Pemakaman Ayah

Kepalamu menyembul lebih tinggi dibandingkan kumpulan orang di sekitarmu. Kau menoleh ke kiri dan kanan, mencari sesuatu. Atau seseorang lebih tepatnya. Tanpa beranjak dari tempat duduk, sosokmu terlihat menonjol dari kejauhan. Di sekelilingmu, hampir semua orang mengenakan pakaian berwarna senada seperti yang melekat di tubuhmu. Mereka hadir untukmu dengan membawa misi sama, belasungkawa. Datang sebagai tamu yang tanpa malu menampakkan wajah sedih penuh simpati. Ada pula yang asyik mengunyah sajian dan menyesap teh panas sambil bercakap lirih. Pantang menunjukkan raut wajah bahagia di tengah gelimpang nestapa. Sedikit  menimbulkan suara riuh, namun tetap santun. Sisanya sibuk dengan gumpalan benda padat dengan cahaya berpedar dalam genggaman. Mengetik sesuatu atau sekedar menggerakkan jempol naik turun di permukaan layarnya. Menikmati dunianya sendiri.

Dan kau duduk mengamati mereka di samping sosok beku berjas-berdasi yang tengah tidur di dalam kotak persegi panjang dengan matras putih tipis empuk terhampar padat di dalamnya. Selembar kain kasa tipis membujur dari atas kepala hingga ke kakinya menutupi tubuhnya yang kaku. Ayahmu yang tampan tidur dengan wajah tersenyum. Kedua tangannya menelungkup pada dada. Terdapat rosario perak di sela-sela jemarinya yang bersarung putih. Penuh kedamaian.

Ada satu hal yang sama antara kau dan mereka. Kalian berduka. Tapi duka mereka mungkin tak seduka lukamu. Kau terima belasungkawa mereka dengan jabat tangan dan anggukan kepala. Rasanya seperti mengulang adegan yang kau mainkan sebelumnya. 

***

Seperti waktu itu.

Kau dengarkan lekat-lekat suara seseorang yang memanggil namamu melalui pengeras suara. Ada rasa kagum membuncah ketika namamu menggema di setiap penjuru aula. Gambar wajah dan tubuhmu muncul dalam layar lebar yang terpasang memanjang. Mereka menantimu melangkah maju ke depan podium. Agar segera bisa disalami dan diselamati. Untuk dikukuhkan menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang akan segera menyongsong hari baru yang kian tak pasti. Ada kekhawatiran terbesit, tapi tak apa. Hari itu adalah harimu. Kemenanganmu melewati masa berproses menjadi manusia, yang entah mengapa, kau rasakan sebagai kegiatan penggugur kewajiban saja. Semua itu berlalu dengan hasil memuaskan. Bagimu, terutama ayahmu. 

Semoga saja dia melihatmu dengan bangga dari atas sana.

***

Sebagai gantinya, sesosok wanita hadir kembali menjadi pendampingmu. Dia yang sejak kemarin sibuk menyiapkan segala keperluan upacara duka cita. Sering dengan tiba-tiba, tangannya sengaja mengelus kepalamu dengan canggung dan hati-hati. Perlakuan yang sempat tak kau dapat sejak dia keluar dari rumah bertahun-tahun lalu. Meninggalkan kau dan ayahmu. 

Akan tetapi, semenjak mendiang ayahmu sakit, perlahan semua berubah. Sepertinya Tuhan mendengar doa ayahmu. Wanita itu hadir kembali dengan sosok nyata. Bukan hanya suara atau hamparan huruf dan angka dalam kotak surat digital. Berusaha mengisi kembali ceruk-ceruk kosong di hidupmu yang telah lama kelu dan hampa. Dingin. Jauh dari kesan hangat, sehangat pelukan ibu ketika kau masih dalam sapihan.

Kau tak pernah sedekat ini dengannya sejak ia hengkang dari hidupmu dan hidup ayahmu. Dari banyak buku yang kau baca, kau sadari bahwa manusia memiliki garis nasibnya masing-masing. Setiap keluarga memiliki karakter yang berbeda. Dari wanita itu, kau belajar bahwa figur ibu bisa jadi tak seerat hubungan anak dengan figur sang ayah. Dulu kau tak paham. Mencoba memahaminya pun terlalu berat untuk seorang anak seusiamu saat itu. 

Tapi kini, di sela-sela pergolakan batin, kau coba terima kembali segala sesuatu yang telah terenggut lama. Mencoba memaafkan segala hal yang telah terjadi sebelumnya. Sementara pikiranmu tak henti menepis segala pengandaian: seandainya ibumu saja yang dipanggil Tuhan, bukan ayahmu. Seandainya ayahmu yang mengelus kepalamu hari ini, bukan ibumu dengan suaminya. Seandainya ayahmu tidak pergi cepat-cepat dan ibumu tak usah repot-repot kembali. Seandainya dan seandainya. Isi kepalamu meracau liar.

