Cerita, Handwritings, The Handwritings

Radio & Celana Butut

Berawal dari studio siaran tempat kau bekerja. Joe melihatmu datang lima menit sebelum jam tugasnya selesai. Merdu lantunan musik pop mengiringi sesi penutup program primetime. Suara khasnya yang renyah terdengar lewat pengeras suara. Letaknya di atas pintu kaca. Benda buatan Jepang itu menancap di dinding tak jauh dari kotak lampu berwarna merah dengan pendaran cahaya bertuliskan ON AIR. Pijaran terangnya menyala sejak pukul 5.00 pagi hingga tengah malam. Penanda adanya denyut kehidupan di studio kotak itu.

Kau rebahkan badanmu di atas sofa merah. Bantal kecil bersarung putih kusam menjadi penopang punggung bawahmu. Posisi ternyaman setelah 30 menit sebelumnya kau masih mengendarai sepeda motor bebek bekas itu saat berjibaku di tengah hiruk-pikuk jalan kota dan guyuran hujan sepanjang hari. Entah mengapa, Desember menjadi bulan paling basah kali ini?

Namun beruntung, kau tak sekuyub biasanya. Rintik hujan yang turun sejak kau berangkat kerja, hanya membasahimu di beberapa bagian tubuh. Sekedar celana yang terciprat lumpur dari genangan air di jalan. Pergelangan lengan jaket yang koyak dan lembab. Serta tetes air yang mengalir di kening dari ujung rambutmu yang basah ketika kau berlari dari tempat parkir ke lobby kantor. Mantel hujan pemberian ibumu tak sukses membuat tubuhmu kering dari kepala sampai kaki. Apalagi sepatumu? Teles kebes? Ah sudah biasa. Yang penting kau tiba di kantor.

Tas ransel yang melekat di punggungmu dalam kondisi baik. Buku-buku kuliah, satu ekesemplar jurnal sidang praskripsi lengkap dengan coretan dosen pembimbing, sebuah ponsel Blackberry hitam, laptop HP dan kabel charge yang kau taruh di dalam tas kecil berisi alat-alat tulis dan perintilan gadget, serta dompet dengan isi mahapenting, semuana kering. Lega.

Joe melepas earphone-nya. Diletakkannya segenggam benda itu pada sebuah kait yang menancap di bagian gagang microphone di atas meja siar. Sekilas dia melihatmu dari kejauhan. Kau sadari itu. Raut wajahnya tampak kaku. Cenderung tak sedap dipandang. Di saat pintu kaca itu tiba-tiba terbuka, sosok tinggi besar menatapmu tajam. Sinis. Kau keder.

“Sudah baca ini?” jari telunjuknya menyentuh daftar tata tertib penyiar radio berbingkai kaca yang menempel di dinding di samping gundukan kepalanya. 

“Sudah.”

“Lantas?”

Untuk kedua kalinya hanya bisa kau jawab dengan kata ‘sudah’, namun disusul dengan rentetan kalimat permintaan maaf.

Dibacanya satu poin dari tata tertib itu. Lebih tepatnya pada poin 5. Di situ tertulis bahwa penyiar harus hadir minimal 45 menit sebelum jam siarnya. 

Kau membisu. Hening.

Dahinya mengernyit. Kau menunduk. Kepalanya bergeleng seiring dengan suara decak keluar dari mulutnya. Dalam hati kau berdoa agar selembar surat peringatan tak dilayangkan kepadamu. Belum genap tiga belas bulan euphoria kehidupan seorang penyiar radio kau nikmati. Kau tak rela kehilangan semua ini hanya karena satu masalah ini.

Lagu berganti. Irama musiknya terdengar lebih sendu.

Tarikan nafas panjangnya memburu rasa gugupmu. 

“Buruan!”

“I … Iya, Mas.”

Seperti dikejar waktu. Kau cangking tasmu dan berlari ke ruang siar. Melewatinya tanpa bertemu mata.. Antara sungkan dan enggan bertatap muka. Kau hanya ingin cepat berlalu darinya tanpa perlu lama-lama.

Joe memperhatikan celanamu yang basah. Dia meminta kau berganti. Apalagi AC ruangan bersuhu 17 derajat Celcius itu tidak dimatikan sejak pagi. Di tengah kecewanya, dia tak mau bermain-main dengan resiko masuk angin yang mengancam salah satu awak siarnya.

“Aku tidak bawa celana ganti, Mas.” senyum terpaksa mengulir di wajahmu.

Tiba-tiba sebuah gulungan kain terlempar ke arahmu. Secara refleks kau tangkap. Selembar celana pendek olahraga berwarna hijau dengan aksen garis kuning di bagian pinggir paha kiri dan kanan berada di tanganmu. Celana miliknya.

“Pakai itu saja!” kau mangangguk.

Sebelum pamit, Joe menyarankanmu memesan minuman hangat ke Pak Man. Pedagagang asongan yang gerobaknya sering mangkal di depan kantormu jelang malam hari. Embun di kaca studio yang kian memutih seiring malam yang terus beranjak. Sementara di luar, gemuruh hujan yang sungkan reda. Godaan segelas wedang jahe panas tak mampu kau tepiskan. Apalagi berkawan mie rebus lengkap dengan telur ceploknya.

 

Pak Man masuk ke ruang tamu studio siarmu tanpa mengetuk pintu. Dengan dorongan bahunya, pintu kaca itu terbuka. Kedua tangannya sibuk berjibaku agar nampan yang berisi gelas dan mangkuk itu tidak miring. Lantas dia berpaling kepadamu. Hanya dengan gerakan bibir tanpa suara, kau tahu bahwa orang tua itu ingin mengatakan pesananmu telah siap saji. Kau lambaikan tanganmu sebagai kode ‘tunggu’ ke arahnya. 

Susunan konten siaran di lot monitor radio mixer bertambah. Dua lagu, dua iklan, satu promo, dan dua lagu. Terdengar suara ‘klik’ saat kursor mouse berada di atas ikon continue. Selesai. Secara otomatis lot konten itu akan berjalan sesuai urutan. Cukup waktu untuk menjejalkan sesuatu di perutmu yang keroncongan.

Kau melihatnya termangu menonton tayangan televisi yang menampilkan adegan perkelahian.

“Sinetron kok ditonton, Pak?”

“Eh, Mas! Hiburannya cuma ini yang bagus,” tawanya menyeringai.

“Semua berapa?”

“Wedang jahe ditambah Pop Mie, jadi 5.000 rupiah, Mas.”

“Di luar masih deras?” kau serahkan selembar kertas rupiah berwarna cokelat kepadanya.

“Sudah agak berkurang ketimbang sore tadi, Mas. Saya niat mau pulang awal, juga tidak jadi. Masih ada yang berteduh dan ngeteh di warung. Apalagi satpam-satpam itu. Ngasonya ya disitu.”

“Oalah, aman kalau ditinggal begini?” Bibirmu menempel di pinggir gelas beling. Uap hangat beraroma merasuk ke hidungmu. 

“Ada Fikri yang ikut jaga,”

“Ohh …” sedetik kemudian rongga tenggorokan hingga lambungmu berangsur terasa hangat.

Kau mengenalnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini. Pertama kali pula ketika kau menikmati seduhan wedang jahenya selepas menuntaskan rentetan tes seleksi penyiar radio. Suara adzan maghrib terdengar bersahutan dari sudut-sudut kota. Hampir setengah jam kau menduduki kursi plastik yang disediakan untukmu di samping warung gerobaknya.

“Saya kok merasa Mas yang bakal diterima ya?” ucapannya saat itu sukses meruntuhkan segala keteganganmu paska wawancara. Kau coba mengingatnya.

“Ah, Bapak bisa saja,” dengan sungkan kau terima sodoran pesananmu dari tangannya.

“Yang penting yakin, Mas!” tangannya menepuk pundakmu.

Tidak berselang lama hidupmu berubah.

“Mas, enak ya kerja jadi penyiar radio?” 

“Ya begitulah, Pak. Sawang-sinawang, dijalani saja. 

Walaupun bercakap sambil meneguk kuah mie dan wedding jahe secara berselang-seling, telingamu cukup awas mendengar pengeras suara yang memutar lot konten siaran. Audio promo baru saja terdengar ending-nya. Kemudian masuk ke jingle. Artinya masih ada dua lagu lagi yang akan terputar.

“Apalagi bisa kerja cuma pakai kaos dan celana kolor ya, Mas? Tidak harus seragam,” dirinya terkekeh.

Kau tersedak. Kau pandangi pakaian yang melekat di tubuhmu. Kaos putih yang sering kau kenakan ke kampus sebagai dalaman. Kaos yang kerap terbawa tidur sebagai piyama lusuh. Multifungsi. Dan yang itu, celana denim butut yang tersampir di sandaran kursi. Celana yang tak pernah kau ganti sebelum genap seminggu terpakai.

Sementara saat ini, hanya celana pendek yang membungkus paha dan kemaluanmu. Begitu bebas, begitu santai. Seperti bekerja di rumah sendiri. Tanpa aturan ketat. Selama kerjaan lancar. Mulai dan selesai tepat waktu. Gugur kewajiban. Selesai.

“Tadi pakai celana panjang kok, Pak. Basah tuh!”

“Tapi sekarang Mas pakai kolor kan? Mana ada kerja kantoran dibolehin begini?”

Kalian sepakat memecah malam dengan tawa.

Bapakmu menjadi pribadi tangguh pemegang kendali keluarga dengan empat orang anak yang dengan idealisme tingginya, keempat anak itu harus jadi sarjana. Mimpi yang bagi kebanyakan tetangga di sekitar rumah sulit untuk ditempuh kalau hanya mendapat nafkah di satu pekerjaan, seorang guru bahasa Indonesia di satu-satunya madrasah tsanawiyah swasta di dekat kantor kecamatan dengan gaji tak sampai dua juta rupiah tiap bulan. Belum bisa dikatakan cukup untuk menutup kebutuhan keluarga yang beranggotan enam orang. Sementara itu istrinya, seorang ibu rumah tangga, berperan sebagai penanggung jawab manajemen keluarga. Aliran finasial berada di dalam kewenangannya. Meski begitu, dia bukan tipe istri yang diam menanti gaji bulanan suami. Kemahirannya dalam bersosialisasi, membuatnya dipercaya mengisi beberapa urusan kedesaan. Mulai dari pengajian mingguan, arisan RT, dan sebagainya. Mereka berdua menjadi tim hebat. Sering berkompetisi, tapi saling melengkapi.

Desamu berada di satu kabupaten yang sebagian besar matapencaharian penduduknya adalah petani. Petani di sawah, ladang, dan halaman rumah. Padi di sawah, palawija di ladang, dan bunga hias di halaman rumah. Berbeda dengan rumah atau perumahan di kota-kota besar yang biasa terbagi ke dalam cluster. Rumah-rumah di desamu cenderung memiliki halaman luas dengan banyak tanaman bahkan pohon besar di bagian depan. Berjarak dari rumah satu ke rumah lainnya, bukan menempel bersekat selapis dinding saja. Pohon mangga, jambu, palem, bahkan pohon kelapa tumbuh bebas menghijau. Bahkan dijadikan penanda rumah seseorang. Bisa didapati pohon mangga gadung yang sedang berbuah ranum menggelantung sampai keluar pagar di halaman rumah Pak Lurah. Rumah Pak Haji Sukri ada tiga batang pohon kelapa yang tumbuh berjajar. Anak laki-laki Mbak Nah, tetanggamu, pernah jatuh dari pohon itu dan harus dioperasi gara-gara patah tulang. Rumah yang berada tepat di sebelah kanan rumahmu, berpagar besi hijau dan ditumbuhi bambu kuningnya di bagian depan adalah rumah Pak Mantri. Termasuk rumahmu, dikenal karena ada dua pohon kersen yang tumbuh di pelataran jalan masuk. Saling bersebelahan membentuk mulut rongga. Seperti pilar gerbang menuju rumah. Buahnya menjadi santapan anak-anak setelah pulang sekolah. Kecil-kecil berwarna merah, rasanya manis sedikit asam. Mereka yang masih berseragam merah putih sering memanjat riuh ke atas pohon. Selalu diiringi teriakan lantang ibumu dari jendela atau pintu rumah yang terbuka menganga, “Ati-ati yo, Le! Jangan diinjak tanaman hiasnya!” Dari kejauhan suara balasan datang bersamaan, “Inggih, Budhe!”

Kau tahu, ibumu sangat perhatian pada semua tanaman hias yang hampir 80% menutup luas halaman rumahmu. Ketika ladang telah ditanami tebu dan pohon pisang, halaman rumah bagian depan dan belakang tak disia-siakan sebagai tempat yang mampu menopang keuangan keluarga. Ibu adalah otak, perancang utama bagian mana saja yang bisa ditanami palem, bougenville, adenium, ekor tupai, atau tanaman hias lainnya. Mana yang diletakkan di tempat persemaian, mana yang memang ditaruh di etalase siap jual. Sementara itu untuk halaman belakang rumah berfungsi sebagai area pembibitan. Terdapat pula bangunan gudang penyimpanan pupuk dan peralatan berkebun. Selain itu, ada juga kolam ikan lele dan kandang ayam. 

Bagian lain, tepatnya di depan pintuk masuk ke ruang tamu, ditanami tanaman hias yang memang digunakan untuk memperindah rumah. Baginya, jika ingin tanaman hiasnya laku terjual, rumah penjualnya juga wajib ditata dan dirancang seindah mungkin. Tak bisa dipungkiri jika hasilnya juga lumayan hingga mampu berkontribusi secara materi. Dan semua itu juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di desa kami. Halaman rumah mereka banyak ditumbuhi bunga hias. Bisa dikatakan seperti green house dalam skala besar. Mampu menhadirkan pengepul tanaman hias yang menjadi pelanggan besar dan pembeli eceran.  Ada yang diperuntukkan bagi pribadi, banyak pula yang dikirim ke daerah lain untuk area hijau perhotelan atau perumahan. Mereka mendapatkan pesanan tanaman-tanaman tersebut dari desa kami, termasuk dari halaman rumah kami.

Bapak pernah bertutur bahwa biaya sekolah anak-anaknya berasal dari hasil penjualan tanaman hias. Gaji bulanan bapak hanya bisa digunakan untuk sedikit membiayai keperluan rumah, sisanya ditabung dan  digunakan untuk membayar hutang ke tengkulak. Bapak pernah mendapat pengalaman kurang baik dengan tengkulak pupuk. Membuatnya harus bekerja keras siang-malam bersama Ibu dan memberdayakan anak-anaknya. Pagi mengajar, sore mengurus tanaman, malam kadang masih berkutat dengan urusan yang sama, hanya lebih ringan. Misal memotong plastik polibek yang bisa dilakukan di dalam rumah sembari menyaksikan acara televisi. Bergantian dengan istri dan anak-anaknya.

Suatu kali aku pernah membandel, membantah suruhan Ibu untuk menyiram tanaman yang memang rutin dilakukan di sore hari, alih-alih pagi atau siang hari agar air siraman tidak menguap terkena cahaya matahari. Ketika itu aku pulang telat dengan kondisi lelah, terlalu sore ketika tiba di rumah, dan  mementahkan suruhan Ibu menyiram tanaman. Bapak yang mengetahui kebandelanku langsung turun tangan. Teringat jelas ketika aku dan bapak sempat berdebat hebat hingga keluar dari mulutku sebuah kalimat yang membuat bapak sejenak menatapku tajam. Bukan tatapan biasa, seolah menatap musuh yang siap diterkam, siap dilahap.

“Saya ikut organisasi di sekolah, Pak. Makanya pulang telat,” jelasku.

“Sekolah ya sekolah saja, boleh ikut organisasi, cari kegiatan organisasi yang tidak menggeser kewajibanmu membantu orangtua di rumah,” timpal Bapak.

“Organisasi sekolah ‘kan dilakukan setelah jam sekolah selesai, Pak.”

“Tapi, tidak setiap hari pulang sore!”

“Saya belajar dan berorganisasi agar kelak tidak jadi petani. Agar bisa pakai seragam dan dasi, keren, seperti anaknya Pakdhe Mukhlis yang di Jakarta,” balasku bersungut-sungut.

Sejenak bapak terdiam.

“Oh, menurutmu jadi petani tidak baik? Hanya memakai kaos dan celana butut itu tidak keren?”

