Sekarat

Merasa terkucil dalam dunia yang selama lebih dari 10 tahun dipilihanya adalah mimpi buruk yang dirasakannya kini. Pertanyaan yang kerap kali muncul di kepalanya tak jauh dari komparasi-komparasi tak berujung dari hidupnya dengan hidup orang lain sejawatnya. Entah dari sisi karir, maupun kehidupan pribadi yang jarang terungkap di depan publik. Terlalu picik rasanya ketika seruan percaya diri dan mampu menerima diri sendiri sering dikoar-koarkannya di depan khalayak, sementara dirinya sendiri belum mampu memahami maksud seruan-seruan itu secara jelas. Hanya retorika belaka. Kelihatan jelas dari raut wajahnya yang kelihatan tertekan, seolah gunungan masalah menimbun dirinya hidup-hidup. Padahal jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, rekan-rekan kerja, hingga sahabat-sahabat terdekatnya, yang jelas-jelas dia tahu bahwa problematika mereka lebih berat_dia sering menjadi teman berkeluh kesah_seyoyanya tak pantas perasaan tertekan, galau, gundah gulana itu menggelayut di kepalanya. Toh, hanya seputar finansial dan jenjang karir yang tak seberapa. Dia gemar berkompetisi, doyan menenggak tantangan, dan rasa-rasa seperti itu kian mencuat dan meminta lebih banyak korban.

Kebutuhan harian hingga bulanannya selalu tercukupi, bahkan berlebih. Dia juga masih bisa menabung dan berderma ketika proyek-proyeknya di-ACC oleh klien, yang membuat aliran dana mengalir deras ke dalam rekeningnya. Jadwal liburan tiap bulan juga masih terselamatkan meski tidak harus ke luar negeri atau ke resort-resort eksklusif favoritnya di dalam negeri. Biaya-biaya wajib, cicilan-cicilan ini-itu, pun masih tertutupi tanpa jatuh tempo. Lantas apa yang sesungguhnya membuat dia merasa harus mendapat segalanya lebih dari orang lain? Bahkan ketika doa-doanya terdahulu dikabulkan oleh Tuhannya satu demi satu di saat yang memang tepat? Apakah karena terlalu fokus pada hidup orang lain dan sejenak lupa menikmati hidupnya sendiri yang membuat perasaan-perasaan tak bermutu itu bergentayangan di kepalanya? Atau karena satu hal yang selalu ditanyakan keluarga dan orang-orang terdekatnya tiap kali berjumpa di hari raya, bahwa untuk orang seusianya, waktunya mencari teman hidup, bukan melulu seputar karir? Apakah ada yang lain selain itu? Pikirnya.

Dan semakin banyak tanda tanya bermunculan, semakin sekarat pula dirinya pelan-pelan.

Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

Pagi Meredup Kelu

Suatu pagi berawan hitam menggantung sendu.

Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran tepat di balik jendela kaca berfragmen tetesan embun mencair. Menetes turun tertarik gravitasi. Tampak seperti lembaran kain putih kehilangan serat benangnya akibat goresan. Serupa ruas panjang beralur membentuk luncuran air di atas permukaan bidang rata transparan tegak vertikal karena sengatan matahari. Sebuah kaca bening pembatas bidang-bidang. Pembagi mana milikku dan mana milik orang. Penentu bagian luar dan dalam, gelap dan terang. Dari bagian gelap dan dalamnya aku bisa melihat hidup menggeliat di deret-deret gedung dan ruas-ruas jalan. Digelantungi udara basah sisa hujan lebat dini hari tadi. Berhasil memaksa pagi enggan beranjak siang. Alih-alih surut dan menghilang, kabut tipisnya malah makin melayang tenang memburamkan pandangan. Menghalau matahari menguapkan lenguhan pagi. Entah darimana datangnya, seolah makin tebal dan terus mengental. Tak rela membiarkan kerutan kulit bumi terlihat sempurna bagi mata manusia. Mungkin saja pagi masih serupa hantu berasap belum tersapu angin. Putih bersih bergentayangan pada dahan-dahan pohon. Beringsut mesra dalam rimbun perdu. Menyelinap di ketiak manusia. Meretas basah bersama angin pada kaca kendaraan di atas aspal.

Pagi ini berbeda, muram dan murung, tak berkawan dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pekikan keras klakson kendaraan terdengar sejak pekat gelap dini hari merayap pergi. Makin riuh menyetubuhi hamparan jalan dari ujung ke ujung, sudut ke sudut. Menyisakan dengungan berfrekuensi dalam gendang telinga. Menjadi remah bising udara yang terpaksa dinikmati manusia semerdu mungkin. Bersamaan dengan sang surya yang membumbung makin tinggi. Seolah sigap melipat warna hitam beraksen gemerlap lampu, kemudian menggantinya dengan hamparan warna dan bentuk bernama benda. Seonggok atau kumpulan zat, bernyawa dan mati, memiliki nama. Aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Ini dan itu. Setiap pagi dan malam. Hingga pagi tetaplah pagi. Tak rela udara basahnya menguap begitu saja. Memutih dari kejauhan tapi hilang saat didekati.

Pagi ini berbeda, berwarna tapi buram, tak bersahabat dengan warna-warna lainnya.

Aku mengenyam pagi dengan kadar kepekatan ganjil. Seolah jerat malam di kepalaku tak berniat pergi meski waktu terus berjalan maju. Seperti terhenti pada detik ke-59 sebelum pukul tujuh. Tanpa ada harapan melengkapi detik berikutnya menjadi menit. Diam. Menancap.

Pagi ini berbeda, waktu berjalan tapi pelan, tak berteman dengan ketergesaannya.

Tiba-tiba jam dinding besar di kafeku tak berdetak. Kupingku yang sudah terbiasa menikmati ritmenya setiap pagi, seakan peka ada yang ganjil mendadak. Suara tik-tok yang jelas terdengar sebelum alunan musik mendayu merdu, sebelum udara dipenuhi percakapan manusia-manusia pelanggan setiaku. Terlalu naif berkebetulan jika jam tanganku mendadak berhenti pula. Jarum panjangnya berdiri tegak menunjuk angka 12, jarum pendeknya pada angka 7. Aku menoleh kembali ke arah jam dinding, kemudian ke arah jam tangan, kembali lagi ke arah jam dinding, sama. Berhenti di pukul tujuh tepat. Tak urung rasa penasaranku malah membuncah. Kulihat pikuk orang yang berlalu lalang di depan kafeku untuk memastikan keadaan. Samar dari arah jendela berembun, mereka yang bernyawa dan berjalan di atas paving block trotoar mendadak berhenti. Kendaraan-kendaraan menepi, sebagian berhenti begitu saja tanpa ada insiden. Mandeg pada satu titik beku. Suara acak yang terdengar sebelumnya berubah menjadi dentuman keheranan massal. Mereka menundukkan kepala. Melihat seksama benda yang melingkar di pergelangan tangan. Sisanya mengamati benda kotak tipis bercahaya yang tergenggam. Alih-alih menatap lekat penuh tanda tanya, sisanya sibuk menekan serampangan permukaan bendar bersinar itu dengan telunjuk dan jempolnya. Lebih karena mencari sesuatu yang tak beres, bukan sengaja mencari kerusakan dan membetulkannya. Semakin parah ketika kumpulan pixel di layar tiba-tiba lenyap. Layar berubah hitam. Mati bersamaan. Mereka hanya menunduk. Tanpa menoleh ke tubuh-tubuh lain. Diam sempurna. Diikuti deru kendaraan dari kejauhan yang seiring melenyap senyap. Membenamkan diri dalam keanehan yang muncul berjemaat.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi di tempat dimana aku berada sekarang. Di dalam ruang bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan paling sibuk di tengah kota. Berjajar dengan bangunan tinggi pencakar langit yang terus meninggi berniat menggapai sekenanya. Berhadapan dengan pusat-pusat perbelanjaan lengkap dengan restoran dan kafe terkenal di dalamnya. Tapi kafeku, hanya bangunan tiga lantai berjajar membentuk kumpulan rumah-toko. Berdampingan dengan toko roti, salon kecantikan, toko buku, dan tempat usaha lain. Kupertaruhkan nyawaku disini. Rangkaian hidup berkoma tanpa titik, membentuk perjuangan dan pijakan kuat sebagai fondasinya. Bertahun-tahun bermimpi dan akhirnya tiga tahun lalu berdiri. “Soliterian Coffe Shop and Eatenary”. Buka pukul 8 pagi hingga 10 malam. Senin-Minggu. Jumat libur. Free-wifi. Diskon sampai 30% untuk makan siang.

Tiga pagawaiku telah datang lewat pintu belakang satu jam lalu. Rein, Indah, dan Agus. Tiga lainnya, Nia, Tita, dan Doni, akan hadir di shift kedua. Empat di atantaranya adalah juniorku di masa kuliah dulu. Sisanya hasil rekrutmen lowongan pekerjaan yang aku kirim ke rubrik iklan surat kabar kota. Mungkin karena kesamaan almamater, bersama mereka, aku lebih percaya kafe ini akan lebih maju dan terkenal. Baru dibuka dua tahun lalu. Seduhan kopi dan coklat hangatnya menjadi menu utama bagi para penikmat hari. Telur orak-arik dan mata sapi, roti lapis daging, serta bubur gandum panas, menjadi pilihan tepat bagi para pengejar pagi.

Empat tahun belajar dan bergelut dalam dunia organisasi di kampus, tak membuatku menyesal merekut mereka menjadi orang-orang penting di belakangku. Menjadi rekan kerja yang sama-sama mau maju. Menjadi diri sendiri dan nyaman bekerja karena aku mengenal mereka. Manusia-manusia hebat dengan kemauan besar dan para pekerja keras yang terlalu tangguh untuk diremehkan. Meski saling mengenal, bukan berarti tak profesional. Hubungan yang terjalin bukan tanpa hambatan, tapi bukan harus ditinggalkan begitu saja jika aral rintangan hadir membegal.

Awal adalah ujian untuk gagal. Bukan proses jika tak pernah gagal. Tapi, jatuh bangunnya tempat ini, tak pernah membuat mereka lepas dari aku. Sempat menerima gaji tak sesuai dengan jam kerja lebih, mereka terima di awal-awal berdirinya kafe yang menjadi mata pencaharianku ini. Semua berjalan naik turun lengkap dengan hiasan liku-liku terjal dan tak mudah. Dua tahun berjuang, hingga ketika tempat ini mendapat kepercayaan dan pengakuan orang, dan mereka pun berhak mendapatkan lebih. Kerja keras yang terbangun bukan karena nyawa satu orang, tapi kumpulan jiwa ini, siap menjadi sandaran hidupku, hidup kami.

Pagi ini berbeda, membuka cerita lama, dan aku masih di balik jendela kaca.

