Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

Advertisements

Pamit

Masuk awal musim kemarau membuat semburan air di mata air Sumber Bedug mengecil. Alirannya tertampung di beberapa petak kecil terbuat dari bebatuan yang sengaja dibangun untuk keperluan mandi dan cuci warga. Selain itu, juga digunakan untuk mengairi lahan persawahan dan perladangan yang terbentang di sepanjang jalur aliran. Jalur itu kemudian membentuk anak kali yang bercabang-cabang. Mengular memasuki hutan yang selanjutnya tumbuh peradaban manusia berupa desa-desa.

Air yang keluar dari mata air Sumber Bedug adalah salah satu penyumbang debit air di ujung anak kali yang bergabung dengan debit besar di sungai Brantas. Mengalir membelah sebagian daratan pulau Jawa dari Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, kemudian bercabang dan melewati Surabaya hingga bermuara di arus laut lepas. Dari peradaban manusia yang muncul di sepanjang alirannya, keberadaan mata air Sumber Bedug memiliki banyak arti. Khususnya warga dari tiga desa yang lokasinya bersinggungan langsung dengan letak mata air itu. Sebagian besar dari mereka yang mengolah sawah dan ladang sebagai matapencahariannya, menikmati pengairan cuma-cuma dari Sumber Bedug. Sementara mereka yang menjual tanaman hias dan memiliki kebun sayur, air tanah yang juga berpusat dari mata air yang sama, menjadi sumber daya alam Illahi yang mudah diperoleh tanpa tawar-menawar.

Mengacu pada denah lokasi, hak kepemilikan Sumber Bedug sah dikelola oleh desa Bedug. Namun manfaat keberadaannya dapat dinikmati oleh dua desa lainnya, yaitu desa Rembang dan desa Kepuh. Dua desa yang juga berbatasan langsung dengan letak mata air tersebut. Keberadaan titik pusat semburan Sumber Bedug, atau yang warga desa disebut dengan istilah belig, diapit oleh tiga desa itu. Seolah menjadi titik yang berada di bagian tengah segitiga. Masing-masing sisi segitiganya adalah jalan utama milik setiap desa. Hanya saja untuk pintu gerbang sekaligus prasasti batu yang menancap kuat di depan gapura, terukir nama Sumber Bedug. Bertuliskan sejarah singkatnya dengan bahasa Indonesia ejaan lama. Menyatakan bahwa mata air itu terhampar di tanah desa Bedug, milik warga Bedug.

Deru sepeda motor bebek milik Wahyu membising di sepanjang jalan utama desa Kepuh yang beraspal makadam. Permukaannya bergelombang dan berkerikil dengan kontur aspal yang belum sempurna digilas mesin drum roller. Teronggok pula beberapa tong besar berisi lelehan cair berwarna hitam yang mulai mengering dengan bau khas mencemari tanah dan udara di sekitarnya. Cairan aspal yang entah sudah selesai dipakai atau belum, dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Menguarkan bau khas menyengat yang Asap putih sepeda motor Wahyu yang dikendarainya tiba-tiba menebal seiring muncul suara aneh yang berbunyi dari mesin kendaraannya. Tepat ketikan dia melewati tong aspal yang letaknya tak jauh dari tembok tinggi besar dengan kawat berduri di bagian atas yang menjadi pagar belig. Dengan cekatan dia mematikan dan menyalakan kembali kendaraannya di bawah rindang pohon di luar tembok. Satu kali, dua kali, tidak ada hasil. Baru ketika masuk hitungan ketiga, kendaraan roda dua itu menyala normal. Disekanya keringat yang menderas di kening dan pelipisnya. Sepoi angin kering yang menggoyang dedauan dari pohon di atasnya, sedikit memberikan kesejukan. Dari luar tembok, Wahyu hanya bisa melihat bagian atas dan puncak rimbun pohon besar yang mungkin sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Sedangkan setengah badan ke bawah tertutup tembok tebal bercat putih kusam itu.

Dalam perjalanan ke rumah, Wahyu berkendara tanpa mengenakan penutup kepala. Rambut ikalnya berkibar terhempas angin. Digantungnya helm hitam yang kait kacingnya rusak di bagian setir sepeda motornya. Dia sering melakukan hal itu tiap kali melewati gapura besar bercat kuning kecoklatan yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di salah satu sisinya terukir gambar Garuda Pancasila lengkap dengan gambar warna-warni logo dari setiap sila. Di sisi lainnya tertulis besar-besar nama desa dengan huruf timbul berwarna hitam legam, Desa Kepuh. Menjadi satu-satunya jalan beraspal yang merupakan jalan masuk ke desanya dan berbatasan langsung dengan jalan kabupaten. Meski sangat jauh perbedaannya antara jalan aspal kabupaten dengan jalan aspal makadam yang terbentang sepanjang deretan rumah warga di desanya.

