Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Advertisements

Abang Ingin Bertemu Tuhan

Bukanlah malam tenang tapi penuh riang
Ketika dia yang berteman dengan riuh gelap terang
Panca inderanya berjuang menggadang rasa senang
Hingga dia jauh dari Tuhannya tersayang
Kepada mereka yang memintanya lantang-lantang
Bertemanlah dengan kami, Bang!
Ini suka cita, Tuhan tahu kamu penuh duka
Telan dan teguklah, Sayang!
Ini bahagia, lukamu sembuh karenanya
Luka di jantung yang berdetak makin kencang
Sakit di kulit yang memucat lekat pada tulang
Teruskan sampai akalmu hilang, Bang!
Karena tepat saat sadarmu karam dan nyawamu meregang
Dia akan berkata, “Aku datang, hamba-Ku, Sayang”Abang

M a l a m i d a s #1

Adalah kalimat penggetar hati

Serupa bahasa dilantun lidah tanpa cela

Mengalirkan pesan tersirat

Dimengerti bagi yang terjerat

Tak harus tepat

Biarkan lewat

Sebab dia memikat

Diam tak perlu membeku

Bicara tak harus lewat kata

Menyadarimu lekat di rongga mata

Tak ubahnya melaknat hati yang mungkin buta

Pernah jatuh bersama nasib

Karena dia pencuri karib

Pernah hadir tanpa salam

Datang dalam kelam selembar kalam

Menasbih keluh hati yang sekarat

Memberi perih goresan karat

Dia yang jatuh sekali lagi

Menimpa remahan hati berulangkali

Apakah siksa jadi jawaban?

Atau nikmat tak terelakkan?

Karena ujung kalimat di pucuk lidah

Telah bersemayam lama di remuk asa yang lelah

M a l a m i d a s #2

Lihat

Ketika mata berbohong atas hati yang hakiki merasa, benar melihat, dan jelas mendengar

Dia yang datang tanpa niat, merebah bagai kawan lama

Mencari segaris senyum penyambung bahagia

Melintas lena tak berdosa

Membawa secuil puing hati yang sempat dilupakan

Melekatkannya penuh dengan perekat jiwa

Dia yang tak tahu apa-apa, terjebak dalam permainan

Dia yang tak berhati siap menghujam

Dan waktu merubah arah

Pemegang kendali redam terhuyung

Menampar dirinya pada kenyataan

Menengadah dihujani salah

Niat baik kini berubah

Awal indah pupus sirna

Yang tak diniati terjadi sudah

Ketika hati bicara

Membungkam mulut diam-diam

Menundukkan pandangan nanar

Coba lihat kembali

Dia yang kikir cinta fakir asmara

Bumi renta menopangnya

Semesta berdoa padanya

Surga menangis untuknya

Mas Ayu

Cermin di kamar mandi hanya memantulkan semburat sebagian raut wajahku karena permukaanya tertutup uap air panas yang keluar dari pancuran kamar mandi. Baru saja membasahi tubuhku. Guyuran air dengan suhu tidak sampai 100 derajat Celcius akhirnya membuatku rileks. Membantu mengurangi pening kepala akibat pengaruh alkohol disertai dengungan menjengkelkan dari dalam kuping hasil hentakan musik klub yang aku datangi semalam. Niat awal hanya ingin menyapa teman-teman lama yang kebetulan memintaku datang ke tempat mereka untuk menghabiskan akhir pekan. Matang-matang kurencanakan bahwa aku hanya akan datang dengan durasi sekitar dua jam saja. Tidak lebih. Kalau hanya berbasa-basi dan curhat colongan sambil menenggak segelas wine, tidak harus sampai pagi pikirku. Dengan kata lain, jika aku datang tepat pukul 10, maka sekitar tengah malam aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel dengan estimasi waktu tempuh perjalanan 30 menit. Cukup waktu untuk tidur dan kembali bugar keesokan paginya. Acara kantor berupa seminar keuangan dengan rundown padat siap dan harus kunikmati seharian, dari pagi hingga sore. Dan Aku yang akan menjadi salah satu pengantar materinya. Artinya persiapan semuanya wajib semaksimal mungkin.

Akan tetapi yang terjadi malah di luar estimasi dan prediksi. Tepat ketika jarum jam merapat pada angka empat, seingatku aku baru merebahkan tubuh di atas kasur. Sendirian kurasa. Sekelebat ingatanku muncuat tiba-tiba. Semalam aku hanya terkapar, pusing, dan mengantuk hebat. Tidak terlalu mabuk. Masih punya kesadaran megeset alarm jam di ponselku di pukul 8.30 pagi. Satu setengah jam sebelum acara dimulai.

Sorot mataku terfokus pada cermin kamar mandi yang makin buram akibat uap panas. Sejenak kuusap permukaannya dengan telapak tanganku agar pantulan wajahku terlihat jelas. Sosok manusia dengan kulit tak terlapisi kain terlihat basah berantakan. Kantung mata menghitam, sayu, dengan kelopak yang nyaris enggan terbuka. Bola mata dengan garis pinggir memerah darah. Seperti iritasi yang makin parah. Ditambah kulit wajah memutih akibat kurang tidur. Aku berantakan. Seolah rambut hitam legam basah dan lepek yang meneteskan air tidak cukup membuatku terlihat segar.

Handuk hotel yang halus dan hangat menutup tubuhku ketika aku merapikan file-file presentasi di netbook. Memastikan konten yang ada di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga untuk meyakinkan bahwa tidak ada poin-poin yang terlupa ketika daya kerja otakku masih belum 100% aktif. Kepalaku masih pening dan berat. Seperti ada konde seberat tujuh kilogram yang menancap kuat di rambut. Menarik akar-akarnya tapi tak lekas tercabut. Memberikan sensasi denyutan yang tak lekas hilang. Tak ingin rasanya meninggalkan kamar nyaman ber-AC ini dan berharap bisa kembali merebah di atasnya, memeluk guling, dan berselimut tebal. Menikmati susu hangat dilengkapi dengan bubur ayam panas yang gurih. Betapa nikmat jika bisa seperti itu. Namun tak mungkin terjadi saat ini. Beberapa benda telah merebah lebih dulu di atas kasur empuk. Kemeja, blazer, dasi, ikat pinggang, dan celana panjang terhampar tak beraturan menutup lipatan bed-cover. Siap dikenakan pemiliknya.

Dering telepon hotel dari arah meja yang menempel pada kasur dekat dengan jendela kamar membuyarkan lamunanku. Persis saat kemeja yang kukenakan belum terkancing sempurna.
“Hallo?” sapaku memulai percakapan.
Dari ujung terdengar suara wanita dengan logat dan intonasi khas yang sudah kukenal.
“Mas, sudah siap? Ditunggu Pak Bos nih di restoran, mau ada briefing sebentar sebelum acara mulai,”
Kulirik jam tangan perak yang terdiam kaku di samping lampu meja. Pukul 9.15.
“Iya Mbak Bella, 5 menit lagi turun,” jawabku singkat.
“Okay, Mas. Sekalian sarapan disini,” balasnya.
“Siap, Mbak,”
Klik.
Tuttttt. Tuttttt. Tuttttt.

Hanya tinggal sepatu pantofel hitam yang harus kukenakan. Kuambil kaos kaki baru warna coklat tua dari dalam koper. Isinya belum sempat dikeluarkan karena jadwal padatku merayap, bekerja dan bermain-main. Entah karena malas atau memang tidak perlu dikeluarkan. Toh besok juga bakal diisi lagi dengan barang-barang yang sama dan sebagian yang habis dipakai. Hanya peralatan mandi dan pakaian kerja saja yang biasanya lebih dulu keluar, sisanya nanti saja kalau diperlukan. Hemat waktu, hemat tempat.