“Mas, kopinya,” suara Indah membuyarkan lamunanku tepat saat dia menyerahkan secangkir kopi hitam kepadaku.
“Eh, iya. Thanks ya, Ndah.” telapak tanganku menghangat ketika cangkir itu tergenggam. “Rein dan Agus dimana?”
“Di dapur, Mas. Dua-duanya.”
“Ohh.. okay.” aku menyeruput cairan kental hitam dengan rasa dan aroma khas. Pahit khas kopi Arabica. Kenimatan tiada tara dalam ruangan dingin ber-AC pagi ini.
“Pagi yang aneh ya, Mas?”
“Menurutku juga begitu. Tiba-tiba semua jam behenti. Jam tangan, jam dinding, jam di ponsel. Sudah hampir 3 menit tak bergerak.”
“Bukan jamnya yang berhenti, Mas…”
Aku melihat heran ke arah wajahnya.
“Lantas?”
“Waktu yang berhenti, Mas.” dia membalas dengan senyuman. Mengambil celemek yang berada di sakunya. Kemudian menyeka permukaan meja yang menurutnya kurang bersih.
“Aku tahu. Tapi apa maksudmu sesungguhnya?”
“Waktu yang mengajarkan pada kita bahwa hidup itu misteri. Waktu pula yang membelenggu kita agar tak kuasa membongkar misteri itu sendiri, Mas. Padahal tahu sendiri ‘kan rasa penasaran manusia tak pernah ada ujungnya. Ingin tahu ini dan itu, semua. Hanya waktu yang disimpan rapat-rapat oleh Tuhan. Manusia cukup menikmatinya.”
Kuteguk kopi hitam yang suhu panasnya mulai turun.
“Mas, tahu? Kurun waktu yang tercipta di semesta berakhir pada satu tujuan yang memiliki dua cabang. Pertama, waktu yang mengejar kita. Atau kedua, sebaliknya, kita yang mengejarnya.”
Aku mengangguk, memperhatikan.
“Jika kita memilih opsi pertama, jelas kita bukan orang yang cerdas. Efisiensi waktu tidak ada. Pilihan pada sesuatu yang harus diprioritaskan pun mungkin hanya sekedar memilih tanpa pikir panjang. Kita bakal merugi jika memilih waktu yang mengejar kita, Mas.”
Aku diam.
“Namun, ketika kita memilih pilihan kedua, dengan kata lain kita memiliki waktu. Kita akan sadar bahwa waktu butuh prioritas. Membuat kita sadar ada sesuatu yang mahapenting yang harus kita dahulukan ketimbang perkara kecil yang hanya dibesar-besarkan saja. Baik karena emosi sesaat atau bahkan dengan pikiran kosong sekalipun.”
“Maksudmu apa, Ndah?”
“Mas, my bos, cintai hidupmu dengan membagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali ke orang-orang yang kamu sayangi, yang menyayangimu. Kamu sudah cukup lama tidak bercengkerama dengan mereka. Seolah temanmu hanya benda mati dalam bentuk koin dan lembaran yang tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki. Mas pasti paham jika sesuatu itu adalah …”
“Waktu.” kami berdua berucap bersamaan.
Kami terdiam. Sesekali bertatap mata, Lebih tepat aku yang menatapnya.
“Ada yang berhak dengan waktumu. Sebelum semuanya terlambat, Mas …”

Dari arah dapur terdengar teriakan yang muncul tiba-tiba.
“Mas-mas! Kesini sebentar, Mas!”
Aku berjingkat dari kursi dengan wajah kaget. Menyenggol lengan Indah sebagai kode agar dia turut serta bersamaku ke asal suara itu muncul. Tapi Indah tak bergerak selangkahpun. Dia hanya berdiri dan tersenyum. Dan aku meninggalkannya.
Dapur terlihat baik-baik saja. Oven masih menyala sempurna berisi adonan roti yang mulai matang mengembang. Yang membuat aneh hanya keberadaan dua orang yang sama-sama tak melepas pandangannya dari tayangan bergerak dalam televisi.
“Mas, tonton!” Rein memintaku mendekat kepadanya.
Aku melangkahkan kakike arah mereka berdua. Kemudian memalingkan wajahku melihat siaran berita pagi. Terlihat kobaran api berwarna merah-oranye menyala-nyala hebat dengan kepulan asap berwarna hitam keluar dari suatu bangunan.
“Keraskan volume-nya!” perintahku.
Agus yang membawa remote control TV dengan sigap mengeraskan suara TV beberapa level ke atas.

“Polisi masih belum bisa memastikan asal-muasal ledakan yang terjadi sekitar pukul lima pagi tadi. Dugaan sementara karena kebocoran LPG dari salah satu kamar penghuni apartemen. Selain kobaran api, ledakan ini juga memicu kebocoran pipa air akibat kerusakan yang ditimbulkan. Kondisi ini sekaligus mematikan aliran listrik di seluruh bangunan. Tidak menutup kemungkinan arus pendek terjadi. Belum diketahui berapa jumlah korban jiwa. Namun, pemadam kebakaran telah menemukan beberapa jenazah yang langsung dievakuasi oleh tenaga medis setempat ke rumah sakit terdekat. Dan akibat peristiwa ini, diperkirakan kerugian materi mencapai milyaran rupian. Sekian laporan kami langsung dari ledakan di Megahria Apartment. Kembali ke studio.”

Aku tertegun.
Megahria Apartment.
Aku pernah tahu letak apartment itu.
Tapi aku lupa.

“Apartemen Indah, Mas?” nampak wajah Agus sedih dengan mata berkaca-kaca.
“Indah?” aku melihat mereka berdua.
“Indah tinggal di apartemen itu, Mas. Dia belum datang ke kafe pagi ini.”
“Jangan bercanda kalian. Baru saja aku ngobrol dengan dia di depan.”
Mereka berdua bertatapan.
Aku kembali terdiam.
Kuberlari ke arah depan kafe. Sempat menabrak pinggiran pintu dan membuat siku tanganku sedikit nyeri. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin memastikan bahwa Indah tadi benar-benar ada denganku. Bersamaku.
Tapi dia tidak ada.
Tidak berada di tempat dimana kutinggalkan dia.
Tidak berdiri tersenyum kepadaku seperti terakhir kali aku melihatnya.

Hanya celemeknya yang teronggok diam di atas meja.
Ditemani secangkir kopi milikku.

Pagi ini berbeda, ada pesan tertinggal, dari yang pergi namun tetap di hati.

Mengenang teman baik kala masih duduk di SD hingga SMA.
Putera Omega.
Selamat tinggal, Kawan.
Semoga kita bisa berangkat sekolah bersama di kehidupan lain.

Bukan Kisah Sedih

“Brondong, jangan lupa nanti matiin AC-nya abis kelar siaran!” Pinta Didi dengan nada tinggi. Terlihat masih sibuk berkonsentrasi melukis dan menebalkan alisnya dengan pensil alis warna coklat tua. Sesekali iya memiringkan wajahnya yang telah lama menatap cermin. Menoleh ke kanan, lanjut ke kiri, berusaha menyeimbangkan garis dan lekuk alis agar tampak rata. Kondisi meja berantakan. Berupa perkakas make-up mulai dari cermin rias, bedak, lipstik, maskara, bahkan kabel hair dryer dan catok rambut masih menancap di colokan listrik.
“Aman, Buk! Buru-buru amat, mau kemana sih?” tanyaku penasaran.
“Situ mau tau aja!” jawabnya singkat, sembari mengoleskan ujung rambut kuas kecil yang basah setelah dicelupkan ke botol lipstik cair warna merah burgundi ke bibirnya. Berlanjut menempelkan bibir atas dan bawahnya beberapa kali dengan suara ‘paff-paff’. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah bibirnya yang makin merona. Ditutup dengan senyuman khas kepuasan.
“Terus barang-barang ini dikemanain?” tanyaku sambil menunjuk ke barang-barangnya yang teronggok berantakan di atas meja.
“Cabut kabel-kabelnya, gulung, taruh di laci meja kerja, tuh disana! Semua yang ada disini, ditaruh disana. Tolong ya!” Dia menunjuk ke arah meja kerja di ruang sebelah.
“Sekarang?”
“Nggak, besok!” tukasnya singkat sambil melotot ke arahku.
“Wah catoknya baru?” Aku menggodanya.
“Itu M-A-H-A-L, mahal! Boleh dipinjem, 50 ribu sekali pakai.”
“Pelitnya si Ibuk Judes,” pekikku.
“Biarin! Yang penting cantik. Udah dulu ya. Met siaran, Brondong! Wish me luck!” Dia bergegas menjinjing tasnya, menerobos pintu geser dengan langkah cepat.
“Wish me luck buat apa neh?” tanyaku dengan lantang saat melihatnya sibuk mengenakan sepatu hak tinggi warna merah. Stiletto 17 sentimeter. Setahuku harganya di atas 5 juta rupiah, sepatu kebanggannya. Malam ini Didi memang terlihat cantik. Rambut panjangnya tergulung jatuh hasil roll dan catok rambut. Dibiarkan menjuntai normal tanpa hiasan kepala, jepit rambut, bandana, atau hiasan kepala lainnya. Pun make-up yang menempel di wajahnya tidak terlalu menor, simple-chick seperti yang tertulis di rubrik kecantikan majalah urban. Pada bagian tubuh, tank-top warna putih tertutupi bolero dengan warna senada melekat membentuk siluet. Sementara di bagian bawah, denim hitam ketat menonjolkan bagian yang paling seksi, paling jenjang, paling montok. Perfectly curved. Padat, sintal, dan berisi.
“Bye-bye, Brondong! Hahahaha!”
Tanpa jawaban.

*****

Didi merupakan satu-satunya penyiar senior perempuan yang memanggilku dengan nama ‘brondong’ sejak kujawab pertanyaannya tentang berapa usiaku di saat pertama kali kami berbicara. Kala itu aku baru dua minggu menjadi penyiar training. Di minggu ketiga dari rangkaian tiga bulan program training, aku bertemu dengannya. Di minggu itu yang berperan sebagai trainer untuk program penyiar baru adalah Didi, selain penyiar-penyiar lain yang juga mendapat jadwal sama bergantian. Sudah menjadi jatah Didi yang akan membagi ilmunya padaku. Sosoknya yang cerewet, judes, dengan dandanan feminim di setiap harinya, sontak membuatku sering mati kutu. Antara rendah diri, tidak nyaman, dan terintimidasi. Memnag jadi kelemahanku ketika harus berhadapan dengan perempuan seperti dia. Saat itu.
“Ohh situ masih muda ya?” tegasnya.
“I-i-iya, Kak.” jawabku gugup.
“Jangan sombong kalau nanti sudah jadi penyiar radio beneran!”
“Ba-ba-baik, Mbak.”
“Tadi kak, sekarang mbak, gimana sih?”
“Anu Kak, Mbak…” saat itu ingin sekali kupanggil dirinya dengan sebutan ‘tante’, tapi urung kulakukan.
“Dasar brondong. Brondong, sana balik studio!”
Setelah kejadian itu, di bulan-bulan berikutnya, nama ‘brondong’ melekat menjadi nama panggilanku. Sering pula digunakan oleh penyiar lain bahkan beberapa karyawan lantai satu pun ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Brondong ini lah, brondong itu lah, semua serba brondong. Berkat sebutan itu pula hubunganku dengan Didi semakin cair dan hangat. Sebagai teman, adik, teman nonton, belanja, bodyguard ke kamar mandi malam-malam, hair stylist yang meluruskan atau mengeluntung rambutnya dengan catok, teman curhat apalagi.
Dengan nama ‘ibuk’, kugunakan sebagai panggilanku kepadanya. ‘Ibuk’, sebutan untuk seorang ibu versi bahasa jawa. Bukan lagi ‘kak’, atau ‘mbak’, menegaskan kalau dia sudah seperti ibu-ibu dan pantas dipanggil ibuk. Bisa dikatakan sebagai usaha memperhangat pertemanan kami. Kedekatan itu semakin mengental ketika kami dikukuhkan menjadi partner siaran di salah satu program non-permanen saat bulan Ramadhan di tahun keduaku bersiaran. Selama 29 hari kami menjadi duo penyebar hadiah dan periuh jam sahur, sekaligus pemukul bedug imsak dan adzan subuh. Namun, program sahur itu tak kami dapatkan lagi di tahun berikutnya karena ada rotasi penyiar. Dari dia dan bertahun-tahun pengalaman menjadi seorang penyiar radio serta guru public speaking, ladang ilmu siarannya aku panen dengan gampang.