Helm hitam Wahyu menggantung dan bergoyang-goyang bersama dengan laju sepeda motor yang dikendarainya. Selepas dhuhur, seperti hari-hari lainnya, jalan utama desa Kepuh terlihat lengang. Sebagian besar penghuninya melakasanakan istirahat bedol desa. Hanya sesekali suara deru sepeda motor dan celotehan anak sekolah yang baru pulang, seperti Wahyu. Tak perlu dikomando, ditekannya pedal gas dengan ujung kaki kanannya lebih dalam lagi. Mumpung sedang sepi, pikirnya. Tidak sampai 500 meter, cabang pohon keres di depan rumahnya terlihat. Khas rumah desa, halaman rumahnya cukup luas. Selain pohon keres di depan pagar, di adalamnya terdapat pula satu pohon mangga besar dan deretan pohon palem serta beragam tanaman perdu baik yang berpot atau ditanam langsung di tanah.

Terik matahari siang dengan udara kering dan panas, membuat Wahyu segera melepaskan sepatunya dan ditaruh di depan bibir pintu rumah. Tali-tali sepatunya yang terpilin tak beraturan membuat sepatu hitam lusuh dengan beberapa jahitan itu agak sukar dilepas. Tanpa pikir panjang, Wahyu menekan bagian tumit kaki kirinya dengan ujung kaki bagian kanan. Dengan sedikit hentakan, lepas sudah sepatu bagian kiri. Pun dilakukannya pada sepatu bagian kanan. Kaos kaki putihnya yang kumal dan berbau tengik, tak lama teronggok diam menumpuk berantakan tak jauh dari sepasang sepatu lusuh di sampingnya.

“Assalamu’alaikum!” teriaknya tanpa jawaban. Disempatkannya menengok jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul 1.25 ketika dia berjalan memasuki kamar. Ditaruhnya tas ransel yang resletingnya tak menutup sempurna di atas kasur. Sementara jam tangannya digeletakkan di atas bantal. Wahyu tak melepas seragam putih abu-abunya dan langsung bergegas menuju dapur. Dahaga tak bisa ditahan lagi. Perutnya sejak tadi berteriak minta diisi. Sesaat kemudian tangannya memegang leher kendi. Tanpa menuangkannya ke dalam gelas, dikucurkannya air ke arah mulutnya lekas-lekas. Air putih bening mengucur deras ke rongga mulutnya. Rasa segarnya terasa melegakan meski sedikit rasa tanah. Tapi itulah air putih khas desa hasil rebusan dari belig Sumber Bedug yang mengalir di bawah hamparan rumah-rumah penduduk. Kesegarannya membuat rasa pahit di mulut Wahyu perlahan lenyap. Cegukan kecil muncul. Dia berdehem, kemudian melenguh sambil berkata, “Suegerrrr!”

Di dapur, sebelum menghampiri meja makan, Wahyu berharap semoga hari ini ibunya memasak lodeh kacang panjang atau urap dengan lauk ikan pindang kesukaannya. Namun yang ada dibalik tudung saji plastik berwarna biru gelap dengan banyak cuilan itu, yang ditemuinya hanya sebakul nasi yang tak lagi hangat. Satu mangkuk sambal pecel lengkap dengan rebusan sayur kacang panjang, bunga turi, dan bayam. Serta sepiring irisan tempe tipis-tipis yang digoreng agak gosong. Masih menguarkan uap panas. Seperti baru saja ditiriskan dari penggorengan. Dia mendesah, “Pecel tempe lagi.” Meski begitu, teriakan rongga lambungnya tak bisa menunggu lama. Air liurnya mengalir deras seiring bau sambal dan wanginya tempe goreng. Sesaat kemudian tangannya sibuk memuluk nasi bersambal dan mulutnya tak henti mengunyah. Sambal pecel yang diracik dan diolah ibunya memang terkenal pedas dan nikmat. Pedasnya bikin kapok lombok, saking pedasnya malah semakin nikmat dan membuatnya makin ketagihan. Bagian dada dan punggung seragamnya basah karena keringat. Sesekali bagian punggung telapak tangannya menyeka peluh yang merembes di keningnya. Udara kering dan panas awal musim kemarau ikut berpadu bersama pedasnya sambal pecel. Wahyu terbakar.
“Ojo kesusu, Yu, keseleg lho nanti!” pinta ibunya yang tiba-tiba masuk ke dapur lewat pintu belakang. Ditangannya tergenggam sebonggol kacang panjang yang baru saja diguyur air
“Enak, Buk! Maknyos! Ssshh… Sssshh…” jawabnya cepat sambil mendesiskan mulutnya akibat rasa pedas yang menjalar hebat di permukaan lidahnya.
“Enak ya enak, tapi kalau makanmu terburu-buru begitu, siap-siap saja …”
“Ughk! Ughk! Buk, air! Minta air!” teriak Wahyu sambil meringis kesakitan. Tangan kirinya menepuk-nepuk leher, tepat dibagian jakunnya. Ada sejenis udara panas yang merangsung ke rongga tenggorkan yang kemudian mampir ke lubang hidungnya.
“Ibuk belum selesai ngomong lho, Yu! Nih minum!” Ibunya tanggap dan langsung menyerahkan segelas air putih kepadanya.

