M a l a m i d a s #1

Adalah kalimat penggetar hati

Serupa bahasa dilantun lidah tanpa cela

Mengalirkan pesan tersirat

Dimengerti bagi yang terjerat

Tak harus tepat

Biarkan lewat

Sebab dia memikat

Diam tak perlu membeku

Bicara tak harus lewat kata

Menyadarimu lekat di rongga mata

Tak ubahnya melaknat hati yang mungkin buta

Pernah jatuh bersama nasib

Karena dia pencuri karib

Pernah hadir tanpa salam

Datang dalam kelam selembar kalam

Menasbih keluh hati yang sekarat

Memberi perih goresan karat

Dia yang jatuh sekali lagi

Menimpa remahan hati berulangkali

Apakah siksa jadi jawaban?

Atau nikmat tak terelakkan?

Karena ujung kalimat di pucuk lidah

Telah bersemayam lama di remuk asa yang lelah

M a l a m i d a s #2

Lihat

Ketika mata berbohong atas hati yang hakiki merasa, benar melihat, dan jelas mendengar

Dia yang datang tanpa niat, merebah bagai kawan lama

Mencari segaris senyum penyambung bahagia

Melintas lena tak berdosa

Membawa secuil puing hati yang sempat dilupakan

Melekatkannya penuh dengan perekat jiwa

Dia yang tak tahu apa-apa, terjebak dalam permainan

Dia yang tak berhati siap menghujam

Dan waktu merubah arah

Pemegang kendali redam terhuyung

Menampar dirinya pada kenyataan

Menengadah dihujani salah

Niat baik kini berubah

Awal indah pupus sirna

Yang tak diniati terjadi sudah

Ketika hati bicara

Membungkam mulut diam-diam

Menundukkan pandangan nanar

Coba lihat kembali

Dia yang kikir cinta fakir asmara

Bumi renta menopangnya

Semesta berdoa padanya

Surga menangis untuknya

Bukan Lirik Bukan Pula Lagu

Untuk Cinta, yang Kadang Berbatas Namun Indah Dirasakan…

Coretan Dini Hari

Lelaki itu berbaring di tempat tidurnya. Hanya memakai celana pendek dan kaos tipis favoritnya untuk tidur. Berusaha merebahkan segala kebekuan tulang dan dagingnya yang telah lelah bekerja seharian ini. Dia terlentang, namun tak tidur. Di tangannya tergenggam Blackberry Curve yang tersambung kabel charger dan head-phone yang langsung terhubung ke telinganya. Kaca matanya masih terpasang di wajahnya. Dia sibuk mengetik sesuatu yang terlihat penting untuk dituliskan sebelum gubahan kalimat bermakna dari pikirannya hilang menguap ditelan kealpaan otak. Di telinganya masih mendengung suara merdu Guy Sebastian dan lantunan nyaring Jordin Sparks dengan ‘Art of Love’ mereka. Dia terlihat serius. Dengan mata yang masih menajam dan jemari cekatan memencet tombol di benda yang tergenggam di tangannya, tak terlihat kelelahan yang harus segera dipenuhinya dengan jalan tidur. Tapi di jam 2 dini hari ini, dia tak bisa tidur. Bukan menikmati jejaring sosial, fitur berhubungan, atau menggunakan jasa layanan pesan di ponselnya, dia hanya menuliskan sesuatu yang benar-benar harus segera diungkapkan. Dia tidak mau kehilangan moment ini. Semua seperti membujur kaku, namun tetap mengalir. Dia terdiam, tapi jemari dan matanya berbicara,

Cinta…
Cinta semestinya adalah anugerah yang terindah, itu lah yang ku tahu dari Joeniar Arief dan Vitha Octriena…
Mereka berdua tahu bagaimana membuat cinta berbunga dalam Arti Cinta…

Dan Angga pun mengatakan bahwa berjuta rasa muncul di hati dan pikiran kita sehingga tak bisa diungkapkan lewat kata dalam nada Maliq and D’Essential…
Aku tahu itu… Itu Pilihanku…

Di saat yang sama, aku pun merasa harus mendekat saat cinta itu menyapa, membawa tubuhku dalam larutan Close To You dari Carpenters… Dan secara langsung memaksaku harus ber-Close Up ria sehingga jati diriku bisa membawa cinta itu Come Closer to me now…

Seandainya cinta itu paham, akankah tanpa kata dia bisa terwujud? Haruskan aku mengungkapkan Say All I Need hingga One Republic tak membutuhkannya untuk lirik cinta mereka?

