Cerita

Adalah Nama Saya

    Nama saya Amal, nama lengkap Amal Mushollini, nama siaran Amal Bastian, dan nama panggung Bastian. Tapi tetap terasa hangat kalau dipanggil Amal saja. Bagi yang doyan sejarah internasional mungkin tidak asing dengan nama Mushollini, at least pernah mendengar atau membaca sosok pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Ya, spelling-nya terdengar hampir sama, tapi artinya sungguh berbeda. Bukan karena almarhum bapak saya mengidolakan si Om Benito atau gandrung dengan pahamnya, tapi menurut beliau (Bapak saya), nama Mushollini berasal dari kata dasar bahasa Arab ‘sholat’, kemudian nama ‘adik’-nya masjid ‘musholla, dan berakhir menjadi mushollini. Hampir bisa disejajarkan dengan kata ‘islam’ yang berarti agamanya (objek), ‘muslim’ sebagai penganutnya (subjek), dan ‘muslimin’ menjadi unsur jamaknya. Seperti itu yang dijelaskan oleh almarhum, dan saya telanjur meng-iya-kannya tanpa penelitian lebih lanjut. Mungkin bagi yang paham bahasa Arab, akan bisa memaklumi atau mungkin menertawakan. Ya begitulah.

Tetap panggil saja saya Amal.
Saya lahir di Kediri, tepatnya di desa Rembang Kepuh, kecamatan Ngadiluwih, kabupaten Kediri. Sungguh bukan anak kota madya, kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari desa saya ke alun-alun kota Kediri. Desa Rembang Kepuh terkenal dengan perdagangan bunga-bunganya. Bunga hias, pohon hias, sampai ikan hias. Tapi lebih terkenal dengan tanaman-tanaman yang sering jadi jujukan para pecinta tanaman atau kolektor. Dan biaya hidup saya juga dari hasil penjualan tanaman-tanaman tersebut, disamping dari gaji ayah saya sebagai guru agama dan bahasa Indonesia di madrasah tsanawiyah swasta. Tidak jauh dari rumah kami. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Kakak perempuan dan dua adik laki-laki.

Saya menghabiskan bangku Taman Kanak-kanak di sebuah TK kecil di desa tetangga. Kalau desa saya bernama Rembang Kepuh, desa tetangga itu dinamai Rembang Lor. Lor artinya Utara. Utara dari desa saya. Kemudian setelah menghabiskan masa dua tahun di TK, saya melanjutkan enam tahun belajar di sekolah dasar. Tentu saja masih berada di desa saya. Namanya SDN Rembang Kepuh 1. Letaknya tepat di jantung desa. Yang mana desa kami memiliki tiga dusun. Dusun Rembang Kepuh sendiri, dusun Tawang Rejo, dan dusun Bulu Rejo. Otomatis, sekolah dasar tersebut menjadi pusat edukasi dasar bagi anak-anak dari tiga dusun tersebut. Termasuk SDN Rembang Kepuh 2. Akan tetapi, terakhir saya mendengar bahwa dua sekolah dasar tersebut sudah bergabung menjadi satu. Selain itu, ada pula sekolah sore atau madrasah yang juga menjadi tempat saya belajar agama. Bisa dikatakan sebagai tempat mengaji. Semua pendidikan layaknya mata pelajaran pesantren, diajarkan di sekolah sore itu.

Lepas dari SD, saya melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi bukan SMP umum, melainkan sekolah yang kental bernafaskan islam, yaitu madrasah Tsnawiyah. Letaknyanya berada di Ngronggo, masuk ke bagian kota Kediri. Ibuk saya mengatakan, kalau mau melanjutkan SMA di kota, akan lebih baik jikalau sewaktu SMP sudah bersekolah di kota. Alasannya agar tidak kesulitan mengurus rekomendasi sekolah dari anak kabupaten ke anak kota. Dan hasilnya, tiga tahun saya menghabiskan waktu di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kediri, akhirnya saya bisa terlempar dengan baik dan mudah ke bangku sekolah lanjutan tingkat atas di kota, yaitu di SMAN 2 Kediri. Satu tahun di kelas 1, dan dua tahun di kelas 2 dan 3 dengan jurusan IPA, tak kunjung membuat saya pintar dengan pelajaran berbau eksak. Sejak SD hingga SMA, saya hanya demen pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni menggambar, dan sejarah. Meski berada di kelas IPA, hanya biologi yang lebih saya sukai daripada mata pelajaran lain di jurusan itu. Masuk ke kelas IPA adalah permintaan dari ibuk dan bapak. Mereka terus mengatakan bahwa kalau anak IPA akan mudah masuk ke perguruan tinggi. Bisa masuk ke institut, ekonomi, dan jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan angka. Padahal saya tidak suka angka. Kecuali nominal yang tertera di akun rekening saya. Tapi begitulah permintaan orang tua yang membiayai sekolah saya. Saya wajib menurutinya.

