Cerita, Handwritings, The Handwritings

Berenang Bersama Papa

“Papa janji?”

“Janji!” selintang garis kumisnya terangkat. Senyumnya menebal. Kau mengangguk pelan. 

“Ayo sini!” kau naik ke punggungnya. Dan dia membawamu masuk ke dalam rumah. Beberapa temanmu hanya sekedar menoleh tak acuh. Sisanya asyik bermain gundu sambil bersorak-sorai.

Kau sudah mengenalnya sebelum kalian tinggal bersama. Kau pernah melihat gambar dirinya bersama ayah dan ibu di album foto pernikahan mereka. Ibu dengan kebaya putihnya, ayah dengan jas hitam berkalung melati, dan dia yang berbaju batik. Ayah berkata bahwa pria ini yang membuatnya berjodoh dengan ibu. Saat itu kau memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Dan tak perlu waktu lama bagimu untuk lebih mengetahui siapa dirinya karena pria ini juga tampak hadir ketika hari berkabung itu tiba.

Penjajakan cepat dan singkat dimulai dari gigitan ayam goreng di salah satu restoran fast food favoritmu di pinggir kota. Berlanjut dengan agenda jalan-jalan rutin setiap akhir pekan. Dia menjemputmu dan ibu di rumah. Kemudian kalian bertiga meluncur ke taman ria jenaka, kebun binatang, hingga taman-taman kota. Menikmati berondong jagung dan bergelas-gelas es serut. Sampai pada suatu malam, ketika kelelahan membuatmu tertidur dalam pelukannya, detik itu pula ibu memutuskan bahwa masa kesendiriannya telah sirna.

Tapi ada satu hal yang tak kau sukai darinya ketika kau mulai memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’. Pria itu ternyata tak tahu mainan apa yang kau suka. Berbeda dengan pria lain di hidupmu sebelum dia. Tidak seperti saat ayah masih ada. Seringkali dirinya membawa oleh-oleh mainan untukmu meski kau tak memintanya. Dia adalah pria favoritmu. Dan papa belum menjadi pria itu.

Suara derap sepatunya yang terdengar khas di telinga, mampu membuatmu terperanjat dan meledakkan rasa senangmu. Ketika pintu ruang tamu terbuka, dengan mata berbinar kau menghambur ke tubuhnya. Memeluknya erat. Aroma badannya yang menguar bersama bau keringat kau hirup dalam-dalam. Tanganmu menyentuh pin emas bersayap yang melekat di seragam putihnya. Di pundaknya melekat pangkat bar dengan empat garis melintang. Kau rebahkan kepalamu. Sering kau jahili dirinya. Kau ambil topi hitam berlambang garuda itu dari kepalanya. Kau kenakan di kepalamu yang kecil. Topi itu melorot dan menutup sebagian wajahmu. Tawanya membuncah seketika.

“Kapten Ayah sudah besar!” bibir bau rokoknya mendarat di pipimu.

“Yah, geli,” kau dorong kepalanya menjauh dari kepalamu.

“Dari kemarin merengek terus minta dibelikan mainan, Yah,” ibu berjalan menghampiri kalian berdua. Kemudian dia mendaratkan bibir merahnya ke bibir ayahmu. Kau mengira keduanya sedang meniru tingkah laku ikan mas koki di akuarium kepala sekolah. Hanya tak mengeluarkan bulir-bulir gelembung udara.

“Yang benar? Wah, Kapten Ayah mau mainan apa?”

“Mau pesawat, Yah!”

“Pesawat yang besar atau yang kecil?”
“Yang besar, Yah! Yang besar!” 

“Sebesar apa?”

“Besar-besar!” kedua tanganmu bergerak membentuk setengah lingkaran.

“Hahaha, pintar sekali Kapten Ayah! Iya ‘kan, Bu?” rekah senyum manis wanita itu tampak jelas ketika mata mereka saling bertatapan.

Sebuah kotak kardus besar berada di pangkuanmu. Di salah satu sisinya terlapisi plastik transparan membentuk bingkai persegi. Dari sisi itu, kau tahu benda apa yang berada di dalamnya meski hanya sekilas. Kala kertas pembungkusnya tersibak, matamu membelalak. Ada benda lonjong seukuran mentimun yang memiliki dua sayap dengan warna dominan kuning. Terdapat aksen warna biru di bagian moncongnya yang ditancapi baling-baling dengan warna senada.

“Pesawat! Pesawat! Pesawat!” kau berlari kegirangan mengelilingi ruang tamu.

Kau sibuk menjentikkan baling-baling pesawat ketika pria itu masuk ke dalam kamar ibu. Seperti biasa, dia bertelanjang dada. Kau sering bermain sendirian di kamar itu. Dulu ibu sering menyuruhmu tidur di sampingnya setiap malam saat ayah sedang bertugas. Bertambah sering ketika ayah selesai dimakamkan. Tak lain karena ibu takut kesepian. Namun setelah dinding-dinding kamar itu dipenuhi foto-foto pernikahan dengan suami barunya, ibu yang bergantian menghampirimu di tempat tidur. Mencium kening dan menyuruhmu segera tidur. Pria itu bersamanya. Melakukan hal serupa. Mengucapkan selamat tidur tapi tanpa ciuman di kening.

“Kok main pesawat terus, Cah Bagus?” papa merebahkan badannya di atas kasur. 

“Suka, Pa,” jawabmu sambil menggeser tubuh mendekati lemari baju bercermin besar. Kau melihat pantulan tubuhmu dan pria itu dalam satu garus lurus. Pesawatmu terbang melintas.

“Kalau besar nanti mau jadi pilot?”

“Iya, seperti ayah,” matamu berbinar penuh kebanggaan.

“Mengapa tidak jadi pelaut saja? Seperti papa,” kau menoleh kepadanya.

“Kamu dapat menjelajahi lautan luas, makan ikan sepuasnya,” dahimu mengernyit. Kau tak suka hidangan laut. Amis dan asin. Ingin muntah.

“Dan jika beruntung, bisa berjumpa ikan paling besar sejagat raya. Paus biru.”

“Paus biru?” kau penasaran.

“Sini naik ke kasur! Papa ceritakan dongeng tentang paus biru.” 

Seperti tertarik magnet, tubuhmu beringsut ke arahnya. Perut bulatnya menyembul dengan rongga pusar menganga. Tumbuh rambut tipis di permukaan dadanya yang mengular sampai menembus lipatan sarung yang dia kenakan. Bulu ketiaknya lebih lebat dibanding kumisnya. Puting susunya hitam, sehitam bubuk kopi yang diseduh ibu di pagi hari.