*****

Namun, ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Didi yang satu setengah jam sebelumnya berparas ceria dan kenes, serupa gadis centil dadakan dengan agenda istimewa yang terahasia, ditambah sepuhan kecantikan hasil dempulan make-up dan busana seksi yang lekat menjalar, kini malah terlihat jauh 180 derajat perbedaannya. Dari pandangan mataku dari balik kotak kaca, sosok tubuh Didi berdiri di depan pintu masuk dengan wajah menunduk. Rambutnya terlihat lepek, sepertinya basah terkena air hujan. Kemungkinan besar bajunya basah, lebih parah lagi make-up-nya pasti luntur. Langit memang sedang asyik-asyiknya mencurahkan air di bulan-bulan penghujung tahun itu. Jika malam ini hanya gerimis panjang sejak sore tadi, lain halnya dengan hari lain yang hujan lebat bergemuruh.
Ketika kuperhatikan lebih seksama dari kejauhan, benar dugaanku. Dengan wajah sayu dan helaian rambut basah yang menempel pada kening dan pipinya, dia membuka pintu kaca. Dilepaskannya sepatu merah itu, kemudian dia letakkan pula tasnya di atas karpet. Membuka dan mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian muncul nyala api, membakar ujung sebatang rokok yang terjepit di bibirnya. Lalu muncul hembusan asap rokok. Perlahan menebal, menutup sebagian wajahnya yang makin redup. Ada yang tak beres dengan Didi.
Rasa penasaranku berbuah hasil ketika mendadak dia mentapku dari kejauhan. Matanya tak bisa menyembuyikan perasaan dan isi hatinya. Dia masih mencoba tegar dengan hembusan asap yang dikeluarkan tak teratur dari rongga mulut dan hidungnya. Tapi yang terjadi 5 menit kemudian sungguh tak bisa dinyana-nyana. Dia lunglai, terduduk di atas ubin becek hasil guyuran hujan. Dengan sigap kutinggalkan siaranku, masih ada beberapa lagu yang akan terus berputar. Kuabaikan deringan telepon dari para pendengar yang bersemangat ingin on air bersamaku. Membahas topik siaran yang aku suguhkan dalam siaran malam kali ini. Tapi itu semua tak lebih penting dari rasa ibaku kepada Didi hingga kusegerakan langkahku dan menemuinya secepat mungkin. Didi. Sebentuk manusia lunglai tak berdaya di depan pintu.
“Buk, kenapa?”
Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.
Rokoknya terlepas dari jarinya. Jatuh ke lantai yang basah. Membuat nyala apinya padam seketika.
“Kamu kenapa?”
Dia makin menundukkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Tak lama yang kudengar hanyalah sesenggukan. Muncul dari kerongkongan seorang perempuan.
Segera kupapah dia ke dalam ruang tamu. Tapi aku berubah pikiran. Aku akan meninggalkan siaranku jika harus menemaninya di ruang berbeda. Tak ada siapapun di studio lantai dua yang bisa membantuku memperhatikan kondisi Didi. Langsung saja aku bawa dia masuk ke dalam kotak kaca. Kududukkan dia di atas karpet di samping meja siaran. Sekotak tisu dan handuk ukuran sedang kering dari dalam laci berpindah dari tanganku ke tangannya. Kunaikkan suhu ruangan dari remote AC agar lebih hangat. Badannya tak terlalu basah. Dering telepon masih nyaring mengusik telinga.
“Atta…” kemudian dia terisak. Aku semakin bingung.
“Wait, Buk!” Aku meluncur kembali ke kursi siaran. Menyusun lagu, bumper-in, iklan, promo, bumper-out, lagu, dengan durasi agak panjang secepat mungkin. Kucabut kabel telepon hingga deringnya tak terdengar lagi. Hanya suara lagu-lagu yang mengudara dengan tune rendah. Kemudian kembali mendekatinya.
“Ada apa, Buk?”
Didi mencoba mengontrol dirinya dan menegakkan tubuhnya. Maskara yang menebalkan garis matanya luntur berbekas. Tak bisa kutebak apakah itu dari air hujan atau air mata. Semuanya kelihatan sama saja.
“Atta ternyata sudah beristri,” air matanya tak terbendung.
“Hah? Bang Atta? Kok bisa?” aku terperanjat.
“Bisa, sebelumnya aku pikir dia mau melamarku, tapi ternyata…” isakan tangisnya makin dalam, sesekali cegukan. Dia sedikit kerepotan mengusapnya dengan tisu yang makin kusut tergenggam hingga aku harus membantu mengeringkan matanya yang basah bercucuran. Gumpalan-gumpalan putih lainnya tergeletak liar di lantai.
“Ya Tuhan, Buk!” Kurebahkan kepalanya ke pundakku.
“Aku pikir dia pulang ke Medan karena urusan keluarga dan proyek periklanannya. Dua bulan berpisah bukan waktu yang singkat, tapi tiba-tiba dia kembali dan minta maaf. Aku pikir ada kenapa-kenapa, ternyata dia minta maaf sekaligus pamit, dia kawin dengan perempuan lain. Semua hancur, Bas!” Baru kali itu, setelah sekian lama, dia memanggilku dengan nama sebenarnya.
“Sabar, Buk, sabar,” aku mencoba membesarkan hatinya.
“Aku bodoh! Bodoh. Aku nggak dengerin apa kata Joe tentang dia,”
“Bang Joe tahu?” aku keheranan. Artinya bukan aku saja yang menjadi tempat curhatnya selama ini. Jika Joe tahu, jangan-jangan semua orang di kantor ini juga tahu? Aku semakin kalut dengan pertanyaanku sendiri.
“Atta itu temen kuliah Joe. Joe bilang kalau dia itu player, tapi aku nggak percaya. Aku tertipu selama ini,” jelasnya. Sedu sedannya mereda.
Tiba-tiba dari arah depan suara pintu terbuka. Suara derap kaki berdebum terdengar semakin jelas mendekati kami berdua. Kemudian pintu kotak kaca terbuka lebar.
“Sudah kubilang sejak dulu ‘kan, Di! Makanya dengerin kalau orang ngomong,” Joe bersimpuh duduk di depan kami. Membelai rambut Didi dan mengusap air matanya. Didi yang sebelumnya berada di pelukanku langsung menggerakkan badannya dan berpindah ke rengkuhan Joe. Aku biarkan dia seperti itu.
“Sorry, Joe,” Didi kembali meneteskan air mata. Kini wajahnya tenggelam di dada Joe.
“Sudah-sudah… Kamu, balik siaran!” tiba-tiba Joe menatapku. Jari telunjuk kanannya teracung lurus. Memerintahku kembali bertugas di singgasana panas. Aku mengangguk, kembali ke kursi siaran.
Joe memapah Didi ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa merah setelah segelas air putih dari dispenser habis diminum Didi. Mereka mulai berbicara dengan tampang dan tatapan serius. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam kota kaca ini. Hanya gerakan tubuh mereka berdua yang saling berpadu. Joe terus memegang tangan Didi, sementara Didi berulang kali menyapukan kertas tisu ke liang air matanya. Mencoba menahan alirannya, sepertinya tak bisa.
Aku menyaksikan mereka berdua layaknya menonton satu babak sinetron di televisi yang ada di ruang tamu. Menyala tapi tak bersuara. Perbedaannya hanya pada ukuran yang membuat tokohnya berbentuk seperti ukuran manusia aslinya, tentu saja dengan lebar layar yang tak biasa. Seperti menonton reka adegan pantomim tanpa teks terjemah. Mencoba mengambil makna dari lakon melalui terkaan jalan cerita yang tak dipahami penontonnya. Mereka berdua pemain dan aku penonton.
Sejenak aku teringat sesuatu. Kehancuran dosis tinggi yang dialami Didi malam itu, juga pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Di akhir pekan basah, di tempat yang sama. Ledakan emosi menyeruak dibalik dinding kotak kaca. Lembaran kertas berhamburan ke seluruh ruangan. Dua ponsel di atas karpet di bawah kaki meja. Sepertinya jatuh, atau sengaja dijatuhkan. Atau malah dibanting. Satu hari paling berantakan yang pernah aku rasakan selama aku menempati kotak kaca. Menimpa seseorang paling berpengaruh mengatur jalannya kinerja studio siaran. Menduduki level tertinggi di antara penyiar lain. Sebelumnya aku mengira dia adalah manusia terkeras kepala tanpa toleransi dengan sosok tinggi besar. Tapi ternyata, dia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi problematika. Antara dia dan kekasihnya.

*****

“ANJING!!!”
Aku terdiam tanpa kata tepat saat pintu masuk kotak kaca kugeser hingga terbuka lebar, sedetik setelah terdengar umpatan binatang itu terdengar memekak di telingaku. Dibumbui dengan suasana ruangan yang karut-marut. Terbelalak mataku dibuatnya, menyadari bahwa kertas promo, iklan, addlips, surat kabar, majalah, tak lagi berada di tempatnya yang pantas. Belum lagi alat tulis yang berceceran, jatuh di sudut-sudut bawah meja, sulit terjangkau tangan.
“Bang … Bang Joe, kenapa?” tanyaku penuh tanda tanya besar. Berusaha membuka obrolan dari dua orang manusia, yang satu kikuk, satunya kesurupan.
Dia diam. Mengembangkempiskan dadanya. Mencoba bernafas normal dengan menghirup oksigen banyak-banyak dalam suhu 16 derajat Celcius. Terbaca di layar remote AC. Dua tangannya berada di kepala, meremas rambutnya dan sesekali menariknya dengan jari. Mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak rambut. Seperti berjuang menyakiti diri sendiri agar rasa sakit lain tertutupi. Terakhir kulihat dai menelungkupkan telapak tangannya di wajah. Menyeka matanya yang memerah dengan jari, ditutup dengan bibir yang bergetar dan mendesirkan suara, “Kok bisa? Nggak mungkin, ya Tuhan!”
Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat. Aku merasa tak nyaman. Joe menghampiriku yang beku berdiri di hadapannya. Segan untuk bergerak sesentimenter pun. Dua tangannya yang berpeluh memegang pundakku.
“Kamu punya kenalan dokter, nggak? Punya nggak?!” tanyanya dengan intonasi meninggi dan tersengal.
“A-a-ada Bang,” aku semakin gugup.
“Aku butuh dokter, atau dukun, atau apalah itu, yang penting, yang penting ini nggak terjadi! Nggak boleh kejadian! ANJING!” Dia berbicara sendiri.
“Kejadian apa, Bang? Apanya yang nggak boleh terjadi?”
Dia menoleh kembali padaku. Menarik nafasnya. Mengatakan sesuatu yang membuat paru-paruku berhenti memompa oksigen.
“Mira hamil.”
“Hah?! Mira hamil? Sejak kapan?” tak kupercayai pendengaranku.
“Aku nggak tau, yang pasti aku belum siap. Aku nggak mau jadi ayah. Aku nggak mau!” Nada suaranya mulai meninggi, kali ini dengan tempo lebih cepat.
“Bang Joe,” aku berusaha melunakkan suasana.
“Atau mungkin itu bukan bayiku, pasti dia selingkuh dengan laki-laki lain, nggak mungkin itu bayiku, aku pakai kondom, kecuali …”
“Kecuali apa?” tanyaku melanjutkan.
“Kecuali malam Valentine’s Day itu, tapi itu cuma sekali nggak pakai,” dia membela dirinya sendiri.
“Bang Joe, ada baiknya kamu sekarang ke Mbak Mira, kalian harus ketemu, obrolin baik-baik!”
“Tapi-tapi, Bas…”
“Be gentle, Bang,” tukasku singkat memotong kalimatnya.
Dia bergegas mengambil barang-barangnya. Memungut beberapa benda yang kemudian dimasukkan ke tas ranselnya.
“Please, cover up siaranku!”
“Iya Bang, take care!”
Dia mengangguk. Semenit kemudian lenyap berbekas. Isi kotak kaca pecah amburadul tak karuan.

