Fatima & Edha

Semua berawal dari keinginan bunda. Bunda memaksaku berkenalan dengan keponakan laki-laki teman baiknya. Si laki-laki yang baru saja pulang dari Amerika. Menjadi kebanggan keluarga, bahkan memompa antusias bunda saat bercerita. Katanya, pria itu sudah pernah menetap di sana selama enam tahun. Lulusan Business Management & Accounting salah satu perguruan tinggi di California, California College San Diego. Pernah bekerja menjadi supervisor muda di sebuah restoran fine dining terkenal di negara bagian Florida selama dua tahun. Tepat setelah dia lulus kuliah. Dan yang membuat bunda makin kagum, si pejantan ini memulai karirnya dari nol. Satu prestasi kebanggaan bagi bunda jika melihat kesuksesan seseorang diraih dengan kerja kerasnya sendiri, bukan pemberian orang tuanya. Sekali lagi, mata bunda berbinar-binar. Wanita yang melahirkanku ini bercerita panjang lebar tentang dia. Tepat di saat aku mulai muak dengan kisah Pangeran Tampan dari negeri nun jauh di sana. Dia yang menjadi pelayan restoran saat kuliah dan mampu membiayai hidup yang tak bisa dikatakan murah. Hingga pulang ke Indonesia dan bisa membangun bisnisnya sendiri. Apa yang kurang? Tanya Bunda dengan pertanyaan menantang. Membuat bunda seolah makin berubah menjadi sosok dayang yang bertekuk lutut terhadap si pangeran berkelas. Lupa kalau yang akan dijodohkan adalah anak semata wayangnya sendiri. Bukan dirinya yang pernah menjanda sekali.

“Sudahlah, Fat! Nurut apa kata Bunda. Enam tahun bukan waktu singkat menguji ketangguhan kerja keras laki-laki. Apalagi semua dimulai dari nol. Meski anak orang kaya, kata si Dewi, ponakannya tidak pernah diajari jadi anak manja oleh orang tuanya,” jelas Bunda ngotot.

“Fat tahu, Bun! Fat paham. Masalahnya, Bunda itu tidak tanya ke Fat apakah Fat mau dikenalin ke orang itu atau tidak. Dibilang zaman sebelum Kartini, enggak. Siti Nurbaya pun juga tidak. Masih saja ada adegan perjodohan ala dongeng lama,” timpalku.

“Ya tidak begitu, Fatima. Bunda hanya mengajak teman arisan bunda mampir rumah, eh kalau si ponakannya ikut, ya anggap saja bonus.”

“Bonus bagi siapa?”

“Bonus bagi bunda sekaligus anak perempuan bunda yang harus segera kawin karena usianya makin mepet ke seperempat abad.”

“Itu mau bunda, bukan Fat!”

Bunda yang sebelumnya duduk tenang di kursi rias saat berdebat denganku, beranjak berdiri dengan muka merah menahan amarah.

“Cukup, Fatima! Pokoknya kalau dalam waktu 10 menit kamu tidak segera ke ruang tamu, Bunda bakal jodohin kamu dengan si Malik, anak pakdhe Dahlan. Titik.”

“Bun sebentar, memang ada hubungan apa perkenalan ini dengan jodoh-jodohan sama anak pakdhe Dahlan?”

“Bunda tidak tahu. Pokoknya turun sekarang atau Malik jadi mantu bunda!” jawab bunda singkat sembari menutup pintu kamar cepat-cepat hingga menimbulkan suara ‘brak’. 

“Bun!” sontak aku berteriak jengkel. Dan mungkin saja teriakan itu diacuhkan sedemikian rupa jika kedua wanita dalam satu rumah ini saling menahan murka. Aku dan bunda.

