Antara Gincu, Cinta, dan Vagina

Adalah suatu lakon dalam tragedi hidup seorang puan.

Gadis itu berlari menyusuri lorong yang penuh dengan mata jahat berjajaran di kiri kanannya. Melihatnya laksana daging mentah, masih berdarah, dan berbau amis, siap dimangsa.
Sosok-sosok berbadan tegap tak segan bermunculan dan menerkanya dengan raungan singa mereka…
Kotor dan beringas…
“Mangsa datang, Saudaraku! Perawan berdarah! Kalian mau?”

Namun, raungan itu tak dihiraukannya, dia tetap berlari menerobos suara-suara yang menegaskan bahwa perawan merupakan barang langka saat itu…
Dia pun bertanya…
‘Apa hanya aku? Seorang gadis berumur17 tahun yang mati-matian mempertahankan keperawanan demi cinta di saat yang lain merelakan keperawanannya untuk mendapatkan cinta? Najiskah tubuhku untuk kulindungi?’

Di tangannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah jambu, berbau wangi diantara belantara jalanan kota dengan bau bususknya yang tercium menyengat…
Busuk dari orang-orang bergincu dan kagum akan kelaminnya yang tercecer direnggut binatang…

Di kertas itu…
Tertulis rangkaian kalimat yang mencuat dari hati
Ternoktah dengan tinta darah

Aku di sini Cintaku… menunggumu…
Kamu di mana?

Saat kamu ada, tak satupun yang menyejukkan mataku selain ragamu yang menghadang mataku
Membuai rintihan jiwaku dengan rengkuhmu, dan meyusup pikiranku selama aku tak tahu itu kamu…
Jika cara yang diberikan Tuhan tak bisa memunculkan racikan dirimu di hadapku…
Lalu… apa yang harus ku tunggu?
Lapuknya hati tanpamu atau kah hanya gilasan roda waktu yang menegaskan kamu ada atau tak ada?

Capai rasanya…
Mencoba memahami kubangan di satu sudut lumpur hidup itu ada kamu…
Ada aku……
Pahami dulu regukan harapku sebelum lidahmu menyisipkan serpihan kata…

Kamu sendiri… Benarkah?

Sadarlah… aku disini…
Untukmu…

Dan sekali lagi dia bertanya, ‘Kamu dimana, Cintaku?’

Dia di depannya…
Sekejap mata dan dalam sekali tarikan nafas…
Tak sedetik pun pikirannya beralih…
Hanya pemuda itu yang meringkuk kelam di hatinya
Menyesap sari pati empedu cinta dengan kuncupnya yang mulai merekah…
Dan kini ada di pelupuk matanya…
Gadis itu terdiam dengan kertas yang semakin basah tergerus keringat…
Masih tergenggam erat di lentik jemarinya…

Lihatlah, dia masih begitu muda!
Berambut hitam, berkulit kuning langsat, berbadan tegap dan bidang…
Dia halus tanpa celah…
Tak ada noktah…
Lelaki yang mengagumkan…
Nirwana ini kah milikku? Gumam gadis itu dalam hati…

Dan dia menangis tiba-tiba…
Sang gadis bertanya, ‘Kamu? Air mata? Kenapa?’
Pemuda itu menjawab, ‘Maafkan aku, Rembulan! Sungguh Engkau cahaya perawan yang penuh naungan! Aku memujamu… Tak setitik sel tubuhku yang meragukan cintamu padaku…’

Keheranan mulai terpancar di wajah sang gadis
Namun, dia menutupinya dengan hujaman kata-kata cinta…
‘Aku tahu, Cintaku! Aku tahu! Tapi kenapa tiba-tiba Engkau begini? Apa daya salahku hingga guratan silau kesedihan terangkum di wajah sucimu?’

Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya dengan tumpuan lututnya sendiri.
Dia merintih…
Memeluk kaki sang Gadis… mencekamnya kuat-kuat…
Tak bisakah dosa ini dikembalikan?
Tampar waktu dan balikkan dia, tapi dia tak bisa…

Dan kenyataan mulai menampakkan dirinya
Mata suci sang Gadis mulai terbuka
Membelalak di sudut terkelam dalam hidupnya…
Hatinya hancur tak ada kepingan yang terbuang…

Seonggok perempuan
Telanjang
Tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya
Merupakan raganya…

Perempuan itu tertunduk lesu…
Dengan keringat yang terus mengalir di belantara kulit mulusnya yang terlihat matang
Dia tak mampu memandang sang Gadis…
Dadanya sesak…
Dan dia masih telanjang…
Namun terlilit kelambu dosa

Perempuan itu berkata,
‘Maafkan aku! Aku tak tahu…’

Dan sang Gadis membalas dengan sentakan kebataan yang hina mengiris…

‘Ma… Mama… Kenapa?’

Kertas merah jambu itu pun jatuh ke lantai…

Semuanya luntur…

Advertisements

Tersisih #1

Judul asli, ‘Tepian Cinta yang Tersisih’ Bagian 1

Cinta semestinya anugerah yang terindah

Bahagialah bila kau rasa…

Dan cinta mungkin saja buat kita merasa melayang bersama bintang di angkasa

Bila malam tiba, cinta datang menyapa, buka hati sepenuh jiwa

Dan biarkanlah ia, buat kita sempurna

Siramlah cintamu biarkan berbunga

Mengertilah, percayalah, cinta ‘kan membuat jiwa s’makin bermakna

Dan yakinlah, pastikanlah, hidupmu ‘kan menjadi lebih berwarna

Saat cinta menyapa…

Saat kau merasa, asamu telah sirna, hidupmu terasa semakin menyiksa

Siarkanlah cinta, buatmu percaya,

Mengerti akan, akan artinya,

Arti kata bahagia…

‘Arti Cinta’

By Joeniar Arief feat. Vitha Octrieana

Pemuda itu terlihat terburu-buru merapikan file-file kantornya. Menuliskan sesuatu di atas secarik kertas dan sekejap meletakkan gagang head-set di ujung tiang microfon yang ada di hadapannya. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya sambil mengernyitkan dahi. Berpikir bahwa dia telah melakukan tindakan yang salah. Tapi ini berbeda. Bukan seperti itu. Pikirnya dalam hati. Dia harus cepat dan minta maaf kepadanya. Dia terlambat melangkahkan kakinya untuk menemui dia. Dia yang datang dari jauh.

Ya Tuhan, kenapa waktu berjalan sedemikan cepat?

Dia menunggunya…

Dia membelenggukan diri dalam kontraksi waktu yang mengikat

Untuk dia…

Dirapikannya kemeja hitam yang melekat di badannya yang bidang dengan otot-otot yang menonjol hasil gempuran latihan angkat beban selama bertahun-tahun. Parfum Bvlgari pun tak lepas dari wangi yang menghinggap di belantara kulitnya yang putih dan mulus. Dia lelaki, tapi dia begitu tampan. Tidak, dia lelaki yang cantik. Ujarnya dalam hati.

Dia, lelaki yang memuja keindahan seperti dirinya…

Memaknai sebuah keindahan dengan cinta…

Meskipun begitu, dia masih terlihat gugup. Begitu banyak pertanyaan yang muncul saat dia bertemu dia. Apakah dia orang yang tepat? Apa yang harus mereka bicarakan? Bagaimana jika pertemuan ini tidak sesuai harapannya? Bilamana jika dia salah tingkah dan membuat semuanya kacau? Dia menggila. Dia semakin gundah, namun dia harus bertemu dia. Dia ada di sini. Di kota ini. Dia semakin mempercepat langkahnya. Tak perlu lama lagi menunggu waktu.

