Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Advertisements

Pamit

Masuk awal musim kemarau membuat semburan air di mata air Sumber Bedug mengecil. Alirannya tertampung di beberapa petak kecil terbuat dari bebatuan yang sengaja dibangun untuk keperluan mandi dan cuci warga. Selain itu, juga digunakan untuk mengairi lahan persawahan dan perladangan yang terbentang di sepanjang jalur aliran. Jalur itu kemudian membentuk anak kali yang bercabang-cabang. Mengular memasuki hutan yang selanjutnya tumbuh peradaban manusia berupa desa-desa.

Air yang keluar dari mata air Sumber Bedug adalah salah satu penyumbang debit air di ujung anak kali yang bergabung dengan debit besar di sungai Brantas. Mengalir membelah sebagian daratan pulau Jawa dari Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, kemudian bercabang dan melewati Surabaya hingga bermuara di arus laut lepas. Dari peradaban manusia yang muncul di sepanjang alirannya, keberadaan mata air Sumber Bedug memiliki banyak arti. Khususnya warga dari tiga desa yang lokasinya bersinggungan langsung dengan letak mata air itu. Sebagian besar dari mereka yang mengolah sawah dan ladang sebagai matapencahariannya, menikmati pengairan cuma-cuma dari Sumber Bedug. Sementara mereka yang menjual tanaman hias dan memiliki kebun sayur, air tanah yang juga berpusat dari mata air yang sama, menjadi sumber daya alam Illahi yang mudah diperoleh tanpa tawar-menawar.

Mengacu pada denah lokasi, hak kepemilikan Sumber Bedug sah dikelola oleh desa Bedug. Namun manfaat keberadaannya dapat dinikmati oleh dua desa lainnya, yaitu desa Rembang dan desa Kepuh. Dua desa yang juga berbatasan langsung dengan letak mata air tersebut. Keberadaan titik pusat semburan Sumber Bedug, atau yang warga desa disebut dengan istilah belig, diapit oleh tiga desa itu. Seolah menjadi titik yang berada di bagian tengah segitiga. Masing-masing sisi segitiganya adalah jalan utama milik setiap desa. Hanya saja untuk pintu gerbang sekaligus prasasti batu yang menancap kuat di depan gapura, terukir nama Sumber Bedug. Bertuliskan sejarah singkatnya dengan bahasa Indonesia ejaan lama. Menyatakan bahwa mata air itu terhampar di tanah desa Bedug, milik warga Bedug.

Deru sepeda motor bebek milik Wahyu membising di sepanjang jalan utama desa Kepuh yang beraspal makadam. Permukaannya bergelombang dan berkerikil dengan kontur aspal yang belum sempurna digilas mesin drum roller. Teronggok pula beberapa tong besar berisi lelehan cair berwarna hitam yang mulai mengering dengan bau khas mencemari tanah dan udara di sekitarnya. Cairan aspal yang entah sudah selesai dipakai atau belum, dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Menguarkan bau khas menyengat yang Asap putih sepeda motor Wahyu yang dikendarainya tiba-tiba menebal seiring muncul suara aneh yang berbunyi dari mesin kendaraannya. Tepat ketikan dia melewati tong aspal yang letaknya tak jauh dari tembok tinggi besar dengan kawat berduri di bagian atas yang menjadi pagar belig. Dengan cekatan dia mematikan dan menyalakan kembali kendaraannya di bawah rindang pohon di luar tembok. Satu kali, dua kali, tidak ada hasil. Baru ketika masuk hitungan ketiga, kendaraan roda dua itu menyala normal. Disekanya keringat yang menderas di kening dan pelipisnya. Sepoi angin kering yang menggoyang dedauan dari pohon di atasnya, sedikit memberikan kesejukan. Dari luar tembok, Wahyu hanya bisa melihat bagian atas dan puncak rimbun pohon besar yang mungkin sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Sedangkan setengah badan ke bawah tertutup tembok tebal bercat putih kusam itu.

Dalam perjalanan ke rumah, Wahyu berkendara tanpa mengenakan penutup kepala. Rambut ikalnya berkibar terhempas angin. Digantungnya helm hitam yang kait kacingnya rusak di bagian setir sepeda motornya. Dia sering melakukan hal itu tiap kali melewati gapura besar bercat kuning kecoklatan yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di salah satu sisinya terukir gambar Garuda Pancasila lengkap dengan gambar warna-warni logo dari setiap sila. Di sisi lainnya tertulis besar-besar nama desa dengan huruf timbul berwarna hitam legam, Desa Kepuh. Menjadi satu-satunya jalan beraspal yang merupakan jalan masuk ke desanya dan berbatasan langsung dengan jalan kabupaten. Meski sangat jauh perbedaannya antara jalan aspal kabupaten dengan jalan aspal makadam yang terbentang sepanjang deretan rumah warga di desanya.

Helm hitam Wahyu menggantung dan bergoyang-goyang bersama dengan laju sepeda motor yang dikendarainya. Selepas dhuhur, seperti hari-hari lainnya, jalan utama desa Kepuh terlihat lengang. Sebagian besar penghuninya melakasanakan istirahat bedol desa. Hanya sesekali suara deru sepeda motor dan celotehan anak sekolah yang baru pulang, seperti Wahyu. Tak perlu dikomando, ditekannya pedal gas dengan ujung kaki kanannya lebih dalam lagi. Mumpung sedang sepi, pikirnya. Tidak sampai 500 meter, cabang pohon keres di depan rumahnya terlihat. Khas rumah desa, halaman rumahnya cukup luas. Selain pohon keres di depan pagar, di adalamnya terdapat pula satu pohon mangga besar dan deretan pohon palem serta beragam tanaman perdu baik yang berpot atau ditanam langsung di tanah.

Terik matahari siang dengan udara kering dan panas, membuat Wahyu segera melepaskan sepatunya dan ditaruh di depan bibir pintu rumah. Tali-tali sepatunya yang terpilin tak beraturan membuat sepatu hitam lusuh dengan beberapa jahitan itu agak sukar dilepas. Tanpa pikir panjang, Wahyu menekan bagian tumit kaki kirinya dengan ujung kaki bagian kanan. Dengan sedikit hentakan, lepas sudah sepatu bagian kiri. Pun dilakukannya pada sepatu bagian kanan. Kaos kaki putihnya yang kumal dan berbau tengik, tak lama teronggok diam menumpuk berantakan tak jauh dari sepasang sepatu lusuh di sampingnya.