Aku siap berjalan keluar kamar dengan menenteng tas selempang berisi laptop dan berkas ketika tiba-tiba pintu kamarku terbuka dari arah luar. Aku sontak terkejut karena seingatku hanya aku yang tidur di kamar ini. Rekan kerja lain menempati kamar masing-masing. Kakiku terdorong melangkah mundur seperti membentuk kuda-kuda pertahanan gerakan muaythai yang kelasnya rutin kuikuti 3-4 kali seminggu di tempat kebugaran.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berkaos hitam polos dengan celana kolor pendek. Bersendal putih bertuliskan nama hotel yang aku tempati. Dia menggenggam buah apel yang sudah tergigit, dengan mulutnya yang terus bergerak memagut-magut. Mengunyah.
Hi, morning. Sorry, tadi aku lapar banget, jadi sarapan dulu ke restoran sebelum kamu bangun,”
Aku terdiam. Menatap heran ke wajah asing di hadapanku.
“Oh iya, semalam kamu bilang ada kerjaan pagi. Sana buruan, sebelum terlambat!” kemudian dia membuka pintu dan menyilakanku keluar kamar.
But wait, kamu siapa?”tanyaku penuh rasa heran. Penasaran berlipat ganda.
Dia menutup pintu. Meletakkan apelnya di atas meja tak jauh dari televisi.
Well, kita coba kenalan lagi ya. Namaku Ega. Teman Dimas, temanmu ‘kan?”
“Yah, ya I know Dimas, but you are?
“Dimas ngenalin aku ke kamu semalam, kita sempat ngobrol banyak, dance along all nite, and finally we are here. Di hotel. We had fun!
Fun?
Yes, fun. I mean with our friends out there. Kalau tidak salah kita bersepuluh atau bersebelas gitu. Ada aku, kamu, Dimas, Eva, Ryan, Din …”
“Oke-oke! Tapi kenapa kita satu hotel? Kenapa di kamar yang sama?” aku memotong kalimatnya.
“Karena kamu mabuk dan aku nganterin kamu pulang ke hotel. Dan kita …”
“Ki-ki-kita tidur bareng?” kembali kupotong kalimatnya.
Of course. Kasur ini king size. Lebih dari cukup untuk berdua. Masa iya aku tidur di sofa atau kamu yang tidur disana?” telunjuk kanannya mengarah pada karpet di bawah kasur. Dia berdehek pelan dengan senyum tersungging.
“Maksudku? Ki-ki-kita melakukannya? Ka-ka-karena tadi pagi aku bangun tidur tanpa mengenakan pakaian dalam. Kamu!”
Dia memutar bola matanya ke atas dengan gerakan mengingat sesuatu.
“Sepertinya… Iya.” jawabnya singkat.
Dan perutku mendadak mual dengan degup jantung tak beraturan yang tiba-tiba datang. Seperti ada hantaman di kepalaku yang menggoyahkan konsentrasi. Dan paru-paru yang mengembangkempis terlalu cepat sehingga rongga dadaku naik-turun. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain mencoba tenang, diam, dan tertegun.
“Kamu melihat semuanya?” tanyaku kepadanya.
“Iya,”
Why? Why did you do that?” tanyaku dengan rentetan sumpah serapah dalam hati. Mengutuknya.
Because you asked me to do! I am a man, we’re drunk, and we did it. Nggak perlu dimasalahin. I enjoyed, you did the same.”
“Ya Tuhan…” aku menunduk. Menjatuhkan tas kerjaku di atas karpet.
Kemudian ada telapak tangan menyentuh pundakku. Cepat-cepat kutangkis.
It is okay. We only kissed, no more,” jelasnya mengiba.
“Tapi kamu melihat semuanya. Kamu nggak berhak melakukan itu! Itu pelanggaran HAM! Ngerti?” kataku dengan nada makin tinggi.
“Tapi kamu yang minta, aku harus bagaima …”
“Alesan! Keluar sekarang! KELUAR!”
Aku memintanya keluar kamar. Tapi dia diam. Dia malah berkacakpinggang dan menyeringai ke arahku.
“Kamu yang keluar sekarang!” bentak dia.
Aku marah. Aku bingung. Marah tapi bingung.
“Denger ya kamu ya! Kamu masuk ke kamar orang. Jelas kamu yang harus keluar,” balasku.
Dia maju selangkah mendekatiku.
“Masih belum sadar. Well, let’s say, kamu semalam mabuk berat, kita ke hotelmu. Tapi kamu lupa nomor kamarmu. Jadi, aku buka kamar satu lagi. Di hotel yang sama. So, this is officially my room, not yours,”
Aku kaget bukan main. Barang-barangku tadi. Koperku. Pakaianku. Perlengkapan kerjaku. Kuperhatikan dengan seksama seluruh sudut ruangan. Mirip dengan kamarku, hanya lebih besar. Ada beberapa onggokan barang yang bukan milikku berdiam di atas sofa, di atas meja TV, dan di samping tempat tidur. Beberapa sepatu pun terlihat di dekat pintu dan yang pasti bukan milikku.
Sorry, sorry, aku minta maaf,” pintaku memelas.

Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian menghampiriku.
It’s okay, Darling, sana kamu kerja dulu, nanti setelah kamu selesai, kita ketemu. Ada banyak hal yang harus kita obrolin, okay?
O-okay,” kuambil kembali tak kerjaku, menentengnya, dan meraih gagang koper yang hendak kubawa keluar. Tapi dia mencegahnya.
“Ssst-sst… Nggak perlu. Your stuffs are already safe here. Nanti saja.”
Aku mengangguk dan masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga pagi yang luar biasa ganjil ini.

Pintu tertutup dengan suara debaman bervolume rendah namun menggema di dinding hotel ini. Sementara itu, langkah kakiku tak terdengar karena teredam karpet tebal yang terhampar di sepanjang lorong. Mendekati lift, ponselku berbunyi dengan getaran ganda sebagai penanda notifikasi yang masuk.

Kuambil dari dalam tas.
Ada dua pesan masuk.

Pesan pertama.
Dari Dimas,
“Makasih ya udah nemenin Om Ega. Dia suka sama kamu. Oh iya, mamamu sudah siap dioperasi. Baru saja dokter Franky ngabarin aku. Biayanya cukup. Kamu hebat, Beb. Ketemu besok ya. Salam buat Om Ega. See you soon.”

Pesan kedua.
Dari Bella,
“Kamu dimana, Masayu? Pak Bos sudah nungguin kamu dari tadi. Cepat!”

Pagi Meredup Kelu

Suatu pagi berawan hitam menggantung sendu.

Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran tepat di balik jendela kaca berfragmen tetesan embun mencair. Menetes turun tertarik gravitasi. Tampak seperti lembaran kain putih kehilangan serat benangnya akibat goresan. Serupa ruas panjang beralur membentuk luncuran air di atas permukaan bidang rata transparan tegak vertikal karena sengatan matahari. Sebuah kaca bening pembatas bidang-bidang. Pembagi mana milikku dan mana milik orang. Penentu bagian luar dan dalam, gelap dan terang. Dari bagian gelap dan dalamnya aku bisa melihat hidup menggeliat di deret-deret gedung dan ruas-ruas jalan. Digelantungi udara basah sisa hujan lebat dini hari tadi. Berhasil memaksa pagi enggan beranjak siang. Alih-alih surut dan menghilang, kabut tipisnya malah makin melayang tenang memburamkan pandangan. Menghalau matahari menguapkan lenguhan pagi. Entah darimana datangnya, seolah makin tebal dan terus mengental. Tak rela membiarkan kerutan kulit bumi terlihat sempurna bagi mata manusia. Mungkin saja pagi masih serupa hantu berasap belum tersapu angin. Putih bersih bergentayangan pada dahan-dahan pohon. Beringsut mesra dalam rimbun perdu. Menyelinap di ketiak manusia. Meretas basah bersama angin pada kaca kendaraan di atas aspal.

Pagi ini berbeda, muram dan murung, tak berkawan dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pekikan keras klakson kendaraan terdengar sejak pekat gelap dini hari merayap pergi. Makin riuh menyetubuhi hamparan jalan dari ujung ke ujung, sudut ke sudut. Menyisakan dengungan berfrekuensi dalam gendang telinga. Menjadi remah bising udara yang terpaksa dinikmati manusia semerdu mungkin. Bersamaan dengan sang surya yang membumbung makin tinggi. Seolah sigap melipat warna hitam beraksen gemerlap lampu, kemudian menggantinya dengan hamparan warna dan bentuk bernama benda. Seonggok atau kumpulan zat, bernyawa dan mati, memiliki nama. Aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Ini dan itu. Setiap pagi dan malam. Hingga pagi tetaplah pagi. Tak rela udara basahnya menguap begitu saja. Memutih dari kejauhan tapi hilang saat didekati.

Pagi ini berbeda, berwarna tapi buram, tak bersahabat dengan warna-warna lainnya.

Aku mengenyam pagi dengan kadar kepekatan ganjil. Seolah jerat malam di kepalaku tak berniat pergi meski waktu terus berjalan maju. Seperti terhenti pada detik ke-59 sebelum pukul tujuh. Tanpa ada harapan melengkapi detik berikutnya menjadi menit. Diam. Menancap.

Pagi ini berbeda, waktu berjalan tapi pelan, tak berteman dengan ketergesaannya.

Tiba-tiba jam dinding besar di kafeku tak berdetak. Kupingku yang sudah terbiasa menikmati ritmenya setiap pagi, seakan peka ada yang ganjil mendadak. Suara tik-tok yang jelas terdengar sebelum alunan musik mendayu merdu, sebelum udara dipenuhi percakapan manusia-manusia pelanggan setiaku. Terlalu naif berkebetulan jika jam tanganku mendadak berhenti pula. Jarum panjangnya berdiri tegak menunjuk angka 12, jarum pendeknya pada angka 7. Aku menoleh kembali ke arah jam dinding, kemudian ke arah jam tangan, kembali lagi ke arah jam dinding, sama. Berhenti di pukul tujuh tepat. Tak urung rasa penasaranku malah membuncah. Kulihat pikuk orang yang berlalu lalang di depan kafeku untuk memastikan keadaan. Samar dari arah jendela berembun, mereka yang bernyawa dan berjalan di atas paving block trotoar mendadak berhenti. Kendaraan-kendaraan menepi, sebagian berhenti begitu saja tanpa ada insiden. Mandeg pada satu titik beku. Suara acak yang terdengar sebelumnya berubah menjadi dentuman keheranan massal. Mereka menundukkan kepala. Melihat seksama benda yang melingkar di pergelangan tangan. Sisanya mengamati benda kotak tipis bercahaya yang tergenggam. Alih-alih menatap lekat penuh tanda tanya, sisanya sibuk menekan serampangan permukaan bendar bersinar itu dengan telunjuk dan jempolnya. Lebih karena mencari sesuatu yang tak beres, bukan sengaja mencari kerusakan dan membetulkannya. Semakin parah ketika kumpulan pixel di layar tiba-tiba lenyap. Layar berubah hitam. Mati bersamaan. Mereka hanya menunduk. Tanpa menoleh ke tubuh-tubuh lain. Diam sempurna. Diikuti deru kendaraan dari kejauhan yang seiring melenyap senyap. Membenamkan diri dalam keanehan yang muncul berjemaat.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi di tempat dimana aku berada sekarang. Di dalam ruang bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan paling sibuk di tengah kota. Berjajar dengan bangunan tinggi pencakar langit yang terus meninggi berniat menggapai sekenanya. Berhadapan dengan pusat-pusat perbelanjaan lengkap dengan restoran dan kafe terkenal di dalamnya. Tapi kafeku, hanya bangunan tiga lantai berjajar membentuk kumpulan rumah-toko. Berdampingan dengan toko roti, salon kecantikan, toko buku, dan tempat usaha lain. Kupertaruhkan nyawaku disini. Rangkaian hidup berkoma tanpa titik, membentuk perjuangan dan pijakan kuat sebagai fondasinya. Bertahun-tahun bermimpi dan akhirnya tiga tahun lalu berdiri. “Soliterian Coffe Shop and Eatenary”. Buka pukul 8 pagi hingga 10 malam. Senin-Minggu. Jumat libur. Free-wifi. Diskon sampai 30% untuk makan siang.