Kenapa dia?

“Aku datang untukmu…”

Pesan singkat yang tertulis di ponselnya pun masih terbaca dengan jelas. Dilihatnya pesan itu untuk kesekian kalinya sambil memakaikan sepatu di kakinya. Sepatunya terasa sempit. Ataukah hatinya yang menyempit dengan pikiran buruk namun diinginkannya?

“Aku sudah di sini. Di tempat yang kita janjikan. Aku menunggumu. Sendiri. Duduk di samping jendela.” :*

Kerisauan semakin tak terhindarkan. Perlahan dia berlari. Menyabet tas ransel hitamnya dengan paksa. Dia harus menemuinya. Harus. Dia menunggu pertemuan ini terjadi. Akhir yang indah, pikirnya. Namun dia tak tahu apa yang terjadi. Benar. Saat cinta menyapa, semuanya memang terasa aneh. Ayunan langkahnya yang cepat dan gesit telah merobohkan hembusan angin yang menerpa saat pintu keluar terdobrak. Hatinya bergelora. Pintu terbuka. Mengumpatkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa terucap dari bibir hatinya. Serasa ngilu di sekujur tubuh indahnya. Namun nikmat memeka. Ini yang dia tunggu. Dia menunggunya. Dan sekali lagi dia berkata…

“Aku datang untukmu…”

Langkahnya semakin cepat di jalur trotoar. Cafe itu berada di depan kantornya. Namun, kenapa jaraknya makin jauh? Apalagi dengan gelombang kendaraan yang berlalu-lalang saat jam makan siang. Telah menghalangi hentakan kakinya. Dia tak kuasa menghindari ini semua. Halangan ini jangan sampai menggagalkan kisah yang diinginkannya untuk menjadi kenyataan.

Tiba-tiba deru kakinya terhenti. Dia mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat jembatan penyeberangan yang melintang di atas aliran kendaraan yang mengganas di sungai aspal. Penuh kuasa. Namun, perlahan dia menunduk. Dia berpikir.

“Tak butuh banyak waktu. Aku segera ada untukmu…”

Diabaikannya kemegahan jembatan itu. Dia menerobos luapan asap jalanan. Menghindari mobil. Merentangkan tangannya untuk menghalau sepeda motor dan angkutan kota khas kota besar.

“Goblok! Jangan menyeberang di jalan. Ada jembatan di atas kepalamu. Sadarlah!”

Umpatan itu terlontar dari bibir seorang pengguna jalan dengan nada keras dan mencaci. Dia mendengarnya. Tapi dia menutup telinganya dengan hati. Tak diindahkannya semua itu.

“Apa pun kulakukan untuk menemuimu… Apapun…”

Di tempat lain. Seonggok manusia terduduk diam di atas sebuah sofa warna krem. Seorang lelaki berkaos biru dengan kerah V. Kulitnya yang kecoklatan namun bersih mengkilat. Mukanya dipenuhi rambut-rambut tipis. Khas kejantanan dari Amerika Latin. Ditambah dengan tubuhnya yang maskulin dan terlihat atletis, tak urung menjadi perhatian beberapa pengunjung cafe itu. Bahkan pelayan-pelayan yang berbaur dengan pekerjaan mereka, tak kuasa menolehkan dan menajamkan matanya hanya untuk melihat guratan yang diciptakan Tuhan di badannya.

Lelaki itu. Sesekali dia melihat ke arah jendela kaca di sampingnya. Memastikan bahwa dia di tempat yang tepat. Jari-jarinya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Keringatnya keluar meski ruangan itu ber-AC. Alih-alih dia memesan sesuatu, daftar menu makanan yang telah diberikan oleh seorang pelayan cafe beberapa menit yang lalu pun hanya tergeletak mati di hadapannya. Tak terjamah. Tak tersentuh sama sekali.

“Dimana dia? Dia datang ‘kan? Aku menunggumu…”

Saat dia melihat kaca untuk kesekian kalinya. Matanya membelalak. Sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum paling indah miliknya. Dia merasa kesejukan mulai menyelimuti kulitnya yang kecoklatan. Bunga lily putih bermekaran di sekelilingnya. Iya, dia menggandrungi lily putih itu. Bunga itu sedang bergulat dan berlari menerobos rentetan asap jalanan di luar sana.

“Dia menepati janjinya untuk menemuiku. Dia ada. Tidak. Dia hampir ada untukku.”

Sekonyong-konyong, dia melakukan kesibukan tak terencana. Ini konyol. Pikirnya. Dia mulai memegang dan mengotak-atik ponselnya, hanya untuk membenahi suasana yang tak jelas. Merapikan letak jam tangannya secara paksa. Dan berujung dengan dijamahnya daftar menu makanan yang sejak tadi tergeletak tak bergerak. Dia mulai menulis sesuatu di atas secarik kertas menu itu.

“Aku pesan sepiring pertemuan. Segelas cinta. Semangkok asmara. Dan sebotol kasih.”

Di pelataran yang panas menyengat, pemuda yang berlari itu akhirnya sampai di pintu gerbang cafe. Dia mulai membuka pintu. Dan dalam se per sekian detik gelora udara yang dingin mulai merontokkan kisi-kisi hawa panas dari luar. Dia menghela nafas. Tapi ini harus cepat. Dia masih di sini. Dia dan dia harus memakai kesempatan yang diberikan oleh keganasan penakluk waktu. Harus.

Langkah kakinya semakin diburu waktu. Dia menaiki tangga layaknya menjangan dikejar singa. Dia mangsa dan mengharapkan untuk dimangsa. Oleh cinta. Dia bersemangat, tapi terlihat jelas raut mukanya menggambarkan sebuah keraguan. Keraguan terhadap apa yang akan dilihatnya. Dia lah…

“Apakah benar dia?”

Kepalanya menoleh ke setiap sudut ruangan itu. Tak sesenti pun terlewat. Perhatiannya hanya terfokus pada seseorang yang duduk di dekat jendela.

Jendela hatinya.

Pupil matanya tiba-tiba membesar. Dia melihat sesuatu yang diinginkan hatinya. Sesosok manusia duduk tenang, menunduk, dan di dekapan jemarinya terapit sebuah pensil. Dia masih menunduk. Waktu perlahan menuntun langkah kakinya untuk mendekati sesosok manusia itu. Dia berkaos biru. Badannya terlihat matang dan penuh dengan kuasa seorang pria sejati. Pasti banyak wanita yang mendambakannya. Bahkan pria di dunia ini. Yang tentu mengenalnya seperti dia mengenal dia.

Sedetik tak terasa…

Dia berucap dengan kata yang menghenyakkan lelaki itu dari kesibukan hasil buatannya.

“Hai Mas…” salam pemuda itu. (Wahai denyut jantungku…)

“Hai Dek! Ayo duduk…” jawab lelaki itu. (Engkau datang! Bersandarlah di tubuhku…)

Kenapa hanya ‘hai’ yang terucap? Bukan ini! Seharusnya tidak seperti ini.

Mata mereka bertatapan. Saling pandang. Jika waktu bisa berhenti. Biarkan mereka saling memancarkan pesonanya satu sama lain. Pancaran mata tak bisa dibohongi. Dia meradang. Dia teradang. Sungguh ini nyata. Dan guratan senyuman pun mulai nampak. Samar-samar tapi pasti terjadi.