Aku rela merasakan sakit sesakit-sakitnya tanpa Chris Brown harus mengucapkan kata So Sick… Aku rela… Sungguh… Walaupun harus Down tanpa dia harus bersanding dengan Kanye West…

Cinta memang buta, seperti saat kita bisa melihat bintang tapi tak bisa menggapainya… Paris Hilton memang benar… Love is blind… Stars are Blind too… Terima kasih, Paris…

Tapi aku beda…

Aku bisa merasakan cinta itu, seperti saat pertama kali kita jatuh cinta dengan kopi, menikmati secangkir kopi serasa tegukan cinta masuk ke sel-sel tubuhku… Dan memungkinkan London Pigg tak perlu repot menorehkan tinta hatinya untuk Falling in Love at The Coffe Shop… Seandainya…

Cinta memang cinta…
Tak mudah terbaca… Meski sesaat kita melakukan Misread, namun kita bisa merasakan kehadirannya… Semoga King of Convenience tahu ini…

Aku terbaring sempurna di sini, dan merasakan hal itu… Masih muda memang, tapi aku bisa merabanya… Sebelum Bunga Citra Lestari menghinaku dengan ke-Pernah Muda-anku suatu hari nanti… Aku mohon jangan…

Tanpa batas dan tak terhingga… Seharusnya begitu… Tapi salahkah jika cinta datang tiba-tiba dan di tempat yang salah? Apakah kata ‘Hate That I Love You’ akan terucap saat itu terjadi? Semoga Rihanna sadar akan hal ini… Dan Chris Brown menerkanya dengan ruang yang sama…

Di pagi buta ini…
Aku tahu, Tuhan banyak memberikan cinta dan beraneka ragam hasrat cinta…
Kehidupan cinta…
Meski tak bisa terbang seperti Burung Camar… Namun, aku tahu Vina Panduwinata akan bangga denganku…

Karena aku bisa membuat cinta… Layaknya kita mencari surga di dunia ini… Yaahh, begitulah yang di katakan Alejandro Sandz dan Nelly Furtado kepadaku…

Cinta…
Is like Looking for Paradise…

Dan pemuda itu pun mulai menutup matanya. Tanpa pintu tertutup, tanpa jendela mengatup…
Lirih sebelum dia bersandar ke tangga mimpinya… Mulutnya bergerak…

‘Aku bukan Aidan… I’m not him… Because we know… You and Me, Just Us Two…’

Selamat pagi…

Antara Gincu, Cinta, dan Vagina

Adalah suatu lakon dalam tragedi hidup seorang puan.

Gadis itu berlari menyusuri lorong yang penuh dengan mata jahat berjajaran di kiri kanannya. Melihatnya laksana daging mentah, masih berdarah, dan berbau amis, siap dimangsa.
Sosok-sosok berbadan tegap tak segan bermunculan dan menerkanya dengan raungan singa mereka…
Kotor dan beringas…
“Mangsa datang, Saudaraku! Perawan berdarah! Kalian mau?”

Namun, raungan itu tak dihiraukannya, dia tetap berlari menerobos suara-suara yang menegaskan bahwa perawan merupakan barang langka saat itu…
Dia pun bertanya…
‘Apa hanya aku? Seorang gadis berumur17 tahun yang mati-matian mempertahankan keperawanan demi cinta di saat yang lain merelakan keperawanannya untuk mendapatkan cinta? Najiskah tubuhku untuk kulindungi?’