Jangan hadapkan saya ke matematika, pelajaran ini menjadi momok bertahun-tahun dalam hidup saya. Mulai dari guru-gurunya yang killer, hingga mata pelajaran yang membuat saya terus bertanya sepanjang hidup saya: “Kalau ada kalkulator, kenapa harus repot-repot menghitung dengan menggunakan rumus?”. Apakah mungkin generasi saya tidak diajarkan untuk menikmati hidup yang efisien dan efektif? Apakah harus menentukan jawaban eksak dengan urutan formula yang panjang kalau secara singkat saja, atau mencongkak saja, bisa saya lakukan? Terlalu ribet pendidikan di negeri ini, yang sederhana dibuat rumit. Apalagi pada materi IPA kimia dan IPA fisika. Saya pernah membolos di kelas kimia karena saya bingung menghafal urutan tabel kimia, campuran zat dengan rumus Ar/Mr, dan sejenisnya. Padahal menurut saya sendiri, daya ingat saya cukup baik. Pernah ada guru, saya lupa guru apa, mengatakan pada saya bahwa dari hasil tes IQ dan pemahaman diri siswa, saya memiliki daya ingat fotografis. Mengingat orang, benda, dan menghafal sesuatu dengan level di atas rata-rata. Tapi tolong, jangan matematika atau saudara-saudaranya.
Lanjut.

Harapan saya setelah lulus SMA adalah bisa langsung melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi dengan syarat tegas dari orang tua, yaitu saya harus lulus SPMB atau UMPTN. Nasib berkata lain, tahun pertama saya mencoba tes masuk dari pemerintah tersebut, saya gagal di tiga jurusan yang saya pilih. Beberapa teman di desa, termasuk sepupu saya, yang juga mengikuti tes tersebut, berhasil masuk. Membawa mereka keluar dari desa. Sementara ketakutan terbesar saya setelah lulus SMA adalah harus tinggal di rumah. Tidak melakukan apa-apa. Gambaran yang bisa menjadi mimpi buruk saya. Saya bukan orang yang biasa diam. Selama hari-hari paska gagal UMPTN, hari-hari saya isi dengan kegiatan yang meghasilkan uang. Membantu urusan kantor desa. Berhubung ibuk dan bapak punya relasi dengan keluarga pak lurah. Otomatis saya sering diajak melakukan kontrol desa. Mulai dari kegiatan kependudukan, mengurus acara karang taruna, hingga ikut program-program lainnya. Ada pemasukan ke kantomg saya dari kegiatan-kegiatan itu. Seirng waktu, Alloh tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Dengan izin ibuk dan almarhum bapak, saya bisa melanjutkan studi ke kursus bahasa inggris di Pare. Masih menjadi bagian di kabupaten Kediri. Pare terkenal dengan kampung inggrisnya. Banyak pemuda dan pemudi berasal dari seluruh pelosok nusantara yang belajar di sana. Bahkan ada yang dari luar negeri, contohnya Malaysia dan Brunei Darussalam. Terdapat beragam tempat kursus di kampung ini, salah satunya adalah Basic English Course atau BEC. Saya emnjadi siswa di dalamnya. Di kampung inggris ini saya belajar banyak tentang kemandirian. Menjadi jembatan saya untuk bisa belajar tentang mengurus diri sendiri. Tidak melulu tergantung pada orang tua. Selain bahasa inggris baik lisan maupun tulisan, saya juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian UMPTN tahun berikutnya. Setelah enam bulan belajar bahasa inggris dan lulus di peringkat kedua dari ratusan siswa-siswa, ujian masuk perguruan tinggi sudah berada di depan mata. Berkat kerja keras, doa orang tua, dan ridho Alloh SWT, alhamdulillah saya lulus dan masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Airlangga di kota Surabaya.

Hijrah ke kota Surabaya menjadi momen shock-culture bagi saya. Lingkungannya, orang-orangnya, biaya hidupnya, membuat saya harus bekerja keras untuk beradaptasi. Beruntung saya memiliki teman-teman baik dari SMA yang sudah lebih dahulu tinggal di kota pahlawan itu. Mereka membantu dan mengkondisikan saya untuk bisa survive sebagai anak rantauan di kota besar. Dan sekali lagi, sejalan dengan waktu, saya mulai memiliki kawan dan relasi, dari beragam daerah dan berbagai latar belakang.
Dua tahun pertama kuliah, saya memampatkan mata kuliah yang saya tempuh. Saya tidak menyia-nyiakan waktu kuliah, yaitu dengan mengambil SKS maksimal per semester. Sesuai dengan program studi saya: dalam kurun waktu dua tahun, biaya kuliah akan ditanggung oleh orang tua. Namun di tahun-tahun berikutnya, saya harus mampu membiayai hidup dan kuliah saya sendiri hingga lulus. Saya selalu berkaca pada diri sendiri: tidak mungkin saya menghabiskan biaya hidup keluarga untuk kuliah saya. Masih ada dua adik yang harus dibiayai oleh ibuk dan bapak. Dan sekali lagi, Alloh Yang Maha Kuasa mewujudkan impian saya. Sambil kuliah, saya menjadi seorang Master of Ceremony untuk beragam acara. Baik ulang tahun, exhibition, gathering, wedding, dan acara-acara lain, yang penting saya bisa menghasilkan nafkah halal untuk biaya hidup saya. Yang penting halal, apapun saya lakukan. Beberapa anggota keluarga besar saya sering pesimis tentang pekerjaan saya. Tapi saya tidak mau tahu. Urat malu saya sudah putus. Selain menjadi MC dari panggung ke panggung , mall ke mall, hingga ke pasar-pasar, usaha untuk mendapatkan pekerjaan di dunia media pun tidak pernah saya lepaskan. Surat-surat lamaran dan CV sudah banyak yang saya kirim ke stasiun-stasiun radio maupun TV yang tersebar di kota Surabaya. Banyak CV dan surat lamaran yang dikirim, artinya banyak pula yang ditolak. Dan memang benar, mulai dari cercaan sekaligus intimidasi tentang karakter diri sebagai pelamar kerja, menjadi jajanan saat itu.