Papa bercerita tentang Ibu Paus Biru dan Anak Paus Biru yang mendiami samudera Antartika. Sebagian besar populasinya memang ada disana. Sisanya tersebar ke seantero samudera di permukaan bumi ini. Papa bilang, dalam bahasa Latin, Paus Biru dinamai Balaenoptera musculus.

“Baa – la – ee … nopter …”

Balaenoptera musculus,” papa meneruskan kalimatmu, “dengan nama genus yang berasal dari kata Latin ‘balaena’ yang berarti paus, dan kata Yunani, ‘pteron’, yang berarti sirip atau sayap. Nama spesiesnya, ‘musculus’. Adalah kependekan kata Latin ‘mus’, yang berarti tikus. Dan kata ‘musculus’ sendiri, bisa juga diartikan sebagai otot.”

“Otot tikus?” kalian berdua tertawa.

Ukuran tubuh Ibu Paus Biru kira-kira sebesar tubuh 20 gajah Afrika dikumpulkan jadi satu. Sedangkan tubuh Anak Paus Biru sebesar tubuh dua kerbau jantan dewasa yang pernah kau lihat di halaman masjid ketika Hari Raya Kurban. Lebih kurang bermassa 2.700 kilogram saat dilahirkan. Sama seperti kuda nil Afrika dewasa. Dengan panjang tubuh mencapai 33 meter dan berat mencapai 181 ton atau lebih, paus biru dipercaya sebagai mamalia terbesar yang pernah ada di dunia.

Kau menganga.

Tapi dulu, tubuh Ibu dan Anak Paus Biru tidak sebesar itu. Mereka juga pernah berukuran kecil. Warna kulitnya pun belum didominasi oleh warna biru kehijauan.

“Sekecil ini,” dia melepas celana pendekmu. Jemari papa memainkan bayi ikan paus milikmu. Kau merasa geli dan aneh secara bersamaan.

Karena samudera lebih luas dari daratan, maka makanan ikan paus biru sangat melimpah. Paus-paus itu selalu makan di daerah yang memiliki banyak krill. Mereka makan antara 2.000 – 4.100 krill dalam satu hari. Spesies zooplankton itu dimakan oleh berbagai jenis paus biru dari satu samudera ke samudera lain. Mereka juga makan ikan kecil, crustacea, dan cumi-cumi yang kebetulan tertangkap bersama krill. 

Selama tujuh bulan pertama hidupnya, Anak Paus Biru minum kira-kira 400 liter susu setiap harinya. Anak Paus Biru bertambah berat secara cepat, yaitu sebanyak 90 kilogram per hari. Tak lama tubuhnya semakin besar. Otot-otonya menonjol dan keras. Warna kulitnya pun berubah. Berwarna biru kehijauan atau abu-abu dengan pembatas putih tipis. Sedangkan di bagian perut mempunyai warna yang lebih terang.

“Paus Biru memiliki kepala pipih berbentuk huruf U,” lanjut papa. “Di bagian atas kepalanya terdapat lubang untuk mengisap oksigen dan membuang karbondioksida.”

“Sama seperti ini, Cah Bagus! Coba pegang!” Selembar sarung kotak-kotak hijau yang dikenakannya jatuh ke lantai. Kau memegang ikan pausnya. Keras dan hangat. Urat-urat pembuluh darahnya menonjol di permukaan kulit.

“Ikan pausnya punya rambut, Pa!” kau takjub.

“Coba kau cium. Biasanya ikan paus cepat tumbuh besar kalau sering dicium.” Telapak tangannya yang besar menuntun kepalamu menemui paus biru miliknya. Pelan-pelan.

Paus biru mempunyai indera peraba dan pendengar yang tajam. Ia mengetahui arah di dalam air dengan mengikuti gema suara yang dibuatnya. Selain sebagai alat navigasi, suara yang dihasilkan dipercaya juga sebagai bentuk komunikasi antarsesama dan untuk mendeteksi mangsa.

“Aaauuuuuu … aaauuuu … begitu suaranya,” dia menciumi ketiakmu. Kau menggeliat kegelian.

Tak banyak ikan paus biru yang hidup bergerombol dalam jumlah banyak. Mereka suka berenang bersama dalam jumlah kecil dan hidup mendiami sudut samudera yang terpisah oleh daratan. Kadang mereka saling bertemu ketika sama-sama berburu mangsa santapan di samudera yang sama.

“Nah, ketika Ibu Paus Paus Biru dan Anak Paus Biru berenang berdampingan, mungkin seperti kamu dan papa saat ini, Cah Bagus. Kamu tahu bagaimana caranya mereka berenang?” kau gelengkan kepala. 

“Nah begini,” sekarang tubuh papa berada di atas tubuhmu. Kedua siku tangannya bertumpu pada kasur dan menopang berat badannya. Kau masih telentang. Dia menindihmu.

“Ibu Paus Biru selalu melindungi Anak Paus Biru dari ancaman binatang laut lain, seperti Bibi Gurita Raksasa atau Paman Ikan Hiu Gigi Runcing,” jelasnya.

“Mereka itu jahat ya, Pa?”

“Iya, jahat sekali. Makanya Anak Paus Biru harus dilindungi,” salah satu tangannya menggerakkan tubuhmu sedemikian rupa. Kini kau tengkurap. Terasa ada gerakan berdenyut di bagian paha bawahmu. Sepertinya paus biru papa sedang mengepakkan siripnya. Berenang menuju lipatan paha serta irisan pantatmu.

“Kau siap berenang?”

“Tapi aku boleh membawa pesawat ini, Pa?”

“Boleh-boleh saja,” kau mendengar sengal nafas hangatnya di telingamu. Udara itu menyembur bersama bau rokok seiring pinggangnya yang menghentak kuat maju-mundur. Paus biru papa sedang bersemangat menjelajahi samudera kapuk bersama Ibu dan Anak Paus Biru.

Lama dan gerah. Kau mulai bosan dengan adegan dari cerita Ibu dan Anak Paus Biru. Berenangnya begitu-begitu saja. Gerakan renang papa, si Ibu Paus Biru, cuma itu-itu saja. Maju dan mundur tanpa berputar-putar mengelilingi samudera. Tidak seperti ikan mas koki di akuarium kepala sekolah yang dapat berenang ke segala penjuru. Tidak seperti pesawat ayah yang bisa terbang keliling dunia.