Di tangannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah jambu, berbau wangi diantara belantara jalanan kota dengan bau bususknya yang tercium menyengat…
Busuk dari orang-orang bergincu dan kagum akan kelaminnya yang tercecer direnggut binatang…

Di kertas itu…
Tertulis rangkaian kalimat yang mencuat dari hati
Ternoktah dengan tinta darah

Aku di sini Cintaku… menunggumu…
Kamu di mana?

Saat kamu ada, tak satupun yang menyejukkan mataku selain ragamu yang menghadang mataku
Membuai rintihan jiwaku dengan rengkuhmu, dan meyusup pikiranku selama aku tak tahu itu kamu…
Jika cara yang diberikan Tuhan tak bisa memunculkan racikan dirimu di hadapku…
Lalu… apa yang harus ku tunggu?
Lapuknya hati tanpamu atau kah hanya gilasan roda waktu yang menegaskan kamu ada atau tak ada?

Capai rasanya…
Mencoba memahami kubangan di satu sudut lumpur hidup itu ada kamu…
Ada aku……
Pahami dulu regukan harapku sebelum lidahmu menyisipkan serpihan kata…

Kamu sendiri… Benarkah?

Sadarlah… aku disini…
Untukmu…

Dan sekali lagi dia bertanya, ‘Kamu dimana, Cintaku?’

Dia di depannya…
Sekejap mata dan dalam sekali tarikan nafas…
Tak sedetik pun pikirannya beralih…
Hanya pemuda itu yang meringkuk kelam di hatinya
Menyesap sari pati empedu cinta dengan kuncupnya yang mulai merekah…
Dan kini ada di pelupuk matanya…
Gadis itu terdiam dengan kertas yang semakin basah tergerus keringat…
Masih tergenggam erat di lentik jemarinya…

Lihatlah, dia masih begitu muda!
Berambut hitam, berkulit kuning langsat, berbadan tegap dan bidang…
Dia halus tanpa celah…
Tak ada noktah…
Lelaki yang mengagumkan…
Nirwana ini kah milikku? Gumam gadis itu dalam hati…

Dan dia menangis tiba-tiba…
Sang gadis bertanya, ‘Kamu? Air mata? Kenapa?’
Pemuda itu menjawab, ‘Maafkan aku, Rembulan! Sungguh Engkau cahaya perawan yang penuh naungan! Aku memujamu… Tak setitik sel tubuhku yang meragukan cintamu padaku…’

Keheranan mulai terpancar di wajah sang gadis
Namun, dia menutupinya dengan hujaman kata-kata cinta…
‘Aku tahu, Cintaku! Aku tahu! Tapi kenapa tiba-tiba Engkau begini? Apa daya salahku hingga guratan silau kesedihan terangkum di wajah sucimu?’

Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya dengan tumpuan lututnya sendiri.
Dia merintih…
Memeluk kaki sang Gadis… mencekamnya kuat-kuat…
Tak bisakah dosa ini dikembalikan?
Tampar waktu dan balikkan dia, tapi dia tak bisa…

Dan kenyataan mulai menampakkan dirinya
Mata suci sang Gadis mulai terbuka
Membelalak di sudut terkelam dalam hidupnya…
Hatinya hancur tak ada kepingan yang terbuang…

Seonggok perempuan
Telanjang
Tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya
Merupakan raganya…

Perempuan itu tertunduk lesu…
Dengan keringat yang terus mengalir di belantara kulit mulusnya yang terlihat matang
Dia tak mampu memandang sang Gadis…
Dadanya sesak…
Dan dia masih telanjang…
Namun terlilit kelambu dosa

Perempuan itu berkata,
‘Maafkan aku! Aku tak tahu…’

Dan sang Gadis membalas dengan sentakan kebataan yang hina mengiris…

‘Ma… Mama… Kenapa?’