“Assalamu’alaikum!” teriaknya tanpa jawaban. Disempatkannya menengok jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul 1.25 ketika dia berjalan memasuki kamar. Ditaruhnya tas ransel yang resletingnya tak menutup sempurna di atas kasur. Sementara jam tangannya digeletakkan di atas bantal. Wahyu tak melepas seragam putih abu-abunya dan langsung bergegas menuju dapur. Dahaga tak bisa ditahan lagi. Perutnya sejak tadi berteriak minta diisi. Sesaat kemudian tangannya memegang leher kendi. Tanpa menuangkannya ke dalam gelas, dikucurkannya air ke arah mulutnya lekas-lekas. Air putih bening mengucur deras ke rongga mulutnya. Rasa segarnya terasa melegakan meski sedikit rasa tanah. Tapi itulah air putih khas desa hasil rebusan dari belig Sumber Bedug yang mengalir di bawah hamparan rumah-rumah penduduk. Kesegarannya membuat rasa pahit di mulut Wahyu perlahan lenyap. Cegukan kecil muncul. Dia berdehem, kemudian melenguh sambil berkata, “Suegerrrr!”

Di dapur, sebelum menghampiri meja makan, Wahyu berharap semoga hari ini ibunya memasak lodeh kacang panjang atau urap dengan lauk ikan pindang kesukaannya. Namun yang ada dibalik tudung saji plastik berwarna biru gelap dengan banyak cuilan itu, yang ditemuinya hanya sebakul nasi yang tak lagi hangat. Satu mangkuk sambal pecel lengkap dengan rebusan sayur kacang panjang, bunga turi, dan bayam. Serta sepiring irisan tempe tipis-tipis yang digoreng agak gosong. Masih menguarkan uap panas. Seperti baru saja ditiriskan dari penggorengan. Dia mendesah, “Pecel tempe lagi.” Meski begitu, teriakan rongga lambungnya tak bisa menunggu lama. Air liurnya mengalir deras seiring bau sambal dan wanginya tempe goreng. Sesaat kemudian tangannya sibuk memuluk nasi bersambal dan mulutnya tak henti mengunyah. Sambal pecel yang diracik dan diolah ibunya memang terkenal pedas dan nikmat. Pedasnya bikin kapok lombok, saking pedasnya malah semakin nikmat dan membuatnya makin ketagihan. Bagian dada dan punggung seragamnya basah karena keringat. Sesekali bagian punggung telapak tangannya menyeka peluh yang merembes di keningnya. Udara kering dan panas awal musim kemarau ikut berpadu bersama pedasnya sambal pecel. Wahyu terbakar.
“Ojo kesusu, Yu, keseleg lho nanti!” pinta ibunya yang tiba-tiba masuk ke dapur lewat pintu belakang. Ditangannya tergenggam sebonggol kacang panjang yang baru saja diguyur air
“Enak, Buk! Maknyos! Ssshh… Sssshh…” jawabnya cepat sambil mendesiskan mulutnya akibat rasa pedas yang menjalar hebat di permukaan lidahnya.
“Enak ya enak, tapi kalau makanmu terburu-buru begitu, siap-siap saja …”
“Ughk! Ughk! Buk, air! Minta air!” teriak Wahyu sambil meringis kesakitan. Tangan kirinya menepuk-nepuk leher, tepat dibagian jakunnya. Ada sejenis udara panas yang merangsung ke rongga tenggorkan yang kemudian mampir ke lubang hidungnya.
“Ibuk belum selesai ngomong lho, Yu! Nih minum!” Ibunya tanggap dan langsung menyerahkan segelas air putih kepadanya.

Seteguk dua teguk cairan dingin berhasil mengurangi rasa pedih dan panas di rongga hidung Wahyu. Ibunya ingin tertawa, tapi segera ia urungkan niatnya. Hanya tersenyum dan menaruh wajah prihatin terhadap tingkah laku anak keduanya. Wahyu kembali melanjutkan menikmati makanannya ketika tangan ibunya sibuk mengiris kacang panjang di atas telenan. Seperempat bagian telah terkumpul di dalam marang, wadah plastik berongga bekas tempat makanan dari suatu hajatan atau hantaran, yang diletakkan di atas meja. Mereka berdua duduk berhadapan terpisahkan oleh meja makan kecil.
“Lho, kacang panjangnya mau direbus lagi ya, Buk?” tanya Wahyu di tengah-tengah konsentrasi mengadu mulut dengan isinya.
“Iya Yu. Tadi Ibu belinya agak banyak. Mbak Rin kesiangan dagang sayurnya. Daripada tidak laku, dijual murah ke ibu. Ya sekalian saja diiriis, nanti abis maghrib ibu masak lodeh kacang panjang kesukaanmu,” jelasnya.
“Wuihhh! Alhamdulillah! Doyan, Buk!” ucapnya girang.
“Jadi bisa dibuat makan sampai besok. Ibuk bisa langsung ke kantor desa pagi-pagi.”
“Ada acara apa, Buk?”
“Di undangannya tertulis rapat giat warga, tapi ibu belum tahu giat warga apa,” jelasnya.
Wahyu mengangguk tenang. Di dalam hatinya dia senang sekaligus bangga terhadap ibunya, orang tua satu-satunya yang masih sehat dan memiliki banyak aktivitas. Dulu ketika ayahnya masih ada, ibu Wahyu murni hanya menjadi seorang ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Kesibukannya hanya mengurus rumah dan keluarga, sesekali menikmati menanam tanaman hias yang bisa dijual sebagai pemasukan tambahan. Suaminya, ayah Wahyu, tidak terlalu menuntut banyak karena kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi dari gaji PNS yang tidak pernah terlambat sampai ke tangan setiap bulannya. Tapi semua berubah setelah kematian ayah Wahyu. Ibunya yang sempat terombang-ambing psikisnya selama lebih kurang satu bulan, mencoba menghidupkan kembali keterpurukannya.

Ima, Wahyu, Anis, dan Rizal yang sebelumnya sempat telantar dan kurang mendapat perhatian, bisa bernafas lega mendapati ibu mereka berangsur-angsur bangkit. Kini Ima tak harus sering-sering pulang ke rumah dan meninggalkan suaminya di Malang tiga hari dalam sepekan selama satu bulan penuh. Anis tak lagi sedikit-sedikit minta dijemput Wahyu di pondok pesantrennya di Pare. Salah seorang ustadzahnya sering mengirim SMS ke Wahyu tentang malam-malam Anis yang sering menangis di tempat tidur karena merindukan ayahnya, terlebih kepada ibunya. Dan si kecil Rizal yang masih duduk di sekolah dasar, bisa pergi sekolah seperti biasa tanpa harus diantar lagi oleh kakaknya atau dititipkan ke tetangga. Rutinitas ibunya tiap pagi muncul kembali. Sementara Wahyu, anak laki-laki tertua dalam keluarganya, tak henti mengagumi sosok ibunya yang bangkit dan sering tenggelam dalam kesibukannya. Mulai dari kegiatan-kegiatan desa, pengajian, sampai acara santunan di bulan suci, Wahyu tak pernah melihat ibunya absen. Antara bangga dan bahagia, bercampur menjadi satu. Apalagi mendekati ujian masuk perguruan tinggi, ketika mimpinya untuk kuliah di luar kota dan meninggalkan rumah, sudah ada di depan mata. Dan menjadi suatu kelegaan tersendiri baginya ketika ibunya cukup mandiri untuk ditinggalkan. Biarkan Anis yang gantian menemani sang ibu ketika dia masuk SMA nanti.