“Maaf! Membuatmu menunggu lama, Mas!” (Biarkan waktu terhenti! Ku mohon! Biarkan mata pendosaku ini bisa melihat surga itu. Di wajahmu…)

“Tidak, Dek! Tidak apa-apa. Waktuku banyak untukmu.” (Seumur hidupku jika engkau menginginkannya. Ku berikan!)

Mereka bersalaman. Pertemuan antara kulit dan kulit. Ini nyata. Keduanya bersentuhan. Aliran darah dari sekujur tubuh sepertinya hanya bermuara di satu titik. Telapak tangan. Biarkanlah ini terjadi. Relakan setiap senti dari hamparan pori-pori kulit itu menyatu dalam sebuah genggaman yang menyatukan denyut nadi dalam intonasi dan tangga nada yang sama. Bebaskan helai kulit ari mereka menempel layaknya lem kanji yang telah lama diaduk. Kuat dan erat. Dan ini terjadi. Bukan kepalsuan.

“Apa kabar, Mas?”

“Baik sekali. Kamu? Sudah selesaikah pekerjaanmu?”

“Baik juga. Sudah selesai semuanya. Dan aku sekarang di sini. Kamu?”

“Sama. Sejam lalu aku baru saja bertemu klienku di kota ini. Dan sekarang aku di sini. Bersamamu.”

“Akhirnya kita bertemu ya Mas…” (Akhirnya kilatan cahaya itu bisa aku lihat dari matamu…)

“Ya. Akhirnya…” (Akhirnya hembusan angin itu terasa nyata lewat nafas kata-katamu…)

“Kamu pesen gih! Aku sudah.” ucapnya lirih.

“Iya Mas!” balasnya sambil membuka daftar menu dan menuliskan pesanannya di atas sehelai kertas.

“Aku pesan seraut harapan. Secangkir pesonanya. Dan sesendok aura. Aku memesan dia untukku.”

Semenit kemudian di menyerahkan kertas itu ke lelaki di hadapannya.

“Mbak! Ini pesanan kita.” (Menu hatiku untuk jiwa yang kita punya… Mengertilah!)

“Oke! Satu Kwetiau Goreng, satu Nasi Cumi Lada Hitam, satu es teh tawar, dan dua air meneral! Baiklah! Tolong ditunggu ya!” kata seorang pelayan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Bukan makanan itu. Bukan minuman ini. Tapi ada harapan lain yang dia dan dia inginkan. Semua bisa dialihkan, tapi apa daya saat waktu memberikan jalannya. Semua hasrat ini bisa terwujud. Pertemuan ini.

Dua bulan yang lama itu sekarang telah meluruh menyisakan sebuah pertemuan manis. Pesan singkat yang terkirim bertubi-tubi setiap harinya, telah merobekkan jala yang menghalangi sebuah tatapan langsung dengan makna yang terjuntai tanpa henti. Mereka bertatapan. Terkadang kekakuan bisa dilenturkan hanya dengan sebuah tatapan yang meneduhkan. Hingar bingar manusia lain tak tergubris. Dunia semakin kecil. Waktu terasa berhenti. Lagi dan lagi. Hanyutan tawa kecil dan nada yang membuat telinga tak bisa berhenti mendengar seakan membawa sebuah asa. Dia ada karena dia datang. Datang menemui dia dengan lantunan nada yang tak terdengar namun terbisik di hati masing-masing.

Letupan janji-janji pertemuan itu telah menjadi sebuah ledakan yang membahana dalam ruang kecil mereka. Milik mereka sendiri. Sang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka pun hanya dianggap sebagai sebongkah boneka yang tak bisa menghalagi rangkaian kata yang mengalir dan rengkuhan mata yang membisu namun memaknakan sebuah pusara dunia dimana mereka tak tahu apa itu. Dan dari mana itu.

Pekerjaan, keluarga, teman, kuliah, karir, dan perbincangan lainnya terlantun dengan tenang. Dentingan sendok di atas piring dan gelas kaca, seakan bertindak sebagai sebuah instrumen musik yang mengiringi alur nada percakapan mereka. Begitu indah, dan hanya mereka yang tahu lirik lagu itu. Waktu, tetaplah begini. Jangan bergerak saat dia menginginkan semuanya berjalan dalam genggamannya. Pertemuan ini mempercantik dunia mereka. Menggetarkan pori-pori hati dan jantung mereka dengan sapuan nuansa gelombang yang tak mereka mengerti. Apapun itu.

Pemuda itu tersenyum…

Lelaki itu tertawa…

Dia terdiam, memperhatikan…

Matanya tak pernah terlepas dari sorotan itu…

Berkata…

Berbicara…

Bercerita…

Berpusara untuk kesekian kalinya…

Dalam rotasi perasaan yang tak jelas

Teralami oleh dia dan dia…

nb. Tolong! Siapa pun kamu… lanjutkanlah cerita pertemuan ini… buatlah menjadi akhir yang bahagia, sedih, dan terserah kamu… berpikirlah di luar kotak… sisihkan dulu idealismu… pandanglah cerita ini secara realistis namun gunakan pilihan diksi yang indah, elegan, dan khas kamu… Terima Kasih…

Selamat Sore, Maria!

Aku cuma terduduk sibuk di depan komputer lama ayah yang sekarang telah menghiasi isi kamar kosku yang sempit dengan kipas angin mungil berada tepat di sampingnya. Tanganku tidak berhenti menekan tombol-tombol keyboard, mencoba mencari data penting yang aku perlukan untuk menguak misteri itu. Aku bisa, aku pasti bisa membongkarnya! Pikirku dengan keyakinan tinggi, masih tetap berkutik dengan tombol dan monitor kmputer. Sebentar lagi Mal! Sebentar lagi! Kamu bakal tau ada apa dengan semua ini.

Semua file dan folder sudah hampir semua ku jelajahi, tapi dimana data itu. Aku perlu data dan foto-foto itu. Kipas angin yang sejak tadi berputar cepat di sampingku, tidak dapat mendiamkan peluh yang sejak tadi mengalir deras di kening dan leherku.
Sejenak aku berpikir keras, kenapa? Dimana? Bagaimana semua ini dapat terjadi? Oh damn! Shit!

