Semacam Rayuan Buku

Dalam perjalanan pulang ke rumah, disempatkannya berbisik lirih pada buku yang didekapnya. “Aku mencintaimu. Tak akan ada yang sia-sia ketika kau telah bersamaku.” 

Bus itu melaju kencang di jalanan yang licin. Hujan bulan Juni bisa turun berjam-jam tanpa peduli siang atau malam. Dua wiper bergerak cepat menyingkirkan riak air yang menerpa kaca bus. Kedua mata sopir bus ikut memercing bergantian. Berusaha memfokuskan penglihatannya di tengah guyuran hujan dan kabut yang mulai menebal seiring waktu menuju senja. Hamparan pohon dan tetumbuhan hijau mulai berubah warna menjadi kelabu. Dari kejauahan, kerlip pelita dari rumah-rumah penduduk mulai tampak. Matahari yang sukar terlihat sejak pagi, seolah tidak berdaya lagi menyapa malam yang beringsut menyelimuti.

Dirinya duduk di kursi paling belakang. Tepat berada di deret tengah, segaris lurus dengan kaca depan bus. Hanya ada beberapa penumpang sore itu. Kebanyakan terlihat kelelahan. Beberapa diantaranya malah asyik terlelap sambil menelingkup barang bawaannya di atas pangkuan. Ada pula yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri melalui sebuah buku tebal yang dibaca. Sesekali dia tersenyum sendiri, kemudian bergumam, lantas tersenyum lagi, namun dengan garis bibir membentang lebih lebar. Di salah satu sudut bis tidak jauh dari pintu depan yang tertutup rapat, berdiri seorang petugas karcis. Pria itu sibuk menghitung lembaran uang yang terapit di jemarinya bersama dengan segepok uang kertas beragam warna yang sepertinya disusun mulai dari nominal paling kecil di bagian atas dan nominal terbesar di tumpukan terbawah. Matanya awas, bibirnya komat-komat. Memastikan bahwa pemasukan hari ini memenuhi target harian. Beruntung jika ada lebihnya. Lumayan untuk uang belanja sang istri setiba di rumah nanti.

Tidak terdengar musik yang mengalun riuh. Radio-tape memang sengaja tak dinyalakan di jam pulang kerja seperti ini. Selain memberikan kesempatan istirahat bagi para penumpang, sang sopir juga hanya ingin menikmati musik alam lewat suara geluduk petir bersahutan dan guyuran deras air hujan yang menerpa badan bus. Menurutnya lebih merdu menggetarkan gendang telinga ketimbang musik kota yang itu-itu saja. Meski bagi yang lain, dendangan musik alam itu jelas-jelas membuat godaan untuk tidur semakin susah ditepis.

Terdapat seonggok buku tebal bersampul kulit sapi lusuh di atas pangkuannya. Cukup lama dia tertegun dan hanya memandangi bagian depan dan belakang sampulnya. Tak banyak yang bisa dibaca. Hanya sekedar tulisan judul buku dan nama penulisnya yang tertoreh dengan huruf timbul berwarna keemasan yang sudah kusam. Terdapat goretan dan bopeng berbentuk pulau-pulau kecil yang menghiasi. Alih-alih gambar sampul, pulau-pulau kecil itu seperti jamur-jamur yang merebak di permukaan kulit manusia. Laiknya panu atau kadas, tapi yang ini muncul di permukaan sampul buku. Bisa saja jamur buku, pikirnya.

Diberanikannya membuka lembaran pertama. Saat kertas itu tersibak, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah luar. Jantungnya berdegup kencang. Buku itu kembali ditutupnya. Tidak berselang lama, terdengar suara gelegar guntur. Disusul dengan suara geluduk dengan volume rendah. Makin lirih, kemudian suara itu lenyap seketika. Beberapa penumpang terperanjat. Ada yang langsung duduk tegap dan menutup telinganya. Ada pula yang hanya menggeliatkan tubuh, kemudian beringsut mencari posisi paling nyaman, lantas melanjutkan mimpi.