Seteguk dua teguk cairan dingin berhasil mengurangi rasa pedih dan panas di rongga hidung Wahyu. Ibunya ingin tertawa, tapi segera ia urungkan niatnya. Hanya tersenyum dan menaruh wajah prihatin terhadap tingkah laku anak keduanya. Wahyu kembali melanjutkan menikmati makanannya ketika tangan ibunya sibuk mengiris kacang panjang di atas telenan. Seperempat bagian telah terkumpul di dalam marang, wadah plastik berongga bekas tempat makanan dari suatu hajatan atau hantaran, yang diletakkan di atas meja. Mereka berdua duduk berhadapan terpisahkan oleh meja makan kecil.
“Lho, kacang panjangnya mau direbus lagi ya, Buk?” tanya Wahyu di tengah-tengah konsentrasi mengadu mulut dengan isinya.
“Iya Yu. Tadi Ibu belinya agak banyak. Mbak Rin kesiangan dagang sayurnya. Daripada tidak laku, dijual murah ke ibu. Ya sekalian saja diiriis, nanti abis maghrib ibu masak lodeh kacang panjang kesukaanmu,” jelasnya.
“Wuihhh! Alhamdulillah! Doyan, Buk!” ucapnya girang.
“Jadi bisa dibuat makan sampai besok. Ibuk bisa langsung ke kantor desa pagi-pagi.”
“Ada acara apa, Buk?”
“Di undangannya tertulis rapat giat warga, tapi ibu belum tahu giat warga apa,” jelasnya.
Wahyu mengangguk tenang. Di dalam hatinya dia senang sekaligus bangga terhadap ibunya, orang tua satu-satunya yang masih sehat dan memiliki banyak aktivitas. Dulu ketika ayahnya masih ada, ibu Wahyu murni hanya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Kesibukannya hanya mengurus rumah dan keluarga, sesekali menikmati menanam tanaman hias yang bisa dijual sebagai pemasukan tambahan. Suaminya, ayah Wahyu, tidak terlalu menuntut banyak karena kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi dari gaji PNS yang tidak pernah terlambat sampai ke tangan setiap bulannya. Tapi semua berubah setelah kematian ayah Wahyu. Ibunya yang sempat terombang-ambing psikisnya selama lebih kurang satu bulan, mencoba menghidupkan kembali keterpurukannya.

Ima, Wahyu, Anis, dan Rizal yang sebelumnya sempat telantar dan kurang mendapat perhatian, bisa bernafas lega mendapati ibu mereka berangsur-angsur bangkit. Kini Ima tak harus sering-sering pulang ke rumah dan meninggalkan suaminya di Malang tiga hari dalam sepekan selama satu bulan penuh. Anis tak lagi sedikit-sedikit minta dijemput Wahyu di pondok pesantrennya di Pare. Salah seorang ustadzahnya sering mengirim SMS ke Wahyu tentang malam-malam Anis yang sering menangis di tempat tidur karena merindukan ayahnya, terlebih kepada ibunya. Dan si kecil Rizal yang masih duduk di sekolah dasar, bisa pergi sekolah seperti biasa tanpa harus diantar lagi oleh kakaknya atau dititipkan ke tetangga. Rutinitas ibunya tiap pagi muncul kembali. Sementara Wahyu, anak laki-laki tertua dalam keluarganya, tak henti mengagumi sosok ibunya yang bangkit dan sering tenggelam dalam kesibukannya. Mulai dari kegiatan-kegiatan desa, pengajian, sampai acara santunan di bulan suci, Wahyu tak pernah melihat ibunya absen. Antara bangga dan bahagia, bercampur menjadi satu. Apalagi mendekati ujian masuk perguruan tinggi, ketika mimpinya untuk kuliah di luar kota dan meninggalkan rumah, sudah ada di depan mata. Dan menjadi suatu kelegaan tersendiri baginya ketika ibunya cukup mandiri untuk ditinggalkan. Biarkan Anis yang gantian menemani sang ibu ketika dia masuk SMA nanti.