Kertas merah jambu itu pun jatuh ke lantai…

Semuanya luntur…

Tersisih #1

Judul asli, ‘Tepian Cinta yang Tersisih’ Bagian 1

Cinta semestinya anugerah yang terindah

Bahagialah bila kau rasa…

Dan cinta mungkin saja buat kita merasa melayang bersama bintang di angkasa

Bila malam tiba, cinta datang menyapa, buka hati sepenuh jiwa

Dan biarkanlah ia, buat kita sempurna

Siramlah cintamu biarkan berbunga

Mengertilah, percayalah, cinta ‘kan membuat jiwa s’makin bermakna

Dan yakinlah, pastikanlah, hidupmu ‘kan menjadi lebih berwarna

Saat cinta menyapa…

Saat kau merasa, asamu telah sirna, hidupmu terasa semakin menyiksa

Siarkanlah cinta, buatmu percaya,

Mengerti akan, akan artinya,

Arti kata bahagia…

‘Arti Cinta’

By Joeniar Arief feat. Vitha Octrieana

Pemuda itu terlihat terburu-buru merapikan file-file kantornya. Menuliskan sesuatu di atas secarik kertas dan sekejap meletakkan gagang head-set di ujung tiang microfon yang ada di hadapannya. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya sambil mengernyitkan dahi. Berpikir bahwa dia telah melakukan tindakan yang salah. Tapi ini berbeda. Bukan seperti itu. Pikirnya dalam hati. Dia harus cepat dan minta maaf kepadanya. Dia terlambat melangkahkan kakinya untuk menemui dia. Dia yang datang dari jauh.

Ya Tuhan, kenapa waktu berjalan sedemikan cepat?

Dia menunggunya…

Dia membelenggukan diri dalam kontraksi waktu yang mengikat

Untuk dia…

Dirapikannya kemeja hitam yang melekat di badannya yang bidang dengan otot-otot yang menonjol hasil gempuran latihan angkat beban selama bertahun-tahun. Parfum Bvlgari pun tak lepas dari wangi yang menghinggap di belantara kulitnya yang putih dan mulus. Dia lelaki, tapi dia begitu tampan. Tidak, dia lelaki yang cantik. Ujarnya dalam hati.

Dia, lelaki yang memuja keindahan seperti dirinya…

Memaknai sebuah keindahan dengan cinta…

Meskipun begitu, dia masih terlihat gugup. Begitu banyak pertanyaan yang muncul saat dia bertemu dia. Apakah dia orang yang tepat? Apa yang harus mereka bicarakan? Bagaimana jika pertemuan ini tidak sesuai harapannya? Bilamana jika dia salah tingkah dan membuat semuanya kacau? Dia menggila. Dia semakin gundah, namun dia harus bertemu dia. Dia ada di sini. Di kota ini. Dia semakin mempercepat langkahnya. Tak perlu lama lagi menunggu waktu.

Kenapa dia?

“Aku datang untukmu…”

Pesan singkat yang tertulis di ponselnya pun masih terbaca dengan jelas. Dilihatnya pesan itu untuk kesekian kalinya sambil memakaikan sepatu di kakinya. Sepatunya terasa sempit. Ataukah hatinya yang menyempit dengan pikiran buruk namun diinginkannya?

“Aku sudah di sini. Di tempat yang kita janjikan. Aku menunggumu. Sendiri. Duduk di samping jendela.” :*

Kerisauan semakin tak terhindarkan. Perlahan dia berlari. Menyabet tas ransel hitamnya dengan paksa. Dia harus menemuinya. Harus. Dia menunggu pertemuan ini terjadi. Akhir yang indah, pikirnya. Namun dia tak tahu apa yang terjadi. Benar. Saat cinta menyapa, semuanya memang terasa aneh. Ayunan langkahnya yang cepat dan gesit telah merobohkan hembusan angin yang menerpa saat pintu keluar terdobrak. Hatinya bergelora. Pintu terbuka. Mengumpatkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa terucap dari bibir hatinya. Serasa ngilu di sekujur tubuh indahnya. Namun nikmat memeka. Ini yang dia tunggu. Dia menunggunya. Dan sekali lagi dia berkata…

