dia bukan tipe istri yang diam menanti gaji bulanan suami. Kemahirannya dalam bersosialisasi, membuatnya dipercaya mengisi beberapa urusan kedesaan. Mulai dari pengajian mingguan, arisan RT, dan sebagainya. Mereka berdua menjadi tim hebat. Sering berkompetisi, tapi saling melengkapi.

Desamu berada di satu kabupaten yang sebagian besar matapencaharian penduduknya adalah petani. Petani di sawah, ladang, dan halaman rumah. Padi di sawah, palawija di ladang, dan bunga hias di halaman rumah. Berbeda dengan rumah atau perumahan di kota-kota besar yang biasa terbagi ke dalam cluster. Rumah-rumah di desamu cenderung memiliki halaman luas dengan banyak tanaman bahkan pohon besar di bagian depan. Berjarak dari rumah satu ke rumah lainnya, bukan menempel bersekat selapis dinding saja. Pohon mangga, jambu, palem, bahkan pohon kelapa tumbuh bebas menghijau. Bahkan dijadikan penanda rumah seseorang. Bisa didapati pohon mangga gadung yang sedang berbuah ranum menggelantung sampai keluar pagar di halaman rumah Pak Lurah. Rumah Pak Haji Sukri ada tiga batang pohon kelapa yang tumbuh berjajar. Anak laki-laki Mbak Nah, tetanggamu, pernah jatuh dari pohon itu dan harus dioperasi gara-gara patah tulang. Rumah yang berada tepat di sebelah kanan rumahmu, berpagar besi hijau dan ditumbuhi bambu kuningnya di bagian depan adalah rumah Pak Mantri. Termasuk rumahmu, dikenal karena ada dua pohon kersen yang tumbuh di pelataran jalan masuk. Saling bersebelahan membentuk mulut rongga. Seperti pilar gerbang menuju rumah. Buahnya menjadi santapan anak-anak setelah pulang sekolah. Kecil-kecil berwarna merah, rasanya manis sedikit asam. Mereka yang masih berseragam merah putih sering memanjat riuh ke atas pohon. Selalu diiringi teriakan lantang ibumu dari jendela atau pintu rumah yang terbuka menganga, “Ati-ati yo, Le! Jangan diinjak tanaman hiasnya!” Dari kejauhan suara balasan datang bersamaan, “Inggih, Budhe!”

Kau tahu, ibumu sangat perhatian pada semua tanaman hias yang hampir 80% menutup luas halaman rumahmu. Ketika ladang telah ditanami tebu dan pohon pisang, halaman rumah bagian depan dan belakang tak disia-siakan sebagai tempat yang mampu menopang keuangan keluarga. Ibu adalah otak, perancang utama bagian mana saja yang bisa ditanami palem, bougenville, adenium, ekor tupai, atau tanaman hias lainnya. Mana yang diletakkan di tempat persemaian, mana yang memang ditaruh di etalase siap jual. Sementara itu untuk halaman belakang rumah berfungsi sebagai area pembibitan. Terdapat pula bangunan gudang penyimpanan pupuk dan peralatan berkebun. Selain itu, ada juga kolam ikan lele dan kandang ayam. 

Bagian lain, tepatnya di depan pintuk masuk ke ruang tamu, ditanami tanaman hias yang memang digunakan untuk memperindah rumah. Baginya, jika ingin tanaman hiasnya laku terjual, rumah penjualnya juga wajib ditata dan dirancang seindah mungkin. Tak bisa dipungkiri jika hasilnya juga lumayan hingga mampu berkontribusi secara materi. Dan semua itu juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di desa kami. Halaman rumah mereka banyak ditumbuhi bunga hias. Bisa dikatakan seperti green house dalam skala besar. Mampu menhadirkan pengepul tanaman hias yang menjadi pelanggan besar dan pembeli eceran.  Ada yang diperuntukkan bagi pribadi, banyak pula yang dikirim ke daerah lain untuk area hijau perhotelan atau perumahan. Mereka mendapatkan pesanan tanaman-tanaman tersebut dari desa kami, termasuk dari halaman rumah kami.