Sang ibu membalas dengan senyuman yang hanya sesaat. Kemudian memunculkan gurat wajah serius di hadapan Wahyu.
“Yu, ibuk mau ngomong sesuatu sama kamu,” tiba-tiba ibunya mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa bahwa percakapan ibu dan anak itu sedikit berubah rutenya. Bukan becanda lagi.
“Mau ngomong apa, Buk? Monggo silakan,”
“Ini tentang kuliahmu—“

Tit-tit-tit.
Tit-tit-tit.

Bunyi suara ponsel membuyarkan rona keseriusan yang mulai terbentuk. Wahyu buru-buru meninggalkan meja makan dan berlari ke arah sumur. Mengguyur telapak tangannya yang belepotan nasi, warna coklat sambal pecel, dan bercak kilau minyak dari tempe goreng, dengan air dari pancuran kran. Lalu menggosok-gosokkannya secara asal dan mencium telapak tangannya. Dia meringis, merasa masih bau. Tak apa lah, toh cuma akan memegang dan melihat pesan masuk di ponselnya saja, pikirnya. Dia kembali duduk di hadapan ibunya.
“Sebentar, Buk, nggih, ” ujarnya sambil merogoh saku celana abu-abu letak ponselnya berada.

Sang ibu menatapnya datar disertai gelengan kepala. Wahyu membalasnya dengan memasang tampang cengengesan tanpa dosa. Hanya sekian detik berselang, setelah itu jemarinya sibuk memencet tombol-tombol ponsel Siemens yang layarnya berwarna oranye hingga terdengar bunyi tak-tak-tak. Menuju fitur pesan. Satu pesan masuk, dari Amir.

Amir : abs ashar ktm d sumber lgsg le
Wahyu : aman le
Amir : ibuk msak opo?
Wahyu : sambal pecel lauk tempe maknyos, mau?
Amir : bungkus
Wahyu : sip

Wahyu menaruh ponselnya di atas meja. Masih berhadapan dengan sang ibu, dia mulai membuka percakapan yang tadi sempat tertunda. Disertai telapak tangannya yang kembali sibuk melanjutkan memuluk kembali makan siang yang belum habis dilahapnya.
“Monggo dilanjut, Buk. Tadi sampai mana?” tanyanya.
“Sampai mana gundulmu. Mulai saja belum,” balas sang ibu berseloroh.
“Owalah belum to? Yo dimulai to, Buk! Hahaha!” mulutnya mengunyah pulukan nasi-sambel-tempe untuk kesekian kalinya.
“Ibuk serius ini, Yu. Ini tentang kuliahmu.”
“Tes seleksi masuk perguruan tinggi masih sekitar dua minggu lagi, Buk. Nilai ujian akhir Wahyu juga lumayan, Insha Alloh bisa lah diterima di PTN Surabaya. Paling mentok ya di Malang. Bismillah saja, Buk!” pintanya.
“Kenapa harus di Surabaya, Yu? Mbok ya di Kediri saja, ada kampusnya juga. Apalagi ndak jauh pula dari pesantrennya, Lek Kri.”
“Kok bawa-bawa pesantrennya Lek Kri, Buk? Lek Kri ‘kan emang dikuliahin gratis dan ngajar disitu? Ndak ada hubungannya dengan kuliahnya Wahyu nanti,” balas Wahyu heran.
“Tapi lek-mu itu juga lulus kuliah dan langsung ngajar, Yu! Langsung kerja! Kamu bisa belajar dari dia,” timpal ibunya.
“Almarhum bapak dhawuh kalau Wahyu harus kuliah, Buk. Bapak juga mengiyakan kalau Wahyu bisa kuliah di Surabaya. Kalau urusan belajar ke siapa, di Surabaya malah banyak. Insha Alloh Wahyu tekun dan bisa jadi orang kantoran yang sukses nanti,’’ dirinya membela.