Namun di akhir tahun 2009, lebih tepatnya 10 bulan setelah bapak meninggal dunia, saya mendapat tanggapan positif dari Radio Republik Indonesia Surabaya, yang menyatakan bahwa lamaran saya untuk menjadi penyiar radio diterima. Panggilan pertama menjadi pengumuman untuk megikuti beragam tes dan kualifikasi atau filterisasi hingga ditemukan calon penyiar radio terbaik yang kemudian akan digembleng untuk menjadi penyiar radio tetap. Beragam tes yang harus ditempuh, saingan yang tidak sedikit, dan tantangan menjadi seorang penyiar radio berkarakter, akhirnya membawa saya ke titik penentuan. Hanya terpilih tiga orang calon penyiar radio dari sekitar 1.500-an pelamar. Alhamdulillah. Maha Besar Alloh.

Saya hanya bertahan selama tiga tahun menjadi penyiar radio di Programma 2 RRI Surabaya. Tahun pertama adalah pembentukan karakter penyiar. Menjadi sosok Amal yang ‘kepenyiar-nyiaran’. Merubah nama Amal Mushollini menjadi Amal Bastian. Nama belakang yang dirasa produser saya lebih komersil. Bastian diambil dari nama Sebastian. Tokoh kepiting merah, sahabat Ariel si putri duyung dalam film The Little Mermaid karya Disney. Kenapa kepiting? Karena zodiak saya adalah Cancer, kepiting. Itu arti dari nama yang menjadi beken di pekerjaan saya saat ini. Sederhana, muncul tiba-tiba.
Memiliki titel berkantor RRI, membuat saya mudah mendapatkan klien untk event-event yang bisa saya handle. Tentu saja sebagai MC. Dulu saya sering menjadi MC untuk produk ponsel asal Tiongkok yang dijual di World Trade Centre Surabaya. Berkoar-koar menjual produk dari jam 12 siang hingga jam 6 sore dengan gaji 100-150 ribu per hari, namun dengan kontrak MC yang lama. Ada yang sebulan, dua bulan, bahkan kalau ada produk baru yang di-launching, saya lah yang menjadi MC tetapnya.

Saya semakin memahami bahwa waktu yang memoles semuanya. Membuat pengalaman menjadi CV berjalan sekaligus lahan marketing yang bisa saya gunakan meningkatkan level profesi saya ke arah lebih tinggi. Memperkenalkan diri saya dari nol ke angka-angka tinggi berikutnya dalam karir saya. Masih di tahun pertama menjadi penyiar radio, saya bertemu pengajar broadcast dan public speaking. Meminta saya menjadi pengajar tetap materi penyiaran di sekolah-sekolah ternama di kota Surabaya. Contohnya sekolah-sekolah yang masuk ke Yayasan Petra, sekolah-sekolah kristen, dan sekolah umum lainnya. Kondisi ini berlanjut kepada tawaran dari beberapa agensi model. Mereka meminta saya untuk mengajar teknik public speaking, materi-materi umum tentang kemampuan percaya diri dan bicara dengan baik di depan public, hingga hal-hal berbau dunia radio. Dan aktivitas ini terjadi di tahun-tahun berikutnya. Setiap hari saya belajar di bangku kuliah, siaran radio, mengajar, mengisi acara untuk beragam event, dan tentu saja bergaul. Hidup saya berasal dari pergaulan dan kemudahan berinteraksi dengan orang. Menjadi sosok yang easy going namun berkarakter.

Di akhir tahun kedua menjadi penyiar radio tidak membuat saya nyaman. Saya ingin melakukan hal lebih. Bukan hanya ini dan itu saja. Saya mau menjadi sosok di kota ini, bahkan di propinsi ini. Akhirnya di awal tahun berikutnya saya melamar lagi ke beberapa stasiun TV, hasilnya, banyak yag tidak menerima saya. Saya ditemukan oleh sosok di balik layar, saat saya menjadi MC di sebuah event rakyat. Beliau memperkenalkan saya dengan beberapa produser acara di stasiun TV Surabaya, yaitu SBO TV. Saya mulai mengikuti audisi, sering menonton acara-acara di stasiun tersebut, bahkan berlama-lama ‘nongkrong’ di studio saat ada acara live. Karena kemampuan ‘ngeyel’ saya, seorang produser mulai membawa saya untuk memegang acara berita. Sangat sedikit porsi saya syuting di studio. Di awal karir di dunia pertelevisian, saya harus terjun ke lapangan. Mulai dari nol dengan menjadi reporter. Reporter lalu lintas, agenda kota, dan sebagainya. Dan beruntung saya mudah belajar. Hanya beberapa bulan di lapangan, akhirnya saya bisa menjadi news anchor yang on cam di studio. Awalnya hanya membaca berita, namun terus berlanjut ke acara-acara talkshow, hingga membuat saya bisa bertatap muka dan berbincang dengan orang-orang penting. Pejabat, pengusaha, artis, dan suara masyarakat. Di tahun ketiga menjadi penyiar radio dan tahun pertama menjadi news anchor TV, kegiatan full day saya adalah: siaran TV, siaran radio, mengajar broadcast dan public speaking, kuliah, dan tidur. Sayang butuh tidur karena saya kurang tidur.