Aku diam.

“Ingat, Le, biaya sekolahmu dan saudara-saudaramu itu berasal dari penjualan tanaman di rumah ini, kamu harus bersyukur. Bapak menyuruhmu ikut membantu kami, orang tuamu, mengurus tanaman agar kamu bisa sekolah dengan baik. Tidak menyia-nyiakan usaha kami menyekolahkan kalian. Zaman sekarang sekolah itu mahal, apa-apa harus bayar. Dan benar, kami tidak mau melihat kalian jadi petani seperti kami. Kalian bisa jadi orang kantoran. Tapi, itu nanti. Tunjukkan bahwa cita-citamu itu bisa jadi nyata. Tidak saat biaya sekolahmu masih menjadi kewajiban kami. Tidak ketika kamu masih belum mampu berdiri sendiri. Sekarang kerjakan suruhan Ibumu.”

Aku beringsut keluar rumah dengan wajah tertekuk cemberut, setelah sebelumnya menatap mata Bapak tanpa kata. Membantah pun bukan menjadi pilihan tepat ketika emosi memayungi argumen yang  dimatikutukan tanpa jeda. Mencoba melawan tapi tak bisa, dengan senjata apa. Menjadi hyna lemah di hadapan raja singa, sendirian di tengah sabana. 

Sampai di halaman rumah, kuulur selang air yang tersudut melingkar-lingkar di bawah jendela kamar, dekat dengan kran air. Selepas maghrib aku mulai mengerjakannya, menyemprotkan air ke rimbun tanaman di pot, di polibek, atau di tanah. Ditemani hawa dingin pedesaan dan nyala lampu dari teras rumah. Melakukan kewajiban ketika anak-anak lain sibuk mengerjakan pekerjaan rumah atau menonton televisi. Atau bahkan sedang asyik nongkrong di poskamling dekat masjid sehabis sholat maghrib. Bermain kartu, catur, atau karambol sambil menanti kumandang adzan isya’. Sementara aku masih berdiri di halaman rumah dengan kaki telanjang, memakai kaos oblong yang sobek di bagian ketiak, dengan celana training olahraga panjang yang digulung sampai betis. Dinginnya udara dan air terhalau dengan panasnya hati akibat perdebatanku dengan Bapak. Mengukuhkannya menjadi seorang pemenang dan aku sebagai pecundang di laga adu mulut adu argumen. Dan sering perseteruan ini pun terus berlanjut di medan atau laga lain. Berebut acara televisi, kendaraan, bahkan urusan isi sakuku juga jadi topik yang panas membara. Hubunganku dengan Bapak memang kurang baik sampai beliau melepas kehidupan fananya dan pergi ke dimensi lain.

Acara tahlilan 1000 hari wafatnya Bapak dihadiri oleh keluarga besar dan saudara dari kedua belah pihak, keluarga Bapak dan Ibu yang berkumpul di rumah. Meski tidak menginap dan hanya membantu mengurus rumah serta ikut memasak serta menyajikan makanan, terlepas dari tujuan utamanya untuk mengirim doa ke Bapak, ajang reuni dan saling ‘rasan-rasan’ pun juga tak bisa dihindari. Ada yang ngutang ini lah, pinjam itu lah, ada ponakan yang belum kawinlah, mau dijodohkan lah, lengkap seperti infotainment. Berubah lengang ketika bacaan doa-doa dari ustadz berlangsung.

Dalam acara itu, para tetangga sekitar rumah dan teman-teman Bapak juga turut diundang. Bagi orang desa, kurang pantas rasanya kalau si tuan rumah yang punya hajat tidak mengundang tetangga samping kiri kanan depan belakang. Dan rumah kami nampak ramai dengan kehadiran mereka. Berhasil membuat kondisi Ibu semakin baik dan terus membaik. Kembali tenang dan cekatan, sibuk dengan caranya sendiri, seperti yang biasa aku temui di rumah ketika suaminya masih hidup. Bapakku. Sangat berbeda ketika tahlilan di 40 dan 100 hari bapak wafat. Saat itu matanya masih sering terlihat bengkak dan sembab. Hanya digantungi 50% semangat hidup saja. Teramat rapuh kehilangan belahan jiwanya. Namun kini, sunggingan senyum kembali menghias raut wajahnya. Baik saat berbincang dengan para tamu atau bercengkerama dengan keluarga besar. Mulutnya kadang terbuka lebar karena tertawa, pertanda kesedihan di rumah ini mulai enyah, terganti dengan hawa keikhlasan.

Acara dimulai selepas maghrib hingga menjelang azan isya. Setelah rentetan bacaan tahlil dan doa penutup, akhirnya para tamu bisa menikmati hidangan yang diantarkan piring demi piring oleh saudara-saudaraku ke ruang tamu dan ruang keluarga. Perabot serta mebel diletakkan di luar rumah, diganti tikar bambu dan plastik yang digelar sebagai tempat bersila bagi para undangan. Dipinjam dari kumpulan pengajian Ibu, jumlahnya puluhan lembar. Hanya belasan saja yang bisa menutup ubin rumah agar hangat saat didudukin bersila.

Tepat ketika azan isya berkumandang, acara makan selesai, berlanjut sholat isya berjamaah. Setelah itu cara pun selesai. Tamu undangan dan saudara pulang sambil menjinjing ‘berkat’ sebagai bawaan acara.  Isinya berupa nasi putih dengan lauk-pauk rames. Mie goreng, sambel goreng, daging, mentimun, acar, kerupuk, sepotong semangka yang dipotong tipis berbungkus plastik, serta kue cucur dan lemper. Telah lama menjadi tradisi ucapan terima kasih dari pemilik rumah kepada para pendoa. Salah satu cara tradisional dalam bersedekah.

Aku melihat ibu di sudut dapur di samping rak piring. Dia sibuk mengeringkan piring dengan lap. Diusap satu per satu kemudian diletakkan di rak piring setelah dicuci bersih oleh Budhe Umi, kakak iparnya.

“Tamunya banyak ya, Bu. Syukur makanannya nggak ludes, lumayan buat sarapan besok,” 

“Ibumu masaknya kebanyakan, Bas, kata Budhe Umi.

“Berbagi rezeki jangan tanggung-tanggung, semoga pahalanya berlimpah, dan kiriman doa ke Bapakmu  segera sampai,” jelas Ibu.

“Kalau doa anak-anaknya?”

“Insha Alloh sampai ya Mbak,” jawab Ibu singkat, saling bertatap muka dengan Budhe. Mereka berdua tersenyum.

“Niat ingsun Gusti Pengeran ngijabahi,” lanjut Budhe.

“Doa anak yang sering cekcok dan adu taji dengan bapaknya? Sampai tidak?”

Budhe Umi mendadak menghentikan pekerjannya. Kemudian melihat Ibu. Sementara Ibu menatapku lekat. Aku membalas apa yang dia lakukan.

“Nasi berkatnya masih sisa, Budhe bungkusin buat teman-teman kosmu ya, Bas?” Budhe Menjauhi aku dan Ibu.

“Inggih, Budhe, matur nuwun,” jawabku.

Ibu melanjutkan mengelap piring dan gelas.

“Insha Alloh sampai juga, tergantung niatmu bagaimana.”

“Ibu tahu sendiri kan hubunganku dengan Bapak jarang baik?”

“Ibu tahu, tapi dia sayang sama kamu, Mas.”

“Percuma sayang kalau tiap kali aku pulang yang ada malah betengkar. Jangan salahkan kalau aku jarang pulang. Sering nggak betah lama-lama di sini.”

“Sini duduk! Ibu ada cerita buat kamu,” 

“Cerita apa, Bu?”

“Sini dulu!” pinta ibu sedikit memaksa.

“Kamu masih ingat ketika kamu sering marah-marah pada Bapakmu? Ketika kamu disuruh menyiram tanaman sore-sore menjelang maghrib? Padahal kamu capek pulang sekolah, dan masih harus mengurus tanaman?”

Aku mengangguk.

“Apakah kamu ingat setiap libur sekolah, kamu dan adik-adikmu bergantian mencabuti rumput liar yang tumbuh semrawut di pot? Menabur pupuk kompos siang-siang?”

Aku kembali mengangguk.

“Kamu pernah berdebat dengan Bapakmu tentang kerja kantoran dan membawa-bawa perihal kaos oblong dan kemeja kerja berdasi. Masih ingatkah kamu, Mas?”

“Iya, Bu,” jawabku singkat.

“Bapakmu merekam semua itu di kepalanya dan menceritakannya ke Ibu. Ibu seperti lemari bukunya, penuh buku-bukunya dan materi sekolah yang dia ajarkan setiap hari. Persis seperti lemari buku di kamar mbakmu. Semrawut, warna-warni, tapi menyimpan kisah hidup di setiap isi dan babnya. Semua detail kehidupan dan hubungan dia dengan anak-anaknya, termasuk hubungan dengan Ibu selama ini. Semua Ibu tahu. Bapakmu itu adalah kakak dan sahabat ibu.”

“Hubungannya dengan perseteruanku dengan Bapak?”

“Ada”

“Apa itu?”

“Begini, Mas. Bapakmu sengaja seperti itu karena ingin mendidikmu, bukan dengan cara yang biasa dilakukan orangtua pada umumnya, tapi dengan cara yang berbeda.”

“Maksudnya?” tanyaku heran.

“Dia menyuruhmu tetap melakukan kewajiban membantu kami di rumah selepas sekolah, sekaligus tidak melupakan tugasmu sebagai seorang siswa untuk tetap belajar rajin adalah agar kamu bisa menghargai waktu. Waktu yang bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk keluargamu. Menyuruhmu membantu kami dan berkumpul dengan saudara-saudaramu di rumah adalah cara yang ditempuh Bapakmu agar ketika kamu belum benar-benar sibuk oleh urusanmu, kamu tidak melupakan bahwa keluargamu masih ada. Uang bisa dicari, belajar bisa kapan saja, tapi waktu tidak bisa kembali.”

Aku terdiam.

“Kamu yang ketika itu suka menonton acara film kartun di hari Minggu, terpaksa harus mengenakan jaket dan mencabuti rumput liar di halaman sampai siang. Panas-panas, berkeringat, dan kehausan. Baru setelah itu selesai, kamu boleh menonton televisi kembali. Tapi setelah mandi, kamu malah ketiduran saking capeknya. Ketika bangun dari tidur siangmu, ada lele goreng yang bisa kamu temukan di dapur dan kamu memakannya dengan lahap. Makanan yang tidak dapat kamu nikmati setiap hari kecuali berkat rames yang dibawa Bapakmu pulang dari acara tahlilan atau kondangan. Itu pun harus dibagi rata dengan saudara-saudaramu. Kamu tahu, Mas. Lauk itu Ibu yang membelikan dan menggorengnya. Sesuai permintaan Bapakmu. Ibu pikir untuknya sendiri, eh ternyata buat kamu, ‘Untuk anak lanangku yang capek bekerja,’ katanya penuh kebanggan.”

Aku menunduk.

Ibu memegang tanganku.

“Pada intinya, Mas. Semua yang diminta oleh Bapakmu ke kamu bukan tidak ada tujuannya. Meski kamu ogah-ogahan dan sering merasa terpaksa. Seringkali muncul pula umpatan dan perdebatan. Itulah cara mendidik Bapakmu. Unik dan nyleneh. Ibu pun sering kewalahan menuruti permintaannya. Bapakmu mendidikmu dengan cara memaksamu melakukan pekerjaan yang tidak kamu sukai agar kelak kamu tidak mengerjakannya. Tidak jadi petani atau guru dengan pendapatan yang minim. Bisa jadi orang kantoran dengan gaji besar, memakai pakaian kerja berjas dan berdasi, bukan kaos oblong dan celana butut kotor.”

Lidahku makin kaku kelu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut. Pikiranku kembali ke masa lalu. Flashback dengan kecepatan mahatinggi. Memutar kembali rekaman-rekaman hidup bersama Bapak. Menyortir hal paling baik dibalik segala umpatan, perdebatan, dan adu mulut. Wajahnya, suaranya, hingga tatapan tajam dari sorot matanya. Uang saku kehidupan yang telat aku kantongi dari empunya. Bapakku.

“Dan kini lihat hasilnya, pekerjaanmu, kehidupanmu,” 

Ibu mengelus kepalaku, mencium keningku.

Di saat aku kembali ke masa sekarang, melihat dan merasakan bagaimana kehidupan yang sudah dua puluhan tahun berjalan ini. Menjadi berbeda 180 derajat dari kalimat yang pernah aku lontarkan ke Bapak saat itu. Pekerjaan yang aku jalani sekarang tidak menuntutku mengenakan kemeja panjang berdasi, harus bersepatu pantofel, atau menjinjing tas koper. Tidak semua itu. Pekerjaan ini  lebih menuntut hasil memuaskan dan tuntas meski hanya mengenakan kaos oblong dan celana butut. Bahkan, jika harus berkemeja lengan panjang layaknya para bankir atau pegawai negeri sipil, aku pun merasa kurang nyaman. Kurang bebas, kurang kreatif, kata teman-temanku. Mereka bilang bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan khusus, pekerjaan paling tepat untuk menunjukkan jati diri dan passion. Tidak harus berseragam sekaku itu. Malah seperti bukan aku sesungguhnya jika mengenakannya. Walau demi pencitraan semata yang kadang itu diperlukan. 

Tapi kini, dengan kaos oblong dan celana butut, semua sudah lebih dari cukup. Memuaskanku dengan gaji bulanan yang lumayan bagi seorang bujang. Mungkin juga cukup membuat almarhum Bapak bangga. Aku tunjukkan pada almarhum bahwa aku bisa menduduki sedikit posisi di kursi kebapakannya dalam urusan tumah tangga. Sekolah adik, kebutuhan Ibu, walaupun tidak sepenuhnya tergantung padaku. Masih ada uang pensiunan Bapak tiap bulan yang diterima oleh Ibu. Tapi sekurang-kurangnya aku tak melupakan tanggungjawabku. Sisa kewenangan lainnya mutlak dipegang si Nyonya Rumah. Kami anak-anaknya hanya sebagai lawan pertimbangan dan pemberi masukan. Lagi-lagi mencoba menggantikan sosok bapak yang tak tergantikan. Mungkin sekarang bapak tertawa lebar di dimensi lain. Melihatku kalah dari perdebatan bapak-anak sambil mengenakan kaos oblong dan celana butut kebanggannya. Menungguku menanam tanaman hias di surga. Menyiraminya dengan air kebanggaan.

“Mas, kok sepi?”

“Apanya, Pak?” lamunanmu buyar sudah.

“Lagunya,”

“Ya Tuhan! Aku siaran dulu, Pak!”

Aku melompat berdiri, berlari cepat ke ruang siaran. 

Kupasang earphone di telingaku, kutegakkan badanku di depan radio mixer, dan kugetarkan pita suaraku di depan microphone yang menyala.

Melanjutkan kehidupan.

Selesai.

Advertisements
Standard
Cerita, Handwritings, The Handwritings

Bukan Kisah Sedih, Tapi …

“Brondong, jangan lupa nanti matiin AC-nya abis kelar siaran!” Pinta Didi dengan nada tinggi. Terlihat masih sibuk berkonsentrasi melukis dan menebalkan alisnya dengan pensil alis warna cokelat tua. Sesekali ia memiringkan wajahnya yang telah lama menatap cermin. Menoleh ke kanan, lanjut ke kiri, berusaha menyeimbangkan garis dan lekuk alis agar tampak rata. Kondisi meja berantakan. Berupa perkakas make-up mulai dari cermin rias, bedak, lipstik, maskara, bahkan kabel hair dryer dan catok rambut masih menancap di colokan listrik.

“Aman, Buk! Buru-buru amat, mau kemana sih?” tanyaku penasaran.

“Situ mau tau aja!” jawabnya singkat, sembari mengoleskan ujung rambut kuas kecil yang basah setelah dicelupkan ke botol lipstik cair warna merah burgundi ke bibirnya. Lanjut menempelkan bibir atas dan bawahnya beberapa kali dengan suara ‘paff-paff’. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah bibirnya yang makin merona. Ditutup dengan senyuman khas kepuasan.

“Terus barang-barang ini dikemanain?” tanyaku sambil menunjuk ke barang-barangnya yang teronggok berantakan di atas meja.