“Papa, aku bosan,” 

“Sebentar lagi ya, Cah Bagus. Sebentar lagi paus biru papa juga akan bosan berenang kok,” dia mencium ubun-ubunmu. Tak lama matamu terpejam. Sesekali kau tarik nafas dalam-dalam. Belum pernah kau tidur tengkurap seperti ini. Selain itu, tubuh Ibu Paus Biru memang berat.

Kau kendalikan gagang kemudi pesawat itu dengan gagah perkasa. Kau kenakan topi hitam ayah yang entah mengapa tiba-tiba pas di kepalamu. Baling-baling pesawat itu berputar sangat kencang. Mampu menerbangkanmu bersama seonggok makhluk raksasa yang berulang kali mengaum keras di sampingmu, “Aaauuuu… aaauuu…” 

Setiap kali siripnya mengepak, tubuhnya membumbung makin tinggi. Setiap kali ekornya mengibas, riak air hangat menerpa wajahmu. Ini tantangan, pikirmu. Lekas-lekas kau tarik gagang tuas mesin di samping kursi. Dan ketika deru mesin terdengar keras. Gumpalan asap putih keluar dari ekor pesawat. Saat itulah pesawatmu melesat sangat cepat. Menggapai Ibu Paus Biru yang sedang asyik berenang di atas hamparan awan kelabu.

Di ujung sana, di atas garis cakrawala yang berkilau keemasan, kau dapati ayahmu dengan seragam putihnya sedang melambaikan tangan ke arahmu.

“Kapten Ayah, ayo sini!” teriaknya dari kejauhan. Matamu berbinar. Di bagian sudutnya mulai berair.

Alih-alih kau rengkuh ayahmu, kau malah mendengar suara lenguhan panjang Ibu Paus Biru tepat di saat dia menyemburkan air dari punggungnya.

Hangat.

 

Agustus, 2018. Kisah lawas yang ‘tak kunjung tuntas. Mereka memilih mendiamkannya. Saat itu pula bom waktu mulai berdetak. Tik – tok – tik – tok.

Advertisements
Standard
Celetuk

Cerita dari Lapas

Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Mengecek apakah seseorang yang dia harapkan sudah membalas SMS yang sebelumnya telah dia kirim atau belum. Sesekali dia melihat jam tangan perak yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjangnya sudah bergeser beberapa derajat sejak pertama dia berdiri di tempat itu. Seolah-olah waktu mulai menuntut dirinya untuk segera bergerak dan melanjutkan hidup ini. Namun, selang waktu semakin cepat berjalan, dia masih berdiri disitu. Tepat di hadapan bangunan tinggi besar dengan pagar terali besi. Terlihat sangar sekaligus suram. Terdapat pula plat nama putih dengan huruf bercat hitam yang berada di atas pintu masuk, bertuliskan, “Lembaga Pemasyarakatan Medaeng.”
15 menit berlalu, tubuh dan otaknya ‘tak bisa menunggu lagi
“Baiklah, mending aku masuk saja sekarang,” pikirnya spontan.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang lapas dengan tangan menjinjing dua tas plastik hitam. Perasaan takut dan was-was ‘tak bisa hilang dari raut mukanya. Ini adalah kali pertama dia datang ke lapas. Orang-orang sering menyebutnya sebagai rumah hukuman bagi para penjahat. Bangunan yang ‘tak ingin disinggahi kalau bukan karena terpaksa. Terpaksa atau dipaksa? Rumah hukuman atau tempat istirahat sementara bagi mereka yang melawan hukum? Area untuk membuat penjahat kapok atau sebaliknya, tempat semakin merajalelanya kejahatan itu sendiri? Banyak pertanyaan muncul di benaknya tentang tempat ini.
Semakin mendekat, dia bisa melihat samar-samar kondisi di dalam lapas melalui kisi-kisi terali besi yang ada di pintu gerbang. Terlihat ada anak kecil yang digendong oleh seorang wanita berjilbab. Kemudian ada kakek-kakek tua ber-peci, dengan kemeja batik, membawa bingkisan kotak dan berjalan masuk ke halaman lapas. Ada yang tertawa, ada yang bercanda dengan petugas, seperti suda akrab dengan tempat ini. Lapas ‘tak seseram yang dia pikirkan sebelumnya.
Saat tiba tepat di depan pintu, salah seorang petugas lapas menghampirinya. Dengan muka datar dia memperlihatkan wajah kakunya melalui bagian pintu yang dibuat seperti jendela kecil persegi berukuran sedang yang bisa dibuka dan ditutup.
“Bisa dibantu Mas?” tanya petugas itu.
“Ehh iya Pak! Mau jenguk teman saya,” jawabnya gugup.
Petugas itu mulai memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Seperti alat detektor yang memancarkan sinar infra red dan menjelajahi dan memeriksa apa saja yang dia kenakan dan dibawa. Sempat dia tidak merasa nyaman dengan kondisi ini, namun ini merupakan aktivitas prosedural. Hal yang baku untuk dijalankan sebagai bentuk nyata ketatnya penjagaan di wilayah yang kental dengan hukum. Dan layaknya sebuah istana raja, apa yang datang dan pergi dari tempat ini, wajib dan patut dicurigai.
“KTP-nya Mas?” pinta petugas itu.
“Mas!”
“Oh iya Pak! Iya! Maaf-maaf!” lelaki itu terperanjat dari lamunan singkatnya. Dan membuat wajah si petugas semakin datar.
“Ini Pak… Silakan!”
Si petugas langsung mengambil KTP-nya. Membolak-balik kertas putih-biru berlaminating itu dan menaruhnya di sebuah laci kayu kecil. Sesaat kemudian dia menunduk, seperti menuliskan sesuatu di hadapannya.
“Baru pertama kali kesini ya?” tanya petugas itu lagi.
“Iya, Pak! Baru pertama,” jawabnya singkat.
“Mau jenguk siapa disini?” tanyanya sekali lagi, mencairkan suasana.
“Ehhmmm teman saya Pak,” dia berharap tidak muncul pertanyaan introgasi lain dari mulut petugas itu. Lelaki itu hanya ingin segera mendapat izin masuk dan menemui sahabatnya.
“Mas pakai ini, masuknya lewat pintu sebelah, tapi harus mengantri dulu bersama orang-orang itu,” jelas petugas sambil menyerahkan kertas keplek dan mengangkat jari telunjuknya ke arah pintu masuk lapas.
“Oh iya Pak! Baik, terima kasih Pak,” jawabnya penuh kelegaan.
“Nanti Mas akan ketemu opsir yang akan memeriksa barang bawaan Mas,”
“Iya Pak! Siap!” tungkasnya
Lelaki itu mengikuti arahan yang dijelaskan si petugas lapas. Saat dipintu masuk, dia bertemu opsir penjara yang memeriksa barang bawaannya. Opsir itu hanya menemukan sebungkus apel hijau yang dibungkus plastik bening, dua bungkus makanan yang dibalut kertas minyak warna coklat, dan dua botol besar air mineral 1 liter-an. Barang-barang biasa, tidak mencurigakan, pikir opsir itu. Opsir itu mulai menanyakan siapa nama tahanan yang dijenguk serta apa kasusnya. Setelah lelaki itu menjawab, muka sang opsir sejenak kaget, namun kembali datar dan tersenyum kecil. Membuat lelaki itu semakin merasa disudutkan di tempat yang asing baginya ini.
“Jangan sampai kepleknya hilang Mas! Mas nanti akan diantar oleh bapak ini ke ruang jenguk,” jelas opsir itu sambil menunjuk seorang pria tegap dan bidang berumur sekitar 40-an tahun di sampingnya. Opsir itu membisikkan sesuatu ke pria itu. Dan pria itu mengangguk berkali-kali.
“Pak Saleh, silakan!”
Lelaki itu berjalan mengikuti si petugas berbadan tegap dan bidang itu. Sempat dia menoleh ke belakang dan melihat si opsir tadi berbicara dengan rekan kerjanya kemudia tertawa kecil. Mereka tertawa cengengesan.
“Ada yang aneh?” tanyanya dalam hati.
Saat sampai di halaman lapas, lelaki itu bisa melihat sebuah papan putih besar dengan tulisan huruf besar berwarna hitam. Slogan atau apa pun itu, yang pasti dia sempat terhenti untuk membacanya hingga dua kali. “KAMI BUKAN PENJAHAT, HANYA TERSESAT. BELUM TERLAMBAT, UNTUK BERTOBAT.” Bermakna sekaligus menjelaskan bahwa mereka-mereka yang mendapat hukuman di tempat ini adalah manusia biasa. Tempatnya salah dan benar. Tempat untuk belajar memahami arti hidup sebenarnya. Tempat untuk mencerna kesalahan dan meredamnya seiring waktu selama masa hukuman mereka. Bukan tempat untuk menghukum laksana di neraka jahannam dengan api berkobar-kobar. Lapas hanyalah temapt biasa. Rumah bagi mereka yang ingin berbenah diri. Menjadi pribadi baru saat bebas nanti. Bukan untuk dihakimi dan dicaci maki