Bapak pernah bertutur bahwa biaya sekolah anak-anaknya berasal dari hasil penjualan tanaman hias. Gaji bulanan bapak hanya bisa digunakan untuk sedikit membiayai keperluan rumah, sisanya ditabung dan  digunakan untuk membayar hutang ke tengkulak. Bapak pernah mendapat pengalaman kurang baik dengan tengkulak pupuk. Membuatnya harus bekerja keras siang-malam bersama Ibu dan memberdayakan anak-anaknya. Pagi mengajar, sore mengurus tanaman, malam kadang masih berkutat dengan urusan yang sama, hanya lebih ringan. Misal memotong plastik polibek yang bisa dilakukan di dalam rumah sembari menyaksikan acara televisi. Bergantian dengan istri dan anak-anaknya.

Suatu kali aku pernah membandel, membantah suruhan Ibu untuk menyiram tanaman yang memang rutin dilakukan di sore hari, alih-alih pagi atau siang hari agar air siraman tidak menguap terkena cahaya matahari. Ketika itu aku pulang telat dengan kondisi lelah, terlalu sore ketika tiba di rumah, dan  mementahkan suruhan Ibu menyiram tanaman. Bapak yang mengetahui kebandelanku langsung turun tangan. Teringat jelas ketika aku dan bapak sempat berdebat hebat hingga keluar dari mulutku sebuah kalimat yang membuat bapak sejenak menatapku tajam. Bukan tatapan biasa, seolah menatap musuh yang siap diterkam, siap dilahap.

“Saya ikut organisasi di sekolah, Pak. Makanya pulang telat,” jelasku.

“Sekolah ya sekolah saja, boleh ikut organisasi, cari kegiatan organisasi yang tidak menggeser kewajibanmu membantu orangtua di rumah,” timpal Bapak.

“Organisasi sekolah ‘kan dilakukan setelah jam sekolah selesai, Pak.”

“Tapi, tidak setiap hari pulang sore!”

“Saya belajar dan berorganisasi agar kelak tidak jadi petani. Agar bisa pakai seragam dan dasi, keren, seperti anaknya Pakdhe Mukhlis yang di Jakarta,” balasku bersungut-sungut.

Sejenak bapak terdiam.

“Oh, menurutmu jadi petani tidak baik? Hanya memakai kaos dan celana butut itu tidak keren?”

Aku diam.

“Ingat, Le, biaya sekolahmu dan saudara-saudaramu itu berasal dari penjualan tanaman di rumah ini, kamu harus bersyukur. Bapak menyuruhmu ikut membantu kami, orang tuamu, mengurus tanaman agar kamu bisa sekolah dengan baik. Tidak menyia-nyiakan usaha kami menyekolahkan kalian. Zaman sekarang sekolah itu mahal, apa-apa harus bayar. Dan benar, kami tidak mau melihat kalian jadi petani seperti kami. Kalian bisa jadi orang kantoran. Tapi, itu nanti. Tunjukkan bahwa cita-citamu itu bisa jadi nyata. Tidak saat biaya sekolahmu masih menjadi kewajiban kami. Tidak ketika kamu masih belum mampu berdiri sendiri. Sekarang kerjakan suruhan Ibumu.”

Aku beringsut keluar rumah dengan wajah tertekuk cemberut, setelah sebelumnya menatap mata Bapak tanpa kata. Membantah pun bukan menjadi pilihan tepat ketika emosi memayungi argumen yang  dimatikutukan tanpa jeda. Mencoba melawan tapi tak bisa, dengan senjata apa. Menjadi hyna lemah di hadapan raja singa, sendirian di tengah sabana. 

Sampai di halaman rumah, kuulur selang air yang tersudut melingkar-lingkar di bawah jendela kamar, dekat dengan kran air. Selepas maghrib aku mulai mengerjakannya, menyemprotkan air ke rimbun tanaman di pot, di polibek, atau di tanah. Ditemani hawa dingin pedesaan dan nyala lampu dari teras rumah. Melakukan kewajiban ketika anak-anak lain sibuk mengerjakan pekerjaan rumah atau menonton televisi. Atau bahkan sedang asyik nongkrong di poskamling dekat masjid sehabis sholat maghrib. Bermain kartu, catur, atau karambol sambil menanti kumandang adzan isya’. Sementara aku masih berdiri di halaman rumah dengan kaki telanjang, memakai kaos oblong yang sobek di bagian ketiak, dengan celana training olahraga panjang yang digulung sampai betis. Dinginnya udara dan air terhalau dengan panasnya hati akibat perdebatanku dengan Bapak. Mengukuhkannya menjadi seorang pemenang dan aku sebagai pecundang di laga adu mulut adu argumen. Dan sering perseteruan ini pun terus berlanjut di medan atau laga lain. Berebut acara televisi, kendaraan, bahkan urusan isi sakuku juga jadi topik yang panas membara. Hubunganku dengan Bapak memang kurang baik sampai beliau melepas kehidupan fananya dan pergi ke dimensi lain.