Percakapan itu berubah sunyi di saat Wahyu mengambil piring dan berjalan menuju sumur. Dibersihkannya piring itu hingga bersih dengan sabun. Telapak tangannya yang masih menyisakan busa sabun, tak lupa pula ikut dibersihkannya. Setelah dirasa cukup bersih, air tanah yang keluar dari pancuran kran menjadi pembasuhnya. Kemudian dia kembali lagi ke meja makan. Mengambil lap yang ditaruh serampangan tak jauh dari tudung saji. Mengeringkannya. Mencium telapak tangannya kembali. Memastikannya bersih dan berbau wangi sabun Wings. Ibunya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Wahyu.
“Buk, Amir minta makan. Barusan tadi SMS,”
“Lho, ambil kertas minyak di laci itu, sini ibuk yang bungkusin! Jangan lupa karet gelangnya, Yu!””
Wahyu kembali duduk di berhedapan dengan ibunya sambil menyerahkan dau lembar kertas minyak dan karet gelang berwarna kuning ke ibunya. Dengan cekatan tangan ibunya membuat kertas tersebut berbentuk seperti mangkuk yang siap ditampungi makanan.
“Segini Amir cukup?” tangan ibunya memegang bungkusan terbuka berisi nasi.
“Cukup, Buk.”
“Biaya perkawinan mbakmu kemarin, daftar ulang sekolah adik-adikmu bulan depan, Ibuk khawatir ndak sanggup membiayai kuliahmu, Yu.” ucap ibunya sambil meletakkan bungkusan kertas minyak berisi nasi putih. Lalu melanjutkan kembali membuat bungkusan di kertas minyak kedua yang selanjutnya diisi dengan sambal pecel dan tempe goreng. “Ini cukup, Yu?” satu bungkusan kembali tersodor tak jauh dari hidung Wahyu. Wahyu melihatnya, kemudian mengangguk.
“Padahal Wahyu sudah ndak ikut study tour SMA lho, Buk. Wahyu pikir kalau uangnya disimpan, bisa lumayan untuk tambah-tambah biaya daftar ulang kuliah Wahyu nanti. Tapi ya ndak kuliah di Kediri meski sama-sama pakai biaya, Buk.”
“Lek Kri-mu bisa bantu agar kamu bisa dapat beasiswa kuliah dan lanjut mengabdi seperti dia,”

Seolah gelegar menyambar gendang telinganya, mengepulkan api di hatinya, dan membakar ubun-ubun kepalanya di waktu bersamaan. Wahyu tertegun sejenak. Menatap ibunya yang sibuk mengikat bungkusan terakhir dengan karet gelang. Kemudian mereka berdua saling berpandangan.

“Ya ndak bisa gitu, Buk? Sebelum wafat, bapak sudah bilang kalau ada dana untuk kuliah Wahyu. Sudah sejak lama Wahyu ingin ke Jakarta. Tapi kemarin Mbah Putri melarang. Mending kuliah yang dekat-dekat saja agar Wahyu sering pulang ke rumah. Kalau Jakarta ndak bisa, ya Wahyu pikir Surabaya cukup lah jadi kota kedua tempat Wahyu belajar. Kediri-Surabaya ‘kan cuma 3-4 jam perjalanan saja. Dan Ibuk sendiri juga tahu kalau Bapak juga bilang bahwa anak lanang itu langkahnya harus jauh. Jangan cuma mbulet saja di kampung. Mbak Ima pun kuliah di Malang sampai lulus. Setelah nikah juga pindah ke Malang. Masa Wahyu di sini saja, Buk?” jelasnya panjang lebar.
“Tapi sekarang kondisinya berbeda, Yu!” timpal ibunya.
“Pokoknya selepas SMA Wahyu ndak mau tinggal di sini lagi.”
“Bapakmu sudah tidak ada. Tinggal kamu anak laki-laki paling tua di rumah ini. Pikirkan mbakmu dan adik-adikmu, Yu!” pinta ibunya.
“Mbak Ima sudah dipikirin sama suaminya. Kata ibuk biaya sekolah Nisa dan Aris sudah disiapkan bapak sampai mereka lulus sekolah. Bahkan kuliah kalau memang ada rezeki. Terus siapa yang memikirkan masa depan Wahyu kalau tidak Wahyu sendiri, Buk?”
“Hutang almarhum bapakmu banyak.”
“Hutang ke siapa, Buk?”
“Ndak bisa ibuk jelasin sekarang. Suatu hari kamu pasti akan tahu, Yu?”
“Lho katanya Wahyu anak laki-laki tertua di rumah ini, gantinya bapak, ya Wahyu harus tahu lah bapak hutang apa? Ke siapa?”
“Pokoknya ibu ndak bisa ngasih tahu kamu sekarang.” ibunya tetap bertahan.
Wahyu terdiam sejenak. Pikirannya diperas oleh rasa penasaran tentang rahasia apa yang disembunyikan wanita itu darinya. Dia ingat-ingat kembali orang-orang yang dekat dengan ayahnya selama ini. Isi otaknya menerawang jauh ke puing-puing momen ketika beberapa kawan ayahnya mampir ke rumah. Tak semua dikenalnya dengan baik. Hanya beberapa saja, itu pun dia hampir susah mengingat wajah dan nama masing-masing. Beberapa di antaranya juga terlihat saat melayat ke rumah ketika ayahnya dikafani dan berbaring diam di ruang tamu sebelum disholati oleh orang banyak. Menjabat tangannya dan mengucapkan kalimat bela sungkawa sekedarnya saja. Tapi ada satu orang teman dekat ayahnya yang dia kenal baik, Pakdhe Mukhlis, tinggal di Surabaya. Terakhir bertemu di hari raya Idul Fitri setahun lalu.
“Bapak itu anak orang yang disegani di desa ini ‘kan, Buk? Mbah Dayat, kyai Dayat, pasti bohong besar jika bapak punya hutang banyak ke orang. Iya ‘kan Buk? Pesta pernikahan putri pertamanya saja begitu meriah!” sangkal Wahyu.
“Nama besar yang disanjung tidak selalu menjanjikan materi berlimpah, Yu. Terakhir bapakmu hanya meninggalkan rumah ini dan sepetak sawah di belakang rumah. Itu saja yang bisa diolah selain gaji pensiunannya yang ibu gunakan untuk membayar hutang. Dan setelah pesta pernikahan mbakmu dulu, ibu semakin tidak yakin akan bisa menyekolahkan kamu dan adik-adikmu sampai lulus kuliah seperti harapan almarhum bapakmu.”
“Jadi duit kawinan itu pakai duit hutang? Buat gaya-gayaan saja, begitu?” sontak Wahyu kaget bukan kepalang.
“Bukan-bukan itu, Yu! Pokoknya ibu belum bisa memberitahu kamu sekarang. Ibu hanya berharap besar kamu mau membantu keluarga ini.”
Wahyu kembali terdiam.
Ibunya melakukan hal yang sama.
“Dosa besar kalau Wahyu membantah permintaan ibuk.” dia menggelengkan kepalanya. “Ya dilihat nanti saja lah, Buk!” ujarnya sambil memasukkan dua bungkusan kertas minyak yang telah diikat karet gelang ke dalam tas kresek hitam.
 “Dilihat apanya, Yu?”
 “Ya dilihat hasil tes seleksinya nanti, Buk? Wahyu diterima masuk ke PTN idaman Wahyu atau tidak. Kalau tidak, Wahyu bakal nurut apa kata Ibuk. Tapi kalau Wahyu diterima, maka Wahyu akan tetap pergi dari rumah meski tanpa biaya,”
Ibunya tertegun melihat tekad anaknya yang tak bisa dicegah. Sembari membereskan irisan kacang panjangnya yang sempat terbengkalai, ibunya menyisipkan pertanyaan sebelum Wahyu menghilang dari pandangannya.
“Pergi kemana, Yu?”