“Aku datang untukmu…”

Langkahnya semakin cepat di jalur trotoar. Cafe itu berada di depan kantornya. Namun, kenapa jaraknya makin jauh? Apalagi dengan gelombang kendaraan yang berlalu-lalang saat jam makan siang. Telah menghalangi hentakan kakinya. Dia tak kuasa menghindari ini semua. Halangan ini jangan sampai menggagalkan kisah yang diinginkannya untuk menjadi kenyataan.

Tiba-tiba deru kakinya terhenti. Dia mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat jembatan penyeberangan yang melintang di atas aliran kendaraan yang mengganas di sungai aspal. Penuh kuasa. Namun, perlahan dia menunduk. Dia berpikir.

“Tak butuh banyak waktu. Aku segera ada untukmu…”

Diabaikannya kemegahan jembatan itu. Dia menerobos luapan asap jalanan. Menghindari mobil. Merentangkan tangannya untuk menghalau sepeda motor dan angkutan kota khas kota besar.

“Goblok! Jangan menyeberang di jalan. Ada jembatan di atas kepalamu. Sadarlah!”

Umpatan itu terlontar dari bibir seorang pengguna jalan dengan nada keras dan mencaci. Dia mendengarnya. Tapi dia menutup telinganya dengan hati. Tak diindahkannya semua itu.

“Apa pun kulakukan untuk menemuimu… Apapun…”

Di tempat lain. Seonggok manusia terduduk diam di atas sebuah sofa warna krem. Seorang lelaki berkaos biru dengan kerah V. Kulitnya yang kecoklatan namun bersih mengkilat. Mukanya dipenuhi rambut-rambut tipis. Khas kejantanan dari Amerika Latin. Ditambah dengan tubuhnya yang maskulin dan terlihat atletis, tak urung menjadi perhatian beberapa pengunjung cafe itu. Bahkan pelayan-pelayan yang berbaur dengan pekerjaan mereka, tak kuasa menolehkan dan menajamkan matanya hanya untuk melihat guratan yang diciptakan Tuhan di badannya.

Lelaki itu. Sesekali dia melihat ke arah jendela kaca di sampingnya. Memastikan bahwa dia di tempat yang tepat. Jari-jarinya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Keringatnya keluar meski ruangan itu ber-AC. Alih-alih dia memesan sesuatu, daftar menu makanan yang telah diberikan oleh seorang pelayan cafe beberapa menit yang lalu pun hanya tergeletak mati di hadapannya. Tak terjamah. Tak tersentuh sama sekali.

“Dimana dia? Dia datang ‘kan? Aku menunggumu…”

Saat dia melihat kaca untuk kesekian kalinya. Matanya membelalak. Sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum paling indah miliknya. Dia merasa kesejukan mulai menyelimuti kulitnya yang kecoklatan. Bunga lily putih bermekaran di sekelilingnya. Iya, dia menggandrungi lily putih itu. Bunga itu sedang bergulat dan berlari menerobos rentetan asap jalanan di luar sana.

“Dia menepati janjinya untuk menemuiku. Dia ada. Tidak. Dia hampir ada untukku.”

Sekonyong-konyong, dia melakukan kesibukan tak terencana. Ini konyol. Pikirnya. Dia mulai memegang dan mengotak-atik ponselnya, hanya untuk membenahi suasana yang tak jelas. Merapikan letak jam tangannya secara paksa. Dan berujung dengan dijamahnya daftar menu makanan yang sejak tadi tergeletak tak bergerak. Dia mulai menulis sesuatu di atas secarik kertas menu itu.

“Aku pesan sepiring pertemuan. Segelas cinta. Semangkok asmara. Dan sebotol kasih.”