“Cabut kabel-kabelnya, gulung, taruh di laci meja kerja, tuh disana! Semua yang ada disini, ditaruh disana. Tolong ya!” Dia menunjuk ke arah meja kerja di ruang sebelah.

“Sekarang?”

Nggak, besok!” tukasnya singkat sambil melotot ke arahku.

Wah catoknya baru?” Aku menggodanya.

“Itu M-A-H-A-L, mahal! Boleh dipinjem, 50 ribu sekali pakai.”

“Pelitnya si Ibuk Judes,” pekikku.

“Biarin! Yang penting cantik. Udah dulu ya. Met siaran, Brondong! Wish me luck!” Dia bergegas menjinjing tasnya, menerobos pintu geser dengan langkah cepat.

Wish me luck buat apa neh?” tanyaku dengan lantang saat melihatnya sibuk mengenakan sepatu hak tinggi warna merah. Stiletto 17 sentimeter. Setahuku harganya di atas 5 juta rupiah, sepatu kebanggannya. Malam ini Didi memang terlihat cantik. Rambut panjangnya tergulung jatuh hasil roll dan catok rambut. Dibiarkan menjuntai normal tanpa hiasan kepala, jepit rambut, bandana, atau hiasan kepala lainnya. Pun make-up yang menempel di wajahnya tidak terlalu menor, simple-chick seperti yang tertulis di rubrik kecantikan majalah urban. Pada bagian tubuh, tank-top warna putih tertutupi bolero dengan warna senada melekat membentuk siluet. Sementara di bagian bawah, denim hitam ketat menonjolkan bagian yang paling seksi, paling jenjang, paling montok. Perfectly curved. Padat, sintal, dan berisi.

Bye-bye, Brondong! Hahahaha!”

Tanpa jawaban.

*****

Didi merupakan satu-satunya penyiar senior perempuan yang memanggilku dengan nama ‘brondong’ sejak kujawab pertanyaannya tentang berapa usiaku di saat pertama kali kami berbicara. Kala itu aku baru dua minggu menjadi penyiar training. Di minggu ketiga dari rangkaian tiga bulan program training, aku bertemu dengannya. Di minggu itu yang berperan sebagai trainer untuk program penyiar baru adalah Didi, selain penyiar-penyiar lain yang juga mendapat jadwal sama bergantian. Sudah menjadi jatah Didi yang akan membagi ilmunya padaku. Sosoknya yang cerewet, judes, dengan dandanan feminim di setiap harinya, sontak membuatku sering mati kutu. Antara rendah diri, tidak nyaman, dan terintimidasi. Memnag jadi kelemahanku ketika harus berhadapan dengan perempuan seperti dia. Saat itu.

“Ohh situ masih muda ya?” tegasnya.

“I-i-iya, Kak.” jawabku gugup.

“Jangan sombong kalau nanti sudah jadi penyiar radio beneran!”

“Ba-ba-baik, Mbak.”

“Tadi kak, sekarang mbak, gimana sih?

Anu Kak, Mbak…” saat itu ingin sekali kupanggil dirinya dengan sebutan ‘tante’, tapi urung kulakukan.

“Dasar brondong. Brondong, sana balik studio!”

Setelah kejadian itu, di bulan-bulan berikutnya, nama ‘brondong’ melekat menjadi nama panggilanku. Sering pula digunakan oleh penyiar lain bahkan beberapa karyawan lantai satu pun ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Brondong ini lah, brondong itu lah, semua serba brondong. Berkat sebutan itu pula hubunganku dengan Didi semakin cair dan hangat. Sebagai teman, adik, teman nonton, belanja, bodyguard ke kamar mandi malam-malam, hair stylist yang meluruskan atau mengeluntung rambutnya dengan catok, teman curhat apalagi.

Dengan nama ‘ibuk’, kugunakan sebagai panggilanku kepadanya. ‘Ibuk’, sebutan untuk seorang ibu versi bahasa jawa. Bukan lagi ‘kak’, atau ‘mbak’, menegaskan kalau dia sudah seperti ibu-ibu dan pantas dipanggil ibuk. Bisa dikatakan sebagai usaha memperhangat pertemanan kami. Kedekatan itu semakin mengental ketika kami dikukuhkan menjadi partner siaran di salah satu program non-permanen saat bulan Ramadhan di tahun keduaku bersiaran. Selama 29 hari kami menjadi duo penyebar hadiah dan periuh jam sahur, sekaligus pemukul bedug imsak dan adzan subuh. Namun, program sahur itu tak kami dapatkan lagi di tahun berikutnya karena ada rotasi penyiar. Dari dia dan bertahun-tahun pengalaman menjadi seorang penyiar radio serta guru public speaking, ladang ilmu siarannya aku panen dengan gampang.

*****

Namun, ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Didi yang satu setengah jam sebelumnya berparas ceria dan kenes, serupa gadis centil dadakan dengan agenda istimewa yang terahasia, ditambah sepuhan kecantikan hasil dempulan make-up dan busana seksi yang lekat menjalar, kini malah terlihat jauh 180 derajat perbedaannya. Dari pandangan mataku dari balik kotak kaca, sosok tubuh Didi berdiri di depan pintu masuk dengan wajah menunduk. Rambutnya terlihat lepek, sepertinya basah terkena air hujan. Kemungkinan besar bajunya basah, lebih parah lagi make-up-nya pasti luntur. Langit memang sedang asyik-asyiknya mencurahkan air di bulan-bulan penghujung tahun itu. Jika malam ini hanya gerimis panjang sejak sore tadi, lain halnya dengan hari lain yang hujan lebat bergemuruh.

Ketika kuperhatikan lebih seksama dari kejauhan, benar dugaanku. Dengan wajah sayu dan helaian rambut basah yang menempel pada kening dan pipinya, dia membuka pintu kaca. Dilepaskannya sepatu merah itu, kemudian dia letakkan pula tasnya di atas karpet. Membuka dan mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian muncul nyala api, membakar ujung sebatang rokok yang terjepit di bibirnya. Lalu muncul hembusan asap rokok. Perlahan menebal, menutup sebagian wajahnya yang makin redup. Ada yang tak beres dengan Didi.

Rasa penasaranku berbuah hasil ketika mendadak dia mentapku dari kejauhan. Matanya tak bisa menyembuyikan perasaan dan isi hatinya. Dia masih mencoba tegar dengan hembusan asap yang dikeluarkan tak teratur dari rongga mulut dan hidungnya. Tapi yang terjadi 5 menit kemudian sungguh tak bisa dinyana-nyana. Dia lunglai, terduduk di atas ubin becek hasil guyuran hujan. Dengan sigap kutinggalkan siaranku, masih ada beberapa lagu yang akan terus berputar. Kuabaikan deringan telepon dari para pendengar yang bersemangat ingin on air bersamaku. Membahas topik siaran yang aku suguhkan dalam siaran malam kali ini. Tapi itu semua tak lebih penting dari rasa ibaku kepada Didi hingga kusegerakan langkahku dan menemuinya secepat mungkin. Didi. Sebentuk manusia lunglai tak berdaya di depan pintu.

“Buk, kenapa?”

Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.

Rokoknya terlepas dari jarinya. Jatuh ke lantai yang basah. Membuat nyala apinya padam seketika.

“Kamu kenapa?”

Dia makin menundukkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Tak lama yang kudengar hanyalah sesenggukan. Muncul dari kerongkongan seorang perempuan.

Segera kupapah dia ke dalam ruang tamu. Tapi aku berubah pikiran. Aku akan meninggalkan siaranku jika harus menemaninya di ruang berbeda. Tak ada siapapun di studio lantai dua yang bisa membantuku memperhatikan kondisi Didi. Langsung saja aku bawa dia masuk ke dalam kotak kaca. Kududukkan dia di atas karpet di samping meja siaran. Sekotak tisu dan handuk ukuran sedang kering dari dalam laci berpindah dari tanganku ke tangannya. Kunaikkan suhu ruangan dari remote AC agar lebih hangat. Badannya tak terlalu basah. Dering telepon masih nyaring mengusik telinga.

“Atta…” kemudian dia terisak. Aku semakin bingung.

“Wait, Buk!” Aku meluncur kembali ke kursi siaran. Menyusun lagu, bumper-in, iklan, promo, bumper-out, lagu, dengan durasi agak panjang secepat mungkin. Kucabut kabel telepon hingga deringnya tak terdengar lagi. Hanya suara lagu-lagu yang mengudara dengan tune rendah. Kemudian kembali mendekatinya.

“Ada apa, Buk?”

Didi mencoba mengontrol dirinya dan menegakkan tubuhnya. Maskara yang menebalkan garis matanya luntur berbekas. Tak bisa kutebak apakah itu dari air hujan atau air mata. Semuanya kelihatan sama saja.

“Atta ternyata sudah beristri,” air matanya tak terbendung.

“Hah? Bang Atta? Kok bisa?” aku terperanjat.

“Bisa, sebelumnya aku pikir dia mau melamarku, tapi ternyata…” isakan tangisnya makin dalam, sesekali cegukan. Dia sedikit kerepotan mengusapnya dengan tisu yang makin kusut tergenggam hingga aku harus membantu mengeringkan matanya yang basah bercucuran. Gumpalan-gumpalan putih lainnya tergeletak liar di lantai.

“Ya Tuhan, Buk!” Kurebahkan kepalanya ke pundakku.

“Aku pikir dia pulang ke Medan karena urusan keluarga dan proyek periklanannya. Dua bulan berpisah bukan waktu yang singkat, tapi tiba-tiba dia kembali dan minta maaf. Aku pikir ada kenapa-kenapa, ternyata dia minta maaf sekaligus pamit, dia kawin dengan perempuan lain. Semua hancur, Bas!” Baru kali itu, setelah sekian lama, dia memanggilku dengan nama sebenarnya.

“Sabar, Buk, sabar,” aku mencoba membesarkan hatinya.

“Aku bodoh! Bodoh. Aku nggak dengerin apa kata Joe tentang dia,”

“Bang Joe tahu?” aku keheranan. Artinya bukan aku saja yang menjadi tempat curhatnya selama ini. Jika Joe tahu, jangan-jangan semua orang di kantor ini juga tahu? Aku semakin kalut dengan pertanyaanku sendiri.

“Atta itu temen kuliah Joe. Joe bilang kalau dia itu player, tapi aku nggak percaya. Aku tertipu selama ini,” jelasnya. Sedu sedannya mereda.

Tiba-tiba dari arah depan suara pintu terbuka. Suara derap kaki berdebum terdengar semakin jelas mendekati kami berdua. Kemudian pintu kotak kaca terbuka lebar.

“Sudah kubilang sejak dulu ‘kan, Di! Makanya dengerin kalau orang ngomong,” Joe bersimpuh duduk di depan kami. Membelai rambut Didi dan mengusap air matanya. Didi yang sebelumnya berada di pelukanku langsung menggerakkan badannya dan berpindah ke rengkuhan Joe. Aku biarkan dia seperti itu.

“Sorry, Joe,” Didi kembali meneteskan air mata. Kini wajahnya tenggelam di dada Joe.

“Sudah-sudah… Kamu, balik siaran!” tiba-tiba Joe menatapku. Jari telunjuk kanannya teracung lurus. Memerintahku kembali bertugas di singgasana panas. Aku mengangguk, kembali ke kursi siaran.

Joe memapah Didi ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa merah setelah segelas air putih dari dispenser habis diminum Didi. Mereka mulai berbicara dengan tampang dan tatapan serius. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam kota kaca ini. Hanya gerakan tubuh mereka berdua yang saling berpadu. Joe terus memegang tangan Didi, sementara Didi berulang kali menyapukan kertas tisu ke liang air matanya. Mencoba menahan alirannya, sepertinya tak bisa.

Aku menyaksikan mereka berdua layaknya menonton satu babak sinetron di televisi yang ada di ruang tamu. Menyala tapi tak bersuara. Perbedaannya hanya pada ukuran yang membuat tokohnya berbentuk seperti ukuran manusia aslinya, tentu saja dengan lebar layar yang tak biasa. Seperti menonton reka adegan pantomim tanpa teks terjemah. Mencoba mengambil makna dari lakon melalui terkaan jalan cerita yang tak dipahami penontonnya. Mereka berdua pemain dan aku penonton.

Sejenak aku teringat sesuatu. Kehancuran dosis tinggi yang dialami Didi malam itu, juga pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Di akhir pekan basah, di tempat yang sama. Ledakan emosi menyeruak dibalik dinding kotak kaca. Lembaran kertas berhamburan ke seluruh ruangan. Dua ponsel di atas karpet di bawah kaki meja. Sepertinya jatuh, atau sengaja dijatuhkan. Atau malah dibanting. Satu hari paling berantakan yang pernah aku rasakan selama aku menempati kotak kaca. Menimpa seseorang paling berpengaruh mengatur jalannya kinerja studio siaran. Menduduki level tertinggi di antara penyiar lain. Sebelumnya aku mengira dia adalah manusia terkeras kepala tanpa toleransi dengan sosok tinggi besar. Tapi ternyata, dia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi problematika. Antara dia dan kekasihnya.

*****

“ANJING!!!”

Aku terdiam tanpa kata tepat saat pintu masuk kotak kaca kugeser hingga terbuka lebar, sedetik setelah terdengar umpatan binatang itu terdengar memekak di telingaku. Dibumbui dengan suasana ruangan yang karut-marut. Terbelalak mataku dibuatnya, menyadari bahwa kertas promo, iklan, addlips, surat kabar, majalah, tak lagi berada di tempatnya yang pantas. Belum lagi alat tulis yang berceceran, jatuh di sudut-sudut bawah meja, sulit terjangkau tangan.

“Bang … Bang Joe, kenapa?” tanyaku penuh tanda tanya besar. Berusaha membuka obrolan dari dua orang manusia, yang satu kikuk, satunya kesurupan.

Dia diam. Mengembangkempiskan dadanya. Mencoba bernafas normal dengan menghirup oksigen banyak-banyak dalam suhu 16 derajat Celcius. Terbaca di layar remote AC. Dua tangannya berada di kepala, meremas rambutnya dan sesekali menariknya dengan jari. Mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak rambut. Seperti berjuang menyakiti diri sendiri agar rasa sakit lain tertutupi. Terakhir kulihat dai menelungkupkan telapak tangannya di wajah. Menyeka matanya yang memerah dengan jari, ditutup dengan bibir yang bergetar dan mendesirkan suara, “Kok bisa? Nggak mungkin, ya Tuhan!” 

Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat. Aku merasa tak nyaman. Joe menghampiriku yang beku berdiri di hadapannya. Segan untuk bergerak sesentimenter pun. Dua tangannya yang berpeluh memegang pundakku.

“Kamu punya kenalan dokter, nggak? Punya nggak?!” tanyanya dengan intonasi meninggi dan tersengal.

“A-a-ada Bang,” aku semakin gugup.

“Aku butuh dokter, atau dukun, atau apalah itu, yang penting, yang penting ini nggak terjadi! Nggak boleh kejadian! ANJING!” Dia berbicara sendiri.

“Kejadian apa, Bang? Apanya yang nggak boleh terjadi?”

Dia menoleh kembali padaku. Menarik nafasnya. Mengatakan sesuatu yang membuat paru-paruku berhenti memompa oksigen.

“Mira hamil.”

“Hah?! Mira hamil? Sejak kapan?” tak kupercayai pendengaranku.

“Aku nggak tau, yang pasti aku belum siap. Aku nggak mau jadi ayah. Aku nggak mau!” Nada suaranya mulai meninggi, kali ini dengan tempo lebih cepat.

“Bang Joe,” aku berusaha melunakkan suasana.

“Atau mungkin itu bukan bayiku, pasti dia selingkuh dengan laki-laki lain, nggak mungkin itu bayiku, aku pakai kondom, kecuali …”

“Kecuali apa?” tanyaku melanjutkan.

“Kecuali malam Valentine’s Day itu, tapi itu cuma sekali nggak pakai,” dia membela dirinya sendiri.

“Bang Joe, ada baiknya kamu sekarang ke Mbak Mira, kalian harus ketemu, obrolin baik-baik!”

“Tapi-tapi, Bas…”

Be gentle, Bang,” tukasku singkat memotong kalimatnya.

Dia bergegas mengambil barang-barangnya. Memungut beberapa benda yang kemudian dimasukkan ke tas ranselnya.