***

Terhenyak dari lamunan, kau sadari bahwa hari ini bukan waktu yang tepat bagi racauan semacam itu memenuhi otakmu. Biarkan hari berkabung ini menjadi hari khusus untukmu dan untuknya. Hari perpisahan yang tak bisa tertunda. Hari dia yang tiada.

Tarik nafas dalam-dalam. Kau kembali tenang.

Wanita itu melihatmu dari kejauhan. Kau sunggingkan sedikit sudut bibirmu ke arahnya. Tangan kanannya melambai, mengisyaratkan keberadaannya. Dia membalas dengan laku sama. Seraya bibirnya bergerak, “Ibu disini,” Suaranya tak terdengar. Tapi kau paham. Kau balas dengan anggukan. 

Ibu cantik hari ini.

Dan memang selalu cantik. Sampai-sampai mendiang ayahmu tak pernah melanggar sumpahnya untuk tak menikah lagi. Janji pernikahannya terpatri terlalu dalam di jantungnya. Dalam susah dan senang, sakit dan sehat, atau kurang dan berlimpahan. Sumpah yang diucapkannya di depan ibumu. Di hadapan pendeta dan dua keluarga yang berkumpul syahdu di sebuah gereja kecil di pinggir kota. Kisah indah dirinya dan ibumu selalu menjadi dongeng pengantar tidur favoritmu. Bukan cerita wayang atau nabi-nabi yang melegenda. 

Waktu terus berjalan ketika yang pergi tak kunjung kembali. Perlahan kau muntahkan dongeng itu sedikit demi sedikit di tong sampah yang teronggok di depan rumah. Tiap kali nada suara tinggi ayahmu terdengar dari ruang kerjanya. Setiap kau melihatnya meluapkan amarah dengan gagang telepon, membantingnya ke lantai, dan akhirnya membanting apa saja yang dia mau. Gelas kopinya, tumpukan buku, mesin ketik, hingga suatu hari, bingkai foto keluarga yang menempel di dinding pun turut menjadi korban. Tergeletak di lantai dengan pecahan kaca berhamburan. Dongeng favoritmu pun ikut hancur berkeping-keping.

Bik Imah yang selalu bergegas membersihkan. Membereskan apa saja yang tidak benar agar tak terlihat olehmu. Padahal, dari balik dinding kamar dan pintu yang sedikit terbuka, kau sering terpaku menggigil. Tak bisa berbuat apa-apa. Kau bertanya kepada Bik Imah tentang apa yang terjadi. Jawabannya seringkali sama, “Bapak sedang capek, Kak.” Sama sekali tak memuaskan.

Sampai suatu ketika di jam pulang sekolah, pria berjambang tebal dengan kacamata hitam itu keluar dari rumahmu. Berhenti menatapmu dengan raut wajah datar dan sangar. Menggesek acak rambutmu dengan jemarinya yang besar-besar. Baunya wangi sekali. Seperti aroma rempah dicampur coklat samar-samar.

 

“Baru pulang sekolah?” tanyanya.

“I-iya Om …”

“Belajar yang benar ya!”

Kemudian dia berlalu. Bergegas menuju sedan hitamnya. Deru kendaraan yang semakin jauh terdengar, menandai sosoknya yang perlahan hilang dari pandanganmu. Siapa dirinya? Tanyamu dalam hati.

Dan kau temukan pria itu, ayahmu, duduk terpaku di kursi ruang tamu. Tak memperhatikan hadirmu. Kau rasakan sesuatu yang tak beres sedang terjadi di rumah ini. 

Esoknya, ketika kau akan berangkat sekolah, potret-potret wajah ibumu yang bertengger menghiasi dinding rumah sudah tak tampak lagi. Hilang tanpa bekas. Bingkai-bingkai foto keluarga di tengah jejalan perabotan rumah itu lenyap. Yang tersisa hanya segelintir potret wajah dua orang saja. Kau dan ayahmu.

Di halaman belakang rumah. Bik Imah sedang sibuk membakar sampah. Matanya merah berair. Mungkin karena terpapar asap. Atau mungkin tidak.

Tanpa perlu bertanya ke wanita tua itu, ayahmu menjelaskan tentang apa yang terjadi. Bahwa kini kalian hanya hidup berdua. Kau dan ayahmu saja. Bahwa kau tak perlu berharap lagi kapan ibu akan pulang. Tidak perlu cemas lagi. Tidak ada penantian lagi.

“Semua akan baik-baik saja, Nak. Ayah janji,” alih-alih menunjukkan wajah sedih, dia malah tersenyum padamu. Meyakinkanmu bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja. Dan kau hanya mengangguk sekedarnya. Ragu-ragu.

Tanpa meminta persetujuanmu, ayahmu memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Ke kota atau daerah mana pun, ke luar pulau, kemana saja, kau tak tahu pasti, yang penting tidak di rumah ini, jelasnya. Menurutnya ini adalah cara terbaik untuk menghapus kenangan kalian bersama ibumu. Terlalu banyak memori hidupnya yang melekat erat di setiap sudut rumah. 