Standard
Coretan Sastra

Abang Ingin Bertemu Tuhan

Bukanlah malam tenang tapi penuh riang
Ketika dia yang berteman dengan riuh gelap terang
Panca inderanya berjuang menggadang rasa senang
Hingga dia jauh dari Tuhannya tersayang
Kepada mereka yang memintanya lantang-lantang
Bertemanlah dengan kami, Bang!
Ini suka cita, Tuhan tahu kamu penuh duka
Telan dan teguklah, Sayang!
Ini bahagia, lukamu sembuh karenanya
Luka di jantung yang berdetak makin kencang
Sakit di kulit yang memucat lekat pada tulang
Teruskan sampai akalmu hilang, Bang!
Karena tepat saat sadarmu karam dan nyawamu meregang
Dia akan berkata, “Aku datang, hamba-Ku, Sayang”Abang

Standard
Coretan

M a l a m i d a s #1

Adalah kalimat penggetar hati

Serupa bahasa dilantun lidah tanpa cela

Mengalirkan pesan tersirat

Dimengerti bagi yang terjerat

Tak harus tepat

Biarkan lewat

Sebab dia memikat

Diam tak perlu membeku

Bicara tak harus lewat kata

Menyadarimu lekat di rongga mata

Tak ubahnya melaknat hati yang mungkin buta

Pernah jatuh bersama nasib

Karena dia pencuri karib

Pernah hadir tanpa salam

Datang dalam kelam selembar kalam

Menasbih keluh hati yang sekarat

Memberi perih goresan karat

Dia yang jatuh sekali lagi

Menimpa remahan hati berulangkali

Apakah siksa jadi jawaban?

Atau nikmat tak terelakkan?

Karena ujung kalimat di pucuk lidah

Telah bersemayam lama di remuk asa yang lelah

Standard
Coretan

M a l a m i d a s #2

Lihat

Ketika mata berbohong atas hati yang hakiki merasa, benar melihat, dan jelas mendengar

Dia yang datang tanpa niat, merebah bagai kawan lama

Mencari segaris senyum penyambung bahagia

Melintas lena tak berdosa

Membawa secuil puing hati yang sempat dilupakan

Melekatkannya penuh dengan perekat jiwa

Dia yang tak tahu apa-apa, terjebak dalam permainan

Dia yang tak berhati siap menghujam

Dan waktu merubah arah

Pemegang kendali redam terhuyung

Menampar dirinya pada kenyataan

Menengadah dihujani salah

Niat baik kini berubah

Awal indah pupus sirna

Yang tak diniati terjadi sudah

Ketika hati bicara

Membungkam mulut diam-diam

Menundukkan pandangan nanar

Coba lihat kembali

Dia yang kikir cinta fakir asmara

Bumi renta menopangnya

Semesta berdoa padanya

Surga menangis untuknya

Standard
Cerita

Mas Ayu

Cermin di kamar mandi hanya memantulkan semburat sebagian raut wajahku karena permukaanya tertutup uap air panas yang keluar dari pancuran kamar mandi. Baru saja membasahi tubuhku. Guyuran air dengan suhu tidak sampai 100 derajat Celcius akhirnya membuatku rileks. Membantu mengurangi pening kepala akibat pengaruh alkohol disertai dengungan menjengkelkan dari dalam kuping hasil hentakan musik klub yang aku datangi semalam. Niat awal hanya ingin menyapa teman-teman lama yang kebetulan memintaku datang ke tempat mereka untuk menghabiskan akhir pekan. Matang-matang kurencanakan bahwa aku hanya akan datang dengan durasi sekitar dua jam saja. Tidak lebih. Kalau hanya berbasa-basi dan curhat colongan sambil menenggak segelas wine, tidak harus sampai pagi pikirku. Dengan kata lain, jika aku datang tepat pukul 10, maka sekitar tengah malam aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel dengan estimasi waktu tempuh perjalanan 30 menit. Cukup waktu untuk tidur dan kembali bugar keesokan paginya. Acara kantor berupa seminar keuangan dengan rundown padat siap dan harus kunikmati seharian, dari pagi hingga sore. Dan Aku yang akan menjadi salah satu pengantar materinya. Artinya persiapan semuanya wajib semaksimal mungkin.