Please, cover up siaranku!”

“Iya Bang, take care!

Dia mengangguk. Semenit kemudian lenyap berbekas. Isi kotak kaca pecah amburadul tak karuan.

*****

 Didi: Jam brp smpe studio?

 Aku: 8.00, whats up?

 Didi: Nitip bir apa aja

 Aku: Brp kaleng?

 Didi: 4, klo bs b4 8PM uda di studio

 Aku: OK

Pukul 7.35 aku sudah sampai di kantor. Area parkir masih basah oleh air hujan ketika aku sampai. Sembari memarkirkan sepeda motorku di tempat biasa, bisa kulihat mobil Didi dan Joe terparkir berdampingan. Tumben mereka berdua bisa bertemu di waktu ini. Seingatku jam siaran sore mereka berdua memang sama, hanya saja beda hari dalam satu bulan. Dua minggu Joe, dua minggu berikutnya Didi. Urusan tukar-menukar tiap hari apa saja mereka siaran, adalah mereka sendiri. Layaknya previledge bagi para senior.

Terdapat dua jalur menuju lantai dua: satu melewati tangga yang letaknya tepat di samping kantor di lantai satu, satunya lagi lewat pintu belakang dekat kantin yang sudah tergembok sejak pukul 6.00 petang. Artinya, untuk penyiar malam hanya bisa melewati satu-satunya jalur, yaitu melalu tangga. Lampu yang seharusnya menerangi tangga lengkung itu memang sudah mati beberapa hari terakhir ini. Tak tahu alasannya kenapa tidak segera diganti. Membuatku harus benar-benar membuka mata, membiarkan berkas-berkas samar cahaya dari kejauhan menerangi langkahku yang beranjak naik sambil menjinjing tas dan sekresek bir serta makanan ringan. Tidak cocok rasanya menikmati bir dingin tanpa snack, kacang goreng atau chiki-chikian.

Ujung tangga lantai dua berdekatan dengan pintu masuk studio. Hanya perlu 5 langkah sudah sampai ke gagang pintu. Namun ketika tinggal 3 anak tangga lagi, aku melihat sosok perempuan berbaju serba hitam berdiri membelakangi tangga, yang bisa kulihat hanya tubuh bagian belakangnya. Ramping, tapi agak sedikit melebar di bagian pinggang. Dari gesturnya sepertinya dia memandang pintu masuk studio siaranku. Sempat aku hentikan langkahku saat sosok itu berlari ke arah samping, ke lorong gelap di depan deretan ruang kantor lain yang sudah dipadamkan lampunya. Mungkin karyawati, atau OB.

Mataku terbelalak melihat seseorang yang terbaring kulai di sofa merah, meraung dengan suara rendah, berlinang air mata. Didampingi Didi dan satu teman yang tak kukenal. Aku kebingungan. Aku berinisiatif menarik lengan Didi. Menginterogasinya.

“Bang Joe, kenapa lagi?” tanyaku.

“Mira…” jawab Didi singkat.

“Mira kenapa?”

Didi sejenak diam, kemudian berujar.

“Mira tewas gantung diri, janinnya nggak bisa diselamatkan,”

Lidahku kaku.

Tas ranselku jatuh berdebam, diikuti gelontangan kaleng bir.

 

Thanks buat mas Joe, mbak Didi, mbak Almira, yang aku reka menjadi tokoh di cerita fiksi ini. Salam hangat untuk kalian semua yang tumbuh di keluarga besar Pro2FM Surabaya Radio Republik Indonesia. Sangat merindu duduk di kursi siaran lagi.

Standard
Cerita, Handwritings, The Handwritings

Berenang Bersama Papa

“Papa janji?”

“Janji!” selintang garis kumisnya terangkat. Senyumnya menebal. Kau mengangguk pelan. 

“Ayo sini!” kau naik ke punggungnya. Dan dia membawamu masuk ke dalam rumah. Beberapa temanmu hanya sekedar menoleh tak acuh. Sisanya asyik bermain gundu sambil bersorak-sorai.

Kau sudah mengenalnya sebelum kalian tinggal bersama. Kau pernah melihat gambar dirinya bersama ayah dan ibu di album foto pernikahan mereka. Ibu dengan kebaya putihnya, ayah dengan jas hitam berkalung melati, dan dia yang berbaju batik. Ayah berkata bahwa pria ini yang membuatnya berjodoh dengan ibu. Saat itu kau memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Dan tak perlu waktu lama bagimu untuk lebih mengetahui siapa dirinya karena pria ini juga tampak hadir ketika hari berkabung itu tiba.

Penjajakan cepat dan singkat dimulai dari gigitan ayam goreng di salah satu restoran fast food favoritmu di pinggir kota. Berlanjut dengan agenda jalan-jalan rutin setiap akhir pekan. Dia menjemputmu dan ibu di rumah. Kemudian kalian bertiga meluncur ke taman ria jenaka, kebun binatang, hingga taman-taman kota. Menikmati berondong jagung dan bergelas-gelas es serut. Sampai pada suatu malam, ketika kelelahan membuatmu tertidur dalam pelukannya, detik itu pula ibu memutuskan bahwa masa kesendiriannya telah sirna.

Tapi ada satu hal yang tak kau sukai darinya ketika kau mulai memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’. Pria itu ternyata tak tahu mainan apa yang kau suka. Berbeda dengan pria lain di hidupmu sebelum dia. Tidak seperti saat ayah masih ada. Seringkali dirinya membawa oleh-oleh mainan untukmu meski kau tak memintanya. Dia adalah pria favoritmu. Dan papa belum menjadi pria itu.

Suara derap sepatunya yang terdengar khas di telinga, mampu membuatmu terperanjat dan meledakkan rasa senangmu. Ketika pintu ruang tamu terbuka, dengan mata berbinar kau menghambur ke tubuhnya. Memeluknya erat. Aroma badannya yang menguar bersama bau keringat kau hirup dalam-dalam. Tanganmu menyentuh pin emas bersayap yang melekat di seragam putihnya. Di pundaknya melekat pangkat bar dengan empat garis melintang. Kau rebahkan kepalamu. Sering kau jahili dirinya. Kau ambil topi hitam berlambang garuda itu dari kepalanya. Kau kenakan di kepalamu yang kecil. Topi itu melorot dan menutup sebagian wajahmu. Tawanya membuncah seketika.

“Kapten Ayah sudah besar!” bibir bau rokoknya mendarat di pipimu.

“Yah, geli,” kau dorong kepalanya menjauh dari kepalamu.

“Dari kemarin merengek terus minta dibelikan mainan, Yah,” ibu berjalan menghampiri kalian berdua. Kemudian dia mendaratkan bibir merahnya ke bibir ayahmu. Kau mengira keduanya sedang meniru tingkah laku ikan mas koki di akuarium kepala sekolah. Hanya tak mengeluarkan bulir-bulir gelembung udara.

“Yang benar? Wah, Kapten Ayah mau mainan apa?”

“Mau pesawat, Yah!”

“Pesawat yang besar atau yang kecil?”
“Yang besar, Yah! Yang besar!” 

“Sebesar apa?”

“Besar-besar!” kedua tanganmu bergerak membentuk setengah lingkaran.

“Hahaha, pintar sekali Kapten Ayah! Iya ‘kan, Bu?” rekah senyum manis wanita itu tampak jelas ketika mata mereka saling bertatapan.

Sebuah kotak kardus besar berada di pangkuanmu. Di salah satu sisinya terlapisi plastik transparan membentuk bingkai persegi. Dari sisi itu, kau tahu benda apa yang berada di dalamnya meski hanya sekilas. Kala kertas pembungkusnya tersibak, matamu membelalak. Ada benda lonjong seukuran mentimun yang memiliki dua sayap dengan warna dominan kuning. Terdapat aksen warna biru di bagian moncongnya yang ditancapi baling-baling dengan warna senada.

“Pesawat! Pesawat! Pesawat!” kau berlari kegirangan mengelilingi ruang tamu.

Kau sibuk menjentikkan baling-baling pesawat ketika pria itu masuk ke dalam kamar ibu. Seperti biasa, dia bertelanjang dada. Kau sering bermain sendirian di kamar itu. Dulu ibu sering menyuruhmu tidur di sampingnya setiap malam saat ayah sedang bertugas. Bertambah sering ketika ayah selesai dimakamkan. Tak lain karena ibu takut kesepian. Namun setelah dinding-dinding kamar itu dipenuhi foto-foto pernikahan dengan suami barunya, ibu yang bergantian menghampirimu di tempat tidur. Mencium kening dan menyuruhmu segera tidur. Pria itu bersamanya. Melakukan hal serupa. Mengucapkan selamat tidur tapi tanpa ciuman di kening.

“Kok main pesawat terus, Cah Bagus?” papa merebahkan badannya di atas kasur. 

“Suka, Pa,” jawabmu sambil menggeser tubuh mendekati lemari baju bercermin besar. Kau melihat pantulan tubuhmu dan pria itu dalam satu garus lurus. Pesawatmu terbang melintas.

“Kalau besar nanti mau jadi pilot?”

“Iya, seperti ayah,” matamu berbinar penuh kebanggaan.

“Mengapa tidak jadi pelaut saja? Seperti papa,” kau menoleh kepadanya.

“Kamu dapat menjelajahi lautan luas, makan ikan sepuasnya,” dahimu mengernyit. Kau tak suka hidangan laut. Amis dan asin. Ingin muntah.

“Dan jika beruntung, bisa berjumpa ikan paling besar sejagat raya. Paus biru.”

“Paus biru?” kau penasaran.

“Sini naik ke kasur! Papa ceritakan dongeng tentang paus biru.” 

Seperti tertarik magnet, tubuhmu beringsut ke arahnya. Perut bulatnya menyembul dengan rongga pusar menganga. Tumbuh rambut tipis di permukaan dadanya yang mengular sampai menembus lipatan sarung yang dia kenakan. Bulu ketiaknya lebih lebat dibanding kumisnya. Puting susunya hitam, sehitam bubuk kopi yang diseduh ibu di pagi hari.

Papa bercerita tentang Ibu Paus Biru dan Anak Paus Biru yang mendiami samudera Antartika. Sebagian besar populasinya memang ada disana. Sisanya tersebar ke seantero samudera di permukaan bumi ini. Papa bilang, dalam bahasa Latin, Paus Biru dinamai Balaenoptera musculus.

“Baa – la – ee … nopter …”

Balaenoptera musculus,” papa meneruskan kalimatmu, “dengan nama genus yang berasal dari kata Latin ‘balaena’ yang berarti paus, dan kata Yunani, ‘pteron’, yang berarti sirip atau sayap. Nama spesiesnya, ‘musculus’. Adalah kependekan kata Latin ‘mus’, yang berarti tikus. Dan kata ‘musculus’ sendiri, bisa juga diartikan sebagai otot.”

“Otot tikus?” kalian berdua tertawa.

Ukuran tubuh Ibu Paus Biru kira-kira sebesar tubuh 20 gajah Afrika dikumpulkan jadi satu. Sedangkan tubuh Anak Paus Biru sebesar tubuh dua kerbau jantan dewasa yang pernah kau lihat di halaman masjid ketika Hari Raya Kurban. Lebih kurang bermassa 2.700 kilogram saat dilahirkan. Sama seperti kuda nil Afrika dewasa. Dengan panjang tubuh mencapai 33 meter dan berat mencapai 181 ton atau lebih, paus biru dipercaya sebagai mamalia terbesar yang pernah ada di dunia.

Kau menganga.

Tapi dulu, tubuh Ibu dan Anak Paus Biru tidak sebesar itu. Mereka juga pernah berukuran kecil. Warna kulitnya pun belum didominasi oleh warna biru kehijauan.

“Sekecil ini,” dia melepas celana pendekmu. Jemari papa memainkan bayi ikan paus milikmu. Kau merasa geli dan aneh secara bersamaan.

Karena samudera lebih luas dari daratan, maka makanan ikan paus biru sangat melimpah. Paus-paus itu selalu makan di daerah yang memiliki banyak krill. Mereka makan antara 2.000 – 4.100 krill dalam satu hari. Spesies zooplankton itu dimakan oleh berbagai jenis paus biru dari satu samudera ke samudera lain. Mereka juga makan ikan kecil, crustacea, dan cumi-cumi yang kebetulan tertangkap bersama krill. 

Selama tujuh bulan pertama hidupnya, Anak Paus Biru minum kira-kira 400 liter susu setiap harinya. Anak Paus Biru bertambah berat secara cepat, yaitu sebanyak 90 kilogram per hari. Tak lama tubuhnya semakin besar. Otot-otonya menonjol dan keras. Warna kulitnya pun berubah. Berwarna biru kehijauan atau abu-abu dengan pembatas putih tipis. Sedangkan di bagian perut mempunyai warna yang lebih terang.

“Paus Biru memiliki kepala pipih berbentuk huruf U,” lanjut papa. “Di bagian atas kepalanya terdapat lubang untuk mengisap oksigen dan membuang karbondioksida.”

“Sama seperti ini, Cah Bagus! Coba pegang!” Selembar sarung kotak-kotak hijau yang dikenakannya jatuh ke lantai. Kau memegang ikan pausnya. Keras dan hangat. Urat-urat pembuluh darahnya menonjol di permukaan kulit.

“Ikan pausnya punya rambut, Pa!” kau takjub.

“Coba kau cium. Biasanya ikan paus cepat tumbuh besar kalau sering dicium.” Telapak tangannya yang besar menuntun kepalamu menemui paus biru miliknya. Pelan-pelan.

Paus biru mempunyai indera peraba dan pendengar yang tajam. Ia mengetahui arah di dalam air dengan mengikuti gema suara yang dibuatnya. Selain sebagai alat navigasi, suara yang dihasilkan dipercaya juga sebagai bentuk komunikasi antarsesama dan untuk mendeteksi mangsa.

“Aaauuuuuu … aaauuuu … begitu suaranya,” dia menciumi ketiakmu. Kau menggeliat kegelian.

Tak banyak ikan paus biru yang hidup bergerombol dalam jumlah banyak. Mereka suka berenang bersama dalam jumlah kecil dan hidup mendiami sudut samudera yang terpisah oleh daratan. Kadang mereka saling bertemu ketika sama-sama berburu mangsa santapan di samudera yang sama.

“Nah, ketika Ibu Paus Paus Biru dan Anak Paus Biru berenang berdampingan, mungkin seperti kamu dan papa saat ini, Cah Bagus. Kamu tahu bagaimana caranya mereka berenang?” kau gelengkan kepala. 

“Nah begini,” sekarang tubuh papa berada di atas tubuhmu. Kedua siku tangannya bertumpu pada kasur dan menopang berat badannya. Kau masih telentang. Dia menindihmu.

“Ibu Paus Biru selalu melindungi Anak Paus Biru dari ancaman binatang laut lain, seperti Bibi Gurita Raksasa atau Paman Ikan Hiu Gigi Runcing,” jelasnya.

“Mereka itu jahat ya, Pa?”

“Iya, jahat sekali. Makanya Anak Paus Biru harus dilindungi,” salah satu tangannya menggerakkan tubuhmu sedemikian rupa. Kini kau tengkurap. Terasa ada gerakan berdenyut di bagian paha bawahmu. Sepertinya paus biru papa sedang mengepakkan siripnya. Berenang menuju lipatan paha serta irisan pantatmu.

“Kau siap berenang?”

“Tapi aku boleh membawa pesawat ini, Pa?”

“Boleh-boleh saja,” kau mendengar sengal nafas hangatnya di telingamu. Udara itu menyembur bersama bau rokok seiring pinggangnya yang menghentak kuat maju-mundur. Paus biru papa sedang bersemangat menjelajahi samudera kapuk bersama Ibu dan Anak Paus Biru.

Lama dan gerah. Kau mulai bosan dengan adegan dari cerita Ibu dan Anak Paus Biru. Berenangnya begitu-begitu saja. Gerakan renang papa, si Ibu Paus Biru, cuma itu-itu saja. Maju dan mundur tanpa berputar-putar mengelilingi samudera. Tidak seperti ikan mas koki di akuarium kepala sekolah yang dapat berenang ke segala penjuru. Tidak seperti pesawat ayah yang bisa terbang keliling dunia.

