Aku pria sejati. Lahir di bawah naungan bintang kembar, Gemini. Jiwaku bebas, sebebas kepakan tangan pertamaku ketika menyentuh udara bumi. Laksana angin, tidak ada yang mampu memenjarakanku dalam ruang berdimensi. Aku bisa berlari, berhembus, dan berliku pada kisi-kisi besi. Bahkan menembus tipisnya kulit ari. Meski liar, bukan berarti aku tidak tahu diri. Aku mencintai keluargaku sampai mati. Satu ayah, dua ibu, dan puluhan saudara tiri. Aku menyayangi mereka sejak ibunda merelakanku disapih oleh ibu tiri.  Meletakkan darah dagingnya pada induk lain layaknya benda yang bisa dijual dan dibeli. Kadang aku marah, naik pitam, dan menimbun rasa benci. Tapi apa boleh buat, itu janjiku pada Tuhan sejak usiaku dini. Aku tidak mau mengkhinati. Hingga di suatu masa, saat hantaman ketirian membuat jiwa ini anarki. Aku menggugat Tuhan Yang Maha Tinggi. Mengapa aku begini? Kenapa aku tidak sebahagia anak lain yang disayang dan dicintai. Mendapatkan yang mereka mau tanpa harus mengais rezeki sendiri? Ah Tuhan kadang tidak bisa adil. Dan aku mulai tidak mempercayai-Nya lagi.

Suatu hari kakak tiri perempuanku, Vero, pernah berkata,

“Ed, anak laki-laki itu harus bangun paling pagi, tidur paling larut. Melindungi saudara-saudaranya agar tidak merasa takut!”

Belum sempat membuka mata, air dingin sudah mengguyur tubuhku yang berselimut. Tak ayal membuat nyali ini semakin ciut.

“Bangun! Ayo ikut!” tegas Sinta kalut.

Saudara? Pernahkah kamu menempatkan aku sebagai saudara? Kalau bukan karena aku mudah disuruh dan dicela, akan lebih tepat jika aku dianggap sebagai pembantu rumah tangga saja. Mungkin lebih jelas dan lega. Jelas, karena aku hadir di keluarga ini sebagai pekerja, digaji meski kadang disiksa. Lega, sebab aku tidak perlu memikul nama belakang Hartawan, jika aku masih saja bekerja dan kadang kurang harta. Nama besar ayah tiri sebagai pedagang ritel dengan omset besar tidak membuatku bangga. Saat aku menyadari anak lain seusiaku sudah menunggang kendaraan besi berbensin, sedangkan aku hanya bersepeda baja. Ironis bukan? Tapi aku sayang mereka. Meski kadang terpaksa.

Mereka memanggilku si anak bengal, nakal, dan binal. Entah apa pun sebutannya sampai aku tak hapal. Aku bingung? Aku harus menjadi apa? Mengikuti siapa? Kalau menjadi diriku saja aku linglung. Alasan papa dan mama bersikap tegas agar di masa depan aku tidak menjadi orang yang limbung. Limbung bagaimana? Jika sekarang saja jati diri masih enggan berkunjung. Anggapan saudara tiri lainnya pun membuatku merasa terpasung. Mereka sering menyoal posisiku sebagai adik tiri yang tidak pernah membawa untung. Dan aku hanya bisa menunduk, diam, dan berpura-pura tidak tersinggung.

Ed kecil hanya bisa segera berlari masuk ke kamar di samping gudang. Mengambil patung kuda kayu dan mengayun-ayunkannya agar dia senang. Menyanyikan lagu riang agar dia kembali tenang. Menutup wajahnya dengan bantal agar tangisnya tidak mengiang.

Tapi itu tak mampu.

Pada waktu itu.

Bukan saat ini.

Ketika waktu mulai berganti.

Almarhum papa melihat kegigihan dan kesabaranku selama ini. Menilai sosok asli diriku melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Dia tidak membiarkanku hanya menjadi secuil duri. Terselip di antara mawar-mawar imitasi. Kata papa, “Kamu beda, Ed! Papa bangga menjadi ayahmu. Kamu tidak seperti kakak-kakak tirimu. Meski bukan sedarah, kesabaranmu melebihi mereka. Kamu tegar, kuat, dan bernyali. Dan yang lebih penting lagi, kamu laki-laki. Kelak kamu pantas hidup bahagia. Bebas melakukan apa saja di dunia”

Itu pasti, Pa.

Papa belum tahu saja apa mimpiku selama ini.

Aku menunggu, Pa.

Ketika mama membacakan surat wasiat kepada kami.

Lima anak-anak perempuan kandungmu dan satu anak laki-laki tiri.

Ketika engaku telah mati.

Mama masih berpakaian serba hitam. Menunjukkan pada dunia bahwa duka dirinya cukup dalam. Tidak bisa diukur dari urusan kremasi dan biaya membangun makam. Lebih dari semua rasa sedih yang dia larutkan di tengah malam. Bertambah saat dirinya harus membacakan secarik kalam. Berisi warisan dan wejangan suaminya yang telah bergabung dengan alam. Namun, mama tetaplah mama, lebih banyak diam.

“Terima kasih, kalian semua mau berkumpul di tempat ini. Di ruang keluarga, yang menjadi saksi kebahagiaan kita pernah bersemayam disini. Keluaraga besar tanpa sekat dan cela. Papa, mama, dan kalian sebagai darah-dagingnya.”

Mama mulai membuka album tua yang berada di hadapannya. Memasuki alur mundur kehidupannya. Bersama belahan jiwa dan para prajuritnya.

“Anak-anakku, papa kalian adalah orang baik. Dia mencintai kalian dengan perilaku apik. Tak membedakan, sekaligus tak menyatukan. Karena dia sadar, kalian hadir di keluarga ini atas dasar alasan. Alasan besar yang dia pahami sebagai titipan Tuhan. Papa kalian bukan hartawan, dia hanya dermawan.”

Semua terdiam menyaksikan mama melantunkan kenangannya menjadi pendamping manusia jantan paling berpengaruh di jiwa dan raganya. Bersamaan dengan derai air mata tanpa tahu dimana hulu dan hilirnya. Hingga dia mengumpat sejelas-jelasnya.

“Bajingan kalian semua!”

Semua orang tersentak. Aku pun mendongakkan kepalaku yang sejak tadi tertunduk pilu untuk mengetahui apa yang muncul medadak. Mama marah? Matanya memerah? Kakak-kakak yang mukanya tadi terlihat lelah. Kini berubah. Kaget, takut, dan susah ramah.“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s