Akan tetapi yang terjadi malah di luar estimasi dan prediksi. Tepat ketika jarum jam merapat pada angka empat, seingatku aku baru merebahkan tubuh di atas kasur. Sendirian kurasa. Sekelebat ingatanku muncuat tiba-tiba. Semalam aku hanya terkapar, pusing, dan mengantuk hebat. Tidak terlalu mabuk. Masih punya kesadaran megeset alarm jam di ponselku di pukul 8.30 pagi. Satu setengah jam sebelum acara dimulai.

Sorot mataku terfokus pada cermin kamar mandi yang makin buram akibat uap panas. Sejenak kuusap permukaannya dengan telapak tanganku agar pantulan wajahku terlihat jelas. Sosok manusia dengan kulit tak terlapisi kain terlihat basah berantakan. Kantung mata menghitam, sayu, dengan kelopak yang nyaris enggan terbuka. Bola mata dengan garis pinggir memerah darah. Seperti iritasi yang makin parah. Ditambah kulit wajah memutih akibat kurang tidur. Aku berantakan. Seolah rambut hitam legam basah dan lepek yang meneteskan air tidak cukup membuatku terlihat segar.

Handuk hotel yang halus dan hangat menutup tubuhku ketika aku merapikan file-file presentasi di netbook. Memastikan konten yang ada di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga untuk meyakinkan bahwa tidak ada poin-poin yang terlupa ketika daya kerja otakku masih belum 100% aktif. Kepalaku masih pening dan berat. Seperti ada konde seberat tujuh kilogram yang menancap kuat di rambut. Menarik akar-akarnya tapi tak lekas tercabut. Memberikan sensasi denyutan yang tak lekas hilang. Tak ingin rasanya meninggalkan kamar nyaman ber-AC ini dan berharap bisa kembali merebah di atasnya, memeluk guling, dan berselimut tebal. Menikmati susu hangat dilengkapi dengan bubur ayam panas yang gurih. Betapa nikmat jika bisa seperti itu. Namun tak mungkin terjadi saat ini. Beberapa benda telah merebah lebih dulu di atas kasur empuk. Kemeja, blazer, dasi, ikat pinggang, dan celana panjang terhampar tak beraturan menutup lipatan bed-cover. Siap dikenakan pemiliknya.

Dering telepon hotel dari arah meja yang menempel pada kasur dekat dengan jendela kamar membuyarkan lamunanku. Persis saat kemeja yang kukenakan belum terkancing sempurna.
“Hallo?” sapaku memulai percakapan.
Dari ujung terdengar suara wanita dengan logat dan intonasi khas yang sudah kukenal.
“Mas, sudah siap? Ditunggu Pak Bos nih di restoran, mau ada briefing sebentar sebelum acara mulai,”
Kulirik jam tangan perak yang terdiam kaku di samping lampu meja. Pukul 9.15.
“Iya Mbak Bella, 5 menit lagi turun,” jawabku singkat.
“Okay, Mas. Sekalian sarapan disini,” balasnya.
“Siap, Mbak,”
Klik.
Tuttttt. Tuttttt. Tuttttt.

Hanya tinggal sepatu pantofel hitam yang harus kukenakan. Kuambil kaos kaki baru warna coklat tua dari dalam koper. Isinya belum sempat dikeluarkan karena jadwal padatku merayap, bekerja dan bermain-main. Entah karena malas atau memang tidak perlu dikeluarkan. Toh besok juga bakal diisi lagi dengan barang-barang yang sama dan sebagian yang habis dipakai. Hanya peralatan mandi dan pakaian kerja saja yang biasanya lebih dulu keluar, sisanya nanti saja kalau diperlukan. Hemat waktu, hemat tempat.