“Papa, aku bosan,” 

“Sebentar lagi ya, Cah Bagus. Sebentar lagi paus biru papa juga akan bosan berenang kok,” dia mencium ubun-ubunmu. Tak lama matamu terpejam. Sesekali kau tarik nafas dalam-dalam. Belum pernah kau tidur tengkurap seperti ini. Selain itu, tubuh Ibu Paus Biru memang berat.

Kau kendalikan gagang kemudi pesawat itu dengan gagah perkasa. Kau kenakan topi hitam ayah yang entah mengapa tiba-tiba pas di kepalamu. Baling-baling pesawat itu berputar sangat kencang. Mampu menerbangkanmu bersama seonggok makhluk raksasa yang berulang kali mengaum keras di sampingmu, “Aaauuuu… aaauuu…” 

Setiap kali siripnya mengepak, tubuhnya membumbung makin tinggi. Setiap kali ekornya mengibas, riak air hangat menerpa wajahmu. Ini tantangan, pikirmu. Lekas-lekas kau tarik gagang tuas mesin di samping kursi. Dan ketika deru mesin terdengar keras. Gumpalan asap putih keluar dari ekor pesawat. Saat itulah pesawatmu melesat sangat cepat. Menggapai Ibu Paus Biru yang sedang asyik berenang di atas hamparan awan kelabu.

Di ujung sana, di atas garis cakrawala yang berkilau keemasan, kau dapati ayahmu dengan seragam putihnya sedang melambaikan tangan ke arahmu.

“Kapten Ayah, ayo sini!” teriaknya dari kejauhan. Matamu berbinar. Di bagian sudutnya mulai berair.

Alih-alih kau rengkuh ayahmu, kau malah mendengar suara lenguhan panjang Ibu Paus Biru tepat di saat dia menyemburkan air dari punggungnya.

Hangat.

 

Agustus, 2018. Kisah lawas yang ‘tak kunjung tuntas. Mereka memilih mendiamkannya. Saat itu pula bom waktu mulai berdetak. Tik – tok – tik – tok.

Standard
Cerita, Handwritings, The Handwritings

Santapan Tengah Hari

Perempuan itu terlihat terburu-buru merapikan berkas pekerjaannya. Menulis sesuatu di atas secarik kertas lalu meletakkan head-set di ujung tiang microfon yang berada tepat di hadapannya. Sesekali dia melihat jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya. Dahinya mengernyit. Muncul pertanyaan dalam benaknya. Apakah kali ini dia bertindak benar? Apakah keputusannya tepat? Tak lama dia termangu, namun tak ada jawaban satu pun yang keluar dari kepalanya. 

Berkali-kali tertunda, bisa saja hari ini adalah hari baik itu. Atau malah menjadi momentum terburuk dalam hidupnya. Waktu sedang menunggu. Perasaan ganjil melanda tiba-tiba. Entah dari mana. Nekat saja.

“Semoga semua akan baik-baik saja.” 

Dia bergegas. Jangan sampai terlambat menemuinya. Ia yang datang dari jauh. 

Ketika derap kaki memburu, rasa gugup dan bimbang terus menghampiri. Apakah ia orangnya? Bagaimana jika pertemuan ini tak sesuai harapannya? Bagaimana jika semuanya bertambah kacau? Gundahnya menerpa. Dia mulai gila. 

Tapi dia harus bertemu ia. Sudah kepalangtanggung. Ia ada di sini. Di kota ini. Sesuai harapannya. Langkahnya dipercepat. Jangan lagi membuatnya menunggu.

“Aku datang untukmu.” 

Nada dering singkat dan getaran tipis dari genggaman membuatnya tersentak. Pendaran cahaya putih menghantam wajahnya. Simbol amplop dari fitur pesan muncul di permukaan layar. Pesan singkat di kotak suara menuliskan namanya. Dia berhenti di sudut pintu gerbang. Pesan itu terbuka. 

“Aku sudah sampai. Di tempat yang kita janjikan. Aku menunggumu. Sendiri. Duduk di samping jendela.”  Singkat. Padat. Jelas.

Dia memutuskan berlari dengan sepatu hak tingginya sambil mencengkeram clutch hitamnya kuat-kuat. Sebentar lagi. Tidak lama lagi. Susah payah dia mengatur pertemuan ini. Begitu banyak bualan dan janji yang tak kunjung tertepati. Setelah banyak kisah dan rahasia yang terbagi tanpa mata bertemu mata, kulit berjumpa kulit. Hingga di ujung hari kemarin, kabar mengejutkan datang, “Apakah besok kita bisa berjumpa?” Ujung panah menancap tepat di sasaran. Semesta mendukung. Di tengah hari, kafe Belanda, lunch break.

Babak lain hidupnya mulai berjalan. Membawa serta perasaan yang seharusnya dia kunci rapat-rapat di dalam rumah. Perasaan yang sesungguhnya tidak boleh datang, namun apabila datang, maka semuanya akan terasa gampang. Seperti dipermudah oleh Yang Maha Pemudah. Seperti sebuah dosa, terasa salah, namun layak dinikmati. Seperti ujian semester sekolah, banyak  pertanyaan yang mesti dijawab, tapi dalam waktu yang tak terbatas. Dia terlena.

“Kamu siap terbakar?”

Dia diam. “Tidak juga,” Tak lama kemudian muncul anggukan.

“Siapkan pula selimut tebal,” bola mata keduanya saling berpandangan. “Bisa jadi dia tidak hanya membakarmu, tapi juga membuatmu mati beku,” ujar teman baiknya.

Ditariknya kedua sudut bibirnya ke atas. Menyunggingkan selengkung senyum untuk dirinya sendiri. Berusaha menyamankan perasaan meski cara itu tak berhasil. 

Jalur pedestrian seramai hari-hari biasanya. Tak membuatnya gentar untuk menembus kerumunan pejalan kaki dan menerjang hembusan angin kering bulan September. Langit sedang absen menumpahkan air ludahnya ke bumi. Sebagai penggantinya, semprotan air dari selang yang bertugas membasahi tanaman sulur perdu berwarna kuning kecoklatan yang melekat di sepanjang pagar besi. Ujung lembaran daun-daunnya yang mulai renta menghadap ke arah dia menuju. Seperti jarum kompas yang membawanya kepada ia yang menanti di sana.

“Aku tahu tempatnya, jangan repot-repot,” sekonyong-konyong dia melihat dedaunan itu mengerling padanya. Lantas gugur lalu terhempas angin. Meluncur dan menabrak tubuh-tubuh besi berasap di jalan raya. Siraman air tadi pagi tak mampu membuatnya hijau kembali. Sudah terlambat.

***

Di salah satu sudut kafe. Selembar daun kering menempel pada kaca jendela. Matanya awas menyaksikan. Tapi bibirnya mulai mengering. Pangkal lidahnya terasa pahit. Dahaga melanda. Segelas minuman dingin patut dinikmati dalam masa penantiannya. 

“Dahaga hati kah ini?”

***

Jalan raya itu tampak menghadang seperti gerombolan kuda liar berbaju zirah. Kilau besinya tak segan menusuk mata para pejalan. Hatinya terasa panas. Mengumpatkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa terucap dari katup bibirnya. Terasa ngilu di sekujur tubuh, tapi nikmat di waktu yang sama. Dia melihatnya dari kejauhan. Siluet tubuh di samping jendela yang sedang menanti kehadiran.

“Aku datang untukmu.”

***

Bangunan kafe berarsitektur Belanda berdiri berseberangan dengan gedung perkantoran paling sibuk di kota ini. Jarak keduanya dipisahkan oleh jalan raya dengan jalur satu arah. Melintang di bagian atasnya, sebuah jembatan penyeberangan yang tak henti dilalui manusia pemburu waktu: para pekerja kerah putih, seniman jalanan, pencopet, pedagang kaki lima, dan pengemis, sebelum salah satu atau salah dua diantaranya menikmati ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP. Terciduk. Hilang untuk beberapa saat.

Sebenarnya hanya perlu 5-10 menit berjalan kaki cepat dari tempatnya bekerja ke halaman parkir kafe itu. Namun ketika jam makan siang tiba, jalur padat tak terelakkan. Ditambah lagi dengan gelombang kendaraan yang tak pernah mandeg berlalu-lalang.

Kedua kakinya terhenti di sisi jalan. Kepalanya mendongak ke atas. Sorot matanya menajam ke arah jembatan penyeberangan yang berdiri kaku di atas aliran kendaraan yang mengganas di sungai aspal. Penuh kuasa. 

“Terlalu lama,” kedua matanya menantang hilir mudik roda-roda bermesin di jalan kota. Diabaikannya bentangan jembatan itu. 

***

Menerobos luapan asap pekat jalan yang dibumbui desingan klakson pemekak telinga hanya dengan mengenakan rok selutut dan sepatu berhak tinggi adalah keputusan gila. Memaksa mobil  menghentikan lajunya dengan lambaian tangan. Berteriak-teriak hanya untuk menghalau sepeda motor dan angkutan umum agar mau memberinya celah lewat. Dia belum pernah melakukan tindakan nekat semacam itu sebelumnya. Sampai hari ini.

“Cuma buat kamu.”

***

“Perempuan goblok! Jangan menyeberang di jalan. Ada jembatan di atas kepalamu. Sadarlah!” Terdengar suara klakson panjang dan berulang. Umpatan terlontar dari bibir seorang pengemudi yang menghentikan kendaraannya secara mendadak. Untung saja kampas rem-nya baru diganti. Selintas bayangan tentang luka berdarah, tampang ganas polisi, atau bangsal rumah sakit hilang perlahan.

“Kalau tertabrak, bukan saya yang salah!” lanjutnya.

“Sabar, Ayah. Cukup. Ayo kita jalan lagi,” seorang wanita muda memegang lengan kiri pria itu. Di atas pangkuannya terdapat map berisi tumpukan kertas putih. Kepalanya menunduk. Mata sembabnya terlindungi oleh kacamata hitam.

***

Di luar, siulan-siulan nakal terdengar bersahutan. Seperti melecehkan tanpa adanya sentuhan. Dia terus berlari. Tak peduli. Dikatupkannya daun telinga beranting mutiara itu. Dia melaju seperti orang gagu.

“Apa pun kulakukan untuk menemuimu. Apa pun.” 

***

Ujung sedotan putih menempel di bibir. Aliran dingin air jeruk menghentikan dahaga. Ia duduk di sofa krem, senada dengan warna kulitnya. Seorang lelaki berkaos biru dengan kerah V yang ditumpuk blazer hitam sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia gelisah.

Berkali-kali ia melihat jendela kaca di sampingnya. Memastikan bahwa ia berada di tempat yang tepat. Jari-jarinya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Bulir air tampak bergelantungan di keningnya. Keringatnya keluar meski ruangan itu dipenuhi hawa dingin dari mesin pendingin udara.

“Dimana kamu? Kamu akan datang, bukan? Aku menunggu.” 

Saat dia melihat kaca untuk kesekian kalinya, matanya membelalak. Sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. Kesejukan dari dalam menerpa dirinya.

“Dia yang menepati janji. Dia ada. Tidak. Dia hampir ada untukku.” 

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak itu menaruh ponselnya ke saku celana. Seuntai senyum tampak mengiringi. Ingatannya masih terpaut pada pesan terakhir kekasihnya.

“Aku suka padamu. Nanti aku telepon lagi. Anak-anak sedang bersamaku.”

“Aku pun begitu. Jadilah ayah dari anakku nanti! Kumohon!” 

“Baiklah, take care.

***

“Sudah siap memesan makanan?”

“Apa?” ia tersentak dari lamunan.

“Anda ingin pesan makanan apa?” gadis itu kembali menyodorkan buku menu untuk kedua kalinya.

“Oh pesan. Iya, makanan ya?” Ia salah tingkah. Ia terlalu memikirkannya. Dijamahnya daftar menu yang sejak tadi tergeletak di depannya.

“Aku tak paham nama-nama makanan ini?” Tertulis dengan huruf kapital warna biru disertai gambar: Nasi goreng mentega. Cah kangkung. Daging sapi lada hitam.

“Nanti saja. Menunggu kawan saya.”

“Okay,” gadis itu meninggalkannya dengan wajah datar.

***

Di pelataran kafe yang panas menyengat, sudut ketiak dan punggungnya basah oleh keringat. Perlu sedikit waktu baginya untuk mempersiapkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian. Hasrat mendorong besi pegangan pintu kaca tak pernah sampai se-deg-degan ini. 

Pintu terbuka. Gelora udara dingin mulai merontokkan hawa panas dari luar. Nafasnya menghela sempurna. Kelopak matanya mengerjap, pupilnya membesar, berusaha menangkap curah cahaya yang tersisa di ruangan. Pada kedipan terakhir, dia melihatnya dari sisi yang amat setrategis. Di dalam satu garis lurus. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu tenggelam dalam kesibukan. Ia dan buku menu di tangannya.

“Kamu …” 

Dia berjalan seperti seekor singa mengejar menjangan. Ia adalah mangsa yang mengharapkan dimangsa. 

“Apakah itu benar dirinya?” keraguan datang di saat yang salah. 

Kepalanya menoleh ke setiap sudut ruangan itu. Tidak sesenti pun terlewati. Perhatiannya terfokus pada seseorang yang duduk di ujung sana. 

Perlahan dia mendekat.

Ia merasakan suatu kehadiran.

Suaranya tertahan di tenggorokan.

Lehernya tak bisa digerakkan. 

“Apa-apa an ini!?”

“Hai,” perempuan itu menyapanya. “Wahai denyut jantungku.”
“Hai! Ayo duduk,” jawab lelaki itu. “Engkau datang. Bersandarlah di tubuhku!”

Kedua mata saling berpandangan. Guratan senyum mulai menampakkan diri. Samar-samar. Lalu dua raut wajah paling bahagia di muka bumi semakin jelas terlihat.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” 

Biarkan waktu terhenti. Kumohon! Biarkan mata pendosaku ini bisa melihat surga itu. Di wajahmu.”

“Tidak masalah. Aku punya banyak waktu untukmu.” 

Seumur hidupku jika engkau menginginkannya. Kuberikan!”

Perjabatan tangan. Pertemuan kulit dengan kulit. Bersentuhan. Aliran darah dari sekujur tubuh seperti bermuara di satu titik. Telapak tangan. Terjadi. Momen yang menyatukan denyut nadi dalam nada dan intonasi yang sama. Ini realita.

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu? Si Kembar?”
“Syukurlah, baik juga. Mereka sedang mengikuti les tambahan, minggu depan ujian kenaikan kelas. Bagaimana kabar istri? Sehat?”
“Sehat sekali. Satu jam lalu aku baru saja mengantarkannya ke rumah ayah.”

“Oh …”

Hening sesaat.

“Dan akhirnya kita bisa bertemu.” 

Akhirnya kilatan cahaya itu bisa aku lihat dari matamu.”

“Ya, tentu saja. Akhirnya,” 

Akhirnya hembusan angin itu terasa nyata lewat nafas kata-katamu.”

Bumi berhenti berputar.

“Kalau begitu bisakah kita pesan makanan dulu?”
“Silakan,” matanya mendadak jarang berkedip. Dia tak mau kehilangan sedetik pun momen ini. Ia membalasnya dengan tatapan yang sama. Hanya lebih santun.

***

Gadis bercelemek merah kotak-kotak kembali menghampiri. Kini ada dua orang yang harus dihadapinya dari kursi yang sama.

“Siap memesan?” tanyanya.
“Satu spaghetti carbonara, satu fish & chips, dan dua air mineral. Ada lagi?” 

“Kopi?” 

Cinta?”

“Boleh-boleh.” 

Kenapa tidak?”

Hot coffe latte. Kamu?” 

Maukah kamu menjadi milikku?”

Hot caffeine americano saja.” 

Tunggu apa lagi? Segera lamar aku!”

“Atas nama?” mereka berdua saling berpandangan. Membeku. Gadis bercelemek merah kotak-kotak tak menggoreskan setitik tinta pun di atas block-note pesanannya

“Baiklah, tidak perlu. Mohon ditunggu,” Secarik kertas menempel di ujung meja. Buku menu lenyap terbawa.

***

Bukan makanan itu, bukan minuman ini. Bukan tentang hidangan siang itu. Tapi ada harapan lain yang dia dan ia inginkan. Saat waktu membuka jalan. Bongkahan hasrat terpendam itu kini terwujud. Sebuah pertemuan. Letupan janji lama yang bertransformasi menjadi sebuah ledakan perasaan di salah satu sudut bangunan di kota ini. Ruang milik mereka. 