Karena posisi saya di stasiun TV mulai mengarahkan saya ke acara primetime dan harus syuting setiap hari, akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan meja siaran radio saya. Kantor yang membentuk diri saya. Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Banyak pihak yang menyesali keputusan saya, khususnya kantor Pro 2 RRI Surabaya sendiri. Namun di sisi lain banyak pula yang mendukung dengan alasan bahwa saya tidak harus berada di zona nyaman. Dan opsi kedua yang saya ambil. Saya harus keluar dan menantang diri saya untuk menjadi sosok Amal Bastian di industri media massa.
Seiring dengan pekerjaan yang saya geluti, harapan menyelesaikan bangku kuliah S1 harus segera saya tuntaskan. Dan alhamdulillah, 3,5 tahun kuliah total, 2 tahun abal-abal, dan 1,5 tahun mengerjakan skripsi yang membinal, akhirnya mampu memberikan gelar dibelakang nama saya dengan titel S.Hub.Int. Dalam kurung waktu 7 tahun saya tinggal di Surabaya, semua yang saya anggap sebelumnya mustahil, ternyata terjadi dan saya alami sendiri. Kun fayakun. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.

Dan sekarang, saya masih menetap di Surabaya. Masih menjadi news anchor dengan jadwal stripping dari Senin-Sabtu untuk acara talkshow di SBOTV. Masih menjadi pengajar terbang di bangku sekolah dan kuliah sekaligus seminar umum. Masih menjadi sosok MC untuk beragam acara. Masih ingin melanjutkan studi S2. Dan masih bercita-cita menjadi penulis.

FYI, cita-cita saya sangat sederhana: saya mau hidup nyaman di pegunungan yang dingin dengan keluarga kecil saya dan melihat orang-orang mencintai karya tulis saya.

Sekian…
Wassalamu’alaikum…

Advertisements
Standard
Celetuk

Menulis Harga Diri

Berhenti menulis karena sitaan waktu kerja dan pemenuhan tuntutan eksistensi sebenarnya mutlak bukan menjadi alasan yang tepat bagi saya untuk memutus hubungan dengan selipat buku elektronik berwarna putih yang sudah menenami saya sekian tahun ini. Bukan pula karena urusan bangku kuliah yang telah ditamatkan malah menjadi penyokong raga agar menjauhi kegiatan tulis menulis. Saya berhenti dan vakum menulis karena pilihan. Pilihan memenuhi kebutuhan primer yang menurut saya harus dikhatamkan terlebih dahulu sebelum si sekunder bisa mengikuti. Meski sedikit memaksa melawan idealisme saya yang gandrung merangkai kata dan menyusun jurnal -sebelumnya sangat sukar saya kerjakan- hanya sekedar bisa dipandang lebih beradab bagi orang lain, termasuk ibu saya yang bangga melihat anaknya sudah berdompet dari hasil kerja keras. Bahagia saya yang berprofesi, senang melihatnya anaknya bahagia. Tanpa pernah membantah bahwa uang pun berkiprah sebagai pembentuk kebahagiaan itu sendiri. Saya membuktikannya. Saya, keluarga saya, teman-teman saya, dan mereka yang ada di sekitar saya. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa berbagi segalanya. Ibu saya tidak pernah berhenti megingatkan bahwa rezeki yang saya dapatkan wajib dibagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Keluarga dan handai taulan yang masih kesulitan, sekaligus mereka yang belum berkecukupan. Sama halnya ketika almarhum bapak saya berkata, “Tuhanmu tidak pernah menyuruh kamu jadi orang miskin, kerjakan rezekimu, dan berbagilah dengan yang lain”

Hukum tabur tua. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Saat kamu melemparkan rezeki ke langit melalui sedekah, langit akan melimpahi dirimu dengan rezeki yang berkali lipat jumlahnya dari yang kamu keluarkan. Dan saya semakin menyadari kenapa orang-orang kaya di negara-negara Barat, meski mereka tidak seiman dengan saya, tapi mereka memiliki yayasan, rajin beramal dan berderma, sekaligus menjadi pionir bala bantuan di negara-negara miskin, harta kekayaan mereka tidak pernah habis, malah melimpah ruah. Kata Dalai Lama, ketika kau melihat orang lain berbuat kebaikan pada sesamanya, pertanyaan ‘apa agamamu?’ tidak diperlukan.

Tuhan Maha Adil, saya percaya itu.