Kau hanya bisa menurut. Mau tidak mau. Lantas bagaimana dengan teman-teman sekolahmu, kawan bermainmu, mainan layang-layangmu? Dan Bik Imah? Apakah dia juga ikut pindah? Deretan pertanyaan yang sungkan kau minta jawabannya ke ayahmu. 

Apa maunya, kau ikut saja.

Dengan cucuran air mata, Bik Imah menciumi pipimu saat kau berpamitan dengannya. Berpesan agar kau menyempatkan mampir ke rumah jika sedang luang. Tak lupa berkirim surat karena saluran telepon telah dicabut. Ayahmu tak pernah menjual rumah itu, hanya meninggalkannya. Entah sampai kapan.

Dan ketika ajalnya menjemput pun, rumah itu tak sempat lagi mendengar derap langkah kakinya. 

Ayahmu dimakamkan di pemakaman umum di tempat tinggalmu dulu. Jauh dari apartemen sederhana kalian yang berada di tengah kota. Meninggalkan deretan dan tumpukan koleksi bukunya di ruang kerja. Beberapa diantaranya adalah hasil kerjanya sebagai seorang penerjemah bersertifikat internasional. Ayahmu juga seorang kolumnis harian di sebuah surat kabar. Pengisi rubrik politik. Tulisannya yang kritis dan cerdas, bukan retorika belaka, membuatnya memiliki banyak teman sekaligus musuh. Mulai dari pembaca, sesama penulis, politikus, hingga kondektur bus langganannya. Perusahaan surat kabar mencintai eksistensi dirinya. Mesin ketik usang hingga komputer tabung adalah kawan baiknya. Jarang meninggalkan kursi lapuk dengan bantalan berwarna merah yang kini teronggok hampa di dekat jendela. Ditambah lagi dengan tumpukan surat kabar yang berada di sudut ruang. Pun dengan dengan buku-bukunya yang mulai usang.

Menjadi warisannya untukmu.

Ayahmu tidak pernah menikah lagi. Ibumu tak pernah bisa digantikan oleh siapa pun. Pria dan wanita yang mencoba singgah ke hatinya terhempas begitu saja. Seringkali berakhir dengan cerita yang tak disangka-sangka. 

***

Om Ridwan, pria itu sering menjemputmu ketika pulang sekolah, menginap di kamar ayahmu setiap akhir pekan, dan yang sering membuat ayahmu tertawa terbahak ketika kalian bertiga bermain monopoli di meja makan sampai larut malam. 

Dan hubungan yang tak sampai tiga tahun itu pun akhirnya kandas juga.

Malam basah di hari Minggu. Om Ridwan keluar dari kamar ayahmu sembari menjinjing koper besar miliknya. Lantas berteriak lantang ke ayahmu dari arah pintu depan. 

“Kau ‘tak pernah berubah, Ed!” 

Beberapa tetangga membuka pintu dan menyaksikan apa yang terjadi. Longokan kepala demi kepala mereka terlihat seperti jajaran kepala hewan ternak yang menanti pakan. Lorong apartemen berubah menjadi jalur kasak-kusuk suara mulut manusia. Tak ada satu pun yang beranjak. Hanya sekedar menyaksikan adegan yang jarang ditampilkan dari kejauhan.

“Kak, kamu sudah besar, jaga ayahmu baik-baik, Om tidak akan kembali ke tempat ini,” sejenak kau membeku penuh tanda tanya, kemudian mengangguk pelan. 

Di sudut lain, ayahmu tampak diam membisu. Kau melihat matanya berusaha seolah menikmati lalu lalang kendaraan kota di bawah rintik hujan malam itu. Tak secuil kata pun keluar dari katup bibirnya. 

Terdengar pintu ditutup berdebam.

“Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Besok ayah yang menjemputmu pulang sekolah.” Sunggingan senyum mengakhiri kalimat sederhana yang kau dengar bersamaan dengan gelegar halilintar. Hujan di luar kian deras.

“Terserah ayah,” balasmu singkat tanpa melihat matanya. Kau tinggalkan dirinya dan beranjak menuju kamarmu.

***

Tante Dewi namanya. Wanita itu sering membuat meja makanmu dipenuhi masakan lezat. Datang dari satu perusahaan penerbitan buku, ayahmu bertemu dengannya saat konferensi literasi se-Asia Tenggara dihelat di kotamu. Tante Dewi didaulat sebagai pembicara dalam satu seminar yang diadakan. Ayahmu bersanding dengannya sebagai narasumber di acara yang sama. Semenjak saat itu hubungan mereka berjalan. Hingga saling kunjung dan beberapa kali menginap.