Sementara itu dirinya tetap terpaku. Dilema berkelanjutan memenuhi isi kepalanya. Buku di pangkuannya itu harus dibaca sekarang atau nanti. Jika memang sekarang, meski dengan cahaya redup, deretan tulisan di dalamnya mungkin belum sukar dibaca. Tapi apabila nanti, ketika perjalanannya masih jauh, di tengah keraguan apakah sang sopir mau menyalakan lampu di dalam bus atau tidak, tentu saja buku bersampul kusam itu akan bisa terbaca ketika sampai di rumah nanti. Dan bagi dirinya, rumah akan menjadi sarang tidak nyaman untuk membaca. Karena bukan hanya dia saja yang menikmati isinya, melainkan keluarga besarnya juga harus turut diajak serta.

Akan tetapi, alam tadi telah memberikan tanda. Membuka sampul dan masuk ke lembar pertama saja sudah diganjar dengan kilat dan guntur, apalagi masuk ke bagian isi di dalamnya. Bisa-bisa air bah dari bawah kulit bumi membuncah ke permukaan dan menghasilkan banjir besar seperti yang pernah diceritakan oleh neneknya tentang riwayat Nuh. Boleh jadi dirinya tidak akan sampai rumah jika tetap memaksa membaca isi buku itu.

Ah pikirannya terlalu hiperbola. Mungkin saja kilat dan guntur tadi hanya semacam kebetulan. Sekarang ini hujan deras sedang mengguyur, maka wajar jika dua fenomena alam itu datang bersahutan. Tapi akan lain cerita jika semua itu bukan kebetulan. Sangat mungkin sekali ada hubungan paradoksis antara membuka lembaran pertama buku itu dengan dua kejadian alam yang baru saja dirasakannya. Bukannya dunia dan isi alam memang terhubung satu sama lain. Antara satu dengan yang lain seperti terkoneksi oleh semacam urat syaraf bumi tak kasat mata. Seperti de javu yang tiba-tiba muncul di tengah geliat aktivitas seseorang di suatu tempat. Menghentikan pikirannya secara tiba-tiba dan terkesima dengan rekaman ingatan mikro tentang sosok dirinya yang seolah pernah berada di tempat yang baru saja dipijaknya. Meski semua itu bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi tetap saja menjadi hal ganjil yang terus dipertanyakan. 

Dan kini giliran dirinya yang terus bertanya. Tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan.

Bis melaju makin kencang. Bentangan selimut malam membujur menuju garis penghabisan di cakrawala. Tak terlihat bintang satu pun, apalagi rembulan. Hujan deras mulai reda. Tergantikan rintik gerimis yang menyajikan kesenduan senja. Sepertinya langit masih dermawan menurunkan air mata. Dari kejauhan, cahaya lampu rumah-rumah penduduk mulai samar terlihat. Kabut tebal menghujam membentuk awan-awan kelabu. 

Masih tanpa bintang dan rembulan.

Di atas singgasana langit ketujuh. Tuhan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polah salah satu umat-Nya di dalam bus menuju akhirat.

 

 

Surabaya, Agustus 2018

Advertisements

Memilih Pasangan Pemimpin Melalui Faktor X: Zodiak

Salah satu stasiun televisi swasta di Jawa Timur memiliki program sepakbola yang memiliki perbedaan dengan program serupa di stasiun televisi lain. Prediksi pertandingan yang akan berlangsung menjadi satu konten penting dalam materi berita. Namun apa jadinya jika yang digunakan untuk memprediksi adalah angka-angka atau penanggalan kalender dalam astrologi Cina? Meramal pertandingan melalui Shio menjadi keunikan tersendiri.

Berbicara mengenai prediksi, beberapa lembaga survey dan masyarakat dari beragam elemen mulai berlomba mengulas tentang cawapres mana yang paling cocok bersanding dengan dua kandidat capres yang telah santer diberitakan. Kebanyakan menggunakan perspektif karir politik dan elektabilitas. Katakanlah si petahana seharusnya dengan si A, boleh juga dengan si B. Calon baru harus dengan si C atau D, dan sebagainya. Terlalu mainstream.

Ada faktor lain yang harus diperhatikan terlepas dari perlu dan tidak perlunya faktor ini digunakan, yaitu watak dan karakter manusia. Sejak 3000 tahun yang lalu bangsa Barat kuno telah menggunakan ilmu perbintangan untuk menguraikan watak dan karakter khas manusia dari tanggal lahir kalender matahari (Masehi). Jika track record karir politik telah banyak diulas, tidak salah kita melihat kecocokan pasangan capres-cawapres melalui faktor ini.