Aku siap berjalan keluar kamar dengan menenteng tas selempang berisi laptop dan berkas ketika tiba-tiba pintu kamarku terbuka dari arah luar. Aku sontak terkejut karena seingatku hanya aku yang tidur di kamar ini. Rekan kerja lain menempati kamar masing-masing. Kakiku terdorong melangkah mundur seperti membentuk kuda-kuda pertahanan gerakan muaythai yang kelasnya rutin kuikuti 3-4 kali seminggu di tempat kebugaran.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berkaos hitam polos dengan celana kolor pendek. Bersendal putih bertuliskan nama hotel yang aku tempati. Dia menggenggam buah apel yang sudah tergigit, dengan mulutnya yang terus bergerak memagut-magut. Mengunyah.
Hi, morning. Sorry, tadi aku lapar banget, jadi sarapan dulu ke restoran sebelum kamu bangun,”
Aku terdiam. Menatap heran ke wajah asing di hadapanku.
“Oh iya, semalam kamu bilang ada kerjaan pagi. Sana buruan, sebelum terlambat!” kemudian dia membuka pintu dan menyilakanku keluar kamar.
But wait, kamu siapa?”tanyaku penuh rasa heran. Penasaran berlipat ganda.
Dia menutup pintu. Meletakkan apelnya di atas meja tak jauh dari televisi.
Well, kita coba kenalan lagi ya. Namaku Ega. Teman Dimas, temanmu ‘kan?”
“Yah, ya I know Dimas, but you are?
“Dimas ngenalin aku ke kamu semalam, kita sempat ngobrol banyak, dance along all nite, and finally we are here. Di hotel. We had fun!
Fun?
Yes, fun. I mean with our friends out there. Kalau tidak salah kita bersepuluh atau bersebelas gitu. Ada aku, kamu, Dimas, Eva, Ryan, Din …”
“Oke-oke! Tapi kenapa kita satu hotel? Kenapa di kamar yang sama?” aku memotong kalimatnya.
“Karena kamu mabuk dan aku nganterin kamu pulang ke hotel. Dan kita …”
“Ki-ki-kita tidur bareng?” kembali kupotong kalimatnya.
Of course. Kasur ini king size. Lebih dari cukup untuk berdua. Masa iya aku tidur di sofa atau kamu yang tidur disana?” telunjuk kanannya mengarah pada karpet di bawah kasur. Dia berdehek pelan dengan senyum tersungging.
“Maksudku? Ki-ki-kita melakukannya? Ka-ka-karena tadi pagi aku bangun tidur tanpa mengenakan pakaian dalam. Kamu!”
Dia memutar bola matanya ke atas dengan gerakan mengingat sesuatu.
“Sepertinya… Iya.” jawabnya singkat.
Dan perutku mendadak mual dengan degup jantung tak beraturan yang tiba-tiba datang. Seperti ada hantaman di kepalaku yang menggoyahkan konsentrasi. Dan paru-paru yang mengembangkempis terlalu cepat sehingga rongga dadaku naik-turun. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain mencoba tenang, diam, dan tertegun.
“Kamu melihat semuanya?” tanyaku kepadanya.
“Iya,”
Why? Why did you do that?” tanyaku dengan rentetan sumpah serapah dalam hati. Mengutuknya.
Because you asked me to do! I am a man, we’re drunk, and we did it. Nggak perlu dimasalahin. I enjoyed, you did the same.”
“Ya Tuhan…” aku menunduk. Menjatuhkan tas kerjaku di atas karpet.
Kemudian ada telapak tangan menyentuh pundakku. Cepat-cepat kutangkis.
It is okay. We only kissed, no more,” jelasnya mengiba.
“Tapi kamu melihat semuanya. Kamu nggak berhak melakukan itu! Itu pelanggaran HAM! Ngerti?” kataku dengan nada makin tinggi.
“Tapi kamu yang minta, aku harus bagaima …”
“Alesan! Keluar sekarang! KELUAR!”
Aku memintanya keluar kamar. Tapi dia diam. Dia malah berkacakpinggang dan menyeringai ke arahku.
“Kamu yang keluar sekarang!” bentak dia.
Aku marah. Aku bingung. Marah tapi bingung.
“Denger ya kamu ya! Kamu masuk ke kamar orang. Jelas kamu yang harus keluar,” balasku.
Dia maju selangkah mendekatiku.
“Masih belum sadar. Well, let’s say, kamu semalam mabuk berat, kita ke hotelmu. Tapi kamu lupa nomor kamarmu. Jadi, aku buka kamar satu lagi. Di hotel yang sama. So, this is officially my room, not yours,”
Aku kaget bukan main. Barang-barangku tadi. Koperku. Pakaianku. Perlengkapan kerjaku. Kuperhatikan dengan seksama seluruh sudut ruangan. Mirip dengan kamarku, hanya lebih besar. Ada beberapa onggokan barang yang bukan milikku berdiam di atas sofa, di atas meja TV, dan di samping tempat tidur. Beberapa sepatu pun terlihat di dekat pintu dan yang pasti bukan milikku.
Sorry, sorry, aku minta maaf,” pintaku memelas.

Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian menghampiriku.
It’s okay, Darling, sana kamu kerja dulu, nanti setelah kamu selesai, kita ketemu. Ada banyak hal yang harus kita obrolin, okay?
O-okay,” kuambil kembali tak kerjaku, menentengnya, dan meraih gagang koper yang hendak kubawa keluar. Tapi dia mencegahnya.
“Ssst-sst… Nggak perlu. Your stuffs are already safe here. Nanti saja.”
Aku mengangguk dan masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga pagi yang luar biasa ganjil ini.

Pintu tertutup dengan suara debaman bervolume rendah namun menggema di dinding hotel ini. Sementara itu, langkah kakiku tak terdengar karena teredam karpet tebal yang terhampar di sepanjang lorong. Mendekati lift, ponselku berbunyi dengan getaran ganda sebagai penanda notifikasi yang masuk.

Kuambil dari dalam tas.
Ada dua pesan masuk.

Pesan pertama.
Dari Dimas,
“Makasih ya udah nemenin Om Ega. Dia suka sama kamu. Oh iya, mamamu sudah siap dioperasi. Baru saja dokter Franky ngabarin aku. Biayanya cukup. Kamu hebat, Beb. Ketemu besok ya. Salam buat Om Ega. See you soon.”

Pesan kedua.
Dari Bella,
“Kamu dimana, Masayu? Pak Bos sudah nungguin kamu dari tadi. Cepat!”

Standard
Cerita

Pagi Meredup Kelu

Suatu pagi berawan hitam menggantung sendu.

Aku duduk di kursi kayu tanpa sandaran tepat di balik jendela kaca berfragmen tetesan embun mencair. Menetes turun tertarik gravitasi. Tampak seperti lembaran kain putih kehilangan serat benangnya akibat goresan. Serupa ruas panjang beralur membentuk luncuran air di atas permukaan bidang rata transparan tegak vertikal karena sengatan matahari. Sebuah kaca bening pembatas bidang-bidang. Pembagi mana milikku dan mana milik orang. Penentu bagian luar dan dalam, gelap dan terang. Dari bagian gelap dan dalamnya aku bisa melihat hidup menggeliat di deret-deret gedung dan ruas-ruas jalan. Digelantungi udara basah sisa hujan lebat dini hari tadi. Berhasil memaksa pagi enggan beranjak siang. Alih-alih surut dan menghilang, kabut tipisnya malah makin melayang tenang memburamkan pandangan. Menghalau matahari menguapkan lenguhan pagi. Entah darimana datangnya, seolah makin tebal dan terus mengental. Tak rela membiarkan kerutan kulit bumi terlihat sempurna bagi mata manusia. Mungkin saja pagi masih serupa hantu berasap belum tersapu angin. Putih bersih bergentayangan pada dahan-dahan pohon. Beringsut mesra dalam rimbun perdu. Menyelinap di ketiak manusia. Meretas basah bersama angin pada kaca kendaraan di atas aspal.

Pagi ini berbeda, muram dan murung, tak berkawan dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pekikan keras klakson kendaraan terdengar sejak pekat gelap dini hari merayap pergi. Makin riuh menyetubuhi hamparan jalan dari ujung ke ujung, sudut ke sudut. Menyisakan dengungan berfrekuensi dalam gendang telinga. Menjadi remah bising udara yang terpaksa dinikmati manusia semerdu mungkin. Bersamaan dengan sang surya yang membumbung makin tinggi. Seolah sigap melipat warna hitam beraksen gemerlap lampu, kemudian menggantinya dengan hamparan warna dan bentuk bernama benda. Seonggok atau kumpulan zat, bernyawa dan mati, memiliki nama. Aku, kamu, dia, kita, dan mereka. Ini dan itu. Setiap pagi dan malam. Hingga pagi tetaplah pagi. Tak rela udara basahnya menguap begitu saja. Memutih dari kejauhan tapi hilang saat didekati.