Tante Dewi menempati sebuah rumah di kawasan perumahan elit bersama anak keduanya, Radha. Anak pertamanya tinggal bersama mantan suaminya yang seorang pejabat dan pengusaha kelas kakap. Dari rumor yang beredar, mereka berpisah karena sang suami ternyata memiliki istri muda yang berasal dari negeri seberang. Belum diketahui siapa namanya. Hingga suatu hari beredar foto seorang pria tambun yang berjalan berangkulan dengan seorang wanita dengan perut membesar di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari patung Merlion. Banyak orang penasaran siapa sesungguhnya wanita itu. Tak ada yang tahu, namanya pun tidak. Hingga perpisahan itu pun terjadi. Istri pertama menggugat cerai dengan pembagian harta gono-gini yang tak main-main.

Janda kaya. Orang-orang menggelari sosok Tante Dewi. Dia tak peduli. Kau pun juga. Ayahmu apalagi.

Dan Radha pun menganggapmu sebagai kakak laki-lakinya sendiri. Kau membantunya mengerjakan PR, menemaninya les menari, hingga menunggunya berlatih drama. Kau, ayahmu, Tante Dewi dan Radha, seringkali menghabiskan waktu bersama. Berlama-lama di museum atau menikmati rujak buah di pinggir pantai. Hingga menghabiskan pagi di akhir pekan hanya untuk memberi makan kijang di taman kota.

Dan sekali lagi semuanya tak berlangsung lama. Bulir-bulir kebahagiaan itu kembali berguguran.

Tante Dewi memutuskan meninggalkan ayahmu. Melalui sopirnya, semua pemberian ayahmu kepadanya dikembalikan. Ayahmu berulang kali bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi melalui saluran telepon. Dan jawaban yang didapatnya hanya penjelasan yang tak jelas.

“Maafkan aku, Ed! Ini demi kebaikan kita bersama,” hanya itu yang terdengar dari pengeras suara di ujung telepon.

“Maafkan Tante. Tante dan Radha akan selalu sayang kamu, Kak.” Pesan singkat itu muncul di layar telepon genggammu.

Di luar, seorang wanita berkacamata hitam tampak sejenak melihat jendela apartemenmu. Kemudian bergegas menutup kacanya yang berwarna hitam pekat. Dan mobil berplat merah dengan nomor polisi yang tak biasa itu pun melaju menembus rimba jalan.

Ayahmu masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Warna jingga dari ufuk Barat menembus kisi-kisinya. Menabrak tubuh kaku pria itu dan membentuk siluetnya pada dinding kamar.

“Ayah bisa pastikan semuanya akan baik-baik saja, Nak! Tak perlu khawatir,” tangannya menepuk pundakmu. Menatapmu.

Tatapan itu. Tatapan yang sama saat ayahmu duduk terpaku di sudut ruang tamu di rumah lamamu dulu. Tatapan yang tak banyak berubah ketika Om Ridwan keluar dari apartemenmu.

“Kita sedang tidak baik-baik saja, Yah. Ayah tahu itu,”

***

“Ayah telah memiliki segala yang kau perlukan untuk studimu berikutnya, Nak! Bisa jadi melebihi isi otak dosen-dosenmu nanti. Tinggal kau kembangkan!”

Masalah pendidikanmu membuat hubungan kalian berdua semakin tak baik. Ayahmu ingin kau melanjutkan studi bahasa atau jurnalistik. Dunia yang tak jauh dari apa yang digelutinya. Dunia yang ikut berperan menumbuhkan dirimu. Tapi kau tak mau. Kau ingin lepas dari sistem pendidikan negara yang monoton ini. Belajar tidak harus berkutat dalam lembaga pendidikan. Belajar bisa dimana saja. Bagimu dunia adalah universitas sesungguhnya. 

“Tapi ini tidak seperti yang aku mau, Yah! Aku ingin melihat dunia yang nyatanya jauh lebih luas. Bukan hanya dari tulisan dan gambar berwarna yang berasal dari deretan buku koleksi Ayah. Bukan pula seperti gambar bergerak yang ditayangkan habis-habisan oleh stasiun televisi. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Mencium aromanya. Menjilat keringatnya. Tidak hanya dari bingkai jendela apartemen kita yang kian lama terasa makin sempit ini!”

“Apa yang kau butuhkan telah Ayah siapkan disini,”

“Dan selamanya berada di bawah ketiak Ayah?”

“Ada yang salah?”

“Ini yang salah. Ego Ayah yang harus disalahkan. Apakah keinginan ayah harus menjadi satu-satunya yang bisa selalu terwujud? Lantas bagaimana keinginan anak Ayah sendiri! Mauku! Aku sudah dewasa, Yah!”

“Dan aku ayahmu!”

“Mungkin ini yang membuat ibu pergi dari rumah!”

“Mengapa ibumu yang kau bawa-bawa? Tak ada sangkut pautnya!”

“Dan membuat Om Ridwan meninggalkan Ayah! Dan Tante Dewi berpisah dengan Ayah!”

“Tidak seperti itu!”

“Aku tahu alasannya! Semua bukan gara-gara mereka! Semua gara-gara Ayah! Ayah yang menyebabkan orang-orang  itu pergi! Ayah yang salah selama ini! Ayah yang jadi penjahatnya!”