Acara tahlilan 1000 hari wafatnya Bapak dihadiri oleh keluarga besar dan saudara dari kedua belah pihak, keluarga Bapak dan Ibu yang berkumpul di rumah. Meski tidak menginap dan hanya membantu mengurus rumah serta ikut memasak serta menyajikan makanan, terlepas dari tujuan utamanya untuk mengirim doa ke Bapak, ajang reuni dan saling ‘rasan-rasan’ pun juga tak bisa dihindari. Ada yang ngutang ini lah, pinjam itu lah, ada ponakan yang belum kawinlah, mau dijodohkan lah, lengkap seperti infotainment. Berubah lengang ketika bacaan doa-doa dari ustadz berlangsung.

Dalam acara itu, para tetangga sekitar rumah dan teman-teman Bapak juga turut diundang. Bagi orang desa, kurang pantas rasanya kalau si tuan rumah yang punya hajat tidak mengundang tetangga samping kiri kanan depan belakang. Dan rumah kami nampak ramai dengan kehadiran mereka. Berhasil membuat kondisi Ibu semakin baik dan terus membaik. Kembali tenang dan cekatan, sibuk dengan caranya sendiri, seperti yang biasa aku temui di rumah ketika suaminya masih hidup. Bapakku. Sangat berbeda ketika tahlilan di 40 dan 100 hari bapak wafat. Saat itu matanya masih sering terlihat bengkak dan sembab. Hanya digantungi 50% semangat hidup saja. Teramat rapuh kehilangan belahan jiwanya. Namun kini, sunggingan senyum kembali menghias raut wajahnya. Baik saat berbincang dengan para tamu atau bercengkerama dengan keluarga besar. Mulutnya kadang terbuka lebar karena tertawa, pertanda kesedihan di rumah ini mulai enyah, terganti dengan hawa keikhlasan.

Acara dimulai selepas maghrib hingga menjelang azan isya. Setelah rentetan bacaan tahlil dan doa penutup, akhirnya para tamu bisa menikmati hidangan yang diantarkan piring demi piring oleh saudara-saudaraku ke ruang tamu dan ruang keluarga. Perabot serta mebel diletakkan di luar rumah, diganti tikar bambu dan plastik yang digelar sebagai tempat bersila bagi para undangan. Dipinjam dari kumpulan pengajian Ibu, jumlahnya puluhan lembar. Hanya belasan saja yang bisa menutup ubin rumah agar hangat saat didudukin bersila.

Tepat ketika azan isya berkumandang, acara makan selesai, berlanjut sholat isya berjamaah. Setelah itu cara pun selesai. Tamu undangan dan saudara pulang sambil menjinjing ‘berkat’ sebagai bawaan acara.  Isinya berupa nasi putih dengan lauk-pauk rames. Mie goreng, sambel goreng, daging, mentimun, acar, kerupuk, sepotong semangka yang dipotong tipis berbungkus plastik, serta kue cucur dan lemper. Telah lama menjadi tradisi ucapan terima kasih dari pemilik rumah kepada para pendoa. Salah satu cara tradisional dalam bersedekah.

Aku melihat ibu di sudut dapur di samping rak piring. Dia sibuk mengeringkan piring dengan lap. Diusap satu per satu kemudian diletakkan di rak piring setelah dicuci bersih oleh Budhe Umi, kakak iparnya.

“Tamunya banyak ya, Bu. Syukur makanannya nggak ludes, lumayan buat sarapan besok,” 

“Ibumu masaknya kebanyakan, Bas, kata Budhe Umi.

“Berbagi rezeki jangan tanggung-tanggung, semoga pahalanya berlimpah, dan kiriman doa ke Bapakmu  segera sampai,” jelas Ibu.

“Kalau doa anak-anaknya?”

“Insha Alloh sampai ya Mbak,” jawab Ibu singkat, saling bertatap muka dengan Budhe. Mereka berdua tersenyum.