*****

Didi: Jam brp smpe studio?
Aku: 8.00, whats up?
Didi: Nitip bir apa aja
Aku: Brp kaleng?
Didi: 4, klo bs b4 8PM uda di studio
Aku: OK
Pukul 7.35 aku sudah sampai di kantor. Area parkir masih basah oleh air hujan ketika aku sampai. Sembari memarkirkan sepeda motorku di tempat biasa, bisa kulihat mobil Didi dan Joe terparkir berdampingan. Tumben mereka berdua bisa bertemu di waktu ini. Seingatku jam siaran sore mereka berdua memang sama, hanya saja beda hari dalam satu bulan. Dua minggu Joe, dua minggu berikutnya Didi. Urusan tukar-menukar tiap hari apa saja mereka siaran, adalah mereka sendiri. Layaknya previledge bagi para senior.
Terdapat dua jalur menuju lantai dua: satu melewati tangga yang letaknya tepat di samping kantor di lantai satu, satunya lagi lewat pintu belakang dekat kantin yang sudah tergembok sejak pukul 6.00 petang. Artinya, untuk penyiar malam hanya bisa melewati satu-satunya jalur, yaitu melalu tangga. Lampu yang seharusnya menerangi tangga lengkung itu memang sudah mati beberapa hari terakhir ini. Tak tahu alasannya kenapa tidak segera diganti. Membuatku harus benar-benar membuka mata, membiarkan berkas-berkas samar cahaya dari kejauhan menerangi langkahku yang beranjak naik sambil menjinjing tas dan sekresek bir serta makanan ringan. Tidak cocok rasanya menikmati bir dingin tanpa snack, kacang goreng atau chiki-chikian.
Ujung tangga lantai dua berdekatan dengan pintu masuk studio. Hanya perlu 5 langkah sudah sampai ke gagang pintu. Namun ketika tinggal 3 anak tangga lagi, aku melihat sosok perempuan berbaju serba hitam berdiri membelakangi tangga, yang bisa kulihat hanya tubuh bagian belakangnya. Ramping, tapi agak sedikit melebar di bagian pinggang. Dari gesturenya sepertinya dia memandang pintu masuk studio siaranku. Sempat aku hentikan langkahku saat sosok itu berlari ke arah samping, ke lorong gelap di depan deretan ruang kantor lain yang sudah dipadamkan lampunya. Mungkin karyawati, atau OB.
Mataku terbelalak melihat seseorang yang terbaring kulai di sofa merah, meraung dengan suara rendah, berlinang air mata. Didampingi Didi dan satu teman yang tak kukenal. Aku kebingungan. Aku berinisiatif menarik lengan Didi. Menginterogasinya.
“Bang Joe, kenapa lagi?” tanyaku.
“Mira…” jawab Didi singkat.
“Mira kenapa?”
Didi sejenak diam, kemudian berujar.

“Mira tewas gantung diri, janinnya nggak bisa diselamatkan,”

Lidahku kaku.

Tas ranselku jatuh berdebam, diikuti gelontangan kaleng bir.

Thanks buat mas Joe, mbak Didi, mbak Almira, yang aku reka menjadi tokoh di cerita fiksi ini. Salam hangat untuk kalian semua yang tumbuh di keluarga besar Pro2FM Surabaya Radio Republik Indonesia. Sangat merindu duduk di kursi siaran lagi.

Adalah Nama Saya

    Nama saya Amal, nama lengkap Amal Mushollini, nama siaran Amal Bastian, dan nama panggung Bastian. Tapi tetap terasa hangat kalau dipanggil Amal saja. Bagi yang doyan sejarah internasional mungkin tidak asing dengan nama Mushollini, at least pernah mendengar atau membaca sosok pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Ya, spelling-nya terdengar hampir sama, tapi artinya sungguh berbeda. Bukan karena almarhum bapak saya mengidolakan si Om Benito atau gandrung dengan pahamnya, tapi menurut beliau (Bapak saya), nama Mushollini berasal dari kata dasar bahasa Arab ‘sholat’, kemudian nama ‘adik’-nya masjid ‘musholla, dan berakhir menjadi mushollini. Hampir bisa disejajarkan dengan kata ‘islam’ yang berarti agamanya (objek), ‘muslim’ sebagai penganutnya (subjek), dan ‘muslimin’ menjadi unsur jamaknya. Seperti itu yang dijelaskan oleh almarhum, dan saya telanjur meng-iya-kannya tanpa penelitian lebih lanjut. Mungkin bagi yang paham bahasa Arab, akan bisa memaklumi atau mungkin menertawakan. Ya begitulah.

Tetap panggil saja saya Amal.
Saya lahir di Kediri, tepatnya di desa Rembang Kepuh, kecamatan Ngadiluwih, kabupaten Kediri. Sungguh bukan anak kota madya, kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari desa saya ke alun-alun kota Kediri. Desa Rembang Kepuh terkenal dengan perdagangan bunga-bunganya. Bunga hias, pohon hias, sampai ikan hias. Tapi lebih terkenal dengan tanaman-tanaman yang sering jadi jujukan para pecinta tanaman atau kolektor. Dan biaya hidup saya juga dari hasil penjualan tanaman-tanaman tersebut, disamping dari gaji ayah saya sebagai guru agama dan bahasa Indonesia di madrasah tsanawiyah swasta. Tidak jauh dari rumah kami. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Kakak perempuan dan dua adik laki-laki.

Saya menghabiskan bangku Taman Kanak-kanak di sebuah TK kecil di desa tetangga. Kalau desa saya bernama Rembang Kepuh, desa tetangga itu dinamai Rembang Lor. Lor artinya Utara. Utara dari desa saya. Kemudian setelah menghabiskan masa dua tahun di TK, saya melanjutkan enam tahun belajar di sekolah dasar. Tentu saja masih berada di desa saya. Namanya SDN Rembang Kepuh 1. Letaknya tepat di jantung desa. Yang mana desa kami memiliki tiga dusun. Dusun Rembang Kepuh sendiri, dusun Tawang Rejo, dan dusun Bulu Rejo. Otomatis, sekolah dasar tersebut menjadi pusat edukasi dasar bagi anak-anak dari tiga dusun tersebut. Termasuk SDN Rembang Kepuh 2. Akan tetapi, terakhir saya mendengar bahwa dua sekolah dasar tersebut sudah bergabung menjadi satu. Selain itu, ada pula sekolah sore atau madrasah yang juga menjadi tempat saya belajar agama. Bisa dikatakan sebagai tempat mengaji. Semua pendidikan layaknya mata pelajaran pesantren, diajarkan di sekolah sore itu.

Lepas dari SD, saya melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi bukan SMP umum, melainkan sekolah yang kental bernafaskan islam, yaitu madrasah Tsnawiyah. Letaknyanya berada di Ngronggo, masuk ke bagian kota Kediri. Ibuk saya mengatakan, kalau mau melanjutkan SMA di kota, akan lebih baik jikalau sewaktu SMP sudah bersekolah di kota. Alasannya agar tidak kesulitan mengurus rekomendasi sekolah dari anak kabupaten ke anak kota. Dan hasilnya, tiga tahun saya menghabiskan waktu di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kediri, akhirnya saya bisa terlempar dengan baik dan mudah ke bangku sekolah lanjutan tingkat atas di kota, yaitu di SMAN 2 Kediri. Satu tahun di kelas 1, dan dua tahun di kelas 2 dan 3 dengan jurusan IPA, tak kunjung membuat saya pintar dengan pelajaran berbau eksak. Sejak SD hingga SMA, saya hanya demen pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni menggambar, dan sejarah. Meski berada di kelas IPA, hanya biologi yang lebih saya sukai daripada mata pelajaran lain di jurusan itu. Masuk ke kelas IPA adalah permintaan dari ibuk dan bapak. Mereka terus mengatakan bahwa kalau anak IPA akan mudah masuk ke perguruan tinggi. Bisa masuk ke institut, ekonomi, dan jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan angka. Padahal saya tidak suka angka. Kecuali nominal yang tertera di akun rekening saya. Tapi begitulah permintaan orang tua yang membiayai sekolah saya. Saya wajib menurutinya.

Jangan hadapkan saya ke matematika, pelajaran ini menjadi momok bertahun-tahun dalam hidup saya. Mulai dari guru-gurunya yang killer, hingga mata pelajaran yang membuat saya terus bertanya sepanjang hidup saya: “Kalau ada kalkulator, kenapa harus repot-repot menghitung dengan menggunakan rumus?”. Apakah mungkin generasi saya tidak diajarkan untuk menikmati hidup yang efisien dan efektif? Apakah harus menentukan jawaban eksak dengan urutan formula yang panjang kalau secara singkat saja, atau mencongkak saja, bisa saya lakukan? Terlalu ribet pendidikan di negeri ini, yang sederhana dibuat rumit. Apalagi pada materi IPA kimia dan IPA fisika. Saya pernah membolos di kelas kimia karena saya bingung menghafal urutan tabel kimia, campuran zat dengan rumus Ar/Mr, dan sejenisnya. Padahal menurut saya sendiri, daya ingat saya cukup baik. Pernah ada guru, saya lupa guru apa, mengatakan pada saya bahwa dari hasil tes IQ dan pemahaman diri siswa, saya memiliki daya ingat fotografis. Mengingat orang, benda, dan menghafal sesuatu dengan level di atas rata-rata. Tapi tolong, jangan matematika atau saudara-saudaranya.
Lanjut.

Harapan saya setelah lulus SMA adalah bisa langsung melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi dengan syarat tegas dari orang tua, yaitu saya harus lulus SPMB atau UMPTN. Nasib berkata lain, tahun pertama saya mencoba tes masuk dari pemerintah tersebut, saya gagal di tiga jurusan yang saya pilih. Beberapa teman di desa, termasuk sepupu saya, yang juga mengikuti tes tersebut, berhasil masuk. Membawa mereka keluar dari desa. Sementara ketakutan terbesar saya setelah lulus SMA adalah harus tinggal di rumah. Tidak melakukan apa-apa. Gambaran yang bisa menjadi mimpi buruk saya. Saya bukan orang yang biasa diam. Selama hari-hari paska gagal UMPTN, hari-hari saya isi dengan kegiatan yang meghasilkan uang. Membantu urusan kantor desa. Berhubung ibuk dan bapak punya relasi dengan keluarga pak lurah. Otomatis saya sering diajak melakukan kontrol desa. Mulai dari kegiatan kependudukan, mengurus acara karang taruna, hingga ikut program-program lainnya. Ada pemasukan ke kantomg saya dari kegiatan-kegiatan itu. Seirng waktu, Alloh tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Dengan izin ibuk dan almarhum bapak, saya bisa melanjutkan studi ke kursus bahasa inggris di Pare. Masih menjadi bagian di kabupaten Kediri. Pare terkenal dengan kampung inggrisnya. Banyak pemuda dan pemudi berasal dari seluruh pelosok nusantara yang belajar di sana. Bahkan ada yang dari luar negeri, contohnya Malaysia dan Brunei Darussalam. Terdapat beragam tempat kursus di kampung ini, salah satunya adalah Basic English Course atau BEC. Saya emnjadi siswa di dalamnya. Di kampung inggris ini saya belajar banyak tentang kemandirian. Menjadi jembatan saya untuk bisa belajar tentang mengurus diri sendiri. Tidak melulu tergantung pada orang tua. Selain bahasa inggris baik lisan maupun tulisan, saya juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian UMPTN tahun berikutnya. Setelah enam bulan belajar bahasa inggris dan lulus di peringkat kedua dari ratusan siswa-siswa, ujian masuk perguruan tinggi sudah berada di depan mata. Berkat kerja keras, doa orang tua, dan ridho Alloh SWT, alhamdulillah saya lulus dan masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Airlangga di kota Surabaya.