“Diam kau!”

Suara benda jatuh bergelontang di atas lantai. Seonggok tubuh terhuyung dan akhirnya jatuh berdebam. Ayahmu meremas-remas dadanya. Nafasnya naik turun. Tersengal dengan rintihan yang sungguh menyayat telinga. Kau peluk tubuhnya. Tangan kalian berdua bergenggaman. Rasa bingung dan kalut menerpamu. Teriakan minta tolong terdengar di sepanjang lorong apartemen.

***

Pandanganmu tertambat di sebuah koridor panjang dengan lalu-lalang tenaga medis berpakaian putih dan hijau. Tubuhmu bersandar di kursi pengunjung di depan ruang gawat darurat. Menunduk lemas dan cemas. Waktu seolah berjalan begitu lama hanya untuk menanti kabar dari dokter tentang kondisi ayahmu saat itu. Perasaan yang berjibaku dengan rasa bersalah. Berujung pada penyesalan tak berkesudahan. 

Seandainya kalian tak harus bertengkar. 

***

Dokter Dimas, dokter berperawakan tinggi dengan rambut cepak yang bertugas saat itu, memintamu masuk ke ruangannya. Dia mengenal ayahmu. Kau pun mengenalnya dari beberapa  kali pertemuan saat dia bertandang ke tempat tinggalmu. Kau menganggapnya sebagai salah satu teman kencan ayahmu. Informasi yang kau peroleh darinya adalah bahwa kondisi jantung ayahmu cukup lemah. Serangan jantungnya kali ini memaksa dokter harus segera mengambil tindakan. Operasi entah apa pun itu harus segera dilakukan. Kau tak percaya dengan pendengaranmu. Pun tak percaya bahwa dari sekian lama kalian berdua hidup bersama, kondisi kesehatan ayahmu bisa seserius itu. Dokter Dimas hanya bisa meyakinkanmu bahwa dia dan timnya akan berusaha sebaik mungkin.

Dia melihatmu dengan rasa iba. Tanpa canggung, telapak tangannya tertelungkup di jemarimu.

“Berdoa saja semua akan baik-baik saja, kami akan berusaha,” 

Dan kau menangis dalam pelukannya.

Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranmu. Tentang segala kemungkinan buruk yang bisa menimpa ayahmu. Tentang apa lagi yang harus dan akan kau lakukan setelah ayahmu mendapat serangan jantungnya. Tentang segala sumpah serapah yang kau janjikan pada dirimu sendiri, bahwa kau akan bersamanya. Apakah kau baik-baik saja sekarang?

***

Kondisi ayahmu mengalami pemulihan paska operasi. Lambat memang, namun cukup membuatmu tenang bahwa serangan itu tak mencabut nyawanya. Meski peluang itu akan selalu ada  dan terus mengancam jiwanya.

“Maafkan ayah, Nak,” suaranya yang parau terdengar lemah. 

“Ayah bicara apa?” Sorot matamu membuatnya canggung. Ditelannya bubur ayam yang kau suapkan ke mulutnya pelan-pelan.

“Kau tak harus menuruti permintaan ayah,” kau hanya bisa tersenyum.

“Aku akan dikalungi medali bertuliskan juara satu anak durhaka jika meninggalkan ayah dalam kondisi seperti ini,”  Ayahmu membisu. “Dan Ayah tak perlu khawatir lagi,” kau sodorkan secarik kertas dan secuil tanda pengenal kepadanya. 

“Tolong ambilkan kacamata ayah,” kau bantu mengenakannya. Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat naik.

“Perkenalkan, saya putra Bapak Edy, mahasiswa baru studi jurnalistik,”

Kalian berdua tenggelam dalam tangis kebahagiaan. Tak perlu ada orang lain yang harus berperan menjadi pemicu kebahagiaan kalian. Kau dan ayahmu sudah cukup.

Bahkan mungkin pula kehadiran ibumu tak diperlukan lagi.

***

Kau menemukannya tergeletak tak bernyawa di ruang kerjanya. Persis ketika kau baru saja pulang dari tempat kawanmu. Di tangannya tergenggam secarik potret keluarga yang sedang berkumpul di ruang makan, yang dikelilingi rak dengan deretan buku.

Seperti yang telah disampaikan dokter Dimas sebelumnya, jika serangan pertama bisa selamat, belum tentu serangan kedua akan meloloskannya dari jerat maut. Waktu yang kau takutkan pun tiba. Jika menghadapi masalah lain kau cukup tegar, namun belum tentu dengan hal ini. Jangan kematian. Kematian siapa pun akan memutus proses pencarian jawaban atas apa yang telah terjadi. Kematian akan menghentikan atau serta-merta memperpanjang masalah sebelumnya. Karena ketika ayahmu tiada, maka seolah akan selalu ada yang belum tuntas dilakukannya untukmu, untuk dirinya, untuk keluarganya.