“Niat ingsun Gusti Pengeran ngijabahi,” lanjut Budhe.

“Doa anak yang sering cekcok dan adu taji dengan bapaknya? Sampai tidak?”

Budhe Umi mendadak menghentikan pekerjannya. Kemudian melihat Ibu. Sementara Ibu menatapku lekat. Aku membalas apa yang dia lakukan.

“Nasi berkatnya masih sisa, Budhe bungkusin buat teman-teman kosmu ya, Bas?” Budhe Menjauhi aku dan Ibu.

“Inggih, Budhe, matur nuwun,” jawabku.

Ibu melanjutkan mengelap piring dan gelas.

“Insha Alloh sampai juga, tergantung niatmu bagaimana.”

“Ibu tahu sendiri kan hubunganku dengan Bapak jarang baik?”

“Ibu tahu, tapi dia sayang sama kamu, Mas.”

“Percuma sayang kalau tiap kali aku pulang yang ada malah betengkar. Jangan salahkan kalau aku jarang pulang. Sering nggak betah lama-lama di sini.”

“Sini duduk! Ibu ada cerita buat kamu,” 

“Cerita apa, Bu?”

“Sini dulu!” pinta ibu sedikit memaksa.

“Kamu masih ingat ketika kamu sering marah-marah pada Bapakmu? Ketika kamu disuruh menyiram tanaman sore-sore menjelang maghrib? Padahal kamu capek pulang sekolah, dan masih harus mengurus tanaman?”

Aku mengangguk.

“Apakah kamu ingat setiap libur sekolah, kamu dan adik-adikmu bergantian mencabuti rumput liar yang tumbuh semrawut di pot? Menabur pupuk kompos siang-siang?”

Aku kembali mengangguk.

“Kamu pernah berdebat dengan Bapakmu tentang kerja kantoran dan membawa-bawa perihal kaos oblong dan kemeja kerja berdasi. Masih ingatkah kamu, Mas?”

“Iya, Bu,” jawabku singkat.

“Bapakmu merekam semua itu di kepalanya dan menceritakannya ke Ibu. Ibu seperti lemari bukunya, penuh buku-bukunya dan materi sekolah yang dia ajarkan setiap hari. Persis seperti lemari buku di kamar mbakmu. Semrawut, warna-warni, tapi menyimpan kisah hidup di setiap isi dan babnya. Semua detail kehidupan dan hubungan dia dengan anak-anaknya, termasuk hubungan dengan Ibu selama ini. Semua Ibu tahu. Bapakmu itu adalah kakak dan sahabat ibu.”

“Hubungannya dengan perseteruanku dengan Bapak?”

“Ada”

“Apa itu?”

“Begini, Mas. Bapakmu sengaja seperti itu karena ingin mendidikmu, bukan dengan cara yang biasa dilakukan orangtua pada umumnya, tapi dengan cara yang berbeda.”

“Maksudnya?” tanyaku heran.

“Dia menyuruhmu tetap melakukan kewajiban membantu kami di rumah selepas sekolah, sekaligus tidak melupakan tugasmu sebagai seorang siswa untuk tetap belajar rajin adalah agar kamu bisa menghargai waktu. Waktu yang bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk keluargamu. Menyuruhmu membantu kami dan berkumpul dengan saudara-saudaramu di rumah adalah cara yang ditempuh Bapakmu agar ketika kamu belum benar-benar sibuk oleh urusanmu, kamu tidak melupakan bahwa keluargamu masih ada. Uang bisa dicari, belajar bisa kapan saja, tapi waktu tidak bisa kembali.”

Aku terdiam.

“Kamu yang ketika itu suka menonton acara film kartun di hari Minggu, terpaksa harus mengenakan jaket dan mencabuti rumput liar di halaman sampai siang. Panas-panas, berkeringat, dan kehausan. Baru setelah itu selesai, kamu boleh menonton televisi kembali. Tapi setelah mandi, kamu malah ketiduran saking capeknya. Ketika bangun dari tidur siangmu, ada lele goreng yang bisa kamu temukan di dapur dan kamu memakannya dengan lahap. Makanan yang tidak dapat kamu nikmati setiap hari kecuali berkat rames yang dibawa Bapakmu pulang dari acara tahlilan atau kondangan. Itu pun harus dibagi rata dengan saudara-saudaramu. Kamu tahu, Mas. Lauk itu Ibu yang membelikan dan menggorengnya. Sesuai permintaan Bapakmu. Ibu pikir untuknya sendiri, eh ternyata buat kamu, ‘Untuk anak lanangku yang capek bekerja,’ katanya penuh kebanggan.”