Sang ibu membalas dengan senyuman yang hanya sesaat. Kemudian memunculkan gurat wajah serius di hadapan Wahyu.
“Yu, ibuk mau ngomong sesuatu sama kamu,” tiba-tiba ibunya mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa bahwa percakapan ibu dan anak itu sedikit berubah rutenya. Bukan becanda lagi.
“Mau ngomong apa, Buk? Monggo silakan,”
“Ini tentang kuliahmu—“

Tit-tit-tit.
Tit-tit-tit.

Bunyi suara ponsel membuyarkan rona keseriusan yang mulai terbentuk. Wahyu buru-buru meninggalkan meja makan dan berlari ke arah sumur. Mengguyur telapak tangannya yang belepotan nasi, warna coklat sambal pecel, dan bercak kilau minyak dari tempe goreng, dengan air dari pancuran kran. Lalu menggosok-gosokkannya secara asal dan mencium telapak tangannya. Dia meringis, merasa masih bau. Tak apa lah, toh cuma akan memegang dan melihat pesan masuk di ponselnya saja, pikirnya. Dia kembali duduk di hadapan ibunya.
“Sebentar, Buk, nggih, ” ujarnya sambil merogoh saku celana abu-abu letak ponselnya berada.

Sang ibu menatapnya datar disertai gelengan kepala. Wahyu membalasnya dengan memasang tampang cengengesan tanpa dosa. Hanya sekian detik berselang, setelah itu jemarinya sibuk memencet tombol-tombol ponsel Siemens yang layarnya berwarna oranye hingga terdengar bunyi tak-tak-tak. Menuju fitur pesan. Satu pesan masuk, dari Amir.

Amir : abs ashar ktm d sumber lgsg le
Wahyu : aman le
Amir : ibuk msak opo?
Wahyu : sambal pecel lauk tempe maknyos, mau?
Amir : bungkus
Wahyu : sip

Wahyu menaruh ponselnya di atas meja. Masih berhadapan dengan sang ibu, dia mulai membuka percakapan yang tadi sempat tertunda. Disertai telapak tangannya yang kembali sibuk melanjutkan memuluk kembali makan siang yang belum habis dilahapnya.
“Monggo dilanjut, Buk. Tadi sampai mana?” tanyanya.
“Sampai mana gundulmu. Mulai saja belum,” balas sang ibu berseloroh.
“Owalah belum to? Yo dimulai to, Buk! Hahaha!” mulutnya mengunyah pulukan nasi-sambel-tempe untuk kesekian kalinya.
“Ibuk serius ini, Yu. Ini tentang kuliahmu.”
“Tes seleksi masuk perguruan tinggi masih sekitar dua minggu lagi, Buk. Nilai ujian akhir Wahyu juga lumayan, Insha Alloh bisa lah diterima di PTN Surabaya. Paling mentok ya di Malang. Bismillah saja, Buk!” pintanya.
“Kenapa harus di Surabaya, Yu? Mbok ya di Kediri saja, ada kampusnya juga. Apalagi ndak jauh pula dari pesantrennya, Lek Kri.”
“Kok bawa-bawa pesantrennya Lek Kri, Buk? Lek Kri ‘kan emang dikuliahin gratis dan ngajar disitu? Ndak ada hubungannya dengan kuliahnya Wahyu nanti,” balas Wahyu heran.
“Tapi lek-mu itu juga lulus kuliah dan langsung ngajar, Yu! Langsung kerja! Kamu bisa belajar dari dia,” timpal ibunya.
“Almarhum bapak dhawuh kalau Wahyu harus kuliah, Buk. Bapak juga mengiyakan kalau Wahyu bisa kuliah di Surabaya. Kalau urusan belajar ke siapa, di Surabaya malah banyak. Insha Alloh Wahyu tekun dan bisa jadi orang kantoran yang sukses nanti,’’ dirinya membela.

Percakapan itu berubah sunyi di saat Wahyu mengambil piring dan berjalan menuju sumur. Dibersihkannya piring itu hingga bersih dengan sabun. Telapak tangannya yang masih menyisakan busa sabun, tak lupa pula ikut dibersihkannya. Setelah dirasa cukup bersih, air tanah yang keluar dari pancuran kran menjadi pembasuhnya. Kemudian dia kembali lagi ke meja makan. Mengambil lap yang ditaruh serampangan tak jauh dari tudung saji. Mengeringkannya. Mencium telapak tangannya kembali. Memastikannya bersih dan berbau wangi sabun Wings. Ibunya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Wahyu.
“Buk, Amir minta makan. Barusan tadi SMS,”
“Lho, ambil kertas minyak di laci itu, sini ibuk yang bungkusin! Jangan lupa karet gelangnya, Yu!””
Wahyu kembali duduk di berhedapan dengan ibunya sambil menyerahkan dau lembar kertas minyak dan karet gelang berwarna kuning ke ibunya. Dengan cekatan tangan ibunya membuat kertas tersebut berbentuk seperti mangkuk yang siap ditampungi makanan.
“Segini Amir cukup?” tangan ibunya memegang bungkusan terbuka berisi nasi.
“Cukup, Buk.”
“Biaya perkawinan mbakmu kemarin, daftar ulang sekolah adik-adikmu bulan depan, Ibuk khawatir ndak sanggup membiayai kuliahmu, Yu.” ucap ibunya sambil meletakkan bungkusan kertas minyak berisi nasi putih. Lalu melanjutkan kembali membuat bungkusan di kertas minyak kedua yang selanjutnya diisi dengan sambal pecel dan tempe goreng. “Ini cukup, Yu?” satu bungkusan kembali tersodor tak jauh dari hidung Wahyu. Wahyu melihatnya, kemudian mengangguk.
“Padahal Wahyu sudah ndak ikut study tour SMA lho, Buk. Wahyu pikir kalau uangnya disimpan, bisa lumayan untuk tambah-tambah biaya daftar ulang kuliah Wahyu nanti. Tapi ya ndak kuliah di Kediri meski sama-sama pakai biaya, Buk.”
“Lek Kri-mu bisa bantu agar kamu bisa dapat beasiswa kuliah dan lanjut mengabdi seperti dia,”

Seolah gelegar menyambar gendang telinganya, mengepulkan api di hatinya, dan membakar ubun-ubun kepalanya di waktu bersamaan. Wahyu tertegun sejenak. Menatap ibunya yang sibuk mengikat bungkusan terakhir dengan karet gelang. Kemudian mereka berdua saling berpandangan.