Bunda bergegas turun ke dapur, menyiapkan segala macam minuman dan makanan ringan yang jarang beliau keluarkan saat tamu biasa datang. Kecuali jika ada tamu agung. Dan bisa jadi ini salah satunya. Suara cangkir-cangkir keramik yang diletakkan di atas tatakan mulai terdengar. Ditambah deretan makanan ringan mulai dari setoples biskuit hingga irisan buah semangka di atas piring mulai disiapkan. Seperti biasa, bunda akan meninggalkan semua itu di atas meja dapur. Dan nantinya membiarkanku mengantarkan semuanya ke ruang tamu. Sebagai modus perkenalan dengan orang baru. Cara lawas, tapi masih pantas.  

Sementara aku sendiri, masih menatap cermin rias besar satu-satunya di kamarku. Belum berpindah dari pikiran negatif seputar perjodohan yang dibumbui adu argumen dengan intonasi tinggi layaknya dua perempuan saling memaki. Beruntung kamarku berada di lantai dua, tidak di lantai satu, agak jauh dari ruang tamu. Kalau saja dekat, pasti para tamu bakal nekat pulang. Penat mendengar perang mulut antara Nyonya Rumah dan anaknya. Persis suara ribut ibu-ibu ketika menawar barang belanjaan di pasar tradisional. Saling kebut, saling berebut.

Lebih dari 10 menit, di luar dari waktu yang diminta bunda, aku baru keluar kamar. Hanya mengenakan setelan panjang warna biru dengan aksen pita putih yang melingkar di bagian pinggang. Rambut hitamku yang sebahu, aku kuncir kuda dengan kikat rambut warna abu-abu. Plus dibumbui dengan bedak dan lipstik merah jambu tipis di bagian wajah. Sempurna, pikirku. Hanya untuk menemui tamu, tidak perlu semenor make-up penyanyi dangdut, bukan?”

Sebelum sampai ke ruang tamu, tak lupa minuman dan makanan ringan yang ditaruh bunda di atas baki di meja makan, aku bawa serta. Ada dua baki. Empat cangkir dan satu teko teh melati panas di atas satu baki, makanan pendamping ditempatkan di baki lainnya. Aku memutuskan membawa baki minuman terlebih dahulu ke ruang tamu.

Suasana di ruang tamu dipenuhi oleh suara tawa dan obrolan bunda dan tante Dewi. Seperti biasa, tante Dewi dengan lagak ningratnya, hari ini mengenakan blouse putih dengan aksen bunga-bunga warna merah. Ia mengenakan celana kulot dengan warna seirama. Menenteng tas keemasan yang tidak pernah dilepaskan dari pangkuannya. Rambutnya panjang terurai dengan beberapa helai yang berwarna putih termakan usia. 

“Tante Dewi…” sapaku ringan sambil menaruh baki minuman di atas meja tamu. Kemudian beringsut memajukan badanku ke arahnya. Bersalaman dan mencium tangannya.

“Nah ini si bocah ayu sudah datang. Sudah lama ndak ketemu. Jauh lebih cantik sekarang ya Mbak, daripada Fatima yang dulu?” ucap tante Dewi sambil berdiri mencium pipi kira-kananku. Matanya mengedip ke arah bunda.

“Iya dong Mbak! Anaknya siapa dulu? Ibunya cantik, anaknya pun juga ketularan cantik, iya to? Hahahah…” jawab bunda penuh kebanggaan.

“Tante apa kabar? Keluarga sehat?” tanyaku memecah kebisingan. Kemudian melepas pelukan tante Dewi dan mengambil tempat duduk tepat di samping bunda.

“Alhamdulillah sehat, Nduk. Cuma ya gitu, kemarin masih harus sering kontrol ke dokter setelah seminggu lalu tante sempat jatuh kelelahan. Biasa, penyakit orang tua.”

“Jaga kesehatan, Tante. Jangan capek-capek”

“Iya Nduk. Pasti. Tapi untung saja, ponakan tante yang dari Amerika sudah lama pulang dan mau nemenin tante. Jadi tante ada yang nganter check-up ke rumah sakit.”

“Bukannya ada Idris?”

“Duh anak itu Fat. Susah diandalkan. Setelah lulus kuliah dia sekarang kerja di Malaysia.. Awal tahun kemarin baru berangkat kesana. Makanya, daripada tante cuma tinggal dengan Mimin dan Warto di rumah, tante ajak saja ponakan tante tinggal di rumah. Biar agak ramai.”