Tiga pagawaiku telah datang lewat pintu belakang satu jam lalu. Rein, Indah, dan Agus. Tiga lainnya, Nia, Tita, dan Doni, akan hadir di shift kedua. Empat di atantaranya adalah juniorku di masa kuliah dulu. Sisanya hasil rekrutmen lowongan pekerjaan yang aku kirim ke rubrik iklan surat kabar kota. Mungkin karena kesamaan almamater, bersama mereka, aku lebih percaya kafe ini akan lebih maju dan terkenal. Baru dibuka dua tahun lalu. Seduhan kopi dan coklat hangatnya menjadi menu utama bagi para penikmat hari. Telur orak-arik dan mata sapi, roti lapis daging, serta bubur gandum panas, menjadi pilihan tepat bagi para pengejar pagi.

Empat tahun belajar dan bergelut dalam dunia organisasi di kampus, tak membuatku menyesal merekut mereka menjadi orang-orang penting di belakangku. Menjadi rekan kerja yang sama-sama mau maju. Menjadi diri sendiri dan nyaman bekerja karena aku mengenal mereka. Manusia-manusia hebat dengan kemauan besar dan para pekerja keras yang terlalu tangguh untuk diremehkan. Meski saling mengenal, bukan berarti tak profesional. Hubungan yang terjalin bukan tanpa hambatan, tapi bukan harus ditinggalkan begitu saja jika aral rintangan hadir membegal.

Awal adalah ujian untuk gagal. Bukan proses jika tak pernah gagal. Tapi, jatuh bangunnya tempat ini, tak pernah membuat mereka lepas dari aku. Sempat menerima gaji tak sesuai dengan jam kerja lebih, mereka terima di awal-awal berdirinya kafe yang menjadi mata pencaharianku ini. Semua berjalan naik turun lengkap dengan hiasan liku-liku terjal dan tak mudah. Dua tahun berjuang, hingga ketika tempat ini mendapat kepercayaan dan pengakuan orang, dan mereka pun berhak mendapatkan lebih. Kerja keras yang terbangun bukan karena nyawa satu orang, tapi kumpulan jiwa ini, siap menjadi sandaran hidupku, hidup kami.

Pagi ini berbeda, membuka cerita lama, dan aku masih di balik jendela kaca.

“Mas, kopinya,” suara Indah membuyarkan lamunanku tepat saat dia menyerahkan secangkir kopi hitam kepadaku.
“Eh, iya. Thanks ya, Ndah.” telapak tanganku menghangat ketika cangkir itu tergenggam. “Rein dan Agus dimana?”
“Di dapur, Mas. Dua-duanya.”
“Ohh.. okay.” aku menyeruput cairan kental hitam dengan rasa dan aroma khas. Pahit khas kopi Arabica. Kenimatan tiada tara dalam ruangan dingin ber-AC pagi ini.
“Pagi yang aneh ya, Mas?”
“Menurutku juga begitu. Tiba-tiba semua jam behenti. Jam tangan, jam dinding, jam di ponsel. Sudah hampir 3 menit tak bergerak.”
“Bukan jamnya yang berhenti, Mas…”
Aku melihat heran ke arah wajahnya.
“Lantas?”
“Waktu yang berhenti, Mas.” dia membalas dengan senyuman. Mengambil celemek yang berada di sakunya. Kemudian menyeka permukaan meja yang menurutnya kurang bersih.
“Aku tahu. Tapi apa maksudmu sesungguhnya?”
“Waktu yang mengajarkan pada kita bahwa hidup itu misteri. Waktu pula yang membelenggu kita agar tak kuasa membongkar misteri itu sendiri, Mas. Padahal tahu sendiri ‘kan rasa penasaran manusia tak pernah ada ujungnya. Ingin tahu ini dan itu, semua. Hanya waktu yang disimpan rapat-rapat oleh Tuhan. Manusia cukup menikmatinya.”
Kuteguk kopi hitam yang suhu panasnya mulai turun.
“Mas, tahu? Kurun waktu yang tercipta di semesta berakhir pada satu tujuan yang memiliki dua cabang. Pertama, waktu yang mengejar kita. Atau kedua, sebaliknya, kita yang mengejarnya.”
Aku mengangguk, memperhatikan.
“Jika kita memilih opsi pertama, jelas kita bukan orang yang cerdas. Efisiensi waktu tidak ada. Pilihan pada sesuatu yang harus diprioritaskan pun mungkin hanya sekedar memilih tanpa pikir panjang. Kita bakal merugi jika memilih waktu yang mengejar kita, Mas.”
Aku diam.
“Namun, ketika kita memilih pilihan kedua, dengan kata lain kita memiliki waktu. Kita akan sadar bahwa waktu butuh prioritas. Membuat kita sadar ada sesuatu yang mahapenting yang harus kita dahulukan ketimbang perkara kecil yang hanya dibesar-besarkan saja. Baik karena emosi sesaat atau bahkan dengan pikiran kosong sekalipun.”
“Maksudmu apa, Ndah?”
“Mas, my bos, cintai hidupmu dengan membagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali ke orang-orang yang kamu sayangi, yang menyayangimu. Kamu sudah cukup lama tidak bercengkerama dengan mereka. Seolah temanmu hanya benda mati dalam bentuk koin dan lembaran yang tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki. Mas pasti paham jika sesuatu itu adalah …”
“Waktu.” kami berdua berucap bersamaan.
Kami terdiam. Sesekali bertatap mata, Lebih tepat aku yang menatapnya.
“Ada yang berhak dengan waktumu. Sebelum semuanya terlambat, Mas …”

Dari arah dapur terdengar teriakan yang muncul tiba-tiba.
“Mas-mas! Kesini sebentar, Mas!”
Aku berjingkat dari kursi dengan wajah kaget. Menyenggol lengan Indah sebagai kode agar dia turut serta bersamaku ke asal suara itu muncul. Tapi Indah tak bergerak selangkahpun. Dia hanya berdiri dan tersenyum. Dan aku meninggalkannya.
Dapur terlihat baik-baik saja. Oven masih menyala sempurna berisi adonan roti yang mulai matang mengembang. Yang membuat aneh hanya keberadaan dua orang yang sama-sama tak melepas pandangannya dari tayangan bergerak dalam televisi.
“Mas, tonton!” Rein memintaku mendekat kepadanya.
Aku melangkahkan kakike arah mereka berdua. Kemudian memalingkan wajahku melihat siaran berita pagi. Terlihat kobaran api berwarna merah-oranye menyala-nyala hebat dengan kepulan asap berwarna hitam keluar dari suatu bangunan.
“Keraskan volume-nya!” perintahku.
Agus yang membawa remote control TV dengan sigap mengeraskan suara TV beberapa level ke atas.

“Polisi masih belum bisa memastikan asal-muasal ledakan yang terjadi sekitar pukul lima pagi tadi. Dugaan sementara karena kebocoran LPG dari salah satu kamar penghuni apartemen. Selain kobaran api, ledakan ini juga memicu kebocoran pipa air akibat kerusakan yang ditimbulkan. Kondisi ini sekaligus mematikan aliran listrik di seluruh bangunan. Tidak menutup kemungkinan arus pendek terjadi. Belum diketahui berapa jumlah korban jiwa. Namun, pemadam kebakaran telah menemukan beberapa jenazah yang langsung dievakuasi oleh tenaga medis setempat ke rumah sakit terdekat. Dan akibat peristiwa ini, diperkirakan kerugian materi mencapai milyaran rupian. Sekian laporan kami langsung dari ledakan di Megahria Apartment. Kembali ke studio.”

Aku tertegun.
Megahria Apartment.
Aku pernah tahu letak apartment itu.
Tapi aku lupa.