Jawa Pos edisi Selasa 17 Juli 2018 menuliskan tentang tebak-menebak isi kantong Jokowi yang memuat plus minus kandidat cawapres. Ada lima nama yang disebutkan, yaitu Mahfud MD, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Muhammad Zainul Majdi, dan Sri Mulyani. Sedangkan untuk edisi Jumat 20 Juli 2018, Jawa Pos mengulas pula tentang Prabowo yang telah memiliki nama-nama yang masuk dalam bursa cawapres-nya. Mulai dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anies Baswedan, Zulkifli Hasan, Ahmad Heryawan, hingga Salim Segaf Al-Jufri.

Jokowi lahir pada 21 Juni 1961, dinaungi oleh bintang Gemini. Karakter umum bintang ini adalah cerdas, pandai berbicara, memiliki kemampuan berkembang dan belajar tinggi, sekaligus memiliki pesona alami dan kharisma yang bisa menarik semua zodiak. Dengan elemen udara, Gemini Jokowi cocok bersanding dengan cawapres yang berbintang Aries, Leo, Libra, atau Aquarius. Dan dari kelima nama kandidat, ada dua yang berbintang Libra, yaitu Muhaimin Iskandar (24 September 1966) dan Airlangga Hartarto (1 Oktober 1962). Dari keduanya, yang murni Libra adalah Airlangga Hartarto. Meski dengan zodiak yang sama, Muhaimin Iskandar masih dinaungi bintang Virgo yang tidak cocok dengan Gemini.

Kompatibilitas hubungan Gemini dan Libra yang sama-sama berelemen udara akan terbangun berdasarkan pada pondasi intelektualitas dan kelincahan mental. Dengan kesamaan karakter, membuat mereka akan saling menyeimbangkan.

Sedangkan Prabowo yang lahir pada 17 Oktober 1951, dinaungi oleh bintang Libra. Pun berelemen udara. Menawan dengan intelegensi tinggi, memiliki naluri yang kuat, dan bisa bekerja sama secara adil, adalah ciri umum zodiak ini. Libra Prabowo bisa disandingkan dengan pendamping yang berbintang Gemini, Leo, Aquarius, atau Sagitarius. Dan dari kelima kandidat cawapres, muncul kecocokan pada dua nama, yaitu Ahmad Heryawan yang berzodiak Gemini (19 Juni 1966) dan AHY yang berbintang Leo (10 Agustus 1978). Akan tetapi, AHY yang murni Leo dengan elemen api lebih cocok mendampingi Prabowo. Karena meski Gemini, Ahmad Heryawan masih dinaungi oleh zodiak Cancer yang tidak cocok dengan Libra.

Peluang menjalin sebuah hubungan harmonis bisa terjadi antara Libra dan Leo. Unsur yang dimiliki keduanya mendukung hal itu. Libra dengan watak cerdas, suka memelihara, dan cakap dalam berdiplomasi, akan pantas disandingkan dengan Leo yang optimis dan kharismatik.

Sedikit menengok kembali profil sejarah dua proklamator kita. Ir. Soekarno yang lahir pada 6 Juni 1901 dinaungi oleh bintang Gemini. Sedangkan Muhammad Hatta lahir di tanggal 12 Agustus 1902 berbintang Leo. Sama seperti Jokowi yang Gemini, Ir. Soekarno juga memiliki kecocokan mutlak dengan Bung Hatta. Kekompakan dan kecakapan mereka sebagai pasangan presiden dan wakil presiden di awal negara ini berdiri tidak bisa dipandang remeh. Bahkan di detik-detik mereka harus melepaskan jabatannya, hubungan keduanya tetap solid. Pun hingga salah satunya lebih dahulu menghadap Tuhan. Seolah tubuh pendiri bangsa ini pincang.

Jika dewasa ini menentukan pasangan pemimpin terlihat sulit dan lama karena banyak variabel yang harus dipakai sebagai bahan pertimbangan. Entah dari semaraknya panggung partai pengusung dan koalisinya, banjirnya kepentingan di tahun politik, atau hanya sekedar gimmick yang disajikan ke publik, diharapkan dengan faktor X ini, akan bisa membantu mempercepat penentuan pasangan capres-cawapres yang bisa didaftarkan nanti.