Acong, yang aku pikir dia sahabat baikku, sungguh tega melakukan pengkhiatan ini padaku, di depan mataku pula! Andai saja aku tahu sejak lama kalau dia bisa melakukan perbuatan terkutuk itu, sungguh, bakal kulumat dia di depan orang tuanya.
Tapi yang sekarang kubutuhkan cuma file itu.
File…
File dan foto…
Sejenak mataku tertegun dengan folder yang begitu asing kulihat beberapa lama ini, tepatnya setelah ayah memaketkan komputer ini dari Kediri ke Surabaya. Folder itu bertuliskan ‘lobby’. Hah? Lobby? Sepertinya aku tidak pernah menggunakan kata itu sebagai nama folder. Dari dulu sampai sekarang, nama-nama folder yang kugunakan semuanya menggunakan istilah dari novel Harry Potter kesukaanku, seperti pensieve, nimbus 2000, broom stick, dan sebagainya. Tapi folder ini? Aneh, pikirku.
Tapi masa bodoh! Toh ini komputer milikku, aku bebas meng-otak-atik sesukaku, terserah file apapun yang tersimpan di dalamnya. Hal itu karena komputer ini tidak hanya aku pribadi yang menggunakannya, Gilang dan Doni juga sering meminjamnya, meski hanya digunakan untuk nonton bokep yang selama ini mereka koleksi hasil download dari internet.
Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan file penting itu juga tersimpan di dalamnya.
Pencarian pun berlangsung.
Detik demi detik aku mulai membuka satu per satu file dan folder yang ada, meski sesekali berhenti untuk melihat sekelumit gambar-gambar porno yang ada di dalamnya. Gila! Banyak banget barang-barang mesum yang mereka simpan di komputerku.
10 menit
20 menit… dimana? Dimana file itu?
Tai!!!
Aku sudah muak dengan semua ini, aku tidak mendapatkan hasil apa pun. Semuanya nihil! Anjing!
Umpatku.
Tiba-tiba aku teringat dengan folder yang dulu Doni pernah bilang kalau dia meng-hide salah satu folder pornonya. Tapi di mana? HP yang terdiam membujur kaku di atas tempat tidur segera ku ambil. Langsung ku pencet tombol yang menghubungkan aku dengan fitur phonebook.
KOM Doni… KOM… Nah ini dia!
Aku pencet tombol dial, sejenak tedengar hampa, namun tiba-tiba muncul nada ‘bip’ kemudian nada tunggu.
“Hallo, apa Mal?” sapa Doni di seberang sana.
“Eh Don! Masih inget gak file yang lo hide di komputer gw beberapa waktu lalu, yang lo bilang itu ‘something special’?” tanyaku terburu-buru.
“Yang mana to?”
“Yang dulu pas gw pulang kuliah, lo ma temen-temen lo buru-buru hide folder porno itu, itu tuh yang pas gw datang sama pembokat gw itu lho?” pertanyaanku semakin memburu waktu.
“Oh iya, aku inget! Tapi aku lupa narohnya dimana?”
“Lho gimana sih?” aku semakin jengkel dengan jawabannya.
“Ya maap, tapi bentar, dulu komputermu itu ‘kan pernah kamu instal ulang to? Mungkin aja ikut kehapus! Tapi mending kamu cari dulu di folderku or punyanya Gilang!” jelasnya.
“Sudah Goblok! Tapi gak ada… Wes gini aja, kasih tau gw apa password buat buka hide-folder itu?”
“Bentar… sandinya agak mesum Mal! Hehehehe…” jelasnya sambil tertawa tidak jelas.
“Halah, aku udah kebal ma hal-hal porno and mesum kayak lo! Cepetan! Passwordnya apa?”
“Vaginawati…heheheh” jawabnya singkat.
“Anjing, dasar maniak lo! Yo wes thanks ya!”
“Oke, Assalamualaikum!”
“Hah! Wa’alaikumsalam!” jawabku. Busyet itu anak sudah terlahir mesum masih inget salam juga ternyata.
… … …
Kembali tangan dan mataku fokus ke komputer. Pencarian dimulai lagi. Aku mulai mencoba menjelajah kembali ke folder Doni dan Gilang. Pertama ke folder Gilang dulu. Aku klik folder dengan nama ‘insomniac’, terus aku klik bagian ‘tools’ dan muncul fitur ke program hide folder and file. Aku masukkan password tadi. Dan klik.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak muncul folder tersembunyi.
Oke kayaknya tidak ada, pikirku.
Kemudian aku memasuki folder Doni dengan nama ‘necking’, ya… tetep mesum sama seperti yang punya. Aku melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang aku lakukan sebelumnya. Dan klik!
Tidak muncul…
Sama sekali tidak ada folder tesembunyi yang muncul.
Damn!
Aku sudah mulai jengkel, ingin banget ngomel-ngomel sendiri, tapi aku sedang tidak mood mengeluarkan suara berlebih yang pasti tambah bikin rusak suasana.
Sepi
Diam
‘broom stick’
Folderku? Mungkin saja.
Langsung aku meng-klik folderku itu, dan memasuki program hide. Sama seperti sebelumnya. Pas terakhir aku klik.
Tiba-tiba muncul folder samar-samar
‘nippon’
Hah? Folder apa itu? Benarkah di dalamnya ada file rahasia itu?
Data dan foto penting yang dapat mengungkap misteri yang kini sedang ramai dibicarakan?
Aku mulai merinding, panas-dingin mulai menyerang tubuhku.
Aku klik folder itu…
Dan benar! Ya Tuhan, inilah data penting itu!
Aku segera menyalakan printer yang tepat berada di bawah meja komputerku. Printer-machine itu baru ku beli beberapa waktu lalu, dan tinta yang keluar dari mesin itu masih bagus. Hasilnya pun masih tajam. Kertasnya masih cukup. Pikirku sambil mengecek dan memprogram mesin itu hingga siap digunakan.
Waktu semakin berjalan lebih cepat, tidak biasanya, pikirku tanpa logika.
Segera ku cetak semua data dan foto itu.
Dahsyat!
Aku telah menemukannya!
Berlembar-lembar jurnal dan tulisan telah tercetak dengan jelas.
Thanks God!
Lembaran-lembaran kertas dengan judul “RIWAYAT HIDUP DAN KOLEKSI FOTO MARIA OZAWA (MIYABI)” telah berhasil tergenggam di tanganku.

Judul aslinya adalah Lembaran Sore bersama Maria Ozawa, ditulis ketika otak mulai buntu dengan deadline jurnal kuliah, salah satu pengencernya adalah ‘nonton bokep’.  6 Februari 2010

Seteguk Rindu Keluarga

Mimpi paling indah untuk kamu yang sekarang jauh dari keluarga.

Semoga bisa memberikan hal terindah untuk kamu.

Kisah nyataku…

30 Juni 2011

Tepatnya tadi malam aku mendapatkan mimpi yang bisa mengingatkan kita betapa pentingnya keluarga dalam kehidupan ini. Sungguh berartinya ciptaan Tuhan itu hingga kita akan benar-benar menyesal jika ‘tak bisa mencium dan memeluknya saat mereka terpisah jauh dari kita. Ya, benar. Mereka adalah ayah, ibu, dan saudara-saudari kita.

Tuhan Maha Kuasa. Dia menciptakan mimpi yang membuatku menangis tertunduk sehabis sholat subuh pagi ini. Bersujud dan mengisak di atas sajadah merah yang tergelar di atas karpet. Sungguh indah dan mengagumkan karya-Mu, Rabb.

Berawal dengan gambaran seorang pria berumur sekitar 35 tahun. Memakai pakaian kerjanya sebagai seorang intelejen. Sibuk dengan urusan pribadi dan tenggelam dalam hiruk-pikuk metropolitan yang sedemikian rupa melepas semua batasan waktu. Terlihat pula stasiun-stasiun angkasa yang menggantung di langit kota. Lahan parkir susun khusus mobil-mobil terbang dan kendaraan umum yang menggantung di ujung kawat. Yang entah dimana ujung kaitnya karena tertutup awan saking tingginya. Dapat dilihat pula restoran cepat saji  Mc Donald yang terletak di atas sebuah roof-top gedung 30 lantai, dimana bangunan unik bertingkat itu menyorotkan cahaya lampu melimpahnya ke seluruh penjuru. Lengkap dengan banyak lampu mercury yang menembus langit kota. Disampingnya ada tulisan besar menggantung dan mengkerjap-kerjap, ‘Open 36 Hours a day’. Masya Alloh, luar biasa masa depan nanti. Waktu yang diciptakan oleh Illahi yang hanya 24 jam sehari pun bisa dimodifikasi menjadi lebih panjang dari biasanya. Dan benar, itu lah keajaiban mimpi. Membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan membuat kemungkinan itu menjadi nyata di kehidupan sebenarnya. Hanya Tuhan yang tahu.