Usaha yang saya lakukan pasti membuahkan hasil. Beberapa rancangan finansial per lima tahun yang saya buat jauh-jauh hari mulai terpenuhi satu per satu. Jika Orde Baru punya repelita, rencana pembangunan lima tahun, saya juga memilikinya. Hanya saja perbedaannya pada kata pembangunan menjadi kata pembuktian. Membuktikan bahwa anak daerah, yang dulu dipandang dengan mata sebelah, dari keluarga menengah ke bawah, bisa bersaing dengan mereka yang kekotaan bermahkota kata ‘wah’. Wah kaya, wah keren, wah beken, wah anaknya ini, wah bapaknya itu, wah keluarga ini, wah keturunannya itu, wah-wah-wah. Saya mulai sebah dengan ungkapan-ungkapan kesedarahan yang belum menunjukkan bukti kuat. Bukan menggugat, hanya sekedar mengalamatkan perihal ini bagi mereka yang merasa. Sekali lagi bukan marah, hanya ingin mengungkapkan fakta. Suara manusia kapan lagi di dengar jika tidak dibuktikan dengan berbicara atau menggetarkan pita suara dengan hembusan udara, bukan? Dan kali ini saya berusaha untuk lebih lapang dan membuka kesempatan bagi diri saya sendiri untuk menunjukkan pada mereka. Kamu bisa, saya pun mampu. Kamu sering menjadi sosok objek, saya subjek pelaku. Impas.

Kembali ke urusan tulis menulis. Kecenderungan untuk mengalirkan secara permanen apa saja isi otak dan hati menjadi kata dan kalimat baca serta mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan khusus bagi saya. Sekitar2-3 tahun lalu, ketika urusan tulis menulis jurnal dan menyelesaikan skripsi masih menjadi hiasan sehari-hari saya, mungkin membentuk opini yang agak ngawur atau sederet kata opini menjadi hal yang leluasa dan enteng saya lakukan. Tapi setelah masuk di dua tahun terakhir ini, meski mulut dan otak saya masih berjalan dengan level lumayan baik ketika membawakan acara di televisi, belum tentu hal yang terpikir di kepala bisa tertuang mudah menjadi guratan kata tulis yang bisa terbaca dengan jelas dan mampu mengirim pesan yang sesuai dengan apa yang saya maksud. Kadang saya masih gamang dan ragu. APakah saya bisa seperti dulu atau akan semakin kelu semua jari-jariku?

Oleh karena itu, menulis seyogyanya bukanmenjadi tuntutan, tapi bisa diarahkan sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kita butuh makan meski tidak harus tiga kali dalam satu hari, yang penting lambung masih bisa menggiling makanan yang masuk dan jonjot usus masih  bisa menyerap gizi, itu lebih dari cukup. Penentu semangat menulis memang diri sendiri, membagi tulisan kita dengan orang lain menjaid urusan pribadi, tapi menerbitkan buah pikiran kita yang menghasilkan penghidupan merupakan bonus berharga tinggi bagi diri.

Pikiran kita adalah ladang uang kita. Perlu ditanami palawija kata dan kalimat agar kelak bisa dipanen dan menghasilkan tumpukan pundi di lambung rekening bank kita. Silakan beridealisme dengan hidup, tapi sungguh, jika tulis-menulis dan baca-membaca memberikan banyak peluang meningkatkan harkat dan martabat manusia, memberikan label harga yang lebih tinggi bagi mereka yang paham, betapa seruan ‘iqra’, ‘bacalah’ yang diserukan Jibril ke Muhammad sebelum ayat-ayat lainnya muncul dalam kitab, sangat benar adanya.

Selamat menulis dan membaca.

Standard
Celetuk

Is It Wrong being A Single in 20’s-year-old?

Remember I wrote this essay almost three years ago, starting face my 20’s birth day… And my sister read it and said, “Goshhh, Dude! It’s twentieth century, how could you not get along with the girl? Or you are….” She stopped on those edge of words….

Being single is hard decision for me. Ignore everyone who mocks me everytime about my status that in 20 years old I don’t have someone yet I love and I introduce to. Or maybe show her off to everyone forced me. So difficult, I do! But if I think more and more about, it will be useless time that I hate to do. I don’t care what they said, I never thought this affair so hard, even for the first time I made it as the big problem in my life time. But, long by long, I could make my mind and my heart as well understand about the truly love will come so lovely in my life, someday, I don’t know.

To be patient person and always spread love to the others are my main job that I like to do. Just spending my time to not think my status everytime, ‘cause if we share love, it means we get love too, right? In my final conclusion, I make summary that love can come not only from someone we love or they we share and understand about our heart but also we can get it by do so simple thing, we just give love to someone we choose and wait for a moment, well get this one back to us. So incredible thing. At least I will get the girl who more or the most perfect I’ll ever find and make them feel so surprise till they can say anything. That’s my ambission or just my idealism?

Hmm… Only God the Al Mighty knows everything, I never figured this problem out before the matureness come early. For God sake! Why does it happen to me? Gimme some reason God! Or You, in the seventh sky there, can call me back through my night-dream that I always dream’n of in thousands night.