Hijrah ke kota Surabaya menjadi momen shock-culture bagi saya. Lingkungannya, orang-orangnya, biaya hidupnya, membuat saya harus bekerja keras untuk beradaptasi. Beruntung saya memiliki teman-teman baik dari SMA yang sudah lebih dahulu tinggal di kota pahlawan itu. Mereka membantu dan mengkondisikan saya untuk bisa survive sebagai anak rantauan di kota besar. Dan sekali lagi, sejalan dengan waktu, saya mulai memiliki kawan dan relasi, dari beragam daerah dan berbagai latar belakang.
Dua tahun pertama kuliah, saya memampatkan mata kuliah yang saya tempuh. Saya tidak menyia-nyiakan waktu kuliah, yaitu dengan mengambil SKS maksimal per semester. Sesuai dengan program studi saya: dalam kurun waktu dua tahun, biaya kuliah akan ditanggung oleh orang tua. Namun di tahun-tahun berikutnya, saya harus mampu membiayai hidup dan kuliah saya sendiri hingga lulus. Saya selalu berkaca pada diri sendiri: tidak mungkin saya menghabiskan biaya hidup keluarga untuk kuliah saya. Masih ada dua adik yang harus dibiayai oleh ibuk dan bapak. Dan sekali lagi, Alloh Yang Maha Kuasa mewujudkan impian saya. Sambil kuliah, saya menjadi seorang Master of Ceremony untuk beragam acara. Baik ulang tahun, exhibition, gathering, wedding, dan acara-acara lain, yang penting saya bisa menghasilkan nafkah halal untuk biaya hidup saya. Yang penting halal, apapun saya lakukan. Beberapa anggota keluarga besar saya sering pesimis tentang pekerjaan saya. Tapi saya tidak mau tahu. Urat malu saya sudah putus. Selain menjadi MC dari panggung ke panggung , mall ke mall, hingga ke pasar-pasar, usaha untuk mendapatkan pekerjaan di dunia media pun tidak pernah saya lepaskan. Surat-surat lamaran dan CV sudah banyak yang saya kirim ke stasiun-stasiun radio maupun TV yang tersebar di kota Surabaya. Banyak CV dan surat lamaran yang dikirim, artinya banyak pula yang ditolak. Dan memang benar, mulai dari cercaan sekaligus intimidasi tentang karakter diri sebagai pelamar kerja, menjadi jajanan saat itu.

Namun di akhir tahun 2009, lebih tepatnya 10 bulan setelah bapak meninggal dunia, saya mendapat tanggapan positif dari Radio Republik Indonesia Surabaya, yang menyatakan bahwa lamaran saya untuk menjadi penyiar radio diterima. Panggilan pertama menjadi pengumuman untuk megikuti beragam tes dan kualifikasi atau filterisasi hingga ditemukan calon penyiar radio terbaik yang kemudian akan digembleng untuk menjadi penyiar radio tetap. Beragam tes yang harus ditempuh, saingan yang tidak sedikit, dan tantangan menjadi seorang penyiar radio berkarakter, akhirnya membawa saya ke titik penentuan. Hanya terpilih tiga orang calon penyiar radio dari sekitar 1.500-an pelamar. Alhamdulillah. Maha Besar Alloh.

Saya hanya bertahan selama tiga tahun menjadi penyiar radio di Programma 2 RRI Surabaya. Tahun pertama adalah pembentukan karakter penyiar. Menjadi sosok Amal yang ‘kepenyiar-nyiaran’. Merubah nama Amal Mushollini menjadi Amal Bastian. Nama belakang yang dirasa produser saya lebih komersil. Bastian diambil dari nama Sebastian. Tokoh kepiting merah, sahabat Ariel si putri duyung dalam film The Little Mermaid karya Disney. Kenapa kepiting? Karena zodiak saya adalah Cancer, kepiting. Itu arti dari nama yang menjadi beken di pekerjaan saya saat ini. Sederhana, muncul tiba-tiba.
Memiliki titel berkantor RRI, membuat saya mudah mendapatkan klien untk event-event yang bisa saya handle. Tentu saja sebagai MC. Dulu saya sering menjadi MC untuk produk ponsel asal Tiongkok yang dijual di World Trade Centre Surabaya. Berkoar-koar menjual produk dari jam 12 siang hingga jam 6 sore dengan gaji 100-150 ribu per hari, namun dengan kontrak MC yang lama. Ada yang sebulan, dua bulan, bahkan kalau ada produk baru yang di-launching, saya lah yang menjadi MC tetapnya.

Saya semakin memahami bahwa waktu yang memoles semuanya. Membuat pengalaman menjadi CV berjalan sekaligus lahan marketing yang bisa saya gunakan meningkatkan level profesi saya ke arah lebih tinggi. Memperkenalkan diri saya dari nol ke angka-angka tinggi berikutnya dalam karir saya. Masih di tahun pertama menjadi penyiar radio, saya bertemu pengajar broadcast dan public speaking. Meminta saya menjadi pengajar tetap materi penyiaran di sekolah-sekolah ternama di kota Surabaya. Contohnya sekolah-sekolah yang masuk ke Yayasan Petra, sekolah-sekolah kristen, dan sekolah umum lainnya. Kondisi ini berlanjut kepada tawaran dari beberapa agensi model. Mereka meminta saya untuk mengajar teknik public speaking, materi-materi umum tentang kemampuan percaya diri dan bicara dengan baik di depan public, hingga hal-hal berbau dunia radio. Dan aktivitas ini terjadi di tahun-tahun berikutnya. Setiap hari saya belajar di bangku kuliah, siaran radio, mengajar, mengisi acara untuk beragam event, dan tentu saja bergaul. Hidup saya berasal dari pergaulan dan kemudahan berinteraksi dengan orang. Menjadi sosok yang easy going namun berkarakter.

Di akhir tahun kedua menjadi penyiar radio tidak membuat saya nyaman. Saya ingin melakukan hal lebih. Bukan hanya ini dan itu saja. Saya mau menjadi sosok di kota ini, bahkan di propinsi ini. Akhirnya di awal tahun berikutnya saya melamar lagi ke beberapa stasiun TV, hasilnya, banyak yag tidak menerima saya. Saya ditemukan oleh sosok di balik layar, saat saya menjadi MC di sebuah event rakyat. Beliau memperkenalkan saya dengan beberapa produser acara di stasiun TV Surabaya, yaitu SBO TV. Saya mulai mengikuti audisi, sering menonton acara-acara di stasiun tersebut, bahkan berlama-lama ‘nongkrong’ di studio saat ada acara live. Karena kemampuan ‘ngeyel’ saya, seorang produser mulai membawa saya untuk memegang acara berita. Sangat sedikit porsi saya syuting di studio. Di awal karir di dunia pertelevisian, saya harus terjun ke lapangan. Mulai dari nol dengan menjadi reporter. Reporter lalu lintas, agenda kota, dan sebagainya. Dan beruntung saya mudah belajar. Hanya beberapa bulan di lapangan, akhirnya saya bisa menjadi news anchor yang on cam di studio. Awalnya hanya membaca berita, namun terus berlanjut ke acara-acara talkshow, hingga membuat saya bisa bertatap muka dan berbincang dengan orang-orang penting. Pejabat, pengusaha, artis, dan suara masyarakat. Di tahun ketiga menjadi penyiar radio dan tahun pertama menjadi news anchor TV, kegiatan full day saya adalah: siaran TV, siaran radio, mengajar broadcast dan public speaking, kuliah, dan tidur. Sayang butuh tidur karena saya kurang tidur.

Karena posisi saya di stasiun TV mulai mengarahkan saya ke acara primetime dan harus syuting setiap hari, akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan meja siaran radio saya. Kantor yang membentuk diri saya. Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Banyak pihak yang menyesali keputusan saya, khususnya kantor Pro 2 RRI Surabaya sendiri. Namun di sisi lain banyak pula yang mendukung dengan alasan bahwa saya tidak harus berada di zona nyaman. Dan opsi kedua yang saya ambil. Saya harus keluar dan menantang diri saya untuk menjadi sosok Amal Bastian di industri media massa.
Seiring dengan pekerjaan yang saya geluti, harapan menyelesaikan bangku kuliah S1 harus segera saya tuntaskan. Dan alhamdulillah, 3,5 tahun kuliah total, 2 tahun abal-abal, dan 1,5 tahun mengerjakan skripsi yang membinal, akhirnya mampu memberikan gelar dibelakang nama saya dengan titel S.Hub.Int. Dalam kurung waktu 7 tahun saya tinggal di Surabaya, semua yang saya anggap sebelumnya mustahil, ternyata terjadi dan saya alami sendiri. Kun fayakun. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.

Dan sekarang, saya masih menetap di Surabaya. Masih menjadi news anchor dengan jadwal stripping dari Senin-Sabtu untuk acara talkshow di SBOTV. Masih menjadi pengajar terbang di bangku sekolah dan kuliah sekaligus seminar umum. Masih menjadi sosok MC untuk beragam acara. Masih ingin melanjutkan studi S2. Dan masih bercita-cita menjadi penulis.

FYI, cita-cita saya sangat sederhana: saya mau hidup nyaman di pegunungan yang dingin dengan keluarga kecil saya dan melihat orang-orang mencintai karya tulis saya.

Sekian…
Wassalamu’alaikum…

Is It Wrong being A Single in 20’s-year-old?

Remember I wrote this essay almost three years ago, starting face my 20’s birth day… And my sister read it and said, “Goshhh, Dude! It’s twentieth century, how could you not get along with the girl? Or you are….” She stopped on those edge of words….

Being single is hard decision for me. Ignore everyone who mocks me everytime about my status that in 20 years old I don’t have someone yet I love and I introduce to. Or maybe show her off to everyone forced me. So difficult, I do! But if I think more and more about, it will be useless time that I hate to do. I don’t care what they said, I never thought this affair so hard, even for the first time I made it as the big problem in my life time. But, long by long, I could make my mind and my heart as well understand about the truly love will come so lovely in my life, someday, I don’t know.

To be patient person and always spread love to the others are my main job that I like to do. Just spending my time to not think my status everytime, ‘cause if we share love, it means we get love too, right? In my final conclusion, I make summary that love can come not only from someone we love or they we share and understand about our heart but also we can get it by do so simple thing, we just give love to someone we choose and wait for a moment, well get this one back to us. So incredible thing. At least I will get the girl who more or the most perfect I’ll ever find and make them feel so surprise till they can say anything. That’s my ambission or just my idealism?

Hmm… Only God the Al Mighty knows everything, I never figured this problem out before the matureness come early. For God sake! Why does it happen to me? Gimme some reason God! Or You, in the seventh sky there, can call me back through my night-dream that I always dream’n of in thousands night.

Passing days and walking the time, only with my close friends with their or our loyality we always together, is my day in my daily. Easier than we make appointment with the girl that in our status we generally as the freedom men, fell being tied out. Oh God poor us! So, which one we choose being single or fell like the odd man that always being tied and seldom feel free? I take the first one, for this time he…he…

For closing, I just wanna say that love is so simple thing but remember if you never aware about, it will make you down and the worst, you wish you would be an unseen person or being an invisible man in your life time after. So be careful!