Kembali ke cerita mimpi. Di kota besar itu aku digambarkan sebagai seseorang yang sibuk dengan pekerjaanku sebagai agen badan intelijen yang mengharuskan mobile-working setiap waktu. Memberikan perlindungan dan menyelesaikan kasus keamanan dan pertahanan pada rakyat sipil. Serta sedikit menyombongkan diri –penyakit yang tak kunjung sembuh- di depan khalayak bahwa kita memiliki pengaruh dan kuasa tinggi atas segi keselamatan mereka. Dengan rumitnya pekerjaan yang harus dijalankan dan rentetan jadwal citizens guide –patroli ke rumah-rumah penduduk, agak aneh memang- mendadak aku ‘tak bisa menyelesaikan satu pekerjaan yang teramat penting. Hujatan dari atasn yang mewakili pemerintah mulai datang. Ancaman pemecatan siap menghujam di atas glass paper –kertas kaca, semacam surat LCD setipis plastik tembus pandang-. Bertubi-tubi kolega dan rekan kerja mulai memberikan mimik buruk dan menciptakan jarak dari kehidupanku. Tak ada waktu lagi yang dapat digunakan untuk menyembuhkan semuanya. Aku berhenti. Aku tertancap. Diam dan diam. Seakan dunia runtuh menimpaku. Tidak ada seorang pun yang mendukungku. Tak ada senyum ceria yang menghangatkan hatiku. Tak ada satu orang pun yang meredam emosiku.

Kehidupan workoholic yang takut akan kehilangan segalanya mulai meleburkan sisi-sisi idealismenya. Tak ada pasangan hidup. Dan seakan sahabat dekat pun susah untuk didapat. Semua hanya sebatas formalitas profesionalisme dari kehidupan yang aku jalani.

Gila.

Beku.

Mati.

Cahaya

Kilat

Tiba-tiba aku terlempar ke dalam sebuah kumparan dan lorong panjang. Aku melayang dengan kecepatan tinggi menuju ujung lorong yang teramat jauh terlihat. Dan diujung lorong tersebut aku melihat cahaya putih yang memancar bagai geliat sinar mentari di siang hari. Sementara itu di dinding lorong tersebut, aku bisa melihat gambaran masa-masa kehidupanku yang telah terlewati. Dan itu semua terlihat dalam sebuah layar-layar video yang banyak sekali. Aku bisa melihat diriku saat wisuda kuliah. Melihat pesta ulang tahunku yang ke-23 tahun. Tampak pula saat aku sujud syukur di depan kamarku sambil memegang pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Dapat dilihat pula wajah kecewa ayah saat aku mengamuk karena ‘tak dibelikan sepeda motor. Apa?! Ayah kecewa!? Bukannya pada waktu itu Ayah marah besar dan hampir menamparku seusai aku pulang sekolah. Aku masih memakai seragam putih-abu-abu sambil menggerutu di depan Ayah minta dibelikan kendaraan itu. Aku berteriak padanya dan mengancamnya bahwa aku ‘tak akan masuk sekolah meski keesokan harinya aku tetap berangkat naik bis ke SMA-ku. Sekali lagi hatiku tercabik. Ternyata Ayah tidak marah. Beliau dengan wajah marah masuk ke kamarnya. Mengambil sebuah buku kecil dan secarik kertas, menunduk, dan meletakkan buku kecil itu di dadanya. Melihat kembali tulisan yang ada di kertas itu. Aku yang masih melayang di lorong panjang, sedikit menghentikan laju perjalananku. Meletakkan tanganku di layar dan menyentuh wajah ayah yang menunduk. Air mataku mulai jatuh. Bukan hanya jatuh, tapi mengalir deras. Terlihat sangat jelas huruf-huruf yang tergores dengan tulisan latin khas tgoresan ayah. Membacanya pun aku tak sanggup berkata apa-apa. ‘Tabungan Kuliah untuk Amal, Anak Keduaku yang Aku Banggakan.’ Dan dia membuang buku kecil satunya ke atas tempat tidur. Bertuliskan, ‘Tabungan Haji, ONH Plus’

Tuhankuu….

Ya Rabbi….

Betapa durhakanya aku! Betapa nistanya aku. Telah Engkau berikan seorang ayah yang memberiku kehidupannya. Yang merelakan mimpinya hanya untuk menciptakan kehidupanku di masa depan. Ya Rabbi. Kembalikan ayahku! Aku hanya ingin bersimpuh di kakinya dan memeluknya. Minta maaf atas kelancanganku selama ini.

Perlahan aku mulai terhempas lagi. Masih melayang di lorong panjang itu. Masih melihat layar-layar yang merekam kehidupanku di masa lalu. Melihat tubuhku terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Memandang kagum seorang wanita terindah yang masih memakai  mukena putih dan mengecek selang infusku. Kemudian wanita itu kembali duduk di atas sajadah merahnya. Menengadahkan tangannya ke atas. Meminta sesuatu pada Sang Khalik. Seperti biasa, beliau selalu menitikkan air mata dalam doanya. Ibu. Jika Tuhan benar-benar menurunkan malaikat-Nya ke bumi. Aku telah memilikinya. Ibu. Itu ibundaku. Pahlawanku.

Dia tidak tidur demi menyamankan diriku yang merintih sakit akibat demam berdarah. Dan opname selama 7 hari itu perlahan melabilkan emosiku. Ibu yang membaca Al Qur’an dengan suara lirih agar aku ‘tak terusik saat terlelap. Beliau sangat tanggap saat aku harus buang hajat dan tak bisa ke kamar mandi sendirian. Aku ‘tak sanggup lagi berkata apa-apa. Menangis. Iya, aku menangis lagi. Ibu telah menengadah dan merintih kepada-Nya saat aku hanya bisa meronta. Kenapa aku harus terbaring di atas kasur keras dalam sebuah bangsal rumah sakit yang ditempati 3 pasien lain di ruangan itu. Mengapa aku harus kehilangan kesempatan ikut kompetisi pidato gara-gara penyakit ini? Aku masih menyalahkan ibu mengapa aku tak ditempatkan di ruang VIP agar aku cepat sembuh? Aku dan mengapa. Aku dan kenapa.

Ya Tuhanku…

Sekali lagi betapa hamba kurang bersyukur atas semua karunia dan nikmat malaikat berupa ibu yang Engkau berikan kepadaku. Betapa bodoh dan sangat kurang bersyukurnya aku pada waktu itu. Ibunda. Maafkan anakmu yang tak pernah memahami bagaimana perjuanganmu ini. Maafkan aku, Ibu!

Angin mulai meniup tubuhku lagi. Menjauh dari kebekuan di depan layar yang menunjukkan wajah ibu. Aku terhempas lepas.