Di pelataran yang panas menyengat, pemuda yang berlari itu akhirnya sampai di pintu gerbang cafe. Dia mulai membuka pintu. Dan dalam se per sekian detik gelora udara yang dingin mulai merontokkan kisi-kisi hawa panas dari luar. Dia menghela nafas. Tapi ini harus cepat. Dia masih di sini. Dia dan dia harus memakai kesempatan yang diberikan oleh keganasan penakluk waktu. Harus.

Langkah kakinya semakin diburu waktu. Dia menaiki tangga layaknya menjangan dikejar singa. Dia mangsa dan mengharapkan untuk dimangsa. Oleh cinta. Dia bersemangat, tapi terlihat jelas raut mukanya menggambarkan sebuah keraguan. Keraguan terhadap apa yang akan dilihatnya. Dia lah…

“Apakah benar dia?”

Kepalanya menoleh ke setiap sudut ruangan itu. Tak sesenti pun terlewat. Perhatiannya hanya terfokus pada seseorang yang duduk di dekat jendela.

Jendela hatinya.

Pupil matanya tiba-tiba membesar. Dia melihat sesuatu yang diinginkan hatinya. Sesosok manusia duduk tenang, menunduk, dan di dekapan jemarinya terapit sebuah pensil. Dia masih menunduk. Waktu perlahan menuntun langkah kakinya untuk mendekati sesosok manusia itu. Dia berkaos biru. Badannya terlihat matang dan penuh dengan kuasa seorang pria sejati. Pasti banyak wanita yang mendambakannya. Bahkan pria di dunia ini. Yang tentu mengenalnya seperti dia mengenal dia.

Sedetik tak terasa…

Dia berucap dengan kata yang menghenyakkan lelaki itu dari kesibukan hasil buatannya.

“Hai Mas…” salam pemuda itu. (Wahai denyut jantungku…)

“Hai Dek! Ayo duduk…” jawab lelaki itu. (Engkau datang! Bersandarlah di tubuhku…)

Kenapa hanya ‘hai’ yang terucap? Bukan ini! Seharusnya tidak seperti ini.

Mata mereka bertatapan. Saling pandang. Jika waktu bisa berhenti. Biarkan mereka saling memancarkan pesonanya satu sama lain. Pancaran mata tak bisa dibohongi. Dia meradang. Dia teradang. Sungguh ini nyata. Dan guratan senyuman pun mulai nampak. Samar-samar tapi pasti terjadi.

“Maaf! Membuatmu menunggu lama, Mas!” (Biarkan waktu terhenti! Ku mohon! Biarkan mata pendosaku ini bisa melihat surga itu. Di wajahmu…)

“Tidak, Dek! Tidak apa-apa. Waktuku banyak untukmu.” (Seumur hidupku jika engkau menginginkannya. Ku berikan!)

Mereka bersalaman. Pertemuan antara kulit dan kulit. Ini nyata. Keduanya bersentuhan. Aliran darah dari sekujur tubuh sepertinya hanya bermuara di satu titik. Telapak tangan. Biarkanlah ini terjadi. Relakan setiap senti dari hamparan pori-pori kulit itu menyatu dalam sebuah genggaman yang menyatukan denyut nadi dalam intonasi dan tangga nada yang sama. Bebaskan helai kulit ari mereka menempel layaknya lem kanji yang telah lama diaduk. Kuat dan erat. Dan ini terjadi. Bukan kepalsuan.

“Apa kabar, Mas?”

“Baik sekali. Kamu? Sudah selesaikah pekerjaanmu?”

“Baik juga. Sudah selesai semuanya. Dan aku sekarang di sini. Kamu?”

“Sama. Sejam lalu aku baru saja bertemu klienku di kota ini. Dan sekarang aku di sini. Bersamamu.”

“Akhirnya kita bertemu ya Mas…” (Akhirnya kilatan cahaya itu bisa aku lihat dari matamu…)

“Ya. Akhirnya…” (Akhirnya hembusan angin itu terasa nyata lewat nafas kata-katamu…)

“Kamu pesen gih! Aku sudah.” ucapnya lirih.