Aku menoleh ke arah pria berbadan tinggi besar. Berkulit kecoklatan dengan kumis dan janggut tipis menghiasi wajahnya. Kemejanya yang agak ketat atau memang badan agak tambun yang dia miliki, seolah-olah jika dilihat dari belakang, ukuran tubuhnya pun tidak akan beda jauh dengan badan bule Amrik kebanyakan. Bongsor.

“Ayo kenalan dulu, Mas!” pinta Budhe Artha ke anaknya

Aku memajukan badanku tepat di hadapannya. Dan dia pun melakukan hal yang sama. Bersamaan masing-masing dari kami mengayunkan telapak tangan untuk berjabat tangan.

ZZZTTT.

Kilat. Percikan listrik. Apa ini?

“Fat… Fatima…”

Aku masih bingung. Gugup. Shock. Apakah ini perasaanku saja atau?

“Tidak apa-apa. Percikan tadi hanya gesekan statis saat udara kering seperti ini. Aku juga merasakannya. Nyetrum. Bikin geli” 

“Oh … iya-iya …” balasku terbata-bata sembari mencoba tersenyum.

Dan kami masih berjabat tangan. Belum terlepas.

“Perkenalkan. Namaku. Ed.”

Panggil Aku, Ed

Aku pria sejati. Lahir di bawah naungan bintang kembar, Gemini. Jiwaku bebas, sebebas kepakan tangan pertamaku ketika menyentuh udara bumi. Laksana angin, tidak ada yang mampu memenjarakanku dalam ruang berdimensi. Aku bisa berlari, berhembus, dan berliku pada kisi-kisi besi. Bahkan menembus tipisnya kulit ari. Meski liar, bukan berarti aku tidak tahu diri. Aku mencintai keluargaku sampai mati. Satu ayah, dua ibu, dan puluhan saudara tiri. Aku menyayangi mereka sejak ibunda merelakanku disapih oleh ibu tiri.  Meletakkan darah dagingnya pada induk lain layaknya benda yang bisa dijual dan dibeli. Kadang aku marah, naik pitam, dan menimbun rasa benci. Tapi apa boleh buat, itu janjiku pada Tuhan sejak usiaku dini. Aku tidak mau mengkhinati. Hingga di suatu masa, saat hantaman ketirian membuat jiwa ini anarki. Aku menggugat Tuhan Yang Maha Tinggi. Mengapa aku begini? Kenapa aku tidak sebahagia anak lain yang disayang dan dicintai. Mendapatkan yang mereka mau tanpa harus mengais rezeki sendiri? Ah Tuhan kadang tidak bisa adil. Dan aku mulai tidak mempercayai-Nya lagi.

Suatu hari kakak tiri perempuanku, Vero, pernah berkata,

“Ed, anak laki-laki itu harus bangun paling pagi, tidur paling larut. Melindungi saudara-saudaranya agar tidak merasa takut!”

Belum sempat membuka mata, air dingin sudah mengguyur tubuhku yang berselimut. Tak ayal membuat nyali ini semakin ciut.

“Bangun! Ayo ikut!” tegas Sinta kalut.

Saudara? Pernahkah kamu menempatkan aku sebagai saudara? Kalau bukan karena aku mudah disuruh dan dicela, akan lebih tepat jika aku dianggap sebagai pembantu rumah tangga saja. Mungkin lebih jelas dan lega. Jelas, karena aku hadir di keluarga ini sebagai pekerja, digaji meski kadang disiksa. Lega, sebab aku tidak perlu memikul nama belakang Hartawan, jika aku masih saja bekerja dan kadang kurang harta. Nama besar ayah tiri sebagai pedagang ritel dengan omset besar tidak membuatku bangga. Saat aku menyadari anak lain seusiaku sudah menunggang kendaraan besi berbensin, sedangkan aku hanya bersepeda baja. Ironis bukan? Tapi aku sayang mereka. Meski kadang terpaksa.