Memcingkan mata dan menggigil, aku mulai melayang tebang. Melihat layar-layar berikutnya yang mengelilingiku di lorong itu. Melihat Kak Fina yang mengobatiku saat aku tertimpa dinding kamar mandi yang roboh. Kenyataan bodoh saat aku masih berumur sekitar 7 tahun. Memanjat dinding kamar mandi lama yang ada di belakang rumah. Masih mengenakan seragam sekolah dan sempat ingin kabur siang itu demi menghindari anjuran ibu untuk tidur siang. Dan sialnya, ibu telanjur marah. Menutup pintu dapur dan pintu depan rumah. Sehingga aku ‘tak bisa bergerak kecuali berputar-putar di halaman belakang rumah. Namun, bukan aku yang nakal jika tak punya akal cerdik. Aku memaksa naik ke dinding rapuh di dekat kamar mandi. Dan dengan bobot tubuh yang berat dan melimpah dibanding anak-anak seumuranku pada waktu itu. Akhirnya tubuhku pun berhasil menghancurkan tegapnya tumpukan batu berlumut itu. Darah bersimbah, tubuh terendam dalam air comberan, dan badanku gatal-gatal luar biasa karena teringsuk di semak-semak lateng –sejenis tanaman semak yang membuat kulit gatal-. Dan aku berteriak membahana.

Tangan halus mulai menyentuh lenganku, menarikku dari tindihan batu-batu keparat itu. Seorang gadis belia yang masih mengenakan rok SD-nya, mulai menggendongku di punggungnya. Iya benar, itu Kak Fina. Dia melepas semua baju dan celanaku di kamar mandi. Mengguyurku dengan air. Dan aku masih bisa merasakan betapa perihnya luka yang mengalirkan darah dari kulit lengan dan pahaku. Kemudian Kak Fina memapahku ke tempat tidur. Membubuhkn obat merah di luka-lukaku. Menaburi bagian tubuhku yang bentol-bentol akibat tanaman lateng itu. Dan menyelimutiku setelah itu. Aku masih merintih dan menangis dengan kesakitan yang luar biasa itu. Namun, rasa sakit itu perlahan hilang ditelan bumi. Kak Fina selalu bilang: ‘Anak laki-laki itu harus kuat, Dek! Mbak aja kuat lho!’ sambil mengangkat bagian siku dan dahinya yang berdarah. ‘Mbak tadi habis bikin KO si Saeful! Menang telak! Jangan bilang ibu, ya!?’ Dan dia berlalu sambil meringis dan tersenyum kecil. Dan yang pasti, selalu berjalan pincang. Yah! Itu Kak Fina! My Super Girl.

Di saat yang sama, aku amat merindukannya. Dengan seorang pangeran cinta dan dua bidadari di pangkuannya. Dalam keluarga kecil yang tinggal di pinggiran kota. Kak Fina terlihat semakin cantik dengan jilbab yang dia kenakan. Baju berlengan panjang yang membalut tubuhnya, tak mengurangi kecekatannya saat menyuapi putri terkecilnya, Icha, yang terus merangkak lincah di atas karpet ruang tamu. Dan dia juga masih bisa membagi otaknya dengan membantu mengerjakan PR si Farah, putri pertamanya yang semakin pintar karena terus bertanya pada ibundanya. Kak Fina beda. Dia tumbuh menjadi seorang ibu rumah tangga yang seratus persen mengabdikan hidupnya demi putri-putrinya sekaligus suaminya. Kak Fina selalu bilang, ‘Cita-citaku sudah terwujud, Dek! Mbak wis sukses jadi wanita sempurna dan memiliki pekerjaan paling agung sedunia. Menjadi ibu.’ Dan dia kembali tersenyum kepadaku. I miss you, Kak!

Angin hangat mulai menerpa dadaku. Dan dengan sigap membenturkan kepalaku ke layar lain di lorong panjang itu.

Si penggerutu ada di depan mataku. Tersenyum.

Masih terngiang di benakku waktu melihat adik pertamaku Johan, berteriak-teriak di atas pohon dan memintaku menangkap setangkai buah rambutan yang dia dapatkan dari pohon rambutan belakang rumah. Aku lantas menangkapnya dengan sigap. Mengumpulkannya setangkai demi setangkai, dan memasukkannya ke dalam bakul plastik besar milik ibu. Dia selalu memintaku agar buah rambutan itu jangan dimakan dulu. Nanti saja saat nonton film Ultraman kesukaannya, begitu katanya. Tapi bebalnya aku, belum penuh sekeranjang, aku sudah banyak menelan daging buah berambut itu. Tak urung, adikku Johan marah besar. Sambil berteriak-teriak dia mulai meniti dahan-dahan di pohon itu dan memanjat turun. Aku sambil tertawa langsung mengambil banyak-banyak buah yang ada di bakul itu dan berlari masuk ke dalam rumah. Johan masih berteriak-teriak tidak rela. Mungkin karena hujan lebat semalam, dahan dan batang pohon rambutan itu agak sedikit lapuk dan licin di bagian kulitnya. Belum sampai ke dapur, terdengar suara debaman kecil dari arah pohon dan seketika itu teriakan nyaring Johan menghilang. Aku masih tertawa kecil sambil bersembunyi di balik pintu. Sesaat dari arah belakang rumah, Ibu berteriak. Johan jatuh dari pohon. Dia diam ‘tak bergerak. Dan rambutan yang aku pegang jatuh ke lantai.

Perban di kepala dan gips yang melingkar di lengannya, ‘tak bisa merusak ketampanan wajah adikku ini. Aku masih bisa melihatnya marah kepadaku dan beringsuk ke lengan ayah saat dia sadar di puskesmas. Aku hanya tertunduk. Antara malu dan merasa seolah menjadi orang paling bodoh sedunia. Dan hampir menangis jikalau Johan akan pergi selamanya hanya karena kenakalanku ini. Aku hampir menangis dan berucap kata maaf lirih kepadanya. Dan yang pasti masih dengan posisi menunduk. Namun, perlahan dia memandangku. Dan berkata, ‘Mas, kupasin rambutanku! Ayo maem bareng!’. Aku kaget. Aku mulai berani melihat wajahnya. Dan dia tersenyum. Dan aku segera merangkulnya. Namun, dia berteriak, ‘Mas, lenganku masih sakit!’ sambil tertawa kecil. That’s my Bro! The little teacher of life.

Aku kembali bergerak. Meluncur ke ujung lorong. Namun, udara yang menerpa dan melayangkan tubuhku ini sepertinya agak sedikit lembab.

Monitor yang aku lihat kali ini gelap gulita. Tidak muncul gambar apa pun seperti layar-layar sebelumnya. Sepertinya ada yang ganjil di layar ini. Akan tetapi, mendadak muncul jemari kecil yang mengusap-usap layar. Dan perlahan aku mengenali tangan itu dan melihat wajah si bungsu. Adikku yang luar biasa, Alan.