Kronologi Asmaragana

Kronologi

Mereka bisa menganggap salah saat muncul satu orang yang jatuh cinta diantara sepasang kekasih. Dianggap hina, dibilang kurang kerjaan, dan diumpat sampah. Cibiran perusak hubungan orang pun tak terelak. Semua nyata tanpa kasat mata. Tak terkecuali hati yang terus mengiris pedih dan bertanya “Apakah atas nama cinta semua ini salah?”
Saat itu seharusnya mereka berpikir, bukannya manusia dipercaya Tuhan untuk memiliki cinta, membagi, dan mendapatkannya? Mereka tak sadar jika lumatan kejam mulut mereka juga muncul dari sebongkah daging bernyawa yang disebut manusia.
Aturan, ya benar. Memang aturan yang mengharuskan cinta harus diberikan dan bisa disalahkan saat sinergi itu keluar dari lintasannya. Sama seperti seorang pelari yang keluar jalur dan dianggap diskualifikasi. Tapi sekali lagi, adakah perayaan diskualifikasi atas cinta?
Tuhan pun tahu jika cinta memberi kemampuan manusia untuk hidup, bernuansa dalam alam-Nya, dan sekali lagi, bisa memanusiakan manusia lebih manusiawi.
Namun, aturan tetaplah aturan. Cinta memiliki aturan yang terlegalisasi tanpa proses.
Kamu mencintai seseorang, dia mencintai kamu. Cukup. Itu aturannya.
Dan saat orang yang tak berhak mencintai di saat dua jiwa bercinta…
Itu salah…
Melanggar…
Dan tak dihormati…

Bodohnya, ada orang yang seperti itu. Entah dengan berbagai alasan yang bergelayut merdu di ekornya. Tapi hal itu tak menghindarkan sesuatu yang sudah hina untuk lebih terhina lagi.
Dalam hal ini, itu salah kah?
Tabu kah?

Tapi terakhir kali yang perlu mereka tahu, pada saat semua terbuka, hanya satu cara yang bisa memberi kekutan untuk memahami kisaran yang membelenggu antara sepasang kekasih dan orang yang dianggap ‘tidak penting’

Mereka bermuara di danau yang sama…
Asmaragana.

Seteguk Rindu Keluarga

Mimpi paling indah untuk kamu yang sekarang jauh dari keluarga.

Semoga bisa memberikan hal terindah untuk kamu.

Kisah nyataku…

30 Juni 2011

Tepatnya tadi malam aku mendapatkan mimpi yang bisa mengingatkan kita betapa pentingnya keluarga dalam kehidupan ini. Sungguh berartinya ciptaan Tuhan itu hingga kita akan benar-benar menyesal jika ‘tak bisa mencium dan memeluknya saat mereka terpisah jauh dari kita. Ya, benar. Mereka adalah ayah, ibu, dan saudara-saudari kita.

Tuhan Maha Kuasa. Dia menciptakan mimpi yang membuatku menangis tertunduk sehabis sholat subuh pagi ini. Bersujud dan mengisak di atas sajadah merah yang tergelar di atas karpet. Sungguh indah dan mengagumkan karya-Mu, Rabb.

Berawal dengan gambaran seorang pria berumur sekitar 35 tahun. Memakai pakaian kerjanya sebagai seorang intelejen. Sibuk dengan urusan pribadi dan tenggelam dalam hiruk-pikuk metropolitan yang sedemikian rupa melepas semua batasan waktu. Terlihat pula stasiun-stasiun angkasa yang menggantung di langit kota. Lahan parkir susun khusus mobil-mobil terbang dan kendaraan umum yang menggantung di ujung kawat. Yang entah dimana ujung kaitnya karena tertutup awan saking tingginya. Dapat dilihat pula restoran cepat saji  Mc Donald yang terletak di atas sebuah roof-top gedung 30 lantai, dimana bangunan unik bertingkat itu menyorotkan cahaya lampu melimpahnya ke seluruh penjuru. Lengkap dengan banyak lampu mercury yang menembus langit kota. Disampingnya ada tulisan besar menggantung dan mengkerjap-kerjap, ‘Open 36 Hours a day’. Masya Alloh, luar biasa masa depan nanti. Waktu yang diciptakan oleh Illahi yang hanya 24 jam sehari pun bisa dimodifikasi menjadi lebih panjang dari biasanya. Dan benar, itu lah keajaiban mimpi. Membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan membuat kemungkinan itu menjadi nyata di kehidupan sebenarnya. Hanya Tuhan yang tahu.

Kembali ke cerita mimpi. Di kota besar itu aku digambarkan sebagai seseorang yang sibuk dengan pekerjaanku sebagai agen badan intelijen yang mengharuskan mobile-working setiap waktu. Memberikan perlindungan dan menyelesaikan kasus keamanan dan pertahanan pada rakyat sipil. Serta sedikit menyombongkan diri –penyakit yang tak kunjung sembuh- di depan khalayak bahwa kita memiliki pengaruh dan kuasa tinggi atas segi keselamatan mereka. Dengan rumitnya pekerjaan yang harus dijalankan dan rentetan jadwal citizens guide –patroli ke rumah-rumah penduduk, agak aneh memang- mendadak aku ‘tak bisa menyelesaikan satu pekerjaan yang teramat penting. Hujatan dari atasn yang mewakili pemerintah mulai datang. Ancaman pemecatan siap menghujam di atas glass paper –kertas kaca, semacam surat LCD setipis plastik tembus pandang-. Bertubi-tubi kolega dan rekan kerja mulai memberikan mimik buruk dan menciptakan jarak dari kehidupanku. Tak ada waktu lagi yang dapat digunakan untuk menyembuhkan semuanya. Aku berhenti. Aku tertancap. Diam dan diam. Seakan dunia runtuh menimpaku. Tidak ada seorang pun yang mendukungku. Tak ada senyum ceria yang menghangatkan hatiku. Tak ada satu orang pun yang meredam emosiku.

Kehidupan workoholic yang takut akan kehilangan segalanya mulai meleburkan sisi-sisi idealismenya. Tak ada pasangan hidup. Dan seakan sahabat dekat pun susah untuk didapat. Semua hanya sebatas formalitas profesionalisme dari kehidupan yang aku jalani.

Gila.

Beku.

Mati.

Cahaya

Kilat

Tiba-tiba aku terlempar ke dalam sebuah kumparan dan lorong panjang. Aku melayang dengan kecepatan tinggi menuju ujung lorong yang teramat jauh terlihat. Dan diujung lorong tersebut aku melihat cahaya putih yang memancar bagai geliat sinar mentari di siang hari. Sementara itu di dinding lorong tersebut, aku bisa melihat gambaran masa-masa kehidupanku yang telah terlewati. Dan itu semua terlihat dalam sebuah layar-layar video yang banyak sekali. Aku bisa melihat diriku saat wisuda kuliah. Melihat pesta ulang tahunku yang ke-23 tahun. Tampak pula saat aku sujud syukur di depan kamarku sambil memegang pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Dapat dilihat pula wajah kecewa ayah saat aku mengamuk karena ‘tak dibelikan sepeda motor. Apa?! Ayah kecewa!? Bukannya pada waktu itu Ayah marah besar dan hampir menamparku seusai aku pulang sekolah. Aku masih memakai seragam putih-abu-abu sambil menggerutu di depan Ayah minta dibelikan kendaraan itu. Aku berteriak padanya dan mengancamnya bahwa aku ‘tak akan masuk sekolah meski keesokan harinya aku tetap berangkat naik bis ke SMA-ku. Sekali lagi hatiku tercabik. Ternyata Ayah tidak marah. Beliau dengan wajah marah masuk ke kamarnya. Mengambil sebuah buku kecil dan secarik kertas, menunduk, dan meletakkan buku kecil itu di dadanya. Melihat kembali tulisan yang ada di kertas itu. Aku yang masih melayang di lorong panjang, sedikit menghentikan laju perjalananku. Meletakkan tanganku di layar dan menyentuh wajah ayah yang menunduk. Air mataku mulai jatuh. Bukan hanya jatuh, tapi mengalir deras. Terlihat sangat jelas huruf-huruf yang tergores dengan tulisan latin khas tgoresan ayah. Membacanya pun aku tak sanggup berkata apa-apa. ‘Tabungan Kuliah untuk Amal, Anak Keduaku yang Aku Banggakan.’ Dan dia membuang buku kecil satunya ke atas tempat tidur. Bertuliskan, ‘Tabungan Haji, ONH Plus’

Tuhankuu….

Ya Rabbi….

Betapa durhakanya aku! Betapa nistanya aku. Telah Engkau berikan seorang ayah yang memberiku kehidupannya. Yang merelakan mimpinya hanya untuk menciptakan kehidupanku di masa depan. Ya Rabbi. Kembalikan ayahku! Aku hanya ingin bersimpuh di kakinya dan memeluknya. Minta maaf atas kelancanganku selama ini.

Perlahan aku mulai terhempas lagi. Masih melayang di lorong panjang itu. Masih melihat layar-layar yang merekam kehidupanku di masa lalu. Melihat tubuhku terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Memandang kagum seorang wanita terindah yang masih memakai  mukena putih dan mengecek selang infusku. Kemudian wanita itu kembali duduk di atas sajadah merahnya. Menengadahkan tangannya ke atas. Meminta sesuatu pada Sang Khalik. Seperti biasa, beliau selalu menitikkan air mata dalam doanya. Ibu. Jika Tuhan benar-benar menurunkan malaikat-Nya ke bumi. Aku telah memilikinya. Ibu. Itu ibundaku. Pahlawanku.

Dia tidak tidur demi menyamankan diriku yang merintih sakit akibat demam berdarah. Dan opname selama 7 hari itu perlahan melabilkan emosiku. Ibu yang membaca Al Qur’an dengan suara lirih agar aku ‘tak terusik saat terlelap. Beliau sangat tanggap saat aku harus buang hajat dan tak bisa ke kamar mandi sendirian. Aku ‘tak sanggup lagi berkata apa-apa. Menangis. Iya, aku menangis lagi. Ibu telah menengadah dan merintih kepada-Nya saat aku hanya bisa meronta. Kenapa aku harus terbaring di atas kasur keras dalam sebuah bangsal rumah sakit yang ditempati 3 pasien lain di ruangan itu. Mengapa aku harus kehilangan kesempatan ikut kompetisi pidato gara-gara penyakit ini? Aku masih menyalahkan ibu mengapa aku tak ditempatkan di ruang VIP agar aku cepat sembuh? Aku dan mengapa. Aku dan kenapa.

Ya Tuhanku…

Sekali lagi betapa hamba kurang bersyukur atas semua karunia dan nikmat malaikat berupa ibu yang Engkau berikan kepadaku. Betapa bodoh dan sangat kurang bersyukurnya aku pada waktu itu. Ibunda. Maafkan anakmu yang tak pernah memahami bagaimana perjuanganmu ini. Maafkan aku, Ibu!

Angin mulai meniup tubuhku lagi. Menjauh dari kebekuan di depan layar yang menunjukkan wajah ibu. Aku terhempas lepas.

