Derap Kaki Kuda di Atas Atap

Diceritakan ulang oleh ibuku dari ibunya ke aku.

Kisah ini bermula dari penuturan seorang gadis kecil di dusun terpencil di kecamatan Wates, kabupaten Kediri. Dusun yang ia tinggali terkenal dengan hembusan angin semilir karena banyak sawah & ladang terbentang di depan rumah warga. Selain itu, halaman rumah warga yang disebut sebagai ‘latar’ pun cukup luas, hingga bisa ditanami tanaman obat keluarga, pohon-pohon besar, dan arena bermain bocah; gobak sodor & petak umpet (delik’an) misalnya. Ketika siang tiba, tidak sedikit warga yang beristirahat siang di emperan rumah atau bale-bale, sambil menikmati semilir angin.

Semilir. Silir.

Sebut saja Sis, nama gadis kecil itu. Dia tinggal di rumah sederhana yang sebagian berdinding batu bata & sisanya berdinding bambu, orang Jawa menyebutnya; ‘gedhek’. Sis kecil tinggal bersama ketiga kakaknya dan satu adik laki-lakinya yang masih bayi. 

Rumah Sis bersebelahan dengan rumah seorang juragan sapi. Rumahnya besar, halamannya sungguh luas, lengkap dengan tangga berundak dan emperan yang bisa digunakan untuk rapat warga dusun apabila diperlukan. Juragan sapi itu, namanya ‘Mbah Jan’. Selain orang yang memiliki raja kaya (binatang ternak), Mbah Jan juga memelihara beberapa kuda yang yang kandangnya bersebalahan dengan kandang sapi-sapinya, yang letaknya ada di belakang rumah. Tidak jauh dari kandang itu, Sis kecil tidur di atas kasur kapuk randu dengan amben kayu jati yang sudah lapuk. Berderit saat dinaiki. Dinding kamarnya terbuat dari bambu, karena dinding batu bata hanya untuk rumah bagian depan, yang ada ruang tamunya. Dari dinding bambu itu, Sis kecil bisa mendengar jelas suara ringkik kuda, lenguh sapi, dan kadang ada suara-suara lain yang tak jelas asalnya. Sis kecil sudah terbiasa dengan ketidakkasatmataan itu.

Suata malam di malam Jumat Legi.

Emak, ibu dari Sis kecil, selalu menyuruh anak-anaknya lekas masuk ke dalam rumah selepas maghrib. Pijar lampu petromax yang tak seberapa terang, menjadi penerang satu-satunya di dalam rumah. Tempat segala aktivitas anggota keluarga berada. Ayah Sis kecil tidak ada di rumah, kedua kakak laki-lakinya bekerja di kota, sementara kakak perempuannya berada di kamarnya yang berpintu kelambu sambil mendengarkan lagu-lagu dangdut yang diputar lirih. Sayup-sayup Sis kecil bisa mendengarkan suara penyiar radio dari ruang tengah. Ibu & adik bayinya berada di kamar lain, menyusu.

Malam itu Sis kecil tidak bisa tidur. Matanya bersinar, jemari tangannya memainkan selimut usang dengan bau khas yang menyelimuti tubuhnya. Radio sudah dimatikan dan kakaknya mendengkur pelan di sampingnya. Udara dingin mencoba merasuk lewat celah-celah dinding bambu bersama suara binatang-binatang malam.

Tiba-tiba dari arah kandang kuda Mbah Jan, Sis kecil mendengar suara ringkik kuda yang aneh dari biasanya. Terlalu riuh. Tapi juga tidak terlalu keras terdengar. Riuhnya berbeda dari malam-malam yang lain. Aneh. Seperti ada hajatan yang diadakan di halaman belakang rumah Mbah Jan.

Karena penasaran, Sis kecil bangkit dari tempat tidurnya. Lalu dia menempelkan telinganya ke dinding bambu. Tak puas, dia mencari celah dinding yang bisa digunakan untuk mengintip bagian luar.

“Sis, jangan diintip. Kamu diam saja,” suara lirih kakak perempuannya membuatnya tersentak

“Biarkan, ayo kembali tidur!”

“Kenapa Mbak?” tanyanya.