Menyaksikan adikku Alan yang sibuk mengipasi bara api dan membakar tusukan-tusukan daging kambing adalah satu rutinitas yang selalu dia lakukan dengan penuh rasa bangga saat Hari Raya Kurban tiba. Kami sering sekali melakukannya diam-diam bersama Kak Fina dan Johan di bawah pohon rambutan saat ayah sibuk menjadi panitia penyembelihan di masjid atau tidak ada di rumah. Ayah sering kurang suka dengan acara bakar-bakaran sate seperti itu. Beliau selalu bilang, ‘Nduk-Le! Jangan dibiasakan pesta bakar-bakaran. Daging kurban itu hak-nya fakir-miskin, sementara kita masih mampu beli. Nanti ayah belikan di pasar.’ Kami hanya bisa diam sesaat setelah ayah bersabda. Namun tidak si bungsu, yang sepertinya paling bersemangat dengan status barunya sebagai tukang sate. ‘Hoalah, Yah! Kita ‘kan dikasih sama masjid, lagian juga ndak nyuri to?! Rezeki ‘kan ndak perlu ditolak, Yah!’ Aku, kak Fina, dan Johan hanya manggut-manggut, mendukung opini dek Alan. Dan ayah melihat kami berempat dengan tatapan tajam. Sambil berlalu, beliau bilang, ‘Yowislah, anak-anakku paling pinter kalau ngeyel’. Dan kita berempat pun tersenyum. Tertawa cekikikan sambil membakar dan mengunyah daging-daging itu. Mecocolkannya ke sambel kecap. Membakarnya lagi. Dan mengunyahnya lagi.

Namun, di satu Hari Raya Kurban, ada sedikit yang berbeda dari hari raya ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada waktu itu ayah sakit sehingga beliau harus istirahat total di rumah. Ayah minta izin ke masjid agar tidak dijadikan panitia kurban pada tahun itu. Dan ini juga yang merubah raut muka si bungsu. Dari sejak pulang sholat ied dan setelah penyembelihan kurban di masjid, si kecil itu hanya makan sedikit dari sarapan yang telah ibu sediakan di rumah. Dia berpikir, jika ayah tidak menjadi panitia kurban, daging kurban pun pasti ‘tak datang ke rumah. Sementara itu aku dan Johan masih mengikuti kegiatan hari raya Idul Adha di sekolah kami masing-masing. Dan Kak Fina pada tahun itu belum bisa pulang kampung karena ada acara di kampusnya. Namun si kecil ini memang bisa dikatakan pantang menyerah. Seperti yang diceritakan oleh ibu. Putranya yang masih kelas 2 SD ini berlari ke masjid dengan membawa topi hitam yang sering dia gunakan bermain. Tak lama kemudian, tepatnya sesaat sebelum adzan ashar akan berkumandang, si bungsu ini telah pulang dengan membawa satu tas kresek daging kambing dan daging sapi di tas kresek satunya. Dengan bangga dia mulai membakar daging-daging  yang sudah dia bentuk serupa sate dan memamerkannya pada ibu. Ibu sampai terheran-heran bagaimana si anak ingusannya bisa mendapatkan daging itu. Dan ternyata, adekku yang nakal ini, sejak siang hari telah ikut menjadi panitia kurban dadakan. Dia ikut membantu membagi-bagikan daging kurban ke para penerima daging kurban. Dengan menaiki becak bersama mas-mas masjid yang jauh lebih tua umurnya dari dia, dek Alan mulai menjelajah seluruh desa hingga ke desa tetangga. Kami sekeluarga sampai berdecak kagum atas semangatnya yang luar biasa. Si kecil Alan telah menjadi motivator dadakan bagiku. Adikku yang luar biasa.

Dan saat sore tiba, dimana aku dan Johan sampai di rumah. Sepiring sate telah siap di meja dapur dekat kompor. Si bungsu selalu pamer. Sementara itu aku dan Johan hanya bisa menepuk dadanya dan mengusap kepalanya. ‘Edan kamu, Dek! Mantep tenan!’ kata Johan sambil tertawa kagum. Dan di sore itu, kami sekeluarga makan sate khas Alan

adikku dengan penuh kebanggaan. Memang benar-benar edan.

Keluargaku…

Itu keluargaku…

Benar-benar keluarga yang aku cintai…

Tak terasa aku telah sampai di ujung lorong. Aku terhempas dan menemukan diriku berdiri di sebuah halaman yang dipenuhi tanaman hias. Bougenvile, palem-paleman, adenium, dan beragam tanaman hias lainnya. Aku mengenali tempat ini. Dan saat aku menoleh ke belakang, aku melihat bangunan dengan dinding yang masih belum di cat. Sementara di sisi lainnya aku melihat jendela-jendela yang terbuka lebar. Aku tahu apa ini. Rumahku.

Namun ada yang terasa janggal. Rumahku sepi. Sangat sepi. Aku berteriak lantang memanggil semua anggota keluargaku.

Ayah.

Ibu.

Kak Fina.

Dek Johan.

Dek Alan.

Tapi ‘tak ada seorangpun yang membalas panggilanku.

Aku mulai kebingungan. Membuka semua pintu yang ada di rumah, namun ‘tak seorang pun ada di dalam satu ruangan. Senyap. Benar-benar senyap. Akan tetapi, bukan Amal jika hanya diam. Aku berlari ke teras depan, sepi. Aku mulai berlari ke arah belakang rumah, ke arah pohon rambutan, tak ada siapa pun. Dan berakhir dengan pikiranku yang mulai putus asa.

Aku payah dan capek. Sesaat aku telah terkapar di atas sofa ruang tamu dimana ayah sering membaca koran di kursi empuk itu. Dan mendadak aku terhenyak. Luar biasa kaget saat mataku melihat sebuah bingkai foto yang tergantung di dinding di depanku. Terlihat jelas sebuah potret keluarga bahagia. Senyum yang terpancar dari setiap orang yang ada dalam bingkai itu dengan jelas memancarkan sebentuk keluarga yang harmonis. Keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, dan putra-putrinya. Dan aku sadar, itu potret keluargaku.

Namun, degup jantungku serasa berhenti berdetak. Sesaat aku sesak nafas. Ada yang ganjil.

Di potret itu ada ayah, ibu, kak Fina, dek Johan, dek Alan, dan…

Dimana aku?!!!

Dimana bentuk diriku yang seharusnya menjadi anak kedua dalam potret keluarga harmonis ini?!!

Aku tidak ada…

AKU TIDAK ADA!!!

Wajahku mulai berurai air mata.

Dan sesaat setelah menyadari tidak adanya gambar diriku di dalam bingkai potret keluarga itu, aku juga merasakan hal aneh menyerang tubuhku.

Aku melihat tubuhku mulai menjadi balutan daging tembus pandang. Transparan. Dan perlahan menghilang. Awalnya kaki dan tanganku. Kemudian merambat ke seluruh tubuhku. Dan aku masih berteriak-teriak. Memanggil keras-keras semua anggota keluargaku.

Tidak bisa. Aku telah terlanjur lenyap.

‘Allahu Akbar-Allahu Akbar…’

Suara adzan subuh membuyarkan mimpi-mimpiku. Hanya istighfar dan menyeka keringat yang membasahi tubuhku yang bisa aku lakukan tepat saat jam dinding menunjukkan pukul empat pagi lebih beberapa menit. Ya Alloh, Ya Tuhanku. Mimpi yang aku alami ini begitu nyata.

Buru-buru aku beranjak dari tidurku. Mengambil air wudhu dan sholat subuh di masjid sebelah kosku. Mendoakan almrhum ayah yang telah lama bersama-Nya. Mendoakan kesehatan dan berkah kehidupan lahir-batin dunia-akhirat untuk ibu dan saudara-saudaraku. Untuk keluargaku. Untuk orang-orang yang mencintaiku.

Pagi itu aku sadar. Walau ayah telah lama tiada, aku masih bersyukur karena hingga sekarang aku masih bisa mendengar suara ibu, kak fina, dek johan, dan dek alan. Meski hanya lewat telepon.