Pagi ini berbeda, berwarna tapi buram, tak bersahabat dengan warna-warna lainnya.

Aku mengenyam pagi dengan kadar kepekatan ganjil. Seolah jerat malam di kepalaku tak berniat pergi meski waktu terus berjalan maju. Seperti terhenti pada detik ke-59 sebelum pukul tujuh. Tanpa ada harapan melengkapi detik berikutnya menjadi menit. Diam. Menancap.

Pagi ini berbeda, waktu berjalan tapi pelan, tak berteman dengan ketergesaannya.

Tiba-tiba jam dinding besar di kafeku tak berdetak. Kupingku yang sudah terbiasa menikmati ritmenya setiap pagi, seakan peka ada yang ganjil mendadak. Suara tik-tok yang jelas terdengar sebelum alunan musik mendayu merdu, sebelum udara dipenuhi percakapan manusia-manusia pelanggan setiaku. Terlalu naif berkebetulan jika jam tanganku mendadak berhenti pula. Jarum panjangnya berdiri tegak menunjuk angka 12, jarum pendeknya pada angka 7. Aku menoleh kembali ke arah jam dinding, kemudian ke arah jam tangan, kembali lagi ke arah jam dinding, sama. Berhenti di pukul tujuh tepat. Tak urung rasa penasaranku malah membuncah. Kulihat pikuk orang yang berlalu lalang di depan kafeku untuk memastikan keadaan. Samar dari arah jendela berembun, mereka yang bernyawa dan berjalan di atas paving block trotoar mendadak berhenti. Kendaraan-kendaraan menepi, sebagian berhenti begitu saja tanpa ada insiden. Mandeg pada satu titik beku. Suara acak yang terdengar sebelumnya berubah menjadi dentuman keheranan massal. Mereka menundukkan kepala. Melihat seksama benda yang melingkar di pergelangan tangan. Sisanya mengamati benda kotak tipis bercahaya yang tergenggam. Alih-alih menatap lekat penuh tanda tanya, sisanya sibuk menekan serampangan permukaan bendar bersinar itu dengan telunjuk dan jempolnya. Lebih karena mencari sesuatu yang tak beres, bukan sengaja mencari kerusakan dan membetulkannya. Semakin parah ketika kumpulan pixel di layar tiba-tiba lenyap. Layar berubah hitam. Mati bersamaan. Mereka hanya menunduk. Tanpa menoleh ke tubuh-tubuh lain. Diam sempurna. Diikuti deru kendaraan dari kejauhan yang seiring melenyap senyap. Membenamkan diri dalam keanehan yang muncul berjemaat.

Tak berbeda dengan apa yang terjadi di tempat dimana aku berada sekarang. Di dalam ruang bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan paling sibuk di tengah kota. Berjajar dengan bangunan tinggi pencakar langit yang terus meninggi berniat menggapai sekenanya. Berhadapan dengan pusat-pusat perbelanjaan lengkap dengan restoran dan kafe terkenal di dalamnya. Tapi kafeku, hanya bangunan tiga lantai berjajar membentuk kumpulan rumah-toko. Berdampingan dengan toko roti, salon kecantikan, toko buku, dan tempat usaha lain. Kupertaruhkan nyawaku disini. Rangkaian hidup berkoma tanpa titik, membentuk perjuangan dan pijakan kuat sebagai fondasinya. Bertahun-tahun bermimpi dan akhirnya tiga tahun lalu berdiri. “Soliterian Coffe Shop and Eatenary”. Buka pukul 8 pagi hingga 10 malam. Senin-Minggu. Jumat libur. Free-wifi. Diskon sampai 30% untuk makan siang.

Tiga pagawaiku telah datang lewat pintu belakang satu jam lalu. Rein, Indah, dan Agus. Tiga lainnya, Nia, Tita, dan Doni, akan hadir di shift kedua. Empat di atantaranya adalah juniorku di masa kuliah dulu. Sisanya hasil rekrutmen lowongan pekerjaan yang aku kirim ke rubrik iklan surat kabar kota. Mungkin karena kesamaan almamater, bersama mereka, aku lebih percaya kafe ini akan lebih maju dan terkenal. Baru dibuka dua tahun lalu. Seduhan kopi dan coklat hangatnya menjadi menu utama bagi para penikmat hari. Telur orak-arik dan mata sapi, roti lapis daging, serta bubur gandum panas, menjadi pilihan tepat bagi para pengejar pagi.

Empat tahun belajar dan bergelut dalam dunia organisasi di kampus, tak membuatku menyesal merekut mereka menjadi orang-orang penting di belakangku. Menjadi rekan kerja yang sama-sama mau maju. Menjadi diri sendiri dan nyaman bekerja karena aku mengenal mereka. Manusia-manusia hebat dengan kemauan besar dan para pekerja keras yang terlalu tangguh untuk diremehkan. Meski saling mengenal, bukan berarti tak profesional. Hubungan yang terjalin bukan tanpa hambatan, tapi bukan harus ditinggalkan begitu saja jika aral rintangan hadir membegal.

Awal adalah ujian untuk gagal. Bukan proses jika tak pernah gagal. Tapi, jatuh bangunnya tempat ini, tak pernah membuat mereka lepas dari aku. Sempat menerima gaji tak sesuai dengan jam kerja lebih, mereka terima di awal-awal berdirinya kafe yang menjadi mata pencaharianku ini. Semua berjalan naik turun lengkap dengan hiasan liku-liku terjal dan tak mudah. Dua tahun berjuang, hingga ketika tempat ini mendapat kepercayaan dan pengakuan orang, dan mereka pun berhak mendapatkan lebih. Kerja keras yang terbangun bukan karena nyawa satu orang, tapi kumpulan jiwa ini, siap menjadi sandaran hidupku, hidup kami.

Pagi ini berbeda, membuka cerita lama, dan aku masih di balik jendela kaca.