“Iya Mas!” balasnya sambil membuka daftar menu dan menuliskan pesanannya di atas sehelai kertas.

“Aku pesan seraut harapan. Secangkir pesonanya. Dan sesendok aura. Aku memesan dia untukku.”

Semenit kemudian di menyerahkan kertas itu ke lelaki di hadapannya.

“Mbak! Ini pesanan kita.” (Menu hatiku untuk jiwa yang kita punya… Mengertilah!)

“Oke! Satu Kwetiau Goreng, satu Nasi Cumi Lada Hitam, satu es teh tawar, dan dua air meneral! Baiklah! Tolong ditunggu ya!” kata seorang pelayan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Bukan makanan itu. Bukan minuman ini. Tapi ada harapan lain yang dia dan dia inginkan. Semua bisa dialihkan, tapi apa daya saat waktu memberikan jalannya. Semua hasrat ini bisa terwujud. Pertemuan ini.

Dua bulan yang lama itu sekarang telah meluruh menyisakan sebuah pertemuan manis. Pesan singkat yang terkirim bertubi-tubi setiap harinya, telah merobekkan jala yang menghalangi sebuah tatapan langsung dengan makna yang terjuntai tanpa henti. Mereka bertatapan. Terkadang kekakuan bisa dilenturkan hanya dengan sebuah tatapan yang meneduhkan. Hingar bingar manusia lain tak tergubris. Dunia semakin kecil. Waktu terasa berhenti. Lagi dan lagi. Hanyutan tawa kecil dan nada yang membuat telinga tak bisa berhenti mendengar seakan membawa sebuah asa. Dia ada karena dia datang. Datang menemui dia dengan lantunan nada yang tak terdengar namun terbisik di hati masing-masing.

Letupan janji-janji pertemuan itu telah menjadi sebuah ledakan yang membahana dalam ruang kecil mereka. Milik mereka sendiri. Sang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka pun hanya dianggap sebagai sebongkah boneka yang tak bisa menghalagi rangkaian kata yang mengalir dan rengkuhan mata yang membisu namun memaknakan sebuah pusara dunia dimana mereka tak tahu apa itu. Dan dari mana itu.

Pekerjaan, keluarga, teman, kuliah, karir, dan perbincangan lainnya terlantun dengan tenang. Dentingan sendok di atas piring dan gelas kaca, seakan bertindak sebagai sebuah instrumen musik yang mengiringi alur nada percakapan mereka. Begitu indah, dan hanya mereka yang tahu lirik lagu itu. Waktu, tetaplah begini. Jangan bergerak saat dia menginginkan semuanya berjalan dalam genggamannya. Pertemuan ini mempercantik dunia mereka. Menggetarkan pori-pori hati dan jantung mereka dengan sapuan nuansa gelombang yang tak mereka mengerti. Apapun itu.

Pemuda itu tersenyum…

Lelaki itu tertawa…

Dia terdiam, memperhatikan…

Matanya tak pernah terlepas dari sorotan itu…

Berkata…

Berbicara…

Bercerita…

Berpusara untuk kesekian kalinya…

Dalam rotasi perasaan yang tak jelas

Teralami oleh dia dan dia…

nb. Tolong! Siapa pun kamu… lanjutkanlah cerita pertemuan ini… buatlah menjadi akhir yang bahagia, sedih, dan terserah kamu… berpikirlah di luar kotak… sisihkan dulu idealismu… pandanglah cerita ini secara realistis namun gunakan pilihan diksi yang indah, elegan, dan khas kamu… Terima Kasih…

Setitik Surga Ibu

Aku tak pernah bisa membayangkan saat keikhlasanmu menerimaku hidup dalam rahimmu