Empat bulan perkenalan di dunia maya. Telah meluruh dan bermuara pada sebuah pertemuan nyata. Pesan singkat yang dikirim bertubi-tubi setiap hari mampu merobek jala yang menghalangi. Hingar bingar manusia lain tak tergubris. Dunia semakin kecil. Waktu mendadak berhenti. Dia ada karena ia datang. 

Pekerjaan, keluarga, karir, dan topik perbincangan pribadi lainnya terlantun tenang. Yang dahulu hanya terbaca dari aksara, kini bersuara melalu kata-kata. Denting sendok di atas piring dan gelas kaca seakan bertindak sebagai instrumen musik yang mengiringi percakapan. Begitu merdu. Hanya mereka yang tahu barisan lirik lagunya.

Perempuan itu tersenyum.

Lelaki itu tertawa.

Dia diam, memperhatikan.

Matanya begitu tajam dalam sorotan.

Ia berkata.

Dia berbicara.
Mereka bercerita.

Berpusar dalam rotasi perasaan yang tak bernama.

***

Di kota yang sama. Seorang pria paruh baya menggandeng tangan putrinya. Mereka berjalan  di salah satu ruas koridor yang berada di dalam gedung milik pemerintah. Tepat di depan pintu kayu jati yang telah usang, keduanya berhenti. Berusaha saling menatap satu sama lain.

“Jika menurutmu ini adalah keputusan yang terbaik, maka lakukan!” tarikan nafas pria paruh baya itu begitu dalam dan berat. Matanya berkaca-kaca.

“Iya, Ayah,” sang putri terisak dalam pelukan si pria paruh baya.

Di sisi lain gedung, terdengar suara riuh pertengkaran keluarga. Di salah satu sudut ruang sidang, raungan tangis anak kecil semakin menyayat hati.

***

Di waktu yang sama. Mobil Kijang hitam ber-plat nomor polisi merah sedang melaju pelan. Menuju jalur penjemputan di salah satu rumah mewah bergaya Victorian. Ada sebuah papan kayu bertuliskan “Van Bosch Smart Course for Kids” di dinding berandanya. Terdapat dua orang pria di dalam kendaraan itu. Satu orang berpakaian safari duduk di kursi pengemudi. Dan di belakangnya, seorang lagi berkemeja batik yang tengah tenggelam dalam percakapan via telepon seluler.

“Jangan lupa. Kamar 504. Aku tunggu.” Layar ponsel menampilkan gambar dua orang anak  kecil sedang berswafoto bersama seorang pria dewasa. Sedetik kemudian layar itu menghitam. Padam.

“Pak, sudah sampai,” ucap pria berpakaian safari.

Pintu mobil terbuka. Dua bocah laki-laki berhamburan masuk ke dalamnya. Memeluk pria berkemeja batik dan memberikan kecupan pipi paling manis sedunia.

 

20 Desember 2012, hujan deras di sore hari. Studio radio, kopi, dan netbook usang.

Standard
Cerita, The Handwritings

Selamat Pagi!

Selamat Pagi!

Suatu pagi berawan hitam menggantung sendu.

Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran tepat di balik jendela kaca berfragmen tetesan embun mencair. Menetes turun tertarik gravitasi. Tampak seperti lembaran kain putih kehilangan serat benangnya akibat tergores benda tajam. Serupa ruas panjang beralur membentuk luncuran air di atas permukaan bidang rata transparan tegak vertikal karena sengatan matahari. Sebuah kaca bening pembatas bidang-bidang. Pembagi mana milikku dan mana milik orang lain. Penentu bagian luar dan dalam, gelap dan terang. 

Dari bagian gelap dan dalamnya aku bisa melihat hidup menggeliat di deret-deret gedung dan ruas-ruas jalan. Digelantungi udara basah sisa hujan lebat dini hari tadi. Berhasil memaksa pagi enggan beranjak siang. Alih-alih surut dan menghilang, kabut tipisnya malah makin melayang tenang memburamkan pandangan. Menghalau matahari menguapkan lenguhan pagi. Entah darimana datangnya, seolah makin tebal dan terus mengental. Tak rela membiarkan kerutan kulit bumi terlihat sempurna bagi mata manusia. Mungkin saja pagi masih serupa hantu berasap belum tersapu angin. Putih bersih bergentayangan pada dahan-dahan pohon. Beringsut mesra dalam rimbun perdu. Menyelinap di ketiak manusia. Meretas basah bersama angin pada kaca kendaraan di atas aspal. 

Pagi ini berbeda, muram dan murung, tak berkawan dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pekikan keras klakson kendaraan terdengar sejak pekat gelap dini hari merayap pergi. Makin riuh menyetubuhi hamparan jalan dari ujung ke ujung, sudut ke sudut. Menyisakan dengungan berfrekuensi dalam gendang telinga. Menjadi remah bising udara yang terpaksa dinikmati manusia semerdu mungkin. Bersamaan dengan sang surya yang membumbung makin tinggi. Seolah sigap melipat warna hitam beraksen gemerlap lampu, kemudian menggantinya dengan hamparan warna dan bentuk bernama benda. Seonggok atau kumpulan zat, bernyawa dan mati, memiliki nama. Aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Ini dan itu. Setiap pagi dan malam. Hingga pagi tetaplah pagi. Tak rela udara basahnya menguap begitu saja. Memutih dari kejauhan tapi hilang saat didekati.

Pagi ini berbeda, berwarna tapi buram, tak bersahabat dengan warna-warna lainnya.

Aku mengenyam pagi dengan kadar kepekatan ganjil. Seolah jerat malam di kepalaku tak berniat pergi meski waktu terus berjalan maju. Seperti terhenti pada detik ke-59 sebelum pukul tujuh. Tanpa ada harapan melengkapi detik berikutnya menjadi menit. Diam. Menancap.

Pagi ini berbeda, waktu berjalan pelan, tak berteman dengan ketergesaannya.

Tiba-tiba jam dinding besar di kafeku tak berdetak. Kupingku yang sudah terbiasa menikmati ritmenya setiap pagi, seakan peka ada yang ganjil mendadak. Suara tik-tok yang jelas terdengar sebelum alunan musik mendayu merdu, sebelum udara dipenuhi percakapan manusia-manusia pelanggan setiaku. Terlalu naif berkebetulan jika jam tanganku mendadak berhenti pula. Jarum panjangnya berdiri tegak menunjuk angka 12, jarum pendeknya pada angka 7. Aku menoleh kembali ke arah jam dinding, kemudian ke arah jam tangan, kembali lagi ke arah jam dinding, sama. Berhenti di pukul tujuh tepat. Tak urung rasa penasaranku malah membuncah. Kulihat pikuk orang yang berlalu lalang di depan kafeku untuk memastikan keadaan. Samar dari arah jendela berembun, mereka yang bernyawa dan berjalan di atas paving block trotoar mendadak berhenti. Kendaraan-kendaraan menepi, sebagian berhenti begitu saja tanpa ada insiden. Mandeg pada satu titik beku. Suara acak yang terdengar sebelumnya berubah menjadi dentuman keheranan massal. Mereka menundukkan kepala. Melihat dengan seksama benda yang melingkar di pergelangan tangan. Sisanya mengamati benda kotak tipis bercahaya yang tergenggam. Alih-alih menatap lekat penuh tanda tanya, sisanya sibuk menekan serampangan permukaan bendar bersinar itu dengan telunjuk dan jempolnya. Lebih karena mencari sesuatu yang tak beres, bukan sengaja mencari kerusakan dan membetulkannya. Semakin parah ketika kumpulan pixel di layar tiba-tiba lenyap. Layar berubah hitam. Mati bersamaan. Mereka hanya menunduk. Tanpa menoleh ke tubuh-tubuh lain. Diam sempurna. Diikuti deru kendaraan dari kejauhan yang seiring melenyap senyap. Membenamkan diri dalam keanehan yang muncul berjemaat. 

Tak berbeda dengan apa yang terjadi di tempat dimana aku berada sekarang. Di dalam ruang bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan paling sibuk di tengah kota. Berjajar dengan bangunan tinggi pencakar langit yang terus meninggi berniat menggapai sekenanya. Berhadapan dengan pusat-pusat perbelanjaan lengkap dengan restoran dan kafe terkenal di dalamnya. Tapi kafeku, hanya bangunan tiga lantai berjajar membentuk kumpulan rumah-toko. Berdampingan dengan toko roti, salon kecantikan, toko buku, dan tempat usaha lain. Kupertaruhkan nyawaku disini. Rangkaian hidup berkoma tanpa titik. Membentuk perjuangan dan pijakan kuat sebagai fondasinya. Bertahun-tahun bermimpi dan akhirnya tiga tahun lalu berdiri. “Soliterian Coffe Shop and Eatenary”. Buka pukul 8 pagi hingga 10 malam. Senin-Minggu. Jumat libur. Free-wifi. Diskon 30% untuk makan siang saja.

Tiga pagawaiku telah datang lewat pintu belakang satu jam lalu. Rein, Indah, dan Agus. Tiga lainnya, Nia, Tita, dan Doni, akan hadir di shift kedua. Empat di atantaranya adalah juniorku di masa kuliah dulu. Sisanya hasil rekrutmen lowongan kerja yang aku kirim ke rubrik iklan surat kabar kota. Mungkin karena kesamaan almamater, bersama mereka, aku lebih percaya kafe ini akan lebih maju dan terkenal. Baru dibuka dua tahun lalu. Seduhan kopi dan coklat hangatnya menjadi menu utama bagi para penikmat hari. Telur orak-arik dan mata sapi, roti lapis daging, serta bubur gandum panas, menjadi pilihan tepat bagi para pengejar pagi.

Empat tahun belajar dan bergelut dalam dunia organisasi di kampus, tak membuatku menyesal merekut mereka menjadi orang-orang penting di belakangku. Menjadi rekan kerja yang sama-sama mau maju. Menjadi diri sendiri dan nyaman bekerja karena aku mengenal mereka. Manusia-manusia hebat dengan kemauan besar dan para pekerja keras yang terlalu tangguh untuk diremehkan. Meski saling mengenal, bukan berarti tak profesional. Hubungan yang terjalin bukan tanpa hambatan, tapi bukan harus ditinggalkan begitu saja jika aral rintangan hadir membegal. 

Awal adalah ujian untuk gagal. Bukan proses jika tak pernah gagal. Tapi, jatuh bangunnya tempat ini, tak pernah membuat mereka lepas dariku. Sempat menerima gaji tak sesuai dengan jam kerja, mereka terima di awal-awal berdirinya kafe ini. Semua berjalan naik turun lengkap dengan hiasan liku-liku terjal dan tak mudah. Dua tahun berjuang, hingga saat tempat ini mulai mendapat kepercayaan dan pengakuan orang, dan mereka pun berhak mendapatkan lebih. Kerja keras yang terbangun bukan karena nyawa satu orang, tapi kumpulan jiwa ini, siap menjadi sandaran hidupku, hidup kami.

Pagi ini berbeda, membuka cerita lama, dan aku masih di balik jendela kaca.

“Mas, kopinya,” suara Indah membuyarkan lamunanku tepat saat dia menyerahkan secangkir kopi hitam kepadaku.

“Eh, iya. Thanks ya, Ndah,” telapak tanganku menghangat ketika cangkir itu tergenggam, “Rein dan Agus dimana?”

“Di dapur, Mas. Dua-duanya.”

“Oh … Okay,” aku menyeruput cairan kental hitam dengan rasa dan aroma khas. Pahit khas kopi Arabica. Kenimatan tiada tara dalam ruangan dingin ber-AC pagi ini.

“Pagi yang aneh ya, Mas?”

“Menurutku juga begitu. Tiba-tiba semua jam behenti. Jam tangan, jam dinding, jam di ponsel. Sudah hampir 3 menit tak bergerak.”

“Bukan jamnya yang berhenti, Mas.”

Aku melihat wajahnya dengan heran.

“Lantas?”

“Waktu yang berhenti,” diiringi sungging senyum manisnya. Lalu dia mengambil  serbet kotak-kotak yang berada di saku celemek. Kemudian menyeka permukaan meja di depan kami.

“Aku tahu. Tapi apa maksudmu sesungguhnya?”

“Waktu yang mengajarkan pada kita bahwa hidup itu misteri. Waktu pula yang membelenggu kita agar tak kuasa membongkar misteri itu sendiri. Padahal Mas tahu sendiri ‘kan rasa penasaran manusia tak pernah ada ujungnya. Ingin tahu ini dan itu, semua. Tuhan menyediakan. Manusia cukup menikmatinya.”

Kuteguk kopi hitam yang suhu panasnya mulai turun.

“Mas, tahu? Kurun waktu yang tercipta di semesta berakhir pada satu tujuan yang memiliki dua cabang. Pertama, waktu yang mengejar kita. Atau kedua, sebaliknya, kita yang mengejarnya.”

Aku mengangguk, memperhatikan.

“Jika kita memilih opsi pertama, jelas kita bukan orang yang cerdas. Efisiensi waktu tidak ada. Pilihan pada sesuatu yang harus diprioritaskan pun mungkin hanya sekedar memilih tanpa pikir panjang. Kita bakal merugi jika memilih waktu yang mengejar kita, Mas.”

Aku diam.

“Namun, ketika kita memilih pilihan kedua, dengan kata lain kita memiliki waktu. Kita akan sadar bahwa waktu butuh prioritas. Membuat kita sadar ada sesuatu yang mahapenting yang harus kita dahulukan ketimbang perkara kecil yang bisa dibesar-besarkan. Baik karena emosi sesaat atau bahkan dengan pikiran kosong sekalipun.”

“Maksudmu apa, Ndah?”

“Mas, cintailah hidupmu dengan membagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali ke orang-orang yang kamu sayangi, pun yang balik menyayangimu. Kamu sudah cukup lama tidak bercengkerama dengan mereka. Seolah temanmu hanya benda mati dalam bentuk koin dan lembaran yang tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki.” 

Aku terdiam sejenak.

“Mas pasti paham jika sesuatu itu adalah …”

“Waktu,” kami berucap bersamaan.

Kedua mata kami bertatapan. Lebih tepatnya aku yang menatapnya lama. 

“Ada yang berhak dengan waktumu. Sebelum semuanya terlambat, Mas.” kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.

Tiba-tiba dari arah dapur terdengar teriakan.

“Mas-mas! Kesini sebentar, Mas!”

Aku berjingkat dari kursi dengan kaget. Menyenggol lengan Indah sebagai kode agar dia turut serta bersamaku ke asal suara itu muncul. Tapi Indah tak bergerak selangkahpun. Dia hanya berdiri dan tersenyum. Dan aku meninggalkannya.

Dapur terlihat baik-baik saja. Oven masih menyala sempurna, berisi adonan roti yang mulai matang mengembang. Yang membuat aneh hanya keberadaan dua orang yang sama-sama tak melepas pandangannya dari tayangan bergerak dalam televisi.

“Mas, lihat ini!” Rein memintaku mendekat kepadanya.

Buru-buru kudekati. Telunjuk Rein menuntun kedua mataku ke arah pendar sinar bersuara yang muncul dari layar kaca datar. Terlihat kobaran api berwarna merah-oranye, menjilat-jilat, bergulung-gulung. Dibarengi dengan kepulan asap hitam yang keluar dari suatu bangunan.

“Keraskan suaranya!” perintahku.

Agus yang membawa remote control TV dengan sigap memencet salah satu tombolnya. Suara seorang reporter laki-laki dengan latar belakang keriuhan warga dan bunyi sirine mobil pemadam kebakaran merebak seisi dapur.

“Polisi masih belum bisa memastikan asal-muasal ledakan yang terjadi sekitar pukul lima pagi tadi. Dugaan sementara karena kebocoran LPG dari salah satu kamar penghuni kos. Selain kobaran api, ledakan ini juga memicu kebocoran pipa air akibat kerusakan yang ditimbulkan. Kondisi ini sekaligus mematikan aliran listrik di seluruh bangunan. Tidak menutup kemungkinan arus pendek terjadi. Belum diketahui berapa jumlah korban jiwa. Namun, pemadam kebakaran telah menemukan beberapa jenazah yang langsung dievakuasi oleh tenaga medis setempat ke rumah sakit terdekat. Akibat peristiwa ini, diperkirakan kerugian materi mencapai ratusan juta rupian. Sekian laporan kami langsung dari Kebalen Kulon, Surabaya. Kembali ke studio.”