“Mas, kopinya,” suara Indah membuyarkan lamunanku tepat saat dia menyerahkan secangkir kopi hitam kepadaku.
“Eh, iya. Thanks ya, Ndah.” telapak tanganku menghangat ketika cangkir itu tergenggam. “Rein dan Agus dimana?”
“Di dapur, Mas. Dua-duanya.”
“Ohh.. okay.” aku menyeruput cairan kental hitam dengan rasa dan aroma khas. Pahit khas kopi Arabica. Kenimatan tiada tara dalam ruangan dingin ber-AC pagi ini.
“Pagi yang aneh ya, Mas?”
“Menurutku juga begitu. Tiba-tiba semua jam behenti. Jam tangan, jam dinding, jam di ponsel. Sudah hampir 3 menit tak bergerak.”
“Bukan jamnya yang berhenti, Mas…”
Aku melihat heran ke arah wajahnya.
“Lantas?”
“Waktu yang berhenti, Mas.” dia membalas dengan senyuman. Mengambil celemek yang berada di sakunya. Kemudian menyeka permukaan meja yang menurutnya kurang bersih.
“Aku tahu. Tapi apa maksudmu sesungguhnya?”
“Waktu yang mengajarkan pada kita bahwa hidup itu misteri. Waktu pula yang membelenggu kita agar tak kuasa membongkar misteri itu sendiri, Mas. Padahal tahu sendiri ‘kan rasa penasaran manusia tak pernah ada ujungnya. Ingin tahu ini dan itu, semua. Hanya waktu yang disimpan rapat-rapat oleh Tuhan. Manusia cukup menikmatinya.”
Kuteguk kopi hitam yang suhu panasnya mulai turun.
“Mas, tahu? Kurun waktu yang tercipta di semesta berakhir pada satu tujuan yang memiliki dua cabang. Pertama, waktu yang mengejar kita. Atau kedua, sebaliknya, kita yang mengejarnya.”
Aku mengangguk, memperhatikan.
“Jika kita memilih opsi pertama, jelas kita bukan orang yang cerdas. Efisiensi waktu tidak ada. Pilihan pada sesuatu yang harus diprioritaskan pun mungkin hanya sekedar memilih tanpa pikir panjang. Kita bakal merugi jika memilih waktu yang mengejar kita, Mas.”
Aku diam.
“Namun, ketika kita memilih pilihan kedua, dengan kata lain kita memiliki waktu. Kita akan sadar bahwa waktu butuh prioritas. Membuat kita sadar ada sesuatu yang mahapenting yang harus kita dahulukan ketimbang perkara kecil yang hanya dibesar-besarkan saja. Baik karena emosi sesaat atau bahkan dengan pikiran kosong sekalipun.”
“Maksudmu apa, Ndah?”
“Mas, my bos, cintai hidupmu dengan membagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali ke orang-orang yang kamu sayangi, yang menyayangimu. Kamu sudah cukup lama tidak bercengkerama dengan mereka. Seolah temanmu hanya benda mati dalam bentuk koin dan lembaran yang tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki. Mas pasti paham jika sesuatu itu adalah …”
“Waktu.” kami berdua berucap bersamaan.
Kami terdiam. Sesekali bertatap mata, Lebih tepat aku yang menatapnya.
“Ada yang berhak dengan waktumu. Sebelum semuanya terlambat, Mas …”

Dari arah dapur terdengar teriakan yang muncul tiba-tiba.
“Mas-mas! Kesini sebentar, Mas!”
Aku berjingkat dari kursi dengan wajah kaget. Menyenggol lengan Indah sebagai kode agar dia turut serta bersamaku ke asal suara itu muncul. Tapi Indah tak bergerak selangkahpun. Dia hanya berdiri dan tersenyum. Dan aku meninggalkannya.
Dapur terlihat baik-baik saja. Oven masih menyala sempurna berisi adonan roti yang mulai matang mengembang. Yang membuat aneh hanya keberadaan dua orang yang sama-sama tak melepas pandangannya dari tayangan bergerak dalam televisi.
“Mas, tonton!” Rein memintaku mendekat kepadanya.
Aku melangkahkan kakike arah mereka berdua. Kemudian memalingkan wajahku melihat siaran berita pagi. Terlihat kobaran api berwarna merah-oranye menyala-nyala hebat dengan kepulan asap berwarna hitam keluar dari suatu bangunan.
“Keraskan volume-nya!” perintahku.
Agus yang membawa remote control TV dengan sigap mengeraskan suara TV beberapa level ke atas.

“Polisi masih belum bisa memastikan asal-muasal ledakan yang terjadi sekitar pukul lima pagi tadi. Dugaan sementara karena kebocoran LPG dari salah satu kamar penghuni apartemen. Selain kobaran api, ledakan ini juga memicu kebocoran pipa air akibat kerusakan yang ditimbulkan. Kondisi ini sekaligus mematikan aliran listrik di seluruh bangunan. Tidak menutup kemungkinan arus pendek terjadi. Belum diketahui berapa jumlah korban jiwa. Namun, pemadam kebakaran telah menemukan beberapa jenazah yang langsung dievakuasi oleh tenaga medis setempat ke rumah sakit terdekat. Dan akibat peristiwa ini, diperkirakan kerugian materi mencapai milyaran rupian. Sekian laporan kami langsung dari ledakan di Megahria Apartment. Kembali ke studio.”

Aku tertegun.
Megahria Apartment.
Aku pernah tahu letak apartment itu.
Tapi aku lupa.

“Apartemen Indah, Mas?” nampak wajah Agus sedih dengan mata berkaca-kaca.
“Indah?” aku melihat mereka berdua.
“Indah tinggal di apartemen itu, Mas. Dia belum datang ke kafe pagi ini.”
“Jangan bercanda kalian. Baru saja aku ngobrol dengan dia di depan.”
Mereka berdua bertatapan.
Aku kembali terdiam.
Kuberlari ke arah depan kafe. Sempat menabrak pinggiran pintu dan membuat siku tanganku sedikit nyeri. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin memastikan bahwa Indah tadi benar-benar ada denganku. Bersamaku.
Tapi dia tidak ada.
Tidak berada di tempat dimana kutinggalkan dia.
Tidak berdiri tersenyum kepadaku seperti terakhir kali aku melihatnya.

Hanya celemeknya yang teronggok diam di atas meja.
Ditemani secangkir kopi milikku.

Pagi ini berbeda, ada pesan tertinggal, dari yang pergi namun tetap di hati.

Mengenang teman baik kala masih duduk di SD hingga SMA.
Putera Omega.
Selamat tinggal, Kawan.
Semoga kita bisa berangkat sekolah bersama di kehidupan lain.

Standard