“Apartemen Indah, Mas?” nampak wajah Agus sedih dengan mata berkaca-kaca.
“Indah?” aku melihat mereka berdua.
“Indah tinggal di apartemen itu, Mas. Dia belum datang ke kafe pagi ini.”
“Jangan bercanda kalian. Baru saja aku ngobrol dengan dia di depan.”
Mereka berdua bertatapan.
Aku kembali terdiam.
Kuberlari ke arah depan kafe. Sempat menabrak pinggiran pintu dan membuat siku tanganku sedikit nyeri. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin memastikan bahwa Indah tadi benar-benar ada denganku. Bersamaku.
Tapi dia tidak ada.
Tidak berada di tempat dimana kutinggalkan dia.
Tidak berdiri tersenyum kepadaku seperti terakhir kali aku melihatnya.

Hanya celemeknya yang teronggok diam di atas meja.
Ditemani secangkir kopi milikku.

Pagi ini berbeda, ada pesan tertinggal, dari yang pergi namun tetap di hati.

Mengenang teman baik kala masih duduk di SD hingga SMA.
Putera Omega.
Selamat tinggal, Kawan.
Semoga kita bisa berangkat sekolah bersama di kehidupan lain.

Bukan Kisah Sedih

“Brondong, jangan lupa nanti matiin AC-nya abis kelar siaran!” Pinta Didi dengan nada tinggi. Terlihat masih sibuk berkonsentrasi melukis dan menebalkan alisnya dengan pensil alis warna coklat tua. Sesekali iya memiringkan wajahnya yang telah lama menatap cermin. Menoleh ke kanan, lanjut ke kiri, berusaha menyeimbangkan garis dan lekuk alis agar tampak rata. Kondisi meja berantakan. Berupa perkakas make-up mulai dari cermin rias, bedak, lipstik, maskara, bahkan kabel hair dryer dan catok rambut masih menancap di colokan listrik.
“Aman, Buk! Buru-buru amat, mau kemana sih?” tanyaku penasaran.
“Situ mau tau aja!” jawabnya singkat, sembari mengoleskan ujung rambut kuas kecil yang basah setelah dicelupkan ke botol lipstik cair warna merah burgundi ke bibirnya. Berlanjut menempelkan bibir atas dan bawahnya beberapa kali dengan suara ‘paff-paff’. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah bibirnya yang makin merona. Ditutup dengan senyuman khas kepuasan.
“Terus barang-barang ini dikemanain?” tanyaku sambil menunjuk ke barang-barangnya yang teronggok berantakan di atas meja.
“Cabut kabel-kabelnya, gulung, taruh di laci meja kerja, tuh disana! Semua yang ada disini, ditaruh disana. Tolong ya!” Dia menunjuk ke arah meja kerja di ruang sebelah.
“Sekarang?”
“Nggak, besok!” tukasnya singkat sambil melotot ke arahku.
“Wah catoknya baru?” Aku menggodanya.
“Itu M-A-H-A-L, mahal! Boleh dipinjem, 50 ribu sekali pakai.”
“Pelitnya si Ibuk Judes,” pekikku.
“Biarin! Yang penting cantik. Udah dulu ya. Met siaran, Brondong! Wish me luck!” Dia bergegas menjinjing tasnya, menerobos pintu geser dengan langkah cepat.
“Wish me luck buat apa neh?” tanyaku dengan lantang saat melihatnya sibuk mengenakan sepatu hak tinggi warna merah. Stiletto 17 sentimeter. Setahuku harganya di atas 5 juta rupiah, sepatu kebanggannya. Malam ini Didi memang terlihat cantik. Rambut panjangnya tergulung jatuh hasil roll dan catok rambut. Dibiarkan menjuntai normal tanpa hiasan kepala, jepit rambut, bandana, atau hiasan kepala lainnya. Pun make-up yang menempel di wajahnya tidak terlalu menor, simple-chick seperti yang tertulis di rubrik kecantikan majalah urban. Pada bagian tubuh, tank-top warna putih tertutupi bolero dengan warna senada melekat membentuk siluet. Sementara di bagian bawah, denim hitam ketat menonjolkan bagian yang paling seksi, paling jenjang, paling montok. Perfectly curved. Padat, sintal, dan berisi.
“Bye-bye, Brondong! Hahahaha!”
Tanpa jawaban.

*****

Didi merupakan satu-satunya penyiar senior perempuan yang memanggilku dengan nama ‘brondong’ sejak kujawab pertanyaannya tentang berapa usiaku di saat pertama kali kami berbicara. Kala itu aku baru dua minggu menjadi penyiar training. Di minggu ketiga dari rangkaian tiga bulan program training, aku bertemu dengannya. Di minggu itu yang berperan sebagai trainer untuk program penyiar baru adalah Didi, selain penyiar-penyiar lain yang juga mendapat jadwal sama bergantian. Sudah menjadi jatah Didi yang akan membagi ilmunya padaku. Sosoknya yang cerewet, judes, dengan dandanan feminim di setiap harinya, sontak membuatku sering mati kutu. Antara rendah diri, tidak nyaman, dan terintimidasi. Memnag jadi kelemahanku ketika harus berhadapan dengan perempuan seperti dia. Saat itu.
“Ohh situ masih muda ya?” tegasnya.
“I-i-iya, Kak.” jawabku gugup.
“Jangan sombong kalau nanti sudah jadi penyiar radio beneran!”
“Ba-ba-baik, Mbak.”
“Tadi kak, sekarang mbak, gimana sih?”
“Anu Kak, Mbak…” saat itu ingin sekali kupanggil dirinya dengan sebutan ‘tante’, tapi urung kulakukan.
“Dasar brondong. Brondong, sana balik studio!”
Setelah kejadian itu, di bulan-bulan berikutnya, nama ‘brondong’ melekat menjadi nama panggilanku. Sering pula digunakan oleh penyiar lain bahkan beberapa karyawan lantai satu pun ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Brondong ini lah, brondong itu lah, semua serba brondong. Berkat sebutan itu pula hubunganku dengan Didi semakin cair dan hangat. Sebagai teman, adik, teman nonton, belanja, bodyguard ke kamar mandi malam-malam, hair stylist yang meluruskan atau mengeluntung rambutnya dengan catok, teman curhat apalagi.
Dengan nama ‘ibuk’, kugunakan sebagai panggilanku kepadanya. ‘Ibuk’, sebutan untuk seorang ibu versi bahasa jawa. Bukan lagi ‘kak’, atau ‘mbak’, menegaskan kalau dia sudah seperti ibu-ibu dan pantas dipanggil ibuk. Bisa dikatakan sebagai usaha memperhangat pertemanan kami. Kedekatan itu semakin mengental ketika kami dikukuhkan menjadi partner siaran di salah satu program non-permanen saat bulan Ramadhan di tahun keduaku bersiaran. Selama 29 hari kami menjadi duo penyebar hadiah dan periuh jam sahur, sekaligus pemukul bedug imsak dan adzan subuh. Namun, program sahur itu tak kami dapatkan lagi di tahun berikutnya karena ada rotasi penyiar. Dari dia dan bertahun-tahun pengalaman menjadi seorang penyiar radio serta guru public speaking, ladang ilmu siarannya aku panen dengan gampang.