Memcingkan mata dan menggigil, aku mulai melayang tebang. Melihat layar-layar berikutnya yang mengelilingiku di lorong itu. Melihat Kak Fina yang mengobatiku saat aku tertimpa dinding kamar mandi yang roboh. Kenyataan bodoh saat aku masih berumur sekitar 7 tahun. Memanjat dinding kamar mandi lama yang ada di belakang rumah. Masih mengenakan seragam sekolah dan sempat ingin kabur siang itu demi menghindari anjuran ibu untuk tidur siang. Dan sialnya, ibu telanjur marah. Menutup pintu dapur dan pintu depan rumah. Sehingga aku ‘tak bisa bergerak kecuali berputar-putar di halaman belakang rumah. Namun, bukan aku yang nakal jika tak punya akal cerdik. Aku memaksa naik ke dinding rapuh di dekat kamar mandi. Dan dengan bobot tubuh yang berat dan melimpah dibanding anak-anak seumuranku pada waktu itu. Akhirnya tubuhku pun berhasil menghancurkan tegapnya tumpukan batu berlumut itu. Darah bersimbah, tubuh terendam dalam air comberan, dan badanku gatal-gatal luar biasa karena teringsuk di semak-semak lateng –sejenis tanaman semak yang membuat kulit gatal-. Dan aku berteriak membahana.

Tangan halus mulai menyentuh lenganku, menarikku dari tindihan batu-batu keparat itu. Seorang gadis belia yang masih mengenakan rok SD-nya, mulai menggendongku di punggungnya. Iya benar, itu Kak Fina. Dia melepas semua baju dan celanaku di kamar mandi. Mengguyurku dengan air. Dan aku masih bisa merasakan betapa perihnya luka yang mengalirkan darah dari kulit lengan dan pahaku. Kemudian Kak Fina memapahku ke tempat tidur. Membubuhkn obat merah di luka-lukaku. Menaburi bagian tubuhku yang bentol-bentol akibat tanaman lateng itu. Dan menyelimutiku setelah itu. Aku masih merintih dan menangis dengan kesakitan yang luar biasa itu. Namun, rasa sakit itu perlahan hilang ditelan bumi. Kak Fina selalu bilang: ‘Anak laki-laki itu harus kuat, Dek! Mbak aja kuat lho!’ sambil mengangkat bagian siku dan dahinya yang berdarah. ‘Mbak tadi habis bikin KO si Saeful! Menang telak! Jangan bilang ibu, ya!?’ Dan dia berlalu sambil meringis dan tersenyum kecil. Dan yang pasti, selalu berjalan pincang. Yah! Itu Kak Fina! My Super Girl.

Di saat yang sama, aku amat merindukannya. Dengan seorang pangeran cinta dan dua bidadari di pangkuannya. Dalam keluarga kecil yang tinggal di pinggiran kota. Kak Fina terlihat semakin cantik dengan jilbab yang dia kenakan. Baju berlengan panjang yang membalut tubuhnya, tak mengurangi kecekatannya saat menyuapi putri terkecilnya, Icha, yang terus merangkak lincah di atas karpet ruang tamu. Dan dia juga masih bisa membagi otaknya dengan membantu mengerjakan PR si Farah, putri pertamanya yang semakin pintar karena terus bertanya pada ibundanya. Kak Fina beda. Dia tumbuh menjadi seorang ibu rumah tangga yang seratus persen mengabdikan hidupnya demi putri-putrinya sekaligus suaminya. Kak Fina selalu bilang, ‘Cita-citaku sudah terwujud, Dek! Mbak wis sukses jadi wanita sempurna dan memiliki pekerjaan paling agung sedunia. Menjadi ibu.’ Dan dia kembali tersenyum kepadaku. I miss you, Kak!

Angin hangat mulai menerpa dadaku. Dan dengan sigap membenturkan kepalaku ke layar lain di lorong panjang itu.

Si penggerutu ada di depan mataku. Tersenyum.

Masih terngiang di benakku waktu melihat adik pertamaku Johan, berteriak-teriak di atas pohon dan memintaku menangkap setangkai buah rambutan yang dia dapatkan dari pohon rambutan belakang rumah. Aku lantas menangkapnya dengan sigap. Mengumpulkannya setangkai demi setangkai, dan memasukkannya ke dalam bakul plastik besar milik ibu. Dia selalu memintaku agar buah rambutan itu jangan dimakan dulu. Nanti saja saat nonton film Ultraman kesukaannya, begitu katanya. Tapi bebalnya aku, belum penuh sekeranjang, aku sudah banyak menelan daging buah berambut itu. Tak urung, adikku Johan marah besar. Sambil berteriak-teriak dia mulai meniti dahan-dahan di pohon itu dan memanjat turun. Aku sambil tertawa langsung mengambil banyak-banyak buah yang ada di bakul itu dan berlari masuk ke dalam rumah. Johan masih berteriak-teriak tidak rela. Mungkin karena hujan lebat semalam, dahan dan batang pohon rambutan itu agak sedikit lapuk dan licin di bagian kulitnya. Belum sampai ke dapur, terdengar suara debaman kecil dari arah pohon dan seketika itu teriakan nyaring Johan menghilang. Aku masih tertawa kecil sambil bersembunyi di balik pintu. Sesaat dari arah belakang rumah, Ibu berteriak. Johan jatuh dari pohon. Dia diam ‘tak bergerak. Dan rambutan yang aku pegang jatuh ke lantai.

Perban di kepala dan gips yang melingkar di lengannya, ‘tak bisa merusak ketampanan wajah adikku ini. Aku masih bisa melihatnya marah kepadaku dan beringsuk ke lengan ayah saat dia sadar di puskesmas. Aku hanya tertunduk. Antara malu dan merasa seolah menjadi orang paling bodoh sedunia. Dan hampir menangis jikalau Johan akan pergi selamanya hanya karena kenakalanku ini. Aku hampir menangis dan berucap kata maaf lirih kepadanya. Dan yang pasti masih dengan posisi menunduk. Namun, perlahan dia memandangku. Dan berkata, ‘Mas, kupasin rambutanku! Ayo maem bareng!’. Aku kaget. Aku mulai berani melihat wajahnya. Dan dia tersenyum. Dan aku segera merangkulnya. Namun, dia berteriak, ‘Mas, lenganku masih sakit!’ sambil tertawa kecil. That’s my Bro! The little teacher of life.

Aku kembali bergerak. Meluncur ke ujung lorong. Namun, udara yang menerpa dan melayangkan tubuhku ini sepertinya agak sedikit lembab.

Monitor yang aku lihat kali ini gelap gulita. Tidak muncul gambar apa pun seperti layar-layar sebelumnya. Sepertinya ada yang ganjil di layar ini. Akan tetapi, mendadak muncul jemari kecil yang mengusap-usap layar. Dan perlahan aku mengenali tangan itu dan melihat wajah si bungsu. Adikku yang luar biasa, Alan.

Menyaksikan adikku Alan yang sibuk mengipasi bara api dan membakar tusukan-tusukan daging kambing adalah satu rutinitas yang selalu dia lakukan dengan penuh rasa bangga saat Hari Raya Kurban tiba. Kami sering sekali melakukannya diam-diam bersama Kak Fina dan Johan di bawah pohon rambutan saat ayah sibuk menjadi panitia penyembelihan di masjid atau tidak ada di rumah. Ayah sering kurang suka dengan acara bakar-bakaran sate seperti itu. Beliau selalu bilang, ‘Nduk-Le! Jangan dibiasakan pesta bakar-bakaran. Daging kurban itu hak-nya fakir-miskin, sementara kita masih mampu beli. Nanti ayah belikan di pasar.’ Kami hanya bisa diam sesaat setelah ayah bersabda. Namun tidak si bungsu, yang sepertinya paling bersemangat dengan status barunya sebagai tukang sate. ‘Hoalah, Yah! Kita ‘kan dikasih sama masjid, lagian juga ndak nyuri to?! Rezeki ‘kan ndak perlu ditolak, Yah!’ Aku, kak Fina, dan Johan hanya manggut-manggut, mendukung opini dek Alan. Dan ayah melihat kami berempat dengan tatapan tajam. Sambil berlalu, beliau bilang, ‘Yowislah, anak-anakku paling pinter kalau ngeyel’. Dan kita berempat pun tersenyum. Tertawa cekikikan sambil membakar dan mengunyah daging-daging itu. Mecocolkannya ke sambel kecap. Membakarnya lagi. Dan mengunyahnya lagi.

Namun, di satu Hari Raya Kurban, ada sedikit yang berbeda dari hari raya ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada waktu itu ayah sakit sehingga beliau harus istirahat total di rumah. Ayah minta izin ke masjid agar tidak dijadikan panitia kurban pada tahun itu. Dan ini juga yang merubah raut muka si bungsu. Dari sejak pulang sholat ied dan setelah penyembelihan kurban di masjid, si kecil itu hanya makan sedikit dari sarapan yang telah ibu sediakan di rumah. Dia berpikir, jika ayah tidak menjadi panitia kurban, daging kurban pun pasti ‘tak datang ke rumah. Sementara itu aku dan Johan masih mengikuti kegiatan hari raya Idul Adha di sekolah kami masing-masing. Dan Kak Fina pada tahun itu belum bisa pulang kampung karena ada acara di kampusnya. Namun si kecil ini memang bisa dikatakan pantang menyerah. Seperti yang diceritakan oleh ibu. Putranya yang masih kelas 2 SD ini berlari ke masjid dengan membawa topi hitam yang sering dia gunakan bermain. Tak lama kemudian, tepatnya sesaat sebelum adzan ashar akan berkumandang, si bungsu ini telah pulang dengan membawa satu tas kresek daging kambing dan daging sapi di tas kresek satunya. Dengan bangga dia mulai membakar daging-daging  yang sudah dia bentuk serupa sate dan memamerkannya pada ibu. Ibu sampai terheran-heran bagaimana si anak ingusannya bisa mendapatkan daging itu. Dan ternyata, adekku yang nakal ini, sejak siang hari telah ikut menjadi panitia kurban dadakan. Dia ikut membantu membagi-bagikan daging kurban ke para penerima daging kurban. Dengan menaiki becak bersama mas-mas masjid yang jauh lebih tua umurnya dari dia, dek Alan mulai menjelajah seluruh desa hingga ke desa tetangga. Kami sekeluarga sampai berdecak kagum atas semangatnya yang luar biasa. Si kecil Alan telah menjadi motivator dadakan bagiku. Adikku yang luar biasa.

Dan saat sore tiba, dimana aku dan Johan sampai di rumah. Sepiring sate telah siap di meja dapur dekat kompor. Si bungsu selalu pamer. Sementara itu aku dan Johan hanya bisa menepuk dadanya dan mengusap kepalanya. ‘Edan kamu, Dek! Mantep tenan!’ kata Johan sambil tertawa kagum. Dan di sore itu, kami sekeluarga makan sate khas Alan

adikku dengan penuh kebanggaan. Memang benar-benar edan.

Keluargaku…

Itu keluargaku…

Benar-benar keluarga yang aku cintai…

Tak terasa aku telah sampai di ujung lorong. Aku terhempas dan menemukan diriku berdiri di sebuah halaman yang dipenuhi tanaman hias. Bougenvile, palem-paleman, adenium, dan beragam tanaman hias lainnya. Aku mengenali tempat ini. Dan saat aku menoleh ke belakang, aku melihat bangunan dengan dinding yang masih belum di cat. Sementara di sisi lainnya aku melihat jendela-jendela yang terbuka lebar. Aku tahu apa ini. Rumahku.

Namun ada yang terasa janggal. Rumahku sepi. Sangat sepi. Aku berteriak lantang memanggil semua anggota keluargaku.

Ayah.

Ibu.

Kak Fina.

Dek Johan.

Dek Alan.

Tapi ‘tak ada seorangpun yang membalas panggilanku.

Aku mulai kebingungan. Membuka semua pintu yang ada di rumah, namun ‘tak seorang pun ada di dalam satu ruangan. Senyap. Benar-benar senyap. Akan tetapi, bukan Amal jika hanya diam. Aku berlari ke teras depan, sepi. Aku mulai berlari ke arah belakang rumah, ke arah pohon rambutan, tak ada siapa pun. Dan berakhir dengan pikiranku yang mulai putus asa.