“Kuda-kuda Mbah Jan sedang kawin,”

“Bukannya kuda-kudan Mbah Jan betina semua, kawin dengan kuda jantan siapa malam-malam begini?”

Tiba-tibu sosok bayang hitam masuk ke dalam kamar kakak beradik itu.

“Kalian belum tidur?”

“Sis terganggu suara kuda kawin, Mak,” jelas kakak perempuannya.

“Kalian berdua, ayo ikut ke ruang tengah sebentar,”

Ibu dan kedua anak perempuannya duduk saling berhadapan di sebuah meja makan, hanya diterangi oleh cahaya ublik kecil.

Setelah mengambil nafas dalam, sang ibu mulai bercerita.

“Ringkik kuda-kuda Mbah Jan itu bukan ringkik biasa, Sis. Kakakmu tahu itu. Kuda-kuda itu sedang kawin dengan kuda dari bangsa halus, kuda Sembrani namanya. Apapun yang terjadi, jangan pernah terpikir untuk melihat kuda-kuda itu kawin. Kalau tidak, petaka akan datang padamu.”

Mendadak suara ringkik kuda berhenti. Senyap. Tidak ada suara apa pun. Suara jangkrik & katak pun ‘tak terdengar. Sunyi.

“Matikan ubliknya,”

“Iya Mak,” jawab kakak perempuan Sis sambil buru-buru meniup api ublik.

Emak mendekap tubuh Sis kecil. Dengan suara cukup lirih dan mungkin saja hanya bisa di dengar oleh ketiga orang itu, Emak berkata,

“Setelah ini kamu akan mendengar embusan angin dari kejauhan yang lama-lama semakin kencang dan sedikit riuh. Alih-alih menghantam dinding rumah, angin itu hanya akan melintas saja. Jika beruntung, kamu akan mendengar suara derap kaki kuda yang menyentuh  genteng rumah kita. Sesaat terdengar cukup jelas dan lambat laun  akan menghilang di kejauhan.”

Sis kecil memperhatikan dengan seksama. Telinganya berusaha menangkap segala perkataan ibunya bersamaan dengan suara-suara lain yang juga masuk ke telinganya. Membuatnya bergidik.

Tiba-tiba terdengar embusan angin dari kejauhan dan terdengar makin kencang. Sis kecil mulai ketakutan. Takut jika rumahnya roboh dihantam angin. Ternyata tidak, suara embusan angin itu seolah bertolak ke atas atap rumahnya. Berirama. Seperti kepakan sayap unggas. Tak lama, derap kaki kuda terdengar menyentuh lempeng genteng rumahnya. Menjatuhkan debu-debu pasir di atas kepal Sis kecil.

“Mak …”

“Sssttt …” Emak membekap mulut Sis. 

Paginya, keramaian terjadi di rumah Mbah Jan. Dia dan anaknya, si Bun muda, sibuk menaikkan tubuh salah satu kuda betina peliharaannya yang sudah tidak bernyawa ke atas cikar, kendaraan pengangkut yang dihela oleh dua sapi atau kerbau di bagian depan. Dibantu oleh beberapa orang yang bekerja dengannya dan beberapa tetangga. Termasuk ayah Sis kecil.

Sis kecil menghampiri Bun muda yang menatap cikar itu berlalu menjauh dari rumahnya.

“Mau dibawa kemana, Bun?”

Bun muda menoleh ke arah Sis kecil.

“Ke Kulon Kali (barat sungai), mau dikubur,”

“Karena kejadian semalam ya?” Bun muda sontak kaget.

“Kamu mendengarnya, Sis?”

Sis kecil mengangguk.

‘“Emak yang cerita,”

40 tahun kemudian, ketika anak dan cucu Sis kecil berkumpul di rumah saat Lebaran tiba, mereka sangat antusias mendengar kisah derap kaki kuda di atas atap itu.

Begitu pula Bun muda. Yang selalu menceritakan kisah itu kepada istrinya dengan suka cita setiap malam Jumat Legi. Sudah puluhan tahun tidak terdengar lagi suara anak kecil di rumah besar itu.

Selepas Mbah Jan tewas terjatuh di kandang kuda miliknya.