Passing days and walking the time, only with my close friends with their or our loyality we always together, is my day in my daily. Easier than we make appointment with the girl that in our status we generally as the freedom men, fell being tied out. Oh God poor us! So, which one we choose being single or fell like the odd man that always being tied and seldom feel free? I take the first one, for this time he…he…

For closing, I just wanna say that love is so simple thing but remember if you never aware about, it will make you down and the worst, you wish you would be an unseen person or being an invisible man in your life time after. So be careful!

Standard
Celetuk

Minor Atas Nama Perbedaan

Saat manusia terhubung satu sama lain, itu lah tanda dimana perbedaan mulai mencuat ke permukaan. Tak ada sesuatu yang sama dalam kehidupan ini. Mereka yang kembar identik pun memiliki beberapa sisi yang mungkin kasat mata dan di situ lah nilai perbedaannya. Perbedaan dari apa yang dimiliki manusia merupakan performa mereka dalam meneguhkan eksistensinya sebagai manusia. Manusia dengan latar belakang yang berbeda dan menciptakan sesuatu yang berbeda pula. Dari sini kita bisa mengambil benang merah bahwa perbedaan membuat manusia semakin paham akan keberadaan alam yang harus dibentuk dengan sebuah titik balik perbedaan itu sendiri. Melengkungnya pelangi di langit setelah hujan reda, tak akan disebut pelangi kalau warnanya sama. Tubuh kita juga akan melemah dan mati saat makanan yang kita asup hanya satu nutrisi saja. Di situ lah kita mengenal kekuasaan Tuhan yang bisa menciptakan perbedaan sehingga menjadi sebuah komposisi terlegalitas tanpa dusta bagi ciptaan-Nya sendiri. Satu kalimat: Kita tak bisa memungkiri itu. Lantas, di kala perbedaan menjadi suatu bumerang bagi manusia sendiri untuk menegaskan, sekali lagi, menegaskan dirinya sebagai khalifah di dunia. Haruskan konsep perbedaan yang disalahkan? Bukannya manusia memiliki egoisitas dan ideosinkretis yang berbeda, hingga mereka paham mereka memiliki itu untuk menciptakan sebuah perbedaan. Sesekali boleh lah kita mengatakan perbedaan itu membawa noktah hitam, tapi akankah noktah itu akan peka di tempatnya? Tidak, tentu tidak. Semua bisa dihapus dengan perbedaan yang dibentuk manusia sendiri. Kaya-miskin, rupawan-jelek, normal-cacat, dan sebagainya. Semua itu adalah warna. Warna-warna yang bisa disinkronisasikan menjadi sebuah rajutan nada indah itu sendiri. Sesuatu yang menggambarkan bahwa kita sebagai manusia bisa merasa bangga karena bisa merasakan dan memahami warna-warna tersebut yang merupakan bagian dari relasi kita dengan alam. Bahkan dibanding makhluk lain ciptaan-Nya. Suatu malam, sahabat saya berkata: “Jika Tuhan saja menciptakan begitu banyak perbedaan hingga indera kita tidak bisa mendeskripsikan semuanya, lantas kenapa manusia berusaha untuk menyamakan perbedaan dengan menghancurkan dan meminoritaskan perbedaan lainnya?” Tolong lihat dan rasakan dalam hati kita…

‘Amal Bastian’ tepat saat break MC di Maspion Square Surabaya

Standard
Cerita

Kronologi Asmaragana

Kronologi

Mereka bisa menganggap salah saat muncul satu orang yang jatuh cinta diantara sepasang kekasih. Dianggap hina, dibilang kurang kerjaan, dan diumpat sampah. Cibiran perusak hubungan orang pun tak terelak. Semua nyata tanpa kasat mata. Tak terkecuali hati yang terus mengiris pedih dan bertanya “Apakah atas nama cinta semua ini salah?”
Saat itu seharusnya mereka berpikir, bukannya manusia dipercaya Tuhan untuk memiliki cinta, membagi, dan mendapatkannya? Mereka tak sadar jika lumatan kejam mulut mereka juga muncul dari sebongkah daging bernyawa yang disebut manusia.
Aturan, ya benar. Memang aturan yang mengharuskan cinta harus diberikan dan bisa disalahkan saat sinergi itu keluar dari lintasannya. Sama seperti seorang pelari yang keluar jalur dan dianggap diskualifikasi. Tapi sekali lagi, adakah perayaan diskualifikasi atas cinta?
Tuhan pun tahu jika cinta memberi kemampuan manusia untuk hidup, bernuansa dalam alam-Nya, dan sekali lagi, bisa memanusiakan manusia lebih manusiawi.
Namun, aturan tetaplah aturan. Cinta memiliki aturan yang terlegalisasi tanpa proses.
Kamu mencintai seseorang, dia mencintai kamu. Cukup. Itu aturannya.
Dan saat orang yang tak berhak mencintai di saat dua jiwa bercinta…
Itu salah…
Melanggar…
Dan tak dihormati…

Bodohnya, ada orang yang seperti itu. Entah dengan berbagai alasan yang bergelayut merdu di ekornya. Tapi hal itu tak menghindarkan sesuatu yang sudah hina untuk lebih terhina lagi.
Dalam hal ini, itu salah kah?
Tabu kah?