“Ya ndak bisa gitu, Buk? Sebelum wafat, bapak sudah bilang kalau ada dana untuk kuliah Wahyu. Sudah sejak lama Wahyu ingin ke Jakarta. Tapi kemarin Mbah Putri melarang. Mending kuliah yang dekat-dekat saja agar Wahyu sering pulang ke rumah. Kalau Jakarta ndak bisa, ya Wahyu pikir Surabaya cukup lah jadi kota kedua tempat Wahyu belajar. Kediri-Surabaya ‘kan cuma 3-4 jam perjalanan saja. Dan Ibuk sendiri juga tahu kalau Bapak juga bilang bahwa anak lanang itu langkahnya harus jauh. Jangan cuma mbulet saja di kampung. Mbak Ima pun kuliah di Malang sampai lulus. Setelah nikah juga pindah ke Malang. Masa Wahyu di sini saja, Buk?” jelasnya panjang lebar.
“Tapi sekarang kondisinya berbeda, Yu!” timpal ibunya.
“Pokoknya selepas SMA Wahyu ndak mau tinggal di sini lagi.”
“Bapakmu sudah tidak ada. Tinggal kamu anak laki-laki paling tua di rumah ini. Pikirkan mbakmu dan adik-adikmu, Yu!” pinta ibunya.
“Mbak Ima sudah dipikirin sama suaminya. Kata ibuk biaya sekolah Nisa dan Aris sudah disiapkan bapak sampai mereka lulus sekolah. Bahkan kuliah kalau memang ada rezeki. Terus siapa yang memikirkan masa depan Wahyu kalau tidak Wahyu sendiri, Buk?”
“Hutang almarhum bapakmu banyak.”
“Hutang ke siapa, Buk?”
“Ndak bisa ibuk jelasin sekarang. Suatu hari kamu pasti akan tahu, Yu?”
“Lho katanya Wahyu anak laki-laki tertua di rumah ini, gantinya bapak, ya Wahyu harus tahu lah bapak hutang apa? Ke siapa?”
“Pokoknya ibu ndak bisa ngasih tahu kamu sekarang.” ibunya tetap bertahan.
Wahyu terdiam sejenak. Pikirannya diperas oleh rasa penasaran tentang rahasia apa yang disembunyikan wanita itu darinya. Dia ingat-ingat kembali orang-orang yang dekat dengan ayahnya selama ini. Isi otaknya menerawang jauh ke puing-puing momen ketika beberapa kawan ayahnya mampir ke rumah. Tak semua dikenalnya dengan baik. Hanya beberapa saja, itu pun dia hampir susah mengingat wajah dan nama masing-masing. Beberapa di antaranya juga terlihat saat melayat ke rumah ketika ayahnya dikafani dan berbaring diam di ruang tamu sebelum disholati oleh orang banyak. Menjabat tangannya dan mengucapkan kalimat bela sungkawa sekedarnya saja. Tapi ada satu orang teman dekat ayahnya yang dia kenal baik, Pakdhe Mukhlis, tinggal di Surabaya. Terakhir bertemu di hari raya Idul Fitri setahun lalu.
“Bapak itu anak orang yang disegani di desa ini ‘kan, Buk? Mbah Dayat, kyai Dayat, pasti bohong besar jika bapak punya hutang banyak ke orang. Iya ‘kan Buk? Pesta pernikahan putri pertamanya saja begitu meriah!” sangkal Wahyu.
“Nama besar yang disanjung tidak selalu menjanjikan materi berlimpah, Yu. Terakhir bapakmu hanya meninggalkan rumah ini dan sepetak sawah di belakang rumah. Itu saja yang bisa diolah selain gaji pensiunannya yang ibu gunakan untuk membayar hutang. Dan setelah pesta pernikahan mbakmu dulu, ibu semakin tidak yakin akan bisa menyekolahkan kamu dan adik-adikmu sampai lulus kuliah seperti harapan almarhum bapakmu.”
“Jadi duit kawinan itu pakai duit hutang? Buat gaya-gayaan saja, begitu?” sontak Wahyu kaget bukan kepalang.
“Bukan-bukan itu, Yu! Pokoknya ibu belum bisa memberitahu kamu sekarang. Ibu hanya berharap besar kamu mau membantu keluarga ini.”
Wahyu kembali terdiam.
Ibunya melakukan hal yang sama.
“Dosa besar kalau Wahyu membantah permintaan ibuk.” dia menggelengkan kepalanya. “Ya dilihat nanti saja lah, Buk!” ujarnya sambil memasukkan dua bungkusan kertas minyak yang telah diikat karet gelang ke dalam tas kresek hitam.
 “Dilihat apanya, Yu?”
 “Ya dilihat hasil tes seleksinya nanti, Buk? Wahyu diterima masuk ke PTN idaman Wahyu atau tidak. Kalau tidak, Wahyu bakal nurut apa kata Ibuk. Tapi kalau Wahyu diterima, maka Wahyu akan tetap pergi dari rumah meski tanpa biaya,”
Ibunya tertegun melihat tekad anaknya yang tak bisa dicegah. Sembari membereskan irisan kacang panjangnya yang sempat terbengkalai, ibunya menyisipkan pertanyaan sebelum Wahyu menghilang dari pandangannya.
“Pergi kemana, Yu?”

Abang Ingin Bertemu Tuhan

Bukanlah malam tenang tapi penuh riang
Ketika dia yang berteman dengan riuh gelap terang
Panca inderanya berjuang menggadang rasa senang
Hingga dia jauh dari Tuhannya tersayang
Kepada mereka yang memintanya lantang-lantang
Bertemanlah dengan kami, Bang!
Ini suka cita, Tuhan tahu kamu penuh duka
Telan dan teguklah, Sayang!
Ini bahagia, lukamu sembuh karenanya
Luka di jantung yang berdetak makin kencang
Sakit di kulit yang memucat lekat pada tulang
Teruskan sampai akalmu hilang, Bang!
Karena tepat saat sadarmu karam dan nyawamu meregang
Dia akan berkata, “Aku datang, hamba-Ku, Sayang”Abang

Mas Ayu

Cermin di kamar mandi hanya memantulkan semburat sebagian raut wajahku karena permukaanya tertutup uap air panas yang keluar dari pancuran kamar mandi. Baru saja membasahi tubuhku. Guyuran air dengan suhu tidak sampai 100 derajat Celcius akhirnya membuatku rileks. Membantu mengurangi pening kepala akibat pengaruh alkohol disertai dengungan menjengkelkan dari dalam kuping hasil hentakan musik klub yang aku datangi semalam. Niat awal hanya ingin menyapa teman-teman lama yang kebetulan memintaku datang ke tempat mereka untuk menghabiskan akhir pekan. Matang-matang kurencanakan bahwa aku hanya akan datang dengan durasi sekitar dua jam saja. Tidak lebih. Kalau hanya berbasa-basi dan curhat colongan sambil menenggak segelas wine, tidak harus sampai pagi pikirku. Dengan kata lain, jika aku datang tepat pukul 10, maka sekitar tengah malam aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel dengan estimasi waktu tempuh perjalanan 30 menit. Cukup waktu untuk tidur dan kembali bugar keesokan paginya. Acara kantor berupa seminar keuangan dengan rundown padat siap dan harus kunikmati seharian, dari pagi hingga sore. Dan Aku yang akan menjadi salah satu pengantar materinya. Artinya persiapan semuanya wajib semaksimal mungkin.