*****

Namun, ada yang berbeda dengan dirinya malam itu. Didi yang satu setengah jam sebelumnya berparas ceria dan kenes, serupa gadis centil dadakan dengan agenda istimewa yang terahasia, ditambah sepuhan kecantikan hasil dempulan make-up dan busana seksi yang lekat menjalar, kini malah terlihat jauh 180 derajat perbedaannya. Dari pandangan mataku dari balik kotak kaca, sosok tubuh Didi berdiri di depan pintu masuk dengan wajah menunduk. Rambutnya terlihat lepek, sepertinya basah terkena air hujan. Kemungkinan besar bajunya basah, lebih parah lagi make-up-nya pasti luntur. Langit memang sedang asyik-asyiknya mencurahkan air di bulan-bulan penghujung tahun itu. Jika malam ini hanya gerimis panjang sejak sore tadi, lain halnya dengan hari lain yang hujan lebat bergemuruh.
Ketika kuperhatikan lebih seksama dari kejauhan, benar dugaanku. Dengan wajah sayu dan helaian rambut basah yang menempel pada kening dan pipinya, dia membuka pintu kaca. Dilepaskannya sepatu merah itu, kemudian dia letakkan pula tasnya di atas karpet. Membuka dan mengambil sesuatu. Beberapa saat kemudian muncul nyala api, membakar ujung sebatang rokok yang terjepit di bibirnya. Lalu muncul hembusan asap rokok. Perlahan menebal, menutup sebagian wajahnya yang makin redup. Ada yang tak beres dengan Didi.
Rasa penasaranku berbuah hasil ketika mendadak dia mentapku dari kejauhan. Matanya tak bisa menyembuyikan perasaan dan isi hatinya. Dia masih mencoba tegar dengan hembusan asap yang dikeluarkan tak teratur dari rongga mulut dan hidungnya. Tapi yang terjadi 5 menit kemudian sungguh tak bisa dinyana-nyana. Dia lunglai, terduduk di atas ubin becek hasil guyuran hujan. Dengan sigap kutinggalkan siaranku, masih ada beberapa lagu yang akan terus berputar. Kuabaikan deringan telepon dari para pendengar yang bersemangat ingin on air bersamaku. Membahas topik siaran yang aku suguhkan dalam siaran malam kali ini. Tapi itu semua tak lebih penting dari rasa ibaku kepada Didi hingga kusegerakan langkahku dan menemuinya secepat mungkin. Didi. Sebentuk manusia lunglai tak berdaya di depan pintu.
“Buk, kenapa?”
Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.
Rokoknya terlepas dari jarinya. Jatuh ke lantai yang basah. Membuat nyala apinya padam seketika.
“Kamu kenapa?”
Dia makin menundukkan wajah. Kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Tak lama yang kudengar hanyalah sesenggukan. Muncul dari kerongkongan seorang perempuan.
Segera kupapah dia ke dalam ruang tamu. Tapi aku berubah pikiran. Aku akan meninggalkan siaranku jika harus menemaninya di ruang berbeda. Tak ada siapapun di studio lantai dua yang bisa membantuku memperhatikan kondisi Didi. Langsung saja aku bawa dia masuk ke dalam kotak kaca. Kududukkan dia di atas karpet di samping meja siaran. Sekotak tisu dan handuk ukuran sedang kering dari dalam laci berpindah dari tanganku ke tangannya. Kunaikkan suhu ruangan dari remote AC agar lebih hangat. Badannya tak terlalu basah. Dering telepon masih nyaring mengusik telinga.
“Atta…” kemudian dia terisak. Aku semakin bingung.
“Wait, Buk!” Aku meluncur kembali ke kursi siaran. Menyusun lagu, bumper-in, iklan, promo, bumper-out, lagu, dengan durasi agak panjang secepat mungkin. Kucabut kabel telepon hingga deringnya tak terdengar lagi. Hanya suara lagu-lagu yang mengudara dengan tune rendah. Kemudian kembali mendekatinya.
“Ada apa, Buk?”
Didi mencoba mengontrol dirinya dan menegakkan tubuhnya. Maskara yang menebalkan garis matanya luntur berbekas. Tak bisa kutebak apakah itu dari air hujan atau air mata. Semuanya kelihatan sama saja.
“Atta ternyata sudah beristri,” air matanya tak terbendung.
“Hah? Bang Atta? Kok bisa?” aku terperanjat.
“Bisa, sebelumnya aku pikir dia mau melamarku, tapi ternyata…” isakan tangisnya makin dalam, sesekali cegukan. Dia sedikit kerepotan mengusapnya dengan tisu yang makin kusut tergenggam hingga aku harus membantu mengeringkan matanya yang basah bercucuran. Gumpalan-gumpalan putih lainnya tergeletak liar di lantai.
“Ya Tuhan, Buk!” Kurebahkan kepalanya ke pundakku.
“Aku pikir dia pulang ke Medan karena urusan keluarga dan proyek periklanannya. Dua bulan berpisah bukan waktu yang singkat, tapi tiba-tiba dia kembali dan minta maaf. Aku pikir ada kenapa-kenapa, ternyata dia minta maaf sekaligus pamit, dia kawin dengan perempuan lain. Semua hancur, Bas!” Baru kali itu, setelah sekian lama, dia memanggilku dengan nama sebenarnya.
“Sabar, Buk, sabar,” aku mencoba membesarkan hatinya.
“Aku bodoh! Bodoh. Aku nggak dengerin apa kata Joe tentang dia,”
“Bang Joe tahu?” aku keheranan. Artinya bukan aku saja yang menjadi tempat curhatnya selama ini. Jika Joe tahu, jangan-jangan semua orang di kantor ini juga tahu? Aku semakin kalut dengan pertanyaanku sendiri.
“Atta itu temen kuliah Joe. Joe bilang kalau dia itu player, tapi aku nggak percaya. Aku tertipu selama ini,” jelasnya. Sedu sedannya mereda.
Tiba-tiba dari arah depan suara pintu terbuka. Suara derap kaki berdebum terdengar semakin jelas mendekati kami berdua. Kemudian pintu kotak kaca terbuka lebar.
“Sudah kubilang sejak dulu ‘kan, Di! Makanya dengerin kalau orang ngomong,” Joe bersimpuh duduk di depan kami. Membelai rambut Didi dan mengusap air matanya. Didi yang sebelumnya berada di pelukanku langsung menggerakkan badannya dan berpindah ke rengkuhan Joe. Aku biarkan dia seperti itu.
“Sorry, Joe,” Didi kembali meneteskan air mata. Kini wajahnya tenggelam di dada Joe.
“Sudah-sudah… Kamu, balik siaran!” tiba-tiba Joe menatapku. Jari telunjuk kanannya teracung lurus. Memerintahku kembali bertugas di singgasana panas. Aku mengangguk, kembali ke kursi siaran.
Joe memapah Didi ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di sofa merah setelah segelas air putih dari dispenser habis diminum Didi. Mereka mulai berbicara dengan tampang dan tatapan serius. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam kota kaca ini. Hanya gerakan tubuh mereka berdua yang saling berpadu. Joe terus memegang tangan Didi, sementara Didi berulang kali menyapukan kertas tisu ke liang air matanya. Mencoba menahan alirannya, sepertinya tak bisa.
Aku menyaksikan mereka berdua layaknya menonton satu babak sinetron di televisi yang ada di ruang tamu. Menyala tapi tak bersuara. Perbedaannya hanya pada ukuran yang membuat tokohnya berbentuk seperti ukuran manusia aslinya, tentu saja dengan lebar layar yang tak biasa. Seperti menonton reka adegan pantomim tanpa teks terjemah. Mencoba mengambil makna dari lakon melalui terkaan jalan cerita yang tak dipahami penontonnya. Mereka berdua pemain dan aku penonton.
Sejenak aku teringat sesuatu. Kehancuran dosis tinggi yang dialami Didi malam itu, juga pernah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Di akhir pekan basah, di tempat yang sama. Ledakan emosi menyeruak dibalik dinding kotak kaca. Lembaran kertas berhamburan ke seluruh ruangan. Dua ponsel di atas karpet di bawah kaki meja. Sepertinya jatuh, atau sengaja dijatuhkan. Atau malah dibanting. Satu hari paling berantakan yang pernah aku rasakan selama aku menempati kotak kaca. Menimpa seseorang paling berpengaruh mengatur jalannya kinerja studio siaran. Menduduki level tertinggi di antara penyiar lain. Sebelumnya aku mengira dia adalah manusia terkeras kepala tanpa toleransi dengan sosok tinggi besar. Tapi ternyata, dia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi problematika. Antara dia dan kekasihnya.

*****

“ANJING!!!”
Aku terdiam tanpa kata tepat saat pintu masuk kotak kaca kugeser hingga terbuka lebar, sedetik setelah terdengar umpatan binatang itu terdengar memekak di telingaku. Dibumbui dengan suasana ruangan yang karut-marut. Terbelalak mataku dibuatnya, menyadari bahwa kertas promo, iklan, addlips, surat kabar, majalah, tak lagi berada di tempatnya yang pantas. Belum lagi alat tulis yang berceceran, jatuh di sudut-sudut bawah meja, sulit terjangkau tangan.
“Bang … Bang Joe, kenapa?” tanyaku penuh tanda tanya besar. Berusaha membuka obrolan dari dua orang manusia, yang satu kikuk, satunya kesurupan.
Dia diam. Mengembangkempiskan dadanya. Mencoba bernafas normal dengan menghirup oksigen banyak-banyak dalam suhu 16 derajat Celcius. Terbaca di layar remote AC. Dua tangannya berada di kepala, meremas rambutnya dan sesekali menariknya dengan jari. Mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak rambut. Seperti berjuang menyakiti diri sendiri agar rasa sakit lain tertutupi. Terakhir kulihat dai menelungkupkan telapak tangannya di wajah. Menyeka matanya yang memerah dengan jari, ditutup dengan bibir yang bergetar dan mendesirkan suara, “Kok bisa? Nggak mungkin, ya Tuhan!”
Dia menoleh ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat. Aku merasa tak nyaman. Joe menghampiriku yang beku berdiri di hadapannya. Segan untuk bergerak sesentimenter pun. Dua tangannya yang berpeluh memegang pundakku.
“Kamu punya kenalan dokter, nggak? Punya nggak?!” tanyanya dengan intonasi meninggi dan tersengal.
“A-a-ada Bang,” aku semakin gugup.
“Aku butuh dokter, atau dukun, atau apalah itu, yang penting, yang penting ini nggak terjadi! Nggak boleh kejadian! ANJING!” Dia berbicara sendiri.
“Kejadian apa, Bang? Apanya yang nggak boleh terjadi?”
Dia menoleh kembali padaku. Menarik nafasnya. Mengatakan sesuatu yang membuat paru-paruku berhenti memompa oksigen.
“Mira hamil.”
“Hah?! Mira hamil? Sejak kapan?” tak kupercayai pendengaranku.
“Aku nggak tau, yang pasti aku belum siap. Aku nggak mau jadi ayah. Aku nggak mau!” Nada suaranya mulai meninggi, kali ini dengan tempo lebih cepat.
“Bang Joe,” aku berusaha melunakkan suasana.
“Atau mungkin itu bukan bayiku, pasti dia selingkuh dengan laki-laki lain, nggak mungkin itu bayiku, aku pakai kondom, kecuali …”
“Kecuali apa?” tanyaku melanjutkan.
“Kecuali malam Valentine’s Day itu, tapi itu cuma sekali nggak pakai,” dia membela dirinya sendiri.
“Bang Joe, ada baiknya kamu sekarang ke Mbak Mira, kalian harus ketemu, obrolin baik-baik!”
“Tapi-tapi, Bas…”
“Be gentle, Bang,” tukasku singkat memotong kalimatnya.
Dia bergegas mengambil barang-barangnya. Memungut beberapa benda yang kemudian dimasukkan ke tas ranselnya.
“Please, cover up siaranku!”
“Iya Bang, take care!”
Dia mengangguk. Semenit kemudian lenyap berbekas. Isi kotak kaca pecah amburadul tak karuan.