Tapi terakhir kali yang perlu mereka tahu, pada saat semua terbuka, hanya satu cara yang bisa memberi kekutan untuk memahami kisaran yang membelenggu antara sepasang kekasih dan orang yang dianggap ‘tidak penting’

Mereka bermuara di danau yang sama…
Asmaragana.

Standard
Cerita

Bukan Lirik Bukan Pula Lagu

Untuk Cinta, yang Kadang Berbatas Namun Indah Dirasakan…

Coretan Dini Hari

Lelaki itu berbaring di tempat tidurnya. Hanya memakai celana pendek dan kaos tipis favoritnya untuk tidur. Berusaha merebahkan segala kebekuan tulang dan dagingnya yang telah lelah bekerja seharian ini. Dia terlentang, namun tak tidur. Di tangannya tergenggam Blackberry Curve yang tersambung kabel charger dan head-phone yang langsung terhubung ke telinganya. Kaca matanya masih terpasang di wajahnya. Dia sibuk mengetik sesuatu yang terlihat penting untuk dituliskan sebelum gubahan kalimat bermakna dari pikirannya hilang menguap ditelan kealpaan otak. Di telinganya masih mendengung suara merdu Guy Sebastian dan lantunan nyaring Jordin Sparks dengan ‘Art of Love’ mereka. Dia terlihat serius. Dengan mata yang masih menajam dan jemari cekatan memencet tombol di benda yang tergenggam di tangannya, tak terlihat kelelahan yang harus segera dipenuhinya dengan jalan tidur. Tapi di jam 2 dini hari ini, dia tak bisa tidur. Bukan menikmati jejaring sosial, fitur berhubungan, atau menggunakan jasa layanan pesan di ponselnya, dia hanya menuliskan sesuatu yang benar-benar harus segera diungkapkan. Dia tidak mau kehilangan moment ini. Semua seperti membujur kaku, namun tetap mengalir. Dia terdiam, tapi jemari dan matanya berbicara,

Cinta…
Cinta semestinya adalah anugerah yang terindah, itu lah yang ku tahu dari Joeniar Arief dan Vitha Octriena…
Mereka berdua tahu bagaimana membuat cinta berbunga dalam Arti Cinta…

Dan Angga pun mengatakan bahwa berjuta rasa muncul di hati dan pikiran kita sehingga tak bisa diungkapkan lewat kata dalam nada Maliq and D’Essential…
Aku tahu itu… Itu Pilihanku…

Di saat yang sama, aku pun merasa harus mendekat saat cinta itu menyapa, membawa tubuhku dalam larutan Close To You dari Carpenters… Dan secara langsung memaksaku harus ber-Close Up ria sehingga jati diriku bisa membawa cinta itu Come Closer to me now…

Seandainya cinta itu paham, akankah tanpa kata dia bisa terwujud? Haruskan aku mengungkapkan Say All I Need hingga One Republic tak membutuhkannya untuk lirik cinta mereka?

Aku rela merasakan sakit sesakit-sakitnya tanpa Chris Brown harus mengucapkan kata So Sick… Aku rela… Sungguh… Walaupun harus Down tanpa dia harus bersanding dengan Kanye West…

Cinta memang buta, seperti saat kita bisa melihat bintang tapi tak bisa menggapainya… Paris Hilton memang benar… Love is blind… Stars are Blind too… Terima kasih, Paris…

Tapi aku beda…

Aku bisa merasakan cinta itu, seperti saat pertama kali kita jatuh cinta dengan kopi, menikmati secangkir kopi serasa tegukan cinta masuk ke sel-sel tubuhku… Dan memungkinkan London Pigg tak perlu repot menorehkan tinta hatinya untuk Falling in Love at The Coffe Shop… Seandainya…

Cinta memang cinta…
Tak mudah terbaca… Meski sesaat kita melakukan Misread, namun kita bisa merasakan kehadirannya… Semoga King of Convenience tahu ini…

Aku terbaring sempurna di sini, dan merasakan hal itu… Masih muda memang, tapi aku bisa merabanya… Sebelum Bunga Citra Lestari menghinaku dengan ke-Pernah Muda-anku suatu hari nanti… Aku mohon jangan…

Tanpa batas dan tak terhingga… Seharusnya begitu… Tapi salahkah jika cinta datang tiba-tiba dan di tempat yang salah? Apakah kata ‘Hate That I Love You’ akan terucap saat itu terjadi? Semoga Rihanna sadar akan hal ini… Dan Chris Brown menerkanya dengan ruang yang sama…

Di pagi buta ini…
Aku tahu, Tuhan banyak memberikan cinta dan beraneka ragam hasrat cinta…
Kehidupan cinta…
Meski tak bisa terbang seperti Burung Camar… Namun, aku tahu Vina Panduwinata akan bangga denganku…

Karena aku bisa membuat cinta… Layaknya kita mencari surga di dunia ini… Yaahh, begitulah yang di katakan Alejandro Sandz dan Nelly Furtado kepadaku…

Cinta…
Is like Looking for Paradise…

Dan pemuda itu pun mulai menutup matanya. Tanpa pintu tertutup, tanpa jendela mengatup…
Lirih sebelum dia bersandar ke tangga mimpinya… Mulutnya bergerak…

‘Aku bukan Aidan… I’m not him… Because we know… You and Me, Just Us Two…’

Selamat pagi…

Standard
Cerita

Antara Gincu, Cinta, dan Vagina

Adalah suatu lakon dalam tragedi hidup seorang puan.