Akan tetapi yang terjadi malah di luar estimasi dan prediksi. Tepat ketika jarum jam merapat pada angka empat, seingatku aku baru merebahkan tubuh di atas kasur. Sendirian kurasa. Sekelebat ingatanku muncuat tiba-tiba. Semalam aku hanya terkapar, pusing, dan mengantuk hebat. Tidak terlalu mabuk. Masih punya kesadaran megeset alarm jam di ponselku di pukul 8.30 pagi. Satu setengah jam sebelum acara dimulai.

Sorot mataku terfokus pada cermin kamar mandi yang makin buram akibat uap panas. Sejenak kuusap permukaannya dengan telapak tanganku agar pantulan wajahku terlihat jelas. Sosok manusia dengan kulit tak terlapisi kain terlihat basah berantakan. Kantung mata menghitam, sayu, dengan kelopak yang nyaris enggan terbuka. Bola mata dengan garis pinggir memerah darah. Seperti iritasi yang makin parah. Ditambah kulit wajah memutih akibat kurang tidur. Aku berantakan. Seolah rambut hitam legam basah dan lepek yang meneteskan air tidak cukup membuatku terlihat segar.

Handuk hotel yang halus dan hangat menutup tubuhku ketika aku merapikan file-file presentasi di netbook. Memastikan konten yang ada di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga untuk meyakinkan bahwa tidak ada poin-poin yang terlupa ketika daya kerja otakku masih belum 100% aktif. Kepalaku masih pening dan berat. Seperti ada konde seberat tujuh kilogram yang menancap kuat di rambut. Menarik akar-akarnya tapi tak lekas tercabut. Memberikan sensasi denyutan yang tak lekas hilang. Tak ingin rasanya meninggalkan kamar nyaman ber-AC ini dan berharap bisa kembali merebah di atasnya, memeluk guling, dan berselimut tebal. Menikmati susu hangat dilengkapi dengan bubur ayam panas yang gurih. Betapa nikmat jika bisa seperti itu. Namun tak mungkin terjadi saat ini. Beberapa benda telah merebah lebih dulu di atas kasur empuk. Kemeja, blazer, dasi, ikat pinggang, dan celana panjang terhampar tak beraturan menutup lipatan bed-cover. Siap dikenakan pemiliknya.

Dering telepon hotel dari arah meja yang menempel pada kasur dekat dengan jendela kamar membuyarkan lamunanku. Persis saat kemeja yang kukenakan belum terkancing sempurna.
“Hallo?” sapaku memulai percakapan.
Dari ujung terdengar suara wanita dengan logat dan intonasi khas yang sudah kukenal.
“Mas, sudah siap? Ditunggu Pak Bos nih di restoran, mau ada briefing sebentar sebelum acara mulai,”
Kulirik jam tangan perak yang terdiam kaku di samping lampu meja. Pukul 9.15.
“Iya Mbak Bella, 5 menit lagi turun,” jawabku singkat.
“Okay, Mas. Sekalian sarapan disini,” balasnya.
“Siap, Mbak,”
Klik.
Tuttttt. Tuttttt. Tuttttt.

Hanya tinggal sepatu pantofel hitam yang harus kukenakan. Kuambil kaos kaki baru warna coklat tua dari dalam koper. Isinya belum sempat dikeluarkan karena jadwal padatku merayap, bekerja dan bermain-main. Entah karena malas atau memang tidak perlu dikeluarkan. Toh besok juga bakal diisi lagi dengan barang-barang yang sama dan sebagian yang habis dipakai. Hanya peralatan mandi dan pakaian kerja saja yang biasanya lebih dulu keluar, sisanya nanti saja kalau diperlukan. Hemat waktu, hemat tempat.

Aku siap berjalan keluar kamar dengan menenteng tas selempang berisi laptop dan berkas ketika tiba-tiba pintu kamarku terbuka dari arah luar. Aku sontak terkejut karena seingatku hanya aku yang tidur di kamar ini. Rekan kerja lain menempati kamar masing-masing. Kakiku terdorong melangkah mundur seperti membentuk kuda-kuda pertahanan gerakan muaythai yang kelasnya rutin kuikuti 3-4 kali seminggu di tempat kebugaran.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berkaos hitam polos dengan celana kolor pendek. Bersendal putih bertuliskan nama hotel yang aku tempati. Dia menggenggam buah apel yang sudah tergigit, dengan mulutnya yang terus bergerak memagut-magut. Mengunyah.
Hi, morning. Sorry, tadi aku lapar banget, jadi sarapan dulu ke restoran sebelum kamu bangun,”
Aku terdiam. Menatap heran ke wajah asing di hadapanku.
“Oh iya, semalam kamu bilang ada kerjaan pagi. Sana buruan, sebelum terlambat!” kemudian dia membuka pintu dan menyilakanku keluar kamar.
But wait, kamu siapa?”tanyaku penuh rasa heran. Penasaran berlipat ganda.
Dia menutup pintu. Meletakkan apelnya di atas meja tak jauh dari televisi.
Well, kita coba kenalan lagi ya. Namaku Ega. Teman Dimas, temanmu ‘kan?”
“Yah, ya I know Dimas, but you are?
“Dimas ngenalin aku ke kamu semalam, kita sempat ngobrol banyak, dance along all nite, and finally we are here. Di hotel. We had fun!
Fun?
Yes, fun. I mean with our friends out there. Kalau tidak salah kita bersepuluh atau bersebelas gitu. Ada aku, kamu, Dimas, Eva, Ryan, Din …”
“Oke-oke! Tapi kenapa kita satu hotel? Kenapa di kamar yang sama?” aku memotong kalimatnya.
“Karena kamu mabuk dan aku nganterin kamu pulang ke hotel. Dan kita …”
“Ki-ki-kita tidur bareng?” kembali kupotong kalimatnya.
Of course. Kasur ini king size. Lebih dari cukup untuk berdua. Masa iya aku tidur di sofa atau kamu yang tidur disana?” telunjuk kanannya mengarah pada karpet di bawah kasur. Dia berdehek pelan dengan senyum tersungging.
“Maksudku? Ki-ki-kita melakukannya? Ka-ka-karena tadi pagi aku bangun tidur tanpa mengenakan pakaian dalam. Kamu!”
Dia memutar bola matanya ke atas dengan gerakan mengingat sesuatu.
“Sepertinya… Iya.” jawabnya singkat.
Dan perutku mendadak mual dengan degup jantung tak beraturan yang tiba-tiba datang. Seperti ada hantaman di kepalaku yang menggoyahkan konsentrasi. Dan paru-paru yang mengembangkempis terlalu cepat sehingga rongga dadaku naik-turun. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain mencoba tenang, diam, dan tertegun.
“Kamu melihat semuanya?” tanyaku kepadanya.
“Iya,”
Why? Why did you do that?” tanyaku dengan rentetan sumpah serapah dalam hati. Mengutuknya.
Because you asked me to do! I am a man, we’re drunk, and we did it. Nggak perlu dimasalahin. I enjoyed, you did the same.”
“Ya Tuhan…” aku menunduk. Menjatuhkan tas kerjaku di atas karpet.
Kemudian ada telapak tangan menyentuh pundakku. Cepat-cepat kutangkis.
It is okay. We only kissed, no more,” jelasnya mengiba.
“Tapi kamu melihat semuanya. Kamu nggak berhak melakukan itu! Itu pelanggaran HAM! Ngerti?” kataku dengan nada makin tinggi.
“Tapi kamu yang minta, aku harus bagaima …”
“Alesan! Keluar sekarang! KELUAR!”
Aku memintanya keluar kamar. Tapi dia diam. Dia malah berkacakpinggang dan menyeringai ke arahku.
“Kamu yang keluar sekarang!” bentak dia.
Aku marah. Aku bingung. Marah tapi bingung.
“Denger ya kamu ya! Kamu masuk ke kamar orang. Jelas kamu yang harus keluar,” balasku.
Dia maju selangkah mendekatiku.
“Masih belum sadar. Well, let’s say, kamu semalam mabuk berat, kita ke hotelmu. Tapi kamu lupa nomor kamarmu. Jadi, aku buka kamar satu lagi. Di hotel yang sama. So, this is officially my room, not yours,”
Aku kaget bukan main. Barang-barangku tadi. Koperku. Pakaianku. Perlengkapan kerjaku. Kuperhatikan dengan seksama seluruh sudut ruangan. Mirip dengan kamarku, hanya lebih besar. Ada beberapa onggokan barang yang bukan milikku berdiam di atas sofa, di atas meja TV, dan di samping tempat tidur. Beberapa sepatu pun terlihat di dekat pintu dan yang pasti bukan milikku.
Sorry, sorry, aku minta maaf,” pintaku memelas.

Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian menghampiriku.
It’s okay, Darling, sana kamu kerja dulu, nanti setelah kamu selesai, kita ketemu. Ada banyak hal yang harus kita obrolin, okay?
O-okay,” kuambil kembali tak kerjaku, menentengnya, dan meraih gagang koper yang hendak kubawa keluar. Tapi dia mencegahnya.
“Ssst-sst… Nggak perlu. Your stuffs are already safe here. Nanti saja.”
Aku mengangguk dan masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga pagi yang luar biasa ganjil ini.

Pintu tertutup dengan suara debaman bervolume rendah namun menggema di dinding hotel ini. Sementara itu, langkah kakiku tak terdengar karena teredam karpet tebal yang terhampar di sepanjang lorong. Mendekati lift, ponselku berbunyi dengan getaran ganda sebagai penanda notifikasi yang masuk.

Kuambil dari dalam tas.
Ada dua pesan masuk.

Pesan pertama.
Dari Dimas,
“Makasih ya udah nemenin Om Ega. Dia suka sama kamu. Oh iya, mamamu sudah siap dioperasi. Baru saja dokter Franky ngabarin aku. Biayanya cukup. Kamu hebat, Beb. Ketemu besok ya. Salam buat Om Ega. See you soon.”

Pesan kedua.
Dari Bella,
“Kamu dimana, Masayu? Pak Bos sudah nungguin kamu dari tadi. Cepat!”

Menulis Harga Diri

Berhenti menulis karena sitaan waktu kerja dan pemenuhan tuntutan eksistensi sebenarnya mutlak bukan menjadi alasan yang tepat bagi saya untuk memutus hubungan dengan selipat buku elektronik berwarna putih yang sudah menenami saya sekian tahun ini. Bukan pula karena urusan bangku kuliah yang telah ditamatkan malah menjadi penyokong raga agar menjauhi kegiatan tulis menulis. Saya berhenti dan vakum menulis karena pilihan. Pilihan memenuhi kebutuhan primer yang menurut saya harus dikhatamkan terlebih dahulu sebelum si sekunder bisa mengikuti. Meski sedikit memaksa melawan idealisme saya yang gandrung merangkai kata dan menyusun jurnal -sebelumnya sangat sukar saya kerjakan- hanya sekedar bisa dipandang lebih beradab bagi orang lain, termasuk ibu saya yang bangga melihat anaknya sudah berdompet dari hasil kerja keras. Bahagia saya yang berprofesi, senang melihatnya anaknya bahagia. Tanpa pernah membantah bahwa uang pun berkiprah sebagai pembentuk kebahagiaan itu sendiri. Saya membuktikannya. Saya, keluarga saya, teman-teman saya, dan mereka yang ada di sekitar saya. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa berbagi segalanya. Ibu saya tidak pernah berhenti megingatkan bahwa rezeki yang saya dapatkan wajib dibagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Keluarga dan handai taulan yang masih kesulitan, sekaligus mereka yang belum berkecukupan. Sama halnya ketika almarhum bapak saya berkata, “Tuhanmu tidak pernah menyuruh kamu jadi orang miskin, kerjakan rezekimu, dan berbagilah dengan yang lain”

Hukum tabur tua. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Saat kamu melemparkan rezeki ke langit melalui sedekah, langit akan melimpahi dirimu dengan rezeki yang berkali lipat jumlahnya dari yang kamu keluarkan. Dan saya semakin menyadari kenapa orang-orang kaya di negara-negara Barat, meski mereka tidak seiman dengan saya, tapi mereka memiliki yayasan, rajin beramal dan berderma, sekaligus menjadi pionir bala bantuan di negara-negara miskin, harta kekayaan mereka tidak pernah habis, malah melimpah ruah. Kata Dalai Lama, ketika kau melihat orang lain berbuat kebaikan pada sesamanya, pertanyaan ‘apa agamamu?’ tidak diperlukan.

Tuhan Maha Adil, saya percaya itu.

Usaha yang saya lakukan pasti membuahkan hasil. Beberapa rancangan finansial per lima tahun yang saya buat jauh-jauh hari mulai terpenuhi satu per satu. Jika Orde Baru punya repelita, rencana pembangunan lima tahun, saya juga memilikinya. Hanya saja perbedaannya pada kata pembangunan menjadi kata pembuktian. Membuktikan bahwa anak daerah, yang dulu dipandang dengan mata sebelah, dari keluarga menengah ke bawah, bisa bersaing dengan mereka yang kekotaan bermahkota kata ‘wah’. Wah kaya, wah keren, wah beken, wah anaknya ini, wah bapaknya itu, wah keluarga ini, wah keturunannya itu, wah-wah-wah. Saya mulai sebah dengan ungkapan-ungkapan kesedarahan yang belum menunjukkan bukti kuat. Bukan menggugat, hanya sekedar mengalamatkan perihal ini bagi mereka yang merasa. Sekali lagi bukan marah, hanya ingin mengungkapkan fakta. Suara manusia kapan lagi di dengar jika tidak dibuktikan dengan berbicara atau menggetarkan pita suara dengan hembusan udara, bukan? Dan kali ini saya berusaha untuk lebih lapang dan membuka kesempatan bagi diri saya sendiri untuk menunjukkan pada mereka. Kamu bisa, saya pun mampu. Kamu sering menjadi sosok objek, saya subjek pelaku. Impas.