Aku tertegun. 

Rumah kos Kebalen Kulon. Aku familiar dengan nama itu. Tapi aku lupa.

“Kos-nya Indah, Mas?” mata Agus mulai berkaca-kaca.

“Indah?”

“Indah tinggal di kos itu, Mas. Aku pernah menjemputnya di sana,” lanjut Rein. Getaran terlihat dari bibirnya.

“Dan dia belum datang ke kafe pagi ini,” tubuh Agus terhuyung membentur lemari kaca berisi piring dan gelas di belakangnya.

“Jangan bercanda kalian. Aku baru saja berbicara dengannya di depan,” tegasku.

Mereka berdua bertatapan.

Aku tertegun sesaat.

Kuberlari ke arah depan kafe. Sempat menabrak pinggiran pintu dan membuat siku tanganku sedikit nyeri. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin memastikan bahwa Indah tadi benar-benar ada denganku. Bersamaku.

Tapi ternyata.

Tidak ada Indah pagi ini.

Tidak berada di tempat dimana kutinggalkan dia.

Tidak berdiri tersenyum kepadaku seperti terakhir kali aku melihatnya.

Hanya celemeknya yang teronggok diam di atas meja.

Ditemani secangkir kopi milikku.

Pagi ini berbeda, ada pesan tertinggal, dari yang pergi namun tetap di hati.

 

Mei 2018. Mengenang kembali kebakaran rumah kos dua lantai di Kebalen Kulon, Surabaya. Semoga arwah korban yang meninggal tenang di sisi-Nya. Amien.

Standard
Coretan

Broomates

“Cuk panas, neroko bocor!” umpat Rangga. Membanting tas selempangnya di atas kasur, melepas kaos, disusul sebatang rokok dari sakunya yang berpindah ke mulut. Dan dimulai lah ritual pengasapan di dalam kamar. Aku yang kala itu baru muncul di kamar sehabis mandi, kebetulan kamar mandi ada di luar kamar, kembali komplain dengan ulahnya.
“Wis ngerti panas, malah nyebul di kamar! Ke depan sana lho!” umpatku dengan nada tinggi.
“Santai ae, Pak! Iki yo kamarku,” balasnya.
“Kita wis bikin perjanjian bakal gak ada asap rokok di kamar selama tiga bulan ini. Monggo kalau mau ngerokok, tapi di luar!”
“Kok nyolot?!” pekiknya sambil berdiri dan melemparkan puntung rokoknya keluar kamar.
“Jelas! Karena ada pelanggaran perjanjian. Kita dhewe yang bikin, bukan bikinan pemerintah, bukan bikinan pak lurah, paham?”
“Kowe sok sehat, Pak! Sok taat aturan!”
“Ada masalah?”
“Kowe gak ada masalah! Aku yang bermasalah! Puas?”
“Baru sadar?”
“Raimu!” kepalan tinjunya meluncur ke pelipisku. Namun dihentikan tiba-tiba.
“Ambil tempat ini. Silakan. Besok aku keluar!”
Aku diam. Mata berapi-api kami masih saling bertatapan. Tajam.
“Kowe egois!” Telunjuknya menancap di dadaku.
“Egois dari mana? Opo maksudmu?”
“Bah!” Secepat kilat dia kembali memakai kaosnya, mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar kamar. Menutup adegan perang mulut kala itu dengan dentaman suara pintu yang dibanting. Aku mengikutinya keluar kamar, dia sudah menghilang. Berbelok meniti anak tangga menuju ke lantai bawah. Setelah itu aku melihat beberapa kepala manusia muncul dari pintu-pintu deretan kamar yang terbuka tiba-tiba. Banyak mata menatapku dengan beragam prasangka. Antara simpati dan penasaran. Salah satunya menegurku dengan lisan.
“Lo nggak apa-apa, Bro?” tanya salah satu teman kos yang berasal dari Jakarta.
Aku mengangguk. Kemudian kembali ke dalam kamar yang udaranya makin panas dan pengap. Seperti hasil hati dua orang manusia yang sama-sama terbakar hebat di dalamnya. Aku juga mulai tidak betah tinggal di kamar ini, apalagi di kota ini. Bangsat.
Keesokan harinya, sekitar pukul 9.00 malam aku baru sampai kamar kos. Tugas kuliah dan acara kemahasiswaan ini-itu yang digelar di awal semester pertama cukup menyita waktu dan tenaga. Rencanaku malam itu setelah pulang kuliah adalah menemui Rangga dan membicarakan masalah yang sempat membuat kami bertengkar hebat secara baik-baik. Semalam sepertinya dia menginap di tempat temannya. Dan mungkin saja malam ini dia sudah kembali ke kos. Kalau malam hari biasanya dia mampir ke kamar Gilang, berjarak tiga kamar dari kamar kami. Gilang adalah teman satu jurusannya yang kebetulan satu kos dengan kami. Ketika aku melewati koridor lantai dua, kamar Gilang terlihat gelap. Artinya si penghuni belum ada di dalamnya atau sudah tidur. Juga menjadi pertanda bahwa Rangga seharusnya ada di kamar kami. Semuanya asal tebak, karena satu hari itu aku tidak melihatnya di lorong-lorong kampus, tidak pula menghubunginya via SMS atau telepon. Namun yang terjadi malah diluar dugaanku. Ketika kubuka pintu kamar, kemudian menyalakan lampu, mataku melihat pemandangan yang ganjil. Ada beberapa barang yang lenyap dari tempatnya. Gantungan baju di belakang pintu pun mendadak hanya tertinggal celana kain dan beberapa helai kaos. Pun semuanya milikku. Buku-buku di rak, colokan listrik dan kipas angin, bahkan tempat sepatu pun masih ada luangnya. Biasanya full dengan sepatu, kaos kaki, dan sandal. Lagi-lagi semua benda yang tertinggal di kamar adalah milikku. Di dalam lemari pakaian, juga hanya ada pakaian dan dolumen-dokumen lain yang semuanya milkku. Rangga sudah pindah. Sepertinya tadi pagi, siang, atau sore. Tanpa kabar. Tanpa memberitahuku atau pamit sekalipun.
“Tadi siang Rangga bawa koper dan barang-barangnya keluar, Bas!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Amir, penghuni kamar sebelah. “Dia sudah pamitan ke beberapa teman yang ada di kos ini. Saat kusinggung gimana kabar kalian berdua, eh mukanya kecut, nggak enak dilihat, kayaknya sih masih …”
“Kayaknya seperti itu,” aku memotong perkataannya.
Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat.
“Eh tapi sekarang ‘kan kamu lumayan punya kamar sendiri, nggak perlu perang lagi, bebas, ya nggak?” tanya Amir dibarengi dengan seringai tawa.
Aku menolehnya sesaat. Melempar sunggingan senyum terpaksa kepadanya.
“Err… Eh aku balik kamar ya, Bas,”

21.35 Aku: Mau diajak ngobrol eh malah ngilang Pak? Hehehe 😀
21. 47 Aku: Sorry yo Pak 🙂 Dpt kos dmn skg?
21. 51 Aku: Ati-ati, Ngga. Thx yo.

00.13 Rangga: OK

Standard
Cerita

Pamit

Masuk awal musim kemarau membuat semburan air di mata air Sumber Bedug mengecil. Alirannya tertampung di beberapa petak kecil terbuat dari bebatuan yang sengaja dibangun untuk keperluan mandi dan cuci warga. Selain itu, juga digunakan untuk mengairi lahan persawahan dan perladangan yang terbentang di sepanjang jalur aliran. Jalur itu kemudian membentuk anak kali yang bercabang-cabang. Mengular memasuki hutan yang selanjutnya tumbuh peradaban manusia berupa desa-desa.

Air yang keluar dari mata air Sumber Bedug adalah salah satu penyumbang debit air di ujung anak kali yang bergabung dengan debit besar di sungai Brantas. Mengalir membelah sebagian daratan pulau Jawa dari Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, kemudian bercabang dan melewati Surabaya hingga bermuara di arus laut lepas. Dari peradaban manusia yang muncul di sepanjang alirannya, keberadaan mata air Sumber Bedug memiliki banyak arti. Khususnya warga dari tiga desa yang lokasinya bersinggungan langsung dengan letak mata air itu. Sebagian besar dari mereka yang mengolah sawah dan ladang sebagai matapencahariannya, menikmati pengairan cuma-cuma dari Sumber Bedug. Sementara mereka yang menjual tanaman hias dan memiliki kebun sayur, air tanah yang juga berpusat dari mata air yang sama, menjadi sumber daya alam Illahi yang mudah diperoleh tanpa tawar-menawar.

Mengacu pada denah lokasi, hak kepemilikan Sumber Bedug sah dikelola oleh desa Bedug. Namun manfaat keberadaannya dapat dinikmati oleh dua desa lainnya, yaitu desa Rembang dan desa Kepuh. Dua desa yang juga berbatasan langsung dengan letak mata air tersebut. Keberadaan titik pusat semburan Sumber Bedug, atau yang warga desa disebut dengan istilah belig, diapit oleh tiga desa itu. Seolah menjadi titik yang berada di bagian tengah segitiga. Masing-masing sisi segitiganya adalah jalan utama milik setiap desa. Hanya saja untuk pintu gerbang sekaligus prasasti batu yang menancap kuat di depan gapura, terukir nama Sumber Bedug. Bertuliskan sejarah singkatnya dengan bahasa Indonesia ejaan lama. Menyatakan bahwa mata air itu terhampar di tanah desa Bedug, milik warga Bedug.

Deru sepeda motor bebek milik Wahyu membising di sepanjang jalan utama desa Kepuh yang beraspal makadam. Permukaannya bergelombang dan berkerikil dengan kontur aspal yang belum sempurna digilas mesin drum roller. Teronggok pula beberapa tong besar berisi lelehan cair berwarna hitam yang mulai mengering dengan bau khas mencemari tanah dan udara di sekitarnya. Cairan aspal yang entah sudah selesai dipakai atau belum, dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Menguarkan bau khas menyengat yang Asap putih sepeda motor Wahyu yang dikendarainya tiba-tiba menebal seiring muncul suara aneh yang berbunyi dari mesin kendaraannya. Tepat ketikan dia melewati tong aspal yang letaknya tak jauh dari tembok tinggi besar dengan kawat berduri di bagian atas yang menjadi pagar belig. Dengan cekatan dia mematikan dan menyalakan kembali kendaraannya di bawah rindang pohon di luar tembok. Satu kali, dua kali, tidak ada hasil. Baru ketika masuk hitungan ketiga, kendaraan roda dua itu menyala normal. Disekanya keringat yang menderas di kening dan pelipisnya. Sepoi angin kering yang menggoyang dedauan dari pohon di atasnya, sedikit memberikan kesejukan. Dari luar tembok, Wahyu hanya bisa melihat bagian atas dan puncak rimbun pohon besar yang mungkin sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Sedangkan setengah badan ke bawah tertutup tembok tebal bercat putih kusam itu.

Dalam perjalanan ke rumah, Wahyu berkendara tanpa mengenakan penutup kepala. Rambut ikalnya berkibar terhempas angin. Digantungnya helm hitam yang kait kacingnya rusak di bagian setir sepeda motornya. Dia sering melakukan hal itu tiap kali melewati gapura besar bercat kuning kecoklatan yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di salah satu sisinya terukir gambar Garuda Pancasila lengkap dengan gambar warna-warni logo dari setiap sila. Di sisi lainnya tertulis besar-besar nama desa dengan huruf timbul berwarna hitam legam, Desa Kepuh. Menjadi satu-satunya jalan beraspal yang merupakan jalan masuk ke desanya dan berbatasan langsung dengan jalan kabupaten. Meski sangat jauh perbedaannya antara jalan aspal kabupaten dengan jalan aspal makadam yang terbentang sepanjang deretan rumah warga di desanya.

Helm hitam Wahyu menggantung dan bergoyang-goyang bersama dengan laju sepeda motor yang dikendarainya. Selepas dhuhur, seperti hari-hari lainnya, jalan utama desa Kepuh terlihat lengang. Sebagian besar penghuninya melakasanakan istirahat bedol desa. Hanya sesekali suara deru sepeda motor dan celotehan anak sekolah yang baru pulang, seperti Wahyu. Tak perlu dikomando, ditekannya pedal gas dengan ujung kaki kanannya lebih dalam lagi. Mumpung sedang sepi, pikirnya. Tidak sampai 500 meter, cabang pohon keres di depan rumahnya terlihat. Khas rumah desa, halaman rumahnya cukup luas. Selain pohon keres di depan pagar, di adalamnya terdapat pula satu pohon mangga besar dan deretan pohon palem serta beragam tanaman perdu baik yang berpot atau ditanam langsung di tanah.

Terik matahari siang dengan udara kering dan panas, membuat Wahyu segera melepaskan sepatunya dan ditaruh di depan bibir pintu rumah. Tali-tali sepatunya yang terpilin tak beraturan membuat sepatu hitam lusuh dengan beberapa jahitan itu agak sukar dilepas. Tanpa pikir panjang, Wahyu menekan bagian tumit kaki kirinya dengan ujung kaki bagian kanan. Dengan sedikit hentakan, lepas sudah sepatu bagian kiri. Pun dilakukannya pada sepatu bagian kanan. Kaos kaki putihnya yang kumal dan berbau tengik, tak lama teronggok diam menumpuk berantakan tak jauh dari sepasang sepatu lusuh di sampingnya.

“Assalamu’alaikum!” teriaknya tanpa jawaban. Disempatkannya menengok jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul 1.25 ketika dia berjalan memasuki kamar. Ditaruhnya tas ransel yang resletingnya tak menutup sempurna di atas kasur. Sementara jam tangannya digeletakkan di atas bantal. Wahyu tak melepas seragam putih abu-abunya dan langsung bergegas menuju dapur. Dahaga tak bisa ditahan lagi. Perutnya sejak tadi berteriak minta diisi. Sesaat kemudian tangannya memegang leher kendi. Tanpa menuangkannya ke dalam gelas, dikucurkannya air ke arah mulutnya lekas-lekas. Air putih bening mengucur deras ke rongga mulutnya. Rasa segarnya terasa melegakan meski sedikit rasa tanah. Tapi itulah air putih khas desa hasil rebusan dari belig Sumber Bedug yang mengalir di bawah hamparan rumah-rumah penduduk. Kesegarannya membuat rasa pahit di mulut Wahyu perlahan lenyap. Cegukan kecil muncul. Dia berdehem, kemudian melenguh sambil berkata, “Suegerrrr!”

Di dapur, sebelum menghampiri meja makan, Wahyu berharap semoga hari ini ibunya memasak lodeh kacang panjang atau urap dengan lauk ikan pindang kesukaannya. Namun yang ada dibalik tudung saji plastik berwarna biru gelap dengan banyak cuilan itu, yang ditemuinya hanya sebakul nasi yang tak lagi hangat. Satu mangkuk sambal pecel lengkap dengan rebusan sayur kacang panjang, bunga turi, dan bayam. Serta sepiring irisan tempe tipis-tipis yang digoreng agak gosong. Masih menguarkan uap panas. Seperti baru saja ditiriskan dari penggorengan. Dia mendesah, “Pecel tempe lagi.” Meski begitu, teriakan rongga lambungnya tak bisa menunggu lama. Air liurnya mengalir deras seiring bau sambal dan wanginya tempe goreng. Sesaat kemudian tangannya sibuk memuluk nasi bersambal dan mulutnya tak henti mengunyah. Sambal pecel yang diracik dan diolah ibunya memang terkenal pedas dan nikmat. Pedasnya bikin kapok lombok, saking pedasnya malah semakin nikmat dan membuatnya makin ketagihan. Bagian dada dan punggung seragamnya basah karena keringat. Sesekali bagian punggung telapak tangannya menyeka peluh yang merembes di keningnya. Udara kering dan panas awal musim kemarau ikut berpadu bersama pedasnya sambal pecel. Wahyu terbakar.
“Ojo kesusu, Yu, keseleg lho nanti!” pinta ibunya yang tiba-tiba masuk ke dapur lewat pintu belakang. Ditangannya tergenggam sebonggol kacang panjang yang baru saja diguyur air
“Enak, Buk! Maknyos! Ssshh… Sssshh…” jawabnya cepat sambil mendesiskan mulutnya akibat rasa pedas yang menjalar hebat di permukaan lidahnya.
“Enak ya enak, tapi kalau makanmu terburu-buru begitu, siap-siap saja …”
“Ughk! Ughk! Buk, air! Minta air!” teriak Wahyu sambil meringis kesakitan. Tangan kirinya menepuk-nepuk leher, tepat dibagian jakunnya. Ada sejenis udara panas yang merangsung ke rongga tenggorkan yang kemudian mampir ke lubang hidungnya.
“Ibuk belum selesai ngomong lho, Yu! Nih minum!” Ibunya tanggap dan langsung menyerahkan segelas air putih kepadanya.