Mas Ayu

Cermin di kamar mandi hanya memantulkan semburat sebagian raut wajahku karena permukaanya tertutup uap air panas yang keluar dari pancuran kamar mandi. Baru saja membasahi tubuhku. Guyuran air dengan suhu tidak sampai 100 derajat Celcius akhirnya membuatku rileks. Membantu mengurangi pening kepala akibat pengaruh alkohol disertai dengungan menjengkelkan dari dalam kuping hasil hentakan musik klub yang aku datangi semalam. Niat awal hanya ingin menyapa teman-teman lama yang kebetulan memintaku datang ke tempat mereka untuk menghabiskan akhir pekan. Matang-matang kurencanakan bahwa aku hanya akan datang dengan durasi sekitar dua jam saja. Tidak lebih. Kalau hanya berbasa-basi dan curhat colongan sambil menenggak segelas wine, tidak harus sampai pagi pikirku. Dengan kata lain, jika aku datang tepat pukul 10, maka sekitar tengah malam aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel dengan estimasi waktu tempuh perjalanan 30 menit. Cukup waktu untuk tidur dan kembali bugar keesokan paginya. Acara kantor berupa seminar keuangan dengan rundown padat siap dan harus kunikmati seharian, dari pagi hingga sore. Dan Aku yang akan menjadi salah satu pengantar materinya. Artinya persiapan semuanya wajib semaksimal mungkin.

Akan tetapi yang terjadi malah di luar estimasi dan prediksi. Tepat ketika jarum jam merapat pada angka empat, seingatku aku baru merebahkan tubuh di atas kasur. Sendirian kurasa. Sekelebat ingatanku muncuat tiba-tiba. Semalam aku hanya terkapar, pusing, dan mengantuk hebat. Tidak terlalu mabuk. Masih punya kesadaran megeset alarm jam di ponselku di pukul 8.30 pagi. Satu setengah jam sebelum acara dimulai.

Sorot mataku terfokus pada cermin kamar mandi yang makin buram akibat uap panas. Sejenak kuusap permukaannya dengan telapak tanganku agar pantulan wajahku terlihat jelas. Sosok manusia dengan kulit tak terlapisi kain terlihat basah berantakan. Kantung mata menghitam, sayu, dengan kelopak yang nyaris enggan terbuka. Bola mata dengan garis pinggir memerah darah. Seperti iritasi yang makin parah. Ditambah kulit wajah memutih akibat kurang tidur. Aku berantakan. Seolah rambut hitam legam basah dan lepek yang meneteskan air tidak cukup membuatku terlihat segar.