Malah, kini ada ibumu yang bersamamu. Membawa orang asing masuk ke dalam rumah duka, rumah ayahmu. Menempel erat di sampingnya, seorang laki-laki paruh baya berjambang tebal dengan setelan necis berwarna hitam. Postur tubuhnya yang tambun, terlihat sedikit lebih langsing. Pria itu adalah suami ibumu. Kau mengingatnya sebagai pria berkacamata hitam yang pernah bertandang ke rumah lamamu dulu.

Wanita itu muncul kembali sebagai sosok lama namun asing. Karena permintaan suaminya, dia pulang ke negeri ini lagi. Rumor baru merebak ke publik. Tentang kehadiran seorang wanita cantik dari negeri seberang. Istri kedua dari seorang duda kaya dan berkedudukan tinggi di pemerintahan. Pria yang namanya selalu santer tertulis di setiap kolom-kolom politik di surat kabar ayahmu. Selalu menjadi sorotan kritik pedas ayahmu melalui beberapa kebijakan publik yang dibuatnya, bahkan dari gaya hidupnya yang tak biasa. Perlente, gila wanita, memiliki banyak anak, dan sebutan-sebutan lain yang secara subjektif ada kesan tak suka yang disiratkan ayahmu kepada pria itu melalui tulisan-tulisannya. Hingga fakta terkuak. Pria itu adalah mantan suami Tante Dewi yang kabarnya kini sudah rujuk kembali. Pun masih menjadi sosok pria pendamping ibumu. Dan juga ayah dari seorang dokter yang menangani kesehatan ayahmu selama ini. Benar, Dokter Dimas adalah anak pertama dari pernikahan pria itu dengan Tante Dewi. Kakak laki-laki Radha.

***

Keluarga dekat hadir dalam upacara pemakaman ayahmu. Jenazah telah dibawa ke pusara terakhirnya. Di sampingmu, Bik Imah tak henti meneteskan air mata. Isakannya bergemuruh di antara doa-doa dan penghormatan terakhir yang dipanjatkan oleh bapak pendeta.

Om Ridwan datang melayat bersama seorang pria yang tak sungkan menggandeng tangannya di depan umum. Mereka berdua duduk di deretan kursi paling depan, sejajar dengan ibumu dan suaminya. Terdapat jas putih terlipat rapi di pangkuan pria itu. Meski keduanya sama-sama mengenakan kaca mata hitam, namun raut wajah sedih Om Ridwan begitu ketara. Berulangkali kau melihatnya menyeka air mata. Dan Dokter Dimas yang berada di sisinya, sepenuh hati berjuang menangkan.

 

Di deretan kursi yang sama, Tante Dewi menyandarkan kepalanya pada pundak seorang perempuan muda. Dia datang bersama Radha yang telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Kemolekan tubuh dan kecantikannya begitu terlihat nyata meski tubuhnya terbalut kain hitam dan rambutnya tertutup kerudung dengan warna sama. Tapi kau sering melihatnya tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Di saat kalian berdua beradu lidah di dalam kamar kos kawanmu yang panas itu. Ketika dirinya ketagihan melumat batangmu sepulang sekolah di dalam mobilnya. Pun di saat tubuhnya bergoyang menggelinjang ketika menduduki perut dan kemaluanmu di sebuah kamar hotel melati di pinggir kota. Sudah hampir dua tahun dirinya menjadi kekasihmu. Sering bersamamu diam-diam.

Sebelum pemakaman dilakukan, Radha sempat menemuimu. Memeluk erat tubuhmu.

“Relakan dia yang pergi,”

Kau menatapnya.

“Karena setiap ada yang pergi, selalu ada yang datang,” ungkapnya pelan.

Dan tangannya menuntun telapak tanganmu mengusap bagian perutnya yang terlihat membesar.

 

 

Pertengahan April 2018. Panas-hujan berganti-ganti.

Advertisements

Kamu & Si Sampul Merah

Jemarimu sibuk menekan tombol demi tombol bertorehkan huruf, angka, dan banyak tanda baca hingga membentuk kata dan kalimat yang terpampang di lempengan layar jernih bersinar di depan wajahmu. Menggubah isi pikiranmu menjadi rajutan paragraf bercerita tentang seseorang yang datang bersama kata, menghampirimu lewat cerita. Kamu telah merencanakannya. Suatu hari nanti kamu akan bertemu dengannya. Meski belum kau kenali wajahnya, bahkan lewat gambar dirinya sekalipun. Akan menjadi kejutan, harapmu.

Kamu menyadari bahwa pagi itu tak seperti pagi lainnya. Ada sesuatu yang beda dalam tubuhmu paska malam hebat akhir pekan kemarin. Kamu tahu mengapa. Hingga kamu tak sabar untuk menuliskannya dalam rangkaian cerita yang menurutmu akan menjadi salah satu konten paling hebat dalam buka harian digitalmu. Tersimpan dalam satu folder di antara deretan folder warna biru lain dengan label ‘aksaragama’. Folder favoritmu.