*****

Didi: Jam brp smpe studio?
Aku: 8.00, whats up?
Didi: Nitip bir apa aja
Aku: Brp kaleng?
Didi: 4, klo bs b4 8PM uda di studio
Aku: OK
Pukul 7.35 aku sudah sampai di kantor. Area parkir masih basah oleh air hujan ketika aku sampai. Sembari memarkirkan sepeda motorku di tempat biasa, bisa kulihat mobil Didi dan Joe terparkir berdampingan. Tumben mereka berdua bisa bertemu di waktu ini. Seingatku jam siaran sore mereka berdua memang sama, hanya saja beda hari dalam satu bulan. Dua minggu Joe, dua minggu berikutnya Didi. Urusan tukar-menukar tiap hari apa saja mereka siaran, adalah mereka sendiri. Layaknya previledge bagi para senior.
Terdapat dua jalur menuju lantai dua: satu melewati tangga yang letaknya tepat di samping kantor di lantai satu, satunya lagi lewat pintu belakang dekat kantin yang sudah tergembok sejak pukul 6.00 petang. Artinya, untuk penyiar malam hanya bisa melewati satu-satunya jalur, yaitu melalu tangga. Lampu yang seharusnya menerangi tangga lengkung itu memang sudah mati beberapa hari terakhir ini. Tak tahu alasannya kenapa tidak segera diganti. Membuatku harus benar-benar membuka mata, membiarkan berkas-berkas samar cahaya dari kejauhan menerangi langkahku yang beranjak naik sambil menjinjing tas dan sekresek bir serta makanan ringan. Tidak cocok rasanya menikmati bir dingin tanpa snack, kacang goreng atau chiki-chikian.
Ujung tangga lantai dua berdekatan dengan pintu masuk studio. Hanya perlu 5 langkah sudah sampai ke gagang pintu. Namun ketika tinggal 3 anak tangga lagi, aku melihat sosok perempuan berbaju serba hitam berdiri membelakangi tangga, yang bisa kulihat hanya tubuh bagian belakangnya. Ramping, tapi agak sedikit melebar di bagian pinggang. Dari gesturenya sepertinya dia memandang pintu masuk studio siaranku. Sempat aku hentikan langkahku saat sosok itu berlari ke arah samping, ke lorong gelap di depan deretan ruang kantor lain yang sudah dipadamkan lampunya. Mungkin karyawati, atau OB.
Mataku terbelalak melihat seseorang yang terbaring kulai di sofa merah, meraung dengan suara rendah, berlinang air mata. Didampingi Didi dan satu teman yang tak kukenal. Aku kebingungan. Aku berinisiatif menarik lengan Didi. Menginterogasinya.
“Bang Joe, kenapa lagi?” tanyaku.
“Mira…” jawab Didi singkat.
“Mira kenapa?”
Didi sejenak diam, kemudian berujar.

“Mira tewas gantung diri, janinnya nggak bisa diselamatkan,”

Lidahku kaku.

Tas ranselku jatuh berdebam, diikuti gelontangan kaleng bir.

Thanks buat mas Joe, mbak Didi, mbak Almira, yang aku reka menjadi tokoh di cerita fiksi ini. Salam hangat untuk kalian semua yang tumbuh di keluarga besar Pro2FM Surabaya Radio Republik Indonesia. Sangat merindu duduk di kursi siaran lagi.

Adalah Nama Saya

    Nama saya Amal, nama lengkap Amal Mushollini, nama siaran Amal Bastian, dan nama panggung Bastian. Tapi tetap terasa hangat kalau dipanggil Amal saja. Bagi yang doyan sejarah internasional mungkin tidak asing dengan nama Mushollini, at least pernah mendengar atau membaca sosok pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini. Ya, spelling-nya terdengar hampir sama, tapi artinya sungguh berbeda. Bukan karena almarhum bapak saya mengidolakan si Om Benito atau gandrung dengan pahamnya, tapi menurut beliau (Bapak saya), nama Mushollini berasal dari kata dasar bahasa Arab ‘sholat’, kemudian nama ‘adik’-nya masjid ‘musholla, dan berakhir menjadi mushollini. Hampir bisa disejajarkan dengan kata ‘islam’ yang berarti agamanya (objek), ‘muslim’ sebagai penganutnya (subjek), dan ‘muslimin’ menjadi unsur jamaknya. Seperti itu yang dijelaskan oleh almarhum, dan saya telanjur meng-iya-kannya tanpa penelitian lebih lanjut. Mungkin bagi yang paham bahasa Arab, akan bisa memaklumi atau mungkin menertawakan. Ya begitulah.

Tetap panggil saja saya Amal.
Saya lahir di Kediri, tepatnya di desa Rembang Kepuh, kecamatan Ngadiluwih, kabupaten Kediri. Sungguh bukan anak kota madya, kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari desa saya ke alun-alun kota Kediri. Desa Rembang Kepuh terkenal dengan perdagangan bunga-bunganya. Bunga hias, pohon hias, sampai ikan hias. Tapi lebih terkenal dengan tanaman-tanaman yang sering jadi jujukan para pecinta tanaman atau kolektor. Dan biaya hidup saya juga dari hasil penjualan tanaman-tanaman tersebut, disamping dari gaji ayah saya sebagai guru agama dan bahasa Indonesia di madrasah tsanawiyah swasta. Tidak jauh dari rumah kami. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Kakak perempuan dan dua adik laki-laki.

Saya menghabiskan bangku Taman Kanak-kanak di sebuah TK kecil di desa tetangga. Kalau desa saya bernama Rembang Kepuh, desa tetangga itu dinamai Rembang Lor. Lor artinya Utara. Utara dari desa saya. Kemudian setelah menghabiskan masa dua tahun di TK, saya melanjutkan enam tahun belajar di sekolah dasar. Tentu saja masih berada di desa saya. Namanya SDN Rembang Kepuh 1. Letaknya tepat di jantung desa. Yang mana desa kami memiliki tiga dusun. Dusun Rembang Kepuh sendiri, dusun Tawang Rejo, dan dusun Bulu Rejo. Otomatis, sekolah dasar tersebut menjadi pusat edukasi dasar bagi anak-anak dari tiga dusun tersebut. Termasuk SDN Rembang Kepuh 2. Akan tetapi, terakhir saya mendengar bahwa dua sekolah dasar tersebut sudah bergabung menjadi satu. Selain itu, ada pula sekolah sore atau madrasah yang juga menjadi tempat saya belajar agama. Bisa dikatakan sebagai tempat mengaji. Semua pendidikan layaknya mata pelajaran pesantren, diajarkan di sekolah sore itu.

Lepas dari SD, saya melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi bukan SMP umum, melainkan sekolah yang kental bernafaskan islam, yaitu madrasah Tsnawiyah. Letaknyanya berada di Ngronggo, masuk ke bagian kota Kediri. Ibuk saya mengatakan, kalau mau melanjutkan SMA di kota, akan lebih baik jikalau sewaktu SMP sudah bersekolah di kota. Alasannya agar tidak kesulitan mengurus rekomendasi sekolah dari anak kabupaten ke anak kota. Dan hasilnya, tiga tahun saya menghabiskan waktu di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kediri, akhirnya saya bisa terlempar dengan baik dan mudah ke bangku sekolah lanjutan tingkat atas di kota, yaitu di SMAN 2 Kediri. Satu tahun di kelas 1, dan dua tahun di kelas 2 dan 3 dengan jurusan IPA, tak kunjung membuat saya pintar dengan pelajaran berbau eksak. Sejak SD hingga SMA, saya hanya demen pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni menggambar, dan sejarah. Meski berada di kelas IPA, hanya biologi yang lebih saya sukai daripada mata pelajaran lain di jurusan itu. Masuk ke kelas IPA adalah permintaan dari ibuk dan bapak. Mereka terus mengatakan bahwa kalau anak IPA akan mudah masuk ke perguruan tinggi. Bisa masuk ke institut, ekonomi, dan jurusan-jurusan yang ada hubungannya dengan angka. Padahal saya tidak suka angka. Kecuali nominal yang tertera di akun rekening saya. Tapi begitulah permintaan orang tua yang membiayai sekolah saya. Saya wajib menurutinya.