Seteguk dua teguk cairan dingin berhasil mengurangi rasa pedih dan panas di rongga hidung Wahyu. Ibunya ingin tertawa, tapi segera ia urungkan niatnya. Hanya tersenyum dan menaruh wajah prihatin terhadap tingkah laku anak keduanya. Wahyu kembali melanjutkan menikmati makanannya ketika tangan ibunya sibuk mengiris kacang panjang di atas telenan. Seperempat bagian telah terkumpul di dalam marang, wadah plastik berongga bekas tempat makanan dari suatu hajatan atau hantaran, yang diletakkan di atas meja. Mereka berdua duduk berhadapan terpisahkan oleh meja makan kecil.
“Lho, kacang panjangnya mau direbus lagi ya, Buk?” tanya Wahyu di tengah-tengah konsentrasi mengadu mulut dengan isinya.
“Iya Yu. Tadi Ibu belinya agak banyak. Mbak Rin kesiangan dagang sayurnya. Daripada tidak laku, dijual murah ke ibu. Ya sekalian saja diiriis, nanti abis maghrib ibu masak lodeh kacang panjang kesukaanmu,” jelasnya.
“Wuihhh! Alhamdulillah! Doyan, Buk!” ucapnya girang.
“Jadi bisa dibuat makan sampai besok. Ibuk bisa langsung ke kantor desa pagi-pagi.”
“Ada acara apa, Buk?”
“Di undangannya tertulis rapat giat warga, tapi ibu belum tahu giat warga apa,” jelasnya.
Wahyu mengangguk tenang. Di dalam hatinya dia senang sekaligus bangga terhadap ibunya, orang tua satu-satunya yang masih sehat dan memiliki banyak aktivitas. Dulu ketika ayahnya masih ada, ibu Wahyu murni hanya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Kesibukannya hanya mengurus rumah dan keluarga, sesekali menikmati menanam tanaman hias yang bisa dijual sebagai pemasukan tambahan. Suaminya, ayah Wahyu, tidak terlalu menuntut banyak karena kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi dari gaji PNS yang tidak pernah terlambat sampai ke tangan setiap bulannya. Tapi semua berubah setelah kematian ayah Wahyu. Ibunya yang sempat terombang-ambing psikisnya selama lebih kurang satu bulan, mencoba menghidupkan kembali keterpurukannya.

Ima, Wahyu, Anis, dan Rizal yang sebelumnya sempat telantar dan kurang mendapat perhatian, bisa bernafas lega mendapati ibu mereka berangsur-angsur bangkit. Kini Ima tak harus sering-sering pulang ke rumah dan meninggalkan suaminya di Malang tiga hari dalam sepekan selama satu bulan penuh. Anis tak lagi sedikit-sedikit minta dijemput Wahyu di pondok pesantrennya di Pare. Salah seorang ustadzahnya sering mengirim SMS ke Wahyu tentang malam-malam Anis yang sering menangis di tempat tidur karena merindukan ayahnya, terlebih kepada ibunya. Dan si kecil Rizal yang masih duduk di sekolah dasar, bisa pergi sekolah seperti biasa tanpa harus diantar lagi oleh kakaknya atau dititipkan ke tetangga. Rutinitas ibunya tiap pagi muncul kembali. Sementara Wahyu, anak laki-laki tertua dalam keluarganya, tak henti mengagumi sosok ibunya yang bangkit dan sering tenggelam dalam kesibukannya. Mulai dari kegiatan-kegiatan desa, pengajian, sampai acara santunan di bulan suci, Wahyu tak pernah melihat ibunya absen. Antara bangga dan bahagia, bercampur menjadi satu. Apalagi mendekati ujian masuk perguruan tinggi, ketika mimpinya untuk kuliah di luar kota dan meninggalkan rumah, sudah ada di depan mata. Dan menjadi suatu kelegaan tersendiri baginya ketika ibunya cukup mandiri untuk ditinggalkan. Biarkan Anis yang gantian menemani sang ibu ketika dia masuk SMA nanti.

Sang ibu membalas dengan senyuman yang hanya sesaat. Kemudian memunculkan gurat wajah serius di hadapan Wahyu.
“Yu, ibuk mau ngomong sesuatu sama kamu,” tiba-tiba ibunya mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa bahwa percakapan ibu dan anak itu sedikit berubah rutenya. Bukan becanda lagi.
“Mau ngomong apa, Buk? Monggo silakan,”
“Ini tentang kuliahmu—“

Tit-tit-tit.
Tit-tit-tit.

Bunyi suara ponsel membuyarkan rona keseriusan yang mulai terbentuk. Wahyu buru-buru meninggalkan meja makan dan berlari ke arah sumur. Mengguyur telapak tangannya yang belepotan nasi, warna coklat sambal pecel, dan bercak kilau minyak dari tempe goreng, dengan air dari pancuran kran. Lalu menggosok-gosokkannya secara asal dan mencium telapak tangannya. Dia meringis, merasa masih bau. Tak apa lah, toh cuma akan memegang dan melihat pesan masuk di ponselnya saja, pikirnya. Dia kembali duduk di hadapan ibunya.
“Sebentar, Buk, nggih, ” ujarnya sambil merogoh saku celana abu-abu letak ponselnya berada.

Sang ibu menatapnya datar disertai gelengan kepala. Wahyu membalasnya dengan memasang tampang cengengesan tanpa dosa. Hanya sekian detik berselang, setelah itu jemarinya sibuk memencet tombol-tombol ponsel Siemens yang layarnya berwarna oranye hingga terdengar bunyi tak-tak-tak. Menuju fitur pesan. Satu pesan masuk, dari Amir.

Amir : abs ashar ktm d sumber lgsg le
Wahyu : aman le
Amir : ibuk msak opo?
Wahyu : sambal pecel lauk tempe maknyos, mau?
Amir : bungkus
Wahyu : sip

Wahyu menaruh ponselnya di atas meja. Masih berhadapan dengan sang ibu, dia mulai membuka percakapan yang tadi sempat tertunda. Disertai telapak tangannya yang kembali sibuk melanjutkan memuluk kembali makan siang yang belum habis dilahapnya.
“Monggo dilanjut, Buk. Tadi sampai mana?” tanyanya.
“Sampai mana gundulmu. Mulai saja belum,” balas sang ibu berseloroh.
“Owalah belum to? Yo dimulai to, Buk! Hahaha!” mulutnya mengunyah pulukan nasi-sambel-tempe untuk kesekian kalinya.
“Ibuk serius ini, Yu. Ini tentang kuliahmu.”
“Tes seleksi masuk perguruan tinggi masih sekitar dua minggu lagi, Buk. Nilai ujian akhir Wahyu juga lumayan, Insha Alloh bisa lah diterima di PTN Surabaya. Paling mentok ya di Malang. Bismillah saja, Buk!” pintanya.
“Kenapa harus di Surabaya, Yu? Mbok ya di Kediri saja, ada kampusnya juga. Apalagi ndak jauh pula dari pesantrennya, Lek Kri.”
“Kok bawa-bawa pesantrennya Lek Kri, Buk? Lek Kri ‘kan emang dikuliahin gratis dan ngajar disitu? Ndak ada hubungannya dengan kuliahnya Wahyu nanti,” balas Wahyu heran.
“Tapi lek-mu itu juga lulus kuliah dan langsung ngajar, Yu! Langsung kerja! Kamu bisa belajar dari dia,” timpal ibunya.
“Almarhum bapak dhawuh kalau Wahyu harus kuliah, Buk. Bapak juga mengiyakan kalau Wahyu bisa kuliah di Surabaya. Kalau urusan belajar ke siapa, di Surabaya malah banyak. Insha Alloh Wahyu tekun dan bisa jadi orang kantoran yang sukses nanti,’’ dirinya membela.

Percakapan itu berubah sunyi di saat Wahyu mengambil piring dan berjalan menuju sumur. Dibersihkannya piring itu hingga bersih dengan sabun. Telapak tangannya yang masih menyisakan busa sabun, tak lupa pula ikut dibersihkannya. Setelah dirasa cukup bersih, air tanah yang keluar dari pancuran kran menjadi pembasuhnya. Kemudian dia kembali lagi ke meja makan. Mengambil lap yang ditaruh serampangan tak jauh dari tudung saji. Mengeringkannya. Mencium telapak tangannya kembali. Memastikannya bersih dan berbau wangi sabun Wings. Ibunya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Wahyu.
“Buk, Amir minta makan. Barusan tadi SMS,”
“Lho, ambil kertas minyak di laci itu, sini ibuk yang bungkusin! Jangan lupa karet gelangnya, Yu!””
Wahyu kembali duduk di berhedapan dengan ibunya sambil menyerahkan dau lembar kertas minyak dan karet gelang berwarna kuning ke ibunya. Dengan cekatan tangan ibunya membuat kertas tersebut berbentuk seperti mangkuk yang siap ditampungi makanan.
“Segini Amir cukup?” tangan ibunya memegang bungkusan terbuka berisi nasi.
“Cukup, Buk.”
“Biaya perkawinan mbakmu kemarin, daftar ulang sekolah adik-adikmu bulan depan, Ibuk khawatir ndak sanggup membiayai kuliahmu, Yu.” ucap ibunya sambil meletakkan bungkusan kertas minyak berisi nasi putih. Lalu melanjutkan kembali membuat bungkusan di kertas minyak kedua yang selanjutnya diisi dengan sambal pecel dan tempe goreng. “Ini cukup, Yu?” satu bungkusan kembali tersodor tak jauh dari hidung Wahyu. Wahyu melihatnya, kemudian mengangguk.
“Padahal Wahyu sudah ndak ikut study tour SMA lho, Buk. Wahyu pikir kalau uangnya disimpan, bisa lumayan untuk tambah-tambah biaya daftar ulang kuliah Wahyu nanti. Tapi ya ndak kuliah di Kediri meski sama-sama pakai biaya, Buk.”
“Lek Kri-mu bisa bantu agar kamu bisa dapat beasiswa kuliah dan lanjut mengabdi seperti dia,”

Seolah gelegar menyambar gendang telinganya, mengepulkan api di hatinya, dan membakar ubun-ubun kepalanya di waktu bersamaan. Wahyu tertegun sejenak. Menatap ibunya yang sibuk mengikat bungkusan terakhir dengan karet gelang. Kemudian mereka berdua saling berpandangan.

“Ya ndak bisa gitu, Buk? Sebelum wafat, bapak sudah bilang kalau ada dana untuk kuliah Wahyu. Sudah sejak lama Wahyu ingin ke Jakarta. Tapi kemarin Mbah Putri melarang. Mending kuliah yang dekat-dekat saja agar Wahyu sering pulang ke rumah. Kalau Jakarta ndak bisa, ya Wahyu pikir Surabaya cukup lah jadi kota kedua tempat Wahyu belajar. Kediri-Surabaya ‘kan cuma 3-4 jam perjalanan saja. Dan Ibuk sendiri juga tahu kalau Bapak juga bilang bahwa anak lanang itu langkahnya harus jauh. Jangan cuma mbulet saja di kampung. Mbak Ima pun kuliah di Malang sampai lulus. Setelah nikah juga pindah ke Malang. Masa Wahyu di sini saja, Buk?” jelasnya panjang lebar.
“Tapi sekarang kondisinya berbeda, Yu!” timpal ibunya.
“Pokoknya selepas SMA Wahyu ndak mau tinggal di sini lagi.”
“Bapakmu sudah tidak ada. Tinggal kamu anak laki-laki paling tua di rumah ini. Pikirkan mbakmu dan adik-adikmu, Yu!” pinta ibunya.
“Mbak Ima sudah dipikirin sama suaminya. Kata ibuk biaya sekolah Nisa dan Aris sudah disiapkan bapak sampai mereka lulus sekolah. Bahkan kuliah kalau memang ada rezeki. Terus siapa yang memikirkan masa depan Wahyu kalau tidak Wahyu sendiri, Buk?”
“Hutang almarhum bapakmu banyak.”
“Hutang ke siapa, Buk?”
“Ndak bisa ibuk jelasin sekarang. Suatu hari kamu pasti akan tahu, Yu?”
“Lho katanya Wahyu anak laki-laki tertua di rumah ini, gantinya bapak, ya Wahyu harus tahu lah bapak hutang apa? Ke siapa?”
“Pokoknya ibu ndak bisa ngasih tahu kamu sekarang.” ibunya tetap bertahan.
Wahyu terdiam sejenak. Pikirannya diperas oleh rasa penasaran tentang rahasia apa yang disembunyikan wanita itu darinya. Dia ingat-ingat kembali orang-orang yang dekat dengan ayahnya selama ini. Isi otaknya menerawang jauh ke puing-puing momen ketika beberapa kawan ayahnya mampir ke rumah. Tak semua dikenalnya dengan baik. Hanya beberapa saja, itu pun dia hampir susah mengingat wajah dan nama masing-masing. Beberapa di antaranya juga terlihat saat melayat ke rumah ketika ayahnya dikafani dan berbaring diam di ruang tamu sebelum disholati oleh orang banyak. Menjabat tangannya dan mengucapkan kalimat bela sungkawa sekedarnya saja. Tapi ada satu orang teman dekat ayahnya yang dia kenal baik, Pakdhe Mukhlis, tinggal di Surabaya. Terakhir bertemu di hari raya Idul Fitri setahun lalu.
“Bapak itu anak orang yang disegani di desa ini ‘kan, Buk? Mbah Dayat, kyai Dayat, pasti bohong besar jika bapak punya hutang banyak ke orang. Iya ‘kan Buk? Pesta pernikahan putri pertamanya saja begitu meriah!” sangkal Wahyu.
“Nama besar yang disanjung tidak selalu menjanjikan materi berlimpah, Yu. Terakhir bapakmu hanya meninggalkan rumah ini dan sepetak sawah di belakang rumah. Itu saja yang bisa diolah selain gaji pensiunannya yang ibu gunakan untuk membayar hutang. Dan setelah pesta pernikahan mbakmu dulu, ibu semakin tidak yakin akan bisa menyekolahkan kamu dan adik-adikmu sampai lulus kuliah seperti harapan almarhum bapakmu.”
“Jadi duit kawinan itu pakai duit hutang? Buat gaya-gayaan saja, begitu?” sontak Wahyu kaget bukan kepalang.
“Bukan-bukan itu, Yu! Pokoknya ibu belum bisa memberitahu kamu sekarang. Ibu hanya berharap besar kamu mau membantu keluarga ini.”
Wahyu kembali terdiam.
Ibunya melakukan hal yang sama.
“Dosa besar kalau Wahyu membantah permintaan ibuk.” dia menggelengkan kepalanya. “Ya dilihat nanti saja lah, Buk!” ujarnya sambil memasukkan dua bungkusan kertas minyak yang telah diikat karet gelang ke dalam tas kresek hitam.
 “Dilihat apanya, Yu?”
 “Ya dilihat hasil tes seleksinya nanti, Buk? Wahyu diterima masuk ke PTN idaman Wahyu atau tidak. Kalau tidak, Wahyu bakal nurut apa kata Ibuk. Tapi kalau Wahyu diterima, maka Wahyu akan tetap pergi dari rumah meski tanpa biaya,”
Ibunya tertegun melihat tekad anaknya yang tak bisa dicegah. Sembari membereskan irisan kacang panjangnya yang sempat terbengkalai, ibunya menyisipkan pertanyaan sebelum Wahyu menghilang dari pandangannya.
“Pergi kemana, Yu?”

Standard