Namun, entah sampai kapan? Aku pun ‘tak tahu. Dan yang lebih aku sadari, selama mereka masih ada, tidak ada alasan bagi kita untuk terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan melupakan mereka. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Cintai keluarga kita.

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.

Terima kasih.

Nb. Pagi itu aku menelepon Ibu dan Ibu hanya bilang, ‘Lha sekarang ibuk lagi sama mbakmu dan adek-adekmu lho Mas di rumah! Ayo kapan pulang? Mau dibakarin sate kambing?’

AKU SEGERA PULANG, BUNDA!

Lima Tahun Kehidupan

Dulu ada seorang bocah laki-laki yang mengagumi radio kecil miliknya. Kemana pun dia pergi, radio itu selalu dibawanya. Bukan tanpa maksud dia sangat mencintai radio itu. Benda produksi tahun 1993 itu adalah pemberian almarhum sang kakek saat usianya menginjak 10 tahun. Hadiah ulang tahun tentu. Sang Kakek selalu membuatnya tertawa lebar saat lagu-lagu gending jawa diputar oleh salah satu stasiun radio yang terdengar dari benda usang itu. Mimik muka dan bahasa jawa kental dengan guyonan jenaka ala komedian daerah yang ditirukan sang Kakek selalu membuatnya bahagia. Dia lupa kalau pagi tadi sempat dipukuli sang ayah dengan sapu lidi gara-gara lupa menyapu halaman sebelum berangkat ke sekolah. Dia tidak ingat lagi bahwa teman-teman bermainnya sempat mengikatnya di pohon belimbing siang tadi, dengan dalih dia berbeda dengan anak lain hanya berdasarkan kulitnya yang putih. Teman-temannya selalu bilang, “Lanang kok kulit’e putih, banci yo?”. Dia hanya diam saja. Setelah beberapa saat, bocah laki-laki itu pun pulang dengan lebam di pelipis kepala dan ada goresan berdarah di siku tangan dan kakinya. Tapi perih yang dia rasa sudah menjadi hal yang biasa. Perih di hatinya jauh lebih sakit dan membekas. Suatu hari dia pernah mengeluh kepada sang ibu, “Buk, kulitku kok putih ya? Temen-temen bilang aku banci…” Dan sang ibunda pun menjawab dengan bijak, “Mereka lho cuma iri sama kamu, Le! Mereka ndak tahu kalo kamu itu pinter dan berbakat. Suatu hari nanti kamu harus membuktikan pada mereka siapa sesungguhnya yang bisa dibanggakan!” Semenjak itu, si bocah laki-laki mulai merasa lebih tenang. Di sisi lain, sang ibunda pun menyadari bahwa putranya tidak bisa terlalu lama terkena sinar matahari. Dia tidak mau melihat anaknya terpuruk di UGD untuk ke sekian kali. Mimisan dan pingsan.

Kembali ke cerita sang Kakek.

Ayah dari ibunda bocah laki-laki itu sangat mengagumkan. Sang bocah selalu merasa bahwa kakeknya bisa menjadi penghibur untuk dunianya yang pada saat itu terasa gelap. Kakek selalu bilang, “Berikan kebahagiaan pada sesama. Insya Alloh apa yang telah kamu berikan, tidak akan sia-sia untuk kehidupanmu.” Seberkas cahaya kehidupan pikirnya. Selalu ada Kakek dan radio miliknya.

Namun di tahun 1997, si bocah menyadari bahwa hanya radio saja yang tidak memiliki nyawa. Sebagian kebahagiannya terenggut. Sang Kakek pergi untuk selamanya, meninggalkan dia dan radio usang miliknya.

Sang bocah mulai merasakan bahwa radio kecil itu membawa banyak perubahan hidup untuknya. Dia mulai percaya diri dalam menjalani hidup. Dia mulai menunjukkan bakat bicaranya di depan masyarakat. Dia mulai belajar banyak dalam menggali pengalaman dan jam terbang. Dan akhirnya di tahun 2007 dia hijrah ke kota Pahlawan. Bukan hanya untuk belajar, tapi juga mengambil banyak resiko untuk menjadi seseorang. Seseorang yang disebut ‘SESEORANG’.

Penolakan demi penolakan dari beberapa stasiun radio diterimanya dengan kekecewaan mendalam, namun disertai dengan pecutan semangat tinggi untuk menjadi seseorang yang berkarakter dan memiliki pangsa pasar tersendiri. Dia menggunakan apa yang telah diberikan Tuhan untuknya, yaitu seluruh paket di tubuhnya dan kemampuannya. Dia menyadari, bahwa kulit putih yang dulu sempat menjadi kutukan, ternyata sekarang mampu menjadi keajaiban. Pertama kali orang melihat diri seseorang, memang dari paket luarnya, kemudian gaya perilakunya, dan terakhir kemampuannya.

Dia menyadari bahwa Tuhan telah memberikan karakter khusus untuknya. Dia paling tahu akan kemampuan umat-Nya. Sang bocah laki-laki pun harus berubah menjadi lebih baik

Usahanya tidak sia-sia. Awal tahun 2010, sebuah stasiun radio menerimanya menjadi anggota keluarga baru. Ketekunan, kreatifitas, dan kerja keras terus dia terapakan dalam hidupnya. Pengorbanan waktu, tenaga, bahkan materi terus bergulir sebagai bentuk kerja kerasnya dalam menjalani hidup. Seiring dengan waktu yang terus berjalan, tawaran pekerjaan lain mulai menghampiri. Sang bocah laki-laki itu pun semakin menjadi seorang pria dewasa dengan keberingasannya dalam mengumpulkan sedikit demi sedikit materi yang dia peroleh. Rezeki adalah pemberian Tuhan, harus disyukuri berapapun jumlahnya. Pikirnya dalam hati. Sang bocah terus menerus berusaha belajar dari setiap kehidupan yang pernah dia jalani. Belajar dari pengalaman orang lain. Berlaku jujur, tenggang rasa, dan menghormati. Mencintai orang-orang disekitarnya. Dan yang pasti berusaha menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Suatu hari sang bocah laki-laki itu mengingat kejadian di tahun 2007. Saat itu dia berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam bis kota tanpa AC dengan udara Surabaya yang panas membara di siang hari. Saat bis itu terjebak macet, untuk pertama kalinya dia melihat gedung tinggi besar menjulang di hadapannya. Dia melihat orang berlalu-lalang dengan pakaian berdasi, turun dari mobil pribadi, seraya memegang handphone dan mengobrol dengan seseorang di belahan dunia lain. “Sungguh hebat!”, pikirnya. Saat itu dia berjanji dalam hatinya bahwa dia harus bisa menaklukkan kota ini. Dia harus bisa menjadi seperti mereka. Atau mungkin lebih.

Dan lima tahun berselang,

Sang bocah laki-laki masih menatap gedung tinggi itu. Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang satpam menyapanya, “Mas, selesai syuting ya? Mobilnya diparkir dimana?”

Sang bocah membalasnya dengan senyuman, kemudian berkata, “Disana Mas! Pulang dulu ya!” Dan dia berjalan perlahan meninggalkan sang satpam. Terbesit dalam hati, “Tuhan terima kasih banyak. Hidup ini indah. Alhamdulillah.”

Dari kejauhan di dalam sebuah bis kota, ada seorang mahasiswi, seorang pria, seorang wanita, dan penumpang lainnya menatap gedung tinggi besar itu penuh harap dan penuh doa…

Continue reading “Lima Tahun Kehidupan”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