Gadis itu berlari menyusuri lorong yang penuh dengan mata jahat berjajaran di kiri kanannya. Melihatnya laksana daging mentah, masih berdarah, dan berbau amis, siap dimangsa.
Sosok-sosok berbadan tegap tak segan bermunculan dan menerkanya dengan raungan singa mereka…
Kotor dan beringas…
“Mangsa datang, Saudaraku! Perawan berdarah! Kalian mau?”

Namun, raungan itu tak dihiraukannya, dia tetap berlari menerobos suara-suara yang menegaskan bahwa perawan merupakan barang langka saat itu…
Dia pun bertanya…
‘Apa hanya aku? Seorang gadis berumur17 tahun yang mati-matian mempertahankan keperawanan demi cinta di saat yang lain merelakan keperawanannya untuk mendapatkan cinta? Najiskah tubuhku untuk kulindungi?’

Di tangannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah jambu, berbau wangi diantara belantara jalanan kota dengan bau bususknya yang tercium menyengat…
Busuk dari orang-orang bergincu dan kagum akan kelaminnya yang tercecer direnggut binatang…

Di kertas itu…
Tertulis rangkaian kalimat yang mencuat dari hati
Ternoktah dengan tinta darah

Aku di sini Cintaku… menunggumu…
Kamu di mana?

Saat kamu ada, tak satupun yang menyejukkan mataku selain ragamu yang menghadang mataku
Membuai rintihan jiwaku dengan rengkuhmu, dan meyusup pikiranku selama aku tak tahu itu kamu…
Jika cara yang diberikan Tuhan tak bisa memunculkan racikan dirimu di hadapku…
Lalu… apa yang harus ku tunggu?
Lapuknya hati tanpamu atau kah hanya gilasan roda waktu yang menegaskan kamu ada atau tak ada?

Capai rasanya…
Mencoba memahami kubangan di satu sudut lumpur hidup itu ada kamu…
Ada aku……
Pahami dulu regukan harapku sebelum lidahmu menyisipkan serpihan kata…

Kamu sendiri… Benarkah?

Sadarlah… aku disini…
Untukmu…

Dan sekali lagi dia bertanya, ‘Kamu dimana, Cintaku?’

Dia di depannya…
Sekejap mata dan dalam sekali tarikan nafas…
Tak sedetik pun pikirannya beralih…
Hanya pemuda itu yang meringkuk kelam di hatinya
Menyesap sari pati empedu cinta dengan kuncupnya yang mulai merekah…
Dan kini ada di pelupuk matanya…
Gadis itu terdiam dengan kertas yang semakin basah tergerus keringat…
Masih tergenggam erat di lentik jemarinya…

Lihatlah, dia masih begitu muda!
Berambut hitam, berkulit kuning langsat, berbadan tegap dan bidang…
Dia halus tanpa celah…
Tak ada noktah…
Lelaki yang mengagumkan…
Nirwana ini kah milikku? Gumam gadis itu dalam hati…

Dan dia menangis tiba-tiba…
Sang gadis bertanya, ‘Kamu? Air mata? Kenapa?’
Pemuda itu menjawab, ‘Maafkan aku, Rembulan! Sungguh Engkau cahaya perawan yang penuh naungan! Aku memujamu… Tak setitik sel tubuhku yang meragukan cintamu padaku…’

Keheranan mulai terpancar di wajah sang gadis
Namun, dia menutupinya dengan hujaman kata-kata cinta…
‘Aku tahu, Cintaku! Aku tahu! Tapi kenapa tiba-tiba Engkau begini? Apa daya salahku hingga guratan silau kesedihan terangkum di wajah sucimu?’

Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya dengan tumpuan lututnya sendiri.
Dia merintih…
Memeluk kaki sang Gadis… mencekamnya kuat-kuat…
Tak bisakah dosa ini dikembalikan?
Tampar waktu dan balikkan dia, tapi dia tak bisa…

Dan kenyataan mulai menampakkan dirinya
Mata suci sang Gadis mulai terbuka
Membelalak di sudut terkelam dalam hidupnya…
Hatinya hancur tak ada kepingan yang terbuang…

Seonggok perempuan
Telanjang
Tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya
Merupakan raganya…

Perempuan itu tertunduk lesu…
Dengan keringat yang terus mengalir di belantara kulit mulusnya yang terlihat matang
Dia tak mampu memandang sang Gadis…
Dadanya sesak…
Dan dia masih telanjang…
Namun terlilit kelambu dosa

Perempuan itu berkata,
‘Maafkan aku! Aku tak tahu…’

Dan sang Gadis membalas dengan sentakan kebataan yang hina mengiris…

‘Ma… Mama… Kenapa?’

Kertas merah jambu itu pun jatuh ke lantai…

Semuanya luntur…

Standard