 

Agustus 2018

Sekarat

Merasa terkucil dalam dunia yang selama lebih dari 10 tahun dipilihanya adalah mimpi buruk yang dirasakannya kini. Pertanyaan yang kerap kali muncul di kepalanya tak jauh dari komparasi-komparasi tak berujung dari hidupnya dengan hidup orang lain sejawatnya. Entah dari sisi karir, maupun kehidupan pribadi yang jarang terungkap di depan publik. Terlalu picik rasanya ketika seruan percaya diri dan mampu menerima diri sendiri sering dikoar-koarkannya di depan khalayak, sementara dirinya sendiri belum mampu memahami maksud seruan-seruan itu secara jelas. Hanya retorika belaka. Kelihatan jelas dari raut wajahnya yang kelihatan tertekan, seolah gunungan masalah menimbun dirinya hidup-hidup. Padahal jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, rekan-rekan kerja, hingga sahabat-sahabat terdekatnya, yang jelas-jelas dia tahu bahwa problematika mereka lebih berat_dia sering menjadi teman berkeluh kesah_seyoyanya tak pantas perasaan tertekan, galau, gundah gulana itu menggelayut di kepalanya. Toh, hanya seputar finansial dan jenjang karir yang tak seberapa. Dia gemar berkompetisi, doyan menenggak tantangan, dan rasa-rasa seperti itu kian mencuat dan meminta lebih banyak korban.

Kebutuhan harian hingga bulanannya selalu tercukupi, bahkan berlebih. Dia juga masih bisa menabung dan berderma ketika proyek-proyeknya di-ACC oleh klien, yang membuat aliran dana mengalir deras ke dalam rekeningnya. Jadwal liburan tiap bulan juga masih terselamatkan meski tidak harus ke luar negeri atau ke resort-resort eksklusif favoritnya di dalam negeri. Biaya-biaya wajib, cicilan-cicilan ini-itu, pun masih tertutupi tanpa jatuh tempo. Lantas apa yang sesungguhnya membuat dia merasa harus mendapat segalanya lebih dari orang lain? Bahkan ketika doa-doanya terdahulu dikabulkan oleh Tuhannya satu demi satu di saat yang memang tepat? Apakah karena terlalu fokus pada hidup orang lain dan sejenak lupa menikmati hidupnya sendiri yang membuat perasaan-perasaan tak bermutu itu bergentayangan di kepalanya? Atau karena satu hal yang selalu ditanyakan keluarga dan orang-orang terdekatnya tiap kali berjumpa di hari raya, bahwa untuk orang seusianya, waktunya mencari teman hidup, bukan melulu seputar karir? Apakah ada yang lain selain itu? Pikirnya.

Dan semakin banyak tanda tanya bermunculan, semakin sekarat pula dirinya pelan-pelan.

Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

M a l a m i d a s #1

Adalah kalimat penggetar hati

Serupa bahasa dilantun lidah tanpa cela

Mengalirkan pesan tersirat

Dimengerti bagi yang terjerat

Tak harus tepat

Biarkan lewat

Sebab dia memikat

Diam tak perlu membeku

Bicara tak harus lewat kata

Menyadarimu lekat di rongga mata

Tak ubahnya melaknat hati yang mungkin buta

Pernah jatuh bersama nasib

Karena dia pencuri karib

Pernah hadir tanpa salam

Datang dalam kelam selembar kalam

Menasbih keluh hati yang sekarat

Memberi perih goresan karat

Dia yang jatuh sekali lagi

Menimpa remahan hati berulangkali

Apakah siksa jadi jawaban?

Atau nikmat tak terelakkan?

Karena ujung kalimat di pucuk lidah

Telah bersemayam lama di remuk asa yang lelah

M a l a m i d a s #2

Lihat

Ketika mata berbohong atas hati yang hakiki merasa, benar melihat, dan jelas mendengar

Dia yang datang tanpa niat, merebah bagai kawan lama

Mencari segaris senyum penyambung bahagia

Melintas lena tak berdosa

Membawa secuil puing hati yang sempat dilupakan

Melekatkannya penuh dengan perekat jiwa

Dia yang tak tahu apa-apa, terjebak dalam permainan

Dia yang tak berhati siap menghujam

Dan waktu merubah arah

Pemegang kendali redam terhuyung

Menampar dirinya pada kenyataan

Menengadah dihujani salah

Niat baik kini berubah

Awal indah pupus sirna

Yang tak diniati terjadi sudah

Ketika hati bicara

Membungkam mulut diam-diam

Menundukkan pandangan nanar

Coba lihat kembali

Dia yang kikir cinta fakir asmara

Bumi renta menopangnya

Semesta berdoa padanya

Surga menangis untuknya

Aku tak pernah bisa membayangkan saat keikhlasanmu menerimaku hidup dalam rahimmu