Handuk hotel yang halus dan hangat menutup tubuhku ketika aku merapikan file-file presentasi di netbook. Memastikan konten yang ada di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga untuk meyakinkan bahwa tidak ada poin-poin yang terlupa ketika daya kerja otakku masih belum 100% aktif. Kepalaku masih pening dan berat. Seperti ada konde seberat tujuh kilogram yang menancap kuat di rambut. Menarik akar-akarnya tapi tak lekas tercabut. Memberikan sensasi denyutan yang tak lekas hilang. Tak ingin rasanya meninggalkan kamar nyaman ber-AC ini dan berharap bisa kembali merebah di atasnya, memeluk guling, dan berselimut tebal. Menikmati susu hangat dilengkapi dengan bubur ayam panas yang gurih. Betapa nikmat jika bisa seperti itu. Namun tak mungkin terjadi saat ini. Beberapa benda telah merebah lebih dulu di atas kasur empuk. Kemeja, blazer, dasi, ikat pinggang, dan celana panjang terhampar tak beraturan menutup lipatan bed-cover. Siap dikenakan pemiliknya.

Dering telepon hotel dari arah meja yang menempel pada kasur dekat dengan jendela kamar membuyarkan lamunanku. Persis saat kemeja yang kukenakan belum terkancing sempurna.
“Hallo?” sapaku memulai percakapan.
Dari ujung terdengar suara wanita dengan logat dan intonasi khas yang sudah kukenal.
“Mas, sudah siap? Ditunggu Pak Bos nih di restoran, mau ada briefing sebentar sebelum acara mulai,”
Kulirik jam tangan perak yang terdiam kaku di samping lampu meja. Pukul 9.15.
“Iya Mbak Bella, 5 menit lagi turun,” jawabku singkat.
“Okay, Mas. Sekalian sarapan disini,” balasnya.
“Siap, Mbak,”
Klik.
Tuttttt. Tuttttt. Tuttttt.

Hanya tinggal sepatu pantofel hitam yang harus kukenakan. Kuambil kaos kaki baru warna coklat tua dari dalam koper. Isinya belum sempat dikeluarkan karena jadwal padatku merayap, bekerja dan bermain-main. Entah karena malas atau memang tidak perlu dikeluarkan. Toh besok juga bakal diisi lagi dengan barang-barang yang sama dan sebagian yang habis dipakai. Hanya peralatan mandi dan pakaian kerja saja yang biasanya lebih dulu keluar, sisanya nanti saja kalau diperlukan. Hemat waktu, hemat tempat.