Jangan hadapkan saya ke matematika, pelajaran ini menjadi momok bertahun-tahun dalam hidup saya. Mulai dari guru-gurunya yang killer, hingga mata pelajaran yang membuat saya terus bertanya sepanjang hidup saya: “Kalau ada kalkulator, kenapa harus repot-repot menghitung dengan menggunakan rumus?”. Apakah mungkin generasi saya tidak diajarkan untuk menikmati hidup yang efisien dan efektif? Apakah harus menentukan jawaban eksak dengan urutan formula yang panjang kalau secara singkat saja, atau mencongkak saja, bisa saya lakukan? Terlalu ribet pendidikan di negeri ini, yang sederhana dibuat rumit. Apalagi pada materi IPA kimia dan IPA fisika. Saya pernah membolos di kelas kimia karena saya bingung menghafal urutan tabel kimia, campuran zat dengan rumus Ar/Mr, dan sejenisnya. Padahal menurut saya sendiri, daya ingat saya cukup baik. Pernah ada guru, saya lupa guru apa, mengatakan pada saya bahwa dari hasil tes IQ dan pemahaman diri siswa, saya memiliki daya ingat fotografis. Mengingat orang, benda, dan menghafal sesuatu dengan level di atas rata-rata. Tapi tolong, jangan matematika atau saudara-saudaranya.
Lanjut.

Harapan saya setelah lulus SMA adalah bisa langsung melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tapi dengan syarat tegas dari orang tua, yaitu saya harus lulus SPMB atau UMPTN. Nasib berkata lain, tahun pertama saya mencoba tes masuk dari pemerintah tersebut, saya gagal di tiga jurusan yang saya pilih. Beberapa teman di desa, termasuk sepupu saya, yang juga mengikuti tes tersebut, berhasil masuk. Membawa mereka keluar dari desa. Sementara ketakutan terbesar saya setelah lulus SMA adalah harus tinggal di rumah. Tidak melakukan apa-apa. Gambaran yang bisa menjadi mimpi buruk saya. Saya bukan orang yang biasa diam. Selama hari-hari paska gagal UMPTN, hari-hari saya isi dengan kegiatan yang meghasilkan uang. Membantu urusan kantor desa. Berhubung ibuk dan bapak punya relasi dengan keluarga pak lurah. Otomatis saya sering diajak melakukan kontrol desa. Mulai dari kegiatan kependudukan, mengurus acara karang taruna, hingga ikut program-program lainnya. Ada pemasukan ke kantomg saya dari kegiatan-kegiatan itu. Seirng waktu, Alloh tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Dengan izin ibuk dan almarhum bapak, saya bisa melanjutkan studi ke kursus bahasa inggris di Pare. Masih menjadi bagian di kabupaten Kediri. Pare terkenal dengan kampung inggrisnya. Banyak pemuda dan pemudi berasal dari seluruh pelosok nusantara yang belajar di sana. Bahkan ada yang dari luar negeri, contohnya Malaysia dan Brunei Darussalam. Terdapat beragam tempat kursus di kampung ini, salah satunya adalah Basic English Course atau BEC. Saya emnjadi siswa di dalamnya. Di kampung inggris ini saya belajar banyak tentang kemandirian. Menjadi jembatan saya untuk bisa belajar tentang mengurus diri sendiri. Tidak melulu tergantung pada orang tua. Selain bahasa inggris baik lisan maupun tulisan, saya juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian UMPTN tahun berikutnya. Setelah enam bulan belajar bahasa inggris dan lulus di peringkat kedua dari ratusan siswa-siswa, ujian masuk perguruan tinggi sudah berada di depan mata. Berkat kerja keras, doa orang tua, dan ridho Alloh SWT, alhamdulillah saya lulus dan masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Airlangga di kota Surabaya.

Hijrah ke kota Surabaya menjadi momen shock-culture bagi saya. Lingkungannya, orang-orangnya, biaya hidupnya, membuat saya harus bekerja keras untuk beradaptasi. Beruntung saya memiliki teman-teman baik dari SMA yang sudah lebih dahulu tinggal di kota pahlawan itu. Mereka membantu dan mengkondisikan saya untuk bisa survive sebagai anak rantauan di kota besar. Dan sekali lagi, sejalan dengan waktu, saya mulai memiliki kawan dan relasi, dari beragam daerah dan berbagai latar belakang.
Dua tahun pertama kuliah, saya memampatkan mata kuliah yang saya tempuh. Saya tidak menyia-nyiakan waktu kuliah, yaitu dengan mengambil SKS maksimal per semester. Sesuai dengan program studi saya: dalam kurun waktu dua tahun, biaya kuliah akan ditanggung oleh orang tua. Namun di tahun-tahun berikutnya, saya harus mampu membiayai hidup dan kuliah saya sendiri hingga lulus. Saya selalu berkaca pada diri sendiri: tidak mungkin saya menghabiskan biaya hidup keluarga untuk kuliah saya. Masih ada dua adik yang harus dibiayai oleh ibuk dan bapak. Dan sekali lagi, Alloh Yang Maha Kuasa mewujudkan impian saya. Sambil kuliah, saya menjadi seorang Master of Ceremony untuk beragam acara. Baik ulang tahun, exhibition, gathering, wedding, dan acara-acara lain, yang penting saya bisa menghasilkan nafkah halal untuk biaya hidup saya. Yang penting halal, apapun saya lakukan. Beberapa anggota keluarga besar saya sering pesimis tentang pekerjaan saya. Tapi saya tidak mau tahu. Urat malu saya sudah putus. Selain menjadi MC dari panggung ke panggung , mall ke mall, hingga ke pasar-pasar, usaha untuk mendapatkan pekerjaan di dunia media pun tidak pernah saya lepaskan. Surat-surat lamaran dan CV sudah banyak yang saya kirim ke stasiun-stasiun radio maupun TV yang tersebar di kota Surabaya. Banyak CV dan surat lamaran yang dikirim, artinya banyak pula yang ditolak. Dan memang benar, mulai dari cercaan sekaligus intimidasi tentang karakter diri sebagai pelamar kerja, menjadi jajanan saat itu.

Namun di akhir tahun 2009, lebih tepatnya 10 bulan setelah bapak meninggal dunia, saya mendapat tanggapan positif dari Radio Republik Indonesia Surabaya, yang menyatakan bahwa lamaran saya untuk menjadi penyiar radio diterima. Panggilan pertama menjadi pengumuman untuk megikuti beragam tes dan kualifikasi atau filterisasi hingga ditemukan calon penyiar radio terbaik yang kemudian akan digembleng untuk menjadi penyiar radio tetap. Beragam tes yang harus ditempuh, saingan yang tidak sedikit, dan tantangan menjadi seorang penyiar radio berkarakter, akhirnya membawa saya ke titik penentuan. Hanya terpilih tiga orang calon penyiar radio dari sekitar 1.500-an pelamar. Alhamdulillah. Maha Besar Alloh.

Saya hanya bertahan selama tiga tahun menjadi penyiar radio di Programma 2 RRI Surabaya. Tahun pertama adalah pembentukan karakter penyiar. Menjadi sosok Amal yang ‘kepenyiar-nyiaran’. Merubah nama Amal Mushollini menjadi Amal Bastian. Nama belakang yang dirasa produser saya lebih komersil. Bastian diambil dari nama Sebastian. Tokoh kepiting merah, sahabat Ariel si putri duyung dalam film The Little Mermaid karya Disney. Kenapa kepiting? Karena zodiak saya adalah Cancer, kepiting. Itu arti dari nama yang menjadi beken di pekerjaan saya saat ini. Sederhana, muncul tiba-tiba.
Memiliki titel berkantor RRI, membuat saya mudah mendapatkan klien untk event-event yang bisa saya handle. Tentu saja sebagai MC. Dulu saya sering menjadi MC untuk produk ponsel asal Tiongkok yang dijual di World Trade Centre Surabaya. Berkoar-koar menjual produk dari jam 12 siang hingga jam 6 sore dengan gaji 100-150 ribu per hari, namun dengan kontrak MC yang lama. Ada yang sebulan, dua bulan, bahkan kalau ada produk baru yang di-launching, saya lah yang menjadi MC tetapnya.

Saya semakin memahami bahwa waktu yang memoles semuanya. Membuat pengalaman menjadi CV berjalan sekaligus lahan marketing yang bisa saya gunakan meningkatkan level profesi saya ke arah lebih tinggi. Memperkenalkan diri saya dari nol ke angka-angka tinggi berikutnya dalam karir saya. Masih di tahun pertama menjadi penyiar radio, saya bertemu pengajar broadcast dan public speaking. Meminta saya menjadi pengajar tetap materi penyiaran di sekolah-sekolah ternama di kota Surabaya. Contohnya sekolah-sekolah yang masuk ke Yayasan Petra, sekolah-sekolah kristen, dan sekolah umum lainnya. Kondisi ini berlanjut kepada tawaran dari beberapa agensi model. Mereka meminta saya untuk mengajar teknik public speaking, materi-materi umum tentang kemampuan percaya diri dan bicara dengan baik di depan public, hingga hal-hal berbau dunia radio. Dan aktivitas ini terjadi di tahun-tahun berikutnya. Setiap hari saya belajar di bangku kuliah, siaran radio, mengajar, mengisi acara untuk beragam event, dan tentu saja bergaul. Hidup saya berasal dari pergaulan dan kemudahan berinteraksi dengan orang. Menjadi sosok yang easy going namun berkarakter.