Meridhoi aku menendang perutmu sewaktu-waktu hingga saat kau terlelap karena letih membawaku setiap waktu
Berkali membisikkan kata cinta dan mimpimu saat aku kelak bisa melihat dunia
Berucap doa dan harapan akan hidupku menjadi belahan jiwamu
Melindungiku, menghiasi langkahku, dan memberikan yang terbaik untuk ruas hidupku nanti
Sembilan bulan…
Dan tepat 25 Juni…
Saat senja mulai nampak…
Kamu memaksakan senyum saat rintihan kesakitan mengambil alih tubuhmu
Tersenyum untuk kerjap awal mataku…
Tersenyum untuk riuh suara pertamaku…
Tersenyum untuk hentakan hidup seonggok daging bernyawa dari rahimmu…
Tersenyum untuk laki-laki di sampingmu yang bangga dipanggil ‘ayah’…
Dan tersenyum untuk semua orang yang merasa kamu adalah anak, menantu, kakak, adik, dan istri yang sempurna
Dan itu semua dibalik kesakitanmu…

Ayunan langkahmu mengiringi hidupku
Kenakalanku, bandelnya aku, sampai kedurhakaanku, hanya kau balas dengan air mata yang kau sembunyikan di balik mukena saat kau bersimpuh di hadapan-Nya…
Menuduh dirimu sendiri bahwa kau gagal mendidikku…
Itu salah, Ma!
Tidak benar!
Harusnya aku yang beringsut sembap di kakimu
Bukannya aku malah berteriak dan kabur dari rumah dengan debaman pintu yang ku banting…
Aku berdosa, Ma!
Aku durhaka!

Tapi semua itu lenyap saat aku pulang
Tak ada dendam, tak ada murka, hanya ada kata, ‘Ayo maem dulu, gih! Setelah itu mandi!’
Dan aku…
Hanya cemberut, masih menuntut keegoisanku…

Empat anak dan suamimu…
Semua mendapat porsi cintamu
Membuatku yakin engkau surga cinta di hidupku
Engkau sang mahadaya cinta lewat telapak kakimu
Cintamu tak berkurang saat penopang hidupmu meninggalkanmu
Saat kekasihmu harus menghadap-Nya lebih dulu
Saat orang-orang mulai berpikir kau rapuh saat kehilangan segalanya…

Tapi tidak!
Wanita tangguh yang pernah menjadi bunga desa itu telah berubah menjadi burung rajawali
Siap melindungi anak-anaknya dengan kecantikan yang dimilikinya
Bisa menggenggam dunia dan membuktikan pada mereka bahwa single parents tak selalu kurang
Bahwa janda tak selalu hina
Engkau yang kusebut Mamaku, Pahlawanku!

Dan sekarang,
Saat impianku mulai terwujud
Hidupku mulai sedikit tertata rapi sesuai impianku
Anak-anakmu mulai melepas anak panahnya ke langit
Mencari arah hidup mereka masing-masing
Sang rajawali masih di pohon yang sama
Masih berkutat dengan hidup dan jiwa yang dia perjuangkan untuk belahan-belahan hatinya

Tapi tak pernah terkira di pikirku, Ma!
Telpon tadi siang…
Kau berkata lirih di ujung telepon berkilo-kilo meter dari duniaku
“Mama nggak apa-apa, Mas! Cuma pusing… Selamat berpuasa ya, Sayang…”
Dan tiba-tiba adek menelponku
“Mas, mama sakit typhus…”

Hancur duniaku…
Luluh lantak surgaku…
Mati jiwaku…

Kenapa kamu masih tega membohongiku saat dirimu terkulai lemah?
Mengapa kau berdusta saat kebisuan hatimu tertutup dengan dalih menutupi kekhawatiranku?
Apakah yang kau sembunyikan dariku, Ma?

Dan kau hanya berkata,
“Udah, ndak apa-apa, Sayang…”

Kau berbohong lagi…
Demi cinta abadimu padaku
Tak heran jika surga benar-benar ada padamu…
Kau sanggup menggerakkan ridho Tuhan padaku…
Kau memiliki yang tak dimiliki manusia lain…

Aku mencintaimu, Ma…

Tersenyumlah untukku…

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