Aku siap berjalan keluar kamar dengan menenteng tas selempang berisi laptop dan berkas ketika tiba-tiba pintu kamarku terbuka dari arah luar. Aku sontak terkejut karena seingatku hanya aku yang tidur di kamar ini. Rekan kerja lain menempati kamar masing-masing. Kakiku terdorong melangkah mundur seperti membentuk kuda-kuda pertahanan gerakan muaythai yang kelasnya rutin kuikuti 3-4 kali seminggu di tempat kebugaran.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berkaos hitam polos dengan celana kolor pendek. Bersendal putih bertuliskan nama hotel yang aku tempati. Dia menggenggam buah apel yang sudah tergigit, dengan mulutnya yang terus bergerak memagut-magut. Mengunyah.
Hi, morning. Sorry, tadi aku lapar banget, jadi sarapan dulu ke restoran sebelum kamu bangun,”
Aku terdiam. Menatap heran ke wajah asing di hadapanku.
“Oh iya, semalam kamu bilang ada kerjaan pagi. Sana buruan, sebelum terlambat!” kemudian dia membuka pintu dan menyilakanku keluar kamar.
But wait, kamu siapa?”tanyaku penuh rasa heran. Penasaran berlipat ganda.
Dia menutup pintu. Meletakkan apelnya di atas meja tak jauh dari televisi.
Well, kita coba kenalan lagi ya. Namaku Ega. Teman Dimas, temanmu ‘kan?”
“Yah, ya I know Dimas, but you are?
“Dimas ngenalin aku ke kamu semalam, kita sempat ngobrol banyak, dance along all nite, and finally we are here. Di hotel. We had fun!
Fun?
Yes, fun. I mean with our friends out there. Kalau tidak salah kita bersepuluh atau bersebelas gitu. Ada aku, kamu, Dimas, Eva, Ryan, Din …”
“Oke-oke! Tapi kenapa kita satu hotel? Kenapa di kamar yang sama?” aku memotong kalimatnya.
“Karena kamu mabuk dan aku nganterin kamu pulang ke hotel. Dan kita …”
“Ki-ki-kita tidur bareng?” kembali kupotong kalimatnya.
Of course. Kasur ini king size. Lebih dari cukup untuk berdua. Masa iya aku tidur di sofa atau kamu yang tidur disana?” telunjuk kanannya mengarah pada karpet di bawah kasur. Dia berdehek pelan dengan senyum tersungging.
“Maksudku? Ki-ki-kita melakukannya? Ka-ka-karena tadi pagi aku bangun tidur tanpa mengenakan pakaian dalam. Kamu!”
Dia memutar bola matanya ke atas dengan gerakan mengingat sesuatu.
“Sepertinya… Iya.” jawabnya singkat.
Dan perutku mendadak mual dengan degup jantung tak beraturan yang tiba-tiba datang. Seperti ada hantaman di kepalaku yang menggoyahkan konsentrasi. Dan paru-paru yang mengembangkempis terlalu cepat sehingga rongga dadaku naik-turun. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain mencoba tenang, diam, dan tertegun.
“Kamu melihat semuanya?” tanyaku kepadanya.
“Iya,”
Why? Why did you do that?” tanyaku dengan rentetan sumpah serapah dalam hati. Mengutuknya.
Because you asked me to do! I am a man, we’re drunk, and we did it. Nggak perlu dimasalahin. I enjoyed, you did the same.”
“Ya Tuhan…” aku menunduk. Menjatuhkan tas kerjaku di atas karpet.
Kemudian ada telapak tangan menyentuh pundakku. Cepat-cepat kutangkis.
It is okay. We only kissed, no more,” jelasnya mengiba.
“Tapi kamu melihat semuanya. Kamu nggak berhak melakukan itu! Itu pelanggaran HAM! Ngerti?” kataku dengan nada makin tinggi.
“Tapi kamu yang minta, aku harus bagaima …”
“Alesan! Keluar sekarang! KELUAR!”
Aku memintanya keluar kamar. Tapi dia diam. Dia malah berkacakpinggang dan menyeringai ke arahku.
“Kamu yang keluar sekarang!” bentak dia.
Aku marah. Aku bingung. Marah tapi bingung.
“Denger ya kamu ya! Kamu masuk ke kamar orang. Jelas kamu yang harus keluar,” balasku.
Dia maju selangkah mendekatiku.
“Masih belum sadar. Well, let’s say, kamu semalam mabuk berat, kita ke hotelmu. Tapi kamu lupa nomor kamarmu. Jadi, aku buka kamar satu lagi. Di hotel yang sama. So, this is officially my room, not yours,”
Aku kaget bukan main. Barang-barangku tadi. Koperku. Pakaianku. Perlengkapan kerjaku. Kuperhatikan dengan seksama seluruh sudut ruangan. Mirip dengan kamarku, hanya lebih besar. Ada beberapa onggokan barang yang bukan milikku berdiam di atas sofa, di atas meja TV, dan di samping tempat tidur. Beberapa sepatu pun terlihat di dekat pintu dan yang pasti bukan milikku.
Sorry, sorry, aku minta maaf,” pintaku memelas.

Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian menghampiriku.
It’s okay, Darling, sana kamu kerja dulu, nanti setelah kamu selesai, kita ketemu. Ada banyak hal yang harus kita obrolin, okay?
O-okay,” kuambil kembali tak kerjaku, menentengnya, dan meraih gagang koper yang hendak kubawa keluar. Tapi dia mencegahnya.
“Ssst-sst… Nggak perlu. Your stuffs are already safe here. Nanti saja.”
Aku mengangguk dan masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga pagi yang luar biasa ganjil ini.

Pintu tertutup dengan suara debaman bervolume rendah namun menggema di dinding hotel ini. Sementara itu, langkah kakiku tak terdengar karena teredam karpet tebal yang terhampar di sepanjang lorong. Mendekati lift, ponselku berbunyi dengan getaran ganda sebagai penanda notifikasi yang masuk.

Kuambil dari dalam tas.
Ada dua pesan masuk.

Pesan pertama.
Dari Dimas,
“Makasih ya udah nemenin Om Ega. Dia suka sama kamu. Oh iya, mamamu sudah siap dioperasi. Baru saja dokter Franky ngabarin aku. Biayanya cukup. Kamu hebat, Beb. Ketemu besok ya. Salam buat Om Ega. See you soon.”

Pesan kedua.
Dari Bella,
“Kamu dimana, Masayu? Pak Bos sudah nungguin kamu dari tadi. Cepat!”

Blog at WordPress.com.

Up ↑