Selepas kamu menanggalkan kewajibanmu bercengkerama dengan perkakas make-up, kamera, skrip berita, dan tembakan cahaya lampu berintensitas tinggi, kamu buru-buru berlari menuju kendaraan warna abu-abumu yang terparkir rapi diapit oleh mobil warna merah dan biru di lapangan parkir yang kebetulan masih sepi kala itu. Ruang bagasi besar dan menyimpan banyak barang mulai buku dan tas berisi baju serta sepatu terbuka menganga di hadapanmu. Tanganmu tak ubahnya sendok besar yang mengaduk-aduk isi di dalamnya. Otot matamu bergerak ke berbagai arah dan sudut seiring hempasan barang yang terlempar dan tertumpuk sedemikian rupa, saling tindih, dan bertumpangan satu dengan lainnya. Hingga dari onggokan barang-barangmu yang makin tak rapi letaknya, benda kotak agak pipih menyita perhatianmu. Tak berapa lama benda itu terkempit di ketiakmu. Sementara gigimu mengigit sebuah buku bersampul warna merah dengan judul berbahasa bugis. Judul yang belum kamu pahami sungguh, karena isinya belum selesai kamu baca. Tapi tak apa, yang penting tiap hari kamu mencoba menikmati isinya di sela-sela kesibukanmu. Toh nanti pasti paham juga, pikirmu.

Suara debam pintu bagasi tertutup hampir bersamaan dengan bunyi sirine tiga kali sebagai tanda mobilmu terkunci membuyarkan pikiranmu. Tapi sejurus ketika tatapanmu mengarah pada deret huruf yang membentuk nama pencipta buku itu, kamu tersenyum. Langkahmu semakin tegap dan cepat menuju naungan dimana kamu biasa mengeluarkan isi hati dan pikirmu. Ruang tenang dan nyaman yang memutar musik jazz, meski kamu tak seberapa suka, dengan dalih bahwa musik itu bisa menstimulus saraf sensorik dan motorikmu agar bersinergi mencipta suatu karya, yang kamu anggap sebagai impuls tambahan selain secangkir kopi tubruk pahit dengan setengah sendok teh gula putih di dalam cangkir hitam yang tergenggam di telapak tangan kirimu. Membantu menghangatkan bagian tubuhmu dari hembusan udara dingin air-conditioner yang menempel di dinding tak jauh dari kursi yang sering kau duduki. Di pojok ruangan, di dekat jendela, satu meja ber-vas bunga kertas yang selalu diganti oleh pelayan setiap harinya. Dan hari ini kamu menemukan bunga kertas berwarna merah di dalam vas di hadapanmu. Tumben, biasanya warna putih, pikirmu bertanya-tanya. Tapi tak seberapa lama kamu menghalau isi pikiran yang tidak seberapa penting itu. Menggantinya dengan konsentrasimu menyalakan mesin ketik digital pipih yang kamu banggakan. Hasil dari jerih payahmu selama enam bulan kamu bekerja.

Layar berwarna dengan display gambar tumpukan buku-buku sastra dunia lengkap dengan nama-nama pengarang yang ditumpuki jajaran folder berada tepat dua jengkal dari wajahmu. Silaunya membuat matamu sedikit memercing hingga level intensitas cahayanya kamu turunkan beberapa persen ke bawah dan matamu bisa beradaptasi sesudahnya. Bantalan kursi yang menurutmu masih nyaman sekian waktu ini, menjadi salah satu faktor penentu kenikmatan ketika jemarimu bekerja. Suasana, udara, musik, ruang, orang, berkolaborasi menjadi padu agar kamu khidmat menguarkan isi otakmu. Dan mulailah jemarimu sibuk menekan tombol demi tombol dengan tempo cepat.

Novel merah di samping laptopmu diam tak bergerak. Kamu pun kadang bertanya, jika kamu fokus menulis, mengapa jua ada sebuah buku yang terbujur kaku dan tak tersentuh? Dengan dalih sebagai motivator pasif, yang membuatmu harus menulis, itu jawaban dari hatimu. Pun tak guna jika pada hakikatnya buku itu seyogyanya harus dibuka dan dibaca isinya. Bukan hanya memamerkan lekuk gambar dengan judul kapital yang dicetak dengan huruf timbul, yang menyita perhatianmu selama ini. Dan pada akhirnya bukan itu jawabannya. Kamu menyandingkan buku itu di samping mesin ketikmu karena kamu terlalu terlena dengan nama penulis yang tertulis dengan huruf kecil warna hitam tepat di atas judul buku. Entah dari mana asal muasal rasa itu muncul, tapi hal itu yang kamu yakini sebagai katalisatormu untuk mau menulis lagi. Lepas dari apa yang terjadi akhir pekan kemarin. Lagi-lagi menurutmu akhir pekan kemarin adalah penutup minggu paling hebat setelah usiamu menginjak 22 tahun. Kamu berjanji bertemu dengannya tanpa bertemu malam itu. Dia yang namanya tertulis di sampul merah dengan huruf warna hitam.