Meridhoi aku menendang perutmu sewaktu-waktu hingga saat kau terlelap karena letih membawaku setiap waktu
Berkali membisikkan kata cinta dan mimpimu saat aku kelak bisa melihat dunia
Berucap doa dan harapan akan hidupku menjadi belahan jiwamu
Melindungiku, menghiasi langkahku, dan memberikan yang terbaik untuk ruas hidupku nanti
Sembilan bulan…
Dan tepat 25 Juni…
Saat senja mulai nampak…
Kamu memaksakan senyum saat rintihan kesakitan mengambil alih tubuhmu
Tersenyum untuk kerjap awal mataku…
Tersenyum untuk riuh suara pertamaku…
Tersenyum untuk hentakan hidup seonggok daging bernyawa dari rahimmu…
Tersenyum untuk laki-laki di sampingmu yang bangga dipanggil ‘ayah’…
Dan tersenyum untuk semua orang yang merasa kamu adalah anak, menantu, kakak, adik, dan istri yang sempurna
Dan itu semua dibalik kesakitanmu…

Ayunan langkahmu mengiringi hidupku
Kenakalanku, bandelnya aku, sampai kedurhakaanku, hanya kau balas dengan air mata yang kau sembunyikan di balik mukena saat kau bersimpuh di hadapan-Nya…
Menuduh dirimu sendiri bahwa kau gagal mendidikku…
Itu salah, Ma!
Tidak benar!
Harusnya aku yang beringsut sembap di kakimu
Bukannya aku malah berteriak dan kabur dari rumah dengan debaman pintu yang ku banting…
Aku berdosa, Ma!
Aku durhaka!

Tapi semua itu lenyap saat aku pulang
Tak ada dendam, tak ada murka, hanya ada kata, ‘Ayo maem dulu, gih! Setelah itu mandi!’
Dan aku…
Hanya cemberut, masih menuntut keegoisanku…

Empat anak dan suamimu…
Semua mendapat porsi cintamu
Membuatku yakin engkau surga cinta di hidupku
Engkau sang mahadaya cinta lewat telapak kakimu
Cintamu tak berkurang saat penopang hidupmu meninggalkanmu
Saat kekasihmu harus menghadap-Nya lebih dulu
Saat orang-orang mulai berpikir kau rapuh saat kehilangan segalanya…

Tapi tidak!
Wanita tangguh yang pernah menjadi bunga desa itu telah berubah menjadi burung rajawali
Siap melindungi anak-anaknya dengan kecantikan yang dimilikinya
Bisa menggenggam dunia dan membuktikan pada mereka bahwa single parents tak selalu kurang
Bahwa janda tak selalu hina
Engkau yang kusebut Mamaku, Pahlawanku!

Dan sekarang,
Saat impianku mulai terwujud
Hidupku mulai sedikit tertata rapi sesuai impianku
Anak-anakmu mulai melepas anak panahnya ke langit
Mencari arah hidup mereka masing-masing
Sang rajawali masih di pohon yang sama
Masih berkutat dengan hidup dan jiwa yang dia perjuangkan untuk belahan-belahan hatinya

Tapi tak pernah terkira di pikirku, Ma!
Telpon tadi siang…
Kau berkata lirih di ujung telepon berkilo-kilo meter dari duniaku
“Mama nggak apa-apa, Mas! Cuma pusing… Selamat berpuasa ya, Sayang…”
Dan tiba-tiba adek menelponku
“Mas, mama sakit typhus…”

Hancur duniaku…
Luluh lantak surgaku…
Mati jiwaku…

Kenapa kamu masih tega membohongiku saat dirimu terkulai lemah?
Mengapa kau berdusta saat kebisuan hatimu tertutup dengan dalih menutupi kekhawatiranku?
Apakah yang kau sembunyikan dariku, Ma?

Dan kau hanya berkata,
“Udah, ndak apa-apa, Sayang…”

Kau berbohong lagi…
Demi cinta abadimu padaku
Tak heran jika surga benar-benar ada padamu…
Kau sanggup menggerakkan ridho Tuhan padaku…
Kau memiliki yang tak dimiliki manusia lain…

Aku mencintaimu, Ma…

Tersenyumlah untukku…