Kembali ke urusan tulis menulis. Kecenderungan untuk mengalirkan secara permanen apa saja isi otak dan hati menjadi kata dan kalimat baca serta mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan khusus bagi saya. Sekitar2-3 tahun lalu, ketika urusan tulis menulis jurnal dan menyelesaikan skripsi masih menjadi hiasan sehari-hari saya, mungkin membentuk opini yang agak ngawur atau sederet kata opini menjadi hal yang leluasa dan enteng saya lakukan. Tapi setelah masuk di dua tahun terakhir ini, meski mulut dan otak saya masih berjalan dengan level lumayan baik ketika membawakan acara di televisi, belum tentu hal yang terpikir di kepala bisa tertuang mudah menjadi guratan kata tulis yang bisa terbaca dengan jelas dan mampu mengirim pesan yang sesuai dengan apa yang saya maksud. Kadang saya masih gamang dan ragu. APakah saya bisa seperti dulu atau akan semakin kelu semua jari-jariku?

Oleh karena itu, menulis seyogyanya bukanmenjadi tuntutan, tapi bisa diarahkan sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kita butuh makan meski tidak harus tiga kali dalam satu hari, yang penting lambung masih bisa menggiling makanan yang masuk dan jonjot usus masih  bisa menyerap gizi, itu lebih dari cukup. Penentu semangat menulis memang diri sendiri, membagi tulisan kita dengan orang lain menjaid urusan pribadi, tapi menerbitkan buah pikiran kita yang menghasilkan penghidupan merupakan bonus berharga tinggi bagi diri.

Pikiran kita adalah ladang uang kita. Perlu ditanami palawija kata dan kalimat agar kelak bisa dipanen dan menghasilkan tumpukan pundi di lambung rekening bank kita. Silakan beridealisme dengan hidup, tapi sungguh, jika tulis-menulis dan baca-membaca memberikan banyak peluang meningkatkan harkat dan martabat manusia, memberikan label harga yang lebih tinggi bagi mereka yang paham, betapa seruan ‘iqra’, ‘bacalah’ yang diserukan Jibril ke Muhammad sebelum ayat-ayat lainnya muncul dalam kitab, sangat benar adanya.

Selamat menulis dan membaca.

Is It Wrong being A Single in 20’s-year-old?

Remember I wrote this essay almost three years ago, starting face my 20’s birth day… And my sister read it and said, “Goshhh, Dude! It’s twentieth century, how could you not get along with the girl? Or you are….” She stopped on those edge of words….

Being single is hard decision for me. Ignore everyone who mocks me everytime about my status that in 20 years old I don’t have someone yet I love and I introduce to. Or maybe show her off to everyone forced me. So difficult, I do! But if I think more and more about, it will be useless time that I hate to do. I don’t care what they said, I never thought this affair so hard, even for the first time I made it as the big problem in my life time. But, long by long, I could make my mind and my heart as well understand about the truly love will come so lovely in my life, someday, I don’t know.

To be patient person and always spread love to the others are my main job that I like to do. Just spending my time to not think my status everytime, ‘cause if we share love, it means we get love too, right? In my final conclusion, I make summary that love can come not only from someone we love or they we share and understand about our heart but also we can get it by do so simple thing, we just give love to someone we choose and wait for a moment, well get this one back to us. So incredible thing. At least I will get the girl who more or the most perfect I’ll ever find and make them feel so surprise till they can say anything. That’s my ambission or just my idealism?

Hmm… Only God the Al Mighty knows everything, I never figured this problem out before the matureness come early. For God sake! Why does it happen to me? Gimme some reason God! Or You, in the seventh sky there, can call me back through my night-dream that I always dream’n of in thousands night.

Passing days and walking the time, only with my close friends with their or our loyality we always together, is my day in my daily. Easier than we make appointment with the girl that in our status we generally as the freedom men, fell being tied out. Oh God poor us! So, which one we choose being single or fell like the odd man that always being tied and seldom feel free? I take the first one, for this time he…he…

For closing, I just wanna say that love is so simple thing but remember if you never aware about, it will make you down and the worst, you wish you would be an unseen person or being an invisible man in your life time after. So be careful!

Kronologi Asmaragana

Kronologi

Mereka bisa menganggap salah saat muncul satu orang yang jatuh cinta diantara sepasang kekasih. Dianggap hina, dibilang kurang kerjaan, dan diumpat sampah. Cibiran perusak hubungan orang pun tak terelak. Semua nyata tanpa kasat mata. Tak terkecuali hati yang terus mengiris pedih dan bertanya “Apakah atas nama cinta semua ini salah?”
Saat itu seharusnya mereka berpikir, bukannya manusia dipercaya Tuhan untuk memiliki cinta, membagi, dan mendapatkannya? Mereka tak sadar jika lumatan kejam mulut mereka juga muncul dari sebongkah daging bernyawa yang disebut manusia.
Aturan, ya benar. Memang aturan yang mengharuskan cinta harus diberikan dan bisa disalahkan saat sinergi itu keluar dari lintasannya. Sama seperti seorang pelari yang keluar jalur dan dianggap diskualifikasi. Tapi sekali lagi, adakah perayaan diskualifikasi atas cinta?
Tuhan pun tahu jika cinta memberi kemampuan manusia untuk hidup, bernuansa dalam alam-Nya, dan sekali lagi, bisa memanusiakan manusia lebih manusiawi.
Namun, aturan tetaplah aturan. Cinta memiliki aturan yang terlegalisasi tanpa proses.
Kamu mencintai seseorang, dia mencintai kamu. Cukup. Itu aturannya.
Dan saat orang yang tak berhak mencintai di saat dua jiwa bercinta…
Itu salah…
Melanggar…
Dan tak dihormati…

Bodohnya, ada orang yang seperti itu. Entah dengan berbagai alasan yang bergelayut merdu di ekornya. Tapi hal itu tak menghindarkan sesuatu yang sudah hina untuk lebih terhina lagi.
Dalam hal ini, itu salah kah?
Tabu kah?

Tapi terakhir kali yang perlu mereka tahu, pada saat semua terbuka, hanya satu cara yang bisa memberi kekutan untuk memahami kisaran yang membelenggu antara sepasang kekasih dan orang yang dianggap ‘tidak penting’

Mereka bermuara di danau yang sama…
Asmaragana.

Selamat Sore, Maria!

Aku cuma terduduk sibuk di depan komputer lama ayah yang sekarang telah menghiasi isi kamar kosku yang sempit dengan kipas angin mungil berada tepat di sampingnya. Tanganku tidak berhenti menekan tombol-tombol keyboard, mencoba mencari data penting yang aku perlukan untuk menguak misteri itu. Aku bisa, aku pasti bisa membongkarnya! Pikirku dengan keyakinan tinggi, masih tetap berkutik dengan tombol dan monitor kmputer. Sebentar lagi Mal! Sebentar lagi! Kamu bakal tau ada apa dengan semua ini.