Mereka memanggilku si anak bengal, nakal, dan binal. Entah apa pun sebutannya sampai aku tak hapal. Aku bingung? Aku harus menjadi apa? Mengikuti siapa? Kalau menjadi diriku saja aku linglung. Alasan papa dan mama bersikap tegas agar di masa depan aku tidak menjadi orang yang limbung. Limbung bagaimana? Jika sekarang saja jati diri masih enggan berkunjung. Anggapan saudara tiri lainnya pun membuatku merasa terpasung. Mereka sering menyoal posisiku sebagai adik tiri yang tidak pernah membawa untung. Dan aku hanya bisa menunduk, diam, dan berpura-pura tidak tersinggung.

Ed kecil hanya bisa segera berlari masuk ke kamar di samping gudang. Mengambil patung kuda kayu dan mengayun-ayunkannya agar dia senang. Menyanyikan lagu riang agar dia kembali tenang. Menutup wajahnya dengan bantal agar tangisnya tidak mengiang.

Tapi itu tak mampu.

Pada waktu itu.

Bukan saat ini.

Ketika waktu mulai berganti.

Almarhum papa melihat kegigihan dan kesabaranku selama ini. Menilai sosok asli diriku melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Dia tidak membiarkanku hanya menjadi secuil duri. Terselip di antara mawar-mawar imitasi. Kata papa, “Kamu beda, Ed! Papa bangga menjadi ayahmu. Kamu tidak seperti kakak-kakak tirimu. Meski bukan sedarah, kesabaranmu melebihi mereka. Kamu tegar, kuat, dan bernyali. Dan yang lebih penting lagi, kamu laki-laki. Kelak kamu pantas hidup bahagia. Bebas melakukan apa saja di dunia”

Itu pasti, Pa.

Papa belum tahu saja apa mimpiku selama ini.

Aku menunggu, Pa.

Ketika mama membacakan surat wasiat kepada kami.

Lima anak-anak perempuan kandungmu dan satu anak laki-laki tiri.

Ketika engaku telah mati.

Mama masih berpakaian serba hitam. Menunjukkan pada dunia bahwa duka dirinya cukup dalam. Tidak bisa diukur dari urusan kremasi dan biaya membangun makam. Lebih dari semua rasa sedih yang dia larutkan di tengah malam. Bertambah saat dirinya harus membacakan secarik kalam. Berisi warisan dan wejangan suaminya yang telah bergabung dengan alam. Namun, mama tetaplah mama, lebih banyak diam.

“Terima kasih, kalian semua mau berkumpul di tempat ini. Di ruang keluarga, yang menjadi saksi kebahagiaan kita pernah bersemayam disini. Keluaraga besar tanpa sekat dan cela. Papa, mama, dan kalian sebagai darah-dagingnya.”

Mama mulai membuka album tua yang berada di hadapannya. Memasuki alur mundur kehidupannya. Bersama belahan jiwa dan para prajuritnya.

“Anak-anakku, papa kalian adalah orang baik. Dia mencintai kalian dengan perilaku apik. Tak membedakan, sekaligus tak menyatukan. Karena dia sadar, kalian hadir di keluarga ini atas dasar alasan. Alasan besar yang dia pahami sebagai titipan Tuhan. Papa kalian bukan hartawan, dia hanya dermawan.”

Semua terdiam menyaksikan mama melantunkan kenangannya menjadi pendamping manusia jantan paling berpengaruh di jiwa dan raganya. Bersamaan dengan derai air mata tanpa tahu dimana hulu dan hilirnya. Hingga dia mengumpat sejelas-jelasnya.

“Bajingan kalian semua!”

Semua orang tersentak. Aku pun mendongakkan kepalaku yang sejak tadi tertunduk pilu untuk mengetahui apa yang muncul medadak. Mama marah? Matanya memerah? Kakak-kakak yang mukanya tadi terlihat lelah. Kini berubah. Kaget, takut, dan susah ramah.“