Di akhir tahun kedua menjadi penyiar radio tidak membuat saya nyaman. Saya ingin melakukan hal lebih. Bukan hanya ini dan itu saja. Saya mau menjadi sosok di kota ini, bahkan di propinsi ini. Akhirnya di awal tahun berikutnya saya melamar lagi ke beberapa stasiun TV, hasilnya, banyak yag tidak menerima saya. Saya ditemukan oleh sosok di balik layar, saat saya menjadi MC di sebuah event rakyat. Beliau memperkenalkan saya dengan beberapa produser acara di stasiun TV Surabaya, yaitu SBO TV. Saya mulai mengikuti audisi, sering menonton acara-acara di stasiun tersebut, bahkan berlama-lama ‘nongkrong’ di studio saat ada acara live. Karena kemampuan ‘ngeyel’ saya, seorang produser mulai membawa saya untuk memegang acara berita. Sangat sedikit porsi saya syuting di studio. Di awal karir di dunia pertelevisian, saya harus terjun ke lapangan. Mulai dari nol dengan menjadi reporter. Reporter lalu lintas, agenda kota, dan sebagainya. Dan beruntung saya mudah belajar. Hanya beberapa bulan di lapangan, akhirnya saya bisa menjadi news anchor yang on cam di studio. Awalnya hanya membaca berita, namun terus berlanjut ke acara-acara talkshow, hingga membuat saya bisa bertatap muka dan berbincang dengan orang-orang penting. Pejabat, pengusaha, artis, dan suara masyarakat. Di tahun ketiga menjadi penyiar radio dan tahun pertama menjadi news anchor TV, kegiatan full day saya adalah: siaran TV, siaran radio, mengajar broadcast dan public speaking, kuliah, dan tidur. Sayang butuh tidur karena saya kurang tidur.

Karena posisi saya di stasiun TV mulai mengarahkan saya ke acara primetime dan harus syuting setiap hari, akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan meja siaran radio saya. Kantor yang membentuk diri saya. Orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Banyak pihak yang menyesali keputusan saya, khususnya kantor Pro 2 RRI Surabaya sendiri. Namun di sisi lain banyak pula yang mendukung dengan alasan bahwa saya tidak harus berada di zona nyaman. Dan opsi kedua yang saya ambil. Saya harus keluar dan menantang diri saya untuk menjadi sosok Amal Bastian di industri media massa.
Seiring dengan pekerjaan yang saya geluti, harapan menyelesaikan bangku kuliah S1 harus segera saya tuntaskan. Dan alhamdulillah, 3,5 tahun kuliah total, 2 tahun abal-abal, dan 1,5 tahun mengerjakan skripsi yang membinal, akhirnya mampu memberikan gelar dibelakang nama saya dengan titel S.Hub.Int. Dalam kurung waktu 7 tahun saya tinggal di Surabaya, semua yang saya anggap sebelumnya mustahil, ternyata terjadi dan saya alami sendiri. Kun fayakun. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.

Dan sekarang, saya masih menetap di Surabaya. Masih menjadi news anchor dengan jadwal stripping dari Senin-Sabtu untuk acara talkshow di SBOTV. Masih menjadi pengajar terbang di bangku sekolah dan kuliah sekaligus seminar umum. Masih menjadi sosok MC untuk beragam acara. Masih ingin melanjutkan studi S2. Dan masih bercita-cita menjadi penulis.

FYI, cita-cita saya sangat sederhana: saya mau hidup nyaman di pegunungan yang dingin dengan keluarga kecil saya dan melihat orang-orang mencintai karya tulis saya.

Sekian…
Wassalamu’alaikum…

Menulis Harga Diri

Berhenti menulis karena sitaan waktu kerja dan pemenuhan tuntutan eksistensi sebenarnya mutlak bukan menjadi alasan yang tepat bagi saya untuk memutus hubungan dengan selipat buku elektronik berwarna putih yang sudah menenami saya sekian tahun ini. Bukan pula karena urusan bangku kuliah yang telah ditamatkan malah menjadi penyokong raga agar menjauhi kegiatan tulis menulis. Saya berhenti dan vakum menulis karena pilihan. Pilihan memenuhi kebutuhan primer yang menurut saya harus dikhatamkan terlebih dahulu sebelum si sekunder bisa mengikuti. Meski sedikit memaksa melawan idealisme saya yang gandrung merangkai kata dan menyusun jurnal -sebelumnya sangat sukar saya kerjakan- hanya sekedar bisa dipandang lebih beradab bagi orang lain, termasuk ibu saya yang bangga melihat anaknya sudah berdompet dari hasil kerja keras. Bahagia saya yang berprofesi, senang melihatnya anaknya bahagia. Tanpa pernah membantah bahwa uang pun berkiprah sebagai pembentuk kebahagiaan itu sendiri. Saya membuktikannya. Saya, keluarga saya, teman-teman saya, dan mereka yang ada di sekitar saya. Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa berbagi segalanya. Ibu saya tidak pernah berhenti megingatkan bahwa rezeki yang saya dapatkan wajib dibagi dengan mereka yang lebih memerlukan. Keluarga dan handai taulan yang masih kesulitan, sekaligus mereka yang belum berkecukupan. Sama halnya ketika almarhum bapak saya berkata, “Tuhanmu tidak pernah menyuruh kamu jadi orang miskin, kerjakan rezekimu, dan berbagilah dengan yang lain”

Hukum tabur tua. Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Saat kamu melemparkan rezeki ke langit melalui sedekah, langit akan melimpahi dirimu dengan rezeki yang berkali lipat jumlahnya dari yang kamu keluarkan. Dan saya semakin menyadari kenapa orang-orang kaya di negara-negara Barat, meski mereka tidak seiman dengan saya, tapi mereka memiliki yayasan, rajin beramal dan berderma, sekaligus menjadi pionir bala bantuan di negara-negara miskin, harta kekayaan mereka tidak pernah habis, malah melimpah ruah. Kata Dalai Lama, ketika kau melihat orang lain berbuat kebaikan pada sesamanya, pertanyaan ‘apa agamamu?’ tidak diperlukan.

Tuhan Maha Adil, saya percaya itu.

Usaha yang saya lakukan pasti membuahkan hasil. Beberapa rancangan finansial per lima tahun yang saya buat jauh-jauh hari mulai terpenuhi satu per satu. Jika Orde Baru punya repelita, rencana pembangunan lima tahun, saya juga memilikinya. Hanya saja perbedaannya pada kata pembangunan menjadi kata pembuktian. Membuktikan bahwa anak daerah, yang dulu dipandang dengan mata sebelah, dari keluarga menengah ke bawah, bisa bersaing dengan mereka yang kekotaan bermahkota kata ‘wah’. Wah kaya, wah keren, wah beken, wah anaknya ini, wah bapaknya itu, wah keluarga ini, wah keturunannya itu, wah-wah-wah. Saya mulai sebah dengan ungkapan-ungkapan kesedarahan yang belum menunjukkan bukti kuat. Bukan menggugat, hanya sekedar mengalamatkan perihal ini bagi mereka yang merasa. Sekali lagi bukan marah, hanya ingin mengungkapkan fakta. Suara manusia kapan lagi di dengar jika tidak dibuktikan dengan berbicara atau menggetarkan pita suara dengan hembusan udara, bukan? Dan kali ini saya berusaha untuk lebih lapang dan membuka kesempatan bagi diri saya sendiri untuk menunjukkan pada mereka. Kamu bisa, saya pun mampu. Kamu sering menjadi sosok objek, saya subjek pelaku. Impas.

Kembali ke urusan tulis menulis. Kecenderungan untuk mengalirkan secara permanen apa saja isi otak dan hati menjadi kata dan kalimat baca serta mudah dipahami pembaca, menjadi tantangan khusus bagi saya. Sekitar2-3 tahun lalu, ketika urusan tulis menulis jurnal dan menyelesaikan skripsi masih menjadi hiasan sehari-hari saya, mungkin membentuk opini yang agak ngawur atau sederet kata opini menjadi hal yang leluasa dan enteng saya lakukan. Tapi setelah masuk di dua tahun terakhir ini, meski mulut dan otak saya masih berjalan dengan level lumayan baik ketika membawakan acara di televisi, belum tentu hal yang terpikir di kepala bisa tertuang mudah menjadi guratan kata tulis yang bisa terbaca dengan jelas dan mampu mengirim pesan yang sesuai dengan apa yang saya maksud. Kadang saya masih gamang dan ragu. APakah saya bisa seperti dulu atau akan semakin kelu semua jari-jariku?

Oleh karena itu, menulis seyogyanya bukanmenjadi tuntutan, tapi bisa diarahkan sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kita butuh makan meski tidak harus tiga kali dalam satu hari, yang penting lambung masih bisa menggiling makanan yang masuk dan jonjot usus masih  bisa menyerap gizi, itu lebih dari cukup. Penentu semangat menulis memang diri sendiri, membagi tulisan kita dengan orang lain menjaid urusan pribadi, tapi menerbitkan buah pikiran kita yang menghasilkan penghidupan merupakan bonus berharga tinggi bagi diri.

Pikiran kita adalah ladang uang kita. Perlu ditanami palawija kata dan kalimat agar kelak bisa dipanen dan menghasilkan tumpukan pundi di lambung rekening bank kita. Silakan beridealisme dengan hidup, tapi sungguh, jika tulis-menulis dan baca-membaca memberikan banyak peluang meningkatkan harkat dan martabat manusia, memberikan label harga yang lebih tinggi bagi mereka yang paham, betapa seruan ‘iqra’, ‘bacalah’ yang diserukan Jibril ke Muhammad sebelum ayat-ayat lainnya muncul dalam kitab, sangat benar adanya.

Selamat menulis dan membaca.

Blog at WordPress.com.

Up ↑