Semua file dan folder sudah hampir semua ku jelajahi, tapi dimana data itu. Aku perlu data dan foto-foto itu. Kipas angin yang sejak tadi berputar cepat di sampingku, tidak dapat mendiamkan peluh yang sejak tadi mengalir deras di kening dan leherku.
Sejenak aku berpikir keras, kenapa? Dimana? Bagaimana semua ini dapat terjadi? Oh damn! Shit!

Acong, yang aku pikir dia sahabat baikku, sungguh tega melakukan pengkhiatan ini padaku, di depan mataku pula! Andai saja aku tahu sejak lama kalau dia bisa melakukan perbuatan terkutuk itu, sungguh, bakal kulumat dia di depan orang tuanya.
Tapi yang sekarang kubutuhkan cuma file itu.
File…
File dan foto…
Sejenak mataku tertegun dengan folder yang begitu asing kulihat beberapa lama ini, tepatnya setelah ayah memaketkan komputer ini dari Kediri ke Surabaya. Folder itu bertuliskan ‘lobby’. Hah? Lobby? Sepertinya aku tidak pernah menggunakan kata itu sebagai nama folder. Dari dulu sampai sekarang, nama-nama folder yang kugunakan semuanya menggunakan istilah dari novel Harry Potter kesukaanku, seperti pensieve, nimbus 2000, broom stick, dan sebagainya. Tapi folder ini? Aneh, pikirku.
Tapi masa bodoh! Toh ini komputer milikku, aku bebas meng-otak-atik sesukaku, terserah file apapun yang tersimpan di dalamnya. Hal itu karena komputer ini tidak hanya aku pribadi yang menggunakannya, Gilang dan Doni juga sering meminjamnya, meski hanya digunakan untuk nonton bokep yang selama ini mereka koleksi hasil download dari internet.
Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan file penting itu juga tersimpan di dalamnya.
Pencarian pun berlangsung.
Detik demi detik aku mulai membuka satu per satu file dan folder yang ada, meski sesekali berhenti untuk melihat sekelumit gambar-gambar porno yang ada di dalamnya. Gila! Banyak banget barang-barang mesum yang mereka simpan di komputerku.
10 menit
20 menit… dimana? Dimana file itu?
Tai!!!
Aku sudah muak dengan semua ini, aku tidak mendapatkan hasil apa pun. Semuanya nihil! Anjing!
Umpatku.
Tiba-tiba aku teringat dengan folder yang dulu Doni pernah bilang kalau dia meng-hide salah satu folder pornonya. Tapi di mana? HP yang terdiam membujur kaku di atas tempat tidur segera ku ambil. Langsung ku pencet tombol yang menghubungkan aku dengan fitur phonebook.
KOM Doni… KOM… Nah ini dia!
Aku pencet tombol dial, sejenak tedengar hampa, namun tiba-tiba muncul nada ‘bip’ kemudian nada tunggu.
“Hallo, apa Mal?” sapa Doni di seberang sana.
“Eh Don! Masih inget gak file yang lo hide di komputer gw beberapa waktu lalu, yang lo bilang itu ‘something special’?” tanyaku terburu-buru.
“Yang mana to?”
“Yang dulu pas gw pulang kuliah, lo ma temen-temen lo buru-buru hide folder porno itu, itu tuh yang pas gw datang sama pembokat gw itu lho?” pertanyaanku semakin memburu waktu.
“Oh iya, aku inget! Tapi aku lupa narohnya dimana?”
“Lho gimana sih?” aku semakin jengkel dengan jawabannya.
“Ya maap, tapi bentar, dulu komputermu itu ‘kan pernah kamu instal ulang to? Mungkin aja ikut kehapus! Tapi mending kamu cari dulu di folderku or punyanya Gilang!” jelasnya.
“Sudah Goblok! Tapi gak ada… Wes gini aja, kasih tau gw apa password buat buka hide-folder itu?”
“Bentar… sandinya agak mesum Mal! Hehehehe…” jelasnya sambil tertawa tidak jelas.
“Halah, aku udah kebal ma hal-hal porno and mesum kayak lo! Cepetan! Passwordnya apa?”
“Vaginawati…heheheh” jawabnya singkat.
“Anjing, dasar maniak lo! Yo wes thanks ya!”
“Oke, Assalamualaikum!”
“Hah! Wa’alaikumsalam!” jawabku. Busyet itu anak sudah terlahir mesum masih inget salam juga ternyata.
… … …
Kembali tangan dan mataku fokus ke komputer. Pencarian dimulai lagi. Aku mulai mencoba menjelajah kembali ke folder Doni dan Gilang. Pertama ke folder Gilang dulu. Aku klik folder dengan nama ‘insomniac’, terus aku klik bagian ‘tools’ dan muncul fitur ke program hide folder and file. Aku masukkan password tadi. Dan klik.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak muncul folder tersembunyi.
Oke kayaknya tidak ada, pikirku.
Kemudian aku memasuki folder Doni dengan nama ‘necking’, ya… tetep mesum sama seperti yang punya. Aku melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang aku lakukan sebelumnya. Dan klik!
Tidak muncul…
Sama sekali tidak ada folder tesembunyi yang muncul.
Damn!
Aku sudah mulai jengkel, ingin banget ngomel-ngomel sendiri, tapi aku sedang tidak mood mengeluarkan suara berlebih yang pasti tambah bikin rusak suasana.
Sepi
Diam
‘broom stick’
Folderku? Mungkin saja.
Langsung aku meng-klik folderku itu, dan memasuki program hide. Sama seperti sebelumnya. Pas terakhir aku klik.
Tiba-tiba muncul folder samar-samar
‘nippon’
Hah? Folder apa itu? Benarkah di dalamnya ada file rahasia itu?
Data dan foto penting yang dapat mengungkap misteri yang kini sedang ramai dibicarakan?
Aku mulai merinding, panas-dingin mulai menyerang tubuhku.
Aku klik folder itu…
Dan benar! Ya Tuhan, inilah data penting itu!
Aku segera menyalakan printer yang tepat berada di bawah meja komputerku. Printer-machine itu baru ku beli beberapa waktu lalu, dan tinta yang keluar dari mesin itu masih bagus. Hasilnya pun masih tajam. Kertasnya masih cukup. Pikirku sambil mengecek dan memprogram mesin itu hingga siap digunakan.
Waktu semakin berjalan lebih cepat, tidak biasanya, pikirku tanpa logika.
Segera ku cetak semua data dan foto itu.
Dahsyat!
Aku telah menemukannya!
Berlembar-lembar jurnal dan tulisan telah tercetak dengan jelas.
Thanks God!
Lembaran-lembaran kertas dengan judul “RIWAYAT HIDUP DAN KOLEKSI FOTO MARIA OZAWA (MIYABI)” telah berhasil tergenggam di tanganku.

Judul aslinya adalah Lembaran Sore bersama Maria Ozawa, ditulis ketika otak mulai buntu dengan deadline jurnal kuliah, salah satu pengencernya adalah ‘nonton bokep’.  6 Februari 2010

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