Ceritamu mengalir begitu saja hingga jari-jarimu terasa pegal. Kau ambil secangkir kopi yang mulai terasa hangat. Tak panas lagi seperti awal mula cangkir itu mampir di mejamu. Membantumu merilekskan otot-otot tangan yang terasa payah setelah lama bergerak menekan-nekan tombol. Kopimu masih hangat, otakmu juga, apalagi hatimu. Seruputan cairan pahit manis itu menjaga konsentrasimu. Mahaampuh dari kafein membuatmu terjaga dari lamunan yang kadang muncul di tengah-tengah arus idemu yang deras mengalir. Kamu kembali fokus tanpa terganggu beragam gerak benda hidup yang berada di sekitarmu. Perasaanmu terus berkecamuk, memamerkan gigi taringnya dan memaksa kamu harus menyelesaikan tulisan ini. Rajutan kalimat bercerita tentang dia dan karyanya yang tak lepas dari pandang matamu. Membuatmu lupa diri dan tak sadar ada benda hidup yang memperhatikan segala lakumu dari salah satu sudut ruang dimana kamu berada. Memasang muka datar sembari menggenggam secangkir coklat panas. Matanya tak seliar mata orang lain saat melihatmu duduk sendirian hanya dengan mengenakan celana panjang ketat dengan kaos tank-top warna hitam yang kamu dapat dari sebuah toko online beberapa waktu lalu. Tatapannya teduh seperti mengerti apa isi hatimu tanpa perlu mengungkapkan kepadanya. Sesekali dia tersenyum, kemudian mengalihkan pandangnya dengan menengok ke arah lain. Kemudian kembali lagi. Memastikan bahwa kamu tetap berada di kursimu. Bersama dengan kawan-kawan benda mati yang menemanimu. Salah satunya adalah karya terhebat yang pernah dia buat. Menghabiskan waktu-waktunya. Menasbihkan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Membuat rasa percaya dirinya yang sempat kendor, namun bangkit lagi setelah melihat wajahmu yang berlalu lalang di pikirannya. Dan karya bersampul merah itu lahir lengkap dengan derai air mata lega. Merangkum dirimu menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Dan kamu belum menyadari itu semua karena isinya belum juga rampung kamu baca. Padahal dia ingin menemuimu dan meminta pendapatmu tentang isi hatinya yang tercetak dengan ribuan huruf dan tanda baca yang kini berada tak jauh darimu. Hasratnya begitu menggebu setelah tanpa kamu tahu wajahnya, surelmu mampir di kotak masuknya. Berisi daftar sinopsis dan referensi dari beberapa surat kabar tentang hasil karyanya, yang membuatmu terpikat untuk melanjutkan tulisanmu yang dahulu pernah tertunda. Tak jauh dari sosok seperti dia yang tiba-tiba kau kagumi dari hanya sebatas opini yang tertuang dalam koran kota. Kamu seperti mendapat pencerahan yang membuat degup jantungmu bergerak cepat. Mendesir aliran darahmu yang kian deras mengalir di jaring pembuluh di seluruh tubuhmu. Bahwa karyanya seperti bubuk serotonin yang membuatmu mabuk kepayang dan tergoda menelan mentah-mentah halusinasi hebat sebagai efek utamanya. Padahal kamu tahu efek sampingnya tak jauh lebih baik rasanya ketika kamu patah hati. Sama seperti akhir pekan paling hebat yang kemarin kamu rasakan bersama temanmu, mantan kekasihmu yang tiba-tiba berubah menjadi kekasihmu lagi. Tepat ketika kamu menjanjikan lewat surel balasan bahwa kamu ingin menemuinya hari ini. Persis saat ini jika saja kamu sudah mengkhatamkan isi karyanya yang dengan susah payah dia ciptakan. Menggambarkan isi hatinya kepadamu. Menuliskan namamu di bagian epilog. Agar kamu tahu bahwa sampul merah itu berisi tentang kamu dan kamu.

Dan lagi-lagi, kamu belum rampung membacanya.

Abang Ingin Bertemu Tuhan

Bukanlah malam tenang tapi penuh riang
Ketika dia yang berteman dengan riuh gelap terang
Panca inderanya berjuang menggadang rasa senang
Hingga dia jauh dari Tuhannya tersayang
Kepada mereka yang memintanya lantang-lantang
Bertemanlah dengan kami, Bang!
Ini suka cita, Tuhan tahu kamu penuh duka
Telan dan teguklah, Sayang!
Ini bahagia, lukamu sembuh karenanya
Luka di jantung yang berdetak makin kencang
Sakit di kulit yang memucat lekat pada tulang
Teruskan sampai akalmu hilang, Bang!
Karena tepat saat sadarmu karam dan nyawamu meregang
Dia akan berkata, “Aku datang, hamba-Ku, Sayang”Abang

Blog at WordPress.com.

Up ↑