Aku menunduk.

Ibu memegang tanganku.

“Pada intinya, Mas. Semua yang diminta oleh Bapakmu ke kamu bukan tidak ada tujuannya. Meski kamu ogah-ogahan dan sering merasa terpaksa. Seringkali muncul pula umpatan dan perdebatan. Itulah cara mendidik Bapakmu. Unik dan nyleneh. Ibu pun sering kewalahan menuruti permintaannya. Bapakmu mendidikmu dengan cara memaksamu melakukan pekerjaan yang tidak kamu sukai agar kelak kamu tidak mengerjakannya. Tidak jadi petani atau guru dengan pendapatan yang minim. Bisa jadi orang kantoran dengan gaji besar, memakai pakaian kerja berjas dan berdasi, bukan kaos oblong dan celana butut kotor.”

Lidahku makin kaku kelu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut. Pikiranku kembali ke masa lalu. Flashback dengan kecepatan mahatinggi. Memutar kembali rekaman-rekaman hidup bersama Bapak. Menyortir hal paling baik dibalik segala umpatan, perdebatan, dan adu mulut. Wajahnya, suaranya, hingga tatapan tajam dari sorot matanya. Uang saku kehidupan yang telat aku kantongi dari empunya. Bapakku.

“Dan kini lihat hasilnya, pekerjaanmu, kehidupanmu,” 

Ibu mengelus kepalaku, mencium keningku.

Di saat aku kembali ke masa sekarang, melihat dan merasakan bagaimana kehidupan yang sudah dua puluhan tahun berjalan ini. Menjadi berbeda 180 derajat dari kalimat yang pernah aku lontarkan ke Bapak saat itu. Pekerjaan yang aku jalani sekarang tidak menuntutku mengenakan kemeja panjang berdasi, harus bersepatu pantofel, atau menjinjing tas koper. Tidak semua itu. Pekerjaan ini  lebih menuntut hasil memuaskan dan tuntas meski hanya mengenakan kaos oblong dan celana butut. Bahkan, jika harus berkemeja lengan panjang layaknya para bankir atau pegawai negeri sipil, aku pun merasa kurang nyaman. Kurang bebas, kurang kreatif, kata teman-temanku. Mereka bilang bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan khusus, pekerjaan paling tepat untuk menunjukkan jati diri dan passion. Tidak harus berseragam sekaku itu. Malah seperti bukan aku sesungguhnya jika mengenakannya. Walau demi pencitraan semata yang kadang itu diperlukan. 

Tapi kini, dengan kaos oblong dan celana butut, semua sudah lebih dari cukup. Memuaskanku dengan gaji bulanan yang lumayan bagi seorang bujang. Mungkin juga cukup membuat almarhum Bapak bangga. Aku tunjukkan pada almarhum bahwa aku bisa menduduki sedikit posisi di kursi kebapakannya dalam urusan tumah tangga. Sekolah adik, kebutuhan Ibu, walaupun tidak sepenuhnya tergantung padaku. Masih ada uang pensiunan Bapak tiap bulan yang diterima oleh Ibu. Tapi sekurang-kurangnya aku tak melupakan tanggungjawabku. Sisa kewenangan lainnya mutlak dipegang si Nyonya Rumah. Kami anak-anaknya hanya sebagai lawan pertimbangan dan pemberi masukan. Lagi-lagi mencoba menggantikan sosok bapak yang tak tergantikan. Mungkin sekarang bapak tertawa lebar di dimensi lain. Melihatku kalah dari perdebatan bapak-anak sambil mengenakan kaos oblong dan celana butut kebanggannya. Menungguku menanam tanaman hias di surga. Menyiraminya dengan air kebanggaan.

“Mas, kok sepi?”

“Apanya, Pak?” lamunanmu buyar sudah.

“Lagunya,”

“Ya Tuhan! Aku siaran dulu, Pak!”

Aku melompat berdiri, berlari cepat ke ruang siaran. 

Kupasang earphone di telingaku, kutegakkan badanku di depan radio mixer, dan kugetarkan pita suaraku di depan microphone yang menyala.

Melanjutkan kehidupan.

Selesai.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s