Aku payah dan capek. Sesaat aku telah terkapar di atas sofa ruang tamu dimana ayah sering membaca koran di kursi empuk itu. Dan mendadak aku terhenyak. Luar biasa kaget saat mataku melihat sebuah bingkai foto yang tergantung di dinding di depanku. Terlihat jelas sebuah potret keluarga bahagia. Senyum yang terpancar dari setiap orang yang ada dalam bingkai itu dengan jelas memancarkan sebentuk keluarga yang harmonis. Keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, dan putra-putrinya. Dan aku sadar, itu potret keluargaku.

Namun, degup jantungku serasa berhenti berdetak. Sesaat aku sesak nafas. Ada yang ganjil.

Di potret itu ada ayah, ibu, kak Fina, dek Johan, dek Alan, dan…

Dimana aku?!!!

Dimana bentuk diriku yang seharusnya menjadi anak kedua dalam potret keluarga harmonis ini?!!

Aku tidak ada…

AKU TIDAK ADA!!!

Wajahku mulai berurai air mata.

Dan sesaat setelah menyadari tidak adanya gambar diriku di dalam bingkai potret keluarga itu, aku juga merasakan hal aneh menyerang tubuhku.

Aku melihat tubuhku mulai menjadi balutan daging tembus pandang. Transparan. Dan perlahan menghilang. Awalnya kaki dan tanganku. Kemudian merambat ke seluruh tubuhku. Dan aku masih berteriak-teriak. Memanggil keras-keras semua anggota keluargaku.

Tidak bisa. Aku telah terlanjur lenyap.

‘Allahu Akbar-Allahu Akbar…’

Suara adzan subuh membuyarkan mimpi-mimpiku. Hanya istighfar dan menyeka keringat yang membasahi tubuhku yang bisa aku lakukan tepat saat jam dinding menunjukkan pukul empat pagi lebih beberapa menit. Ya Alloh, Ya Tuhanku. Mimpi yang aku alami ini begitu nyata.

Buru-buru aku beranjak dari tidurku. Mengambil air wudhu dan sholat subuh di masjid sebelah kosku. Mendoakan almrhum ayah yang telah lama bersama-Nya. Mendoakan kesehatan dan berkah kehidupan lahir-batin dunia-akhirat untuk ibu dan saudara-saudaraku. Untuk keluargaku. Untuk orang-orang yang mencintaiku.

Pagi itu aku sadar. Walau ayah telah lama tiada, aku masih bersyukur karena hingga sekarang aku masih bisa mendengar suara ibu, kak fina, dek johan, dan dek alan. Meski hanya lewat telepon.

Namun, entah sampai kapan? Aku pun ‘tak tahu. Dan yang lebih aku sadari, selama mereka masih ada, tidak ada alasan bagi kita untuk terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan melupakan mereka. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Cintai keluarga kita.

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.

Terima kasih.

Nb. Pagi itu aku menelepon Ibu dan Ibu hanya bilang, ‘Lha sekarang ibuk lagi sama mbakmu dan adek-adekmu lho Mas di rumah! Ayo kapan pulang? Mau dibakarin sate kambing?’

AKU SEGERA PULANG, BUNDA!

Waktu yang Memburu

Waktu

Kadang kita tidak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Begitu pula perubahan yang terjadi pada diri dan kehidupan kita. Tiba-tiba saja saat kita melihat refleksi diri di cermin, pantulan kejujuran mulai nampak jelas. Perubahan fisik, psikis, bahkan transisi yang kasat mata pun terasa beda. Satu-dua-tiga bahkan sekian tahun berlalu telah memahat dan mengikis kontur dan tekstur hidup kita. Pun semakin jelas guratannya yang tentu saja berbeda dari diri kita beberapa tahun sebelumnya. Masih ingat kah kita saat kita masih kecil? Hanya bermain, tertawa, dan menangis yang kita lakukan. Sangat heran saat orang-orang dewasa menitikkan air mata karena sesuatu hal. Saat mereka melarang diri kita dengan kalimat, “Jangan, kamu masih kecil!”. Dan pada saat yang bersamaan kita memberontak untuk memiliki kehidupan dewasa seperti mereka. Dan disitu lah terlihat betapa kita masih sangat anak-anak. Yang penting cepat, praktis, dan siapa pakai. Kita belum bisa memahami apa yang dinamakan proses dan pemahaman. Butuh waktu, tenaga, dan pikiran. Tidak asal bicara langsung kita punya. Sekali lagi, waktu yang memegang kendali.

Waktu juga yang membentuk kisi-kisi pola pikir kita. Dimulai dari meniru figur-figur yang ada di sekitar kita. Orang tua, saudara, keluarga, teman, hingga ke beberapa sosok yang kita anggap fenomenal yang kita sebut sebagai idola. Meski tak sadar, mereka ikut andil dalam pembentukan sosok kita sebenarnya. Dan jangan salahkan peribahasa bahwa buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Sifat-sifat dan kemampuan tentang suatu hal yang kita miliki, juga merupakan warisan dari gen orang tua kita. Campuran atau dominasi, yang penting ada di tubuh dan jiwa kita. Umur tetap berjalan saat kita berusaha menemukan jawaban siapa diri kita sebenarnya. Orang bilang, proses pencarian jati diri. Dan proses tersebut menuntut kita untuk beradaptasi di suatu habitat tertentu. Bertemu dengan spesies-spesies lain. Berinteraksi dengan para individu dalam suatu komunitas, yang sering kita sebut sebagai lingkungan. Oleh karena itu, keluarga, teman, dan tempat dimana kita menginjakkan kaki, juga turut serta meraut pribadi kita. Dan kita menemukannya di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, begitu pula di tempat kerja.

Kita tidak akan tahu bahwa sesuatu itu benar jika kita tidak mengerti mana yang salah. Kita tidak sadar bahwa itu putih jika hitam tidak ada. Kata ‘terang’ pun tidak bakal muncul jika ‘gelap’ tidak bermanifestasi. Dan tentu saja, kontradiksi-kontradiksi itu akhirnya membentuk pemahaman saat kita merasakan suka-duka dalam kehidupan. Susah-senang. Kaya-miskin. Dan bentuk-bentuk kata yang semakin beroposisi menghiasi taman hidup ini. Dan itu semua disebut sebagai pengalaman. Pengalaman dari perjalanan hidup yang pernah kita alami seiring berjalannya waktu. Pola garis lurus vertikal dan horizontal yang menggores kisah hidup kita. Kita harus sadar, bahwa semua itu termaktub dalam konteks masalah yang menjadi bab-bab terjilid dalam kamus hidup yang telah dibukukan oleh Tuhan. Halaman demi halaman harus terbaca, tidak ada yang namanya lompatan ke halaman berikutnya, bahkan banyak sekali catatan kaki yang harus kita pahami. Benar, itu lah alkitab kehidupan kita yang ditentukan oleh waktu yang terus berlalu tanpa rem angin. Tak ayal lagi jika sosok pribadi yang diinginkan oleh beberapa manusia, kadang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dalam konteks ini, kita perlu mengarisbawahi suatu anekdot singkat yang menyatakan bahwa, ‘manusia diciptakan sesuai dengan porsinya masing-masing’. Boleh sadar atau tidak, bahwasanya hal itu terbukti benar. Kesalahan yang sering terjadi pada kita adalah bahwa tidak menyadarinya dan seringkali mengeluh dengan porsi-porsi tersebut. Dengan kata lain, kita memilki rasa kekurangan yang disebut kurang bersyukur. Dan bilamana semakin akut, akan menjadi bentuk penggugatan. Gugatan terhadap yang menciptakan kita. Gugatan tentang ketidaknyamanan kita sebagai pribadi yang mendiami semesta. Dan gugatan-gugatan lain yang mengindikasikan bahwa kita tak wajar menjalani hidup seperti yang telah dibukukan untuk kita. Itu salah, salah besar.

Porsi kehidupan tergantung bagaimana kita bisa mencari celah saat kita ingin bahagia di antara kesedihan yang ada. Begitu pula sebaliknya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa kontradiksi kehidupan setiap hari kita alami. Kebisuan diri terhadap suatu hal, keinginan untuk mengejar hasrat, dan begitu banyak gol-gol yang kita capai, tak terlepas dari komposisi atas susunan kontradiksi yang kita miliki. Orang miskin, orang kaya, mereka yang pintar dan sebaliknya, mereka yang merasa mayor begitu pula yang minor. Mereka dan kita hidup berdampingan dengan membentuk suatu tatanan yang berisi kontradiksi-kontradiksi yang perlahan termanifestasi dan visible. Percaya atau tidak bahwa semakin kita menyadari konseptual diri kita sebagai manusia utuh, kita akan bersyukur bahwa kita bisa menikmati hidup ini apa pun diri kita sebenarnya. Kita dilahirkan untuk menjadi figur dan melakoni suatu peran. Protagonis, antagonis, figuran, dan sebagainya. Oleh karena itu, tidak ada yang mustahil untuk mengkondisikan diri kita pada suatu komposisi yang menetap, atau membuat gebrakan dengan menjadi sesuatu yang di luar dugaan kita. Itu semua ditentukan oleh bagaimana usaha kita mengejawantahkan dengan proses yang tentu saja, butuh waktu untuk membuatnya nyata.

Jadi, bisa dikatakan bahwa orang yang mengalami kondisi kekurangan atau kelebihan, juga mengalami goresan, pahatan, dan ukiran. Hal itu dialami oleh semua manusia yang bernyawa. Mungkin mereka belum menemukan rasa syukur saat apa yang mereka miliki terambil. Dan mungkin saja mereka juga kesulitan berkata ‘terima kasih’, bila mereka mendapatkan sesuatu dari usaha mereka sendiri. Sebenarnya hidup ini sederhana. Konsepnya pembentukan diri yang teriringi oleh waktu seringkali meninggalkan jejak bahwa kita dituntut untuk bebernah diri dan menjadi manusia terbaik, meski hanya dalam konteks diri kita sendiri. Oleh karena itu, kontradiksi selalu melibatkan dua hal, hidup dan mati. Dan jika kita ingin mendapatkan keduanya secara total, bukan hanya aturan yang dibakukan dalam penyembahan kepada Tuhan dengan bentuk ibadah yang harus kita laksanakan. Melainkan juga tentang bagaimana kita menyelami kehidupan dengan interaksi pada sosial dan lingkungan yang wajib kita telusuri secara maksimal. Dan itu membutuhkan dua sisi berbeda dan ini lah kunci sederhana hidup: TAKE & GIVE. Saling memberi dan menerima. Suatu konsep sederhana dengan pengertian bahwa kita tidak akan menerima, jika kita tidak memberikan. Begitu pula sebaliknya. Jadi sekali lagi, saat kita mendapatkan duka, orang lain juga akan berduka pula dengan bingkai mereka sendiri. Dan sewajarnya, saat suka datang menghinggapi kita, mereka yang berbeda dengan kita, juga mendapatkan porsi yang sama. Waktu bisa kita pahami saat kita mampu mengetahui diri kita apa adanya. Menerima sesuai dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan menggoresnya dengan tinta hidup yang beragam warnanya. Agar suatu hari nanti kita bisa mengerti bahwa waktu bisa menjadikan diri kita berwarna dengan porsi serta komposisi yang kita miliki sendiri. Jadi memang benar, pelangi muncul dengan indahnya bersama mentari ketika hujan berhenti turun. Waktu menentukan kapan hujan turun dan berhenti, waktu pula yang mengiringi mentari menerpa titik-titik air di langit hingga pelangi menyibak rona mata kita. Time is not something mistery, it’s just a gift in our living ark.